Setelah pertanyaan dari papa Anggara tadi suasana makan siang hari ini berubah hening, sampai makan siang usai pun tak ada lagi percakapan yang berlangsung di meja makan.
Sebelum kembali ke perusahaan, Damar berlalu menuju kamarnya untuk mengambil beberapa berkas yang tadi pagi ketinggalan.
"Mas..."
Melihat Damar baru saja masuk ke dalam kamar, Mita lantas berpikir untuk segera menyampaikan keinginannya untuk bekerja, kepada suaminya itu.
"Ada apa???." setiap kali berbicara pada Mita, Damar pasti akan menunjukkan sikap dinginnya. pria itu seperti dengan sengaja membangun tembok pembatas yang begitu sulit untuk ditembus Mita sebagai istrinya.
"Boleh saya bicara sebentar???." tutur Mita dengan hati hati.
Meskipun selalu bersikap dingin dihadapan Mita namun Damar masih menghargai jika istrinya itu ingin membicarakan sesuatu padanya.
Damar lantas mendaratkan bokongnya di sofa kamar. "bicaralah!!!." serunya.
Mita terlihat memilin ujung bajunya, seakan ragu mengungkapkan keinginannya di hadapan pria itu. Apalagi setiap kali, Damar selalu saja menatap dirinya dengan tatapan dingin.
"Apa saya boleh bekerja??." setelah cukup lama menimbang nimbang akhirnya Mita pun memutuskan untuk segera mengungkapkan keinginannya dihadapan suaminya itu.
"Kenapa, apa kamu merasa uang bulanan yang saya berikan masih kurang sampai kamu masih ingin bekerja????." tebak Damar.
Dengan cepat Mita menggelengkan kepalanya. "Bukan mas, bukan begitu maksud saya, uang pemberian mas bahkan lebih dari cukup. Hanya saja saya merasa bosan berdiam diri di rumah. itu pun jika mas mengizinkannya, jika mas tidak mengizinkan maka saya juga tidak akan memaksa." tutur Mita dengan wajah yang mulai tertunduk, ia tak berani menatap manik mata hitam milik Damar.
"Baiklah, lakukan apa yang ingin kau lakukan. tapi ingat, jaga batasanmu !!! terlepas dari apapun Alasan kita sampai menikah, kau tetaplah istriku." pesan Damar.
Jujur, Mita merasa terharu kala mendengar Damar mengakui dirinya sebagai istri.
"Terima kasih, mas. sekalipun mas tidak memintanya, saya akan tetap menjaga batasan saya sebagai seorang istri." kata Mita.
Merasa percakapan mereka sudah cukup, Damar pun beranjak begitu saja meninggalkan Mita yang terdengar menghela napas panjang akibat sikapnya yang acuh tersebut.
"Sepertinya keputusannya untuk bekerja sudah benar, daripada aku terus kepikiran dengan sikap dingin serta acuh yang ditunjukkan mas Damar padaku." gumam Mita setelah kepergian Damar.
*
"Sorry, kawan." Jika tempo hari Brian yang meminta maaf akibat keterlambatannya, kini giliran Damar yang terlihat meminta maaf atas keterlambatannya siang ini.
"It's ok." jawab Brian. Damar bisa melihat gurat wajah Brian yang terlihat sangat berbeda siang ini, wajah sahabatnya itu bahkan terlihat begitu berseri seri.
"Apa kau baru saja memenangkan tender???." tebak Damar, yang kini baru saja menempati kursi yang telah disediakan untuknya di meeting room perusahaannya.
"Ini lebih dari sekedar menenangkan tender, kawan." jawaban bersemangat Brian berhasil menciptakan kerutan halus di kening Damar.
"Oh ya...."
"Kau masih ingat dengan gadis yang pernah ku ceritakan waktu itu, Hari ini aku kembali bertemu dengannya secara tidak sengaja. Sepertinya gadis itu adalah jodoh yang tuhan kirimkan untukku." kata Brian dengan penuh percaya diri.
Damar mendecakkan lidah mendengarnya.
"Ternyata benar, jatuh cinta terkadang bisa membuat seseorang kehilangan kewarasannya." seloroh Damar.
Brian memegangi dadanya untuk mendeteksi irama jantungnya sendiri. "Sepertinya apa yang kau katakan benar, aku telah jatuh cinta pada gadis itu sejak pertama kali melihatnya." Damar hanya bisa geleng-geleng melihat sikap yang ditunjukkan Sahabatnya itu.
"Sampai kapan kau akan memikirkan gadismu itu???." sindiran halus kembali dilontarkan Damar ketika melihat Brian tak kunjung memeriksa berkas di hadapannya.
"Sorry kawan." seakan tersadar, kini Brian mulai memfokuskan diri pada pekerjaannya, Kini kedua pria tampan tersebut kembali dalam mode serius.
"Kapan kita akan mengunjungi pembangunan rumah sakit milik keluargamu yang berada di kota Surabaya????." tanya Brian memastikan, mengingat pembagunan tersebut juga melibatkan dirinya selaku perancang gambar bangunan yang diminta langsung oleh tuan Anggara, ayahnya Damar.
"Mungkin bulan depan di saat semua proses pembangunannya telah rampung." jawab Damar.
"Baiklah kalau begitu."
Tuan Anggara sengaja membangun sebuah rumah sakit di kota Surabaya dan rencananya rumah sakit tersebut akan dikelola oleh keponakan tuan Anggara yang berprofesi sebagai seorang dokter spesialis bedah.
Satu jam sudah, Damar dan juga Brian terlihat terlibat percakapan serius. Salah satu topik pembasahan Keduanya yakni membahas tentang pembangunan perusahaan cabang milik keluarganya Brian, yang dimana perusahaan milik Damar akan menjadi perantara bagi investor asing yang akan menanam sahamnya pada perusahaan milik Jilbert Company.
Di sela percakapan serius keduanya tiba tiba suara deringan ponsel Brian mengalihkan perhatian Damar dan juga Brian ke sumber suara.
Brian lantas meminta waktu sejenak untuk menerima panggilan di ponselnya dan tentu saja Damar tidak merasa keberatan, ia membiarkan Brian keluar dari ruangannya untuk menerima panggilan dari seseorang yang entah siapa.
Cukup lama Brian menatap layar ponselnya yang kini menampilkan nomor yang tidak di kenal, sebelum kemudian mulai menekan ke atas ikon hijau pada ponselnya untuk menerima panggilan.
"Maaf menganggu waktu anda, tuan Brian." suara yang begitu dikenali oleh Brian tersebut sontak membuat jantung Brian kembali berdetak tak menentu.
"Nona Mita." tebak Brian.
"Iya tuan, ini saya, Mita." pengakuan dari seseorang di seberang sana semakin membuat senyum di wajah Brian terukir dengan sempurna.
"Ada apa, Nona Mita???." nada ucapan Brian terdengar begitu berwibawa sehingga tak sedikitpun menimbulkan kecurigaan bagi seseorang di seberang sana jika saat ini ia sedang kegirangan.
"Saya hanya ingin menyampaikan jika saya bersedia menerima tawaran anda untuk bekerja sebagai perawat pribadi untuk ibu anda, tuan." Brian melayangkan kepalan tangannya ke udara tanpa suara, saking senangnya mendengar jawaban dari gadis pujaan hatinya itu.
"Baiklah, kalau begitu mulai besok anda sudah bisa mulai bekerja!!."
Setelah merasa percakapan mereka cukup dan menghasilkan kesepakatan jika mulai besok Mita sudah boleh mulai bekerja sebagai perawat ibunya.
Brian kembali ke ruangan Meeting dengan wajah yang kembali terlihat berseri seri.
*
Sore harinya.
Mita terlihat menyambut kedatangan Damar yang baru saja kembali dari perusahaan. Terlihat jelas gurat lelah di wajah pria itu.
Menyadari hal itu, Mita lantas berinisiatif untuk memberi pijatan kecil pada bahu Damar, setelah pria itu membuka jas yang dikenakannya dan mendaratkan bokongnya di sofa.
"Apa yang kau lakukan." spontan Damar menoleh ke belakang ketika merasakan jari jari lentik Mita menyentuh tubuhnya. Sementara Mita sendiri spontan menjauhkan tangannya dari tubuh Damar ketika mendengar suara pria itu yang terdengar pelan namun mengerikan di telinganya.
"Maaf." hanya kata itu yang terucap dari mulut Mita.
"Apa aku sanggup menuruti permintaan papa tadi jika bersentuhan denganku saja mas Damar sepertinya begitu jijik." dalam hati Mita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Lili Handayani
ini brian nya dea bukan sih thor.
2024-03-01
0
Uthie
lanjut 💪
2023-12-25
1