Siang itu Mita kembali dari taman dengan di penuhi berbagai pemikiran tentang lamaran dokter Arjun di taman tadi. Bagi Mita dokter Arjun adalah sosok pria yang baik, dan Mita berharap pria sebaik dokter Arjun mendapatkan wanita yang sepadan dengannya, bukannya dirinya seorang wanita yang berstatus janda beranak satu.
Ibu Romlah menghampiri putrinya yang tengah duduk melamun di kamarnya.
"Ada apa??? Apa kamu sedang ada masalah, sejak tadi ibu lihat kamu banyak melamun." ibu Romlah Turut duduk di tepi ranjang bersama Mita.
Mita menghela napas panjang sebelum kemudian mulai menceritakan tentang lamaran dokter Arjun di taman tadi, pada ibunya.
"Lalu bagaimana keputusan kamu??." tanya Bu Romlah setelah mendengar cerita dari Mita tentang lamaran pria bernama Arjun tersebut.
"Mita juga belum tahu Bu." jawaban Mita di sertai dengan helaan napas wanita itu yang terdengar memberat.
"Nak Arjun adalah pria yang baik dan selama ini nak Arjun juga sangat sayang pada Farrel." komentar Bu Romlah. Sering kali berkunjung ke rumah kontrakan mereka membuat Bu Romlah cukup mengenal Arjun dengan baik.
Mita mengangguk, seakan setuju dengan komentar ibunya tentang Arjun. tapi bukankah kebaikan semata tidak akan cukup untuk membina sebuah rumah tangga tanpa adanya rasa cinta, begitu pikir Mita, sebab selama ini ia hanya menganggap Arjun seperti kakak laki-lakinya tidak lebih.
"Cinta bisa tumbuh dengan sendirinya jika kita memiliki niat untuk menumbuhkannya, dan begitu pun sebaiknya cinta bisa saja hilang dengan sendirinya jika kita tidak berusaha untuk menjaga dan memupuknya dengan baik." Bu Romlah kembali berkomentar, seolah tahu apa yang kini ada di dalam benak putrinya.
Sedikitnya Mita merasa lega usai berbagi cerita pada ibunya.
"Apa sebaiknya aku terima saja lamaran dokter Arjun???." lirih Mita dalam hati setelah ibunya meninggalkan kamarnya.
*
Di tempat yang berbeda, seseorang yang baru saja menjadi topik pembahasan Mita dan ibunya, kini tengah duduk berdua bersama ayahnya yang baru saja datang berkunjung ke kota ini.
"Kenapa papa tidak bilang kalau mau datang hari ini, biar Arjun jemput di bandara." kata Arjun.
"Papa tahu kamu sibuk di rumah sakit, jadi papa tidak ingin mengganggu." sahut ayahnya.
Sejenak ayahnya menyapu pandangan ke seluruh penjuru rumah milik putranya yang nampak besar dan juga mewah, sementara penghuninya hanyalah seorang bujangan dan juga beberapa orang ART, tanpa adanya Ratu di dalamnya yakni seorang istri.
"Kapan kamu akan memikirkan untuk menikah, nak???." hampir setiap kali berkunjung Ayahnya selalu saja melontarkan pertanyaan serupa pada Arjun.
"Apa kamu tidak ingin memiliki seorang istri dan juga anak anak yang akan menjadi pelipur lara di kala lelah bekerja???. apa kamu tidak ingin seperti mas kamu, menikah dan memiliki anak anak yang lucu-lucu??." bukannya ingin membandingkan putra putranya namun papa Hamid hanya ingin Arjun menyadari jika usianya kini telah memasuki tiga puluh tujuh tahun, di mana saat dirinya seusai Arjun ia telah memiliki dua orang anak yang beranjak dewasa, yaitu Aditya dan juga Arjun tentunya.
"Berikan Arjun waktu sebentar lagi pah, Arjun janji tahun ini Arjun pasti akan segera menikah." jawab Arjun, meski ia sendiri belum yakin dengan jawaban yang ia berikan pada ayahnya.
"Baiklah, papa harap kali ini kamu akan menepati janjimu." kata ayahnya dengan tatapan menuntut, sementara Arjun hanya bisa mengangguk saja.
Di tengah kegalauan Arjun menghadapi pertanyaan ayahnya soal pernikahan tiba tiba notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Arjun meraih ponsel dari saku celananya.
"Mita." lirih Arjun ketika melihat nama pengirim pesan di aplikasi hijau miliknya.
"Apa dokter sore ini tidak sibuk???." lirih Arjun dalam hati ketika membaca pesan dari Mita.
Dengan cepat Arjun mengetik balasan pesan untuk Mita. "Tidak sibuk." setelah mengetik pesan, Arjun pun mengirimkannya pada Mita. Seandainya pun dirinya sibuk sore ini, sudah pasti Arjun akan berdusta dengan mengatakan dirinya sedang tidak sibuk. jika berurusan dengan pujaan hatinya itu, Arjun pasti akan melakukan apapun.
"Apa kita bisa bertemu di taman biasa sore ini???." seketika senyum terbit di bibir Arjun kala melihat pesan Mita yang baru saja masuk ke ponselnya.
"Bisa." secepat kilat Arjun membalas pesan Mita.
"Ada apa???." tanya ayahnya ketika melihat Arjun senyum senyum sendiri kala menatap layar ponselnya.
"Tidak ada apa apa, pah." kata Arjun. Namun tentunya pria paru baya tersebut tak percaya begitu saja dengan jawaban putranya, dari raut wajah putranya sangat berseri-seri dan bisa di pastikan saat ini Arjun tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi ayahnya turut merasa senang karena melihat putranya itu tersenyum, Arjun yang sangat irit dalam tersenyum kini justru tersenyum sempurna di saat menatap layar ponselnya.
Waktu terus berjalan dan kini jam dinding yang menggantung di dinding kamar Arjun telah menunjukkan pukul empat sore dan itu artinya tiga puluh menit lagi ia sudah harus berada di taman untuk menepati janjinya bertemu dengan Mita.
Dengan pakaian kasualnya serta kunci mobil di tangannya, Arjun terlihat melangkah menuruni anak tangga.
"Pah, Arjun mau pergi sebentar." pamitnya dan ayahnya pun mengangguk saja, meski dalam hati papa Hamid bertanya tanya hendak kemana putranya saat ini, mengingat Arjun tak berpenampilan formal seperti biasanya.
Setelah berkendara kurang dari setengah jam kini mobil Arjun telah tiba di taman, untungnya Arjun tiba lebih dulu dari Mita, kalau tidak tentu saja Arjun akan merasa bersalah karena telah membuat pujaan hatinya itu menunggu.
Sepuluh menit setelah kedatangan Arjun, Mita pun tiba di taman. Senyuman manis seakan tak ingin surut dari bibir Arjun menyabut kedatangan Mita yang kini berjalan ke arahnya.
"Maaf sudah membuat anda menunggu, dokter." kata Mita merasa tidak enak hati membuat pria itu menunggu.
"Tidak perlu memanggilku seperti itu, lagi pula kita tidak sedang berada di lingkungan kerja, bukan. panggil mas saja !!!" meski sudah berulang kali Arjun meminta Mita untuk memanggilnya dengan sebutan santai jika hanya berdua saja, namun Mita masih saja memanggilnya dengan panggilan Formal dengan alasan merasa tak enak.
"Baik mas." rasanya lidah Mita terasa kaku saat memanggil Arjun dengan sebutan mas, tapi mau bagaimana lagi pria itu terus memaksa dan pada akhirnya ia pun memanggil Arjun dengan sebutan demikian.
Keduanya masih terlihat diam, baik Arjun maupun Mita belum ada yang membuka percakapan serius di antara mereka, sampai beberapa menit kemudian Arjun pun memilih membuka percakapan di antara mereka.
"Apa kamu sudah memiliki jawaban atas pertanyaanku siang tadi???." pertanyaan Arjun lantas mengalihkan perhatian Mita pada pria itu.
Mita tak langsung menjawab, cukup lama Mita mendalami Arjun melalui tatapan mata, sampai kemudian ia pun berkata.
"Aku bersedia menikah dengan mas Arjun." Jawab Mita. Setelah berpikir seharian akhirnya Mita mengambil keputusan untuk menerima lamaran pria itu, menurutnya sudah waktunya Farrel mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah meskipun bukan ayah kandungnya, mengingat selama ini Arjun begitu menyayangi putranya dengan tulus.
Arjun tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya setelah mendengar jawaban Mita. "Terima kasih telah memberi kesempatan untukku. Aku tidak bisa menjamin akan kebahagiaanmu hidup bersamaku, tapi aku berjanji akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu dan juga Farrel." ungkapan Arjun terlihat begitu tulus sehingga membuat Mita merasa bersalah karena menerima lamaran pria itu hanya karena ingin memberikan figur ayah untuk putranya, bukannya karena rasa cinta, sebab sampai saat ini Mita masih merasa trauma dengan yang namanya cinta. Di mana ia mulai jatuh cinta pada ayah kandung Farrel namun pria itu seakan tak menganggap dirinya ada di muka Bumi ini.
Saking senangnya tanpa sadar Arjun memeluk tubuh Mita. Meskipun tidak membalas pelukan pria itu namun Mita membiarkan Arjun memeluknya untuk sesaat.
"Secepatnya aku akan menemui ibu untuk melamar mu menjadi istriku." kata Arjun setelah melerai pelukannya dan Mita hanya mengangguk sambil menarik sudut bibirnya ke samping hingga menciptakan sebuah senyum tipis di sudut bibir mungilnya.
Setelahnya tak banyak lagi percakapan di antara Arjun dan juga Mita, mengingat Mita harus segera kembali karena putranya pasti akan mencari keberadaannya.
Setelah mengantarkan Mita kembali ke rumah kontrakannya, Arjun pun segera ke rumah sakit karena petang ini ada pertemuan penting di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ma Em
Mita kamu masih sah istrinya Damar kan Damar belum mengucapkan kata talak sama kamu kok kamu sdh mau nikah saja sama Arjun
2024-05-14
2
vie na Ai
koq gw kesal ama mita gampangan bnget sih mita masih sttus istri Damar
2024-02-29
0
Uthie
semoga segera ada kejelasan status Mita 👍🤗
2023-12-25
0