Mencoba menghindari.

Waktu telah menunjukkan Pukul lima sore, dimana biasanya Damar telah bersiap untuk kembali ke rumah, namun hari ini pria itu terlihat masih betah dengan kesibukannya di perusahaan.

"Apa anda belum ingin pulang, tuan???." tanya Asisten Randi ketika melihat Damar masih betah menatap layar laptopnya.

"Jika pekerjaanmu hari ini sudah selesai kau boleh pulang!!!." jawaban yang dilontarkan Damar tak sesuai dengan pertanyaan asisten Randi.

"Baik tuan." Asisten Randi kemudian beranjak meninggalkan ruangan Damar untuk kembali ke ruangannya. Meski pun Damar telah memberinya izin untuk segera meninggalkan perusahaan, namun asisten Randi tak meninggalkan perusahaan begitu saja ia memilih menunggu Damar meninggalkan perusahaan, barulah dia juga meninggalkan perusahaan.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dari depan pintu ruangannya Asisten Randi dapat melihat lampu di ruang kerja atasannya itu masih terlihat menyala dan itu menandakan jika ruangan tersebut masih berpenghuni.

"Sepertinya tuan Damar masih lembur." untuk memastikan dugaannya, Asisten Randi lantas beranjak ke ruangan kerja Damar.

beberapa kali mengetuk pintu namun tak juga mendapat sahutan dari dalam.

"Apa sebaiknya aku langsung masuk saja???." gumam Asisten Randi. Setelah berpikir sejenak akhirnya Asisten Randi pun mulai memutar handle pintu ruangan kerja Damar.

Betapa terkejutnya Asisten Randi ketika melihat Damar duduk bersandar di kursi kebesarannya seraya memejamkan matanya.

"Tuan.... Tuan Damar..." dengan hati hati Asisten Randi mencoba membangun Damar yang sepertinya ketiduran.

Merasa tidurnya terganggu Damar lantas membuka matanya dengan perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.

"Kau belum pulang??." tanya Damar ketika menyadari keberadaan Asisten Randi.

"Belum tuan, sejak tadi saya menunggu anda di ruang kerja saya." jawab asisten Randi apa adanya.

"Sekarang sudah pukul sebelas malam tuan, Apa anda belum ingin pulang juga, tuan??? mendengar itu Damar sontak mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding yang menggantung di dinding ruangannya, dan benar saja saat ini waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam.

Damar nampak memijat pangkal hidungnya." Baiklah, aku akan segera bersiap untuk pulang." kata Damar. Sementara Asisten Randi memilih menunggu di depan.

"Sepertinya anda sengaja menghindari seseorang tuan." tebak asisten Randi. "Jangan katakan jika seseorang yang sengaja anda Hindari adalah istri anda sendiri, tuan???? Jika tebakan saya benar, saya turut prihatin pada anda Nona Mita" lanjut tebak Asisten Randi, mengingat sebelumnya Damar belum pernah sekalipun bersikap seperti ini apalagi sampai ketiduran di ruangan kerjanya.

Tak berselang lama, Asisten Randi berdiri dari duduknya saat melihat atasannya itu keluar dari dalam ruangannya.

"Apa anda yakin ingin menyetir mobil sendiri, tuan???." tanya Asisten Randi memastikan ketika Damar menolak tawaran untuk mengantarkan atasannya itu kembali ke rumah.

Damar menjawab pertanyaan Asisten Randi dengan anggukan sekilas, sebelum kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke arah lift, sementara Asisten Randi segera menyusul langkah Damar. Barulah tiba di basemen gedung keduanya berpisah, dengan mengendarai mobil masing-masing.

"Apa apaan kamu Damar, baru juga menikah kamu sudah membiarkan istri kamu tidur sendirian." baru juga tiba di rumah, kedatangan Damar sudah di sambut dengan Omelan ibunya.

"Memangnya kenapa kalau dia tidur sendirian, mah ??? Lagi pula dia bukan anak kecil lagi yang perlu di Nina Bobo kan sebelum tidur, bukan??." bukannya berniat kurang ajar dengan menjawab seperti itu pada ibunya, namun Damar merasa jawabannya saat ini benar adanya.

Mama Lina hanya bisa menghembus napas kasar di udara ketika mendengar jawaban putranya itu.

"Damar ke kamar dulu mau istirahat, mah." tidak ingin mendengar lebih banyak Omelan dari ibunya, Damar lantas pamit ke kamar.

"Jika mama ada di posisi Mita, mama pasti sudah menyuruh kamu tidur di luar." cetus mama Lina saking kesalnya dengan sikap putranya.

Ceklek.

Baru saja membuka pintu kamar, pemandangan pertama yang menyambut kedatangan Damar adalah wajah cantik Istrinya yang kini terlelap di sofa. Tidak dapat dipungkiri, wajah Mita memang sangat cantik bahkan dalam keadaan tidur sekalipun tak sedikitpun mengurangi porsi kecantikan di wajahnya.

Dengan cepat Damar kembali menutup pintu kamar, tidak ingin sampai keberadaan Mita yang terlelap di sofa sampai terlihat oleh siapapun terlebih ibunya.

Cukup lama Damar mengamati wajah Mita yang kini tengah terlelap. "Andai saja kau bukan mantan w*nita malam, hatiku pasti tidak akan seberat ini menerima pernikahan ini." lirih Damar dalam hatinya. membayangkan bagaimana genitnya Mita mencoba menggoda calon pel*nggannya membuat rahang Damar mengetat dengan sempurna.

Mita terlihat melakukan pergerakan seolah merasa tidurnya terganggu.

"Kamu sudah pulang, mas???." suara Mita terdengar serak seperti suara khas orang bangun tidur.

"Hemt." Damar membuka jas yang terpasang di tubuhnya dan meletakkannya asal di atas tempat tidur, lalu kemudian mulai melepas satu persatu kancing kemejanya. Seperti sebelumnya, saat melihat Damar yang kini telah bert*lanjang dada, Mita spontan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dan lagi lagi sikapnya itu tak lepas dari perhatian Damar.

"Tidak perlu memalingkan pandanganmu seperti itu, bentuk tubuhku bahkan jauh lebih indah jika di bandingkan dengan pria priamu itu!!!." kesal Damar saat menyadari Mita memalingkan pandangannya.

Tidak ingin menguras tenaga dengan berdebat dengan Damar, Mita lantas memilih diam tak merespon ucapan menyesakan dada yang baru saja di ucapkan Damar untuknya. Menurut Mita untuk membalas kebaikan tuan Anggara yang telah membayar semua biaya operasi serta pengobatan ibunya, biarlah dalam setahun pernikahannya bersama Damar ia jalani dengan berbagai tudingan menyakitkan, toh apa yang ditudingkan pria itu semua tidak benar adanya, setidaknya begitulah pikir Mita.

"Apa mas sudah makan malam???." di banding merespon kalimat menyakitkan dari pria itu, Mita lebih memilih menanyakan apakah pria itu sudah makan malam atau belum.

"Belum." Sengaja lembur di kantor dengan tujuan ingin menghindari pertemuannya dengan istrinya itu, justru jawaban tersebut terlontar begitu saja dari mulut Damar sehingga malam ini dengan ditemani Mita ia menyantap makan malamnya, setelah lebih dulu membersihkan tubuhnya.

"Apa kau tidak makan sekalian???." kata Damar ketika melihat Mita hanya menemaninya saja.

"Saya sudah kenyang, mas." jawab Mita apa adanya, mengingat ia telah makan malam bersama mertua dan juga adik iparnya tadi.

Damar hanya meresponnya dengan anggukan paham.

Setelah cukup lama saling diam, Mita kembali bersuara.

"Mas???.".

"Hem." tanpa menoleh dari makanan dihadapannya Damar mendehem.

"Apa saya boleh bertanya sesuatu???." Ucapan Mita Sontak mengalihkan perhatian Damar, kini ia menatap sejenak wajah Mita.

"Memangnya apa yang ingin kau tanyakan??." kata Damar yang kini telah kembali fokus pada makanan di piringnya.

"Bagaimana mas bisa begitu yakin jika saya pernah bekerja sebagai w*nita malam???." pertanyaan Mita Sontak kembali membuat perhatian Damar beralih padanya.

"Bagaimana jika semua tudingan mas terhadap saya itu tidak benar adanya????" kembali tanya Mita ketika tatapan keduanya saling beradu.

Untuk mendukung karya recehku jangan lupa like, koment, vote, give, and subscribe ya sayang sayangku 😘😘😘 dan jangan lupa untuk memberikan ulasan 🥰🥰🥰

Terpopuler

Comments

Sri Siyamsih

Sri Siyamsih

nah ayo jwb Damar, jgn kasar" tar nyesel.

2024-07-29

0

Uthie

Uthie

sy msh lanjut 💪

2023-12-25

1

lihat semua
Episodes
1 Situasi yang menuntut.
2 Mendapat Tatapan merendahkan dari seseorang.
3 Seakan mendapatkan angin segar.
4 Tudingan pedas Damar.
5 Perjanjian pernikahan.
6 Hari pernikahan.
7 Menolak bulan madu.
8 Mencari rumah kontrakan.
9 Mencoba menghindari.
10 Paramita Anindita.
11 Meminta Izin suami.
12 Di ketahui oleh Ayah mertua.
13 Akhir dari tudingan menyakitkan.
14 Rahasia papa Anggara.
15 Gugatan perceraian.
16 Dugaan ibu.
17 Mengandung.
18 Lamaran dokter Arjun.
19 Menerima lamaran Pria itu.
20 Bocah tampan.
21 Setelah empat tahun.
22 Saya adalah Ayahnya.
23 Dia, darah dagingku.
24 Ikatan batin antara ayah dan anak.
25 Tidak ingin terpengaruh.
26 Hasil pemeriksaan DNA.
27 Keinginan Farrel.
28 Pembuktian, karena kenyataannya dia adalah putraku.
29 Apa dia cemburu???
30 Kartu Ajaib pemberian Damar.
31 Kedatangan ibu mertua.
32 Om Om Aneh.
33 Menantu dari pemilik rumah sakit.
34 Ungkapan perasaan.
35 Ingin kembali bersama.
36 Keputusan Mita.
37 Menguji Damar.
38 Lembaran baru dalam kehidupan rumah tangga.
39 Kepergok berdua di kamar hotel.
40 Kepergok di kamar hotel.
41 Kembalinya wanita di masa lalu.
42 Mempertanyakan Mahar.
43 LAMARAN.
44 Mencari cincin pernikahan
45 Kedatangan Leana.
46 layaknya seekor anak kucing.
47 Pernikahan Arjun dan Anin.
48 Resepsi pernikahan Anin dan Arjun.
49 Resepsi pernikahan.
50 Beribadah bersama.
51 Dugaan Anin.
52 Keberangkatan Arjun ke Surabaya.
53 Jatuh hati.
54 Menetap di kota yang sama.
55 Villa 1.
56 Vila 2.
57 Datang bulan.
58 Bulan madu kilat yang Gatot.
59 Rumah sakit harapan bangsa.
60 Pulang bersama.
61 Hamil lagi.
62 Melakukan kewajiban.
63 Hama.
64 Mewakili pertanyaan.
65 Sikap posesif.
66 Akhirnya ketahuan juga.
67 Menjadi topik hangat.
68 Sedingin Freezer.
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Situasi yang menuntut.
2
Mendapat Tatapan merendahkan dari seseorang.
3
Seakan mendapatkan angin segar.
4
Tudingan pedas Damar.
5
Perjanjian pernikahan.
6
Hari pernikahan.
7
Menolak bulan madu.
8
Mencari rumah kontrakan.
9
Mencoba menghindari.
10
Paramita Anindita.
11
Meminta Izin suami.
12
Di ketahui oleh Ayah mertua.
13
Akhir dari tudingan menyakitkan.
14
Rahasia papa Anggara.
15
Gugatan perceraian.
16
Dugaan ibu.
17
Mengandung.
18
Lamaran dokter Arjun.
19
Menerima lamaran Pria itu.
20
Bocah tampan.
21
Setelah empat tahun.
22
Saya adalah Ayahnya.
23
Dia, darah dagingku.
24
Ikatan batin antara ayah dan anak.
25
Tidak ingin terpengaruh.
26
Hasil pemeriksaan DNA.
27
Keinginan Farrel.
28
Pembuktian, karena kenyataannya dia adalah putraku.
29
Apa dia cemburu???
30
Kartu Ajaib pemberian Damar.
31
Kedatangan ibu mertua.
32
Om Om Aneh.
33
Menantu dari pemilik rumah sakit.
34
Ungkapan perasaan.
35
Ingin kembali bersama.
36
Keputusan Mita.
37
Menguji Damar.
38
Lembaran baru dalam kehidupan rumah tangga.
39
Kepergok berdua di kamar hotel.
40
Kepergok di kamar hotel.
41
Kembalinya wanita di masa lalu.
42
Mempertanyakan Mahar.
43
LAMARAN.
44
Mencari cincin pernikahan
45
Kedatangan Leana.
46
layaknya seekor anak kucing.
47
Pernikahan Arjun dan Anin.
48
Resepsi pernikahan Anin dan Arjun.
49
Resepsi pernikahan.
50
Beribadah bersama.
51
Dugaan Anin.
52
Keberangkatan Arjun ke Surabaya.
53
Jatuh hati.
54
Menetap di kota yang sama.
55
Villa 1.
56
Vila 2.
57
Datang bulan.
58
Bulan madu kilat yang Gatot.
59
Rumah sakit harapan bangsa.
60
Pulang bersama.
61
Hamil lagi.
62
Melakukan kewajiban.
63
Hama.
64
Mewakili pertanyaan.
65
Sikap posesif.
66
Akhirnya ketahuan juga.
67
Menjadi topik hangat.
68
Sedingin Freezer.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!