Aray memutuskan untuk mengabaikan bau aneh dari Raja Avanindra. Rasa penat setelah pertemuan itu mendorongnya untuk segera pulang, mandi, dan beristirahat. Namun, langkahnya terhenti saat melewati taman kerajaan yang terletak di pusat istana. Taman itu luar biasa luas, dihiasi oleh flora yang tampaknya berasal dari dunia sihir.
Pohon-pohon tinggi dengan dedaunan berkilau seakan memancarkan cahaya lembut di bawah sinar matahari, memberikan kesan magis dan harmonis. Beberapa tanaman merambat yang melilit tiang-tiang marmer memancarkan sinar hijau keemasan, tampak hidup dan terus bergerak pelan, nyaris tak terlihat oleh mata manusia.
Ia melanjutkan langkahnya, menyusuri labirin semak-semak tinggi yang membentuk pola rumit. Setiap belokan dalam labirin itu menyimpan kejutan—air mancur yang mengalir seperti perak cair, patung peri kristal yang berdiri anggun, serta bunga-bunga ajaib yang memancarkan wangi menyegarkan. Beberapa dari bunga itu bergetar
halus ketika Aray mendekat, seolah menyambut kehadirannya. Udara taman itu dipenuhi dengan keajaiban, membawa kedamaian bagi siapa saja yang melewatinya, seakan mampu melupakan semua beban dunia yang membelenggu.
Aray berhenti sejenak di depan pohon raksasa yang berdiri di pusat taman. Pohon itu bukan pohon biasa, daunnya berubah warna dari hijau zamrud menjadi emas setiap kali angin berhembus. Di dekatnya terdapat sebuah jembatan kayu kecil yang melintasi kolam, dihuni ikan-ikan cerah yang berenang dengan tenang. Di atas kolam,
kupu-kupu berwarna cerah berterbangan dengan indah, menciptakan pemandangan yang begitu damai. Namun, meski keindahan taman itu begitu mempesona, Aray tetap merasa terperangkap dalam kegelisahan yang tak kunjung hilang.
Ia menghela napas panjang, berusaha menikmati keheningan dan keindahan yang ada di sekitarnya. Tangannya menyentuh batang pohon yang dingin dan kuat, mencoba menarik ketenangan dari alam yang memeluknya. Tapi di dalam hatinya, ia tahu ketenangan itu semu.
"Ah, andai saja aku benar-benar bisa merasa damai," gumamnya pelan. Di balik sikap acuhnya, pikirannya diselimuti oleh bayangan kelam masa lalu, bayangan yang tak pernah benar-benar hilang.
Aray tahu, di balik tampilan tenangnya, ada rahasia besar yang tak bisa ia ungkapkan, bahkan kepada dirinya sendiri. Tampa sadar ia mengulang kembali semua kenangan dalam hidupnya, raut wajahnya dengan cepat mengeras. Ia terus melewati penderitaan tak terbayangkan, seperti terperangkap dalam siklus neraka tanpa akhir.
Meski dia mencoba untuk tidak mengingatnya, ada bagian dalam dirinya yang tak bisa melupakan rasa sakit itu. Apa gunanya semua kekuatan yang kumiliki ini? pikirnya, merasa terasing di dunia yang penuh dengan keajaiban, tetapi terkurung oleh masa lalu yang menyakitkan.
[Keesokan Hari - Minggu]
Pagi itu, Aray bangun lebih lambat dari biasanya. Tubuhnya masih terasa lelah setelah kejadian kemarin. Dia duduk di meja makan, sarapan bersama adiknya, Alicia. Suara pembawa berita dari televisi di ruang tengah terdengar
samar, tapi cukup jelas untuk menarik perhatian mereka berdua.
“... tadi malam, Sabtu dini hari, pukul 1:37, terjadi pembunuhan massal di gedung Central Electronic, markas perusahaan alat sihir terbesar di negara kita. Korban jiwa yang terlaporkan hingga saat ini berjumlah 98 orang. Tubuh korban dimutilasi sehingga setiap bagian tubuhnya sulit untuk ditemukan...”
Mendengar laporan berita yang begitu mengerikan, Alicia yang sedang menyantap makanannya berhenti sejenak. "98? Banyak sekali!" Serunya, jelas terkejut. Matanya melebar, ketakutan tampak jelas di wajahnya.
Aray tetap diam, menyendokkan makanan ke mulutnya tanpa ekspresi. Namun, pikirannya tidak bisa lepas dari apa yang baru saja ia dengar. Akhir-akhir ini memang semakin gila saja, pikirnya. Ini bukan pertama kalinya terjadi
pembunuhan massal, tetapi kali ini jumlah korbannya jauh lebih banyak dari sebelumnya.
"Sebelumnya cuma ada 10 korban," gumam Aray sambil meletakkan sendoknya. Nafsu makannya hilang seketika. Pikiran tentang pembunuhan itu mulai meresahkan, meskipun ia tahu bahwa tugas seperti ini biasanya diurus oleh
pasukan kerajaan.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja. Aray melihat nama Daiva muncul di layar. Ia menghela napas, lalu mengangkat teleponnya.
"Ada apa?" tanya Aray tanpa basa-basi.
"Kau sudah lihat beritanya?" Suara Bu Daiva terdengar serius.
"Maksudmu pembunuhan massal itu? Ya, aku sudah melihatnya. Apa hubungannya dengan telepon ini?"
"Raja Avanindra mengharapkan kehadiranmu segera di istana," jawab Daiva dengan nada tegas.
"Untuk apa?" Aray mulai merasa gelisah. Ia berharap tidak harus terlibat lebih jauh dalam masalah ini.
"Sepertinya raja ingin kau menyelidiki kasus ini," lanjut Daiva.
Aray terdiam. Aku juga harus mengurus hal-hal seperti ini? pikirnya dalam hati. Sebagai bagian dari pasukan kerajaan, hal ini mungkin wajar, tetapi tetap saja, ia merasa kurang bersemangat untuk ikut campur.
"Kau serius? Hanya aku saja?" tanyanya.
"Ya, tapi kau hanya akan menemani seorang Mayor. Kurasa ini kesempatan untukmu mendapatkan pengalaman pertama sebagai anggota pasukan kerajaan," jawab Daiva.
Aray menghela napas. "Kau tidak ikut?" tanyanya lagi.
"Tidak, aku hanya akan menemanimu ke istana untuk bertemu dengan raja sebelum kau mulai bekerja."
Aray merasa sedikit lebih tenang. "Baiklah, sampai jumpa di istana," ucapnya sebelum menutup telepon. Ia menoleh ke arah Alicia yang masih menatapnya dengan rasa penasaran.
"Ada apa, Kak? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?," tanya Alicia, memperhatikan perubahan ekspresi di wajah kakaknya.
"Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku harus keluar sebentar," jawab Aray sambil bangkit dari meja makan.
"Tumben sekali... Kau punya urusan atau semacamnya?"
"Ya, semacam itu."
Aray dengan cepat mengenakan jaket hitam yang digantung dekat pintu, lalu berbalik menatap Alicia. "Aku pergi," katanya singkat.
"Hati-hati di jalan!" seru Alicia sebelum Aray menghilang dalam sekejap, teleportasi khasnya meninggalkan gelembung kecil yang meletus pelan.
Plop!
[Di Istana Kerajaan]
Ketika Aray muncul di aula kerajaan, suasana sudah ramai. Raja Avanindra duduk di singgasananya, dengan Daiva dan seorang pria lain yang belum dikenal Aray sedang berlutut di hadapan sang raja.
"Ah... Aray, selamat datang! Cara muncul yang sangat fantastis," sapa Raja Avanindra dengan senyuman ramah.
Aray berlutut, menunduk dengan hormat. "Selamat pagi, Yang Mulia. Senang bertemu dengan Anda," jawabnya dengan nada sopan, meskipun dalam hatinya ia hanya ingin menyelesaikan tugas ini secepat mungkin.
Raja Avanindra tertawa kecil. "Dari wajahmu, aku ragu kau sungguh senang melihat wajahku," canda sang raja, mencoba mencairkan suasana.
Aray tidak menanggapi candaan itu. Ia tetap fokus pada apa yang hendak disampaikan sang raja.
"Aku memanggilmu untuk sebuah tugas. Kau sudah mendengar tentang kasus pembunuhan massal itu?" tanya Raja Avanindra.
"Ya, Yang Mulia. Saya sudah mendengarnya," jawab Aray dengan tenang.
Raja Avanindra mengangguk. "Aku ingin kau menyelidiki kasus ini dan menangkap pelakunya. Kau akan ditemani oleh Mayor Abner," jelasnya, sambil mengisyaratkan ke arah pria berkacamata hitam yang berdiri kaku di dekat Daiva. ”Dia seniormu. Jadi, jangan sungkan untuk menanyakan sesuatu yang tidak kau mengerti kepadanya,” lanjut sang raja.
"Baik, Yang Mulia," jawab Aray.
Raja Avanindra tersenyum. "Dan kalian tidak harus selalu berlutut setiap kali bertemu denganku. Itu membuatku terlihat seperti orang yang terlalu serius," katanya sambil tertawa.
Aray melirik ke arah Daiva, yang mengangguk pelan, lalu berdiri tegak. Saat itu, Abner menatap Aray dengan tatapan tajam, lalu berbicara tegas, "Aku mendengar umurmu baru 16 tahun. Aku ragu bocah sepertimu pantas mendapatkan pangkat Letnan. Jika tidak bisa membantu, setidaknya kau jangan menghalangi," ujarnya keras, air liur sedikit terpercik saat ia berbicara.
Aray menahan diri untuk tidak bereaksi, hanya menatap pria itu dengan malas.
"Baiklah, kalau begitu. Karena ada urusan penting yang harus segera kuselesaikan, aku mohon maaf, tetapi aku harus pergi lebih dulu," kata Raja Avanindra seraya bangkit dari singgasananya dengan gerakan anggun namun tegas.
Wastu, pelayan setia yang selalu berada di sisi Raja, segera berlari kecil mendekatinya. Dengan penuh rasa
hormat, dia membungkukkan tubuhnya rendah di depan sang raja. "Silakan, Yang Mulia," ucapnya dengan suara yang halus namun jelas, penuh penghormatan. Wajahnya menunjukkan dedikasi tanpa cela, dan tangannya terulur dengan anggun, memberi isyarat untuk menuntun raja keluar dari aula yang dipenuhi keheningan.
Raja Avanindra berjalan dengan langkah-langkah mantap melewati Aray, Daiva, dan Abner yang tetap berdiri di
tempatnya. Saat raja mendekat, atmosfer ruangan seolah berubah. Aura kekuatan yang dibawa raja mengalir di sekitar mereka, membuat udara di sekeliling terasa berat dan penuh kewibawaan. Tatapan Aray mengikuti langkah sang raja, namun ia tetap tenang di tempatnya, tak menunjukkan ekspresi apapun.
Wastu, tanpa mengangkat pandangannya dari lantai, melangkah di belakang raja, memastikan tak ada yang
menghalangi jalan keluarnya.
Setelah kepergian Raja, Abner menoleh ke arah pintu keluar aula, melemparkan pandangan dingin ke arah Aray.
"Tsk..." decihnya dengan nada kesal, lalu berbalik pergi tanpa menunggu respons.
Aray hanya tersenyum kecil, terkekeh. Di sisi lain, Daiva berjalan mendekat dengan tenang, menatap Abner
yang menjauh dengan pandangan penuh pengertian.
"Tak usah dipikirkan, dia memang selalu begitu," ujar Daiva sambil menepuk pundak Aray dengan
lembut, mencoba meredakan ketegangan yang mungkin tersisa.
Sambil tersenyum tipis, Daiva mengeluarkan sebuah lencana perak yang memancarkan kilauan halus di bawah cahaya ruangan. Lencana itu dihiasi ukiran klasik yang elegan, bertuliskan ’Letnan’, memperlihatkan pangkat resmi yang kini disandang Aray. "Ini lencanamu. Tunjukkan pada tim investigasi sesampainya kau di lokasi."
Aray menatap lencana itu sejenak sebelum menerimanya dengan anggukan pelan. "Terima kasih," ucapnya singkat dengan nada datar, menyimpan lencana itu dengan hati-hati di dalam sakunya, tanpa banyak kata, lalu mengaktifkan kekuatan teleportasinya.
Plop!
Dalam sekejap, bayangan tubuh Aray lenyap dari aula, meninggalkan letusan gelembung dan hembusan angin
singkat yang membuat tirai di dekat jendela berkibar halus.
Aray muncul tepat di depan gedung Central Electronic, lokasi pembunuhan massal yang menjadi topik panas di berita tadi pagi. Bangunan itu dikelilingi garis polisi dan beberapa tim investigasi kerajaan yang sudah ada di lokasi.
Aray menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk apa pun yang akan dia temui. Ia melangkah pelan menuju pintu masuk utama, melewati tim investigasi yang menoleh sesaat sebelum mereka menghentikan pekerjaan yang sedang mereka lakukan. Salah satu dari mereka berlari mendekati, menahan dan meminta Aray menunjukkan tanda pengenalnya.
”Tunggu sebentar! Mohon tunjukkan tanda pengenal Anda!”
Dengan wajah malas, Aray mengeluarkan lencana dari dalam sakunya, menunjukkannya tepat di depan mata pria
dengan wajah pasaran itu, membuatnya sedikit tersentak. Setelah memastikan indentitas, ia mempersilahkan Aray lewat dengan sopan, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
Dengan cekatan, Aray mengangkat garis polisi dengan tangan kanannya, menunduk melangkah masuk ke dalam gedung Central Electronic. Begitu masuk ke dalam lobi utama, ia berhenti sejenak, memerhatikan betapa megah dan modernnya tempat ini. Lantai marmer putih mengkilap di bawah sepatu botnya, memantulkan cahaya biru lembut dari rune yang terukir di setiap ubin. Di sekelilingnya, layar holografik melayang di udara, menampilkan berbagai produk sihir terbaru—tongkat dengan kristal berkilau, alat komunikasi berbasis mantra, hingga jubah pelindung dengan lapisan sihir yang terlihat seperti kabut tipis.
Langit-langit lobi setinggi tiga lantai dihiasi dengan lampu gantung berbentuk kristal yang memancarkan cahaya
pelangi lembut, menciptakan suasana yang hampir menenangkan. Beberapa automaton penjaga dengan tubuh logam berlapis rune emas berdiri kaku di sudut-sudut ruangan, memantau setiap orang yang masuk. Di tengah lobi, sebuah patung besar berbentuk roda sihir berputar perlahan di udara, seperti jantung tempat ini.
Aray berdiri di tengah lobi gedung Central Electronic, merasakan aura magis yang berdenyut di sekelilingnya. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia harus memulai penyelidikan dari sini. Dengan tenang, ia menutup matanya sejenak dan memusatkan pikirannya, kemudian bergumam,
“Tracking.”
Dari tubuhnya, energi magis mulai keluar, bergerak secara terpisah, menyebar ke seluruh sudut gedung yang megah ini, bahkan menjangkau bagian-bagian yang tidak bisa dicapai oleh indera manusia. Energi magis itu, seperti tentakel halus, melingkari setiap ruangan, menjelajahi setiap sudut, menangkap jejak-jejak yang mungkin terlewatkan oleh mata telanjang.
Dengan kemampuan ini, Aray dapat melihat, merasakan, dan menemukan apa yang ingin ia cari. Dalam sekejap, ia
merasakan hawa pembunuhan yang terjadi semalam, rasa takut para korban, teriakan mereka yang penuh kepedihan saat disiksa dan dipermainkan oleh pelaku yang tak terduga.
“Toloooong…” Teriakan-teriakan itu terdengar jelas di telinganya, memecah keheningan lobi yang glamour ini.
Tak hanya itu, ia juga dapat merasakan kesenangan dan kebahagiaan si pelaku saat mengakhiri nyawa para korban. Namun, semua yang ia rasakan saat ini hanyalah bayangan dari rasa sakit yang mereka alami malam itu. Rasa tak berdaya dan frustasi menggelayuti dirinya, mengingatkan bahwa ia tidak bisa menolong mereka. Biasanya, ia tidak akan peduli dengan hal-hal semacam ini, tetapi entah mengapa, kali ini ia merasa kesal.
Energi magis yang telah ia kirimkan kembali, menyatu lagi dengan dirinya, mengalir seperti arus yang membawa informasi berharga. Dengan kemampuan pencariannya, lokasi tempat pembunuhan dan keberadaan bagian tubuh mayat yang belum ditemukan terungkap dalam waktu singkat.
30 menit kemudian, dari luar gedung, ia melihat Mayor Abner mendekat, dengan ekspresi dingin dan sikap otoriter yang semakin menegaskan wataknya. Namun, ia sedikit terkejut melihat Aray yang sudah tiba di lokasi kejadian lebih dulu darinya, berdiri menatapnya dengan mata malas.
”Selamat datang, Mayor,” sambut Aray. Ujung bibirnya sedikit naik, terlihat mengejek.
Dengan cepat Abner menyembunyikan keterkejutannya. “Teleportasi, ya,” gumam Abner. ”Untuk apa kau berdiri di situ seperti orang bodoh. Ayo pergi,” menyindir Aray yang sudah lebih dulu tiba di lokasi tanpa sepengetahuannya.
Aray terkekeh, "Baiklah," balasnya datar.
Setelah berjalan beberapa saat, Abner menempelkan telapak tangannya di salah satu sisi tembok, bergumam, “Search.” Tiba-tiba, ia mengaktifkan sihir pencariannya.
Udara di sekelilingnya terasa sangat ringan, dan benda-benda di dalam gedung mulai bercahaya, memancarkan
energi misterius yang bergetar di atmosfer. Namun, fenomena tersebut hanya berlangsung sesaat, menciptakan momen magis sebelum kembali menjadi normal.
“Aku menemukannya, tempat bagian tubuh para korban yang belum ditemukan,” ujar Abner, suaranya penuh percaya diri.
Hm, hanya dalam hitungan detik? pikirnya, mengagumi kemampuan rekannya. Ternyata, dia tidak seburuk itu.
Abner segera berlari meninggalkan Aray, berusaha menuju lokasi kejadian. Mengingat lift tidak berfungsi, dia
berputar dan berlari menaiki anak tangga dengan semangat yang luar biasa. Aray mengamati kehebohan Abner, meringis kecil.
“Maaf saja, aku tidak akan melakukan hal semacam itu,” pikirnya, merasa lebih nyaman menggunakan sihir
teleportasinya.
Ketika gelembung transparan meletus memindahkan tubuh Aray dalam sekejap ke dalam sebuah ruangan gelap, badannya segera mematung, menatap bagian tubuh para korban yang terpisah-pisah, terendam dalam lautan darah. Pemandangan itu sungguh mengenaskan, dan Aray merasakan kesedihan mendalam menyelimuti suasana.
Dari belakangnya, suara pintu besi berat terbuka terdengar nyaring memekakkan telinga Aray, memperlihatkan
siluet Abner yang kehabisan napas setelah berlari meniki tangga. Melihat Aray di hadapannya, Abner berkata,
“Bagaimana—” Kata-kata Abner terhenti ketika dia melihat pemandangan mengerikan di depannya.
Mereka berdua berjalan masuk lebih dalam, melewati puing-puing yang berserakan di mana-mana. Setiap langkah
terasa seperti memasuki tempat yang pernah menjadi saksi teror. Mayat-mayat sudah diangkut, tapi bekas-bekas darah dan potongan-potongan kecil daging masih menempel di dinding dan lantai. Serpihan tubuh manusia yang termutilasi menambah suasana mencekam di sekitar mereka.
“Ini adalah bagian tubuh para korban yang belum ditemukan. Karena ini berada di ruangan yang sangat tidak
terlihat oleh orang biasa, kau tadi membuka pintu itu menggunakan sihir, kan?” tanya Aray dengan tenang, menyelidiki detail-detail di sekelilingnya.
“Ya, karena memang ruangan ini tidak terlihat dari luar. Pelaku menggunakan sihir penangkal, jadi aku menggunakan jurus pembalikan untuk menetralkan sihirnya. Melihat pintu itu, maka bisa dipastikan kalau pelaku adalah seseorang yang juga memiliki kemampuan setingkat jenderal,” Abner menjelaskan, menarik kesimpulan dengan cepat.
Aray melirik sekilas pada Abner yang terlihat serius memeriksa bekas serangan di dinding dan lantai ruangan gelap itu. “Ini pekerjaan yang rapi,” gumam Abner. “Pelakunya bukan orang sembarangan, mungkin seseorang dengan kekuatan magis yang kuat.”
Aray mendekati salah satu dinding yang dipenuhi bekas serangan besar, seolah ditembus oleh sesuatu yang tajam dan sangat kuat. Ia merasakan energi aneh di sekitarnya, semacam jejak sisa kekuatan magis yang sulit dikenali.
"Ini bukan sekadar serangan biasa," kata Aray lebih kepada dirinya sendiri. "Ada sesuatu yang aneh terjadi di sini."
Abner, yang mendengar gumaman Aray, berjalan mendekat. "Kau merasakan sesuatu?" tanyanya dengan nada sedikit mengejek.
Aray tidak menjawab langsung. Ia menutup matanya, berusaha lebih fokus pada energi yang tersisa di ruangan itu.
Di pikirannya, ia bisa melihat kilatan-kilatan visual kejadian yang terjadi semalam—serangan brutal, kekacauan, dan sesuatu yang sangat gelap, melibatkan sihir yang jauh di luar kebiasaan.
"Sihir hitam," bisik Aray pelan.
Abner mengernyit, tidak percaya. "Sihir hitam? Kau yakin?"
Aray membuka matanya dan menatap Abner. "Ya. Ini bukan sihir biasa. Ada sesuatu yang lebih tua, lebih jahat dari sekadar sihir biasa," jawabnya serius. "Dan jika kita tidak bergerak cepat, mungkin akan ada lebih banyak korban."
Abner tampak skeptis, tetapi melihat kesungguhan di mata Aray, ia tak bisa sepenuhnya mengabaikan perasaannya. “Sialan,” gumamnya dengan nada frustasi. “Setidaknya, kita harus menemukan petunjuk yang bisa mengarah pada pelaku.”
Aray mengangguk, tetapi pikirannya masih tertuju pada sesuatu yang lebih besar. Pelaku ini bukan hanya sekadar pembunuh massal, ia memiliki misi, tujuan yang belum terungkap. Pertanyaan yang muncul di benak Aray adalah: Kenapa tempat ini? Apa yang dicari oleh pembunuh ini?
"Sungguh mengerikan," gumam Abner sambil menutup mulutnya, matanya menunjukkan ketidaktegaan saat melihat bagian-bagian tubuh korban yang berserakan di seluruh ruangan.
“Aku sudah mengetahui tempat persembunyian pelaku,” ucap Aray tiba-tiba. Senyum misterius tersungging di wajah Aray, menciptakan suasana ketegangan yang baru.
“Huh? Bagaimana bisa kau menemukannya?” Abner terlihat bingung, mencoba mencerna situasi yang cepat berubah.
“Kau terlalu banyak bertanya. Diam dan ikuti aku. Ah… kau tidak akan bisa mengikutiku, jadi aku akan memberitahukan lokasinya,” jawab Aray dengan nada datar, tatapannya tajam dan dingin.
“Jangan meremehkanku, bocah. Aku ini atasanmu!” balas Abner, suaranya sedikit bergetar karena kesal, namun Aray hanya menatapnya sekilas, tidak tertarik untuk menjelaskan lebih lanjut.
“Lokasinya adalah ruang bawah tanah,” ujar Aray tanpa basa-basi.
“Ruang bawah tanah? Jangan bercanda! Tidak ada tempat seperti itu di gedung ini!” Abner berteriak, suaranya penuh kecemasan dan kekesalan.
“Berisik,” balas Aray singkat, lalu seketika menghilang dengan teleportasi, meninggalkan Abner yang masih terkejut.
“Hey! Jangan tinggalkan aku, bajingan!” teriak Abner frustrasi, suaranya menggema di ruangan yang dipenuhi darah dan kekacauan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
IG: _anipri
kayaknya Aray mulai serius nih
2022-08-21
0
farway
btw ada yang bisa menjelaskan konsep teleportasi nya? kan kekuatan dia itu imajinasi, tapi kalau saat teleportasi ga ada syaratnya ya?
misalkan ingin ke bulan, nah dia harus seenggaknya pernah menginjakan kaki atau melihat foto tanah di bulan, seperti itu
2022-06-25
0
yang baca anak tolol
aku aku aku
2021-05-01
0