Lamaran dokter Arjun.

Sudah pukul sebelas malam namun Mita tak kunjung dapat memejamkan matanya, bayangan Damar selalu saja terlintas di benak dan pikirannya.

"Kamu pasti sudah tenang sekarang mas, karena aku tak akan lagi mengganggu hidup kamu." gumam Mita dengan kedua kelopak mata yang telah digenangi air mata yang hampir jatuh membasahi pipinya.

"Seandainya saja kamu tahu saat ini aku sedang mengandung anak kamu, mas." lirih Mita, sebelum beberapa saat kemudian sebuah senyuman miris tercipta di sudut bibirnya. "tapi aku juga tidak yakin kamu menerima kehadiran seorang anak dari wanita sepertiku, mas. sepertinya akan lebih baik kamu tidak mengetahui keberadaan anak ini, mas Damar. Aku doakan, jauh di sana kamu segera mendapatkan pendamping hidup yang sesuai dengan pilihan hati kamu, mas." bergumam demikian berhasil membuat air matanya jatuh tanpa permisi.

Tanpa di ketahui oleh Mita di belahan kota yang berbeda, Damar pun tak dapat memejamkan matanya. entah sudah berapa batang rokok yang dihabiskan pria itu hingga kini asbak di atas meja telah dipenuhi oleh puntung rokoknya.

Masih dengan sebatang rokok yang tersulut di sela jemarinya, Damar memejamkan kedua matanya. bayangan Mita menangis di bawah Kungkungannya kembali terlintas di pikiran Damar. "Maafkan aku." lirihnya sambil membuka mata perlahan.

Malam itu sesuai jadwal Damar seharusnya berangkat ke Surabaya untuk melihat pembangunan rumah sakit milik ayahnya di kota tersebut, namun karena terlalu banyak pikiran akhirnya Damar membatalkan keberangkatannya.

*

Tidak terasa waktu terus bergulir, sudah empat tahun lamanya Damar berusaha mencari keberadaan Mita namun tak kunjung menemukan titik terang, seakan wanita itu hilang di telan bumi.

"Apa anda belum ingin menyerah mencari keberadaan Nona Mita, tuan????." pertanyaan Asisten pribadinya itu lantas mengalihkan perhatian Damar dari layar laptopnya.

"Selagi tuhan masih mengizinkan aku untuk bernapas, aku tidak akan pernah menyerah." jawab Damar tanpa keraguan.

Sejujurnya asisten Randi merasa iba pada majikannya itu, sejak kepergian sang istri kehidupan Damar seakan hampa, bahkan pria itu sengaja menghabiskan waktu lebih banyak di kantor untuk mengalihkan pikirannya dari sang istri, jika tidak, mungkin saat ini Damar sudah di rawat di rumah sakit jiwa karena depresi, terlalu banyak pikiran.

Ketukan dari balik pintu ruangan kerjanya mengalihkan perhatian Damar dan Asisten Randi.

"Masuk!!!." mendengar seruan dari Damar, seseorang di luar sana lantas membuka pintu ruangan tersebut.

Damar menghembus napas kasar ke udara ketika melihat kedatangan Brian.

"Jika kau datang hanya untuk kembali menyindirku, sebaiknya kau pergi saja !!!." ketus Damar, mengingat selama kepergian Mita, Brian tak henti hentinya melontarkan kalimat berbau sindiran padanya, maka tak heran jika Damar berpikir jika tujuan kedatangan Brian siang itu tak berbeda dari sebelumnya.

"Ayolah....aku datang ke sini karena permintaan dari Om Anggara, kalau bukan karena Om Anggara yang memintaku datang ke sini aku juga malas bertemu dengan suami patah hati sepertimu." jawaban Brian tak kalah ketus sehingga membuat Damar mencebikkan bibir mendengarnya.

Tidak mau ambil pusing dengan raut wajah kesal yang di tampilkan Damar saat ini, Brian mendapatkan bokongnya begitu saja di kursi yang berada di depan meja kerja Damar.

Sejujurnya Brian pun merasa iba dengan kondisi sahabatnya itu saat ini, mengingat semenjak kepergian Mita, Damar bahkan tak tidur dengan nyenyak.

"Memangnya sampai saat ini kau belum mendapat informasi tentang keberadaan istrimu???." kini Brian terlihat dalam mode serius, terbukti dari raut wajah serta tatapannya.

Damar menggelengkan kepalanya pelan dan itu berhasil membuat Brian menghela napas berat melihatnya.

"Apa kau tidak mencurigai sesuatu????." pertanyaan Brian sontak memancing tatapan tanya dari Damar.

"Apa maksudmu???."

"Empat tahun bukanlah waktu yang singkat, dan selama empat tahun pula kau terus berusaha mencari keberadaan istrimu namun hasilnya tetap saja nihil. Mita adalah gadis biasa, tidak mungkin dia bisa bersembunyi dengan apik tanpa bantuan dari seseorang yang cukup berpengaruh." peryataan Brian bak teka-teki yang harus di pecahkan oleh Damar.

Sejenak Damar terdiam seperti sedang berpikir keras. beberapa saat kemudian, Damar kembali mengangkat pandangannya menatap Brian.

Seolah paham dengan arti sorot mata Damar, Brian lantas mengangguk.

"Papa???." gumam Damar dan Brian spontan menganggukkan kepalanya.

"Ya, Aku yakin Om Anggara pasti ada hubungannya dengan keberadaan istrimu saat ini." Brian lantas mengemukakan dugaannya di hadapan Damar, dan itu membuat Damar semakin berpikir keras dibuatnya.

"Sudahlah....sebaiknya kau cari tahu kebenarannya setelah kembali dari Surabaya nanti!!! Aku tahu kau sangat merindukan istrimu, tapi jangan lupa kau juga bertanggung jawab akan kelangsungan perusahaan ini." kata Brian. Brian memang lebih bijak dalam berpikir di banding Damar, itulah mengapa persahabatan mereka tetap bertahan meski sering kali berselisih pendapat. Bahkan kesalahpahaman akibat perasaan Brian pada Mita tak sampai membuat keduanya saling membenci sebab Brian meminta maaf pada Damar, meskipun kenyataan ia tidak sepenuhnya bersalah.

*

Di belahan kota yang berbeda, seorang anak laki-laki tengah bermain di taman dengan ditemani ibunya.

Hari ini Mita libur bekerja sehingga ia mempergunakan kesempatan itu untuk menemani putranya, walaupun hanya sebatas bermain di taman. menjadi seorang singel parent tak mudah di jalani Mita selama empat tahun terakhir, untungnya ada ibunya yang selalu ada untuk menjaga putranya selama ia bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

"Usia Farrel sudah tiga tahun. apa kamu tidak berniat untuk menikah lagi???." dokter Arjun yang kini duduk di samping Mita usai menemani Farrel bermain terdengar melontarkan pertanyaan yang membuat Mita mengalihkan perhatiannya pada pria itu.

"Sampai saat ini aku sama sekali tidak memikirkan diriku sendiri apalagi sampai berpikir untuk menikah lagi, bagiku kebahagiaan putraku adalah yang paling utama." jawab Mita, sebelum kemudian kembali fokus memandang ke arah putranya yang tengah bermain.

Dokter Arjun menghela napas panjang mendengarnya, entah sudah berapa kali pria itu mendapat jawaban yang sama selama empat tahun terakhir.

"Lagi pula belum tentu ada seorang pria yang mampu berbesar hati menerima kehadiran putraku." lanjut ungkap Mita akan kekhawatirannya selama ini sehingga ia sama sekali tidak berniat untuk menikah lagi. Namun satu kenyataan yang sampai saat ini tidak di ketahui Mita yakni sampai saat ini secara hukum agama dan negara ia masih menjadi istri dari seorang Damar putra Anggara.

"Bagaimana jika pria itu ada, apakah kamu bersedia menikah dengannya???." kalimat Arjun tersirat makna.

"Apa maksud anda, dokter????."

Arjun meraih kedua tangan Mita lalu menggenggamnya, dengan tatapan dalam pria itu berkata. "bukankah kamu sendiri tahu, aku sudah menganggap Farrel seperti putraku sendiri." ucap Arjun, sejenak pria itu menjeda ucapannya.

"Dan kamu tahu sendiri, aku sudah lama menaruh hati padamu. bagaimana jika aku ingin menjadi ayah sambung Farrel, apa kamu bersedia menikah denganku????."

Mita tertegun mendengarnya. Bukan karena bahagia apalagi sampai terpesona dengan ungkapan Arjun, wanita itu justru merasa bersalah karena ia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada pria itu, padahal selama ini dokter Arjun sudah begitu baik padanya dan juga pada putranya, bahkan pria itulah yang pertama kali mengumandangkan adzan di telinga kanan putranya ketika baru lahir ke dunia ini.

"Aku tidak memaksamu untuk menjawabnya sekarang, kamu boleh memikirkannya terlebih dahulu!!! Namun begitu kamu tentu tahu, harapanku kamu menerima lamaranku ini." dalam diam Mita menatap intens kedua manik mata Hitam milik Arjun.

Terpopuler

Comments

Rita Susanti

Rita Susanti

jangan lama2 thor....upnya ditunggu terus

2023-12-17

0

Rahmy

Rahmy

ayo thor semangat . aku sampai gk bisa tidur mikirin kelanjutan nya/Kiss//Kiss//Kiss//Kiss/

2023-12-17

1

lihat semua
Episodes
1 Situasi yang menuntut.
2 Mendapat Tatapan merendahkan dari seseorang.
3 Seakan mendapatkan angin segar.
4 Tudingan pedas Damar.
5 Perjanjian pernikahan.
6 Hari pernikahan.
7 Menolak bulan madu.
8 Mencari rumah kontrakan.
9 Mencoba menghindari.
10 Paramita Anindita.
11 Meminta Izin suami.
12 Di ketahui oleh Ayah mertua.
13 Akhir dari tudingan menyakitkan.
14 Rahasia papa Anggara.
15 Gugatan perceraian.
16 Dugaan ibu.
17 Mengandung.
18 Lamaran dokter Arjun.
19 Menerima lamaran Pria itu.
20 Bocah tampan.
21 Setelah empat tahun.
22 Saya adalah Ayahnya.
23 Dia, darah dagingku.
24 Ikatan batin antara ayah dan anak.
25 Tidak ingin terpengaruh.
26 Hasil pemeriksaan DNA.
27 Keinginan Farrel.
28 Pembuktian, karena kenyataannya dia adalah putraku.
29 Apa dia cemburu???
30 Kartu Ajaib pemberian Damar.
31 Kedatangan ibu mertua.
32 Om Om Aneh.
33 Menantu dari pemilik rumah sakit.
34 Ungkapan perasaan.
35 Ingin kembali bersama.
36 Keputusan Mita.
37 Menguji Damar.
38 Lembaran baru dalam kehidupan rumah tangga.
39 Kepergok berdua di kamar hotel.
40 Kepergok di kamar hotel.
41 Kembalinya wanita di masa lalu.
42 Mempertanyakan Mahar.
43 LAMARAN.
44 Mencari cincin pernikahan
45 Kedatangan Leana.
46 layaknya seekor anak kucing.
47 Pernikahan Arjun dan Anin.
48 Resepsi pernikahan Anin dan Arjun.
49 Resepsi pernikahan.
50 Beribadah bersama.
51 Dugaan Anin.
52 Keberangkatan Arjun ke Surabaya.
53 Jatuh hati.
54 Menetap di kota yang sama.
55 Villa 1.
56 Vila 2.
57 Datang bulan.
58 Bulan madu kilat yang Gatot.
59 Rumah sakit harapan bangsa.
60 Pulang bersama.
61 Hamil lagi.
62 Melakukan kewajiban.
63 Hama.
64 Mewakili pertanyaan.
65 Sikap posesif.
66 Akhirnya ketahuan juga.
67 Menjadi topik hangat.
68 Sedingin Freezer.
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Situasi yang menuntut.
2
Mendapat Tatapan merendahkan dari seseorang.
3
Seakan mendapatkan angin segar.
4
Tudingan pedas Damar.
5
Perjanjian pernikahan.
6
Hari pernikahan.
7
Menolak bulan madu.
8
Mencari rumah kontrakan.
9
Mencoba menghindari.
10
Paramita Anindita.
11
Meminta Izin suami.
12
Di ketahui oleh Ayah mertua.
13
Akhir dari tudingan menyakitkan.
14
Rahasia papa Anggara.
15
Gugatan perceraian.
16
Dugaan ibu.
17
Mengandung.
18
Lamaran dokter Arjun.
19
Menerima lamaran Pria itu.
20
Bocah tampan.
21
Setelah empat tahun.
22
Saya adalah Ayahnya.
23
Dia, darah dagingku.
24
Ikatan batin antara ayah dan anak.
25
Tidak ingin terpengaruh.
26
Hasil pemeriksaan DNA.
27
Keinginan Farrel.
28
Pembuktian, karena kenyataannya dia adalah putraku.
29
Apa dia cemburu???
30
Kartu Ajaib pemberian Damar.
31
Kedatangan ibu mertua.
32
Om Om Aneh.
33
Menantu dari pemilik rumah sakit.
34
Ungkapan perasaan.
35
Ingin kembali bersama.
36
Keputusan Mita.
37
Menguji Damar.
38
Lembaran baru dalam kehidupan rumah tangga.
39
Kepergok berdua di kamar hotel.
40
Kepergok di kamar hotel.
41
Kembalinya wanita di masa lalu.
42
Mempertanyakan Mahar.
43
LAMARAN.
44
Mencari cincin pernikahan
45
Kedatangan Leana.
46
layaknya seekor anak kucing.
47
Pernikahan Arjun dan Anin.
48
Resepsi pernikahan Anin dan Arjun.
49
Resepsi pernikahan.
50
Beribadah bersama.
51
Dugaan Anin.
52
Keberangkatan Arjun ke Surabaya.
53
Jatuh hati.
54
Menetap di kota yang sama.
55
Villa 1.
56
Vila 2.
57
Datang bulan.
58
Bulan madu kilat yang Gatot.
59
Rumah sakit harapan bangsa.
60
Pulang bersama.
61
Hamil lagi.
62
Melakukan kewajiban.
63
Hama.
64
Mewakili pertanyaan.
65
Sikap posesif.
66
Akhirnya ketahuan juga.
67
Menjadi topik hangat.
68
Sedingin Freezer.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!