Dengan berlinang air mata Mita menatap benda pipih ditangannya yang kini menampilkan dua garis merah, yang artinya dirinya positif hamil. dugaan ibunya semalam cukup membuat Mita kepikiran hingga pagi ini sebelum berangkat kerja ia mampir dulu ke apotik untuk membeli testpack dan betapa terkejutnya ia ketika melihat dia garis merah yang ditampilkan benda tersebut.
Mita memegangi perutnya seraya memejamkan matanya. "Maafkan mama sayang karena membuatmu harus lahir tanpa kehadiran seorang ayah." lirih Mita dalam hati seraya berlinang air mata.
Mendengar ketukan dari balik pintu kamar mandi rumah sakit membuat Mita sontak mengusap air matanya.
"Sebentar!!." dengan cepat Mita memasukkan testpack ke dalam tasnya lalu kemudian membuka pintu kamar mandi.
"Ngapain aja sih di dalam lama amat." gerutu salah seorang rekan sesama perawat yang merasa kebelet ingin buang air.
"Maaf." tutur Mita.
Hampir seharian Mita terlihat tidak bersemangat seperti biasanya dan itu tak luput dari perhatian seorang dokter yang bertugas di poli kandungan bersamanya. Selama ini Mita bertugas menjadi perawat untuk mendampingi dokter spesialis kandungan di poli.
"Ada apa, apa kamu sedang kurang enak badan???." tanya dokter spesialis kandungan bernama Arjun. pria tampan berusia tiga puluh tiga tahun dan masih menyandang status bujang.
"Saya baik baik saja, dok." Mita tidak sepenuhnya berdusta, sebab saat ini tubuhnya memang baik baik saja namun hatinya yang sedang tidak baik baik saja setelah mengetahui kehamilannya.
tanpa di duga sesaat kemudian tanpa sengaja tas selempang Milik Mita terjatuh dari atas meja akibat pergerakannya kurang hati hati sehingga membuat semua isi tas tersebut berserakan ke lantai.
Spontan tatapan dokter Arjun tertuju pada sebuah testpack dengan garis dua yang tergeletak di lantai. Tanpa aba aba dokter Arjun menunduk untuk meraih benda tersebut lalu kemudian memperhatikannya dengan seksama.
Sementara Mita sendiri, wanita itu nampak menelan ludahnya dengan susah payah ketika melihat testpack miliknya berada di tangan pria itu.
Perlahan perhatian dokter Arjun beralih pada Mita. "Apa benda ini milikmu????." lagi, dengan susah payah Mita menelan ludahnya ketika mendengar pertanyaan dari dokter Arjun m
"Jawab!!! Apa benda ini milik kamu, Mita???." tanya Arjun dengan tatapan menutup jawaban. kini Arjun bahkan memanggil Mita dengan sebutan nama saja tanpa ada embel-embel Suster di depannya.
Perlahan Mita menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Arjun mengusap wajahnya dengan kasar, bagaimana tidak, selama ini setahu pria itu Mita merupakan seorang gadis yang belum menikah lalu bagaimana mungkin ia bisa hamil.
"Saya tidak seburuk yang ada di pikiran anda, dokter. Saya sudah menikah dan anak ini adalah anak Suami saya, tapi sayangnya kini kami sudah berpisah." mau tidak mau Mita pun mengungkapkan kebenaran tersebut di hadapan dokter Arjun. Bukan karena peduli dengan pikiran buruk pria itu tentang dirinya, namun karena Mita tak ingin sampai anaknya di cap sebagai anak h*ram yang terlahir tanpa ikatan suci pernikahan.
Dokter Arjun mencebikkan bibirnya mendengar pengakuan Mita, ia tidak habis pikir ada seorang pria yang tega menceraikan istrinya dalam kondisi hamil seperti ini.
Jujur sebagai seorang pria yang menaruh hati pada Mita, awalnya dokter Arjun merasa kecewa saat mengetahui Mita tengah mengandung benih pria lain, namun setelah mendengar cerita Mita, pria itu justru merasa iba pada wanita itu.
"Sebaiknya besok pagi kamu segera menghadap pada Dirut rumah sakit untuk menceritakan tentang kebenarannya, sebelum kabar tak enak tentang dirimu beredar di kalangan rumah sakit karena bagaimana pun semakin hari kandungan kamu akan semakin membesar dan kamu pasti tidak akan bisa menyembunyikannya dari pandangan orang lain!!!." demi menjaga nama baiknya, Dokter Arjun menyarankan Mita untuk segera menghadap ke ruangan Dirut rumah sakit.
"Baik dok, besok pagi saya akan menemui Dirut rumah sakit." sahut Mita setuju dengan saran dari dokter Arjun.
*
"Bukankah kau tidak mencintai istrimu, lalu kenapa mencari keberadaannya???." pertanyaan berbau sindiran di lontarkan Hantara ketika Damar datang menemuinya untuk meminta bantuan anak buahnya mencari keberadaan sang istri.
"Ayolah....aku datang kesini untuk meminta bantuan kalian bukannya ingin mendengar sindiran kalian!!." gerutu Damar ketika kedua sahabatnya, Hantara dan juga Riko justru mengucapkan kalimat kalimat berbau sindiran yang ditujukan padanya.
"Sejak awal aku sudah bisa menebak jika kau pasti akan jatuh hati pada istrimu, itu sebabnya aku memperingatkan dirimu agar tidak bersikap keterlaluan padanya, tapi sepertinya tingkat keegoisanmu jauh lebih tinggi sehingga tidak mengindahkan nasehat dariku." Riko pun ikut berkomentar.
Setelah cukup lama merahasiakan alasan mengapa sampai ia bersikap demikian pada sang istri, akhirnya hari ini Damar pun berterus terang dihadapan kedua sahabatnya.
"Sepertinya kau sudah sangat keterlaluan, aku juga pernah salah paham pada istriku dulu, namun aku tak sampai menuduhnya berlebihan seperti apa yang kau lakukan pada istrimu." kembali Riko berkomentar setelah mendengar pengakuan Damar.
"Aku tidak janji bisa membantumu tapi aku janji akan mengerakkan semua anak buahku untuk membantu mencari keberadaan istrimu." ucap Hantara. sebagai sahabat tentu saja Hantara merasa turut prihatin dengan permasalahan rumah tangga yang di alami sahabatnya itu.
"Thank you, bro." kata Damar sebelum kemudian pamit meninggalkan perusahaan milik Hantara dan kembali ke perusahaannya.
"Sebenarnya kamu di mana, Mita??? Apa seperti ini rasanya merindu???." lirih Damar dalam hati.
*
Seseorang yang kini memenuhi pikiran Damar terlihat bersiap kembali ke rumah kontrakannya saat jam kerjanya telah usai.
Mita yang baru saja turun dari bus lantas berjalan kaki menyusuri gang kecil menuju rumah kontrakannya. Dari jarak yang masih lumayan jauh, Mita melihat senyuman terukir di bibir ibunya menyambut kedatangannya. Setiap kali pulang kerja, Bu Romlah pasti duduk di teras depan rumah kontrakan mereka untuk menyambut kepulangan putrinya.
Setibanya di depan ibunya, tanpa aba aba Mita memeluk tubuh ibunya. aroma tubuh yang selalu membuatnya merasa aman dan juga nyaman Meskipun menghadapi berbagai macam ujian kehidupan.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam!!." menyadari ada yang tidak biasa pada putrinya, Bu Romlah lantas mengajak Mita untuk segera masuk di dalam, tak ingin mereka menjadi pusat perhatian tetangga apalagi kini Mita terlihat menitihkan air mata.
Bu Romlah menuntun Mita untuk duduk di sofa ruang tengah. "Ada apa, nak??." dengan lembut wanita itu bertanya.
Bukannya menjawab, Mita justru merogoh tasnya kemudian menyerahkan testpack miliknya pada ibunya.
Cukup lama Bu Romlah menatap intens benda ditangannya itu, sampai beberapa saat kemudian ia pun berkata. "Jangan bersedih, setiap anak adalah anugerah terindah dari Tuhan, maka berbahagialah tidak sedikit diluar sana wanita yang mengharapkan kehadiran seorang anak dan kini kamu mendapatkannya, Mita. Meskipun tanpa seorang suami, ibu yakin kamu pasti bisa melahirkan serta membesarkan anakmu dengan baik, nak." Bu Romlah mencoba menghibur putrinya, meski kenyataannya ia pun merasa iba melihat putrinya yang kini mengandung tanpa seorang Suami di sisi nya.
"Terima kasih, Bu, karena ibu selalu ada bersama Mita." Mita membawa tubuhnya ke dalam pelukan hangat ibunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Uthie
mengharukan 👍
2023-12-25
0