Penyerangan 2

"Plasma destroyer!"

Ketika Veda mengucapkan dua kalimat singkat, bola hitam besar yang ia ciptakan perlahan bergerak mendekati para murid, mengikis habis atap GOR sekolah dan membakar tanah di bawahnya walaupun tidak menyentuh permukaan secara langsung. Hawa panas yang dipancarkan bola hitam mengerikan itu membuat keringat membasahi dahi dan punggung para murid.

Namun perempuan yang berdiri paling depan, yang kemungkinan besar adalah ketua kelas Unver, menatap bola hitam itu tanpa gentar. Rambut panjangnya yang dikuncir kuda berkibar diterpa angin panas dari kekuatan dahsyat di hadapannya. Ia menunggu dengan tenang, seolah yakin dapat mengatasi situasi ini.

Ketika jarak antara bola hitam dan ketua kelas Unver hanya tinggal beberapa puluh sentimeter, bola itu mendadak berhenti bergerak, mengambang diam di udara. Para penyusup tak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajah mereka melihat serangan mereka dihentikan dengan begitu mudahnya.

Senyum penuh percaya diri tersunggih di bibir sang ketua kelas Unver. Tanpa memberi kesempatan bagi para penyusup untuk memahami situasi, ia menggerakkan tangannya dan dalam sekejap bola hitam itu berputar arah, melesat kembali ke arah dua penyusup yang masih terpaku bingung.

"Sial–"

Umpatan salah satu penyusup terpotong oleh serangan telak dari senjata yang berbalik menyerang tuannya sendiri. Ledakan dahsyat mengguncang seisi GOR, cahaya menyilaukan menyelubungi seluruh kompleks sekolah.

Asap tebal memenuhi GOR ketika cahaya mulai meredup, menghalangi pandangan para siswa. Mereka saling melempar tatapan cemas dan bertanya-tanya.

"Apakah berhasil?"

Pertanyaan dari salah seorang anak kelas Unver memecah keheningan. Ketua kelas mereka menoleh.

"Belum selesai," jawabnya waspada. Sorot matanya terpaku pada kepulan asap, seakan mampu melihat menembus penghalang itu.

Aray, yang sedari tadi mengamati dalam diam, menyetujui pernyataan sang ketua kelas dalam hati. Ia bisa merasakan pertarungan ini masih jauh dari kata usai.

"Semua siaga!" teriak ketua kelas Unver lantang, memperingatkan semua murid.

Asap perlahan menipis, menampakkan dua sosok yang masih berdiri tegak di antara puing-puing GOR. Tawa melengking Veda memecah ketegangan.

"Hahaha ... sudah lama sejak terakhir kali ada yang bisa menahan seranganku, bahkan melemparnya balik," ujar Veda santai sembari meludah.  "Kau beruntung aku sempat memasang pelindung sihir tepat waktu," tambah pria berkacamata di sebelahnya, menepuk-nepuk debu di pundaknya.

Mereka sama sekali tak terluka. Hal itu tak mengejutkan, mengingat negara Utara mustahil memiliki nyali memulai perang jika hanya mengandalkan prajurit lemah.

Alicia menyadari energi sang ketua kelas pasti sudah terkuras setelah menahan dan membalikkan serangan sedahsyat itu. Ia melirik ke arah Aray, berharap kakaknya itu baik-baik saja.

Sedangkan Aray masih mencari-cari sosok Devdan, berharap dapat menemukan sang ketua OSIS yang seharusnya bisa diandalkan di saat genting seperti ini. Namun Devdan tak terlihat di manapun.

Sementara itu, Veda sudah kehilangan kesabaran. "Hei, apa aku boleh menyerang lagi?" rengeknya pada rekannya.

"Tentu saja. Kali ini jangan biarkan seranganmu ditahan lagi. Dan jangan sisakan satu pun yang hidup," jawab pria berkacamata itu dingin.

Senyum mengerikan tersungging di bibir Veda. Ia kembali mengangkat tangannya, mengumpulkan energi untuk serangan kedua yang jauh lebih besar.

Jutaan bola hitam seukuran kepalan tangan memenuhi udara, bergerak liar bagai kawanan lalat di atas tumpukan sampah. Jumlah yang lebih dari cukup untuk mengincar setiap murid yang tersisa.

"Kukuku ... rasakanlah ini, para manusia tak berguna!" jerit Veda penuh kepuasan, melepas serangannya tanpa ampun.

Para murid yang masih mampu bertarung bersiap pada posisi masing-masing, namun keraguan dan ketakutan terpancar jelas di mata mereka. Mereka sadar kemungkinan sang ketua kelas sanggup kembali menahan serangan sebesar ini, apalagi setelah mengerahkan begitu banyak energi sebelumnya, sangatlah kecil.

"Semuanya pasang pelindung! Lindungi juga yang terluka sebisa mungkin!" Perintah ketua kelas Unver pada teman-temannya, meski ia sendiri tak yakin itu akan cukup.

Aray memutuskan inilah saatnya ia turun tangan. Namun baru selangkah ia bergerak, mendadak pandangannya menggelap dan tubuhnya kaku tak bisa digerakkan. Kebingungan melanda benaknya, sampai sebuah tepukan mendarat di pundaknya dan seseorang menyapanya riang.

"Yo, Aray!"

Aray mengedipkan mata, penglihatannya kembali normal. Di hadapannya berdiri Devdan sang ketua OSIS bersama Avara. Lega bercampur kesal memenuhi dada Aray. Kemana saja mereka dari tadi?

Mata Aray menyapu sekeliling GOR, dan pemandangan yang tertangkap matanya sungguh di luar dugaan. Waktu seolah membeku. Jutaan bola hitam berhenti bergerak di udara, ekspresi ketakutan para murid membatu, reruntuhan gedung melayang-layang bagai patung. Bahkan kedua penyusup pun mematung tak bergeming.

"Terkejut dengan kemampuanku?" tanya Devdan santai, menyadarkan Aray dari trans singkatnya.

"Tidak juga," dustanya, meski sejujurnya ia memang takjub menyaksikan kemampuan menghentikan waktu yang didambakan umat manusia.

Devdan merangkul pundak Aray akrab. "Ayolah, reaksimu membosankan sekali. Harusnya kau tercengang atau semacamnya," protesnya dengan nada bercanda.

Aray memilih bungkam seribu bahasa. Memasang ekspresi datar adalah opsi terbaik saat ia masih belum bisa memperkirakan motif Devdan yang sebenarnya.

"Jadi, apa rencanamu?"

Pertanyaan Aray membuat cengiran jahil Devdan semakin lebar. "Sebenarnya aku hanya tidak ingin pertarungan ini berakhir membosankan. Mulai sekarang, sisanya kuserahkan padamu."

Aray menatap murid-murid yang membeku dalam posisi konyol, lalu menoleh pada Devdan. "Apa yang terjadi jika aku menyentuh mereka dalam keadaan begini?"

"Tidak ada. Mereka hanya akan bergerak jika aku mengizinkan, seperti yang kulakukan padamu tadi."

Setelah paham, Aray mengangguk. Ia punya rencana.

"Jangan bilang kau mau memindahkan mereka semua satu per satu dari sini," selidik Devdan curiga. "Merepotkan sekali."

"Tentu saja tidak. Aku akan memindahkan semuanya sekaligus agar bisa bertarung tanpa gangguan."

"Caranya?"

Senyum tipis menghiasi bibir Aray. "Lihat saja."

Ptak!

Jentikan jari Aray menggema, dan dalam sekejap, semua murid yang tadinya berkerumun ketakutan di GOR menghilang, berteleportasi ke tempat aman nun jauh di sana.

Mulut Devdan menganga takjub. "Wow! Kau bisa pakai kemampuan teleportasimu seperti itu? Curang!"

"Cukup, kembalikan waktu seperti semula," perintah Aray tak sabar.

"Oke. Unable."

Bersamaan dengan ucapan Devdan, aliran waktu kembali normal. Bola-bola hitam melesat lagi, tepat ke arah Aray yang kini berdiri sendirian.

Pemuda itu memejamkan mata, berkonsentrasi. Tubuh Aray mulai memancarkan aura keemasan yang menyilaukan, persis seperti yang dipancarkan ketua kelas Unver sebelumnya.

"Tidak mungkin! Seranganku dihentikan lagi?" jerit Veda frustrasi mendapati bola-bola hitam ciptaannya sekali lagi tertahan oleh kekuatan misterius.

Si pria berkacamata menyipitkan mata, mencoba mengenali sosok pemuda asing yang telah menggagalkan rencana mereka. Ia baru menyadari hilangnya keberadaan para murid di GOR.

"Siapa kau sebenarnya?"

"Bukan siapa-siapa," balas Aray singkat. Tatapannya setajam belati saat menatap dua penyusup yang menatapnya dengan kombinasi bingung dan merendahkan.

Sekarang, saatnya serangan balasan.

Aray menggerakkan tangannya, mengendalikan jutaan bola hitam yang semula bergerak liar. Dalam kendalinya, bola-bola itu membantu formasi seakan pasukan yang berbaris rapi, melesat bak anak panah ke arah dua penyusup.

Wajah Veda dan rekannya memucat. "Mustahil! Dia juga menguasai telekinesis? Apa dia meniru kemampuan wanita tadi?" desis mereka tak percaya bola-bola hitam itu kini malah balik menyerang.

Namun Aray tak memberi mereka kesempatan berpikir lama. Secepat kilat ia berteleportasi ke belakang kedua penyusup, menepuk pundak mereka.

"Ap-" Belum sempat mereka bereaksi, Aray kembali berteleportasi menjauh dari GOR.

Tanpa pelindung yang biasa mereka pasang, bola-bola hitam itu telak menghantam tubuh kedua penyusup. Ledakan dahsyat kembali mengguncang sekolah, cahaya menyilaukan membutakan mata.

Di kejauhan, Aray memandangi kepulan asap dari GOR yang hancur lebur. Seulas senyum puas tersungging di bibirnya.

"Kalian salah paham. Kemampuanku yang sebenarnya adalah [Perfect Imagination]."

Terpopuler

Comments

IG: _anipri

IG: _anipri

'Perfect Imagination' mantap

2022-07-16

0

Z3R0 :)

Z3R0 :)

🗿curang kekuatan imajinasi bisa buat apapun bahkan mengcopy kekuatan orang lain

2022-05-07

0

Anak Puber

Anak Puber

skill itu bukan cheat lagi, selama kau bisa memikirkan sesuatu dan kekuatanmu cukup, apapun bisa dilakukan :))

Ini mah lebih dari cheat, mc bisa aja gunain skillnya buat jadi Dewa atau menciptakan semesta lain 🗿

2021-09-05

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Upacara pembukaan
3 Perkenalan
4 Devdan Bayanaka
5 Kemampuan & kekuatan
6 Penyerangan
7 Penyerangan 2
8 Ancaman
9 Imajinasi & hal yang nyata
10 Ekspektasi & Realita
11 Wanita Menyebalkan
12 Militer
13 Seleksi
14 Pembunuhan masal
15 Kenangan si pelaku
16 Pleton 1
17 Kebenaran yang tak terduga
18 Penyelamatan
19 Reuni
20 Reuni 2
21 Anggota baru
22 Kejadian yang sama
23 Terlambat
24 Sangat terlambat
25 Masa kecil
26 Rapat
27 2 serangan terakhir
28 Junior yang malas
29 Kesombongan level dewa
30 Pemalas yang jenius
31 Kecurigaan Alicia
32 Pulau Andalas
33 Pulau Andalas 2
34 Pulau Andalas 3
35 Ruang hampa
36 Harapan
37 Pelarian
38 Andai aku
39 Sandiwara
40 Firasat
41 Survival
42 Legenda
43 Dunia Ini Rusak
44 Makhluk Mitologi
45 Peliharaan
46 Keluar
47 Hari-hari terakhir
48 Ujian Penempatan 1
49 Ujian Penempatan 2
50 Ujian Penempatan 3
51 Sadar Akan Diri
52 Sebuah Persiapan
53 Raja?
54 1 Vs 10,000,000
55 Tujuan
56 Eadred
57 Tak Perlu Khawatir
58 Berita Mengejutkan
59 Badan Kepolisian Negara
60 Kamera
61 Kediaman Bayanaka
62 Cilukba
63 Matahari
64 Pulang
65 Meliburkan Diri
66 Diriku Yang Lain
67 Meth
68 Ada Lagi?
69 Rak Hitam
70 Festival Alles 1
71 Festival Alles 2
72 Festival Alles 3
73 Mythomania
74 Kejutan Hart?
75 Akhir Dari Dunia
76 Akhir Dari Dunia 2 - Gavin & Cerberus
77 Akhir Dari Dunia 3 - Kembang Api
78 Akhir Dari Dunia 4 - Zand & Elax
79 Akhir Dari Dunia 5 - Pengetahuan
80 Akhir Dari Dunia 6 - Dewa Imajinasi
81 Akhir Dari Dunia 7 - Janji
82 Akhir Dari Dunia 8 - Timelapse Rewind
83 Akhir Dari Dunia 9 - Devdan Vs Edzard
84 Akhir Dari Dunia 10 - Teh & Biskuit
85 Nomor Telepon
86 Goddin
87 Tamasya
88 Berangkat! - Zand Kingdom
89 Maria Ocean
90 Fellow City
91 Altar
92 Visual
93 Broken House
94 Dandelion City
95 Mata Uang
96 Celah Peraturan
97 Kesalahan
98 Mawar Di Tengah Neraka
99 Evolusi
100 Mata Biru
101 Canggung
102 Laksanakan!
103 Psikis
104 Gagal
105 Hakim Agung
106 Hak-Hak
107 Tak Ada Yang Mustahil
108 Isi Hati
109 Garden Of Death
110 Selanjutnya
111 Visual
112 Psikopat Dermawan
113 Pindah Rumah
114 Denza, Kota Para Dewa
115 Sudut Pandang Yang Berbeda
116 Pertarungan Pembuka
117 Barie Sang Naga Putih
118 Satu Goresan Kecil?
119 Senyuman
120 Rumah Kayu Di Bawah Rembulan [S1-END]
121 Pengumuman yang kemungkinan ga ada yang baca
122 Volume II: Kehidupan Pertama
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Prolog
2
Upacara pembukaan
3
Perkenalan
4
Devdan Bayanaka
5
Kemampuan & kekuatan
6
Penyerangan
7
Penyerangan 2
8
Ancaman
9
Imajinasi & hal yang nyata
10
Ekspektasi & Realita
11
Wanita Menyebalkan
12
Militer
13
Seleksi
14
Pembunuhan masal
15
Kenangan si pelaku
16
Pleton 1
17
Kebenaran yang tak terduga
18
Penyelamatan
19
Reuni
20
Reuni 2
21
Anggota baru
22
Kejadian yang sama
23
Terlambat
24
Sangat terlambat
25
Masa kecil
26
Rapat
27
2 serangan terakhir
28
Junior yang malas
29
Kesombongan level dewa
30
Pemalas yang jenius
31
Kecurigaan Alicia
32
Pulau Andalas
33
Pulau Andalas 2
34
Pulau Andalas 3
35
Ruang hampa
36
Harapan
37
Pelarian
38
Andai aku
39
Sandiwara
40
Firasat
41
Survival
42
Legenda
43
Dunia Ini Rusak
44
Makhluk Mitologi
45
Peliharaan
46
Keluar
47
Hari-hari terakhir
48
Ujian Penempatan 1
49
Ujian Penempatan 2
50
Ujian Penempatan 3
51
Sadar Akan Diri
52
Sebuah Persiapan
53
Raja?
54
1 Vs 10,000,000
55
Tujuan
56
Eadred
57
Tak Perlu Khawatir
58
Berita Mengejutkan
59
Badan Kepolisian Negara
60
Kamera
61
Kediaman Bayanaka
62
Cilukba
63
Matahari
64
Pulang
65
Meliburkan Diri
66
Diriku Yang Lain
67
Meth
68
Ada Lagi?
69
Rak Hitam
70
Festival Alles 1
71
Festival Alles 2
72
Festival Alles 3
73
Mythomania
74
Kejutan Hart?
75
Akhir Dari Dunia
76
Akhir Dari Dunia 2 - Gavin & Cerberus
77
Akhir Dari Dunia 3 - Kembang Api
78
Akhir Dari Dunia 4 - Zand & Elax
79
Akhir Dari Dunia 5 - Pengetahuan
80
Akhir Dari Dunia 6 - Dewa Imajinasi
81
Akhir Dari Dunia 7 - Janji
82
Akhir Dari Dunia 8 - Timelapse Rewind
83
Akhir Dari Dunia 9 - Devdan Vs Edzard
84
Akhir Dari Dunia 10 - Teh & Biskuit
85
Nomor Telepon
86
Goddin
87
Tamasya
88
Berangkat! - Zand Kingdom
89
Maria Ocean
90
Fellow City
91
Altar
92
Visual
93
Broken House
94
Dandelion City
95
Mata Uang
96
Celah Peraturan
97
Kesalahan
98
Mawar Di Tengah Neraka
99
Evolusi
100
Mata Biru
101
Canggung
102
Laksanakan!
103
Psikis
104
Gagal
105
Hakim Agung
106
Hak-Hak
107
Tak Ada Yang Mustahil
108
Isi Hati
109
Garden Of Death
110
Selanjutnya
111
Visual
112
Psikopat Dermawan
113
Pindah Rumah
114
Denza, Kota Para Dewa
115
Sudut Pandang Yang Berbeda
116
Pertarungan Pembuka
117
Barie Sang Naga Putih
118
Satu Goresan Kecil?
119
Senyuman
120
Rumah Kayu Di Bawah Rembulan [S1-END]
121
Pengumuman yang kemungkinan ga ada yang baca
122
Volume II: Kehidupan Pertama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!