Pak Roy berdiri di depan kelas, suaranya yang tenang mulai mengalir, menjelaskan pelajaran hari itu. "Hari ini, kita akan belajar dasar-dasar sebuah kemampuan..." Suaranya terdengar seperti bisikan di telinga Aray yang malas.
Aray, yang duduk di barisan belakang, menundukkan kepalanya di atas meja, merasakan rasa malas menyelimuti dirinya. Belajar? Tidak ada yang menarik. Segala hal yang diajarkan di sini hanya terasa seperti gangguan lain dalam hidupnya yang panjang dan melelahkan.
Bukannya Aray belum pernah mencoba belajar. Dia pernah—entah kapan itu. Tapi sekarang, semua ini tidak lebih dari pengulangan yang sia-sia.
Pak Roy menyadari ketidakpedulian Aray dan melangkah mendekat. "Dengar, Aray. Kau terlihat tak tertarik, tapi bisa kau buktikan bahwa kau mengerti?" Tantangannya jelas.
Aray mengangkat kepalanya dengan ekspresi datar, sedikit jengkel. "Buktikan? Ini pertanyaan dasar, Pak," ujarnya, mengeluarkan tawa kecil yang penuh sarkasme.
Pak Roy menyipitkan matanya, tak mau menyerah. "Coba jelaskan perbedaan antara kekuatan dan kemampuan," katanya, sambil menyilangkan tangan di dada, seolah ingin melihat seberapa jauh Aray bisa menjelaskan.
Aray mendesah, rasa bosan semakin menyelimutinya. Dia tahu ini mudah. "Kemampuan adalah bakat atau kapasitas yang didapat melalui latihan atau alami. Itu memungkinkan seseorang menyelesaikan tugas dengan sukses," jawabnya, menguap dengan malas.
Siswa lain di kelas mulai bisik-bisik, tertarik dengan percakapan itu. Salah satu dari mereka berbisik pada temannya, "Dia bahkan tidak belajar, bagaimana dia tahu semua itu?" Teman di sebelahnya hanya mengangguk, terkesima.
Pak Roy tersenyum tipis, tapi belum selesai. "Dan bagaimana dengan kekuatan?" tanyanya, melihat reaksi Aray.
"Kekuatan?" Aray menyandarkan punggungnya, tampak malas. "Itu bisa dilatih. Mudah. Tapi kemampuan? Yah, itu lebih rumit... butuh lebih dari sekadar usaha fisik." Suaranya mengandung kedalaman yang membuat beberapa siswa di sekelilingnya melirik, merasa ada yang lebih dari sekadar jawaban biasa.
Pak Roy mengangguk, seolah merasakan ada sesuatu yang lebih dalam dari pernyataan Aray. "Begitu, ya? Menarik," ucapnya, tetap mencermati Aray.
"Sudah selesai, kan? Boleh aku tidur lagi?" tanya Aray, dengan nada datar, menunjukkan wajah bosan yang tak dapat disembunyikan.
Alvarado di sampingnya terkekeh pelan, sementara beberapa siswa lain tertawa kecil. Rasa jengkel Aray semakin menumpuk. Apakah mereka tidak mengerti bahwa ini bukan saatnya untuk bersenang-senang?
"Belum selesai, Aray," Pak Roy melanjutkan, membuat Aray mendongak lagi, terlihat terganggu. "Apa yang bisa dilakukan dengan kekuatan dan kemampuan ini?"
Aray mengerutkan kening, sedikit frustrasi. "Kekuatan bisa ditingkatkan. Itu soal waktu dan latihan. Tapi kemampuan? Hanya bisa dikembangkan dalam segi kualitas. Kau tidak bisa menambahnya; kau hanya bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang berbeda."
Reaksi di kelas bercampur; ada yang terlihat kagum, ada yang tidak paham. Alvarado terlihat berusaha mencerna semua informasi itu, sementara Pak Roy tersenyum puas. "Penjelasan yang tepat, Aray. Baiklah, kita akhiri pelajaran kali ini. Jangan lupa, terus tingkatkan kekuatan kalian!"
Bel berbunyi, dan Aray segera menunduk lagi, bersiap untuk melanjutkan tidurnya.
Namun, Alvarado tampaknya masih penasaran. "Hey, Aray!" panggilnya sambil menyikut lengan temannya.
Aray tetap diam, mencoba mengabaikan panggilan itu.
"Tunggu, aku serius!" Alvarado memajukan kursinya sedikit. "Bagaimana bisa kau tahu semua itu? Kau tak pernah terlihat belajar!"
Aray tetap tidak membalas. Namun, matanya sedikit membuka. Rasa ingin tahunya sedikit terusik. Kenapa dia begitu penasaran? pikirnya.
[Suatu waktu di masa lalu]
Aray pernah pergi ke perpustakaan kota. Tidak dengan cara yang biasa seperti naik angkutan umum atau berjalan kaki—itu terlalu merepotkan. Dia berteleportasi.
Hanya dengan satu jentikan jari,
Ptak!
Sebuah gelembung bercahaya perlahan mengembang di sekeliling tubuhnya, seolah-olah mengundangnya ke dalam dunia baru. Ketika gelembung itu akhirnya pecah dengan suara lembut, dia mendapati dirinya berdiri di depan gedung perpustakaan yang besar dan megah, bangunan yang berdiri anggun seperti penjaga pengetahuan dari masa lalu.
Perpustakaan kota itu adalah pusat pengetahuan, penuh dengan rak-rak yang menjulang tinggi berisi buku-buku kuno dan kontemporer. Dari buku pengetahuan dasar hingga buku yang membahas cara menguasai kemampuan luar biasa. Tempat ini adalah sejarah hidup dari masa lalu.
Aray berjalan memasuki perpustakaan tanpa terlihat mencolok, memastikan tak ada yang mengenalinya. Dia tidak datang untuk membaca buku seperti orang pada umumnya. Membalik halaman demi halaman itu hanya membuang waktu dan tenaga.
Tapi tetap saja, Aray belajar. Tidak ada yang boleh tahu cara dia belajar. Dia menemukan buku yang dicari—The Basics in Mastering Abilities. Sebuah buku tua, tertutup debu, yang sepertinya sudah lama tak disentuh siapa pun.
Aray menyentuh sampulnya, lalu berkonsentrasi. Dalam sekejap, semua isi buku itu terserap ke dalam pikirannya. Setiap huruf, setiap kata, bahkan letak titik dan komanya. Semua sudah ada di dalam pikirannya. Baginya, itu lebih mudah daripada membaca buku secara konvensional.
Dengan proses yang selesai, dia meninggalkan perpustakaan dengan cara yang sama seperti dia datang—berteleportasi.
[Kembali ke masa sekarang]
"Jadi, itu caramu belajar?" Alvarado akhirnya bertanya, matanya masih menyimpan kekaguman yang jelas. "Sekarang aku mengerti," tambahnya dengan senyum lebar.
Aray hanya mengangguk malas. "Ya, seperti itulah."
Alvarado terkekeh. "Memang curang memiliki kemampuan seperti itu, tapi sangat cocok untukmu."
Aray tidak menjawab, memilih untuk kembali tidur. Tapi di dalam kepalanya, ia bertanya-tanya, kenapa dia repot-repot menjelaskan semua ini kepada Alvarado? Mungkin dia hanya ingin sedikit pamer.
Entahlah.
Namun, seketika Alvarado berseru lagi. "Tunggu sebentar! Kalau begitu, kau punya dua kemampuan? Bukankah seseorang hanya bisa memiliki satu kemampuan karena satu sifat?"
Aray menatapnya sejenak sebelum mengangkat bahu, tanpa niat menjelaskan lebih jauh. "Siapa tahu aku bipolar?" dia menjawab dengan nada menggoda.
Alvarado tertawa. "Mungkin saja," katanya, meski Aray sudah kembali menutup mata dan melanjutkan tidur siangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Cherry Lady~🍒
Fatimah???
2024-09-29
0
IG: _anipri
Kalau orang pemalas kayak Aray sih nggak papa, dia bisa menghafal dengan cepat
2022-07-15
0
Z3R0 :)
🗿 curang mcnya ngechet
2022-05-07
0