Bocah tampan.

Keesokan harinya.

Seorang pria tampan dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya terlihat baru saja tiba di bandara yang berada di kota S. Dengan di temani asisten pribadi serta sahabatnya, Damar terlihat memasuki sebuah mobil yang di sediakan untuknya.

"Apa kita langsung menuju rumah sakit saja, tuan???." asisten Randi yang duduk di samping kemudi menoleh ke belakang.

Masih dengan kaca mata hitamnya Damar mengangguk sebagai jawaban. Sementara Brian yang duduk di samping Damar terlihat sibuk menatap layar ponselnya, sepertinya pria itu sedang berbalas pesan dengan seseorang.

*

"Maaf Dok, karena hari ini aku terpaksa mengajak Farrel sebab ibu sedang tidak enak badan, aku merasa tidak tega jika harus meminta ibu menjaga Farrel dalam kondisi seperti saat ini." tutur Mita merasa tidak enak hati.

Arjun mengulas senyum. "Tidak masalah, asalkan jangan membiarkannya berlalu lalang di luar, agar dia tidak tertular virus ataupun bakteri yang tidak baik untuk kesehatan anak seusianya!!!." pesan Arjun, dan Mita mengiyakannya.

Mita menggendong tubuh putranya untuk mengarahkan bocah berusia tiga tahun tersebut duduk di sofa, sebelum kemudian ia pun melakukan tugasnya sebagai perawat yang membantu Arjun selaku dokter spesialis kandungan di ruang poli.

Di pagi menjelang siang hari itu pasien cukup ramai sehingga membuat Arjun dan juga Mita cukup kewalahan, sampai sampai keduanya tidak memperhatikan jika saat ini Farrel telah beranjak dari tempat duduknya. Di saat ada seorang pasien yang meninggalkan ruangan, tanpa di sadari Farrel turut melangkah keluar.

Farrel terus berjalan hingga di depan pintu utama rumah sakit. bocah itu melihat pedagang balon yang mangkal di seberang jalan rumah sakit, bocah seusia Farrel tentu saja di buat penasaran dengan balon balon yang terlihat begitu indah di matanya, sehingga membuat bocah itu kembali mengayunkan langkahnya menghampiri pedagang balon yang berada di seberang Jalan.

Dari balik kaca mobil, Damar dapat meyaksikan seorang anak kecil yang tengah berjalan seorang diri hendak menyebrangi jalan yang cukup ramai dengan kendaraan berlalu lalang. "Berhenti!!!." titahnya pada sopir yang bertugas mengantarkan mereka ke rumah sakit milik ayahnya.

Tanpa sepatah katapun Damar beranjak turun dari mobil kemudian menghampiri bocah tersebut, sehingga membuat Asisten Randi dan juga Brian sontak saling melempar pandangan satu sama lain.

Damar berjongkok di hadapan bocah itu dan berkata. "Kenapa kamu di sini sendirian, nak??? Di mana ibumu???." tanya Damar sebelum kemudian menyapu pandangan ke sekitarnya.

"Mama ada di dalam, Farrel mau balon itu, Om." dengan polosnya bocah itu mengungkapkan keinginannya. Kini pandangan Damar mengikuti arah pandang bocah itu. "Kamu mau balon itu ya???." Damar yang sebelumnya tak begitu suka dengan anak anak tiba-tiba saja berkata dengan lembutnya pada bocah di hadapannya itu.

"Iya om, Farrel mau balon itu." dengan bersemangat Farel berkata.

"Baiklah, sini om temani untuk membelinya." ucap Damar. pria itu pun kembali menegakkan tubuhnya kemudian menggenggam tangan mungil bocah itu kemudian menuntunnya berjalan menghampiri pedagang balon di seberang jalan.

Kini wajah Farel terlihat sumringah ketika tiga buah balon karakter telah berada di genggaman tangannya. "Makasih ya Om." ucapan Farrel dengan ciri khas anak seusianya mampu membuat hati Damar merasa hangat.

"Sama sama, sayang. sekarang om antar ketemu sama mama kamu ya." tawar Damar dan Farrel terlihat mengangguk setuju. Namun sebelum beranjak Damar lebih dulu mengeluarkan uang merah dari dompetnya untuk membayar balon balon tersebut pada pedagang balon.

melihat keberadaan Farrel bersama dengan seorang pria yang kini posisinya membelakangi dirinya, Arjun Lantas bergegas menyebrangi jalanan.

"Farrel...." baik Farrel dan juga Damar menoleh ke sumber suara.

"Om Arjun."

"Mas Arjun."

Dengan wajah cemas, Arjun melangkah mendekati Farrel. "Apa yang kamu lakukan di sini, Farrel???." saking fokusnya pada Farrel sampai sampai Arjun belum menyadari keberadaan Damar.

"Tadi Farrel mau balon ini, dan Om ini yang membelikannya untuk Farrel, om." ungkap bocah itu.

Sesaat kemudian perhatian Arjun beralih. "Damar....." Arjun cukup terkejut dengan keberadaan Damar di kota ini.

"Kapan kamu tiba???." Arjun memang mendengar dari ayahnya jika adik sepupunya itu akan berkunjung di kota itu, namun ia tidak menyangka jika Damar akan berkunjung dalam waktu dekat ini.

"Baru saja, mas." Jawab Damar, lalu kemudian menceritakan kronologi bagaimana ia bisa bertemu dengan bocah itu.

"Oh astaga...." Arjun terkejut mendengar cerita Damar, ternyata Farrel hampir saja menyebrangi jalan raya seorang diri.

"Lain kali tidak boleh pergi sendirian ya anak pintar!!!." pesan Arjun, dan Farrel pun mengangguk dengan perasaan bersalahnya.

"Maafkan Farrel ya Om." kata bocah itu dengan nada yang masih terdengar cadel. Arjun tersenyum lalu mengusap lembut puncak kepala Farrel, lalu kemudian membawa bocah itu ke dalam gendongannya.

Setelahnya, Arjun pun mengajak Damar, Brian dan juga Asisten Randi memasuki gedung rumah sakit.

"Masuklah, mas Aditya ada di dalam, mas mau mengantarkan Farrel pada mamanya dulu, setelah itu mas akan segera kembali!!." kata Arjun ketika berada di depan ruangan kerja kakaknya, Aditya.

"Baik mas." sahut Damar. Namun begitu pria itu tak langsung beranjak, ia masih terus menatap bocah yang kini berada di gendongan Arjun. Farrel yang kala itu juga memandang ke arah Damar lantas tersenyum manis ketika menyadari pandangan Damar masih terus tertuju padanya.

"Anak yang tampan." lirih Damar dalam hati, sebelum sesaat kemudian suara Brian menyadarkannya.

"Ayo masuk, apa kau akan terus berdiri di situ sampai besok??." cetus Brian.

Damar tak menjawab, namun ia segera mengayunkan langkah memasuki ruangan kerja Aditya.

"Farrel, dari mana saja kamu nak???." Mita yang sejak tadi berkeliling area gedung rumah sakit akhirnya bertemu dengan Arjun dan juga putranya di salah satu koridor rumah sakit.

Melihat keberadaan ibunya, Farrel pun meminta diturunkan dari gendongan Arjun, lalu kemudian berlari kecil ke arah Mita.

Mita berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan tubuh putranya. Mita memeluk tubuh mungil putranya, kini ia merasa lega karena putranya dalam keadaan baik baik saja.

"Maafkan Farrel, mah." melihat kesedihan di wajah ibunya, bocah itu pun merasa bersalah karena pergi tanpa berpamitan.

Mendengar permintaan maaf dari putranya itu, Mita lantas melerai pelukannya lalu berkata. "Mama sudah memaafkan Farrel, tapi ingat lain kali tidak boleh seperti itu lagi ya nak!!! Kamu membuat mama cemas." pesan Mita, dan dengan polosnya Farrel mengangguk. Sesaat kemudian pandangan Mita beralih pada beberapa buah balon di genggaman putranya.

"Kamu pasti merepotkan Om Arjun lagi untuk membelikan balon balon ini." tebak Mita, berpikir jika balon balon itu di belikan oleh Arjun.

"Bukan aku yang membelikannya tapi adik sepupuku, kebetulan tiba dari ibukota hari ini." bukannya Farrel yang menjawab melainkan Arjun.

"Adik sepupu????." ulang Mita.

"Iya."

Arjun lantas menceritakan pada Mita bagaimana sampai adik sepupunya bisa membelikan balon balon itu untuk putranya.

"Oh astaga Farrel..... bagaimana kamu bisa pergi seorang diri seperti itu nak??? bagaimana jika tidak ada orang baik yang membantu kamu di sana nak, bisa saja kamu tertabrak oleh kendaraan yang ramai berlalu lalang." Mita sungguh terkejut mendengar kala Arjun menceritakan pertemuan tak Sengaja Farrel dan juga Damar.

"Jangan memarahinya, Farrel masih sangat kecil, dia belum paham jika tindakannya tadi bisa membahayakan keselamatannya. Ke depannya harus lebih hati-hati lagi dalam mengawasinya!!!." kata Arjun, sebelum kemudian pria itu pamit pada Mita untuk menemui seseorang.

Kini Mita mengajak putranya kembali ke ruangan di mana ia bertugas, namun di sela langkah keduanya, Tak hentinya Farrel berceloteh pada ibunya itu.

"Mah, om tadi baik banget sama Farrel." aku bocah itu pada ibunya.

"Oh ya...."

"Iya mah....bahkan Om yang tadi janji pada Farrel kalau ada waktu lain kali mau menemani Farrel main di taman, mah." Farel terus bercerita, sehingga membuat Mita merasa gemas pada putranya itu.

"Om yang tadi kan adik sepupunya om Arjun, pasti sama baiknya dong sama Om Arjun." komentar Mita.

"Iya mah ...bahkan om yang tadi juga nggak kalah ganteng sama Om Arjun." Mita hanya bisa geleng-geleng kepala seraya mengulum senyum kala mendengar pengakuan putranya itu.

Terpopuler

Comments

Hearty 💕

Hearty 💕

Kok kayaknya kalimat ini untuk anak usia 3 tahun berlebihan 🤔

2024-12-18

0

Sri Siyamsih

Sri Siyamsih

bpkmu itu lee

2024-07-29

0

Wulan Sari Batubara

Wulan Sari Batubara

lanjut

2023-12-21

0

lihat semua
Episodes
1 Situasi yang menuntut.
2 Mendapat Tatapan merendahkan dari seseorang.
3 Seakan mendapatkan angin segar.
4 Tudingan pedas Damar.
5 Perjanjian pernikahan.
6 Hari pernikahan.
7 Menolak bulan madu.
8 Mencari rumah kontrakan.
9 Mencoba menghindari.
10 Paramita Anindita.
11 Meminta Izin suami.
12 Di ketahui oleh Ayah mertua.
13 Akhir dari tudingan menyakitkan.
14 Rahasia papa Anggara.
15 Gugatan perceraian.
16 Dugaan ibu.
17 Mengandung.
18 Lamaran dokter Arjun.
19 Menerima lamaran Pria itu.
20 Bocah tampan.
21 Setelah empat tahun.
22 Saya adalah Ayahnya.
23 Dia, darah dagingku.
24 Ikatan batin antara ayah dan anak.
25 Tidak ingin terpengaruh.
26 Hasil pemeriksaan DNA.
27 Keinginan Farrel.
28 Pembuktian, karena kenyataannya dia adalah putraku.
29 Apa dia cemburu???
30 Kartu Ajaib pemberian Damar.
31 Kedatangan ibu mertua.
32 Om Om Aneh.
33 Menantu dari pemilik rumah sakit.
34 Ungkapan perasaan.
35 Ingin kembali bersama.
36 Keputusan Mita.
37 Menguji Damar.
38 Lembaran baru dalam kehidupan rumah tangga.
39 Kepergok berdua di kamar hotel.
40 Kepergok di kamar hotel.
41 Kembalinya wanita di masa lalu.
42 Mempertanyakan Mahar.
43 LAMARAN.
44 Mencari cincin pernikahan
45 Kedatangan Leana.
46 layaknya seekor anak kucing.
47 Pernikahan Arjun dan Anin.
48 Resepsi pernikahan Anin dan Arjun.
49 Resepsi pernikahan.
50 Beribadah bersama.
51 Dugaan Anin.
52 Keberangkatan Arjun ke Surabaya.
53 Jatuh hati.
54 Menetap di kota yang sama.
55 Villa 1.
56 Vila 2.
57 Datang bulan.
58 Bulan madu kilat yang Gatot.
59 Rumah sakit harapan bangsa.
60 Pulang bersama.
61 Hamil lagi.
62 Melakukan kewajiban.
63 Hama.
64 Mewakili pertanyaan.
65 Sikap posesif.
66 Akhirnya ketahuan juga.
67 Menjadi topik hangat.
68 Sedingin Freezer.
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Situasi yang menuntut.
2
Mendapat Tatapan merendahkan dari seseorang.
3
Seakan mendapatkan angin segar.
4
Tudingan pedas Damar.
5
Perjanjian pernikahan.
6
Hari pernikahan.
7
Menolak bulan madu.
8
Mencari rumah kontrakan.
9
Mencoba menghindari.
10
Paramita Anindita.
11
Meminta Izin suami.
12
Di ketahui oleh Ayah mertua.
13
Akhir dari tudingan menyakitkan.
14
Rahasia papa Anggara.
15
Gugatan perceraian.
16
Dugaan ibu.
17
Mengandung.
18
Lamaran dokter Arjun.
19
Menerima lamaran Pria itu.
20
Bocah tampan.
21
Setelah empat tahun.
22
Saya adalah Ayahnya.
23
Dia, darah dagingku.
24
Ikatan batin antara ayah dan anak.
25
Tidak ingin terpengaruh.
26
Hasil pemeriksaan DNA.
27
Keinginan Farrel.
28
Pembuktian, karena kenyataannya dia adalah putraku.
29
Apa dia cemburu???
30
Kartu Ajaib pemberian Damar.
31
Kedatangan ibu mertua.
32
Om Om Aneh.
33
Menantu dari pemilik rumah sakit.
34
Ungkapan perasaan.
35
Ingin kembali bersama.
36
Keputusan Mita.
37
Menguji Damar.
38
Lembaran baru dalam kehidupan rumah tangga.
39
Kepergok berdua di kamar hotel.
40
Kepergok di kamar hotel.
41
Kembalinya wanita di masa lalu.
42
Mempertanyakan Mahar.
43
LAMARAN.
44
Mencari cincin pernikahan
45
Kedatangan Leana.
46
layaknya seekor anak kucing.
47
Pernikahan Arjun dan Anin.
48
Resepsi pernikahan Anin dan Arjun.
49
Resepsi pernikahan.
50
Beribadah bersama.
51
Dugaan Anin.
52
Keberangkatan Arjun ke Surabaya.
53
Jatuh hati.
54
Menetap di kota yang sama.
55
Villa 1.
56
Vila 2.
57
Datang bulan.
58
Bulan madu kilat yang Gatot.
59
Rumah sakit harapan bangsa.
60
Pulang bersama.
61
Hamil lagi.
62
Melakukan kewajiban.
63
Hama.
64
Mewakili pertanyaan.
65
Sikap posesif.
66
Akhirnya ketahuan juga.
67
Menjadi topik hangat.
68
Sedingin Freezer.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!