"Hei... kusut amat tuh muka kayak cucian belum disetrika aja." seloroh salah seorang kawannya ketika Damar baru saja memasuki salah satu private room di club malam XXX dengan wajah kusutnya.
Kesal mengingat perdebatannya dengan sang ayah akhirnya membuat Damar menerima ajakan kawan lamanya untuk bersenang-senang di club, malam ini. Sudah beberapa bulan terakhir Damar sering kali terlibat perdebatan dengan sang ayah yang menginginkan ia untuk segera menikah.
Pernah merasakan kecewa dikhianati oleh cinta pertamanya membuat Damar berubah menjadi seorang Casanova yang tidak lagi percaya dengan adanya cinta sejati. meskipun sering bergonta-ganti pasangan namun tidak serta Merta membuat Damar melakukan h*ving s*x sebelum menikah, Bagi Damar cukup dengan berc*uman saja.
Malam itu Damar kembali menenggak alkohol, satu kegiatan yang telah lama ditinggalkannya.
*
"Kamu benar benar tidak tahu di Untung, baru juga sehari bekerja sudah membuat masalah dengan tamu." bukannya memberikan pembelaan pada Mita atas tindakan tidak sopan dari tamu, bosnya justru mempersalahkan Mita dalam hal itu.
"Tapi Momi pria itu yang sudah bertindak kurang ajar duluan pada saya." bukannya ingin membela diri namun Mita hanya berusaha mengungkapkan fakta yang terjadi, akan tetapi pria kemayu yang akrab dipanggil momi tersebut seakan tak memberi kesempatan bagi Mita memberikan pembelaan atas dirinya. Sementara Sari yang tidak bisa berbuat apa apa hanya terlihat diam seraya mengusap punggung Mita seakan meminta temannya itu untuk diam dan tak lagi berdebat.
"Sudah berani membantah kamu ya. Apa kamu mau saya pecat???." mendengar ancaman dari momi Mita bukannya takut ia justru terlihat menyeringai.
"Tanpa anda pecat sekali pun saya juga akan berhenti bekerja di tempat anda." dengan lantang tanpa keraguan Mita berucap lalu kemudian mengayunkan langkahnya meninggalkan tempat h*ram itu begitu saja.
Dengan langkah cepat Sari menyusul Mita hingga ke depan club.
"Ta." seruan Sari akhirnya menghentikan langkah Mita untuk sejenak. setelah mengusap air matanya yang jatuh tanpa permisi, Mita lantas menoleh pada Sari.
Sari melangkah mendekati Mita kemudian ia memeluk tubuh sahabatnya itu. "Maafkan aku karena tidak bisa berbuat banyak untukmu, Ta." sesal Sari.
Mita tersenyum, lebih tepatnya memaksakan bibirnya untuk bisa tersenyum di saat hatinya tak sanggup untuk melakukannya. "Tidak perlu minta maaf karena kamu tidak salah." Mita membalas pelukan Sari, lalu kembali melerai pelukannya setelah beberapa saat kemudian.
"Masuklah, lanjutkan pekerjaanmu !! Aku harus segera pergi ibu pasti sedang menungguku." ucapnya seraya mengulas senyum di sudut bibirnya. Seolah ingin memperlihatkan pada Sari jika saat ini ia baik baik saja.
Sari mengangguk lalu kemudian dengan berat hati ia kembali ke dalam club, sementara Mita segera melanjutkan langkahnya entah kemana ia sendiri bingung terlebih saat ini ia tengah mengenakan pakaian minim bahan.
Beberapa saat menyusuri jalanan sorot lampu mobil tiba tiba menyilaukan pandangan Mita sehingga membuatnya menutupi pandangannya dengan tangannya.
Betapa terkejut serta malunya Mita ketika melihat siapa yang kini baru saja turun dari mobil tersebut.
"Tuan Anggara." lirih Mita.
Saking malunya Mita sampai tertunduk malu seakan tak sanggup menatap wajah pria paru baya yang saat ini telah berdiri di hadapannya.
Melihat keberadaan Mita yang tak jauh dari lokasi hiburan malam, apalagi dengan penampilan Mita saat ini pria paru baya tersebut dapat menyimpulkan jika Mita baru saja dari tempat hiburan m*lam tersebut.
"Masuklah ke mobil, saya akan mengantarkan mu ke rumah sakit." Tidak ingin menyinggung perasaan Mita, tuan Anggara tidak mempertanyakan praduganya pada Mita, pria itu justru merasa iba dan meminta Mita untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
Namun sebelum beranjak ke mobil, tuan Anggara membuka jasnya kemudian memberikannya pada Mita untuk menutupi bagian tubuhnya yang nampak terbuka akibat baju minim bahan yang dikenakannya.
Di perlakukan layaknya seorang anak oleh pria paru baya itu membuat Mita merasa terharu hingga tanpa sadar kedua kelopak matanya berkaca-kaca.
Setelah Mita dan tuan Anggara telah berada di dalam mobil, sopir pribadi pria itu pun segera melajukan mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan kawasan tersebut.
Kini Mita duduk tertunduk di samping pria yang hampir sebaya dengan almarhum ayahnya tersebut.
"Apa yang membuatmu sampai bertindak gegabah seperti itu???." pertanyaan tuan Anggara seakan tahu dengan apa yang terjadi pada Mita.
Sementara Mita yang mendapat pertanyaan demikian tak sanggup menjawabnya.
"Katakanlah, anggap saja malam ini aku seorang ayah yang tengah bertanya pada putrinya!!!." kalimat tuan Anggara sungguh menyentuh hati Mita sehingga membuat gadis itu menangis tanpa suara.
"Apa kau melakukan semua itu demi ibumu???." tebak tuan Anggara ketika melihat Mita masih menangis tanpa suara.
"Hanya ibu satu satunya yang aku miliki di dunia ini, tuan, dan aku tidak ingin sampai kehilangan ibuku."
Dari kalimat Mita, tuan Anggara sudah bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
"Kenapa kau tidak mencari cara yang lain?? mencari pinjaman pada orang lain misalnya." kalimat pria paru baya tersebut sontak membuat Mita menoleh padanya.
"Di zaman sekarang mana ada orang yang mau meminjamkan uang dengan jumlahnya tidak sedikit pada orang lain tanpa imbalan, tuan." tutur Mita. Dari wajahnya tersirat kesedihan yang mendalam.
"Seperti yang kau katakan, tidak ada orang yang mau memberikan pinjaman tanpa imbalan. Lalu bagaimana jika saya bersedia membayar biaya operasi ibu kamu apakah kamu bersedia memberikan imbalan pada saya????."
Mita yang mendengarnya sontak menyilangkan kedua tangannya pada bagian d*danya dan itu mampu menciptakan senyum di bibir tuan Anggara.
"Jangan khawatir, saya bukan pria hidung belang dan saya sangat mencintai ibu dari anak anak saya." tutur tuan Anggara seakan paham dengan isi kepala Mita saat ini.
"Lalu apa maksud ucapan anda, tuan." tanya Mita dengan wajah bingung.
"Menikahlah dengan putraku dengan begitu saya akan membayar biaya operasi ibu kamu. bukan hanya itu saya juga akan membayar semua biaya pengobatan ibu kamu sampai beliau sembuh seperti sedia kala."
Deg.
Mita seperti sedang bermimpi ketika mendengar penawaran dari tuan Anggara padanya.
"Anda jangan bercanda, tuan." Mita terlihat meragu.
"Apa kau melihat gurat canda di wajah saya??." setelah cukup lama memperhatikan guratan di wajah tuan Anggara, Mita lantas menggelengkan kepalanya.
"Jika kau bersedia menikah dengan putraku maka saya pastikan ibumu akan segera mendapatkan tindakan operasi secepatnya."
Kalimat tuan Anggara seperti angin segar yang kini menerpa Mita.
Demi keselamatan ibunya, Mita pun tak butuh waktu untuk berpikir terlalu lama.
"Saya bersedia menikah dengan putra anda, tuan." jawaban Mita membuat senyum sempurna tercipta di wajah tuan Anggara.
"Besok saya pastikan ibumu akan segera mendapatkan tindakan operasi dengan begitu saya berharap kamu tidak akan mengingkari janjimu padaku."
"Saya berjanji tuan, dan saya tidak akan mengkhianati janji saya pada anda, apapun yang terjadi saya akan tetap bersedia menikah dengan anak anda." saat ini bagi Mita kesehatan ibunya nomor satu, untuk kebahagiaannya sendiri itu akan menjadi nomor kesekian di kamus Mita.
Untuk mendukung karya recehku jangan lupa like, koment, vote, give and subscribe ya sayang sayangku 😘😘😘😘😘 dan jangan lupa untuk memberikan ulasan 🥰🥰🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Flora Lorong
suka dgn ceritax,
2024-05-03
0
Uthie
suka 👍👍👍👍
2023-12-24
2