...Apa arti dirimu bagiku? Aku hanya sebuah batu kerikil yang buta. Menatap sinar kecil yang aku ikuti....
...Jemari tangan kita saling menggenggam tertawa bersama. Walaupun aku tidak tahu seberapa indah rupamu....
...Sebuah janji dengan stempel kelingking. Untuk mencintai dan menikahimu kala kita dewasa nanti....
...Janji kecil yang tertelan kabut tebal. Tertutup rasa sesal....
Jeremy.
Dirinya membenci ini, benar-benar membencinya. Membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tempat tidur yang seharusnya akan dipergunakan untuk melepaskan keperjakaannya.
Menghela napas kasar. Rumah impian Brownies dan Cookies, nama panggilan mereka kala kecil sudah disiapkan olehnya.
Rumah dengan pohon anggur teduh yang merambat. Dimana mereka dapat memetiknya, pohon mangga dan apel juga harus ada dilengkapi ayunan. Sebuah penggambaran yang kekanak-kanakan. Tapi segalanya dilakukan oleh Jeremy. Tangan hangat yang menggenggamnya kala mengalami kebutaan, itulah brownies, cinta pertamanya.
"Tuan, haruskah saya mengurus pembatalan pernikahan?" Tanya seorang pria berpakaian rapi.
"Tidak! Aku ingin dia yang memohon dan berlutut untuk bercerai. Carikan aku rumah kontrakan petak yang paling jelek, buatkan surat kontrak yang berisikan poin-poin dia harus bersedia hidup dengan caraku. Satu lagi, aku boleh berselingkuh tapi dia tidak. Hubungan badan tidak diijinkan, istri harus melayani suami dalam segala keperluan. Dia harus bangun jam lima pagi dan tidak boleh tidur jika aku belum pulang. Aku akan perlihatkan bagaimana Jeremy menghancurkan seseorang secara mental." Ucap pemuda itu berniat membalas segalanya.
"Yakin anda tidak akan menyukai nona Laverna?" Tanya pria yang berdiri di hadapannya.
"Kenapa?" Tanya Jeremy menatap ke arah Philip, asistennya.
"Tidak, hanya saja, nona Laverna adalah tipe saya. Wanita mandiri, humoris yang senang bercanda. Jika menjalani pernikahan dengan wanita seperti itu, mungkin tidak akan ada pertengkaran." Philip menghela napas kasar, tersenyum malu-malu.
Jujur saja perasaan Jeremy tidak enak saat ini. Apa yang gumpalan tepung ini inginkan?
"Be... begini, i...ini misal! Misalnya saja, anda telah bercerai nanti boleh saya mendekatinya?" Kalimat yang tertancap bagaikan sambaran petir. Romansa Romeo dan Juliet akan terjadi selanjutnya setelah perceraian dirinya nanti.
"Tidak!" Satu kata jawaban dari Jeremy.
"Kenapa?" Tanya sang asisten tidak mengerti dengan majikannya.
"Karena... hanya ingin menjawab tidak saja." Jawab Jeremy menghela napas berkali-kali.
"Begini! Secara teori kamu tidak mencintainya. Aku sudah seperti saudara bagimu. Jika suatu hari nanti, sudah pasti dalam waktu dekat, aku ingin meraih kebahagiaanku dengan Laverna. Menikah di desa kemudian memiliki lusinan anak dengannya, tentu boleh kan!?" Tanya Philip.
"Sudah aku bilang tidak!" Entah kenapa membayangkannya saja sulit bagi Jeremy. Wanita yang selalu memanggilnya tukang es cendol menikah? Bahkan memiliki banyak anak dengan asistennya?
"Kenapa?" Tanya Philip keras kepala.
"Itu karena... karena...aku tidak ingin wanita yang sudah menghancurkan hidupku bahagia! Tidak ada alasan lain! Benar! Tidak ada alasan lain!" Tegasnya setelah berfikir beberapa saat menemukan tujuannya untuk berkelit. Dari jawaban tidak masuk akal.
"Begitu?" Philip mengernyitkan keningnya, menatap ke arah pemuda tidak tahu diri ini.
"Dasar tsundere! Majikan tidak tahu diri! Duri dalam daging! Pagar makan tanaman! Aku sumpahi kamu mengalami romansa Romeo dan Juliet!" Batinnya menahan rasa kesal, mengingat ending dimana Romeo pada akhirnya mati bersama Juliet.
"Philip! Saat malam aku akan jarang ke club. Sebarkan gosip jika aku menjadi pria simpanan dari banyak wanita kaya. Perpadat jadwal! Aku ingin lebih konsentrasi pada bisnis." Perintah Jeremy kembali berbaring.
"Tapi kamu baru saja menikah, lalu untuk apa menyewa rumah bobrok? Jika tidak digunakan untuk bulan madu?" Tanya Philip tidak mengerti.
"Tentu saja untuk membuatnya sengsara." Senyuman menyungging di wajahnya. Ini menyebalkan, tapi akan menjadi permainan yang menarik.
*
Sebuah permainan? Gadis yang paling ceria, itulah dia. Tidak ada tangisan sama sekali kala membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur pengantin.
Tempat tidur yang dilengkapi tirai. Dirinya mulai bernyanyi pelan tentang betapa indahnya hari pernikahannya. Lagu yang tulus tentang pernikahan.
Matanya menatap ke arah sisi tempat tidur king size yang kosong. Gadis itu menghela napas, perlahan ada yang salah. Dirinya merasa benar-benar mual. Tubuhnya yang kedinginan akibat air kolam berusaha untuk bangkit.
Namun.
Hanya sempat untuk duduk, dirinya memuntahkan darah yang mengotori gaun pengantinnya. Air matanya mengalir tidak tertahankan. Dirinya membiarkan gaunnya kotor, bahkan tidak menyeka darah di bibirnya. Kembali berbaring, karena dirinya tidak sanggup untuk bangkit.
Bukan darah melepaskan keperawanan pada malam pertamanya. Tapi muntahan darah dari mulutnya."Jadi ini rasa dari malam pertama pernikahan?" Gumamnya tersenyum, bagaikan anak kecil yang dipenuhi rasa ingin tahu.
Ingin mengetahui bagaimana menjadi seorang istri, bagaimana untuk menjadi cantik, sebelum dirinya terbaring di peti mati menggunakan gaun indah ini.
Andai saja dirinya tahu lebih cepat tentang kematiannya? Itu tidak akan merubah apapun. Dirinya hanya ingin bahagia 100 hari menjelang ajalnya. Karena kematian tetap akan tiba, bagaimana pun jalannya.
Dirinya terdiam sejenak menatap langit-langit ruangan. Liburan? Itu ide yang sangat bagus. Setelah 90 hari pernikahannya dirinya dapat mati dengan tenang di negara lain.
Tidak akan ada yang mengetahui kematiannya. Setelah ini dirinya harus meminta bantuan kenalannya, mungkin dengan menguras setengah rekeningnya akan cukup.
Mengirim hadiah dan foto dari beberapa negara. Bagaikan dirinya benar-benar berlibur, mengelilingi dunia. Kemudian mungkin hadiah terakhir akan dikirimkannya lima tahun lagi, mengatakan dirinya telah menikah dengan warga negara asing.
Menguatkan dirinya tepat setelah satu jam dirinya muntah darah. Mengganti pakaiannya, mandi dan membersihkan riasannya sendiri.
Meminum segelas susu yang dipesannya melalui layanan kamar. Setahun sekali? Mungkin dirinya akan meminta tolong pada kenalannya kala dirinya tidak ada di dunia ini lagi, agar mengirimkan surat di setiap hari ulang tahunnya.
Tahun di handphone menunjukkan 2024. Karena itu surat pertama akan menunjukkan angka tahun ini. Untuk kakak, ibu, ayahnya dan Jeremy. Empat lembar surat, menunjukkan angka tahun 2024.
Empat lembar surat lagi menunjukkan tahun 2025. Membuat kembali, sama seperti sebelumnya, terangka tahun 2026. Semuanya ada 20 lembar surat.
Perlahan dirinya tersenyum, surat terakhir menunjukkan, tidak perlu untuk mencarinya lagi. Dirinya telah bahagia bersama suaminya yang berprofesi sebagai kameraman berita internasional.
Berbohong? Laverna hanya ingin mati, tanpa mendapatkan rasa iba. Tidak ingin ada satu orang pun yang menangisinya. Karena akan menyakitkan untuk pergi ke surga kala ada orang yang mencintaimu, tidak mengharapkan kepergianmu. Dirinya hanya ingin tidur dengan tenang.
*
Pagi menjelang, mungkin pengaruh obat, tubuhnya sedikit lebih segar. Menggeliat di bawah selimut enggan untuk bangkit.
"Bangun! Es cincau! Bangun!" Ucap Jeremy menarik selimut.
"Lima menit lagi! Hari ini aku libur!"Laverna menggeliat malas, kembali memejamkan matanya.
"Dasar! Bangun!" Kali ini Jeremy memaksa tubuh lemas itu untuk bangkit.
"Eh... tukang es cendol disini." Laverna tersenyum menggoda, mengedipkan sebelah matanya.
"Jelaskan kenapa kamu menghancurkan hubunganku dengan Jasmine?" Tanya Jeremy berusaha lebih waras kali ini.
"Karena aku bernapsu untuk kawin denganmu. Kita sudah menikah, bagaimana jika mencoba menyempurnakan pernikahan kita..." Jawaban aneh, Laverna mencoba membuka piyama berbentuk kimono yang dikenakannya.
Sudah diduga olehnya ada yang tidak beres dengan makhluk sial ini! Laverna yang dikenalnya tidak mungkin melakukan ini.
"Kamu siapa? Dedemit dari mana yang memasuki Laverna!" Bentak Jeremy membawa seorang indigo dan notaris. Tentunya hanya untuk memastikan hal mistis tidak terlibat dan kontrak pernikahan dapat ditandatangani dalam keadaan sadar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Putri Nunggal
tp kau laverna telah membuat aku menangis hanya mendengar rencana kepergian mu 😭😭😭😭
2024-02-11
2
Putri Nunggal
Napa ngedadak gak rela ya kalau nanti mantan istri nya diminta asisten nya🤭
2024-02-11
0
🌠Naπa Kiarra🍁
Kesurupan cinta.😂😂🤣🤣🤣
2024-01-08
0