Raja Avanindra menatap tajam ke arah para peserta yang berlutut di hadapannya. "Terima kasih telah memenuhi panggilanku." Suaranya tenang penuh wibawa. "Seperti yang kalian ketahui, hari ini kalian akan mengikuti tes masuk kemiliteran."
Seperti yang kami ketahui? Aray mengernyit, jelas ia tidak tahu apa-apa soal ini. Ia melirik Bu Daiva dengan ekspresi penuh tanda tanya.
Bu Daiva hanya mengangkat bahu, seolah berkata, "Aku juga tidak tahu."
Sialan, gumam Aray dalam hati.
"Tapi, dari yang aku lihat sekilas," lanjut Raja Avanindra, "sepertinya ada yang melakukan hal tak berguna sebelum aku datang." Pandangannya terarah pada Badhra, yang berlutut tak berdaya di tengah aula, badannya bergetar.
"Ya-Yang... Mu-Mulia... Maafkan aku karena tidak bisa memberi hormat dengan benar padamu," Badhra terbatuk-batuk, berusaha mendongak.
Aray menahan tawa dalam hati melihat kondisi Badhra yang masih tak berdaya. Tenang saja. 24 jam lagi kau akan bisa bergerak, pikirnya.
"Cukup," Raja Avanindra berkata datar. "Daripada itu, sepertinya kita punya jenius baru di sini." Mata raja mencari-cari, hingga akhirnya berhenti pada Aray.
"Jadi, kau kandidat yang Daiva sebutkan? Kau sangat muda... berapa umurmu?"
Aray menegakkan tubuhnya sedikit, lalu menjawab dengan tenang, "16 tahun, Yang Mulia."
"Oh? Lebih muda dari yang kukira. Kupikir kau setidaknya 25 tahun." Raja terlihat terkejut, membuatnya
terlihat polos.
Huh? Aray sedikit terkejut mendengar perkiraannya.
Wastu, pelayan setia sang raja, segera mendekatkan dirinya pada raja dan berbisik, "Yang Mulia, mereka semua masih anak SMA. Tidak ada yang berumur 25 tahun."
Raja Avanindra tertawa kecil, menyadari kekeliruannya. "Ah, benar juga. Hanya saja aku merasa bahwa dia
tampak lebih tua dari umurnya."
Omong kosong macam apa yang dibicakan orang ini? Pikir Aray. Ia mulai menganggap tekanan yang ia rasakan sebelumnya hanya perasaannya saja.
Raja Avanindra mengelus janggut tipisnya sambil berkata, "Aku tidak suka hal-hal yang terlalu rumit. Jadi,
seleksinya akan sangat mudah. Kalian hanya perlu bertahan dari tekanan magis yang kuberikan."
Auranya yang tenang menciptakan kesan seolah ujian ini adalah hal sepele. Aray mendengus pelan, tidak terlalu
tertarik. Tekanan aura? Hal seperti ini sudah terlalu biasa bagiku. Namun, beberapa peserta di sekelilingnya terlihat tak meremehkan. Mata mereka menyorotkan rasa percaya diri yang jelas tidak pada tempatnya.
"Sebelum aku memulai, kalian semua, berdirilah!" Perintah raja keluar dengan lembut, tetapi seperti ada kekuatan gaib yang menyertai setiap katanya. Tangan raja terangkat perlahan, dan seketika itu juga, tubuh para peserta seolah dipaksa untuk tegak, seperti boneka yang digerakkan tali tak terlihat.
"Mari kita mulai," seru raja dengan suara bergetar rendah, dan seketika suasana aula berubah. Ia bersandar di singgasananya, menutup mata, dan mulai memusatkan konsentrasinya.
Lantai aula mulai bergetar, sedikit demi sedikit, seperti merespons kekuatan tak kasatmata yang perlahan dilepaskan. Aura hitam pekat menjalar dari tubuh raja, melingkari ruangan, seakan seluruh istana itu hidup dan merespons kekuatan sang raja. Udara menjadi berat, semakin padat, menekan setiap inci tubuh para peserta. Mereka merasakan tekanan luar biasa, seperti ada sesuatu yang menekan mereka dari atas, perlahan tapi pasti, semakin berat setiap detiknya.
Tidak buruk, pikir Aray, sedikit kagum. Namun, wajahnya tetap datar. Tapi aku tahu triknya. Ini mudah.
"Soul Protection."
Dengan satu mantra sihir sederhana, Aray melindungi jiwanya, membungkusnya dalam perisai magi yang tak
kasatmata. Dengan begitu, tekanan yang dihasilkan oleh aura magis sang raja sekeras apapun tidak akan terasa olehnya. Aray paham bahwa yang raja serang bukan tubuh mereka, melainkan jiwa mereka.
Sementara Aray tetap berdiri tegap, seperti tiang besi yang tak tergoyahkan, peserta lain mulai merasakan
penderitaan mereka. Teriakan lirih dan desahan penuh kesakitan mulai terdengar. Tangan dan kaki mereka bergetar, seakan setiap langkah dan setiap napas menuntut usaha yang luar biasa.
"Apa ini? Tekanannya terlalu kuat!" Salah satu peserta mulai kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur ke lantai.
Satu per satu, tubuh-tubuh itu mulai berjatuhan. Wajah mereka menciumi dinginnya lantai aula yang bergetar,
tangan mereka mencengkeram tanah, memohon belas kasih. Desahan berat mereka terdengar semakin nyaring, napas mereka tersengal, mata mereka melotot ketakutan. Sementara itu, Aray berdiri tenang, mengamati dengan tenang.
Di tengah kepanikan yang memuncak, hanya sedikit yang mampu bertahan. Salah satunya, seperti yang sudah
diduga Aray, adalah Devdan. Sosok itu tetap berdiri tegak, bahkan terlihat menguap bosan, seakan ujian ini hanyalah latihan kecil baginya.
Raja Avanindra membuka matanya, memperhatikan mereka yang masih mampu berdiri. Ia tersenyum tipis, penuh
antusiasme. "Aku akan meningkatkan tekanannya. Bersiaplah!" Suaranya penuh dengan kegembiraan, seolah menikmati melihat para peserta menderita di bawah tekanannya.
Seketika, tekanan meningkat dua kali lipat. Udara terasa semakin menyesakkan, tubuh mereka semakin terhimpit.
Dinding aula seolah memekik, lantainya retak di beberapa tempat, namun yang paling terasa adalah bagaimana jiwa mereka dihimpit oleh kekuatan luar biasa dari aura raja. Jeritan semakin keras terdengar, lebih banyak peserta terhempas jatuh, tubuh mereka menekan keras lantai, menggigil ketakutan.
Namun, Aray tetap berdiri tegap, dengan tenang. Triknya masih bekerja sempurna. Tekanan yang melingkupi tubuhnya tak lebih dari angin sepoi-sepoi. Sementara yang lainnya bergulat dengan penderitaan mereka, Aray bahkan masih sempat memperhatikan ekspresi Raja Avanindra.
Sungguh mengagumkan, pikir Aray sambil menyaksikan aura magis sang raja yang terlihat sangat agung dengan warna keemasannya. Manifestasi magi yang seperti ini jarang Aray temui.
Ketika raja melihat hampir semua peserta telah berjatuhan, ia tertawa puas, kemudian dengan satu gerakan tangan, ia menghentikan tekanannya. "Baiklah, ini sudah cukup."
Dari puluhan peserta, hanya tersisa 10 yang masih berdiri, termasuk Aray dan Devdan. Devdan, seperti biasa,
menguap malas. Ia jelas tak terpengaruh sedikit pun, menganggap hal ini membosankan.
Raja Avanindra mengangguk puas. "Bagus. Kalian adalah 10 orang yang berhasil bertahan." Ia tersenyum lebar, elusannya pada janggut tipisnya terlihat semakin konyol dalam suasana serius ini. "Mulai saat ini, kalian dianugerahi pangkat Letnan dan akan menjadi bagian dari 'The 10 Elite'!"
Para peserta yang gugur hanya bisa menatap iri pada 10 orang yang berhasil berdiri sampai akhir. Namun, salah
satu dari mereka memberanikan diri untuk bertanya, "Yang Mulia, bagaimana dengan kami?"
Raja tertawa kecil. "Tenang saja. Kalian semua tetap akan menjadi bagian dari pasukan kerajaan. Namun, kalian
akan dibagi menjadi 10 pleton. Setiap pleton akan dipimpin oleh seorang Letnan."
Dalam kemiliteran Kerajaan Neutral, struktur jabatan dibagi menjadi enam tingkatan yang jelas, masing-masing dengan tanggung jawab dan perannya sendiri. Di tingkatan terendah, Prajurit Magis adalah para pemula yang baru
mempelajari dasar-dasar sihir. Mereka bertugas menjalankan misi sederhana dan tergabung dalam pleton yang dipimpin oleh seorang Letnan yang merupakan sosok magus yang lebih berpengalaman.
Di atasnya, seorang Letnan memimpin pleton yang terdiri dari beberapa Prajurit Magis. Mereka berfungsi sebagai jembatan antara prajurit dan perwira yang lebih tinggi, memastikan setiap anggota unit berfungsi dengan baik dalam menjalankan misi. Setelah itu, ada Mayor, yang mengawasi sebuah batalion, yang terdiri dari beberapa pleton. Mayor bertanggung jawab untuk merencanakan strategi dan memastikan koordinasi antara unit-unit di bawahnya.
Satu tingkat di atas Mayor, terdapat Jenderal yang memimpin beberapa Mayor dan batalion, mengambil peran lebih strategis dalam pertempuran yang lebih besar. Mereka merumuskan taktik dan memastikan setiap batalion beroperasi dalam sinergi untuk mencapai tujuan bersama. Tingkatan tertinggi, Jenderal Besar, adalah pemimpin tertinggi dalam militer, yaitu Raja Avanindra sendiri. Jenderal Besar memiliki kuasa untuk mengambil keputusan penting dan memimpin seluruh kekuatan militer kerajaan, menjaga keamanan dan kedaulatan Kerajaan Neutral.
Aray berdiri tegak, meski dalam hati ada perasaan bercampur aduk. Jadi aku harus menjadi seorang Letnan sekarang? Puncak kesengsaraannya, tampaknya, baru saja dimulai.
Para peserta yang gagal tampak lega mendengar penjelasan raja, wajah mereka mengembang dengan senyum cerah. Beberapa dari mereka mulai bersorak gembira, seolah beban berat yang mereka pikul selama ini telah terangkat. Di tengah keramaian, Wastu memberikan instruksi agar para peserta kembali ke rumah masing-masing. Dalam kebisingan itu, Bu Daiva dan Devdan mendekati Aray, wajah mereka penuh antusiasme.
"Tadi itu lumayan sulit, ya?" kata Devdan, sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala, dengan nada yang tak bisa dipercaya. Ekspresinya tampak seolah tidak mengerti betapa seriusnya situasi yang baru saja dihadapi orang-orang menyedihkan di belakangnya.
"Bagaimana denganmu?" tanya Bu Daiva, berharap bisa mendengar semangat Aray.
"Sangat mudah," jawab Aray dingin, tak tertarik untuk berbagi perasaannya.
Devdan tersenyum lebar, terkekeh. "Jadi, kita akan jadi Letnan, ya? Terdengar menyenangkan!"
Tiba-tiba, Raja Avanindra mendekati mereka dengan langkah ringan. Mereka bertiga langsung membungkukkan
badan, menghormati kehadiran sang raja.
"Ah, tak perlu terlalu formal. Aku hanya ingin menyapa Letnan termuda sepanjang sejarah kerajaan ini," ujar raja dengan tawa riang, yang membuat Aray merinding.
"Siapa namamu?" tanya raja, menatap langsung ke mata Aray, seolah menembus ke dalam jiwanya.
"Aray. Anda bisa memanggilku begitu, Yang Mulia." Aray menjawab, berusaha menyembunyikan nama keluarganya dari raja, yang mungkin mengenal mereka.
"Nama yang bagus! Aku berharap banyak darimu," kata raja sambil menepuk pundaknya, membuat Aray merasa tak nyaman.
"Baik, Yang Mulia."
"Kau harus lebih banyak berlatih. Akan ada banyak kesulitan yang kau hadapi di masa depan."
Kesulitan? Jangan bercanda. Aray mendengus dalam hati.
"Maaf, Yang Mulia... tetapi, hal seperti itu tidak akan terjadi padaku."
Raja tersenyum bijak, tatapannya dalam dan penuh makna. "Ingatlah, Aray, kadang-kadang keyakinan kita bisa menjadi kabut yang menyembunyikan kenyataan. Hidup ini penuh dengan kejutan, dan sering kali, kita menemukan pelajaran berharga dalam kesalahan yang tidak kita duga."
Aray terdiam sejenak, meyakini bahwa ada kebenaran dalam pernyataan itu. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam, memikirkan betapa banyak hal yang telah ia lalui dalam hidupnya yang panjang.
Menyadari perubahan ekpresi pada wajah Aray, Raja Avanindra bertanya, "Hm? Tampaknya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu."
"Ah ... Bukan apa-apa, Yang Mulia." Aray tersadar dari lamunannya.
"Benarkah?" tanya sang raja, matanya memerhatikan Aray dengan seksama. "Baiklah kalau begitu, selamat bekerja!" Raja melambaikan tangannya, lalu pergi menjauh ditemani Wastu, meninggalkan ketiganya dalam kebingungan.
Aray, Devdan, dan Bu Daiva hanya terdiam, merenungkan apa yang baru saja terjadi. Walau orang ini terus tersenyum, Aray merasa ada sesuatu yang lebih dalam di balik senyum itu; ia tahu... raja ini busuk sampai ke tulang. Untuk sementara waktu, Aray akan bekerja untuknya.
"Aku dengar kau akan memimpin Pleton Nomor 1 dengan 4 orang sebagai bawahanmu," kata Bu Daiva sambil mengangkat alisnya, wajahnya tampak mengisyaratkan sesuatu.
"Entahlah. Bukankah seharusnya kau yang lebih tahu tentang itu?" Aray menjawab setengah hati, berusaha bersikap baik sebelum melangkah pergi meninggalkan Daiva dan Devdan.
Saat ia berjalan menjauh dari istana kerajaan, Aray mengerutkan dahinya, terlihat kesal. Ia mengibas-ngibas tangannya di depan hidung, mencoba menepis bau aneh yang mengganggu indera penciumannya. Dalam hatinya, satu pertanyaan terus menghantuinya:
Apa yang sebenarnya raja itu makan? Aku mencium bau busuk dari mulutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
IG: _anipri
Saat-saat masa kerja keras untuk Aray
2022-07-27
0
Shofia Febrianti
di
2022-03-24
0
Shofia Febrianti
kerajaan
2022-03-24
0