Zeze dibawa ke sebuah ruangan putih bernuansa rumah. Terdapat dua set sofa panjang membentuk huruf L dan dua sofa single yang melengkapi susunannya menjadi huruf U. Di pusat susunan sofa itu diletakkan sebuah meja empuk yang bisa digunakan untuk menampung kaki. Salah satu dinding terbuat dari kaca, menyajikan keasrian hutan dan kebun di belakang Akademi Exousia. Ruangan itu bahkan memiliki perapiannya sendiri, dengan TV di atasnya yang bersinggungan dengan dinding bata putih. Zeze baru tahu ada tempat semacam itu di sebuah sekolah.
"Yang lain mungkin sudah kembali ke kelas masing-masing," Airo bermonolog dengan acuh tak acuh.
Zeze meliriknya dengan tenang, namun amarah Airo justru tersulut karenanya. "Apa kau bodoh? Bagaimana kau bisa terlibat dengannya?"
Alis Zeze bertaut saat bertanya, "Apa maksudmu?"
Airo memutar bola matanya, "Glen Leios. Untuk apa kau berurusan dengan orang seperti dia?"
Benih ketertarikan mulai tumbuh di mata Zeze. Kukira dia sedang membicarakan adiknya. "Orang seperti apa yang kau maksudkan?"
"Cukup Airo, dan jaga mulutmu!" Volta menatap lelaki itu penuh peringatan. Saat tatapannya kembali pada Zeze, hanya kelembutan yang tersisa. "Lewat sini, Yang Mulia."
Volta membimbing Zeze ke kamar mandi di sudut. Walaupun telah dilarang masuk oleh Zeze, Volta mengabaikannya dengan alasan klise 'kewajiban melayani keturunan kerajaan'. Zeze yang telah lelah berdebat hanya bisa pasrah saat dibantu membersihkan diri oleh Volta dan satu orang wanita berseragam pelayan yang telah menunggu di dalam.
Hampir setengah jam kemudian, Zeze akhirnya dibebaskan. Setelah selesai berpakaian dengan hoodie putih yang kebesaran di tubuhnya—ia yakin itu milik laki-laki—ia langsung mengempaskan diri ke sofa, menonton TV sekaligus menikmati segelas cokelat panas. Mengingat suhu penghujung musim gugur lumayan dingin sebagai penanda bahwa tak lama lagi salju akan turun, ia pun menenggelamkam diri di dalam balutan bedcover hitam.
Volta tidak menyusul Airo kembali ke kelas dengan alasan yang sama, kewajiban. Dia bergabung bersama Zeze di ruang duduk, menempati sebuah sofa single yang berlokasi di sebelah kiri Zeze.
Tak ada percakapan. Zeze terpaku pada acara di TV, sementara Volta sibuk melakukan sesuatu di sebuah tablet. Tebakan Zeze adalah mendesain, dan ia sungguh penasaran dengan hasilnya. Zeze adalah jenis orang yang tertarik menonton detik-detik lahirnya sebuah karya seni, sekalipun ia tidak mengerti apa pun soal itu. Namun, rasa segan menahan keinginannya untuk merapat pada putri Duke Gahernam itu. Hanya dua kali Zeze berbicara padanya. Satu, untuk menanyakan soal ruangan yang sekarang sedang ia tempati.
"Ini adalah ruangan pribadi Pangeran Kion," begitu jawabannya.
Dua, dipicu oleh ucapan Airo satu jam sebelumnya. "Hei, apakah ada masalah dengan orang bernama Glen itu?"
Kali ini jawaban itu tak langsung terlontar, Volta kelihatan kesulitan menyusun kata. "Eh, oh, y—ya. Dia... dia orang yang cukup... bagaimana aku mengatakannya? Uh, problematik?"
"Apa tepatnya 'problematik' yang kaumaksud?" Tanya Zeze, lalu terdiam saat melihat wajah serba salah Volta. "Aku punya gadget pengacau sinyal alat penyadap."
"Bukannya saya takut percakapan kita akan disadap...."
"Singkat saja, kumohon? Daripada aku penasaran dan berujung mengulik sendiri hal yang sepertinya 'rahasia' ini?
Volta menghela napas, "Ini berkaitan dengan ibunya. Ibunya adalah seorang kriminal yang merugikan kerajaan."
"Apa-apaan?" Zeze mengerutkan kening, agak jijik, "Artinya yang problematik adalah wanita itu, bukan? Dia sama sekali tidak ada kaitannya. Dosa orangtua sama sekali bukan tanggungan anak."
"Saya tidak tahu bagaimana kultur di tempat Anda tinggal sebelum Anda datang kemari, tetapi di sini reputasimu tidak ditentukan oleh dirimu saja. Karenanya penting untuk memutus ikatan dengan keluarga atau kerabat yang berpotensi menciptakan skandal."
"Agar kau tidak terkena getahnya? Itukah mengapa dia diperlakukan seperti itu? Karena dia masih tetap mempertahankan marga ibunya?"
Volta mengangguk; Zeze terdiam, mata ke TV, merenungkan percakapan mereka dan mengkritisinya dengan keras. Sungguh di luar nalar! Tidak masuk di akal! Jika aku harus menanggung konsekuensi dari kesalahan orang lain, lebih baik aku tidak pernah mengenal orang tersebut. Ini sama sekali tidak adil bagi Glen.
"Mengapa dia tidak pindah saja?" Apa dia masokis atau semacamnya?
"Saya tidak tahu, Yang Mulia."
Diserang lelah dan kantuk, pertahanan diri Zeze akhirnya jebol sehingga ia berakhir tertidur di atas sofa. Volta sudah berusaha membujuknya untuk mempergunakan kamar yang ada, tapi Zeze terlalu keras kepala. Bertahun-tahun dirinya jarang merasakan empuknya kasur. Meringkuk di atas sebuah bidang sempit seperti sofa sudah menjadi suatu kebiasaan baginya, dan dapat memberinya rasa aman yang aneh. Sendirian di tempat yang tersisa hanya untuk diri sendiri rasanya jauh lebih baik.
Zeze terlelap sampai jam pelajaran terakhir usai, karena terlalu lelah, dan selama itu pula Volta menemaninya. Saat Zeze mengutarakan keinginannya untuk menjemput ransel abu-abunya, Volta langsung meletakkan tablet di sofa dan berdiri, menunjukkan bahwa ia siap untuk mengantarnya ke kelas. Namun kali ini Zeze menolak dengan tegas, sehingga Volta berakhir menunggu seorang diri di ruangan itu. Volta telah berpesan pada Zeze agar dia kembali ke ruangan itu, namun tidak ada tanggapan pasti darinya.
Koridor lantai empat telah sepi. Hanya satu-dua orang yang berpapasan dengannya, membuatnya menduga bahwa kelasnya telah kosong, sehingga ia optimis tak ada lagi tatapan mata yang bakal mengusik.
Ternyata, ia keliru. Di pojok ruangan, bertepat di sebelah kursinya, ada dia. Kepalanya tertunduk, pena di tangan kanan bergerak-gerak lembut, menggores kertas di atas meja.
Kaki Zeze melanjutkan rangkaian langkah yang tersangkut di ambang pintu. Ia tahu Glen menyadari kehadirannya bahkan saat dirinya masih melintasi koridor. Namun menerima kenyataan bahwa Glen tidak mencoba untuk menghindarinya, mustahil ia tidak terkesima.
Alih-alih mengambil ransel, Zeze justru menempati kursinya sendiri, duduk agak condong ke kanan, bertopang dagu, dengan tekun menyimak tangan Glen yang sedang menari di atas sebuah buku tulis.
Tangan itu bergerak kelewat anggun, melukis keindahan berwujud tulisan.
Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
Zeze familier dengan kalimat itu; penggalan lirik sebuah lagu yang dahulu sering mereka bertiga dengarkan lewat tape jadul milik Glen. Ya, dulu. Ketika mengingat momen-momen berharga itu, mata birunya tak mampu menyembunyikan kesenduan yang datang.
"Tidak ada kesimpulan kali ini?" Tiba-tiba Glen bertanya tanpa mengangkat pandangannya dari buku.
Alis Zeze bertaut, pertanyaan itu membingungkannya. Sorot matanya menuntut penjelasan dari Glen, yang malah tersenyum miring dan melontarkan ledekan, "Apa kejadian tadi memperlambat otak supermu itu?"
Zeze bangkit menuju kursi di depan meja Glen, memutar kursi itu menghadap Glen dan mendudukinya. Melipat kedua tangan di atas meja di antara mereka, Zeze kemudian menjawab, "Aku dapat satu satu informasi, dan aku kurang menyukainya."
Glen membaringkan brush pen-nya di atas meja dan mendongak, untuk pertama kalinya menatap ke dalam sepasang mata beriris biru langit yang memancarkan tekad. Zeze tahu arti dari tatapan itu; sebuah tatapan milik seseorang yang sedang merasa kecewa, dan... bersalah.
Kening Zeze berkerut, ada apa?
"Menjauhlah."
Mata Zeze terbelalak, sejurus kemudian menyipit, "Sudah kubilang kau tidak punya hak untuk mengaturku," balasnya sengit.
"Maka aku yang akan menjauh."
"Kalau begitu lakukan. Aku hanya perlu mendekat. Gampang."
Balasan ringan Zeze adalah hantaman yang cukup kuat untuk mendorong tubuh Glen hingga mentok ke kursi. Zeze menyeringai menang menyaksikan kekalahannya. Didorongnya meja di antara mereka seraya menarik kursinya sendiri mendekati Glen, kemudian ditopangnya pipi dengan punggung tangan, "Soal kesimpulan... aku hanya dapat satu yang pasti."
Glen memejamkan mata dan melipat kedua tangannya di dada.
"Kau membuat orang gila menyebalkan itu merasakan tendanganku agar dia tidak hadir di sekolah," jelas Zeze perlahan-lahan.
Glen masih membatu. Tapi Zeze tahu dia mendengarkan, maka ia menyambung kalimatnya setelah jeda sebentar, "untuk mengulur waktu, dengan begitu dia tidak akan bisa menggangguku."
Melipat kedua tangannya di atas meja, Zeze menempatkan dagunya di sana. "Baik sekali," imbuhnya. Suaranya melirih dengan kesan meledek.
Mata Glen terbuka. Ditatapnya sepasang iris biru yang memancarkan ejekan itu tanpa memberi sedikit pun balasan.
"Glen, bagaimana kabar Ayah?" Tanya Zeze sambil lalu.
Tak menemukan tanda Glen akan menjawab, Zeze mengerucutkan bibir, kemudian berlagak menggerutu, "Kurasa aku harus memastikan sendiri untuk menjawab pertanyaanku."
Glen terbatuk, "Dia baik, jadi jangan coba-coba," ancamnya cepat.
Zeze menertawakan reaksinya. Usai menuntaskan humor, matanya dengan cepat menjelajahi wajah Glen. "Tidak ada yang memukulimu hari ini?"
"Kau ingin aku dipukuli?" Glen balik bertanya. Dengan tangan tertumpuk rapi di atas meja, ia memajukan tubuh seraya menyodorkan pipinya kepada Zeze.
Zeze terkejut bukan main atas tindakan itu. Otomatis dia meluruskan tubuh hingga membentur punggung kursi.
"Bolehkah aku meminta hukumanku hari ini?" Tanya Glen. Suaranya berat dan dalam seperti biasa, namun entah mengapa terdengar pedih di telinga Zeze.
Bibir Zeze menggantung tanpa suara. Matanya menatap kosong ke depan. Diabaikan oleh Glen jauh lebih baik baginya ketimbang harus mendengar nada menyakitkan dalam suaranya seperti tadi.
Zeze meneguk kasar ludahnya, lalu tersenyum, berusaha keras bersikap ringan. "Well, setelah dipikir lagi, kau memang banyak salah kepadaku." Ia mencoba memperdengarkan nada penuh gurauan. Sepertinya gagal.
Tak ada balasan dari Glen, kecuali bibirnya yang tersenyum masam. Lagi-lagi Zeze meneguk ludah. Menyakitkan. Ada apa dengan Glen yang cuek dan dingin seperti biasanya?
Sudut mata Zeze berkerut-kerut, menahan butiran air yang bisa tumpah kapan saja. Tangannya terkepal erat di atas meja, kuku-kuku jari menusuk kuat telapak tangan hingga membuatnya kesakitan sendiri. Pelan dan ragu ia mengangkat tangan kanannya, membawanya ke depan dengan gerakan kelewat lamban.
Masih dengan senyum di bibir, Glen memejamkan mata. Ia serahkan semuanya kepada gadis di hadapannya. Ia pasrahkan semua bahkan jika tangan lentik itu berencana untuk merusak wajahnya.
Sekian detik berselang, Glen akhirnya merasakan sentuhan di kedua pipinya. Namun sentuhan itu tidaklah menyakitkan sehingga membuat penyelasan merangkak di tulang punggungnya. Harusnya ia merasakan sakit. Sentuhan selembut itu tidak pantas untuk ia terima.
Alih-alih pukulan, wajahnya justru menerima rengkuhan dari sepasang tangan yang terasa sehangat mentari.
"Glen, jika menurutmu surga adalah tempat di mana semua hal tidak pernah terjadi, kurasa itu bukanlah surgaku."
Mata Glen bergetar di balik kacamatanya. Namun tak kunjung terbuka, ia tidak ingin membukanya.
"Karena bagiku, surga adalah tempat di mana aku bisa menghabiskan setiap detikku bersamamu."
Tangan hangat itu mengusap pelan pipi yang membeku, menyalurkan kehangatannya.
"Aku tidak akan menghukummu. Karena kurasa... semua yang terjadi padamu—pada kita bertiga—selama ini sudah merupakan hukuman. Jika kau menginginkan lebih, sebaiknya kau masuk neraka."
Kedua tangan itu memberikan sedikit tekanan pada pipinya.
"Dan hukum dirimu sendiri."
\=\=\=\=\=\=\=
Sendu amat kalian 🤧
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
🌸Ar_Vi🌸
ini ceritanya glen & zeze dalem banget.. 🥺🥺
tapi membingungkan.. 🙄
2023-03-27
1
Rani
zeze, glen, obi gue berulang2 lo bcanya sampai2 gue hafal tpi nggak semuanya😊 saking sukax sma novel ini.
2020-08-28
4
miaw miaw
bertiga itu siapa saja ya?
2020-07-10
3