Devdan Bayanaka

Bel sekolah telah berbunyi, menandakan selesainya pelajaran. Aray bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu dengan langkah cepat, berusaha mengabaikan kerumunan yang ada di sekelilingnya.

“Eh... A-aray!” Sebuah suara perempuan memanggilnya, menghentikan langkahnya. Seorang gadis dengan teman-temannya menahannya dengan ekspresi malu-malu.

“Boleh kenalan? Aku melihat pertarunganmu tadi, dan kupikir itu sangat keren,” katanya, tersipu.

Aray berpaling, wajahnya tanpa ekspresi. “Bukankah kau sudah tahu namaku?”

“Ya, tapi kau kan belum mengenalku...”

Aray mengalihkan pandangannya, tidak ingin terlibat lebih jauh. “Itu tidak perlu,” ucapnya dengan nada acuh dan melanjutkan langkahnya.

“Dasar sombong! Kau pikir kau menarik?” teriak gadis itu, suaranya penuh frustrasi.

Aray menghela napas panjang, merasa kesal. “Idiot...” gumamnya pelan, tidak ingin terpengaruh oleh omongan mereka.

Dia tidak peduli dengan mereka. Dia tahu, mereka hanya akan menjadi pengganggu dalam hidupnya yang damai.

Aray berpikir, menjalin hubungan asmara dengan perempuan sungguh bukan seleranya. Memikirkannya saja Aray sudah jengkel setengah mati. Bayangkan saja harus pergi kencan di hari libur, padahal hari libur harusnya digunakan untuk bermalas-malasan. Belum lagi beban finansial dan emosional yang muncul ketika mengencani seorang wanita. Makan, belanja, pergi ke taman hiburan. Berapa banyak uang yang harus dikeluarkan, padahal uang yang dihabiskan dalam satu kali kencan itu bisa ia gunakan untuk makan 1 bulan. Sungguh tidak sepadan.

Aray melangkah menyusuri lorong kelas yang bising. Cahaya matahari sore menembus jendela, memantulkan bayangannya di lantai keramik yang dingin. Saat dia berusaha menghindari keramaian, sebuah suara memecah keheningan.

"Aray!" suara itu terdengar, diikuti oleh derap langkah cepat yang mendekat.

Dia menoleh sekilas. Alvarado, dengan rambut yang berantakan dan napas terengah, berlari ke arahnya, wajahnya penuh antusiasme.

Tanpa membalas panggilan yang ditujukan padanya, ia mempercepat langkahnya.

"Ey! Tunggu aku! Ayolah... Bukankah kita ini teman?" Alvarado bertanya, senyum tak hilang dari wajahnya meski ditolak.

"Aku tak ingat pernah berteman denganmu," balas Aray datar, ekspresinya tak menunjukkan tanda-tanda ingin melanjutkan percakapan.

"Tapi aku ingat!" ujar Alvarado ceria, senyumnya makin lebar. Matanya berbinar, seperti tak terganggu oleh sikap dingin Aray.

Uh, orang ini benar-benar keras kepala, batin Aray, merasa frustrasi.

"Aku tidak butuh teman, dan tidak ingin berteman," kata Aray, nadanya tegas.

"Kau ini... setidaknya lihatlah mataku saat sedang berbicara," sahut Alvarado sambil tetap mengikuti di belakang, seolah tak mau menyerah begitu saja.

Aray mendesah pelan dan memilih untuk berjalan lebih cepat, berharap bisa meninggalkan Alvarado. Namun, anak itu terus saja mengejarnya tanpa henti.

Saat Aray akhirnya tiba di depan gerbang sekolah, dia melihat adiknya, Alicia, sedang menunggu dengan senyum cerah di wajahnya.

"Kak Aray!" teriak Alicia sambil melambaikan tangan dengan penuh semangat, membuat beberapa orang di sekitar menoleh.

Aray mendekatinya tanpa berkata banyak, sementara Alvarado tetap mengikuti dari belakang, membuat suasana sedikit canggung.

"Oh... tidak biasanya kau berjalan bersama seseorang," ujar Alicia, matanya menyipit ke arah Alvarado. "Dia temanmu?" tanyanya dengan nada penasaran.

"Bukan," jawab Aray singkat, menahan rasa kesal. "Dia hanya–"

Sebelum Aray bisa menyelesaikan kalimatnya, Alvarado dengan cepat memotong, "Perkenalkan, namaku Ryan Alvarado. Teman sekelas Aray." Dia mengulurkan tangannya dengan senyum ramah.

Alicia menatap tangan Alvarado sejenak sebelum tersenyum kecil. "Aku Alicia Kenzie, adik perempuannya. Salam kenal." Mereka berjabat tangan singkat, dan Alicia memandang ke arah kakaknya dengan tatapan menggoda.

"Jadi kau adiknya, ya? Memang mirip sih... tapi sifatmu jelas berbeda," komentar Alvarado sambil tertawa kecil. "Maksudku, sangat berbeda."

Alicia tertawa kecil, merasa tersanjung dengan pernyataan itu. "Ya... seperti itulah. Omong-omong, bolehkah aku tahu apa kemampuanmu? Maaf, aku memang terlahir dengan rasa penasaran yang besar," tambahnya dengan senyum misterius di wajahnya.

Aray hanya bisa menghela napas dalam hati. Rasa penasaran besar? Konyol sekali. Seharusnya, kalau dia memang begitu penasaran, dia akan tahu betapa busuknya dunia ini, dan tidak sembarangan bertanya seperti itu.

Alvarado tertawa kecil dan menggaruk belakang kepalanya, tampak sedikit malu. "Tidak masalah. Aku bisa mengendalikan dan memanipulasi elemen api... tapi aku belum terlalu mahir."

"Oh, ya?" Alicia berpura-pura terkejut, menutupi mulutnya dengan tangan. "Itu berarti kita sama! Aku juga pengendali api."

Aray tahu betul bahwa reaksi Alicia itu hanya pura-pura. Palsu sekali. Dia mengenal adiknya terlalu baik. Alicia pasti sudah tahu bahwa pengendali api adalah yang paling banyak di dunia ini—sangat umum, sangat mainstream. Tapi apa yang membuat mereka berbeda adalah tingkat magi yang dimiliki seseorang dan kontrol terhadap magi itu sendiri.

Magi adalah energi yang tersebar di seluruh dunia.

Setiap manusia memiliki wadah alami dalam tubuh yang memungkinkan mereka menyimpan magi. Energi ini digunakan sebagai bahan bakar untuk menjalankan mantera sihir. Proses pengisian magi dari alam melibatkan beberapa tahap. Pertama, magi yang ada disaring untuk menghilangkan kotoran. Setelah itu, magi akan dipusatkan dalam wadah tubuh dan dialirkan ke seluruh bagian tubuh. Dengan cara ini, seseorang dapat mengaktifkan mantera sihir dengan lebih efisien.

Menariknya, setiap bayi yang baru lahir sudah memiliki cadangan magi yang diturunkan dari kedua orang tuanya. Namun, cara perawatan yang dilakukan ibu selama kehamilan dapat mempengaruhi kualitas magi yang dimiliki bayi. Faktor-faktor ini dapat menentukan apakah seorang bayitergolong cacat, normal, atau bahkan jenius dalam sihir.

Dengan kata lain, bakat yang dimiliki sejak lahir memengaruhi seberapa kuat atau lemahnya seorang magus. Meskipun demikian, bukan berarti seorang magus yang tidak memiliki bakat tidak dapat menjadi kuat. Jarak antara magus berbakat dan yang tidak bisa dipersempit melalui latihan yang intensif dan teknik pelatihan yang tepat.

Lalu, bagaimana dengan magus yang berbakat sejak lahir dan diberikan pelatihan yang tepat?

Dia akan menjadi monster.

"Tapi, seperti yang aku bilang," lanjut Alvarado, wajahnya tampak sedikit memerah. "Aku belum bisa mengendalikan kekuatan ini dengan baik. Itulah sebabnya aku ditempatkan di kelas Anfänger. Tapi aku heran dengan kakakmu... dengan kekuatannya yang luar biasa, bukankah seharusnya dia masuk kelas Stryke, atau bahkan Unver? Kau pasti melihat pertarungannya, kan?"

Aray terdiam, matanya menatap lurus ke depan, namun pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan yang sama. Jiika Alicia dapat melihat apa yang Aray lakukan di dalam badai tersebut, ia berpikir untuk melakukan sesuatu pada Alicia.

Aray menghela napas, Aku sungguh tidak ingin melakukan itu lagi, pikirnya.

Alicia mengangkat bahu sambil tersenyum santai. "Entahlah. Memangnya kakakku sekuat itu ya? Yang aku tahu, dia bahkan tidak bisa bertarung." Nadanya terdengar ringan, seolah tidak ada hal serius yang dipertanyakan.

Aray tetap terdiam, tetapi wajahnya kini tampak lega sambil menatap jauh ke arah langit senja yang mulai memudar.

Sementara itu, Alvarado tampak bingung, alisnya terangkat seolah tidak mengerti sepenuhnya apa yang sedang terjadi.

Dengan napas tertahan, Aray mengalihkan pandangannya, berusaha lari dari ketegangan yang kian menggantung di udara. Namun, tatapannya membeku ketika melihat sosok pria berambut putih berdiri di dekat gerbang sekolah. Mata pria itu—biru dan tajam seperti pecahan es—menatapnya, seolah menusuk hingga ke dalam jiwa. Bersandar santai pada tembok, tangan pria itu terlipat di dada, sementara seringai lebar menghiasi wajahnya. Dari tubuhnya memancar aura magis yang begitu pekat, menekan pundak Aray tanpa ampun, membuatnya sedikit pegal.

Ha! Si sialan ini mengarahkan magi nya hanya padaku. Aray berpikir dengan cepat, matanya menyapu halaman sekolah yang tampak tenang—tak seorang pun tampak tertekan, apalagi panik. Bahkan Alicia dan Alvarado tetap tenang, tak tersentuh oleh kehadiran magi yang mengerikan ini. Namun, Aray harus mengakui, pria berambut putih itu cukup kuat untuk membuatnya merasakan tekanan di pundaknya. Ini benar-benar di luar perkiraannya.

Sebuah senyum kecil muncul di wajah Aray, diikuti oleh tawa ringan yang hampir tak terdengar. Baginya, situasi ini tak lebih dari lelucon. Namun, ada sesuatu tentang pria itu yang menarik perhatian Aray. Sambil menepuk pundaknya sendiri dengan santai, Aray mulai memancarkan aura magis yang sama kuatnya. Aura itu melonjak, menutupi langit di atas mereka dengan cepat, menciptakan bayang-bayang gelap yang menakutkan. Meski demikian, aura itu hanya diarahkan pada satu orang—pria berambut putih itu. Ketika kedua kekuatan mereka bertemu, udara di sekitarnya bergetar hebat, mengguncang seluruh sekolah dengan kekuatan yang dahsyat.

Pria itu mendongak, dagunya terangkat. Senyum liciknya melebar, matanya menyala penuh tantangan.

Rasa panik mulai menjalar di antara para siswa yang berada di halaman sekolah. Suasana yang awalnya tenang berubah menjadi kacau, dan wajah-wajah yang tadinya santai kini dipenuhi ketakutan. Bahkan Alvarado dan Alicia tak lagi bisa menyembunyikan kekhawatiran mereka.

"Hey, hey... apa yang sebenarnya sedang terjadi?" Alvarado berusaha keras mempertahankan keseimbangan tubuhnya saat getaran hebat mengguncang bumi di bawahnya.

Dalam kebingungan, Alicia melirik wajah kakaknya. Sebuah senyuman kecil—nyaris tak percaya—terpampang jelas di wajahnya yang biasanya malas. Alicia belum pernah melihat ekspresi seperti itu di wajah Aray sebelumnya. Ia mengikuti arah tatapan kakaknya, dan saat itulah dia melihatnya—sebuah seringai lebar, tajam dan penuh maksud, yang sama sekali asing baginya. Sebuah seringai yang menebarkan ketegangan di udara.

"K-Kak Aray... apa yang sedang kau lakukan?" suara Alicia bergetar di antara kekhawatiran dan rasa takut. Namun, sebelum Aray sempat mengalihkan pandangannya, pria berambut putih itu sudah bangkit dari posisinya. Dalam sekejap, dia menghilang hanya untuk muncul kembali tepat di hadapan Aray, seakan merobek ruang dan waktu.

Jarak di antara mereka menghilang dalam satu kedipan mata. Aura mereka yang sebelumnya beradu di kejauhan kini bertabrakan langsung, seperti dua angin badai yang berputar dalam tarian mengerikan. Dampaknya jauh lebih dahsyat dari sebelumnya, menggetarkan bumi di bawah kaki para murid yang hanya bisa menyaksikan dalam ketakutan.

Tanpa sedikit pun berpaling dari tatapan mata Aray, pria berambut putih itu mengulurkan tangannya dengan tenang, seolah getaran dahsyat di sekitar mereka tak berarti apa-apa. Aray menatap pria itu sesaat, lalu membalas uluran tangan tersebut.

"Devdan Bayanaka," ucap pria itu memperkenalkan diri, suaranya dalam dan mantap.

"Aray Kenzie," balas Aray, masih bertahan dengan senyum kecilnya.

Keduanya tersenyum, penuh makna yang hanya mereka pahami. Sebuah senyuman yang tidak akan pernah dimengerti oleh Alicia, Alvarado, ataupun para siswa yang menyaksikan pemandangan luar biasa ini.

Aura mereka berdua perlahan memudar, menyisakan keheningan di halaman sekolah yang luas. Para murid yang menyaksikan kejadian itu menelan ludah dan menahan napas dalam ketegangan, hingga akhirnya Devdan memecah kesunyian dengan sebuah pertanyaan singkat,

"Mau bergabung dengan OSIS?"

Aray berpikir sejenak. Ia menyadari bahwa dirinya tidak benar-benar membenci orang ini. Cara Devdan yang tanpa basa-basi membuatnya tidak terlalu terganggu.

"Tidak," jawab Aray dengan tegas dan singkat.

Mendengar jawabannya yang begitu tegas, Devdan hampir saja tertawa. Penolakan yang begitu lugas, tanpa basa-basi. Bahkan jika ia memperkenalkan dirinya sebagai ketua OSIS, Devdan yakin hasilnya tetap sama—Aray pasti akan tetap menolak. Namun, ada sesuatu yang menarik dari sosok pria berambut hitam dengan tampang malas ini, sehingga Devdan tidak bisa menahan diri untuk bertanya lagi.

"Kenapa?"

Aray melepaskan tangan Devdan dengan santai, lalu melangkah melewati Devdan dengan senyum tipis di bibirnya. Sambil terkekeh kecil, ia menjawab, "Karena hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan pada hal-hal yang membosankan."

Jawaban itu membuat Devdan terkejut. Matanya membelalak. Tidak pernah terlintas di benaknya bahwa itulah alasan di balik penolakan Aray. Seketika, Devdan tidak bisa menahan tawanya. Ia tertawa keras, nyaris terbahak-bahak. Para siswa yang menyaksikan dari kejauhan hanya bisa melongo, bingung dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Kejadian ini pasti akan terus mereka ingat.

Sementara itu, Aray melambaikan tangannya, memanggil adiknya, "Alicia, ayo pulang."

"Ba-Baiklah."

Alicia, yang masih tampak kebingungan, melirik ke arah Devdan yang masih tertawa terbahak-bahak, lalu dengan ragu mengikuti langkah Aray meninggalkan halaman sekolah, menyisakan Alvarado yang berdiri mematung dengan 1000 pertanyaan di kepalanya.

Terpopuler

Comments

IG: _anipri

IG: _anipri

Ceritanya manarik

2022-07-14

0

farway

farway

noice

2022-06-24

0

Eros Lovera

Eros Lovera

mantapp

2022-06-07

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Upacara pembukaan
3 Perkenalan
4 Devdan Bayanaka
5 Kemampuan & kekuatan
6 Penyerangan
7 Penyerangan 2
8 Ancaman
9 Imajinasi & hal yang nyata
10 Ekspektasi & Realita
11 Wanita Menyebalkan
12 Militer
13 Seleksi
14 Pembunuhan masal
15 Kenangan si pelaku
16 Pleton 1
17 Kebenaran yang tak terduga
18 Penyelamatan
19 Reuni
20 Reuni 2
21 Anggota baru
22 Kejadian yang sama
23 Terlambat
24 Sangat terlambat
25 Masa kecil
26 Rapat
27 2 serangan terakhir
28 Junior yang malas
29 Kesombongan level dewa
30 Pemalas yang jenius
31 Kecurigaan Alicia
32 Pulau Andalas
33 Pulau Andalas 2
34 Pulau Andalas 3
35 Ruang hampa
36 Harapan
37 Pelarian
38 Andai aku
39 Sandiwara
40 Firasat
41 Survival
42 Legenda
43 Dunia Ini Rusak
44 Makhluk Mitologi
45 Peliharaan
46 Keluar
47 Hari-hari terakhir
48 Ujian Penempatan 1
49 Ujian Penempatan 2
50 Ujian Penempatan 3
51 Sadar Akan Diri
52 Sebuah Persiapan
53 Raja?
54 1 Vs 10,000,000
55 Tujuan
56 Eadred
57 Tak Perlu Khawatir
58 Berita Mengejutkan
59 Badan Kepolisian Negara
60 Kamera
61 Kediaman Bayanaka
62 Cilukba
63 Matahari
64 Pulang
65 Meliburkan Diri
66 Diriku Yang Lain
67 Meth
68 Ada Lagi?
69 Rak Hitam
70 Festival Alles 1
71 Festival Alles 2
72 Festival Alles 3
73 Mythomania
74 Kejutan Hart?
75 Akhir Dari Dunia
76 Akhir Dari Dunia 2 - Gavin & Cerberus
77 Akhir Dari Dunia 3 - Kembang Api
78 Akhir Dari Dunia 4 - Zand & Elax
79 Akhir Dari Dunia 5 - Pengetahuan
80 Akhir Dari Dunia 6 - Dewa Imajinasi
81 Akhir Dari Dunia 7 - Janji
82 Akhir Dari Dunia 8 - Timelapse Rewind
83 Akhir Dari Dunia 9 - Devdan Vs Edzard
84 Akhir Dari Dunia 10 - Teh & Biskuit
85 Nomor Telepon
86 Goddin
87 Tamasya
88 Berangkat! - Zand Kingdom
89 Maria Ocean
90 Fellow City
91 Altar
92 Visual
93 Broken House
94 Dandelion City
95 Mata Uang
96 Celah Peraturan
97 Kesalahan
98 Mawar Di Tengah Neraka
99 Evolusi
100 Mata Biru
101 Canggung
102 Laksanakan!
103 Psikis
104 Gagal
105 Hakim Agung
106 Hak-Hak
107 Tak Ada Yang Mustahil
108 Isi Hati
109 Garden Of Death
110 Selanjutnya
111 Visual
112 Psikopat Dermawan
113 Pindah Rumah
114 Denza, Kota Para Dewa
115 Sudut Pandang Yang Berbeda
116 Pertarungan Pembuka
117 Barie Sang Naga Putih
118 Satu Goresan Kecil?
119 Senyuman
120 Rumah Kayu Di Bawah Rembulan [S1-END]
121 Pengumuman yang kemungkinan ga ada yang baca
122 Volume II: Kehidupan Pertama
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Prolog
2
Upacara pembukaan
3
Perkenalan
4
Devdan Bayanaka
5
Kemampuan & kekuatan
6
Penyerangan
7
Penyerangan 2
8
Ancaman
9
Imajinasi & hal yang nyata
10
Ekspektasi & Realita
11
Wanita Menyebalkan
12
Militer
13
Seleksi
14
Pembunuhan masal
15
Kenangan si pelaku
16
Pleton 1
17
Kebenaran yang tak terduga
18
Penyelamatan
19
Reuni
20
Reuni 2
21
Anggota baru
22
Kejadian yang sama
23
Terlambat
24
Sangat terlambat
25
Masa kecil
26
Rapat
27
2 serangan terakhir
28
Junior yang malas
29
Kesombongan level dewa
30
Pemalas yang jenius
31
Kecurigaan Alicia
32
Pulau Andalas
33
Pulau Andalas 2
34
Pulau Andalas 3
35
Ruang hampa
36
Harapan
37
Pelarian
38
Andai aku
39
Sandiwara
40
Firasat
41
Survival
42
Legenda
43
Dunia Ini Rusak
44
Makhluk Mitologi
45
Peliharaan
46
Keluar
47
Hari-hari terakhir
48
Ujian Penempatan 1
49
Ujian Penempatan 2
50
Ujian Penempatan 3
51
Sadar Akan Diri
52
Sebuah Persiapan
53
Raja?
54
1 Vs 10,000,000
55
Tujuan
56
Eadred
57
Tak Perlu Khawatir
58
Berita Mengejutkan
59
Badan Kepolisian Negara
60
Kamera
61
Kediaman Bayanaka
62
Cilukba
63
Matahari
64
Pulang
65
Meliburkan Diri
66
Diriku Yang Lain
67
Meth
68
Ada Lagi?
69
Rak Hitam
70
Festival Alles 1
71
Festival Alles 2
72
Festival Alles 3
73
Mythomania
74
Kejutan Hart?
75
Akhir Dari Dunia
76
Akhir Dari Dunia 2 - Gavin & Cerberus
77
Akhir Dari Dunia 3 - Kembang Api
78
Akhir Dari Dunia 4 - Zand & Elax
79
Akhir Dari Dunia 5 - Pengetahuan
80
Akhir Dari Dunia 6 - Dewa Imajinasi
81
Akhir Dari Dunia 7 - Janji
82
Akhir Dari Dunia 8 - Timelapse Rewind
83
Akhir Dari Dunia 9 - Devdan Vs Edzard
84
Akhir Dari Dunia 10 - Teh & Biskuit
85
Nomor Telepon
86
Goddin
87
Tamasya
88
Berangkat! - Zand Kingdom
89
Maria Ocean
90
Fellow City
91
Altar
92
Visual
93
Broken House
94
Dandelion City
95
Mata Uang
96
Celah Peraturan
97
Kesalahan
98
Mawar Di Tengah Neraka
99
Evolusi
100
Mata Biru
101
Canggung
102
Laksanakan!
103
Psikis
104
Gagal
105
Hakim Agung
106
Hak-Hak
107
Tak Ada Yang Mustahil
108
Isi Hati
109
Garden Of Death
110
Selanjutnya
111
Visual
112
Psikopat Dermawan
113
Pindah Rumah
114
Denza, Kota Para Dewa
115
Sudut Pandang Yang Berbeda
116
Pertarungan Pembuka
117
Barie Sang Naga Putih
118
Satu Goresan Kecil?
119
Senyuman
120
Rumah Kayu Di Bawah Rembulan [S1-END]
121
Pengumuman yang kemungkinan ga ada yang baca
122
Volume II: Kehidupan Pertama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!