Masih dengan mode diamnya, Damar memeluk tubuh istrinya itu. Mungkin karena kelelahan sampai keduanya akhirnya terlelap di bawah selimut putih yang menjadi saksi bisu bagaimana kasarnya Damar merenggut kesucian sang istri.
Masih di kediaman yang sama namun di kamar yang berbeda, tuan Anggara nampak termenung di balkon kamarnya. Bayangan seseorang berhasil membawa ingatannya pada sosok sahabat baiknya yang sudah banyak membantu dirinya dengan memberikan modal di awal dirinya mendirikan perusahaan dua puluh lima tahun yang lalu, bahkan sosok sahabat baiknya itu rela menjual sawahnya demi memberikan modal untuk dirinya di awal merintis bisnisnya.
"Apa keputusan yang telah aku ambil ini salah??? Apa aku salah telah menikahkan putrimu dengan putraku??? Maafkan atas sikap putraku terhadap putrimu, Arifin. tapi aku janji, jika memang Mita tidak bahagia menikah dengan putraku, aku tidak akan memaksanya untuk melanjutkan pernikahan mereka. tapi aku janji, aku akan tetap menjaganya dengan baik meskipun tak lagi menjadi menantuku." papa Anggara terdengar bergumam dan tanpa terasa kedua sudut matanya kini nampak basah, namun dengan cepat di tepis oleh pria paru baya tersebut ketika mendengar suara langkah kaki seseorang.
"Pah, Malam ini anak kita akan berangkat ke Amerika, apa papah akan pergi bersamanya???." tanya mama Lina memastikan.
"Tidak, sayang." jawab papa Anggara, kini pria itu kembali menampilkan senyum di wajahnya agar tidak memancing kecurigaan istrinya.
"Pah...."
"Iya mah."
"Sebenarnya apa alasan papa menikahkan Damar dengan Mita??? mama tidak yakin jika papa melakukannya hanya karena kasihan padanya." pertanyaan yang sejak dua bulan lalu bersarang di benak dan pikiran mama Lina akhirnya diungkapkan wanita itu dihadapan sang Suami.
Papa Anggara menghela napas dalam mendengarnya.
"Mama yakin, ada sesuatu yang sedang papa sembunyikan dari mama. Apalagi saat Damar menolak menikahi gadis itu dengan alasan yang cukup masuk akal, tapi papa tetap kekeuh ingin Damar tetap menikah dengannya." entah mengapa mama Lina yakin dengan perasaannya.
Menurut papa Anggara seperti sudah waktunya ia berterus terang pada sang istri.
"Jadi sahabat papa, Ipin itu adalah Arifin ayahnya Mita???." tanya mama Lina meyakinkan, setelah mendengar pengakuan dari suaminya.
"Iya mah, dan papa juga yakin jika Mita tidak seperti yang dituduhkan Anak kita selama ini." jawab papa Anggara sebelum kemudian mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
Mama Lina memang cukup kenal dengan sahabat suaminya yang bernama Ipin, namun ia sungguh tidak menyangka jika Mita adalah putri dari Arifin, sahabat suaminya yang telah banyak berjasa dalam kehidupan suaminya dalam merintis di awal usahanya.
Sejenak Mama Lina terdiam sampai kemudian wanita itu berkomentar. "Mama juga begitu pah, mama tidak yakin jika apa yang ditudingkan Damar pada menantu kita itu benar adanya. Mama lihat Mita gadis baik baik." komentar mama Lina.
"Mah, papa lihat selama dua bulan pernikahan mereka, sikap anak kita masih saja sama pada istrinya. Jujur papa tidak tega setiap kali melihat Mita menangis secara diam diam akibat sikap Damar. Jika terus memaksanya hidup bersama Damar justru membuatnya menderita, sungguh papa merasa bersalah pada Arifin, mah." ungkap papa Anggara yang sudah beberapa kali tidak sengaja melihat Mita menangis seorang diri.
"Sebagai istri, mama hanya bisa menyetujui apapun yang sudah menjadi keputusan papa, meskipun mama sudah merasa nyaman dengan kehadiran menantu kita di rumah ini, pah." membayangkan tak lagi serumah Dengan menantunya itu Mama Lina sudah terisak. Tak rela rasanya jika harus berpisah dari wanita yang sudah dua Bulan terakhir itu berstatus sebagai menantunya.
"Papa mengerti dengan perasaan mama, tapi kita juga tidak bisa egois!!! Jika mama sayang pada Mita, maka biarkan dia mengambil keputusan demi kebahagiaan hidupnya!!!." meskipun berat namun papa Anggara tetap dengan keputusannya, membiarkan Mita yang akan memutuskan yang terbaik dalam hidupnya.
Mama Lina hanya bisa pasrah dengan keputusan suaminya.
*
Satu jam kemudian, Damar terjaga dari tidurnya. Melihat Mita masih terlelap dalam tidurnya pria itu pun merasa tak tega membangunkannya.
Damar menatap jarum jam yang telah menunjukkan pukul enam petang, di mana seharusnya ia sudah harus berada di airport untuk keberangkatannya ke Amerika malam ini. Meskipun berat rasanya meninggalkan istrinya setelah apa yang dilakukannya sore tadi, namun dengan berat hari Damar tetap harus segera pergi mengingat salah satu perusahaan milik keluarganya mengalami sedikit masalah di sana.
Dengan gerakan pelan Damar beranjak turun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum kemudian bersiap untuk keberangkatannya malam ini.
Tiga puluh menit kemudian, Damar telah selesai mandi dan juga bersiap dengan stelan jas lengkapnya, namun Mita belum juga terbangun dari tidurnya. Entah apa yang kini di rasakan Damar, sepertinya pria itu begitu berat untuk beranjak, namun pesan dari Asisten Randi yang baru saja masuk ke ponselnya dan mengatakan jika waktu keberangkatan mereka hampir tiba, Damar pun dengan berat hati melangkahkan kakinya beranjak meninggalkan kamarnya, tapi sebelum itu sebuah k*cupan hangat di daratkan Damar di puncak kepala Mita.
"Maaf karena aku pergi tanpa menunggu Kamu bangun terlebih dahulu." lirih Damar selesai mengecup puncak kepala istrinya itu. cukup lama Damar menatap Mita yang masih terlelap, sampai Akhirnya. " Dan maafkan atas sikapku selama ini padamu, aku janji setelah kembali nanti kita akan membuka lembaran baru di dalam rumah tangga kita, sayang." entah sadar atau tidak, Damar menyebut istrinya itu dengan sebutan sayang dan tentu saja tak dapat didengar oleh Mita yang masih terlelap dalam tidurnya.
Damar sungguh tidak menyangka, kemarahannya melihat sang istri berjalan berdua dengan pria lain justru membuka tabir kesalahpahaman nya terhadap sang istri.
*
Satu jam kemudian setelah kepergian Damar barulah Mita terbangun dari tidurnya.
"Oh Astaga.... bagaimana aku bisa tertidur selama ini???." gumamnya setelah menyaksikan jarum jam telah menunjukkan pukul tujuh malam. seakan nyawanya baru terkumpul sempurna, perhatian Mita lantas beralih di sisi tempat tidur yang kini telah kosong tak berpenghuni.
Di tengah pertanyaan Mita akan sosok pria yang baru saja mengambil kehormatannya itu, tiba tiba perhatian Mita teralihkan saat mendengar ketukan pintu dari arah luar. Dari suaranya, Mita dapat menebak jika seseorang di depan pintu kamar saat ini adalah Bi Atun salah seorang ART.
Setelah menutup tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher Mita pun mempersilahkan bi Atun untuk masuk.
"Ada apa, bi???."
"Ini non, bibi di minta sama ibu memanggil Non Mita untuk makan malam." BI Atun lantas menyampaikan tujuannya.
"Baik bi."
"Bi, apa mas Damar sudah ada di bawah???."
"Tuan Damar baru saja pergi Non, kalau bibi nggak salah malam ini tuan Damar berangkat ke luar negeri sama Asisten Randi." jawab Bi Atun sesuai apa yang diketahuinya.
"Ke luar negeri???." ulang Mita dan Bi Atun mengangguk. Melihat Mita hanya diam saja, bi Atun pun pamit meninggalkan kamar tersebut.
Senyum miris terukir di sudut bibir Mita. "Sebegitu rendahnya aku di mata kamu mas, bahkan setelah apa yang terjadi kamu pergi begitu saja meninggalkan aku." lirih Mita. Kini kedua kelopak mata wanita yang tak lagi bersandang status gadis tersebut telah di genangi air mata yang kapan saja bisa jauh membasahi pipinya.
"Mungkin kamu benar mas, aku memang tidak akan pernah pantas menjadi istri kamu." dalam hati Anis, sebelum kemudian wanita itu dengan susah payahnya turun dari tempat tidur untuk membersihkan tubuhnya di kamar mandi sebelum kemudian turun untuk makan malam bersama mertuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Lili Handayani
banyak typo thor,kok ada anis,aturan kan mitha
2024-03-01
0
Nita Puspita
lanjut
2023-12-12
0
Bivendra
kreji up thor kgn bgt ma novel ini
2023-12-12
0