Paramita Anindita.

Pertanyaan Mita mampu menciptakan seringaian disudut bibir Damar. "Jika bukan w*nita malam, lalu apa yang dilakukan seorang wanita dengan pakaian serba minim di sebuah club malam, Hmt???

Mita yang mendengarnya hanya bisa menghela napas dalam, ingin mencoba membela diri pun rasanya percuma karena sepertinya suaminya itu tidak akan percaya padanya.

Mita mencoba mengukir senyum meski hatinya merasa terluka dengan semua anggapan Damar terhadap dirinya. "Aku percaya mas orang yang baik, semoga suatu hari ini setelah kita berpisah mas Damar bisa menemukan sosok wanita yang baik, yang akan mendampingi hidup mas Damar." Kalimat yang terlontar dari mulut Mita mampu membuat Damar mengangkat pandangannya menatap wajah istrinya yang kini sedang tersenyum padanya, lebih tepatnya sebuah senyum palsu yang diciptakan Mita diatas lukanya hatinya.

Damar yang mendengarnya hanya menatap intens wajah Mita tanpa berniat merespon ucapan gadis itu.

Setelahnya, Mita dan Damar tak lagi terlibat percakapan apapun sampai Damar menyelesaikan makan malamnya dan mereka kembali ke kamar untuk beristirahat.

*

Keesokan harinya.

Pagi ini Mita mengantarkan ibunya ke rumah sakit mengingat hari ini adalah jadwal ibunya untuk memeriksakan kondisi kesehatannya setelah sebulan yang lalu mendapatkan tindakan operasi.

"Ibu tunggu di sini sebentar ya !!!." Mita meminta ibunya untuk menunggu di sebuah bangku yang telah di sediakan, sementara dirinya hendak menebus obat yang baru saja diresepkan oleh dokter. Meskipun kondisi ibunya sudah jauh membaik namun Mita masih rutin memeriksakan kondisi ibunya ke rumah sakit.

"Iya nak."

Di sela langkahnya Mita terlihat merogoh tas selempangnya ketika mendengar suara deringan ponselnya.

sibuk mencari keberadaan ponselnya membuat Mita tak fokus menatap ke depan sehingga membuatnya tak sengaja menabrak tubuh tegap seseorang.

"Maaf tuan, saya tidak Sengaja." secara spontan Mita menundukkan kepalanya untuk meminta maaf pada seseorang yang kini berdiri dihadapannya.

"Anda, Nona???." suara seorang pria membuat Mita mengangkat pandangan menatapnya.

"Anda ????." bukannya marah, pria tampan dihadapannya itu justru tersenyum lalu mengangguk sekilas pada Mita. Seorang pria yang diketahui Mita sebagai pemilik rumah yang kini di tempati ibunya.

"Apa yang anda lakukan di sini tuan, apa anda sedang sakit???." pertanyaan Mita dijawab pria itu dengan menggelengkan kepalanya.

"Kamu sendiri sedang apa di sini???."

"Saya sedang mengantarkan ibu saya untuk memeriksakan kesehatannya, tuan."

"Oh begitu." pria tampan itu kembali mengulas senyum di wajah tampannya. "By the way, don't call me Mr, panggil Brian saja!!!." lanjut tutur pria tampan yang bernama lengkap Brian Jilbert tersebut.

"Tuan Brian." kata Mita.

"No .. Brian, tidak perlu menambahkan sebutan tuan lagi !! Kalau saya boleh tahu siapa nama anda, Nona????."

Brian sungguh tak menyangka jika kedatangannya hari ini di rumah Sakit tersebut akan kembali mempertemukan dirinya dengan sosok gadis manis yang akhir akhir ini mengisi pikirannya.

"Mita....Paramita Anindita ." tutur Mita dengan menyebutkan nama panjangnya.

"Wah, nama yang cantik, secantik pemiliknya." bukannya ingin berniat menggombal namun Brian hanya mengungkapkan fakta yang ada.

"Sepertinya anda terlalu berlebihan, tuan Brian." meskipun Brian telah meminta dirinya untuk memanggil dengan sebutan nama saja, namun tetap saja Mita enggan melakukannya, ia merasa tak sangat tidak sopan jika memanggil pria itu dengan sebutan nama saja.

"Selamat siang suster Mita." salah seorang perawat yang mengenal Mita terdengar menyapanya.

"Selamat siang suster Dita." sahut Mita. untuk sejenak mereka berpelukan melepas rindu sebelum kemudian suster Dita pamit pada Mita untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Suster, jadi anda seorang perawat????". tanya Brian memastikan, setelah kepergian Suster Dita.

"Lebih tepatnya mantan perawat, karena saya sudah tak lagi bekerja di rumah sakit ini, tuan." jawab Mita seadanya.

"Wah... kebetulan sekali, sebenarnya kedatangan saya ke rumah sakit ini untuk mencarikan seorang perawat untuk merawat ibu saya." ungkap Brian yang baru teringat akan tujuannya mendatangi rumah sakit tersebut.

"Jika anda tidak keberatan, apakah anda bersedia menjadi perawat pribadi untuk merawat ibu saya, nona Mita?? Ibu saya sedang menderita asam lambung, sebenarnya tidak begitu parah tapi saya tetap cemas jika harus meninggalkan ibu saya tanpa pengawasan dari seseorang yang berpengalaman dalam bidangnya." ungkap Brian.

"Maaf tuan, sepertinya saya tidak bisa memberi jawaban atas penawaran anda untuk saat ini, karena saya harus meminta izin pada seseorang terlebih dahulu." sejujurnya Mita merasa senang saat mendapat tawaran pekerjaan, namun sebagai seorang wanita yang telah bersuami tentu saja ia merasa membutuhkan izin dari suaminya terlebih dahulu, karena itu ia tak bisa langsung memberikan jawaban atas penawaran yang diberikan Brian.

"Anda tidak perlu menjawabnya sekarang!! Minta izinlah pada ibu anda terlebih dahulu!!." tutur Brian yang mengira jika Mita berniat meminta izin pada ibunya.

Brian mengeluarkan dompetnya dari saku jasnya kemudian mengambil selembar kartu nama miliknya lalu menyerahkannya pada Mita.

"Ini kartu nama saya, jika anda sudah memiliki jawaban atas penawaran saya tadi, segera hubungi nomor ponsel saya!!!." tutur Brian dengan wajah penuh wibawa, meski dalam hatinya begitu besar harapannya jika Mita menerima tawarannya. Entah mengapa, sejak pertama kali melihat Mita, Brian merasa ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu dan itu membuat Brian merasa tertarik pada sosoknya.

"Baik tuan Brian, saya akan segera menghubungi anda jika sudah memiliki Jawabannya." jawab Mita, sebelum kemudian ia pamit untuk segera menebus obat ibunya di apotek.

Brian tak langsung beranjak, pria itu masih stay meyaksikan langkah Mita menuju ke arah loket apotek. "Gadis yang sangat menarik." gumam Brian.

Setelah mengantarkan ibunya kembali ke rumah, Mita lantas pamit kembali ke rumah mertuanya, karena siang ini rencananya keluarga besar suaminya akan mengadakan makan siang bersama dan tentu saja suaminya pun akan hadir di acara makan siang tersebut.

*

"Apa kalian belum berencana memberikan seorang cucu untuk mama dan papa???." Damar sadar betul jika pertanyaan itu ditujukan ayahnya untuk dirinya dan juga sang istri.

"Kami belum berniat untuk memiliki seorang anak, pah." jawaban Damar sontak mengejutkan ayahnya. pria itu bahkan sampai meletakkan sendok ke piringnya. Sejujurnya bukannya Damar tak ingin memiliki seorang anak, namun proses untuk mendapatkan seorang anaklah yang belum dapat dilakukannya mengingat seperti apa sang istri di matanya saat ini.

"Apa maksud kamu dengan berkata seperti itu, Damar?? Bukankah setiap pasangan suami istri yang telah menikah menginginkan kehadiran seorang anak di dalam pernikahan mereka, lalu kenapa kamu justru sebaliknya???." papa Anggra yang sejak lama menginginkan kehadiran seorang cucu tersebut lantas tak bisa mengontrol emosinya ketika mendengar jawaban Damar perihal kehadiran seorang anak.

"Bukan begitu maksud Damar, pah. Damar hanya belum yakin jika istri Damar sudah siap mengandung untuk saat ini." Damar mencoba mengkoreksi ucapannya.

Tentunya sebagai seorang ayah yang kenal betul dengan watak putranya, papa Anggara tidak percaya begitu saja dengan alasan Damar, pria itu justru menaruh kecurigaan pada putranya itu.

"Sepertinya kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari papa, Damar." lirih papa Anggara dalam hati. Namun begitu papa Anggara memperlihatkan gurat wajah seakan percaya dengan ucapan putranya itu.

Untuk mendukung karya recehku jangan lupa like, koment, vote, give, and subscribe ya sayang sayangku 🙏😊😊 dan jangan lupa untuk memberikan ulasan 🥰🥰🥰🥰🥰

Terpopuler

Comments

NNPAPALE🦈🦈🦈🦈

NNPAPALE🦈🦈🦈🦈

di sebelah kalo gak sasmita susmita deh kok ganti....

2024-01-26

0

Mary Bella

Mary Bella

perasaan namanya Sushmita ya...dh ditukar apa slh bc sy

2024-01-20

0

Uthie

Uthie

seru 👍💪💪💪

2023-12-25

1

lihat semua
Episodes
1 Situasi yang menuntut.
2 Mendapat Tatapan merendahkan dari seseorang.
3 Seakan mendapatkan angin segar.
4 Tudingan pedas Damar.
5 Perjanjian pernikahan.
6 Hari pernikahan.
7 Menolak bulan madu.
8 Mencari rumah kontrakan.
9 Mencoba menghindari.
10 Paramita Anindita.
11 Meminta Izin suami.
12 Di ketahui oleh Ayah mertua.
13 Akhir dari tudingan menyakitkan.
14 Rahasia papa Anggara.
15 Gugatan perceraian.
16 Dugaan ibu.
17 Mengandung.
18 Lamaran dokter Arjun.
19 Menerima lamaran Pria itu.
20 Bocah tampan.
21 Setelah empat tahun.
22 Saya adalah Ayahnya.
23 Dia, darah dagingku.
24 Ikatan batin antara ayah dan anak.
25 Tidak ingin terpengaruh.
26 Hasil pemeriksaan DNA.
27 Keinginan Farrel.
28 Pembuktian, karena kenyataannya dia adalah putraku.
29 Apa dia cemburu???
30 Kartu Ajaib pemberian Damar.
31 Kedatangan ibu mertua.
32 Om Om Aneh.
33 Menantu dari pemilik rumah sakit.
34 Ungkapan perasaan.
35 Ingin kembali bersama.
36 Keputusan Mita.
37 Menguji Damar.
38 Lembaran baru dalam kehidupan rumah tangga.
39 Kepergok berdua di kamar hotel.
40 Kepergok di kamar hotel.
41 Kembalinya wanita di masa lalu.
42 Mempertanyakan Mahar.
43 LAMARAN.
44 Mencari cincin pernikahan
45 Kedatangan Leana.
46 layaknya seekor anak kucing.
47 Pernikahan Arjun dan Anin.
48 Resepsi pernikahan Anin dan Arjun.
49 Resepsi pernikahan.
50 Beribadah bersama.
51 Dugaan Anin.
52 Keberangkatan Arjun ke Surabaya.
53 Jatuh hati.
54 Menetap di kota yang sama.
55 Villa 1.
56 Vila 2.
57 Datang bulan.
58 Bulan madu kilat yang Gatot.
59 Rumah sakit harapan bangsa.
60 Pulang bersama.
61 Hamil lagi.
62 Melakukan kewajiban.
63 Hama.
64 Mewakili pertanyaan.
65 Sikap posesif.
66 Akhirnya ketahuan juga.
67 Menjadi topik hangat.
68 Sedingin Freezer.
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Situasi yang menuntut.
2
Mendapat Tatapan merendahkan dari seseorang.
3
Seakan mendapatkan angin segar.
4
Tudingan pedas Damar.
5
Perjanjian pernikahan.
6
Hari pernikahan.
7
Menolak bulan madu.
8
Mencari rumah kontrakan.
9
Mencoba menghindari.
10
Paramita Anindita.
11
Meminta Izin suami.
12
Di ketahui oleh Ayah mertua.
13
Akhir dari tudingan menyakitkan.
14
Rahasia papa Anggara.
15
Gugatan perceraian.
16
Dugaan ibu.
17
Mengandung.
18
Lamaran dokter Arjun.
19
Menerima lamaran Pria itu.
20
Bocah tampan.
21
Setelah empat tahun.
22
Saya adalah Ayahnya.
23
Dia, darah dagingku.
24
Ikatan batin antara ayah dan anak.
25
Tidak ingin terpengaruh.
26
Hasil pemeriksaan DNA.
27
Keinginan Farrel.
28
Pembuktian, karena kenyataannya dia adalah putraku.
29
Apa dia cemburu???
30
Kartu Ajaib pemberian Damar.
31
Kedatangan ibu mertua.
32
Om Om Aneh.
33
Menantu dari pemilik rumah sakit.
34
Ungkapan perasaan.
35
Ingin kembali bersama.
36
Keputusan Mita.
37
Menguji Damar.
38
Lembaran baru dalam kehidupan rumah tangga.
39
Kepergok berdua di kamar hotel.
40
Kepergok di kamar hotel.
41
Kembalinya wanita di masa lalu.
42
Mempertanyakan Mahar.
43
LAMARAN.
44
Mencari cincin pernikahan
45
Kedatangan Leana.
46
layaknya seekor anak kucing.
47
Pernikahan Arjun dan Anin.
48
Resepsi pernikahan Anin dan Arjun.
49
Resepsi pernikahan.
50
Beribadah bersama.
51
Dugaan Anin.
52
Keberangkatan Arjun ke Surabaya.
53
Jatuh hati.
54
Menetap di kota yang sama.
55
Villa 1.
56
Vila 2.
57
Datang bulan.
58
Bulan madu kilat yang Gatot.
59
Rumah sakit harapan bangsa.
60
Pulang bersama.
61
Hamil lagi.
62
Melakukan kewajiban.
63
Hama.
64
Mewakili pertanyaan.
65
Sikap posesif.
66
Akhirnya ketahuan juga.
67
Menjadi topik hangat.
68
Sedingin Freezer.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!