Upacara pembukaan

"Kak Aray! Cepatlah! Kita bisa terlambat!" Teriakan Alicia memecah keheningan pagi di halaman depan rumahnya. Wajahnya tampak tegang, penuh urgensi, sementara matanya menatap tajam ke arah pintu rumah.

Aray, yang masih santai mengenakan sepatunya, hanya menoleh sedikit dan menjawab dengan tenang, "Tenang saja, tidak perlu terburu-buru." Dia melanjutkan aktivitasnya tanpa rasa khawatir sedikit pun.

Alicia bergegas mendekat, langkahnya cepat. "Bagaimana bisa santai? Ini hari pertama kita masuk SMA! Kalau terlambat, itu akan jadi kesan pertama yang buruk!" Nada suaranya meninggi, jelas mencerminkan rasa paniknya.

Aray menatap adiknya dengan tatapan setengah mengejek. "Kau terlalu kaku. Kalau terus-terusan mengikuti aturan sekolah sepanjang hidupmu, kau akan kelelahan." Meski ucapannya ringan, ada sindiran halus di dalamnya yang langsung membuat wajah Alicia memerah.

"Kau lambat sekali! Seperti anak kecil yang baru belajar cara memakai sepatu," keluh Alicia sambil menarik lengan Aray, mencoba membuatnya berdiri lebih cepat.

Aray, dengan tenang, menyentil kening adiknya. "Tali sepatuku belum terikat," katanya sambil memberikan isyarat ke bawah. Alicia mendesah, menyadari kesalahannya, dan segera berjongkok untuk mengikatkan tali sepatu kakaknya dengan cepat.

"Sudah?" tanya Aray, menunduk untuk memeriksa hasil pekerjaan Alicia.

"Sudah. Ayo, cepat jalan!" Alicia berdiri tegak, mencoba menyembunyikan rasa cemasnya. Meskipun terlambat adalah hal yang sederhana bagi Aray, bagi Alicia, hari pertama di SMA adalah momen penting yang tidak boleh diabaikan.

Mereka mulai berjalan menyusuri jalanan kecil yang membelah perumahan. Rumah-rumah besar berjajar di sepanjang jalan, menandakan bahwa pemiliknya bukan orang sembarangan. Alicia tak begitu peduli, tapi Aray diam-diam memandang setiap rumah dengan sedikit rasa heran, bertanya-tanya bagaimana pemiliknya bisa begitu kaya.

Setelah beberapa saat, Alicia memecah keheningan. "Kak, menurutmu... kita akan ditempatkan di kelas yang sama?"

Aray hanya menoleh sekilas. "Aku tidak tahu. Kalau kau sangat ingin sekelas denganku, berdoalah." Jawabannya singkat, tanpa ekspresi.

Alicia mengangguk, meski raut wajahnya masih tampak ragu. "Aku hanya khawatir kita akan terpisah." Biasanya, Alicia bukan tipe orang yang terlalu khawatir. Namun, kali ini ada sesuatu yang membuatnya tampak lebih manja daripada biasanya.

"Jangan khawatir, kau pasti akan punya banyak teman," jawab Aray santai.

"Aku tahu," gumam Alicia, suaranya pelan. "Tapi, aku khawatir denganmu. Bukankah sudah saatnya kau mulai bergaul dengan orang lain? Sekarang kita sudah SMA."

Aray tersenyum miris mendengar kekhawatiran adiknya. "Bergaul dengan orang lain?" tanyanya retoris. "Semakin banyak teman, semakin banyak hal yang harus kau jaga. Itu hanya akan merepotkan." Dia kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku, menghindari tatapan Alicia.

Alicia berhenti sejenak, menatap kakaknya dengan kesal. "Baiklah. Aku tidak akan memaksamu lagi," katanya, lalu mempercepat langkah, meninggalkan Aray beberapa langkah di belakang.

Aray menatap punggung adiknya yang bergerak cepat. Meskipun Alicia terlihat kesal, Aray tahu dia melakukannya karena peduli. Benar-benar adik yang perhatian, pikirnya.

Ketika mereka tiba di sekolah, bel tanda masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Alicia menatap Aray tajam. "Lihat? Karena kau terlalu santai, kita terlambat di hari pertama!"

Aray hanya mengangkat bahu. "Mungkin kita cuma terlambat sebentar. Coba saja kita masuk." Tanpa merasa bersalah, Aray berjalan santai menuju gerbang sekolah. Alicia, meski ragu, akhirnya mengikuti langkah kakaknya.

Namun, seorang penjaga gerbang sudah berdiri tegap di sana, menghentikan langkah mereka. "Kalian tidak boleh masuk. Aturan tetap aturan," katanya tegas.

Alicia, dengan wajah penuh harap, mencoba memohon. "Kami hanya terlambat sedikit. Tidak bisakah Anda membuat pengecualian?"

Penjaga itu tidak bergeming. "Sekalipun anak bangsawan terlambat, aku tidak akan membiarkannya masuk," katanya sambil memandang mereka berdua dengan tatapan tajam.

Aray mendengus, tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Omong kosong," ucapnya tanpa berpikir.

Penjaga gerbang itu langsung tersinggung. "Apa katamu?" tanyanya dengan nada marah. Namun, sebelum dia bisa melanjutkan, Aray menatap matanya dengan tajam, fokus pada pikirannya sendiri.

Sihir telepati yang dimiliki Aray tidak dimiliki oleh banyak orang. Kemampuannya untuk memanipulasi ingatan orang lain adalah sesuatu yang jarang ditemukan. Dalam sekejap, gelombang sihir tak terlihat keluar dari pikirannya, menembus otak penjaga gerbang, mengutak-atik beberapa ingatan, dan menggantinya dalam hitungan detik.

Mata penjaga gerbang itu menjadi kosong sesaat, lalu dia kembali tersadar. "Apa yang kalian lakukan di sini? Masuklah cepat, sebelum bel berbunyi," katanya, seolah-olah lupa bahwa bel sudah lama berbunyi.

Alicia memandang penjaga itu dengan bingung. "Sebelum bel berbunyi?" gumamnya pelan, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

"Ayo, masuk sebelum dia berubah pikiran," kata Aray, mendorong punggung Alicia untuk segera bergerak.

Ketika mereka melewati gerbang, seorang gadis dengan rambut pirang dan mata biru tiba-tiba menghampiri mereka. "Hei, kalian! Apa benar bel belum berbunyi?" tanyanya, napasnya terengah-engah.

Alicia menoleh dan menjelaskan, "Aku tidak tahu. Penjaga gerbang tadi berusaha menahan kami, tapi tiba-tiba dia membiarkan kami masuk."

Gadis itu tertawa kecil. "Aneh sekali," gumamnya. "Oh, namaku Vania Vasco. Salam kenal!" Ia mengulurkan tangan dengan senyuman cerah.

"Aku Alicia Kenzie. Kau bisa memanggilku Alicia. Senang berkenalan denganmu!" jawab Alicia dengan ramah, menerima uluran tangan Vania.

Sementara itu, Aray memilih untuk tidak terlibat lebih jauh. "Tak usah pedulikan aku. Aku duluan." Ia berjalan pergi, menghindari percakapan yang baginya tidak penting.

Vania hanya menatap kepergian Aray dengan heran. "Dia dingin sekali," gumamnya.

Alicia hanya tersenyum kecil. "Itu kakakku. Dia memang begitu, tidak suka berinteraksi dengan orang lain."

Saat Aray menginjakkan kakinya ke dalam bangunan besar berbentuk trapesium, suasana aula besar itu sangat tegang, seperti ada listrik yang mengalir di udara. Para murid baru berbaris dengan rapi, namun ketegangan terlihat di setiap wajah. Sekolah Macht ist alles, sebuah nama yang berarti Kekuatan adalah Segalanya, adalah salah satu akademi sihir paling bergengsi di dunia, tempat hanya segelintir anak terpilih yang bisa menimba ilmu. Tidak semua orang bisa menggunakan sihir, dan hanya mereka yang memiliki bakat luar biasa yang dapat diterima di sini.

Sekolah ini didirikan ratusan tahun lalu dengan tujuan mencetak para penyihir hebat, pemimpin, dan orang-orang yang menguasai dunia. Bagi para murid, diterima di sekolah ini adalah kehormatan sekaligus tantangan besar. Mereka harus terus menerus membuktikan diri untuk bertahan dalam kurikulum yang sangat berat. Filosofi sekolah ini sederhana: Kekuatan menentukan segalanya—dalam hal ini, kekuatan bukan hanya soal sihir, tetapi juga tentang keberanian, kecerdasan, dan kemauan untuk bertahan dalam kondisi apa pun.

Di tengah keramaian, Aray berdiri di barisan paling belakang, menyaksikan dengan tatapan datar. Sementara itu, Alicia berdiri di barisan tengah bersama murid-murid lain, merasa tegang tapi bersemangat. Semua mata tertuju pada satu sosok yang sedang naik ke atas panggung, seorang siswa dengan rambut perak yang bersinar di bawah cahaya lampu aula.

"Kepada perwakilan siswa baru, diharapkan untuk naik ke mimbar!" suara pembawa acara menggema, membuat aula menjadi sunyi seketika.

Gabriel Rio, nama yang sudah tersebar di kalangan murid baru, berjalan mantap menuju mimbar. Dia terkenal bukan hanya karena penampilannya yang tampan, tetapi juga karena prestasinya yang sempurna dalam ujian masuk. Semua orang tahu, dia bukan sekadar siswa biasa.

Ketika dia berdiri di depan mimbar, suasana aula berubah. Semua mata tertuju padanya, termasuk para guru yang duduk di barisan depan. Gabriel mengedarkan pandangannya sejenak sebelum akhirnya mulai berbicara.

"Teman-teman yang saya hormati," suaranya tenang namun penuh percaya diri, mengisi setiap sudut aula. "Kita semua tahu bahwa sekolah ini berdiri di atas satu prinsip sederhana: Macht ist alles. Kekuatan adalah segalanya. Di sini, kita tidak hanya belajar sihir, tapi kita belajar untuk bertahan hidup, untuk berkembang, dan untuk menjadi yang terbaik."

Beberapa murid mulai berbisik-bisik, namun suara Gabriel terus menarik perhatian mereka.

"Sekolah ini bukan untuk mereka yang lemah hati. Setiap dari kita yang berdiri di sini adalah yang terpilih, yang terkuat dari yang kuat. Tapi ini baru awal. Diterima di sini hanyalah langkah pertama. Tantangan yang sesungguhnya dimulai sekarang."

Tatapan Gabriel berubah tajam, dan suasana aula semakin hening. "Dalam beberapa tahun ke depan, kita akan dihadapkan pada berbagai ujian—bukan hanya ujian akademis, tapi ujian mental, fisik, dan yang terpenting, moral. Tidak semua dari kita akan berhasil. Ada yang akan jatuh. Ada yang akan menyerah. Dan itu tidak masalah, karena di sini, yang bertahan adalah mereka yang memiliki tekad yang kuat, mereka yang tahu bagaimana bangkit setelah jatuh."

Reaksi para murid mulai bervariasi. Di beberapa barisan, terlihat wajah-wajah yang mulai gelisah, menyadari betapa berat perjalanan di depan mereka. Namun, ada pula yang mulai merasa termotivasi, tatapan mata mereka menyala dengan semangat baru. Alicia, yang mendengarkan dengan penuh perhatian, merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Pidato Gabriel tidak hanya memotivasi, tetapi juga membuatnya berpikir tentang apa yang akan dihadapi di masa depan.

Sementara itu, Aray, di barisan belakang, hanya menonton dengan tenang. Baginya, pidato seperti ini hanyalah permainan kata-kata yang dirancang untuk memicu semangat orang-orang bodoh yang terlalu ingin jadi pahlawan. Tetapi dia juga tahu, meskipun Gabriel tampak penuh percaya diri, dia pasti memahami betapa sulitnya mempertahankan posisi teratas di sekolah ini.

"Kita di sini bukan untuk menjadi biasa-biasa saja," lanjut Gabriel dengan suara yang semakin menguat. "Kita di sini untuk mengasah kemampuan kita, untuk menjadi yang terbaik. Ada yang mungkin berpikir bahwa kita datang ke sini hanya untuk belajar, tapi lebih dari itu, kita datang ke sini untuk mengubah dunia. Kalian yang berdiri di sini hari ini, kalian semua adalah masa depan. Dan masa depan itu tidak akan datang begitu saja. Kita harus berjuang untuknya."

Sorak-sorai mulai terdengar dari beberapa murid, tangan mereka menggenggam erat, wajah mereka penuh semangat. Mereka terinspirasi oleh kata-kata Gabriel, seolah-olah setiap kalimat yang keluar dari mulutnya adalah janji kemenangan yang harus mereka raih.

"Sekolah ini, Macht ist alles, bukan hanya tempat untuk belajar. Ini adalah medan perang. Setiap hari, kita akan diuji. Dan hanya mereka yang memiliki kekuatan yang sejati—kekuatan hati, pikiran, dan sihir—yang akan keluar sebagai pemenang. Kita tidak hanya belajar untuk diri kita sendiri. Kita belajar untuk bangsa, untuk sekolah, dan yang paling penting, untuk diri kita sendiri."

Pidatonya semakin kuat, seolah-olah setiap kata yang diucapkannya dirancang untuk membakar semangat setiap orang di aula itu. Alicia tak bisa menahan diri untuk tersenyum kecil, merasa sangat termotivasi. Dia sudah membayangkan bagaimana dirinya akan berkembang di sekolah ini, bagaimana dia akan menjadi lebih kuat, dan mungkin suatu hari bisa berdiri di mimbar yang sama seperti Gabriel.

"Jadi, teman-teman," Gabriel mengakhiri pidatonya dengan nada penuh keyakinan, "Mari kita buktikan bahwa kita pantas berada di sini. Mari kita tunjukkan bahwa kita adalah generasi yang akan mengubah dunia. Ingatlah, di sini, kekuatan adalah segalanya. Macht ist alles."

Tepuk tangan bergemuruh memenuhi aula. Sorak-sorai bergema, para murid bersemangat, merasa seperti mereka telah mendapatkan dorongan besar untuk menghadapi tantangan yang akan datang. Beberapa murid terlihat saling menatap penuh keyakinan, sementara yang lain mengangguk-angguk, termotivasi oleh kata-kata Gabriel. Para guru pun tersenyum, bangga melihat generasi baru yang tampak siap menghadapi masa depan.

Namun, di tengah semua keributan itu, Aray hanya menghela napas panjang. Baginya, semua itu hanyalah pidato biasa yang penuh dengan janji muluk. "Tipikal manusia sempurna," pikirnya sinis. "Mereka mengira bisa mengubah dunia hanya dengan kekuatan kata-kata. Sungguh bodoh."

Tetapi, meskipun dia menganggap pidato itu membosankan, Aray tahu satu hal: sekolah ini tidak akan membiarkan siapa pun lolos dengan mudah. Mereka yang tidak kuat akan tersingkir, dan mungkin itulah alasan sebenarnya kenapa Aray memilih untuk tetap berada di bayang-bayang—menghindari perhatian yang terlalu berlebihan.

Setelah pidato berakhir, Alicia menghampiri Aray dengan senyuman lebar. "Dia hebat sekali, ya?" katanya, matanya berbinar karena masih terpengaruh semangat dari pidato itu.

Aray hanya mengangkat bahu, tidak memberikan reaksi yang sama. "Aku kira kau masih marah padaku," katanya santai.

"Hari pertama sekolah, masa aku harus marah?" jawab Alicia sambil menggeleng pelan. "Lagipula, bukankah kau juga sedikit terkesan?"

Aray tersenyum tipis, tapi tidak berkata apa-apa. Mereka berdua berjalan menuju papan pemberitahuan pembagian kelas, meninggalkan aula yang masih dipenuhi dengan bisikan-bisikan tentang betapa mengesankannya pidato Gabriel tadi.

Ketika mereka tiba, sekelompok murid sudah berkumpul di depan papan pengumuman pembagian kelas. Aray melirik papan itu dengan santai, kemudian tertawa kecil. Percakapan pagi mereka ternyata menjadi kenyataan. Alicia, seperti yang diduga, masuk ke kelas Unver—kelas bagi para ahli yang berbakat. Sementara itu, Aray, dengan senyum penuh makna, melihat namanya berada di kelas Anfänger, kelas khusus untuk para pemula.

Alicia tampak sedikit kecewa. "Sayang sekali, kita tidak sekelas."

Aray hanya mengangkat bahu. "Aku lebih suka begini. Semakin sedikit perhatian, semakin baik."

Alicia menatap kakaknya dengan prihatin. "Aku tetap khawatir padamu, Kak."

Aray hanya tersenyum tipis. "Jangan terlalu peduli. Nanti kau bisa mati karena terlalu khawatir."

"Apa-apaan itu? Kau memang aneh!" Alicia mendengus kesal, tapi siapa pun bisa melihat bahwa ada senyum kecil yang terlintas di wajahnya saat dia beranjak pergi menuju kelasnya.

Sementara itu, Aray melangkah menuju kelasnya sendiri, berharap dikelilingi oleh orang-orang yang pendiam dan tidak menyusahkan.

"Semoga saja kelas ini penuh kutu buku," gumamnya.

Terpopuler

Comments

Cherry Lady~🍒

Cherry Lady~🍒

ini ada yang di rubah kah? udah mulai revisi gitu. aku ngerasa ada kalimat yang ilang dari terakhir kali baca... atau emang aku yang udah mulai lupa yaa

2024-09-29

1

Nino Ndut

Nino Ndut

klo males ngapain make ikut sekolah y..

2024-05-09

0

Renn.

Renn.

anjirr mamaliaa wkkw

2023-04-03

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Upacara pembukaan
3 Perkenalan
4 Devdan Bayanaka
5 Kemampuan & kekuatan
6 Penyerangan
7 Penyerangan 2
8 Ancaman
9 Imajinasi & hal yang nyata
10 Ekspektasi & Realita
11 Wanita Menyebalkan
12 Militer
13 Seleksi
14 Pembunuhan masal
15 Kenangan si pelaku
16 Pleton 1
17 Kebenaran yang tak terduga
18 Penyelamatan
19 Reuni
20 Reuni 2
21 Anggota baru
22 Kejadian yang sama
23 Terlambat
24 Sangat terlambat
25 Masa kecil
26 Rapat
27 2 serangan terakhir
28 Junior yang malas
29 Kesombongan level dewa
30 Pemalas yang jenius
31 Kecurigaan Alicia
32 Pulau Andalas
33 Pulau Andalas 2
34 Pulau Andalas 3
35 Ruang hampa
36 Harapan
37 Pelarian
38 Andai aku
39 Sandiwara
40 Firasat
41 Survival
42 Legenda
43 Dunia Ini Rusak
44 Makhluk Mitologi
45 Peliharaan
46 Keluar
47 Hari-hari terakhir
48 Ujian Penempatan 1
49 Ujian Penempatan 2
50 Ujian Penempatan 3
51 Sadar Akan Diri
52 Sebuah Persiapan
53 Raja?
54 1 Vs 10,000,000
55 Tujuan
56 Eadred
57 Tak Perlu Khawatir
58 Berita Mengejutkan
59 Badan Kepolisian Negara
60 Kamera
61 Kediaman Bayanaka
62 Cilukba
63 Matahari
64 Pulang
65 Meliburkan Diri
66 Diriku Yang Lain
67 Meth
68 Ada Lagi?
69 Rak Hitam
70 Festival Alles 1
71 Festival Alles 2
72 Festival Alles 3
73 Mythomania
74 Kejutan Hart?
75 Akhir Dari Dunia
76 Akhir Dari Dunia 2 - Gavin & Cerberus
77 Akhir Dari Dunia 3 - Kembang Api
78 Akhir Dari Dunia 4 - Zand & Elax
79 Akhir Dari Dunia 5 - Pengetahuan
80 Akhir Dari Dunia 6 - Dewa Imajinasi
81 Akhir Dari Dunia 7 - Janji
82 Akhir Dari Dunia 8 - Timelapse Rewind
83 Akhir Dari Dunia 9 - Devdan Vs Edzard
84 Akhir Dari Dunia 10 - Teh & Biskuit
85 Nomor Telepon
86 Goddin
87 Tamasya
88 Berangkat! - Zand Kingdom
89 Maria Ocean
90 Fellow City
91 Altar
92 Visual
93 Broken House
94 Dandelion City
95 Mata Uang
96 Celah Peraturan
97 Kesalahan
98 Mawar Di Tengah Neraka
99 Evolusi
100 Mata Biru
101 Canggung
102 Laksanakan!
103 Psikis
104 Gagal
105 Hakim Agung
106 Hak-Hak
107 Tak Ada Yang Mustahil
108 Isi Hati
109 Garden Of Death
110 Selanjutnya
111 Visual
112 Psikopat Dermawan
113 Pindah Rumah
114 Denza, Kota Para Dewa
115 Sudut Pandang Yang Berbeda
116 Pertarungan Pembuka
117 Barie Sang Naga Putih
118 Satu Goresan Kecil?
119 Senyuman
120 Rumah Kayu Di Bawah Rembulan [S1-END]
121 Pengumuman yang kemungkinan ga ada yang baca
122 Volume II: Kehidupan Pertama
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Prolog
2
Upacara pembukaan
3
Perkenalan
4
Devdan Bayanaka
5
Kemampuan & kekuatan
6
Penyerangan
7
Penyerangan 2
8
Ancaman
9
Imajinasi & hal yang nyata
10
Ekspektasi & Realita
11
Wanita Menyebalkan
12
Militer
13
Seleksi
14
Pembunuhan masal
15
Kenangan si pelaku
16
Pleton 1
17
Kebenaran yang tak terduga
18
Penyelamatan
19
Reuni
20
Reuni 2
21
Anggota baru
22
Kejadian yang sama
23
Terlambat
24
Sangat terlambat
25
Masa kecil
26
Rapat
27
2 serangan terakhir
28
Junior yang malas
29
Kesombongan level dewa
30
Pemalas yang jenius
31
Kecurigaan Alicia
32
Pulau Andalas
33
Pulau Andalas 2
34
Pulau Andalas 3
35
Ruang hampa
36
Harapan
37
Pelarian
38
Andai aku
39
Sandiwara
40
Firasat
41
Survival
42
Legenda
43
Dunia Ini Rusak
44
Makhluk Mitologi
45
Peliharaan
46
Keluar
47
Hari-hari terakhir
48
Ujian Penempatan 1
49
Ujian Penempatan 2
50
Ujian Penempatan 3
51
Sadar Akan Diri
52
Sebuah Persiapan
53
Raja?
54
1 Vs 10,000,000
55
Tujuan
56
Eadred
57
Tak Perlu Khawatir
58
Berita Mengejutkan
59
Badan Kepolisian Negara
60
Kamera
61
Kediaman Bayanaka
62
Cilukba
63
Matahari
64
Pulang
65
Meliburkan Diri
66
Diriku Yang Lain
67
Meth
68
Ada Lagi?
69
Rak Hitam
70
Festival Alles 1
71
Festival Alles 2
72
Festival Alles 3
73
Mythomania
74
Kejutan Hart?
75
Akhir Dari Dunia
76
Akhir Dari Dunia 2 - Gavin & Cerberus
77
Akhir Dari Dunia 3 - Kembang Api
78
Akhir Dari Dunia 4 - Zand & Elax
79
Akhir Dari Dunia 5 - Pengetahuan
80
Akhir Dari Dunia 6 - Dewa Imajinasi
81
Akhir Dari Dunia 7 - Janji
82
Akhir Dari Dunia 8 - Timelapse Rewind
83
Akhir Dari Dunia 9 - Devdan Vs Edzard
84
Akhir Dari Dunia 10 - Teh & Biskuit
85
Nomor Telepon
86
Goddin
87
Tamasya
88
Berangkat! - Zand Kingdom
89
Maria Ocean
90
Fellow City
91
Altar
92
Visual
93
Broken House
94
Dandelion City
95
Mata Uang
96
Celah Peraturan
97
Kesalahan
98
Mawar Di Tengah Neraka
99
Evolusi
100
Mata Biru
101
Canggung
102
Laksanakan!
103
Psikis
104
Gagal
105
Hakim Agung
106
Hak-Hak
107
Tak Ada Yang Mustahil
108
Isi Hati
109
Garden Of Death
110
Selanjutnya
111
Visual
112
Psikopat Dermawan
113
Pindah Rumah
114
Denza, Kota Para Dewa
115
Sudut Pandang Yang Berbeda
116
Pertarungan Pembuka
117
Barie Sang Naga Putih
118
Satu Goresan Kecil?
119
Senyuman
120
Rumah Kayu Di Bawah Rembulan [S1-END]
121
Pengumuman yang kemungkinan ga ada yang baca
122
Volume II: Kehidupan Pertama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!