Hari pertama berada di negeri Paman Sam, Damar tidak menyangka ia akan bertemu dengan sosok wanita yang telah menjadi penyebab dirinya tak lagi percaya dengan yang namanya cinta sejati, bukan hanya itu wanita itu bahkan telah merubahnya menjadi seorang Casanova, akibat pengkhianatan.
"Damar...." Seorang wanita cantik dengan bentuk yang profesional terlihat melangkah mendekat ke arah Damar, yang kini tengah berjalan melintasi lobby hotel tempatnya menginap.
Damar melepaskan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya kemudian memandang wanita cantik bernama Lea tersebut dengan tatapan tak terbaca.
Tanpa rasa malu Lea melangkah mendekati Damar, hendak memeluk tubuh Damar. namun dengan cepat asisten Randi menghalanginya. "Maaf Nona, tolong jaga sikap Anda!!!."
Lea mencebikkan bibirnya melihat sikap Asisten Randi. "seharusnya kau yang harus menjaga sikap !! apa kau lupa siapa aku bagi tuanmu ini????." peringat Lea dengan penuh arogansi.
Dengan tatapan dingin Asisten Randi menjawab. "Bagaimana saya bisa lupa pada wanita angkuh dan pengkhianat seperti anda, Nona." tegas Asisten Randi. Sementara Damar sendiri hanya terlihat diam saja Seakan setuju dengan semua ucapan asisten pribadinya itu.
Merasa tidak terima dengan ucapan asisten Randi, Lea hendak mendorong tubuh tegap Randi yang menghalangi dirinya dari Damar. "Minggir!!!" titahnya. Pergerakan Tubuh langsing Lea tentu saja tak membuat tubuh tegap asisten Randi bergeser sedikit pun.
"Apa kau melakukan semua ini karena majikanmu itu sudah menikah???." sindir Lea, kesal dengan sikap Asisten dari mantan kekasihnya itu.
"Itu salah satunya."
Jawaban Asisten Randi membuat Lea tergelak lalu kemudian menatap ke arah Damar. "Ayolah Damar....Kau pikir aku tidak tahu jika kau tidak mencintai istrimu??? aku tidak heran jika kau tidak mencintai istrimu, karena wanita itu pasti tidak ada apa apanya dibandingkan denganku." masih dengan sisa gelak tawanya Lea berujar.
"Jangan pernah berani membandingkan istriku denganmu karena sedikit pun kau tidak pantas dibandingkan dengannya!!!." kini bukan lagi asisten Randi yang menepis ucapan Lea melainkan Damar sendiri, bahkan raut wajah pria itu terlihat tak bersahabat.
Sejujurnya bukan hanya Lea yang terkejut mendengar ucapan Damar, asisten Randi pun tak kalah terkejutnya dengan Lea, mengingat selama ini dirinya tahu betul seperti apa hubungan tuannya itu dengan sang istri.
"Ayo Randi....aku tidak ingin membuang buang waktu lebih lama meladeni wanita yang tidak bisa menjaga harga dirinya sendiri." kata Damar sebelum kemudian kembali mengayunkan langkahnya.
"Si*lan... Ternyata wanita kampung itu sudah banyak merubah Damar." Lea terlihat semakin kesal.
Meskipun dirinya tak berada di tanah air namun Lea mengetahui semua yang terjadi di tanah air melalui orang kepercayaannya, bahkan sosok Mita pun tak luput dari pengetahuan Lea. yakin jika perasaan Damar tak akan pernah berubah padanya meskipun ia sering kali ketahuan selingkuh, Lea membiarkan begitu saja ketika orang kepercayaannya menyampaikan berita jika mantan kekasihnya itu akan segera menikah. Pikir Lea, seperti sebelum sebelumnya di mana ia ketahuan selingkuh namun Damar masih bersedia menerima dirinya, begitu pula rencana wanita itu, di mana bulan depan ia berencana kembali ke tanah air untuk menemui Damar dan meminta maaf pada pria yang telah berstatus mantan kekasihnya tersebut. Tapi sepertinya semua rencana itu tidak akan semudah yang dipikirkan Lea mengingat perubahan sikap Damar padanya yang terlihat begitu drastis.
"Pastikan Wanita itu tak lagi mengganggu kehidupanku, aku tidak ingin lagi berurusan dengan wanita pengkhianat sepertinya!!." titah Damar di sela langkahnya.
"Baik tuan."
*
Tidak terasa sudah tiga hari Damar berada di negeri paman Sam, dan hari ini adalah hari terakhir pria itu berada di negera tersebut sebelum kemudian malam nanti ia akan segera kembali ke tanah air. Damar sengaja menyelesaikan urusannya lebih cepat dari perkiraan agar dirinya bisa segera kembali ke tanah air, entah mengapa rasanya ia ingin cepat cepat bertemu dengan istrinya.
Setelah berjuang melewati sedikit rintangan yang ada, akhirnya kini Damar bisa bernapas lega ketika pesawat yang ditumpanginya bersama asisten Randi telah mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta.
"Apa anda langsung kembali ke rumah, tuan??." tanya Asisten Randi memastikan, dan Damar pun mengangguk sebagai jawaban.
Dengan langkah lebarnya Damar memasuki pintu utama ketika tiba di rumah orang tuanya. Tujuan utama Damar yaitu menuju kamarnya untuk menemui istrinya, namun ia tak menemukan keberadaan Mita di kamar.
"Kamu sudah kembali nak???." tanya mama Lina saat melihat Damar menuruni anak tangga dengan tergesa gesa.
"Kemana istri Damar, mah???." bukannya menjawab Damar justru balik bertanya tentang keberadaan istrinya. Dan pertanyaan Damar tersebut sontak membuat kedua orang tuanya saling melempar pandangan. Bagaimana tidak, setelah dua bulan menikah baru kali ini Damar menyebut Mita dengan sebutan istri.
"Istri Damar kemana mah..pah..???." ulang Damar ketika kedua orang tuanya masih diam saja.
Papa Anggara menghela napas dalam sebelum kemudian mulai berkata. "Damar, papa tahu jika sampai saat ini kamu belum bisa menerima pernikahan kalian, tapi kamu juga jangan sampai lupa kalau Mita hanyalah seorang wanita biasa yang punya hati dan juga perasaan. Setahun rasanya terlalu lama untuk seorang istri berada di sisi pria yang tidak menginginkan dirinya sepertimu, hanya karena perjanjian pernikahan. Jadi sekarang papa tidak akan lagi memaksa kamu untuk tetap menjalani pernikahan kalian!!!." mendengar penjelasan ayahnya sontak kedua alis mata Damar terlihat saling bertaut.
"Apa maksud papa???." tanya Damar yang belum sepenuhnya paham dengan maksud ucapan ayahnya.
"Papa hanya membantu kamu mempercepat proses perpisahan kalian, bukankah sekarang atau setahun lagi kamu juga akan tetap menceraikan istri kamu, Damar??." seraya melontarkan sindiran, papa Anggara menyerahkan sebuah map di hadapan putranya itu.
"Bagaimana papa bisa tahu dengan perjanjian ini???." Damar tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, dan itu membuat papa Anggara semakin yakin dengan membiarkan menantunya itu memilih jalan hidupnya sendiri.
"Kamu pikir papa ini bodoh Damar, apa kamu sudah lupa siapa papa kamu ini??? Papa bahkan bisa tahu apa pun yang anak anak papa lakukan setiap menitnya." tekan pria paru baya tersebut.
"Sekarang papa minta lepaskan istri kamu, biarkan dia mendapatkan pria yang mencintainya dan menyayanginya!!!." kalimat papa Anggara terdengar pelan namun tersirat ketegasan di setiap kata-katanya.
"Tidak bisa, pah. Damar tidak bisa menceraikannya." kali ini Damar pun menegaskan keputusan yang membuat kedua orang tuanya cukup terkejut. Bahkan awalnya kedua orang tuanya itu berpikir jika putra mereka akan merasa sangat senang jika akan segera bercerai, namun kenyataannya justru sebaliknya.
"Kenapa tidak bisa???." tanya papa Anggara dengan waja bingungnya.
"Sampai kapanpun Damar tidak ingin menceraikannya."kekeh Damar. kini pria itu hendak beranjak.
"Kenapa tidak bisa???." ulang papa Anggara. kali ini pria paru baya tersebut menginginkan jawaban pasti dari sorot matanya, Sehingga mau tak mau Damar pun memberikan alasannya.
Damar Menoleh.
"Karena Damar sudah tidur dengannya, pah."
Deg.
Jawaban putranya itu mengingatkan papa Anggara akan tanda kepemilikan di leher menantunya saat mereka makan malam bersama beberapa hari yang lalu, di mana saat Damar berangkat ke luar negeri.
"Lalu??? Bukankah istri kamu itu seorang wanita malam, untuk apa mencemaskannya dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik, lagi pula kau bukan pria pertama baginya, bukan begitu???." merasa mendapat kesempatan, papa Anggara lantas melontarkan pernyataan berbau sindiran pada putra sulungnya itu.
Damar tertunduk.
"She is still a virgin, pah." suara Damar terdengar tercegat, seakan menyesali semua tudingan buruknya terhadap sang istri.
Sebuah seringai terbit di sudut bibir papa Anggara. "Sayangnya kamu terlambat, nak, istri kamu sudah pergi dari rumah ini dan papa sendiri tidak tahu dia pergi kemana." ungkap papa Anggara lalu kemudian menyerahkan sebuah map yang berisikan surat gugatan perceraian yang telah di tandatangani oleh Mita sebelumnya.
Deg.
Jantung Damar seperti berhenti berdetak ketika melihat surat gugatan perceraian tersebut.
"Maafkan papa, Damar, tapi kali ini papa tidak bisa ikut campur lagi dalam urusan rumah tangga kalian." tegas papa Anggara ketika mendapat tatapan lemah dari putranya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Uthie
seru 👍
2023-12-25
1
dami ning
selamat berjuang mas damarr
2023-12-12
0
Rita Susanti
lanjut thor ggk pake lama😁😁😁
2023-12-12
0