Dalam ruangan pengap nan gelap, dengan jeruji besi yang membatasi dari dunia luar, Veda dan Rohan terbaring tak berdaya.
Di kaki mereka terpasang rantai yang saling terhubung diantara keduanya. Rantai itu besar dan kuat, terlebih memiliki fungsi untuk menyegel kemampuan yang memakainya.
Kalah dalam pertarungan sudah membuat mereka kesal, kini mereka bahkan dimasukkan ke dalam penjara milik musuh negara mereka.
"Benar-benar memalukan. Tidak cukup dibuat lumpuh, kita juga dimasukkan penjara. Orang itu benar-benar membuatku kesal."
Rahang Rohan mengeras mengingat apa yang telah dialaminya kemarin.
Padahal seharusnya, kemarin menjadi pembantaian besar-besaran. Mereka juga mengira akan mendapat tangkapan besar saat bertemu anjing milik negara timur.
Tetapi yang terjadi malah sebaliknya.
"Ini semua karena orang itu! Aku jadi tidak bisa membunuh mereka."
Veda pun kesal karena gagal melahap mangsanya.
"Orang" yang mereka maksud itu adalah Aray.
"Tapi tubuhku benar-benar terasa sakit karena gelombang aneh itu."
Rohan mencoba melemaskan pundaknya, anehnya malah makin terasa sakit.
"Hei! Apakah ini baik-baik saja? Kita tertangkap oleh musuh, mungkin kita akan diintrogasi atau semacamnya?" Veda cemas melihat keadaan mereka yang sangat kacau.
"Entahlah, lagipula kita tidak benar-benar bekerja untuk negara utara."
"Kau benar."
Suara langkah kaki dari lorong penjara terdengar ditelinga mereka.
"Seseorang akan datang, kita harus waspada." Rohan bersiap akan kemungkinan yang akan terjadi.
Seorang perempuan muda datang dan berdiri di depan sel mereka.
"Kalian berdua, keluarlah! Kalian akan diintrogasi."
Tebakan Veda benar, mereka pasti akan diberi banyak pertanyaan.
Perempuan itu membuka sel dengan kunci yang ia pegang.
"Ikuti saja untuk saat ini. Kita bisa dihajar kalau tidak menurut, apalagi kita tidak bisa menggunakan kemampuan karena rantai ini." Rohan berbisik pada Veda.
Veda yang mengerti maksud perkataan Rohan segera mengangguk.
Mereka berdiri tapi agak sempoyongan karena serangan aray yang membuat kerja otak mereka terganggu.
"Ulurkan tangan kalian!" Perempuan itu mengambil dua pasang borgol dari pinggangnya.
Veda dan Rohan menurut, mengulurkan tangan sehingga mudah untuk dipasangi borgol.
"Uh ... Sempit sekali! Kalian mengukurnya dengan benar tidak, sih?"
Veda protes pada perempuan itu karena ukuran borgol yang sangat kecil.
Rohan menatap Veda tidak percaya. Bagaimana mungkin dalam situasi seperti ini dia masih bertingkah begitu.
"Untuk apa kami melakukan hal itu untuk penjahat seperti kalian. Yang lebih penting, ikuti aku! Jangan berani berfikir untuk kabur." Ucap perempuan itu tegas.
Mereka berjalan melewati sel-sel tahanan lain, terdengar teriakan-teriakan mereka yang memekakkan telinga.
"Berisik sekali" Rohan mengomel.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan kecil, didalamnya hanya terdapat satu meja dan tiga kursi.
"Duduklah! Sebentar lagi akan datang orang yang menanyakan kalian beberapa pertanyaan."
Perempuan itu menutup pintu, meninggalkan mereka dalam ruangan kecil itu.
Mereka menghela nafas panjang, bingung akan menjawab apa pada pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan pada mereka.
.
.
.
"Kami kembali, Yang Mulia. Penyusup sudah kami serahkan pada yang berkewajiban. Sayangnya, kami tidak mampu menyelamatkan banyak warga sipil, dan dari informasi yang saya dapatkan, korban dalam serangan kemarin mencapai angka 765. Benar-benar sesuai dengan dugaan kita."
Aray melaporkan segala situasi yang telah terjadi pada serangan penyusup tempo hari.
"Bagus! Kau telah bekerja dengan sangat baik, walaupun masih banyak korban berjatuhan. Tapi itu juga salah kami yang telat memberikan kabar tentang serangan tersebut." Raja Avanindra juga mengakui kesalahannya.
"Anggota pleton 1 sedang dirawat di ruang kesehatan milik istana, mereka mendapatkan luka yang lumayan berat." Aray melanjutkan laporannya.
"Hm? Aku akan memberikan hadiah setelah mereka sembuh nanti karena telah berhasil
pada misi pertama mereka. Kau pun berhak mendapatkan hadiah dariku. Apa yang kau inginkan?"
Saat Raja Avanindra menawarkan hadiah pada Aray, ia hanya memikirkan satu hadiah yang paling tepat untuknya.
"Biarkan aku menjalani hari-hari ku dengan
damai. Karena melakukan hal seperti ini membuatku pusing, apalagi aku harus tetap
pergi ke sekolah." Itulah keinginannya.
"Kalau begitu, kau hanya perlu keluar dari sekolah kan?"
Aray pikir raja benar, tetapi masih ada satu masalah, Alicia akan curiga kalau Aray tiba-tiba berhenti sekolah. Tinggal serumah juga membuat situasinya makin rumit.
Jadi keputusan Aray adalah,
"Tidak, aku akan tetap pergi ke sekolah, namun jika ada panggilan dari kerajaan, aku akan segera datang. Dan juga, biarkan aku libur kerja pada hari Sabtu & Minggu, Itu akan menjadi penyegar hari-hari sulitku."
"Haha ... kau benar-benar menarik. Baiklah, aku akan mengabulkan permintaan mu." Raja mengangguk.
Aray tersenyum dalam hati. Akhirnya hari libur yang sangat berharga baginya tidak akan diganggu.
Tapi raja tidak menyangka Aray masih menginginkan satu hal lagi.
"Yang Mulia, saya masih memiliki satu permintaan lagi."
Raja mengangkat alisnya.
Lalu Aray menjelaskan apa yang diinginkannya.
.
.
.
Setelah selesai melaporkan situasi terkini pada Raja Avanindra, aray berjalan di lorong istana dan bertemu dengan seseorang.
"Aray! Disini kau rupanya, aku sudah membawa dua tahanan itu keruangan interogasi. Kau yang akan melakukannya bukan?"
Bu Daiva menghampiri Aray dengan memberitahukan bahwa ia telah melakukan apa yang Aray minta.
"Tentu saja. Antarkan aku ke sana."
"Kalau begitu, ikuti aku!" Bu Daiva berjalan di depan Aray, memimpin.
Mereka berjalan menuruni tangga menuju ruangan bawah tanah, tempat dimana penjara istana berada.
Melewati sel-sel para tahanan dan berujung pada sebuah ruangan kecil yang didalamnya terdapat 2 orang tahanan yang sedang berbincang.
"Mulai dari sini, serahkan padaku."
Aray mempersilahkan Bu Daiva untuk pergi meninggalkan nya.
Bu Daiva mengangguk, berbalik dan berjalan menjauh kembali permukaan.
Ketika punggung Bu Daiva sudah tak terlihat lagi di pandangannya, Aray membuka pintu.
.
.
.
Pintu ruangan kecil itu terbuka, memperlihatkan sosok yang sangat tidak ingin dilihat lagi oleh Rohan dan Veda.
"Saatnya melanjutkan reuni kita yang sebelumnya tertunda." Pria itu mengucapkan hal yang menyebalkan dengan wajah datar lalu duduk berseberangan dengan mereka.
Rohan dan Veda menatapnya tajam.
Mereka ingin sekali menghajar orang yang ada didepan mereka saat ini, tapi mereka sadar tidak bisa melakukannya.
Bukan karena borgol atau rantai yang mengikat mereka, tapi memang karena perbedaan kekuatan mereka yang terlalu jauh.
Padahal mereka yakin, bahwa pria ini lebih muda dari mereka.
"Apa yang ingin kau tanyakan pada kami?" Rohan memulai pembicaraan.
"Hanya beberapa hal saja, tidak akan lama. Pertama-tama, biarkan aku beritahu kalian, bahwa Aku telah mengetahui masa lalu kalian."
"Apa maksudmu?" Rohan mengerutkan dahinya.
"Maaf saja, tapi saat kalian tidak sadarkan diri, aku masuk dalam pikiran kalian dan melihat kenangan demi kenangan yang ada dalam hidup kalian. Bisa kubilang, kita ini sama."
"Berengsek! Apa yang telah kau lakukan pada kami?"
Veda berdiri dari tempat duduknya dan mencoba untuk menyerang Aray dengan borgol yang melingkar ditangannya.
Tapi gerakannya terhenti seketika dengan telekinesis yang Aray gunakan padanya.
"Tahan dulu, objek penelitian nomor 16. Aku belum selesai bicara."
Mata Rohan dan Veda membelalak mendengar suatu yang tidak bisa dihiraukan dari mulut Aray.
"Bagaimana kau tau?" Rohan bertanya penuh curiga.
"Kan sudah kubilang, objek penelitian nomor 17. Ini adalah reuni kita yang tertunda."
"Kau ini sebenarnya siapa?"
Kini, setelah Aray mengetahui masa lalu mereka, dia tidak bisa dilepaskan begitu saja.
"Jika kalian ingin membalaskan dendam terhadap orang yang melakukan hal tersebut pada kalian, maka aku adalah sekutu kalian. Kita memiliki tujuan yang sama."
"Jadi kau adalah salah satu anak yang diculik juga?" Veda sadar akan sesuatu.
"Entahlah. Bisa iya, bisa juga tidak."
Jawabannya sangat ambigu.
"Jangan percaya begitu mudah pada orang ini, Veda. Kita tidak tau apa yang dia rencanakan." Rohan memperingati Veda.
"Huh ... sebenarnya aku tidak ingin
melakukan hal merepotkan seperti ini, tetapi, mau bagaimanapun, kalian tidak akan mempercayaiku sebelum aku membuktikannya, bukan?"
Aray mendekat lalu mengulurkan kedua tangannya pada Rohan dan Veda.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Mereka berdua mencoba bergerak mundur, tapi lagi-lagi Aray menggunakan telekinesis pada mereka.
"Kalian diam saja."
Aray menempelkan tangannya pada kening keduanya, merapalkan mantra.
"Distribute memory."
Cahaya kecil keluar dari kedua ujung jari Aray, menembus masuk kedalam kepala Rohan dan Veda.
Cahaya kecil itu berisi ribuan sampai jutaan informasi penting dalam ingatan Aray. Bisa juga disebut memori.
Rohan dan Veda mulai melihat kenangan hidup Aray dalam sebuah gambaran yang bergerak.
Kenangan demi kenangan terus bermunculan dalam kepala mereka sampai akhirnya penglihatan mereka mulai buram, gambaran-gambaran itu berhenti bermunculan.
"Hah ... hah ... hah .... " Mereka kembali tersadar.
"Haha ... benar-benar kenangan yang mengerikan." Rohan tertawa suram.
"Ya, aku heran orang ini bisa melewati semuanya dan terus hidup sampai sekarang." Veda mengusap keringat yang bercucuran dari wajahnya.
"Bagaimana? Kalian sudah percaya?" Aray bertanya dengan wajah datar.
"Tentu saja kami percaya jika kau memaksakan ingatan mu pada kami." Veda cemberut.
"Aku juga tau kalian hanya bekerja pada pemerintah negara utara untuk menemukan orang yang membawa penderitaan pada hidup kalian. Tapi kini, status kalian adalah sebagai tahanan. Aku juga yakin kabar ini telah sampai pada raja di negara utara. Kalau begitu kalian tidak memiliki tempat kembali kan?"
"Kau benar. Lalu, apa yang harus kami lakukan?" Rohan bertanya serius.
"Bergabunglah dengan kami dan ikut menjadi pasukan kerajaan timur ini."
Rohan dan Veda sangat kaget bahkan sampai sedikit melompat dari kursi mereka.
"Kau bercanda kan? Bagaimana mungkin seorang penyusup menjadi bagian dari negara yang diserangnya?" Rohan benar-benar tidak percaya kalau Aray berkata serius.
"Lagipula, bahkan jika kau serius mengatakan hal tersebut, bagaimana caranya agar raja menerima kami?" Veda menanyakan sesuatu yang amat penting.
"Tenang saja, bahkan sebelum aku meminta kalian untuk bergabung, raja sudah setuju akan hal ini." Kata Aray datar.
Rohan dan Veda tertawa kecil karena melihat ekspresi yang diperlihatkan wajah Aray.
"Walaupun wajahmu seperti itu, ternyata kau orang yang penuh persiapan juga, ya? Baiklah, kami akan mengikuti mu sampai kita berhasil membalaskan dendam pada orang-orang itu."
Kini keadaan telah berbalik sepenuhnya.
Dari lawan berubah menjadi kawan.
Entah apa yang akan terjadi di hari-hari yang akan datang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Hamzah Fahrudin
ntap
2022-05-02
0
the GFoxM
hmmm...MC masa lalunya misteri euy
2021-12-24
0
Fadly Fernaldi Saputra
Berhubung sifat utama MC adlh males mending dia ciptain pasukannya sendiri gitu kan pasti kebantu bat dgn adanya mereka,ayo dong thor biar makin keren juga Aray wkwkwkw
2021-03-22
3