"Plasma destroyer!"
Ketika Veda mengucapkan dua kalimat singkat, bola hitam besar yang ia ciptakan perlahan bergerak mendekati para murid, mengikis habis atap GOR sekolah dan membakar tanah di bawahnya walaupun tidak menyentuh permukaan secara langsung. Hawa panas yang dipancarkan bola hitam mengerikan itu membuat keringat membasahi dahi dan punggung para murid.
Namun perempuan yang berdiri paling depan, yang kemungkinan besar adalah ketua kelas Unver, menatap bola hitam itu tanpa gentar. Rambut panjangnya yang dikuncir kuda berkibar diterpa angin panas dari kekuatan dahsyat di hadapannya. Ia menunggu dengan tenang, seolah yakin dapat mengatasi situasi ini.
Ketika jarak antara bola hitam dan ketua kelas Unver hanya tinggal beberapa puluh sentimeter, bola itu mendadak berhenti bergerak, mengambang diam di udara. Para penyusup tak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajah mereka melihat serangan mereka dihentikan dengan begitu mudahnya.
Senyum penuh percaya diri tersunggih di bibir sang ketua kelas Unver. Tanpa memberi kesempatan bagi para penyusup untuk memahami situasi, ia menggerakkan tangannya dan dalam sekejap bola hitam itu berputar arah, melesat kembali ke arah dua penyusup yang masih terpaku bingung.
"Sial–"
Umpatan salah satu penyusup terpotong oleh serangan telak dari senjata yang berbalik menyerang tuannya sendiri. Ledakan dahsyat mengguncang seisi GOR, cahaya menyilaukan menyelubungi seluruh kompleks sekolah.
Asap tebal memenuhi GOR ketika cahaya mulai meredup, menghalangi pandangan para siswa. Mereka saling melempar tatapan cemas dan bertanya-tanya.
"Apakah berhasil?"
Pertanyaan dari salah seorang anak kelas Unver memecah keheningan. Ketua kelas mereka menoleh.
"Belum selesai," jawabnya waspada. Sorot matanya terpaku pada kepulan asap, seakan mampu melihat menembus penghalang itu.
Aray, yang sedari tadi mengamati dalam diam, menyetujui pernyataan sang ketua kelas dalam hati. Ia bisa merasakan pertarungan ini masih jauh dari kata usai.
"Semua siaga!" teriak ketua kelas Unver lantang, memperingatkan semua murid.
Asap perlahan menipis, menampakkan dua sosok yang masih berdiri tegak di antara puing-puing GOR. Tawa melengking Veda memecah ketegangan.
"Hahaha ... sudah lama sejak terakhir kali ada yang bisa menahan seranganku, bahkan melemparnya balik," ujar Veda santai sembari meludah. "Kau beruntung aku sempat memasang pelindung sihir tepat waktu," tambah pria berkacamata di sebelahnya, menepuk-nepuk debu di pundaknya.
Mereka sama sekali tak terluka. Hal itu tak mengejutkan, mengingat negara Utara mustahil memiliki nyali memulai perang jika hanya mengandalkan prajurit lemah.
Alicia menyadari energi sang ketua kelas pasti sudah terkuras setelah menahan dan membalikkan serangan sedahsyat itu. Ia melirik ke arah Aray, berharap kakaknya itu baik-baik saja.
Sedangkan Aray masih mencari-cari sosok Devdan, berharap dapat menemukan sang ketua OSIS yang seharusnya bisa diandalkan di saat genting seperti ini. Namun Devdan tak terlihat di manapun.
Sementara itu, Veda sudah kehilangan kesabaran. "Hei, apa aku boleh menyerang lagi?" rengeknya pada rekannya.
"Tentu saja. Kali ini jangan biarkan seranganmu ditahan lagi. Dan jangan sisakan satu pun yang hidup," jawab pria berkacamata itu dingin.
Senyum mengerikan tersungging di bibir Veda. Ia kembali mengangkat tangannya, mengumpulkan energi untuk serangan kedua yang jauh lebih besar.
Jutaan bola hitam seukuran kepalan tangan memenuhi udara, bergerak liar bagai kawanan lalat di atas tumpukan sampah. Jumlah yang lebih dari cukup untuk mengincar setiap murid yang tersisa.
"Kukuku ... rasakanlah ini, para manusia tak berguna!" jerit Veda penuh kepuasan, melepas serangannya tanpa ampun.
Para murid yang masih mampu bertarung bersiap pada posisi masing-masing, namun keraguan dan ketakutan terpancar jelas di mata mereka. Mereka sadar kemungkinan sang ketua kelas sanggup kembali menahan serangan sebesar ini, apalagi setelah mengerahkan begitu banyak energi sebelumnya, sangatlah kecil.
"Semuanya pasang pelindung! Lindungi juga yang terluka sebisa mungkin!" Perintah ketua kelas Unver pada teman-temannya, meski ia sendiri tak yakin itu akan cukup.
Aray memutuskan inilah saatnya ia turun tangan. Namun baru selangkah ia bergerak, mendadak pandangannya menggelap dan tubuhnya kaku tak bisa digerakkan. Kebingungan melanda benaknya, sampai sebuah tepukan mendarat di pundaknya dan seseorang menyapanya riang.
"Yo, Aray!"
Aray mengedipkan mata, penglihatannya kembali normal. Di hadapannya berdiri Devdan sang ketua OSIS bersama Avara. Lega bercampur kesal memenuhi dada Aray. Kemana saja mereka dari tadi?
Mata Aray menyapu sekeliling GOR, dan pemandangan yang tertangkap matanya sungguh di luar dugaan. Waktu seolah membeku. Jutaan bola hitam berhenti bergerak di udara, ekspresi ketakutan para murid membatu, reruntuhan gedung melayang-layang bagai patung. Bahkan kedua penyusup pun mematung tak bergeming.
"Terkejut dengan kemampuanku?" tanya Devdan santai, menyadarkan Aray dari trans singkatnya.
"Tidak juga," dustanya, meski sejujurnya ia memang takjub menyaksikan kemampuan menghentikan waktu yang didambakan umat manusia.
Devdan merangkul pundak Aray akrab. "Ayolah, reaksimu membosankan sekali. Harusnya kau tercengang atau semacamnya," protesnya dengan nada bercanda.
Aray memilih bungkam seribu bahasa. Memasang ekspresi datar adalah opsi terbaik saat ia masih belum bisa memperkirakan motif Devdan yang sebenarnya.
"Jadi, apa rencanamu?"
Pertanyaan Aray membuat cengiran jahil Devdan semakin lebar. "Sebenarnya aku hanya tidak ingin pertarungan ini berakhir membosankan. Mulai sekarang, sisanya kuserahkan padamu."
Aray menatap murid-murid yang membeku dalam posisi konyol, lalu menoleh pada Devdan. "Apa yang terjadi jika aku menyentuh mereka dalam keadaan begini?"
"Tidak ada. Mereka hanya akan bergerak jika aku mengizinkan, seperti yang kulakukan padamu tadi."
Setelah paham, Aray mengangguk. Ia punya rencana.
"Jangan bilang kau mau memindahkan mereka semua satu per satu dari sini," selidik Devdan curiga. "Merepotkan sekali."
"Tentu saja tidak. Aku akan memindahkan semuanya sekaligus agar bisa bertarung tanpa gangguan."
"Caranya?"
Senyum tipis menghiasi bibir Aray. "Lihat saja."
Ptak!
Jentikan jari Aray menggema, dan dalam sekejap, semua murid yang tadinya berkerumun ketakutan di GOR menghilang, berteleportasi ke tempat aman nun jauh di sana.
Mulut Devdan menganga takjub. "Wow! Kau bisa pakai kemampuan teleportasimu seperti itu? Curang!"
"Cukup, kembalikan waktu seperti semula," perintah Aray tak sabar.
"Oke. Unable."
Bersamaan dengan ucapan Devdan, aliran waktu kembali normal. Bola-bola hitam melesat lagi, tepat ke arah Aray yang kini berdiri sendirian.
Pemuda itu memejamkan mata, berkonsentrasi. Tubuh Aray mulai memancarkan aura keemasan yang menyilaukan, persis seperti yang dipancarkan ketua kelas Unver sebelumnya.
"Tidak mungkin! Seranganku dihentikan lagi?" jerit Veda frustrasi mendapati bola-bola hitam ciptaannya sekali lagi tertahan oleh kekuatan misterius.
Si pria berkacamata menyipitkan mata, mencoba mengenali sosok pemuda asing yang telah menggagalkan rencana mereka. Ia baru menyadari hilangnya keberadaan para murid di GOR.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Bukan siapa-siapa," balas Aray singkat. Tatapannya setajam belati saat menatap dua penyusup yang menatapnya dengan kombinasi bingung dan merendahkan.
Sekarang, saatnya serangan balasan.
Aray menggerakkan tangannya, mengendalikan jutaan bola hitam yang semula bergerak liar. Dalam kendalinya, bola-bola itu membantu formasi seakan pasukan yang berbaris rapi, melesat bak anak panah ke arah dua penyusup.
Wajah Veda dan rekannya memucat. "Mustahil! Dia juga menguasai telekinesis? Apa dia meniru kemampuan wanita tadi?" desis mereka tak percaya bola-bola hitam itu kini malah balik menyerang.
Namun Aray tak memberi mereka kesempatan berpikir lama. Secepat kilat ia berteleportasi ke belakang kedua penyusup, menepuk pundak mereka.
"Ap-" Belum sempat mereka bereaksi, Aray kembali berteleportasi menjauh dari GOR.
Tanpa pelindung yang biasa mereka pasang, bola-bola hitam itu telak menghantam tubuh kedua penyusup. Ledakan dahsyat kembali mengguncang sekolah, cahaya menyilaukan membutakan mata.
Di kejauhan, Aray memandangi kepulan asap dari GOR yang hancur lebur. Seulas senyum puas tersungging di bibirnya.
"Kalian salah paham. Kemampuanku yang sebenarnya adalah [Perfect Imagination]."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
IG: _anipri
'Perfect Imagination' mantap
2022-07-16
0
Z3R0 :)
🗿curang kekuatan imajinasi bisa buat apapun bahkan mengcopy kekuatan orang lain
2022-05-07
0
Anak Puber
skill itu bukan cheat lagi, selama kau bisa memikirkan sesuatu dan kekuatanmu cukup, apapun bisa dilakukan :))
Ini mah lebih dari cheat, mc bisa aja gunain skillnya buat jadi Dewa atau menciptakan semesta lain 🗿
2021-09-05
0