...Menyimpan segalanya dalam bibir terkatup. Bergetar berusaha untuk tersenyum....
...Dimana sebuah kebahagiaan akan berakhir? Mungkin di hulu sungai, kala Samudra memeluk tubuhku....
...Mengantarkan mendekapku dalam rasa kasih. Kala aku tidak dapat menatap bulan lagi....
...Samudra yang mencintaiku, itulah kasih Tuhan, mengasihi makhluk kecil ini dalam dekapannya....
Laverna.
"Dia tidak kesurupan." Sang indigo menghela napas kasar. Menatap kegilaan di hadapannya.
"Aku memang tidak kesurupan." Laverna kini duduk dengan lebih tenang.
"Lalu kenapa kamu membuat perangkap konyol ini!?" Tanya Jeremy mengepalkan tangannya.
"Karena aku Brownies dan kamu Cookies." Jawab Laverna, menuang segelas air kemudian meminumnya.
Jeremy menatap tajam padanya meninggikan intonasi bicaranya."Jasmine, dia adalah orang yang aku cari. Bukannya kamu tahu itu! Jasmine juga mengingat segalanya, bagaimana kami bermain dan bertemu. Bahkan bagaimana dia berenang untuk menyelamatkanku yang tidak bisa melihat. Jasmine tau semuanya, jangan mengatakan omong kosong!"
"Dia tau, karena dia juga ada disana." Laverna berusaha tersenyum, jemari tangannya menyentuh kelopak bunga mawar merah yang bertaburan di atas meja.
Seharusnya ini menjadi malam pertama yang menyenangkan. Tubuh mereka saling mendekap di pagi yang dingin, bukan beradu mulut seperti ini.
"Jangan membuat alasan." Jeremy mengalihkan pandangannya. Jasmine? Segalanya sesuai dengan penjabaran Brownies. Bahkan nada cerianya ketika bicara juga sama, mengetahui setiap detik kebersamaan mereka ketika remaja. Sudah jelas Laverna yang berbohong.
"Jeremy, hidup itu seperti kabut ilusi yang akan berlalu. Tapi siapa Brownies sebenarnya itu sudah tidak penting. Yang terpenting kita sudah menjadi pasangan suami istri. Tukang es cendol..." Laverna tersenyum padanya.
"Wanita murahan!" Geram Jeremy melemparkan surat kontrak ke wajah wanita di hadapannya."Ini surat kontrak pernikahan kita. Baca dengan seksama dan tanda tangani! Patuhi semua perjanjian di dalamnya! Jika tidak bersedia tanda tangan, lebih baik kita bercerai."
Laverna, seseorang yang begitu cermat. Sudah pasti akan membaca kontrak lebih teliti. Tapi kali ini bagaikan tidak, wanita itu tersenyum, menandatanganinya tanpa membaca sama sekali.
"Aku ingin menambahkan satu poin." Ucap Laverna menulis menggunakan pena yang dipakainya untuk tandatangan.
"Tidak boleh! Jika poin itu---" Kalimat Jeremy yang hendak menghentikan Laverna menulis terpotong.
Dirinya benar-benar tidak mengerti membaca poin yang ditambahkan. Jujur saja, tidak ada satu poin pun yang menguntungkan Laverna. Termasuk poin terakhir yang ditambahkan.
Poin terakhir yang berisikan.
'Perjanjian hanya berlaku selama 90 hari. Setelahnya, pihak kedua akan mengajukan perceraian pada pihak pertama. Pihak pertama diharuskan menyetujui pengajuan perceraian dari pihak kedua.'
"A...apa maksudnya ini? Aku mengubah pertanyaanku, apa tujuanmu menikah!?" Tanya Jeremy padanya.
Laverna hanya tersenyum."Aku hanya ingin tau bagaimana rasanya menikah." Hanya itulah jawaban dari wanita yang kembali meminum segelas air putih.
"Aku tau! Ini karena kamu iri pada Jasmine kan? Laverna! Kita sahabat, bahkan hampir memiliki hubungan keluarga! Tapi kenapa kamu menjadi seperti ini!? Apa ada alasan lain?" Tanya Jeremy, tapi wanita itu berfikir lebih baik untuk berbohong. Tidak ingin ada yang mengetahui atau menangis kala kematian datang menjemputnya nanti. Biarlah Jeremy mengenangnya sebagai wanita yang keji.
"Iya, ini karena aku iri pada Jasmine. Aku membencinya, aku membenci Jasmine." Dusta Laverna, masih menunjukkan ekspresi tersenyum.
Brak!
Tubuhnya didorong oleh Jeremy, hingga terjatuh di ranjang."Akan aku pastikan selama kontrak ini berlaku, kamu akan menyesal sudah melakukan ini padaku dan Jasmine."
"Apa pun yang kamu lakukan aku tidak akan menyesal." Itulah yang diucapkan olehnya. Apakah ini Jeremy remaja yang dicintainya? Mungkin iya, waktu telah mengubahnya. Tapi tidak apa, dirinya dapat merasakan menjadi istri Jeremy. Menepati janji mereka kala remaja, segala cukup. Sudah cukup.
"Ganti bajumu! Aku akan membawamu ke rumah kita. Jangan berharap dapat tinggal di apartemen mewah milikmu! Karena dalam kontrak tertera, kamu hanya akan hidup dari uang yang aku berikan. Berapa pun itu." Tegas Jeremy berjalan pergi meninggalkannya.
Sementara Laverna yang awalnya tertunduk, menitikkan air matanya. Ternyata cinta tidak indah dari dekat, hanya begitu indah jika ditatap dari jauh. Tapi menyenangkan menghabiskan sisa hidupnya dengan tinggal bersama Jeremy.
*
Philip yang menunggu di lobby hotel menatap ke arah tuannya yang baru tiba, bersama dengan seorang indigo dan notaris. Dua orang yang berlalu pergi setelah Jeremy memberi perintah pada mereka.
Menghela napas kasar, mengapa harus terpaku pada cinta masa lalu? Jika ada wanita yang lebih baik mengejar-ngejarnya. Mungkin karena Jeremy berhutang nyawa pada Jasmine. Satu-satunya sahabatnya kala Jeremy remaja mengalami kebutaan.
"Tuan, bagaimana? Apa dia tidak bersedia tandatangan?" Tanya Philip padanya.
"Dia sudah tandatangan. Bahkan menambahkan satu poin. Setelah 90 hari dia akan mengajukan perceraian dan aku tidak memiliki hak menolak. Tapi itu bagus bukan?" Jeremy tertawa kecil, kemudian berbaring di atas sofa lobby hotel.
"Ini aneh." Philip menghela napas kasar."Tapi bagus juga, 90 hari kemudian aku bisa mulai mendekatinya. Jika anda menikah dengan nona Jasmine dan saya menikah dengan nona Laverna, kita akan menjadi keluarga."
Jeremy mengernyitkan keningnya, entah kenapa dirinya benar-benar kesal belakangan ini pada Philip."Tidak! Kamu tidak boleh---"
"Kalian saling mengenal?" Tanya Laverna yang ternyata turun dengan cepat. Menyeret koper, setelah memakai minidress.
Penampilan yang memang dari hari pernikahan berbeda. Wanita yang biasanya memakai kacamata tebal, kini tidak memakainya. Rambut hanya diikat asal, sekarang tergerai indah, wajah tanpa makeup, dilapisi makeup tipis.
"Hanya sekedar kenal. Dia sering memesan minuman di bar!" dusta Jeremy cepat.
"Philip! Aku tidak menyangka kamu suka alkohol. Padahal pada perjamuan terakhir kamu mabuk hanya dengan beberapa teguk anggur." Laverna tertawa kecil, mengingat pertemuan mereka di luar negeri.
"I...iya. Memalukan, saat itu supirmu yang mengantarku pulang. Maaf, saat itu aku hampir menciummu." Pemuda itu menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Untung ada sekitar tiga orang yang memegangimu." Laverna ikut-ikutan terkekeh.
"Kalian lumayan akrab." Sela Jeremy, berusaha keras tersenyum di hadapan makhluk ini.
"Iya! Saat itu aku sedang memperbaiki kondisi perusahaan ayahku di luar negeri. Dia teman bicara yang baik, aku belajar banyak dan berkonsultasi padanya." Laverna menghela napas kasar, senang rasanya bertemu teman lama yang pernah menolongnya."Omong-ngomong bagaimana dengan bos brengsek mu. Apa dia masih sering mengganggu jam tidurmu?"
"Ti... tidak! Dia begitu tampan dan baik hati. Mana mungkin berbuat begitu pada pegawainya." Ucap Philip mengeluarkan keringat dingin, sedikit melirik ke arah Jeremy yang mengeluarkan aura suram.
"Laverna! Tutup mulutmu!" Batin Philip, bagaikan sapi di tempat penjagalan.
"Bagaimana dengan tidak berprikemanusiaan? Pria itu bahkan sok suci menjaga ciuman pertama dan malam pertamanya, hanya untuk wanita yang dicintainya. Tapi tetap saja sering menonton film dewasa diam-diam, mengeluarkan mayonaise dari jagungnya..." Laverna tertawa kencang mengingat cerita Philip tentang majikannya.
"Jeremy! Itu lucu bukan? Mana ada pria gila seperti itu." Ucap Laverna, dijawab dengan tawa oleh Jeremy.
Ini bagaikan hukuman mati bagi Philip, kala Jeremy melirik sinis ke arahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Abimanyu Rara Mpuzz
Philip oh Philip kenapa kau lucu sangat ☺️
2024-07-23
1
rahma manulang
wkwkw...philip philip lucu juga curhatan tentang bosnya haha
2024-04-04
0
🌠Naπa Kiarra🍁
Lanjut..
2024-01-08
0