Di ketahui oleh Ayah mertua.

Beberapa jam yang lalu.

Setelah Damar kembali ke perusahaan, papa Anggara memanggil Mita ke ruang kerjanya. Dan betapa terkejutnya Mita ketika pria paru baya tersebut memperlihatkan surat perjanjian pernikahan yang pernah ditandatanganinya bersama Dengan Damar waktu itu tergeletak di atas meja.

"Apa maksud dari semua ini ???." wajah papa Anggara yang biasanya begitu hangat tiba tiba berubah datar ketika mempertanyakan tentang surat perjanjian pernikahan yang ia dapatkan entah dari mana tersebut.

Wajah Mita tertunduk, tak sanggup menatap manik mata tersirat penuh kekecewaan yang kini di tampilkan ayah mertuanya itu.

"Baiklah, jika kamu tetap diam dan tidak mau menjelaskan semua ini, maka dengan terpaksa papa akan meminta Damar untuk menjelaskan semua ini!!!." dari nadanya, pria itu tak main main dengan ancamannya dan hal itu mampu membuat Mita akhirnya bersuara.

"Jangan pah, jangan lakukan itu, Mita janji akan menjelaskan semua itu tapi Mita mohon jangan mempertanyakan hal ini pada mas Damar!!! Mita tidak ingin sampai mas Damar berpikir jika Mita sengaja mengadukan hal ini pada papa."

Papa Anggara menghembus napas kasar di udara mendengarnya.

"Baiklah, jika kamu memang tidak ingin sampai papa meminta Damar menjelaskan serta mempertanggung jawabkan semua ini, maka papa minta kalian melakukan sesuatu untuk papa dan mama!!!."

"Papa ingin kalian segera memberi papa dan mama seorang cucu!!!." lanjut pinta papa Anggara.

Sementara Mita, gadis itu tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya setelah mendengar permintaan dari ayah mertuanya itu, sehingga mau tak mau ia pun mengakui satu kenyataan pahit dihadapan papa Anggara.

"Bagaimana kami bisa memberikan seorang cucu, jika mas Damar sendiri merasa jijik untuk sekedar menyentuh Mita, pah." aku Mita dengan kedua kelopak mata yang telah di genangi air mata.

Papa Anggara menghela napas berat mendengarnya.

"Sudah papa duga, Damar pasti masih berpikir yang tidak-tidak tentang kamu." ungkap papa Anggara pada akhirnya.

"Tapi kamu tidak perlu cemas biarkan itu menjadi urusan papa, tugas kamu sekarang hanyalah berusaha merebut hati suami kamu. Jika Damar masih tidak juga berubah maka dengan terpaksa papa harus melakukan sesuatu."

*

"Sepertinya kamu sudah mulai lancang. bukankah sudah saya tekankan padamu untuk tidak berani menyentuhku, tapi sepertinya tabiat w*nita malam sepertimu memang tidak bisa di percaya." kalimat pedas Damar sekaligus membuyarkan lamunan Mita tentang kejadian siang tadi di ruang kerja papa Anggara.

"Sampai kapan mas akan terus bersikap seperti ini padaku???? Setidaknya jika mas masih bersikeras menudingku sebagai seorang w*nita malam, tidak bisakah mas sedikit bersikap baik padaku sama seperti mas bersikap baik pada semua teman wanita mas di club malam itu." nada Mita terdengar mulai kesal.

Mita mengetahui kabar tersebut dari Sari Jika suaminya itu merupakan tamu VIP di club malam tempatnya bekerja, bahkan setiap kali datang pria itu ditemani oleh wanita yang berbeda beda. namun sudah beberapa tahun terakhir Damar hampir tak pernah lagi datang ke Club malam, entah apa penyebabnya Sari sendiri tidak tahu.

"Kau benar, saya memang bukan pria yang baik, tapi setidaknya saya tidak pernah sampai tidur dengan wanita manapun, tidak seperti dirimu yang rela menjual Harga diri dan juga t*buhmu pada pria hidung b*lang di luar sana."

Perkataan Damar sungguh menoreh luka di hati Mita, terbukti kini kedua kelopak mata gadis itu terlihat sudah berkaca-kaca.

"Katakan apapun yang ingin mas katakan untuk menghinaku, tapi satu yang harus mas ketahui aku tidak seburuk yang ada di pikiran kamu, mas!!!." Mita bersikap tenang seolah semua hinaan dan juga tudingan Damar tidak berpengaruh baginya padahal kenyataannya hatinya begitu terluka dengan semua hinaan suaminya itu.

Mita berlalu meninggalkan Damar yang masih menatapnya dengan tatapan tak terbaca.

Di sebuah bangku di tepi kolam renang kini Mita duduk menyendiri, hembusan angin malam rasanya menusuk hingga ke tulangnya namun itu tak mampu mendinginkan hatinya yang terasa panas dan juga nyeri akibat semua tudingan pedas Damar padanya.

Kedua bola mata Mita terasa kembali memanas ketika semua ucapan Damar terus terngiang di telinganya.

Tanpa disadari Mita pemilik sepasang mata yang kini berada balkon lantai dua tengah menyaksikan dirinya mengusap wajah yang basah oleh air mata.

"Ayo masuk pah, angin malam tidak baik untuk kesehatan!!!." mendengar seruan mama Lina, papa Anggara lantas beranjak meninggalkan balkon kamarnya.

Puas menumpahkan isi hatinya di bawah hembusan angin malam, Mita lantas kembali ke kamar. namun sebelum itu, ia kembali menampilkan wajah tenangnya seolah perkataan Damar tak berarti apa-apa baginya.

**

Dua bulan berlalu, Damar semakin menampilkan sikap dingin pada Mita, sehingga membuat Mita merasa semakin tak berarti sedikit pun di mata Damar.

"Tidak perlu menyiapkan pakaianku, aku bisa melakukannya sendiri." dengan nada yang terdengar begitu dingin Damar berujar saat menyaksikan pakaian kerja yang telah di siapkan Mita di atas tempat tidur.

"Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang istri, tapi jika mas tidak berkenan maka mas boleh mengambil pakaian yang lain di lemari!!." Kata Mita sebelum kemudian beranjak meninggalkan kamar hendak berangkat kerja.

*

Terus kepikiran dengan sikap dingin Damar yang semakin hari semakin menjadi jadi membuat Mita lebih banyak melamun. Seperti saat ini, ia bahkan tidak menyadari jika taksi online yang ditumpanginya telah tiba di depan gerbang rumah majikannya.

"Kita sudah sampai, Nona." seruan dari sopir taksi online akhirnya membuyarkan lamunan Mita tentang Damar.

"Maaf pak."

Setelah membayar ongkos taksi, Mita lantas melangkah memasuki gerbang utama kediaman mewah tersebut.

"Selamat pagi, Nona." penjaga gerbang yang sudah mengenal Mita terdengar menyapa.

"Pagi pak."

"Pagi tuan." Melihat keberadaan Brian di teras depan Mita lantas menyapa pria itu. Tanpa di ketahui Mita tenyata pria tampan tersebut sengaja menanti kedatangannya, bahkan kini Brian sudah terlambat beberapa menit berangkat ke perusahaannya hanya demi melihat wajah Mita sebelum ia memulai aktivitasnya hari ini.

"Maaf saya terlambat, tuan." sadar jika dirinya terlambat beberapa menit akibat jalanan ibukota yang cukup macet pagi ini, Mita pun meminta maaf pada Brian.

"Tidak masalah." jawab Brian, lalu kemudian mulai mengayunkan langkahnya menuju mobilnya. namun baru beberapa langkah Brian kembali menoleh pada Mita.

"Bolehkah siang ini kamu menemani saya untuk membeli keperluan ibu??." ajak Brian.

Setelah berpikir sejenak akhirnya Mita pun mengiyakannya. "Baik tuan."

Brian tersenyum "Sepertinya memang sulit membuatmu menghilang sebutan tuan padaku." ucap Brian sebelum kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju mobilnya berada. Sementara Mita segera masuk ke dalam untuk menemui ibunya Brian di kamarnya.

Waktu terus berjalan hingga kini Brian terlihat kembali ke rumah untuk menjemput Mita untuk berbelanja kebutuhan ibunya di sebuah supermarket.

*

"Ada apa, tuan??." tanya Asisten Randi seraya mengikuti arah pandang Damar. kini pandangan kedua tertuju pada seorang wanita yang kini tengah membelakangi mereka.

"Tidak ada apa apa???." berpikir mungkin dirinya salah orang Damar lantas kembali mengalihkan pandangannya ke arah rak dihadapannya. namun beberapa menit kemudian Damar kembali menoleh ketika mendengar suara yang terdengar tak asing ditelinga nya.

"Sepertinya kebutuhan nyonya semuanya sudah lengkap, tuan."

Damar menajamkan penglihatannya. "Mita....Brian...." lirih Damar ketika memastikan dirinya tak salah orang.

Untuk mendukung karya recehku jangan lupa, like, koment, vote, give and subscribe ya sayang sayangku....

Dan Biar makin semangat updatenya, beri rating bintang lima dulu ya sayang sayangku.....🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘😘😘😘

Terpopuler

Comments

Nurhayati Nia

Nurhayati Nia

npppp cemburui kamu damarrr

2024-05-28

0

Helni Lewan

Helni Lewan

makin seru ini🙏

2024-02-17

0

Uthie

Uthie

seruuu niii 🤗

2023-12-25

1

lihat semua
Episodes
1 Situasi yang menuntut.
2 Mendapat Tatapan merendahkan dari seseorang.
3 Seakan mendapatkan angin segar.
4 Tudingan pedas Damar.
5 Perjanjian pernikahan.
6 Hari pernikahan.
7 Menolak bulan madu.
8 Mencari rumah kontrakan.
9 Mencoba menghindari.
10 Paramita Anindita.
11 Meminta Izin suami.
12 Di ketahui oleh Ayah mertua.
13 Akhir dari tudingan menyakitkan.
14 Rahasia papa Anggara.
15 Gugatan perceraian.
16 Dugaan ibu.
17 Mengandung.
18 Lamaran dokter Arjun.
19 Menerima lamaran Pria itu.
20 Bocah tampan.
21 Setelah empat tahun.
22 Saya adalah Ayahnya.
23 Dia, darah dagingku.
24 Ikatan batin antara ayah dan anak.
25 Tidak ingin terpengaruh.
26 Hasil pemeriksaan DNA.
27 Keinginan Farrel.
28 Pembuktian, karena kenyataannya dia adalah putraku.
29 Apa dia cemburu???
30 Kartu Ajaib pemberian Damar.
31 Kedatangan ibu mertua.
32 Om Om Aneh.
33 Menantu dari pemilik rumah sakit.
34 Ungkapan perasaan.
35 Ingin kembali bersama.
36 Keputusan Mita.
37 Menguji Damar.
38 Lembaran baru dalam kehidupan rumah tangga.
39 Kepergok berdua di kamar hotel.
40 Kepergok di kamar hotel.
41 Kembalinya wanita di masa lalu.
42 Mempertanyakan Mahar.
43 LAMARAN.
44 Mencari cincin pernikahan
45 Kedatangan Leana.
46 layaknya seekor anak kucing.
47 Pernikahan Arjun dan Anin.
48 Resepsi pernikahan Anin dan Arjun.
49 Resepsi pernikahan.
50 Beribadah bersama.
51 Dugaan Anin.
52 Keberangkatan Arjun ke Surabaya.
53 Jatuh hati.
54 Menetap di kota yang sama.
55 Villa 1.
56 Vila 2.
57 Datang bulan.
58 Bulan madu kilat yang Gatot.
59 Rumah sakit harapan bangsa.
60 Pulang bersama.
61 Hamil lagi.
62 Melakukan kewajiban.
63 Hama.
64 Mewakili pertanyaan.
65 Sikap posesif.
66 Akhirnya ketahuan juga.
67 Menjadi topik hangat.
68 Sedingin Freezer.
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Situasi yang menuntut.
2
Mendapat Tatapan merendahkan dari seseorang.
3
Seakan mendapatkan angin segar.
4
Tudingan pedas Damar.
5
Perjanjian pernikahan.
6
Hari pernikahan.
7
Menolak bulan madu.
8
Mencari rumah kontrakan.
9
Mencoba menghindari.
10
Paramita Anindita.
11
Meminta Izin suami.
12
Di ketahui oleh Ayah mertua.
13
Akhir dari tudingan menyakitkan.
14
Rahasia papa Anggara.
15
Gugatan perceraian.
16
Dugaan ibu.
17
Mengandung.
18
Lamaran dokter Arjun.
19
Menerima lamaran Pria itu.
20
Bocah tampan.
21
Setelah empat tahun.
22
Saya adalah Ayahnya.
23
Dia, darah dagingku.
24
Ikatan batin antara ayah dan anak.
25
Tidak ingin terpengaruh.
26
Hasil pemeriksaan DNA.
27
Keinginan Farrel.
28
Pembuktian, karena kenyataannya dia adalah putraku.
29
Apa dia cemburu???
30
Kartu Ajaib pemberian Damar.
31
Kedatangan ibu mertua.
32
Om Om Aneh.
33
Menantu dari pemilik rumah sakit.
34
Ungkapan perasaan.
35
Ingin kembali bersama.
36
Keputusan Mita.
37
Menguji Damar.
38
Lembaran baru dalam kehidupan rumah tangga.
39
Kepergok berdua di kamar hotel.
40
Kepergok di kamar hotel.
41
Kembalinya wanita di masa lalu.
42
Mempertanyakan Mahar.
43
LAMARAN.
44
Mencari cincin pernikahan
45
Kedatangan Leana.
46
layaknya seekor anak kucing.
47
Pernikahan Arjun dan Anin.
48
Resepsi pernikahan Anin dan Arjun.
49
Resepsi pernikahan.
50
Beribadah bersama.
51
Dugaan Anin.
52
Keberangkatan Arjun ke Surabaya.
53
Jatuh hati.
54
Menetap di kota yang sama.
55
Villa 1.
56
Vila 2.
57
Datang bulan.
58
Bulan madu kilat yang Gatot.
59
Rumah sakit harapan bangsa.
60
Pulang bersama.
61
Hamil lagi.
62
Melakukan kewajiban.
63
Hama.
64
Mewakili pertanyaan.
65
Sikap posesif.
66
Akhirnya ketahuan juga.
67
Menjadi topik hangat.
68
Sedingin Freezer.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!