15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens

Zeze dibawa ke sebuah ruangan putih bernuansa rumah. Terdapat dua set sofa panjang membentuk huruf L dan dua sofa single yang melengkapi susunannya menjadi huruf U. Di pusat susunan sofa itu diletakkan sebuah meja empuk yang bisa digunakan untuk menampung kaki. Salah satu dinding terbuat dari kaca, menyajikan keasrian hutan dan kebun di belakang Akademi Exousia. Ruangan itu bahkan memiliki perapiannya sendiri, dengan TV di atasnya yang bersinggungan dengan dinding bata putih. Zeze baru tahu ada tempat semacam itu di sebuah sekolah.

"Yang lain mungkin sudah kembali ke kelas masing-masing," Airo bermonolog dengan acuh tak acuh.

Zeze meliriknya dengan tenang, namun amarah Airo justru tersulut karenanya. "Apa kau bodoh? Bagaimana kau bisa terlibat dengannya?"

Alis Zeze bertaut saat bertanya, "Apa maksudmu?"

Airo memutar bola matanya, "Glen Leios. Untuk apa kau berurusan dengan orang seperti dia?"

Benih ketertarikan mulai tumbuh di mata Zeze. Kukira dia sedang membicarakan adiknya. "Orang seperti apa yang kau maksudkan?"

"Cukup Airo, dan jaga mulutmu!" Volta menatap lelaki itu penuh peringatan. Saat tatapannya kembali pada Zeze, hanya kelembutan yang tersisa. "Lewat sini, Yang Mulia."

Volta membimbing Zeze ke kamar mandi di sudut. Walaupun telah dilarang masuk oleh Zeze, Volta mengabaikannya dengan alasan klise 'kewajiban melayani keturunan kerajaan'. Zeze yang telah lelah berdebat hanya bisa pasrah saat dibantu membersihkan diri oleh Volta dan satu orang wanita berseragam pelayan yang telah menunggu di dalam.

Hampir setengah jam kemudian, Zeze akhirnya dibebaskan. Setelah selesai berpakaian dengan hoodie putih yang kebesaran di tubuhnya—ia yakin itu milik laki-laki—ia langsung mengempaskan diri ke sofa, menonton TV sekaligus menikmati segelas cokelat panas. Mengingat suhu penghujung musim gugur lumayan dingin sebagai penanda bahwa tak lama lagi salju akan turun, ia pun menenggelamkam diri di dalam balutan bedcover hitam.

Volta tidak menyusul Airo kembali ke kelas dengan alasan yang sama, kewajiban. Dia bergabung bersama Zeze di ruang duduk, menempati sebuah sofa single yang berlokasi di sebelah kiri Zeze.

Tak ada percakapan. Zeze terpaku pada acara di TV, sementara Volta sibuk melakukan sesuatu di sebuah tablet. Tebakan Zeze adalah mendesain, dan ia sungguh penasaran dengan hasilnya. Zeze adalah jenis orang yang tertarik menonton detik-detik lahirnya sebuah karya seni, sekalipun ia tidak mengerti apa pun soal itu. Namun, rasa segan menahan keinginannya untuk merapat pada putri Duke Gahernam itu. Hanya dua kali Zeze berbicara padanya. Satu, untuk menanyakan soal ruangan yang sekarang sedang ia tempati.

"Ini adalah ruangan pribadi Pangeran Kion," begitu jawabannya.

Dua, dipicu oleh ucapan Airo satu jam sebelumnya. "Hei, apakah ada masalah dengan orang bernama Glen itu?"

Kali ini jawaban itu tak langsung terlontar, Volta kelihatan kesulitan menyusun kata. "Eh, oh, y—ya. Dia... dia orang yang cukup... bagaimana aku mengatakannya? Uh, problematik?"

"Apa tepatnya 'problematik' yang kaumaksud?" Tanya Zeze, lalu terdiam saat melihat wajah serba salah Volta. "Aku punya gadget pengacau sinyal alat penyadap."

"Bukannya saya takut percakapan kita akan disadap...."

"Singkat saja, kumohon? Daripada aku penasaran dan berujung mengulik sendiri hal yang sepertinya 'rahasia' ini?

Volta menghela napas, "Ini berkaitan dengan ibunya. Ibunya adalah seorang kriminal yang merugikan kerajaan."

"Apa-apaan?" Zeze mengerutkan kening, agak jijik, "Artinya yang problematik adalah wanita itu, bukan? Dia sama sekali tidak ada kaitannya. Dosa orangtua sama sekali bukan tanggungan anak."

"Saya tidak tahu bagaimana kultur di tempat Anda tinggal sebelum Anda datang kemari, tetapi di sini reputasimu tidak ditentukan oleh dirimu saja. Karenanya penting untuk memutus ikatan dengan keluarga atau kerabat yang berpotensi menciptakan skandal."

"Agar kau tidak terkena getahnya? Itukah mengapa dia diperlakukan seperti itu? Karena dia masih tetap mempertahankan marga ibunya?"

Volta mengangguk; Zeze terdiam, mata ke TV, merenungkan percakapan mereka dan mengkritisinya dengan keras. Sungguh di luar nalar! Tidak masuk di akal! Jika aku harus menanggung konsekuensi dari kesalahan orang lain, lebih baik aku tidak pernah mengenal orang tersebut. Ini sama sekali tidak adil bagi Glen.

"Mengapa dia tidak pindah saja?" Apa dia masokis atau semacamnya?

"Saya tidak tahu, Yang Mulia."

Diserang lelah dan kantuk, pertahanan diri Zeze akhirnya jebol sehingga ia berakhir tertidur di atas sofa. Volta sudah berusaha membujuknya untuk mempergunakan kamar yang ada, tapi Zeze terlalu keras kepala. Bertahun-tahun dirinya jarang merasakan empuknya kasur. Meringkuk di atas sebuah bidang sempit seperti sofa sudah menjadi suatu kebiasaan baginya, dan dapat memberinya rasa aman yang aneh. Sendirian di tempat yang tersisa hanya untuk diri sendiri rasanya jauh lebih baik.

Zeze terlelap sampai jam pelajaran terakhir usai, karena terlalu lelah, dan selama itu pula Volta menemaninya. Saat Zeze mengutarakan keinginannya untuk menjemput ransel abu-abunya, Volta langsung meletakkan tablet di sofa dan berdiri, menunjukkan bahwa ia siap untuk mengantarnya ke kelas. Namun kali ini Zeze menolak dengan tegas, sehingga Volta berakhir menunggu seorang diri di ruangan itu. Volta telah berpesan pada Zeze agar dia kembali ke ruangan itu, namun tidak ada tanggapan pasti darinya.

Koridor lantai empat telah sepi. Hanya satu-dua orang yang berpapasan dengannya, membuatnya menduga bahwa kelasnya telah kosong, sehingga ia optimis tak ada lagi tatapan mata yang bakal mengusik.

Ternyata, ia keliru. Di pojok ruangan, bertepat di sebelah kursinya, ada dia. Kepalanya tertunduk, pena di tangan kanan bergerak-gerak lembut, menggores kertas di atas meja.

Kaki Zeze melanjutkan rangkaian langkah yang tersangkut di ambang pintu. Ia tahu Glen menyadari kehadirannya bahkan saat dirinya masih melintasi koridor. Namun menerima kenyataan bahwa Glen tidak mencoba untuk menghindarinya, mustahil ia tidak terkesima.

Alih-alih mengambil ransel, Zeze justru menempati kursinya sendiri, duduk agak condong ke kanan, bertopang dagu, dengan tekun menyimak tangan Glen yang sedang menari di atas sebuah buku tulis.

Tangan itu bergerak kelewat anggun, melukis keindahan berwujud tulisan.

Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens

Zeze familier dengan kalimat itu; penggalan lirik sebuah lagu yang dahulu sering mereka bertiga dengarkan lewat tape jadul milik Glen. Ya, dulu. Ketika mengingat momen-momen berharga itu, mata birunya tak mampu menyembunyikan kesenduan yang datang.

"Tidak ada kesimpulan kali ini?" Tiba-tiba Glen bertanya tanpa mengangkat pandangannya dari buku.

Alis Zeze bertaut, pertanyaan itu membingungkannya. Sorot matanya menuntut penjelasan dari Glen, yang malah tersenyum miring dan melontarkan ledekan, "Apa kejadian tadi memperlambat otak supermu itu?"

Zeze bangkit menuju kursi di depan meja Glen, memutar kursi itu menghadap Glen dan mendudukinya. Melipat kedua tangan di atas meja di antara mereka, Zeze kemudian menjawab, "Aku dapat satu satu informasi, dan aku kurang menyukainya."

Glen membaringkan brush pen-nya di atas meja dan mendongak, untuk pertama kalinya menatap ke dalam sepasang mata beriris biru langit yang memancarkan tekad. Zeze tahu arti dari tatapan itu; sebuah tatapan milik seseorang yang sedang merasa kecewa, dan... bersalah.

Kening Zeze berkerut, ada apa?

"Menjauhlah."

Mata Zeze terbelalak, sejurus kemudian menyipit, "Sudah kubilang kau tidak punya hak untuk mengaturku," balasnya sengit.

"Maka aku yang akan menjauh."

"Kalau begitu lakukan. Aku hanya perlu mendekat. Gampang."

Balasan ringan Zeze adalah hantaman yang cukup kuat untuk mendorong tubuh Glen hingga mentok ke kursi. Zeze menyeringai menang menyaksikan kekalahannya. Didorongnya meja di antara mereka seraya menarik kursinya sendiri mendekati Glen, kemudian ditopangnya pipi dengan punggung tangan, "Soal kesimpulan... aku hanya dapat satu yang pasti."

Glen memejamkan mata dan melipat kedua tangannya di dada.

"Kau membuat orang gila menyebalkan itu merasakan tendanganku agar dia tidak hadir di sekolah," jelas Zeze perlahan-lahan.

Glen masih membatu. Tapi Zeze tahu dia mendengarkan, maka ia menyambung kalimatnya setelah jeda sebentar, "untuk mengulur waktu, dengan begitu dia tidak akan bisa menggangguku."

Melipat kedua tangannya di atas meja, Zeze menempatkan dagunya di sana. "Baik sekali," imbuhnya. Suaranya melirih dengan kesan meledek.

Mata Glen terbuka. Ditatapnya sepasang iris biru yang memancarkan ejekan itu tanpa memberi sedikit pun balasan.

"Glen, bagaimana kabar Ayah?" Tanya Zeze sambil lalu.

Tak menemukan tanda Glen akan menjawab, Zeze mengerucutkan bibir, kemudian berlagak menggerutu, "Kurasa aku harus memastikan sendiri untuk menjawab pertanyaanku."

Glen terbatuk, "Dia baik, jadi jangan coba-coba," ancamnya cepat.

Zeze menertawakan reaksinya. Usai menuntaskan humor, matanya dengan cepat menjelajahi wajah Glen. "Tidak ada yang memukulimu hari ini?"

"Kau ingin aku dipukuli?" Glen balik bertanya. Dengan tangan tertumpuk rapi di atas meja, ia memajukan tubuh seraya menyodorkan pipinya kepada Zeze.

Zeze terkejut bukan main atas tindakan itu. Otomatis dia meluruskan tubuh hingga membentur punggung kursi.

"Bolehkah aku meminta hukumanku hari ini?" Tanya Glen. Suaranya berat dan dalam seperti biasa, namun entah mengapa terdengar pedih di telinga Zeze.

Bibir Zeze menggantung tanpa suara. Matanya menatap kosong ke depan. Diabaikan oleh Glen jauh lebih baik baginya ketimbang harus mendengar nada menyakitkan dalam suaranya seperti tadi.

Zeze meneguk kasar ludahnya, lalu tersenyum, berusaha keras bersikap ringan. "Well, setelah dipikir lagi, kau memang banyak salah kepadaku." Ia mencoba memperdengarkan nada penuh gurauan. Sepertinya gagal.

Tak ada balasan dari Glen, kecuali bibirnya yang tersenyum masam. Lagi-lagi Zeze meneguk ludah. Menyakitkan. Ada apa dengan Glen yang cuek dan dingin seperti biasanya?

Sudut mata Zeze berkerut-kerut, menahan butiran air yang bisa tumpah kapan saja. Tangannya terkepal erat di atas meja, kuku-kuku jari menusuk kuat telapak tangan hingga membuatnya kesakitan sendiri. Pelan dan ragu ia mengangkat tangan kanannya, membawanya ke depan dengan gerakan kelewat lamban.

Masih dengan senyum di bibir, Glen memejamkan mata. Ia serahkan semuanya kepada gadis di hadapannya. Ia pasrahkan semua bahkan jika tangan lentik itu berencana untuk merusak wajahnya.

Sekian detik berselang, Glen akhirnya merasakan sentuhan di kedua pipinya. Namun sentuhan itu tidaklah menyakitkan sehingga membuat penyelasan merangkak di tulang punggungnya. Harusnya ia merasakan sakit. Sentuhan selembut itu tidak pantas untuk ia terima.

Alih-alih pukulan, wajahnya justru menerima rengkuhan dari sepasang tangan yang terasa sehangat mentari.

"Glen, jika menurutmu surga adalah tempat di mana semua hal tidak pernah terjadi, kurasa itu bukanlah surgaku."

Mata Glen bergetar di balik kacamatanya. Namun tak kunjung terbuka, ia tidak ingin membukanya.

"Karena bagiku, surga adalah tempat di mana aku bisa menghabiskan setiap detikku bersamamu."

Tangan hangat itu mengusap pelan pipi yang membeku, menyalurkan kehangatannya.

"Aku tidak akan menghukummu. Karena kurasa... semua yang terjadi padamu—pada kita bertiga—selama ini sudah merupakan hukuman. Jika kau menginginkan lebih, sebaiknya kau masuk neraka."

Kedua tangan itu memberikan sedikit tekanan pada pipinya.

"Dan hukum dirimu sendiri."

\=\=\=\=\=\=\=

Sendu amat kalian 🤧

Terpopuler

Comments

🌸Ar_Vi🌸

🌸Ar_Vi🌸

ini ceritanya glen & zeze dalem banget.. 🥺🥺
tapi membingungkan.. 🙄

2023-03-27

1

Rani

Rani

zeze, glen, obi gue berulang2 lo bcanya sampai2 gue hafal tpi nggak semuanya😊 saking sukax sma novel ini.

2020-08-28

4

miaw miaw

miaw miaw

bertiga itu siapa saja ya?

2020-07-10

3

lihat semua
Episodes
1 1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2 2. Started
3 3. Cracked Mask
4 4. Fiancé
5 5. Whisper
6 6. Academy
7 7. Empty Chair
8 8. Untitled
9 9. Goddess
10 10. Orange
11 11. Idiot
12 12. Red Rose
13 13. Smooth Criminal
14 14. New Toy
15 15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16 16. Punishment
17 17. Misner Space
18 18. Light
19 19. Deal
20 20. Cemetery
21 21. Rozeale Ankhatia
22 22. If It Was You
23 23. Old Friend
24 24. Falling
25 25. Imbalance
26 26. Struggle
27 27. The Healer
28 28. Reset
29 29. Fairytale
30 30. Forgotten
31 31. Debutante
32 32. Silly
33 33. Artemis
34 34. Partner In Crime
35 35. Nuts
36 36. Framed
37 37. Cola
38 38. Bored
39 39. Variable
40 40. Help!
41 41. Zero
42 42. Trick Or Treat?
43 43. The Game
44 44. Chapter Two
45 45. Continued
46 pengumuman: CAST
47 46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48 47. Lust
49 48. Home
50 49. Right Side
51 50. Riddle
52 51. Decode
53 52. Sweet Seventeen
54 53. Spring Cup
55 54. Mystery
56 55. Mr. Rious
57 56. Interrogation
58 57. Database
59 58. Dancing
60 59. Suspect
61 60. May, 1st
62 61. UNO
63 62. Damn
64 63. Wait For Me
65 64. Sacrifice
66 65. Bloody Rose
67 66. Raflesia
68 67. Lottery
69 68. Racing
70 69. Asanatha
71 70. Bury The Hatchet
72 71. Tree
73 72. The Winner
74 73. Healed
75 74. Reminisce
76 75. Andromeda
77 76. Grim
78 77. Farewell
79 78. Encounter
80 79. Sleep
81 80. Once Upon A Time
82 81. Prison
83 82. Open
84 83. Falsity
85 84. Second Meeting
86 85. Axiom
87 86. Helpless
88 87. Misfortune
89 88. Animus
90 CHAPTER BONUS [1-A]
91 CHAPTER BONUS [1-B]
92 CHAPTER BONUS [2-A]
93 CHAPTER BONUS [2-B]
94 CHAPTER BONUS [3-A]
95 CHAPTER BONUS [3-B]
96 CHAPTER BONUS [4-A]
97 CHAPTER BONUS [4-B]
98 89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99 90. Crestfallen
100 91. Agreement
101 92. Pizza Delivery (Part 1)
102 93. Pizza Delivery (Part 2)
103 94. Narrow (Part 1)
104 95. Narrow (Part 2)
105 96. Possessed
106 97. Sorrow (Part 1)
107 98. Sorrow (Part 2)
108 99. Jack O'Lantern
109 100. Beginning Of The End
110 101. Laxity
111 102. Savior
112 103. Hostage
113 104. Bad Idea
114 105. Underestimate
115 106. Memorials
116 107. Solving
117 108. Misunderstanding
118 109. Curiosity Killed The Cat
119 110. Agony
120 111. Distancing
121 112. Foolish
122 113. Fall To Pieces
123 114. Aphrodite
124 115. Loosing Grip
125 116. Insanity
126 117. Ruthless
127 118. Ignorance
128 119. Hypocrisy
129 120. Complicated
130 121. Dignity
131 122. Stupidity
132 123. Catacombs
133 124. Absurd
134 125. Backlash
135 126. Vanished
136 127. Break Free
137 128. Darkness In The Light
138 129. Ambush On All Sides
139 130. Mare's Nest
140 131. Tenet
141 132. Clandestine
142 133. Judas
143 134. Sinister
144 135. Desire
145 136. Ares
146 137. Embrace
147 138. Up In The Air
148 139. Prejudice
149 pengumuman: LIST TOKOH
150 140. Diverge
151 141. Noticed
152 142. Float Kiss
153 143. Liars
154 144. Reunion
155 145. The Answer
156 146. Liberated
157 147. Carnage
158 148. Vendetta
159 149. 1 Stone For 2 Birds
160 150. Better Place
161 151. Pleasure
162 152. Trust & Hope
163 153. Rest
164 154. Good & Bad News
165 155. Bald Cypress
166 156. Leave
167 157. Painful
168 158. Invitation
169 159. A Guest
170 160. Piece Of Art
171 161. Aware
172 162. Journey
173 163. Inland
174 164. Westafo Hall
175 pengumuman: BREAK
176 165. Madam Derba
177 166. Good Side
178 167. The Stage
179 168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180 169. Deception
181 170. Evaluate
182 171. Dissent
183 172. Gratuitous
184 173. Departure
185 174. Voyage
186 175. Almost
187 176. Anger
188 177. Scratches
189 178. Discover
190 179. Out of Control
191 180. Perforce
192 181. Her
193 182. Myth
194 183. Him
195 184. Bleeding
196 185. Perfidy
197 186. Take Me Out of This Town
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2
2. Started
3
3. Cracked Mask
4
4. Fiancé
5
5. Whisper
6
6. Academy
7
7. Empty Chair
8
8. Untitled
9
9. Goddess
10
10. Orange
11
11. Idiot
12
12. Red Rose
13
13. Smooth Criminal
14
14. New Toy
15
15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16
16. Punishment
17
17. Misner Space
18
18. Light
19
19. Deal
20
20. Cemetery
21
21. Rozeale Ankhatia
22
22. If It Was You
23
23. Old Friend
24
24. Falling
25
25. Imbalance
26
26. Struggle
27
27. The Healer
28
28. Reset
29
29. Fairytale
30
30. Forgotten
31
31. Debutante
32
32. Silly
33
33. Artemis
34
34. Partner In Crime
35
35. Nuts
36
36. Framed
37
37. Cola
38
38. Bored
39
39. Variable
40
40. Help!
41
41. Zero
42
42. Trick Or Treat?
43
43. The Game
44
44. Chapter Two
45
45. Continued
46
pengumuman: CAST
47
46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48
47. Lust
49
48. Home
50
49. Right Side
51
50. Riddle
52
51. Decode
53
52. Sweet Seventeen
54
53. Spring Cup
55
54. Mystery
56
55. Mr. Rious
57
56. Interrogation
58
57. Database
59
58. Dancing
60
59. Suspect
61
60. May, 1st
62
61. UNO
63
62. Damn
64
63. Wait For Me
65
64. Sacrifice
66
65. Bloody Rose
67
66. Raflesia
68
67. Lottery
69
68. Racing
70
69. Asanatha
71
70. Bury The Hatchet
72
71. Tree
73
72. The Winner
74
73. Healed
75
74. Reminisce
76
75. Andromeda
77
76. Grim
78
77. Farewell
79
78. Encounter
80
79. Sleep
81
80. Once Upon A Time
82
81. Prison
83
82. Open
84
83. Falsity
85
84. Second Meeting
86
85. Axiom
87
86. Helpless
88
87. Misfortune
89
88. Animus
90
CHAPTER BONUS [1-A]
91
CHAPTER BONUS [1-B]
92
CHAPTER BONUS [2-A]
93
CHAPTER BONUS [2-B]
94
CHAPTER BONUS [3-A]
95
CHAPTER BONUS [3-B]
96
CHAPTER BONUS [4-A]
97
CHAPTER BONUS [4-B]
98
89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99
90. Crestfallen
100
91. Agreement
101
92. Pizza Delivery (Part 1)
102
93. Pizza Delivery (Part 2)
103
94. Narrow (Part 1)
104
95. Narrow (Part 2)
105
96. Possessed
106
97. Sorrow (Part 1)
107
98. Sorrow (Part 2)
108
99. Jack O'Lantern
109
100. Beginning Of The End
110
101. Laxity
111
102. Savior
112
103. Hostage
113
104. Bad Idea
114
105. Underestimate
115
106. Memorials
116
107. Solving
117
108. Misunderstanding
118
109. Curiosity Killed The Cat
119
110. Agony
120
111. Distancing
121
112. Foolish
122
113. Fall To Pieces
123
114. Aphrodite
124
115. Loosing Grip
125
116. Insanity
126
117. Ruthless
127
118. Ignorance
128
119. Hypocrisy
129
120. Complicated
130
121. Dignity
131
122. Stupidity
132
123. Catacombs
133
124. Absurd
134
125. Backlash
135
126. Vanished
136
127. Break Free
137
128. Darkness In The Light
138
129. Ambush On All Sides
139
130. Mare's Nest
140
131. Tenet
141
132. Clandestine
142
133. Judas
143
134. Sinister
144
135. Desire
145
136. Ares
146
137. Embrace
147
138. Up In The Air
148
139. Prejudice
149
pengumuman: LIST TOKOH
150
140. Diverge
151
141. Noticed
152
142. Float Kiss
153
143. Liars
154
144. Reunion
155
145. The Answer
156
146. Liberated
157
147. Carnage
158
148. Vendetta
159
149. 1 Stone For 2 Birds
160
150. Better Place
161
151. Pleasure
162
152. Trust & Hope
163
153. Rest
164
154. Good & Bad News
165
155. Bald Cypress
166
156. Leave
167
157. Painful
168
158. Invitation
169
159. A Guest
170
160. Piece Of Art
171
161. Aware
172
162. Journey
173
163. Inland
174
164. Westafo Hall
175
pengumuman: BREAK
176
165. Madam Derba
177
166. Good Side
178
167. The Stage
179
168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180
169. Deception
181
170. Evaluate
182
171. Dissent
183
172. Gratuitous
184
173. Departure
185
174. Voyage
186
175. Almost
187
176. Anger
188
177. Scratches
189
178. Discover
190
179. Out of Control
191
180. Perforce
192
181. Her
193
182. Myth
194
183. Him
195
184. Bleeding
196
185. Perfidy
197
186. Take Me Out of This Town

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!