Militer

[Keesokan Harinya]

Aray duduk diam di ruang kepala sekolah, menatap tajam ke arah wanita yang duduk di hadapannya. Wanita itu adalah Daiva, seseorang wanita yang ia anggap menyebalkan. Namun, mengingat sosok menyedihkannya semalam, Aray sedikit melunak. Walaupun kini ia harus berurusan dengan militer dan peperangan.

“Jadi… selamat bergabung,” ucap Daiva dengan senyum canggungnya. ”Oh, dan aku belum sempat meminta maaf padamu. Kau tau, saat aku berkata akan melukai adikmu? Aku sungguh minta maaf.”

Aray memutar bola matanya, tak peduli. Ia tahu Daiva tidak sungguh menyesali perbuatannya. Ucapan maaf itu terdengar menjengkelkan karena didasari rasa takut. Aray hanya dapat menganggapnya angin lewat. "Tak perlu

basa-basi. Apa yang kau inginkan dariku?" tanyanya dengan cepat, mencoba memotong percakapan.

Mencoba menepis suasana canggung, Daiva dengan cepat menunduk ke bawah mejanya, menarik sebuah bungkusan plastik kemudian meletakkannya di atas meja persegi panjang dengan ornamen klasik yang melambangkan dewa-dewa mitologi.

Aray menatap Daiva setengah hati. “Apa ini?” tanyanya sambil melirik bungkusan itu.

“Itu seragam militermu.”

Seragam militer berwarna hijau tua dengan segala atributnya kini berada di tangan Aray. Simbol dari ikatannya dengan kerajaan. Rasanya seperti tanda bahwa ia telah menjadi "anjing" negara. Seragam itu tidak terlihat buruk,

malah cukup elegan, tetapi Aray tidak menyukainya. Ia membenci apa yang seragam itu wakili.

“Setelah pulang sekolah, kenakan seragam itu. Kita akan pergi ke istana kerajaan. Kita harus melapor kepada Raja Avanindra,” pinta Daiva.

Aray hanya menghela napas dalam. Hari-hari damainya kini resmi berakhir. Tak lama kemudian Aray bangkit dari duduknya, berbalik melangkah menuju pintu keluar, hingga ia menghentikan langkahnya, menoleh menatap Daiva tajam, membuat Daiva sedikit terkejut.

“Kudengar kau bertemu adikku semalam. Apa yang kau katakan padanya?” tanya Aray.

Daiva diam membisu, menundukkan kepalanya. Menciptakan keheningan yang cukup panjang dalam ruangan besar itu, hingga ia mengangkat kepalanya, menjawab,

”A-aku tidak mengatakan apapun.”

Aray dapat melihat dari ujung bola matanya, wajah Daiva memerah. Ia tertawa dalam hati membayangkan situasi canggung saat Alicia melihat kepala sekolahnya berlutut di depan pintu rumahnya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Aray memutuskan untuk pergi. Dalam sekejap, tubuhnya menghilang dari ruangan, meninggalkan Daiva sendiri.

[Sepulang Sekolah]

Ketika lonceng terakhir berbunyi dan para siswa mulai meninggalkan sekolah, Aray memasuki kamar mandi. Ia mengganti seragam sekolahnya dengan seragam militer yang diberikan Daiva. Berdiri di depan cermin, ia memperhatikan penampilannya.

"Ya… tidak buruk," gumamnya pelan. Meski tidak menyukai seragam itu, ia tak bisa menyangkal bahwa seragam itu membuatnya terlihat elegan.

Setelah memastikan seragamnya rapi, Aray segera berteleportasi ke parkiran sekolah, tepat di sebelah mobil Daiva. Aray mengetuk kaca mobil berwarna putih itu, membuat Daiva yang duduk di dalamnya sedikit terkejut. Aray dapat melihat ekspresi kesal pada wajah Daiva.

"Aku menunggumu cukup lama. Apa yang sebenarnya kau lakukan sedari tadi?" tanya Daiva.

"Bukan urusanmu," balas Aray datar, membuka pintu dan dengan cepat meletakkan bokongnya di kursi penumpang.

Daiva hanya mendesah pelan. "Baiklah, kita berangkat sekarang. Para anggota lainnya sudah menunggu di sana."

Mobil mulai bergerak perlahan, keluar dari parkiran dan memasuki jalan besar yang membelah ibu kota kerajaan

Neutral. Pemandangan di luar jendela mobil tampak semarak, dengan arsitektur bangunan tinggi yang mencerminkan perpaduan antara gaya klasik dan modern. Pilar-pilar besar dari batu putih yang menghiasi gedung-gedung pemerintahan berdiri kokoh, mengesankan kebesaran dan kemegahan zaman lampau. Namun, di

bawahnya, jalanan penuh dengan kendaraan modern, sebagian besar mobil listrik dan transportasi umum yang berjalan dengan sistem otomatis.

Trotoar yang lebar dipenuhi oleh para pejalan kaki, sebagian besar warga mengenakan pakaian sederhana berwarna netral—mencerminkan sikap bangsa ini yang cenderung menjaga keseimbangan dan ketenangan. Di sela-sela bangunan megah itu, taman-taman kecil dengan pepohonan rindang menawarkan tempat bagi masyarakat untuk beristirahat. Burung-burung berterbangan rendah, dan air mancur di beberapa sudut taman menambah suasana tenang di tengah hiruk-pikuk kota yang sibuk.

Namun, meski suasana ibu kota tampak elegan dan tertata rapi, arus lalu lintas tidak bisa dihindari. Kendaraan bergerak lambat, nyaris tidak ada ruang untuk maju lebih cepat. Daiva menggerutu, jelas tidak sabar menghadapi kemacetan yang semakin parah.

"Aku tidak menyangka jalanan akan sepadat ini," katanya dengan nada kesal.

Aray memandang jalanan di luar jendela, lalu menoleh ke arah Daiva. "Kau butuh bantuan?" tawarnya.

"Bantuan seperti apa yang kau maksud?"

Aray sudah lama mengetahui lokasi istana kerajaan dari berbagai buku yang ia baca di perpustakaan. Jika ia yang mengatur perjalanan, mereka bisa tiba jauh lebih cepat. "Bantuan seperti ini," jawab Aray sambil menjentikkan jarinya.

Ptak!

Dalam sekejap, sebuah gelembung besar muncul dan menyelimuti seluruh mobil. Dalam hitungan detik, mobil mereka tersedot ke dalam ruang tak terlihat, lalu muncul kembali tepat di depan gerbang istana.

"Sudah sampai," ucap Aray datar.

Butuh beberapa saat bagi Daiva untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. "Teleportasi? Aku kira kau hanya bisa melakukannya pada dirimu sendiri," ujarnya terkejut.

"Tidak juga," jawab Aray singkat.

“Ya sudahlah. Ayo turun. Raja sedang menunggu,” ucap Daiva sambil membuka pintu mobil.

Saat mereka menuruni mobil, seorang pria tua dengan pakaian resmi menyambut mereka. "Oh, Nyonya Daiva! Cara datang yang tidak biasa sekali. Apa ini berkat anak yang kau ceritakan itu?" suaranya terdengar serak, seperti

kehabisan napas, namun posturnya tetap gagah.

“Siapa dia?” tanya Aray kepada Daiva.

“Namanya Wastu. Dia pelayan setia kerajaan, keluarganya telah melayani kerajaan selama ratusan tahun,” jelas Daiva.

Pria itu membungkuk hormat. “Salam kenal. Saya merasa terhormat diperkenalkan oleh Nyonya Daiva. Mari saya antar kalian ke hadapan Raja Avanindra.”

Saat mereka berjalan menuju aula kerajaan, Aray melihat seorang pria muda mendekati mereka. “Selamat siang, Bu Daiva, Aray! Lama tak bertemu,” sapanya.

Aray mengenali pria itu. “Devdan?” ujarnya pelan. Ia tak menyangka akan menjupai pria aneh ini di istana kerajaan.

Devdan tersenyum, tampak percaya diri seperti biasa. "Ya, Aray. Senang melihatmu lagi, kali ini sebagai

anggota resmi."

Aray hanya mengangguk pelan, tak ingin terlibat percakapan lebih lanjut. Meskipun mereka saling mengenal dari

sekolah, pertemuan ini terasa lebih formal dan penuh beban.

Daiva menatap Devdan. "Kau datang bersama yang lainnya?" tanyanya sambil melirik ke arah aula.

Devdan mengangguk. "Ya, semua sudah di dalam. Aku hanya keluar untuk memastikan kalau kau datang

bersama anggota baru. Dan ternyata, dugaanku benar. Kau membawanya," ucapnya dengan senyum kecil.

"Kau selalu bisa menebak dengan tepat," komentar Daiva.

Aray hanya diam, mendengarkan percakapan mereka dengan acuh. Ia tidak ingin menarik perhatian, tetapi

keberadaannya sebagai anggota termuda dalam pasukan kerajaan tampaknya sudah menjadi bahan gosip. Saat mereka berjalan masuk ke dalam aula, bisikan-bisikan mulai terdengar dari berbagai penjuru ruangan.

“Jadi dia calon pasukan kerajaan yang paling muda?”

“Dia masih 16 tahun, kan?”

Aray merasa sedikit jengkel. Popularitas semacam ini bukan hal yang ia inginkan, terlebih ketika informasi

tentang umurnya tampaknya sudah menyebar. Ia melirik Devdan dengan curiga, menduga pria itu yang mungkin menyebarkan kabar tersebut.

“Hmm… Kau terkenal rupanya,” bisik Devdan dengan nada menggoda, seakan mengetahui apa yang sedang dipikirkan Aray.

Aray tidak menanggapi, memilih tetap diam. Namun, saat mereka mendekati tengah aula, seorang pria besar

tiba-tiba muncul dari balik kerumunan. Tubuhnya kekar dan wajahnya tampak menyeramkan, dihiasi bekas luka bakar yang jelas terlihat melintang di atas matanya.

"Mayor Badhra…" Daiva menyapanya dengan nada netral, tetapi ada ketegangan tipis di udara.

"Yo, Daiva! Apa ini anak didikmu yang katanya akan bergabung dengan pasukan kerajaan?" tanya Badhra, suaranya berat dan penuh keyakinan. Matanya menatap Aray dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.

"Ya," jawab Daiva singkat, penuh keyakinan.

Badhra tertawa keras. "Jangan bercanda! Bocah seperti dia mau bergabung dengan pasukan kerajaan?

Kau yakin tidak salah memilih, Daiva?"

"Tentu saja."

Jawaban tegas Daiva sedikit mengejutkan Aray. Meski biasanya wanita itu membuatnya kesal, kali ini ia bisa

merasakan keyakinan penuh dalam suaranya. Itu membuat Aray sedikit terkesan, meski ia tak menunjukkannya.

Namun, Badhra tidak berhenti di situ. "Lihatlah dia! Badannya kurus, mukanya juga lemas. Apa orang tuamu hanya

memberimu roti basi untuk dimakan?" ejeknya sambil menempelkan jari telunjuk ke kepala Aray.

Meski ejekan itu terdengar kasar, Aray tidak bisa benar-benar marah. Ia hanya merasa orang ini sangat bodoh.

Wajahnya yang penuh dengan bekas luka menambah kesan negatif pada kepribadiannya. Mungkin wajah jelek

ini yang membuatku kesal, pikir Aray.

Devdan berbisik pelan di samping Aray, menyeringai. "Bu Daiva, apa orang ini kuat?"

Daiva menghela napas. "Aku pernah bertarung dengannya sekali. Pedangku patah karena badannya

yang sangat keras. Tapi... dia bodoh."

Aray menahan tawa. Hanya dari cara Badhra berbicara, ia sudah tahu bahwa pria ini tidak terlalu cerdas. Tidak perlu bertarung untuk tahu hal itu, pikir Aray sambil tersenyum kecil.

Badhra, yang tidak menyadari ejekan halus tersebut, menatap Aray dengan penuh tantangan. "Hei, bocah!

Kau mau bertarung denganku? Ini bisa jadi ujian masukmu ke pasukan kerajaan," katanya dengan nada sombong.

Aray menatapnya dingin. Orang ini terlalu banyak bicara, pikirnya. Namun, sebuah ide muncul di benaknya.  Mungkin ini bisa menjadi cara yang baik untuk menyingkirkan orang bodoh ini dengan cepat. "Baiklah. Aku

ingin tahu apa kau lebih kuat dari bocah yang hanya makan roti basi," jawab Aray mengejek.

Kerumunan di aula mulai resah. Bisik-bisik semakin ramai terdengar di sekitarnya.

“Bocah itu akan dihajar habis-habisan. Lawannya Laksamana Madya!”

“Kasihan sekali, baru hari pertama sudah seperti ini.”

Dalam hierarki militer sihir di Kerajaan Netral, seorang Kapten memegang posisi kepemimpinan tingkat menengah

yang penting. Sebagai Kapten, mereka bertanggung jawab memimpin satu batalion penyihir terampil, mengawasi operasi taktis, dan memastikan koordinasi yang lancar dari berbagai unit sihir di bawah komandonya.

Namun, berbeda dengan kerumunan yang tampak khawatir, Daiva dan Devdan tampak menahan tawa. Wajah keduanya memerah. Mereka tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu. Aray juga tahu, Badhra akan menjadi badut dalam pertarungan ini, dan bukan dirinya.

"Huh! Dasar bajingan kecil!" ejek Badhra lagi. "Kau akan menyesal karena menerima tantanganku."

Aray mengorek kupingnya, bosan mendengar ocehan pria itu. "Kau ini banyak sekali bicara. Kenapa tidak

langsung mulai saja?" jawab Aray dengan nada datar, memutuskan untuk mempercepat segalanya.

Wajah Badhra berubah menjadi serius. "Baiklah, kalau begitu. Akan kuhancurkan kau dengan cepat!"

Pertarungan dimulai dengan Badhra yang mengaktifkan kemampuannya, "Petrification!" Suaranya menggema di aula kerajaan, dan tubuhnya mulai berubah. Kulitnya mengeras, otot-ototnya membesar, memancarkan kilau batu yang keras seperti granit. Otot-otot di tangannya membengkak secara luar biasa, menonjol di bawah seragam

militer birunya yang hampir terkoyak karena tekanan dari tubuhnya yang tumbuh menjadi raksasa.

Setiap langkah Badhra menghentakkan lantai, menciptakan getaran yang dirasakan semua orang di aula. Dia langsung menerjang ke arah Aray, wajahnya dipenuhi amarah.

"Hyaaa!"

Pukulan kerasnya mengarah langsung ke wajah Aray, mengirimkan hembusan angin yang kuat bahkan sebelum

tinjunya mendekat. Setiap otot di tubuh Badhra tegang, mengerahkan seluruh kekuatannya dalam satu serangan yang bisa menghancurkan batu besar.

Namun, bagi Aray, gerakan Badhra ini seperti melihat gerakan lamban dalam sebuah latihan anak-anak. Dengan

ekspresi datar dan tenang, Aray mengangkat tangannya, seolah bosan menghadapi serangan yang sudah bisa ia prediksi sejak awal.

"Reversal."

Dalam kedipan mata, dunia Badhra terbalik. Tubuh mereka bertukar tempat dalam kilatan cahaya yang hampir tidak

terlihat. Pukulan yang tadinya mengarah ke wajah Aray kini mengenai udara kosong, dan tinju Badhra hanya menghantam ruang hampa. Wajahnya dipenuhi keterkejutan yang tak bisa ia sembunyikan. Ia kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh ke depan karena momentum pukulannya yang kuat.

Aray, yang kini berada di belakang Badhra, bergerak cepat sebelum Badhra sempat memahami apa yang terjadi. Dia menyentuh punggung pria besar itu dengan tenang, dan dengan suara rendah berkata,

"Restructure."

Kata itu mengalir seperti perintah mutlak dalam tubuh Badhra. Aliran darah dalam tubuhnya tiba-tiba berubah, seolah-olah dialihkan oleh kekuatan tak terlihat. Titik-titik vital yang menjadi pusat energi sihir dan kekuatan Badhra disegel, membuat tubuh kekar pria itu kaku. Otot-ototnya yang besar dan keras seperti batu kini terasa seolah menjadi penjara bagi dirinya sendiri. Badhra tak bisa bergerak, dan dalam keheningan yang memekakkan telinga, tubuhnya jatuh ke lantai dengan suara berdentum keras, seperti batu besar yang jatuh dari ketinggian.

Lantai di bawah tubuh Badhra sedikit retak akibat benturan, membuat para penonton terpana. Mereka menatap

tubuh raksasa yang tak bergerak itu dengan mata terbelalak, tak percaya bahwa pertarungan ini telah berakhir secepat itu.

Aray melangkah perlahan mendekati tubuh Badhra yang tergeletak kaku. Dengan gerakan santai, ia meletakkan ujung jari telunjuknya di dahi Badhra yang kini tak berdaya. Sambil menatapnya dengan sorot mata malas, Aray berkata dengan nada meremehkan,

"Kau ini... sangat membosankan."

Kata-katanya menggema di ruangan, diiringi dengan tatapan bingung dan kagum dari para peserta yang menyaksikan. Pertarungan yang mereka harapkan akan berlangsung sengit dan berdarah-darah, justru berakhir dalam hitungan detik, dengan Aray berdiri sebagai pemenang tanpa sedikitpun keringat.

Badhra, yang dulunya terlihat sebagai raksasa tak terkalahkan, kini tak lebih dari batu besar yang tak bisa

bergerak.

Wajah Badhra penuh dengan kebingungan dan kemarahan, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. "B-bagaimana mungkin...?" tanyanya dengan suara serak, kesulitan berbicara.

Kerumunan di aula langsung meledak dalam sorak-sorai. "Gila! Dia menang! Laksamana Badhra malah terlihat seperti badut!" seseorang berteriak.

Tawa mulai memenuhi aula. Daiva dan Devdan ikut tertawa terbahak-bahak, tampak puas melihat kekalahan

Badhra yang memalukan. Aray hanya menghela napas dalam, sedikit lega bahwa pertarungan ini berakhir dengan cepat.

"Tapi, siapa sebenarnya bocah ini? Dia terlalu kuat untuk seorang di umurnya," tanya salah satu pria dalam kerumunan.

Mendengarnya, Daiva dan Devdan juga memiliki pertanyaan yang sama. Mereka selalu memikirkannya, bagaimana bisa Aray bisa begitu kuat. Dan dia selalu menunjukkan mantra sihir yang berbeda dalam tiap pertarungan. Itu tidak masuk akal. Dia terlalu misterius, pikir keduanya.

Tiba-tiba, suara berat Wastu menggema di seluruh aula, suaranya penuh penghormatan dan wibawa, “Raja Avanindra telah datang!”

Dalam sekejap, suasana yang sebelumnya riuh dengan tawa dan bisikan berubah drastis. Kehangatan dan

kelonggaran suasana yang tercipta dari kekalahan Badhra seolah tersapu angin. Semua orang di aula langsung menghentikan aktivitas mereka, saling menatap, kemudian dengan serentak berbaris dan berlutut. Keheningan menyelimuti ruangan, menciptakan aura yang lebih berat dan serius. Bahkan tawa kecil dan bisikan terakhir hilang seperti debu yang tertiup angin.

Aray, yang sempat bersantai, kini merasakan sesuatu yang lain. Tekanan itu nyata—kehadiran yang begitu kuat dan

mendominasi. Meski begitu, ini bukan apa-apa bagi Aray. Namun dia tahu, ini bukan saatnya bermain-main. Jadi, dengan malas Aray ikut berlutut mengikuti gerakan semua orang yang hadir di aula.

Langkah-langkah kaki sang raja terdengar lembut namun penuh kekuasaan, menyentuh lantai dengan ritme yang

teratur dan pasti. Setiap ketukan kakinya seolah membunyikan irama yang menciptakan suasana tak terhindarkan—seolah-olah sang raja membawa serta atmosfir kerajaan itu sendiri dalam kehadirannya. Aura agung itu menyebar, menimbulkan sensasi dingin di punggung orang-orang yang menyambutnya.

Raja Avanindra muncul dari balik tirai besar, tubuhnya tegap, langkahnya tenang, dan setiap gerakannya memancarkan wibawa seorang penguasa sejati. Jubah panjang emas yang dikenakannya berdesir perlahan seiring langkahnya. Mahkotanya berkilau di bawah cahaya yang menyorot dari pilar-pilar besar aula, simbol dari kekuasaan tak terbantahkan.

Sang raja berhenti sejenak di depan anak tangga singgasananya, matanya menyapu seluruh aula. Matanya tajam

seperti elang, namun penuh perhitungan. Setiap orang yang ia lihat, ia ukur dalam hati, seolah-olah bisa menelanjangi jiwa mereka hanya dengan tatapan. Keheningan semakin mencekam, seolah napas pun tertahan saat pandangan tajam itu menyentuh mereka satu per satu.

Aray yang masih berlutut, merasakan dinginnya tatapan Raja Avanindra yang akhirnya terhenti di arahnya. Sebuah gelombang energi magis tak kasat mata menyapu dirinya, membuat tubuhnya terasa lebih berat. Meskipun tubuh Aray tidak gentar, dia menyadari bahwa di hadapannya ada seseorang yang kekuatannya melampaui apa yang biasa ia temui.

Sang raja menaiki beberapa anak tangga kecil menuju singgasananya, dan ketika ia duduk dengan anggun di atas

tahta megah itu, atmosfer aula berubah sepenuhnya. Kehadirannya memenuhi setiap sudut ruang, seperti bayangan yang menyelimuti semua orang.

Aray menahan rasa penasarannya. Inilah Raja Avanindra, penguasa kerajaan ini. Seperti apa sebenarnya orang yang memiliki kekuasaan sebesar ini? Meski dari luar terlihat tenang, Aray tidak bisa mengabaikan perasaan bahwa di balik wajah penuh wibawa itu, ada sesuatu yang lebih besar dan misterius.

Terpopuler

Comments

Nino Ndut

Nino Ndut

tunjukin kekuatan n kasih pahan klo orang g bisa seenaknya ma dia..cacat dah

2024-05-09

1

Wahyu agung Maulana akbar

Wahyu agung Maulana akbar

sedikit kecewa sih dengan mc nya yang mau jadi anjing negara

2023-02-22

2

IG: _anipri

IG: _anipri

Cool bet si Aray

2022-07-24

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Upacara pembukaan
3 Perkenalan
4 Devdan Bayanaka
5 Kemampuan & kekuatan
6 Penyerangan
7 Penyerangan 2
8 Ancaman
9 Imajinasi & hal yang nyata
10 Ekspektasi & Realita
11 Wanita Menyebalkan
12 Militer
13 Seleksi
14 Pembunuhan masal
15 Kenangan si pelaku
16 Pleton 1
17 Kebenaran yang tak terduga
18 Penyelamatan
19 Reuni
20 Reuni 2
21 Anggota baru
22 Kejadian yang sama
23 Terlambat
24 Sangat terlambat
25 Masa kecil
26 Rapat
27 2 serangan terakhir
28 Junior yang malas
29 Kesombongan level dewa
30 Pemalas yang jenius
31 Kecurigaan Alicia
32 Pulau Andalas
33 Pulau Andalas 2
34 Pulau Andalas 3
35 Ruang hampa
36 Harapan
37 Pelarian
38 Andai aku
39 Sandiwara
40 Firasat
41 Survival
42 Legenda
43 Dunia Ini Rusak
44 Makhluk Mitologi
45 Peliharaan
46 Keluar
47 Hari-hari terakhir
48 Ujian Penempatan 1
49 Ujian Penempatan 2
50 Ujian Penempatan 3
51 Sadar Akan Diri
52 Sebuah Persiapan
53 Raja?
54 1 Vs 10,000,000
55 Tujuan
56 Eadred
57 Tak Perlu Khawatir
58 Berita Mengejutkan
59 Badan Kepolisian Negara
60 Kamera
61 Kediaman Bayanaka
62 Cilukba
63 Matahari
64 Pulang
65 Meliburkan Diri
66 Diriku Yang Lain
67 Meth
68 Ada Lagi?
69 Rak Hitam
70 Festival Alles 1
71 Festival Alles 2
72 Festival Alles 3
73 Mythomania
74 Kejutan Hart?
75 Akhir Dari Dunia
76 Akhir Dari Dunia 2 - Gavin & Cerberus
77 Akhir Dari Dunia 3 - Kembang Api
78 Akhir Dari Dunia 4 - Zand & Elax
79 Akhir Dari Dunia 5 - Pengetahuan
80 Akhir Dari Dunia 6 - Dewa Imajinasi
81 Akhir Dari Dunia 7 - Janji
82 Akhir Dari Dunia 8 - Timelapse Rewind
83 Akhir Dari Dunia 9 - Devdan Vs Edzard
84 Akhir Dari Dunia 10 - Teh & Biskuit
85 Nomor Telepon
86 Goddin
87 Tamasya
88 Berangkat! - Zand Kingdom
89 Maria Ocean
90 Fellow City
91 Altar
92 Visual
93 Broken House
94 Dandelion City
95 Mata Uang
96 Celah Peraturan
97 Kesalahan
98 Mawar Di Tengah Neraka
99 Evolusi
100 Mata Biru
101 Canggung
102 Laksanakan!
103 Psikis
104 Gagal
105 Hakim Agung
106 Hak-Hak
107 Tak Ada Yang Mustahil
108 Isi Hati
109 Garden Of Death
110 Selanjutnya
111 Visual
112 Psikopat Dermawan
113 Pindah Rumah
114 Denza, Kota Para Dewa
115 Sudut Pandang Yang Berbeda
116 Pertarungan Pembuka
117 Barie Sang Naga Putih
118 Satu Goresan Kecil?
119 Senyuman
120 Rumah Kayu Di Bawah Rembulan [S1-END]
121 Pengumuman yang kemungkinan ga ada yang baca
122 Volume II: Kehidupan Pertama
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Prolog
2
Upacara pembukaan
3
Perkenalan
4
Devdan Bayanaka
5
Kemampuan & kekuatan
6
Penyerangan
7
Penyerangan 2
8
Ancaman
9
Imajinasi & hal yang nyata
10
Ekspektasi & Realita
11
Wanita Menyebalkan
12
Militer
13
Seleksi
14
Pembunuhan masal
15
Kenangan si pelaku
16
Pleton 1
17
Kebenaran yang tak terduga
18
Penyelamatan
19
Reuni
20
Reuni 2
21
Anggota baru
22
Kejadian yang sama
23
Terlambat
24
Sangat terlambat
25
Masa kecil
26
Rapat
27
2 serangan terakhir
28
Junior yang malas
29
Kesombongan level dewa
30
Pemalas yang jenius
31
Kecurigaan Alicia
32
Pulau Andalas
33
Pulau Andalas 2
34
Pulau Andalas 3
35
Ruang hampa
36
Harapan
37
Pelarian
38
Andai aku
39
Sandiwara
40
Firasat
41
Survival
42
Legenda
43
Dunia Ini Rusak
44
Makhluk Mitologi
45
Peliharaan
46
Keluar
47
Hari-hari terakhir
48
Ujian Penempatan 1
49
Ujian Penempatan 2
50
Ujian Penempatan 3
51
Sadar Akan Diri
52
Sebuah Persiapan
53
Raja?
54
1 Vs 10,000,000
55
Tujuan
56
Eadred
57
Tak Perlu Khawatir
58
Berita Mengejutkan
59
Badan Kepolisian Negara
60
Kamera
61
Kediaman Bayanaka
62
Cilukba
63
Matahari
64
Pulang
65
Meliburkan Diri
66
Diriku Yang Lain
67
Meth
68
Ada Lagi?
69
Rak Hitam
70
Festival Alles 1
71
Festival Alles 2
72
Festival Alles 3
73
Mythomania
74
Kejutan Hart?
75
Akhir Dari Dunia
76
Akhir Dari Dunia 2 - Gavin & Cerberus
77
Akhir Dari Dunia 3 - Kembang Api
78
Akhir Dari Dunia 4 - Zand & Elax
79
Akhir Dari Dunia 5 - Pengetahuan
80
Akhir Dari Dunia 6 - Dewa Imajinasi
81
Akhir Dari Dunia 7 - Janji
82
Akhir Dari Dunia 8 - Timelapse Rewind
83
Akhir Dari Dunia 9 - Devdan Vs Edzard
84
Akhir Dari Dunia 10 - Teh & Biskuit
85
Nomor Telepon
86
Goddin
87
Tamasya
88
Berangkat! - Zand Kingdom
89
Maria Ocean
90
Fellow City
91
Altar
92
Visual
93
Broken House
94
Dandelion City
95
Mata Uang
96
Celah Peraturan
97
Kesalahan
98
Mawar Di Tengah Neraka
99
Evolusi
100
Mata Biru
101
Canggung
102
Laksanakan!
103
Psikis
104
Gagal
105
Hakim Agung
106
Hak-Hak
107
Tak Ada Yang Mustahil
108
Isi Hati
109
Garden Of Death
110
Selanjutnya
111
Visual
112
Psikopat Dermawan
113
Pindah Rumah
114
Denza, Kota Para Dewa
115
Sudut Pandang Yang Berbeda
116
Pertarungan Pembuka
117
Barie Sang Naga Putih
118
Satu Goresan Kecil?
119
Senyuman
120
Rumah Kayu Di Bawah Rembulan [S1-END]
121
Pengumuman yang kemungkinan ga ada yang baca
122
Volume II: Kehidupan Pertama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!