[POV Penyusup]
[Hari penyusupan]
"Hah ... Kita selamat!"
Setelah terus berlari di sepanjang saluran air bawah tanah, Rohan dan Veda berhenti sejenak, beristirahat.
"Rohan, tidak ada yang mengejar kita, kan?" tanya Veda sambil terengah-engah.
"Sepertinya tidak ada."
Veda menghela napas panjang.
"Syukurlah .... "
"Aku yakin. Jika ada yang mengejar, kita pasti akan tertangkap."
Dengan luka-luka yang menemani mereka, berada di saluran air bawah tanah membuat situasi semakin suram.
"Apakah kau baik-baik saja?" Rohan memastikan keadaan Veda.
"Aku baik-baik saja. Aku tidak menyangka kita akan dikalahkan sebegitu mudahnya." Gerutu Veda, menggembungkan pipinya.
Rohan melepas kacamatanya, berniat membersihkan menggunakan baju yang ia kenakan, "Kita terlalu meremehkan kekuatan tempur mereka." Jelasnya sambil kembali memakai kacamatanya.
"Yang mengalahkan kita cuma satu orang tau. Lagipula siapa bocah itu?"
"Bocah? Kau seumuran dengannya, jangan berkata seolah kau lebih tua."
Veda melipat kedua tangannya. "Hmph ... " Melirik Rohan tak terima. " ... Aku ini sudah dewasa. Jangan samakan aku dengannya."
Rohan menahan rasa kesalnya mendengar lelucon murahan yang keluar dari mulut Veda.
"Aku pikir dia lebih dewasa darimu. Kau lihat tatapan matanya? Itu adalah tatapan mata seseorang yang hidup dalam kesengsaraan."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Kesampingkan hal itu. Kekuatannya sama sekali tidak bisa kita remehkan. Kemampuan macam apa itu?" Rohan mencoba menerka-nerka apa kemampuan orang yang telah mengalahkannya.
"Itu semacam teleportasi bukan? Dia berpindah tempat secara tiba-tiba begitu."
"Bisa jadi. Tapi bagaimana caranya dia mengembalikan serangan kita? Bukankah itu juga telekinesis?"
"Artinya dia mempunyai dua kemampuan." Veda memberikan kesimpulannya.
"Itu tidak mungkin. Daripada, itu lebih baik kita bergegas kembali ke kerajaan dan melaporkannya pada Raja Eadred."
"Ehh ... Bisakah kita beristirahat lebih lama lagi?" keluh Veda.
"Berisik. Lebih cepat lebih baik. Ayo! Sebelum ada yang mengejar kita."
Dengan luka di sekujur tubuh. Mereka berjalan pincang kembali ke negara mereka, yaitu negara utara.
[POV Aray]
[2 hari setelah penyusupan]
Perfect imagination.
Kemampuan yang sangat berguna.
Dengan kemampuan ini aku masih belum terkalahkan dan aku tidak tau apa aku bisa dikalahkan?
Mengubah imajinasi menjadi sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan oleh indera manusia.
Dengan kata lain, aku dapat memunculkan apa saja yang ada di dunia ini bahkan yang belum ada di dunia ini.
Bisa dibilang aku ini pencipta.
Mempunyai kekuatan setara dengan ledakan big bang bukanlah hal yang tidak mungkin.
Ledakan big-bang adalah ledakan terbesar di alam semesta yang menyebabkan alam semesta beserta isinya terbentuk.
Kebanyakan astronom percaya bahwa alam semesta dimulai dengan Big Bang sekitar 14 miliar tahun yang lalu.
Pada saat itu, seluruh alam semesta berada di dalam sebuah gelembung yang ribuan kali lebih kecil dari kepala peniti.
Gelembung itu lebih panas dan lebih padat daripada apa pun yang bisa kita bayangkan.
Kemudian, gelembung itu tiba-tiba meledak, Dan alam semesta kita lahir. Waktu, ruang dan materi semua dimulai dengan Big Bang.
Dalam sepersekian detik, alam semesta tumbuh dari bentuk lebih kecil dari atom tunggal kemudian berubah menjadi lebih besar dari galaksi.
Menakjubkan bukan untuk mempunyai kekuatan setara dengan ledakan yang mampu menciptakan alam semesta itu?
Tapi untuk menggunakan kekuatan sebesar itu, aku tidak tau apa yang akan terjadi pada dunia ini.
Jadi aku tidak akan menggunakan nya.
Kalian penasaran ingin bagaimana aku menggunakan kemampuan ini dalam kehidupan sehari-hari?
Kalau begitu akan kutunjukkan.
Berhubungan hari ini pelajaran sekolah sangat membosankan, melakukan sedikit pertunjukan sepertinya akan menyenangkan.
"Pelajaran selasai. Jangan cuma masuk
kuping kanan keluar kuping kiri!" Suara Pak Roy mengakhiri pelajaran bertepatan dengan
bunyi bel berakhirnya jam sekolah.
Setelah merapihkan beberapa berkas yang dibawanya, dia berjalan keluar kelas.
"Ah ... Hari ini panas sekali ya .... " Keluh anak-anak kelas.
Baik anak laki-laki maupun perempuan mengambil buku tulis, mengibaskannya ke badan mereka, berharap rasa gerah segera pergi dari tubuh mereka.
Tanpa kusadari Alvarado yang di sampingku pun melakukan hal yang sama.
Sambil mengipas-ngipasi badannya dengan buku tulis ia berkata, "Iya, ya ... Entah mengapa hari ini sangat panas. Apakah dewa matahari sedang murka atau semacamnya?"
"Mana mungkin." Tanggapku kepadanya.
"Bisa jadi kan? Aku berharap sekolah ini memiliki sesuatu seperti kolam renang."
Aku tersenyum.
"Apa maksudmu? Bukankah sekolah ini memang memiliki nya?" Kataku sambil mengarahkan ibu jariku ke luar jendela kelas.
"Kau bohong, kan?"
"Lihat saja sendiri kalau tidak percaya."
Diaa bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekati jendela kelas yang menghadap halaman sekolah.
Alvarado tersenyum kepadaku, meremehkan. "Mana mung–" Kata-katanya terhenti setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa benar-benar ada kolam renang dihalaman sekolah.
Matanya melebar seakan-akan melihat keajaiban.
Sebenarnya aku yang menciptakannya.
"Teman-teman, lihat! Di halaman sekolah ada kolam renang." Alvarado memanggil yang lainnya.
"Halah ... Paling cuma bohongan .... " Anak-anak yang masih ragu mulai mendekati jendela kelas.
Namun setelah melihatnya,
"Whoa .... "
Kompak sekali mereka ya?
Wajah suram kepanasan sebelumnya kini menjadi cerah seperti terlahir kembali.
"Ini keajaiban!" teriak salah satu dari mereka, mengeluarkan kepalanya dari jendela, memandangi kolam renang.
Itu bukan keajaiban.
Karena situasi makin tak terkendali, dan anak kelas mulai menyingkirkan singgasanaku untuk melihat kolam renang yang mereka bilang keajaiban itu, aku pergi menjauhi kerumunan, berjalan ke pojokan kelas.
"Aku tidak tahan lagi!" teriak Alvarado, sepertinya ia akan memulai pesta.
Tiba-tiba saja ia melompat keluar jendela, langsung menuju tengah kolam renang.
Byurrr ....
Suara cipratan airnya terdengar jelas sampai pojok kelas.
"Whoa ...."
Lagi-lagi mereka tergakum dengan suatu hal yang seharusnya tidak dikagumi.
"Sepertinya itu menyenangkan!" bisik anak kelas ketika melihat lompatan salah satu teman mereka.
Lalu satu persatu anak laki-laki mulai berlompatan keluar dari jendela.
Byuurr ....
Suara cipratan air saling bersautan, susul menyusul sesuai dengan urutan anak yang melompat.
Anak perempuan yang enggan melakukan lompatan tersebut mulai berlarian keluar kelas.
Secepat anak-anak kelas memasuki kolam renang, secepat itu pula kabar sekolah memiliki kolam renang tersebar di seluruh murid kelas 1.
"Katanya sekolah memiliki kolam renang, lho!" Kata seorang anak perempuan kelas sebelah kepada temannya.
"Benarkah? Aku baru tau. Kau ingin pergi ke sana?"
"Tentu saja!"
Dengan begitu kolam renang yang aku ciptakan itu semakin ramai dan ramai.
Ketika semuanya sedang menikmati mandi di kolam renang yang baru mereka temukan tersebut,
di sinilah pesta sebenarnya dimulai.
Secara tiba-tiba, awan tebal berwarna abu-abu gelap mulai menutupi langit yang menaungi mereka. Semakin lama langit menjadi sangat gelap.
Para siswa yang berada di kolam renang mulai bertanya-tanya, "Apa ini? Apa yang terjadi?"
"Mungkin sebentar lagi akan turun hujan."
Sebelum mereka mengetahui jawabannya, langit perlahan menurunkan butiran-butiran kecil berwarna putih yang disebut salju.
Butiran salju itu mulai berjatuhan di atas kepala mereka.
"Whoa .... " Mereka semakin terkagum-kagum dengan apa yang mereka lihat hari ini. Pertama kolam renang yang muncul tiba-tiba, sekarang salju yang turun di musim panas.
Pada awalnya mereka menganggap salju ini juga sebagai salah satu keajaiban yang terjadi.
Namun, lama kelamaan mereka mulai menggigil.
Tentu saja. Karena aku mengatur salju ini untuk menimbulkan cuaca yang sangat ekstrim. Bahkan suhunya jatuh pada -50° celcius.
"Ini sangat dingin .... " Ucap salah satu murid, berjalan keluar dari kolam.
"Ini keterlaluan. Kalau begini terus kita akan membeku."
Ketika mereka mencoba untuk meninggalkan kolam dan kembali ke dalam gedung sekolah.
Mereka baru menyadari bahwa kolam tersebut telah menjadi es batu.
"Hah? Apa-apaan ini?" Alvarado yang kesal dengan kejadian yang menimpanya, mulai menggunakan kemampuan apinya untuk keluar dari situasi tersebut.
"Temperature control!"
Tubuh Alvarado berubah merah terang, membakar kolam es dengan suhu puluhan derajatnya.
Es disekitar Alvarado perlahan-lahan mulai mencair, sehingga ia bisa terlepas dari perangkap es tersebut.
Namun murid lain yang tidak bisa menggunakan api seperti Alvarado, mulai membeku di tempatnya.
Alvarado yang tidak tega melihat mereka kesulitan memutuskan untuk membantu.
"Ckckck ... Sibuk sekali." Aku menggelengkan kepala dari pojok kelas, menatap iba pada mereka yang tengah bersusah payah untuk keluar dari kolam es.
Aku tertawa dalam hati.
Berbeda dari mereka yang tengah sibuk menyelamatkan diri mereka masing-masing dari kematian karena dinginnya suhu di luar, aku telah merubah pakaianku menjadi pakaian musim dingin.
Dengan jaket tebal dan syal yang melilit dileher, aku siap menghadapi cuaca ekstrim ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
IG: _anipri
wehh kekuatannya benar-benar imajinatif sekali ya
2022-07-21
1
Z3R0 :)
Hem kaya anime Xian wang de richang xenghuo : MC Wang ling
2022-05-08
0
Shofia Febrianti
Dia
2022-03-24
0