Pembunuhan masal

Aray memutuskan untuk mengabaikan bau aneh dari Raja Avanindra. Rasa penat setelah pertemuan itu mendorongnya untuk segera pulang, mandi, dan beristirahat. Namun, langkahnya terhenti saat melewati taman kerajaan yang terletak di pusat istana. Taman itu luar biasa luas, dihiasi oleh flora yang tampaknya berasal dari dunia sihir.

Pohon-pohon tinggi dengan dedaunan berkilau seakan memancarkan cahaya lembut di bawah sinar matahari, memberikan kesan magis dan harmonis. Beberapa tanaman merambat yang melilit tiang-tiang marmer memancarkan sinar hijau keemasan, tampak hidup dan terus bergerak pelan, nyaris tak terlihat oleh mata manusia.

Ia melanjutkan langkahnya, menyusuri labirin semak-semak tinggi yang membentuk pola rumit. Setiap belokan dalam labirin itu menyimpan kejutan—air mancur yang mengalir seperti perak cair, patung peri kristal yang berdiri anggun, serta bunga-bunga ajaib yang memancarkan wangi menyegarkan. Beberapa dari bunga itu bergetar

halus ketika Aray mendekat, seolah menyambut kehadirannya. Udara taman itu dipenuhi dengan keajaiban, membawa kedamaian bagi siapa saja yang melewatinya, seakan mampu melupakan semua beban dunia yang membelenggu.

Aray berhenti sejenak di depan pohon raksasa yang berdiri di pusat taman. Pohon itu bukan pohon biasa, daunnya berubah warna dari hijau zamrud menjadi emas setiap kali angin berhembus. Di dekatnya terdapat sebuah jembatan kayu kecil yang melintasi kolam, dihuni ikan-ikan cerah yang berenang dengan tenang. Di atas kolam,

kupu-kupu berwarna cerah berterbangan dengan indah, menciptakan pemandangan yang begitu damai. Namun, meski keindahan taman itu begitu mempesona, Aray tetap merasa terperangkap dalam kegelisahan yang tak kunjung hilang.

Ia menghela napas panjang, berusaha menikmati keheningan dan keindahan yang ada di sekitarnya. Tangannya menyentuh batang pohon yang dingin dan kuat, mencoba menarik ketenangan dari alam yang memeluknya. Tapi di dalam hatinya, ia tahu ketenangan itu semu.

"Ah, andai saja aku benar-benar bisa merasa damai," gumamnya pelan. Di balik sikap acuhnya, pikirannya diselimuti oleh bayangan kelam masa lalu, bayangan yang tak pernah benar-benar hilang.

Aray tahu, di balik tampilan tenangnya, ada rahasia besar yang tak bisa ia ungkapkan, bahkan kepada dirinya sendiri. Tampa sadar ia mengulang kembali semua kenangan dalam hidupnya, raut wajahnya dengan cepat mengeras. Ia terus melewati penderitaan tak terbayangkan, seperti terperangkap dalam siklus neraka tanpa akhir.

Meski dia mencoba untuk tidak mengingatnya, ada bagian dalam dirinya yang tak bisa melupakan rasa sakit itu. Apa gunanya semua kekuatan yang kumiliki ini? pikirnya, merasa terasing di dunia yang penuh dengan keajaiban, tetapi terkurung oleh masa lalu yang menyakitkan.

[Keesokan Hari - Minggu]

Pagi itu, Aray bangun lebih lambat dari biasanya. Tubuhnya masih terasa lelah setelah kejadian kemarin. Dia duduk di meja makan, sarapan bersama adiknya, Alicia. Suara pembawa berita dari televisi di ruang tengah terdengar

samar, tapi cukup jelas untuk menarik perhatian mereka berdua.

“... tadi malam, Sabtu dini hari, pukul 1:37, terjadi pembunuhan massal di gedung Central Electronic, markas perusahaan alat sihir terbesar di negara kita. Korban jiwa yang terlaporkan hingga saat ini berjumlah 98 orang. Tubuh korban dimutilasi sehingga setiap bagian tubuhnya sulit untuk ditemukan...”

Mendengar laporan berita yang begitu mengerikan, Alicia yang sedang menyantap makanannya berhenti sejenak. "98? Banyak sekali!" Serunya, jelas terkejut. Matanya melebar, ketakutan tampak jelas di wajahnya.

Aray tetap diam, menyendokkan makanan ke mulutnya tanpa ekspresi. Namun, pikirannya tidak bisa lepas dari apa yang baru saja ia dengar. Akhir-akhir ini memang semakin gila saja, pikirnya. Ini bukan pertama kalinya terjadi

pembunuhan massal, tetapi kali ini jumlah korbannya jauh lebih banyak dari sebelumnya.

"Sebelumnya cuma ada 10 korban," gumam Aray sambil meletakkan sendoknya. Nafsu makannya hilang seketika. Pikiran tentang pembunuhan itu mulai meresahkan, meskipun ia tahu bahwa tugas seperti ini biasanya diurus oleh

pasukan kerajaan.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja. Aray melihat nama Daiva muncul di layar. Ia menghela napas, lalu mengangkat teleponnya.

"Ada apa?" tanya Aray tanpa basa-basi.

"Kau sudah lihat beritanya?" Suara Bu Daiva terdengar serius.

"Maksudmu pembunuhan massal itu? Ya, aku sudah melihatnya. Apa hubungannya dengan telepon ini?"

"Raja Avanindra mengharapkan kehadiranmu segera di istana," jawab Daiva dengan nada tegas.

"Untuk apa?" Aray mulai merasa gelisah. Ia berharap tidak harus terlibat lebih jauh dalam masalah ini.

"Sepertinya raja ingin kau menyelidiki kasus ini," lanjut Daiva.

Aray terdiam. Aku juga harus mengurus hal-hal seperti ini? pikirnya dalam hati. Sebagai bagian dari pasukan kerajaan, hal ini mungkin wajar, tetapi tetap saja, ia merasa kurang bersemangat untuk ikut campur.

"Kau serius? Hanya aku saja?" tanyanya.

"Ya, tapi kau hanya akan menemani seorang Mayor. Kurasa ini kesempatan untukmu mendapatkan pengalaman pertama sebagai anggota pasukan kerajaan," jawab Daiva.

Aray menghela napas. "Kau tidak ikut?" tanyanya lagi.

"Tidak, aku hanya akan menemanimu ke istana untuk bertemu dengan raja sebelum kau mulai bekerja."

Aray merasa sedikit lebih tenang. "Baiklah, sampai jumpa di istana," ucapnya sebelum menutup telepon. Ia menoleh ke arah Alicia yang masih menatapnya dengan rasa penasaran.

"Ada apa, Kak? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?," tanya Alicia, memperhatikan perubahan ekspresi di wajah kakaknya.

"Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku harus keluar sebentar," jawab Aray sambil bangkit dari meja makan.

"Tumben sekali... Kau punya urusan atau semacamnya?"

"Ya, semacam itu."

Aray dengan cepat mengenakan jaket hitam yang digantung dekat pintu, lalu berbalik menatap Alicia. "Aku pergi," katanya singkat.

"Hati-hati di jalan!" seru Alicia sebelum Aray menghilang dalam sekejap, teleportasi khasnya meninggalkan gelembung kecil yang meletus pelan.

Plop!

[Di Istana Kerajaan]

Ketika Aray muncul di aula kerajaan, suasana sudah ramai. Raja Avanindra duduk di singgasananya, dengan Daiva dan seorang pria lain yang belum dikenal Aray sedang berlutut di hadapan sang raja.

"Ah... Aray, selamat datang! Cara muncul yang sangat fantastis," sapa Raja Avanindra dengan senyuman ramah.

Aray berlutut, menunduk dengan hormat. "Selamat pagi, Yang Mulia. Senang bertemu dengan Anda," jawabnya dengan nada sopan, meskipun dalam hatinya ia hanya ingin menyelesaikan tugas ini secepat mungkin.

Raja Avanindra tertawa kecil. "Dari wajahmu, aku ragu kau sungguh senang melihat wajahku," canda sang raja, mencoba mencairkan suasana.

Aray tidak menanggapi candaan itu. Ia tetap fokus pada apa yang hendak disampaikan sang raja.

"Aku memanggilmu untuk sebuah tugas. Kau sudah mendengar tentang kasus pembunuhan massal itu?" tanya Raja Avanindra.

"Ya, Yang Mulia. Saya sudah mendengarnya," jawab Aray dengan tenang.

Raja Avanindra mengangguk. "Aku ingin kau menyelidiki kasus ini dan menangkap pelakunya. Kau akan ditemani oleh Mayor Abner," jelasnya, sambil mengisyaratkan ke arah pria berkacamata hitam yang berdiri kaku di dekat Daiva. ”Dia seniormu. Jadi, jangan sungkan untuk menanyakan sesuatu yang tidak kau mengerti kepadanya,” lanjut sang raja.

"Baik, Yang Mulia," jawab Aray.

Raja Avanindra tersenyum. "Dan kalian tidak harus selalu berlutut setiap kali bertemu denganku. Itu membuatku terlihat seperti orang yang terlalu serius," katanya sambil tertawa.

Aray melirik ke arah Daiva, yang mengangguk pelan, lalu berdiri tegak. Saat itu, Abner menatap Aray dengan tatapan tajam, lalu berbicara tegas, "Aku mendengar umurmu baru 16 tahun. Aku ragu bocah sepertimu pantas mendapatkan pangkat Letnan. Jika tidak bisa membantu, setidaknya kau jangan menghalangi," ujarnya keras, air liur sedikit terpercik saat ia berbicara.

Aray menahan diri untuk tidak bereaksi, hanya menatap pria itu dengan malas.

"Baiklah, kalau begitu. Karena ada urusan penting yang harus segera kuselesaikan, aku mohon maaf, tetapi aku harus pergi lebih dulu," kata Raja Avanindra seraya bangkit dari singgasananya dengan gerakan anggun namun tegas.

Wastu, pelayan setia yang selalu berada di sisi Raja, segera berlari kecil mendekatinya. Dengan penuh rasa

hormat, dia membungkukkan tubuhnya rendah di depan sang raja. "Silakan, Yang Mulia," ucapnya dengan suara yang halus namun jelas, penuh penghormatan. Wajahnya menunjukkan dedikasi tanpa cela, dan tangannya terulur dengan anggun, memberi isyarat untuk menuntun raja keluar dari aula yang dipenuhi keheningan.

Raja Avanindra berjalan dengan langkah-langkah mantap melewati Aray, Daiva, dan Abner yang tetap berdiri di

tempatnya. Saat raja mendekat, atmosfer ruangan seolah berubah. Aura kekuatan yang dibawa raja mengalir di sekitar mereka, membuat udara di sekeliling terasa berat dan penuh kewibawaan. Tatapan Aray mengikuti langkah sang raja, namun ia tetap tenang di tempatnya, tak menunjukkan ekspresi apapun.

Wastu, tanpa mengangkat pandangannya dari lantai, melangkah di belakang raja, memastikan tak ada yang

menghalangi jalan keluarnya.

Setelah kepergian Raja, Abner menoleh ke arah pintu keluar aula, melemparkan pandangan dingin ke arah Aray.

"Tsk..." decihnya dengan nada kesal, lalu berbalik pergi tanpa menunggu respons.

Aray hanya tersenyum kecil, terkekeh. Di sisi lain, Daiva berjalan mendekat dengan tenang, menatap Abner

yang menjauh dengan pandangan penuh pengertian.

"Tak usah dipikirkan, dia memang selalu begitu," ujar Daiva sambil menepuk pundak Aray dengan

lembut, mencoba meredakan ketegangan yang mungkin tersisa.

Sambil tersenyum tipis, Daiva mengeluarkan sebuah lencana perak yang memancarkan kilauan halus di bawah cahaya ruangan. Lencana itu dihiasi ukiran klasik yang elegan, bertuliskan ’Letnan’, memperlihatkan pangkat resmi yang kini disandang Aray. "Ini lencanamu. Tunjukkan pada tim investigasi sesampainya kau di lokasi."

Aray menatap lencana itu sejenak sebelum menerimanya dengan anggukan pelan. "Terima kasih," ucapnya singkat dengan nada datar, menyimpan lencana itu dengan hati-hati di dalam sakunya, tanpa banyak kata, lalu mengaktifkan kekuatan teleportasinya.

Plop!

Dalam sekejap, bayangan tubuh Aray lenyap dari aula, meninggalkan letusan gelembung dan hembusan angin

singkat yang membuat tirai di dekat jendela berkibar halus.

Aray muncul tepat di depan gedung Central Electronic, lokasi pembunuhan massal yang menjadi topik panas di berita tadi pagi. Bangunan itu dikelilingi garis polisi dan beberapa tim investigasi kerajaan yang sudah ada di lokasi.

Aray menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk apa pun yang akan dia temui. Ia melangkah pelan menuju pintu masuk utama, melewati tim investigasi yang menoleh sesaat sebelum mereka menghentikan pekerjaan yang sedang mereka lakukan. Salah satu dari mereka berlari mendekati, menahan dan meminta Aray menunjukkan tanda pengenalnya.

”Tunggu sebentar! Mohon tunjukkan tanda pengenal Anda!”

Dengan wajah malas, Aray mengeluarkan lencana dari dalam sakunya, menunjukkannya tepat di depan mata pria

dengan wajah pasaran itu, membuatnya sedikit tersentak. Setelah memastikan indentitas, ia mempersilahkan Aray lewat dengan sopan, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.

Dengan cekatan, Aray mengangkat garis polisi dengan tangan kanannya, menunduk melangkah masuk ke dalam gedung Central Electronic. Begitu masuk ke dalam lobi utama, ia berhenti sejenak, memerhatikan betapa megah dan modernnya tempat ini. Lantai marmer putih mengkilap di bawah sepatu botnya, memantulkan cahaya biru lembut dari rune yang terukir di setiap ubin. Di sekelilingnya, layar holografik melayang di udara, menampilkan berbagai produk sihir terbaru—tongkat dengan kristal berkilau, alat komunikasi berbasis mantra, hingga jubah pelindung dengan lapisan sihir yang terlihat seperti kabut tipis.

Langit-langit lobi setinggi tiga lantai dihiasi dengan lampu gantung berbentuk kristal yang memancarkan cahaya

pelangi lembut, menciptakan suasana yang hampir menenangkan. Beberapa automaton penjaga dengan tubuh logam berlapis rune emas berdiri kaku di sudut-sudut ruangan, memantau setiap orang yang masuk. Di tengah lobi, sebuah patung besar berbentuk roda sihir berputar perlahan di udara, seperti jantung tempat ini.

Aray berdiri di tengah lobi gedung Central Electronic, merasakan aura magis yang berdenyut di sekelilingnya. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia harus memulai penyelidikan dari sini. Dengan tenang, ia menutup matanya sejenak dan memusatkan pikirannya, kemudian bergumam,

“Tracking.”

Dari tubuhnya, energi magis mulai keluar, bergerak secara terpisah, menyebar ke seluruh sudut gedung yang megah ini, bahkan menjangkau bagian-bagian yang tidak bisa dicapai oleh indera manusia. Energi magis itu, seperti tentakel halus, melingkari setiap ruangan, menjelajahi setiap sudut, menangkap jejak-jejak yang mungkin terlewatkan oleh mata telanjang.

Dengan kemampuan ini, Aray dapat melihat, merasakan, dan menemukan apa yang ingin ia cari. Dalam sekejap, ia

merasakan hawa pembunuhan yang terjadi semalam, rasa takut para korban, teriakan mereka yang penuh kepedihan saat disiksa dan dipermainkan oleh pelaku yang tak terduga.

“Toloooong…” Teriakan-teriakan itu terdengar jelas di telinganya, memecah keheningan lobi yang glamour ini.

Tak hanya itu, ia juga dapat merasakan kesenangan dan kebahagiaan si pelaku saat mengakhiri nyawa para korban. Namun, semua yang ia rasakan saat ini hanyalah bayangan dari rasa sakit yang mereka alami malam itu. Rasa tak berdaya dan frustasi menggelayuti dirinya, mengingatkan bahwa ia tidak bisa menolong mereka. Biasanya, ia tidak akan peduli dengan hal-hal semacam ini, tetapi entah mengapa, kali ini ia merasa kesal.

Energi magis yang telah ia kirimkan kembali, menyatu lagi dengan dirinya, mengalir seperti arus yang membawa informasi berharga. Dengan kemampuan pencariannya, lokasi tempat pembunuhan dan keberadaan bagian tubuh mayat yang belum ditemukan terungkap dalam waktu singkat.

30 menit kemudian, dari luar gedung, ia melihat Mayor Abner mendekat, dengan ekspresi dingin dan sikap otoriter yang semakin menegaskan wataknya. Namun, ia sedikit terkejut melihat Aray yang sudah tiba di lokasi kejadian lebih dulu darinya, berdiri menatapnya dengan mata malas.

”Selamat datang, Mayor,” sambut Aray. Ujung bibirnya sedikit naik, terlihat mengejek.

Dengan cepat Abner menyembunyikan keterkejutannya. “Teleportasi, ya,” gumam Abner. ”Untuk apa kau berdiri di situ seperti orang bodoh. Ayo pergi,” menyindir Aray yang sudah lebih dulu tiba di lokasi tanpa sepengetahuannya.

Aray terkekeh, "Baiklah," balasnya datar.

Setelah berjalan beberapa saat, Abner menempelkan telapak tangannya di salah satu sisi tembok, bergumam, “Search.” Tiba-tiba, ia mengaktifkan sihir pencariannya.

Udara di sekelilingnya terasa sangat ringan, dan benda-benda di dalam gedung mulai bercahaya, memancarkan

energi misterius yang bergetar di atmosfer. Namun, fenomena tersebut hanya berlangsung sesaat, menciptakan momen magis sebelum kembali menjadi normal.

“Aku menemukannya, tempat bagian tubuh para korban yang belum ditemukan,” ujar Abner, suaranya penuh percaya diri.

Hm, hanya dalam hitungan detik? pikirnya, mengagumi kemampuan rekannya. Ternyata, dia tidak seburuk itu.

Abner segera berlari meninggalkan Aray, berusaha menuju lokasi kejadian. Mengingat lift tidak berfungsi, dia

berputar dan berlari menaiki anak tangga dengan semangat yang luar biasa. Aray mengamati kehebohan Abner, meringis kecil.

“Maaf saja, aku tidak akan melakukan hal semacam itu,” pikirnya, merasa lebih nyaman menggunakan sihir

teleportasinya.

Ketika gelembung transparan meletus memindahkan tubuh Aray dalam sekejap ke dalam sebuah ruangan gelap, badannya segera mematung, menatap bagian tubuh para korban yang terpisah-pisah, terendam dalam lautan darah. Pemandangan itu sungguh mengenaskan, dan Aray merasakan kesedihan mendalam menyelimuti suasana.

Dari belakangnya, suara pintu besi berat terbuka terdengar nyaring memekakkan telinga Aray, memperlihatkan

siluet Abner yang kehabisan napas setelah berlari meniki tangga. Melihat Aray di hadapannya, Abner berkata,

“Bagaimana—” Kata-kata Abner terhenti ketika dia melihat pemandangan mengerikan di depannya.

Mereka berdua berjalan masuk lebih dalam, melewati puing-puing yang berserakan di mana-mana. Setiap langkah

terasa seperti memasuki tempat yang pernah menjadi saksi teror. Mayat-mayat sudah diangkut, tapi bekas-bekas darah dan potongan-potongan kecil daging masih menempel di dinding dan lantai. Serpihan tubuh manusia yang termutilasi menambah suasana mencekam di sekitar mereka.

“Ini adalah bagian tubuh para korban yang belum ditemukan. Karena ini berada di ruangan yang sangat tidak

terlihat oleh orang biasa, kau tadi membuka pintu itu menggunakan sihir, kan?” tanya Aray dengan tenang, menyelidiki detail-detail di sekelilingnya.

“Ya, karena memang ruangan ini tidak terlihat dari luar. Pelaku menggunakan sihir penangkal, jadi aku menggunakan jurus pembalikan untuk menetralkan sihirnya. Melihat pintu itu, maka bisa dipastikan kalau pelaku adalah seseorang yang juga memiliki kemampuan setingkat jenderal,” Abner menjelaskan, menarik kesimpulan dengan cepat.

Aray melirik sekilas pada Abner yang terlihat serius memeriksa bekas serangan di dinding dan lantai ruangan gelap itu. “Ini pekerjaan yang rapi,” gumam Abner. “Pelakunya bukan orang sembarangan, mungkin seseorang dengan kekuatan magis yang kuat.”

Aray mendekati salah satu dinding yang dipenuhi bekas serangan besar, seolah ditembus oleh sesuatu yang tajam dan sangat kuat. Ia merasakan energi aneh di sekitarnya, semacam jejak sisa kekuatan magis yang sulit dikenali.

"Ini bukan sekadar serangan biasa," kata Aray lebih kepada dirinya sendiri. "Ada sesuatu yang aneh terjadi di sini."

Abner, yang mendengar gumaman Aray, berjalan mendekat. "Kau merasakan sesuatu?" tanyanya dengan nada sedikit mengejek.

Aray tidak menjawab langsung. Ia menutup matanya, berusaha lebih fokus pada energi yang tersisa di ruangan itu.

Di pikirannya, ia bisa melihat kilatan-kilatan visual kejadian yang terjadi semalam—serangan brutal, kekacauan, dan sesuatu yang sangat gelap, melibatkan sihir yang jauh di luar kebiasaan.

"Sihir hitam," bisik Aray pelan.

Abner mengernyit, tidak percaya. "Sihir hitam? Kau yakin?"

Aray membuka matanya dan menatap Abner. "Ya. Ini bukan sihir biasa. Ada sesuatu yang lebih tua, lebih jahat dari sekadar sihir biasa," jawabnya serius. "Dan jika kita tidak bergerak cepat, mungkin akan ada lebih banyak korban."

Abner tampak skeptis, tetapi melihat kesungguhan di mata Aray, ia tak bisa sepenuhnya mengabaikan perasaannya. “Sialan,” gumamnya dengan nada frustasi. “Setidaknya, kita harus menemukan petunjuk yang bisa mengarah pada pelaku.”

Aray mengangguk, tetapi pikirannya masih tertuju pada sesuatu yang lebih besar. Pelaku ini bukan hanya sekadar pembunuh massal, ia memiliki misi, tujuan yang belum terungkap. Pertanyaan yang muncul di benak Aray adalah: Kenapa tempat ini? Apa yang dicari oleh pembunuh ini?

"Sungguh mengerikan," gumam Abner sambil menutup mulutnya, matanya menunjukkan ketidaktegaan saat melihat bagian-bagian tubuh korban yang berserakan di seluruh ruangan.

“Aku sudah mengetahui tempat persembunyian pelaku,” ucap Aray tiba-tiba. Senyum misterius tersungging di wajah Aray, menciptakan suasana ketegangan yang baru.

“Huh? Bagaimana bisa kau menemukannya?” Abner terlihat bingung, mencoba mencerna situasi yang cepat berubah.

“Kau terlalu banyak bertanya. Diam dan ikuti aku. Ah… kau tidak akan bisa mengikutiku, jadi aku akan memberitahukan lokasinya,” jawab Aray dengan nada datar, tatapannya tajam dan dingin.

“Jangan meremehkanku, bocah. Aku ini atasanmu!” balas Abner, suaranya sedikit bergetar karena kesal, namun Aray hanya menatapnya sekilas, tidak tertarik untuk menjelaskan lebih lanjut.

“Lokasinya adalah ruang bawah tanah,” ujar Aray tanpa basa-basi.

“Ruang bawah tanah? Jangan bercanda! Tidak ada tempat seperti itu di gedung ini!” Abner berteriak, suaranya penuh kecemasan dan kekesalan.

“Berisik,” balas Aray singkat, lalu seketika menghilang dengan teleportasi, meninggalkan Abner yang masih terkejut.

“Hey! Jangan tinggalkan aku, bajingan!” teriak Abner frustrasi, suaranya menggema di ruangan yang dipenuhi darah dan kekacauan.

Terpopuler

Comments

IG: _anipri

IG: _anipri

kayaknya Aray mulai serius nih

2022-08-21

0

farway

farway

btw ada yang bisa menjelaskan konsep teleportasi nya? kan kekuatan dia itu imajinasi, tapi kalau saat teleportasi ga ada syaratnya ya?

misalkan ingin ke bulan, nah dia harus seenggaknya pernah menginjakan kaki atau melihat foto tanah di bulan, seperti itu

2022-06-25

0

yang baca anak tolol

yang baca anak tolol

aku aku aku

2021-05-01

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Upacara pembukaan
3 Perkenalan
4 Devdan Bayanaka
5 Kemampuan & kekuatan
6 Penyerangan
7 Penyerangan 2
8 Ancaman
9 Imajinasi & hal yang nyata
10 Ekspektasi & Realita
11 Wanita Menyebalkan
12 Militer
13 Seleksi
14 Pembunuhan masal
15 Kenangan si pelaku
16 Pleton 1
17 Kebenaran yang tak terduga
18 Penyelamatan
19 Reuni
20 Reuni 2
21 Anggota baru
22 Kejadian yang sama
23 Terlambat
24 Sangat terlambat
25 Masa kecil
26 Rapat
27 2 serangan terakhir
28 Junior yang malas
29 Kesombongan level dewa
30 Pemalas yang jenius
31 Kecurigaan Alicia
32 Pulau Andalas
33 Pulau Andalas 2
34 Pulau Andalas 3
35 Ruang hampa
36 Harapan
37 Pelarian
38 Andai aku
39 Sandiwara
40 Firasat
41 Survival
42 Legenda
43 Dunia Ini Rusak
44 Makhluk Mitologi
45 Peliharaan
46 Keluar
47 Hari-hari terakhir
48 Ujian Penempatan 1
49 Ujian Penempatan 2
50 Ujian Penempatan 3
51 Sadar Akan Diri
52 Sebuah Persiapan
53 Raja?
54 1 Vs 10,000,000
55 Tujuan
56 Eadred
57 Tak Perlu Khawatir
58 Berita Mengejutkan
59 Badan Kepolisian Negara
60 Kamera
61 Kediaman Bayanaka
62 Cilukba
63 Matahari
64 Pulang
65 Meliburkan Diri
66 Diriku Yang Lain
67 Meth
68 Ada Lagi?
69 Rak Hitam
70 Festival Alles 1
71 Festival Alles 2
72 Festival Alles 3
73 Mythomania
74 Kejutan Hart?
75 Akhir Dari Dunia
76 Akhir Dari Dunia 2 - Gavin & Cerberus
77 Akhir Dari Dunia 3 - Kembang Api
78 Akhir Dari Dunia 4 - Zand & Elax
79 Akhir Dari Dunia 5 - Pengetahuan
80 Akhir Dari Dunia 6 - Dewa Imajinasi
81 Akhir Dari Dunia 7 - Janji
82 Akhir Dari Dunia 8 - Timelapse Rewind
83 Akhir Dari Dunia 9 - Devdan Vs Edzard
84 Akhir Dari Dunia 10 - Teh & Biskuit
85 Nomor Telepon
86 Goddin
87 Tamasya
88 Berangkat! - Zand Kingdom
89 Maria Ocean
90 Fellow City
91 Altar
92 Visual
93 Broken House
94 Dandelion City
95 Mata Uang
96 Celah Peraturan
97 Kesalahan
98 Mawar Di Tengah Neraka
99 Evolusi
100 Mata Biru
101 Canggung
102 Laksanakan!
103 Psikis
104 Gagal
105 Hakim Agung
106 Hak-Hak
107 Tak Ada Yang Mustahil
108 Isi Hati
109 Garden Of Death
110 Selanjutnya
111 Visual
112 Psikopat Dermawan
113 Pindah Rumah
114 Denza, Kota Para Dewa
115 Sudut Pandang Yang Berbeda
116 Pertarungan Pembuka
117 Barie Sang Naga Putih
118 Satu Goresan Kecil?
119 Senyuman
120 Rumah Kayu Di Bawah Rembulan [S1-END]
121 Pengumuman yang kemungkinan ga ada yang baca
122 Volume II: Kehidupan Pertama
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Prolog
2
Upacara pembukaan
3
Perkenalan
4
Devdan Bayanaka
5
Kemampuan & kekuatan
6
Penyerangan
7
Penyerangan 2
8
Ancaman
9
Imajinasi & hal yang nyata
10
Ekspektasi & Realita
11
Wanita Menyebalkan
12
Militer
13
Seleksi
14
Pembunuhan masal
15
Kenangan si pelaku
16
Pleton 1
17
Kebenaran yang tak terduga
18
Penyelamatan
19
Reuni
20
Reuni 2
21
Anggota baru
22
Kejadian yang sama
23
Terlambat
24
Sangat terlambat
25
Masa kecil
26
Rapat
27
2 serangan terakhir
28
Junior yang malas
29
Kesombongan level dewa
30
Pemalas yang jenius
31
Kecurigaan Alicia
32
Pulau Andalas
33
Pulau Andalas 2
34
Pulau Andalas 3
35
Ruang hampa
36
Harapan
37
Pelarian
38
Andai aku
39
Sandiwara
40
Firasat
41
Survival
42
Legenda
43
Dunia Ini Rusak
44
Makhluk Mitologi
45
Peliharaan
46
Keluar
47
Hari-hari terakhir
48
Ujian Penempatan 1
49
Ujian Penempatan 2
50
Ujian Penempatan 3
51
Sadar Akan Diri
52
Sebuah Persiapan
53
Raja?
54
1 Vs 10,000,000
55
Tujuan
56
Eadred
57
Tak Perlu Khawatir
58
Berita Mengejutkan
59
Badan Kepolisian Negara
60
Kamera
61
Kediaman Bayanaka
62
Cilukba
63
Matahari
64
Pulang
65
Meliburkan Diri
66
Diriku Yang Lain
67
Meth
68
Ada Lagi?
69
Rak Hitam
70
Festival Alles 1
71
Festival Alles 2
72
Festival Alles 3
73
Mythomania
74
Kejutan Hart?
75
Akhir Dari Dunia
76
Akhir Dari Dunia 2 - Gavin & Cerberus
77
Akhir Dari Dunia 3 - Kembang Api
78
Akhir Dari Dunia 4 - Zand & Elax
79
Akhir Dari Dunia 5 - Pengetahuan
80
Akhir Dari Dunia 6 - Dewa Imajinasi
81
Akhir Dari Dunia 7 - Janji
82
Akhir Dari Dunia 8 - Timelapse Rewind
83
Akhir Dari Dunia 9 - Devdan Vs Edzard
84
Akhir Dari Dunia 10 - Teh & Biskuit
85
Nomor Telepon
86
Goddin
87
Tamasya
88
Berangkat! - Zand Kingdom
89
Maria Ocean
90
Fellow City
91
Altar
92
Visual
93
Broken House
94
Dandelion City
95
Mata Uang
96
Celah Peraturan
97
Kesalahan
98
Mawar Di Tengah Neraka
99
Evolusi
100
Mata Biru
101
Canggung
102
Laksanakan!
103
Psikis
104
Gagal
105
Hakim Agung
106
Hak-Hak
107
Tak Ada Yang Mustahil
108
Isi Hati
109
Garden Of Death
110
Selanjutnya
111
Visual
112
Psikopat Dermawan
113
Pindah Rumah
114
Denza, Kota Para Dewa
115
Sudut Pandang Yang Berbeda
116
Pertarungan Pembuka
117
Barie Sang Naga Putih
118
Satu Goresan Kecil?
119
Senyuman
120
Rumah Kayu Di Bawah Rembulan [S1-END]
121
Pengumuman yang kemungkinan ga ada yang baca
122
Volume II: Kehidupan Pertama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!