Di lain tempat, pagi yang cerah berawan sayangnya tak dapat dinikmati oleh sepuluh orang berseragam hitam-hitam yang sedang duduk manis di bawah naungan atap baja, mengeliling sebuah meja bundar, menyimak presentasi dari seorang pria bersetelan sejenis yang berpijak di samping layar LED besar, dengan sebuah remot kontrol di tangan kirinya yang dipenuhi bekas luka.
"Rapat kali ini akan dibuka dengan bahasan terkait insiden pembunuhan Walikota Madora dua hari yang lalu. Beliau ditemukan dengan kondisi perut hangus terbakar di kediamannya." Pria itu menampilkan foto jenazah yang dimaksud di layar; orang-orang mendesis ngeri sebagai respons.
Seorang pria, yang merupakan asisten presentator, mengangkat tangan dan menambahkan sambil membaca sebuah berkas di tablet. "Di ruang kerjanya ditemukan uang berjumlah satu triliun Ralod yang di rinciannya adalah untuk perbaikan jalan."
"Jalan Sostá?" Seseorang bertanya sambil berbisik-bisik ke orang di sebelahnya.
"Di sana memang sering terjadi kecelakan. Sepupuku pernah tabrakan hingga patah kaki," seseorang menyeletuk.
"Pamanku juga pernah ketiban sial di sana. Aku heran mengapa jalan itu tidak kunjung diperbaiki. Padahal itu jembatan antar-kota."
Semua kembali memperhatikan saat Asisten Presentator melanjutkan, "Instansi pemberantasan korupsi belum merilis pernyataan resmi mengenai penemuan yang ditemukan oleh anggota kita ini."
"Dilihat dari kondisi jasadnya, tidak salah lagi itu ulah Énkavma," seseorang berkomentar.
"Uang itu masih utuh? Mereka tidak mengambilnya?"
"Mungkin tidak sempat?"
"Menurut rumor yang beredar, orang-orang gila itu hanya mengincar mereka yang merugikan publik. Bukankah itu berita bagus?" Komentar yang lain.
"Kau bilang itu bagus? Bagaimana mungkin seorang ksatria yang terhormat memiliki pandangan berbahaya seperti itu? Jangan mudah termakan rumor jika fakta ada di depan matamu! Mereka jelas-jelas sekumpulan t*roris. Kalau pun rumor itu benar, bukankah tindakan seperti ini tetap tidak boleh dijustifikasi? Ingat, ini pelanggaran HAM berat! Mereka tidak lebih dari sekelompok kecoak yang mencari keadilan dengan cara yang salah."
"Sependapat," ucap Pemimpin Rapat. "Bagus sekali, Maria Irdante. Lalu, bagaimana dengan prajurit pribadi yang menjaga kediaman beliau?"
"Binasa, Sir. Semuanya. Lihat," Presentator menampilkan lahan di depan gerbang kediaman Walikota Madora. Terlihat seperti neraka; tanah menghitam oleh darah.
"Mereka benar-benar monster. Lima puluh orang, bayangkan!"
"Dan semuanya adalah perwira terlatih."
Presentator menyela kumpulan komentar itu, "Semua telah sepakat bahwa lahan ini akan digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir untuk mengenang para korban. Pembataian ini akan tercatat sebagai 'Tragedi Madora' di buku sejarah."
Di saat orang-orang tengah sibuk berdiskusi, ada satu orang yang sama sekali tidak tertarik dengan bahasan rapat. Dia hanya menumpu kepalanya dengan tangan dan sesekali menguap dalam kebosanan.
"Hei, Glen, apa kau mendengarkan? Pemimpin Rapat melihatmu!" Salah seorang dari mereka menegur satu-satunya orang yang tampaknya sudah tak tahan untuk segera angkat kaki dari sana.
"Tentu, karena aku punya telinga."
Jawaban setengah hati itu mengeluarkan desah panjang dari rongga dada orang yang mendengarnya. Percuma meladeninya.
"Mereka kembali terlihat di sini setelah dua tahun lamanya," kata Presentator. "Untuk itu Sir Barier mengimbau kita agar selalu meningkatkan kewaspadaan. Kita tidak boleh menganggap remeh lawan mengingat belum banyak informasi yang kita peroleh mengenai mereka."
Semuanya merespons dengan anggukan kepala, kecuali Glen, tentu saja.
"Topik selanjutnya adalah mengenai kekacauan di sebuah mansion yang menjadi tempat pertemuan tahunan para bangsawan tahun ini," Pemimpin Rapat kali ini berbicara. Ia berdiri dan menggantikan tempat presentator. "Tiga bangsawan dinyatakan tewas di tempat, selebihnya hanya luka ringan akibat berdesakan. Lebih sedikit dari bayangan terburukku, dan aku sangat bersyukur akan hal itu, sekalipun banyak rekan kita yang gugur. Para petinggi dan Guru Besar telah menganugerahi mereka semua penghargaan setara dengan pahlawan nasional, dan keluarga mereka dijamin sebagai penerima tunjangan seumur hidup." Pria jangkung berambut pirang itu menampilkan kondisi mayat di layar, begitu mengerikan, sehingga membuat sejumlah orang di dalam ruangan bergidik.
"Seperti yang kalian lihat, ketiganya tewas dengan cara yang sama. Organ reproduksi hangus terbakar."
"Tidak salah lagi, itu ulah dia," gumam seseorang.
Pemimpin rapat mengangguk sebelum berbisik dengan nada ngeri, "Aphrodite."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sejak kejadian waktu itu, telah lewat dua hari Zeze bermalam di Istana Timur Aplistia. Para anak dari keluarga bangsawan yang melayani Kion tidak ada satu pun yang berani menyinggung perihal kemunculannya yang kelewat tiba-tiba dan tanpa peringatan. Sikap Kion yang terkesan enggan untuk membahas membuat mereka memilih mengunci mulut.
Zeze terlalu sibuk memanjakan dirinya dengan pelayanan kelas atas istana untuk peduli dengan orang-orang itu. Jika lapar, makanan telah tersaji. Ingin mandi, bak dan air panas telah disiapkan. Gadget canggih, piano, sepeda, semua keinginannya akan terwujud hanya dengan jentikan jari.
Dan pakaian... benar bahwa pengurus istana telah menyiapkan Zeze pakaian berkualitas baik dan berkelas. Namun semua berakhir menumpuk di lemari. Setiap harinya Zeze hanya akan mengenakan kaus kasual lengan pendek dan celana berbahan ringan yang membuatnya nyaman bergerak.
Mengejutkan karena ternyata para pelayan bersikap baik kepadanya, kecuali pelayan baru yang ia tahu gemar bergosip mengenai asal-usulnya. Namun secara general, tak ada yang benar-benar mengusik ketenangannya. Termasuk Luna, yang menurutnya terlihat murung sejak hari itu, dan ia tidak tahu apa penyebabnya. Padahal ia sudah mengambil inisiatif untuk mendekam diri di sayap timur bangunan istana, berseberangan dengan teritori Kion dan antek-anteknya yang mendiami bagian barat. Seharusnya sudah tak ada yang perlu dipermasalahkan lagi, bukan?
Sudah setahun lamanya ia tidak mengunjungi Istana Timur karena terhalang misi berburu para pemburu satwa liar di Sabana Maasai Mara di Kenya dan 'insiden' traumatik di kaki gunung. Sejak umurnya menginjak 13 tahun, tanpa sepengetahuan teman-temannya kecuali Obi, Zeze mulai mengunjungi 'rumah masa depan'-nya itu minimal satu minggu dalam tiga bulan. Momen yang dipilihnya adalah setiap Kion dan antek-anteknya mengosongkan area istana, entah liburan atau menghadiri acara penting yang mengharuskan mereka untuk menginap.
Hanya orang bodoh yang menyia-nyiakan privilege. Zeze terkikik.
Zeze membutuhkan waktu dalam satu musim dimana ia tidak perlu memikirkan apa pun dan hanya bersenang-senang, dilayani bak ratu, menyantap hidangan kelas atas, dan yang paling penting tanpa perlu merogoh kocek. Itu baru liburan yang ideal!
Satu-satunya hal yang ia rela merogoh kocek adalah Pelelangan Sodeiá, pelelangan barang-barang antik dan kuno yang diadakan rutin satu minggu dalam satu tahun di kota tertua Aplistia, Saufrity. Pelelangan itu juga merupakan alasan kunjungan rutin Zeze ke negri kelahirannya itu.
Namun kali ini ia terpaksa menetap untuk menjalani kehidupan yang sejujurnya kurang cocok untuknya. Mengambil takhtanya sebagai Tuan Putri Rozeale, tunangan dari Kion Ropalo Zesto, putra semata wayang Raja dan Ratu terakhir Aplistia sebelum negara itu memutuskan untuk mengganti pemerintahannya.
Taktik 'kamuflase' bagaikan oli untuk mesin. Dengan itu, ia percaya jalannya akan menjadi selicin kaca, memudahkannya dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkannya untuk menghanguskan para sampah tidak berguna yang berpotensi memulai konflik dan menghidupkan kembali kolonialisme. Semenjak pergantian kekuasaan dari monarki, kesewenang-wenangan menjamur, dan rumornya beberapa tahun belakangan mereka semakin terang-terangan mengumbar intensi buruk mereka.
Bila bumi dilihat melalui satelit, yang masih menyisakan warna biru, hijau, dan putih hanyalah belahan utara dan selatannya, sementara yang lain sudah tercemar warna-warna gelap, seolah bumi ditelan sebagian oleh entitas kegelapan. Jika perang kembali terjadi, tidak akan ada lagi yang tersisa. Aplistia adalah negara yang kuat bila dibandingkan dengan negara-negara tetangganya, dan keserakahan rawan muncul dari sebuah kekuasaan.
Pada kenyataannya, rajanya selalu menjawab "terserah" setiap kali ditanya soal metode yang harus mereka gunakan. Yang terpenting baginya adalah hasil yang memuaskan, apa pun metodenya. Tapi, pada saat itu, saat dia memanggilnya ke basement markas, dia hanya memberinya satu penawaran, yakni metode yang sekarang sedang dijalaninya dengan setengah hati.
“Kau bersedia?” Lelaki itu mengulangi jawaban Zeze dengan wajah kaget ketika mereka sedang mengobrol berhadapan di basement dengan pertunjukan catur terlihat di latar belakang.
"Ya," jawab Zeze pendek.
"Mengapa baru sekarang? Aku telah berupaya membujukmu setiap tahun. Apakah ada alasan khusus?"
"Tapi aku punya syarat," Zeze mengabaikan pertanyaan itu. Ia tidak bisa mengatakan bahwa alasan yang mendorongnya adalah perasaan pribadi. "Juni, Obi, Rhea, Kai, Kaló, Norofi—aku ingin menjalankannya bersama mereka. Kurasa aku sudah tidak perlu lagi menjelaskannya padamu?"
"Tentu saja. Aku paham maksudmu."
Itu adalah sederet nama milik para keturunan bangsawan kerajaan Aplistia yang tergabung dalam organisasi mereka. Zeze merasa ia bakal menemui kesulitan bila rekan satu timnya adalah orang-orang yang sama dengan misi sebelumnya, orang-orang dengan latar belakang yang bervariasi dan bertentangan dengan tema misi. Untuk itu ia membuat penawaran kepada Raja dengan mengajukan nama-nama yang menurutnya kompeten dan serasi dengannya.
"Tapi belum ada di antara kalian yang cukup umur, itu sebabnya aku tidak pernah memasangkanmu dengan mereka setiap kali aku menawarimu hal ini, sekalipun aku tahu kalian akan menjadi tim yang sempurna untuk misi kali ini."
"Juni, Kai, Kaló, Norofi dan Kak Rhea menginjak 18 tahun ini. Apakah 18 belum cukup dewasa bagimu? Atau kau bersedia menunggu setahun sampai dua tahun lagi?"
Lelaki itu terdiam. 'Aku tidak akan pergi tanpa mereka', itulah makna sebenarnya dari ucapan Zeze.
Yah, tentu saja aku tidak punya waktu sebanyak itu. Aku bahkan tidak yakin apakah aku masih punya setahun lagi, batin Zeze, mendesah lesu dengan pandangan merana ke lantai. Punggungnya mendadak tegak saat ia mendongak dan mendapati mata lelaki itu berkilat-kilat, "Apa?"
Dia tidak menjawab.
"Apa kau sedang merencanakan sesuatu? Kau menyembunyikan sesuatu dariku, kan?"
Sebelum Zeze selesai bicara, lelaki itu telah bangkit dari kursinya dan melangkah ke pintu, "Aku menunggu kabar baiknya." Hanya itu balasan darinya.
Entah apa yang lelaki itu rencanakan terhadap dirinya. Bertanya pun percuma, karena dia adalah orang terpelit jika berurusan dengan strategi. Meskipun dengan berat hati, Zeze tetap berusaha serius dalam menjalankan misinya.
Tiba-tiba ponselnya berdering saat ia sedang tenggelam dalam lamunan berat di atas sofa.
Zeze mengangkat panggilan tanpa mengalihkan pandangan dari seorang reporter AI di TV yang sedang memberitakan kaburnya narapidana dalam jumlah masif dari dua penjara di Kota Saufrity dalam kurun waktu dua bulan terakhir sehingga ksatria Ipotis terpaksa untuk turun tangan membantu pihak kepolisian. Namun hingga sekarang pencarian masih belum membuahkan petunjuk. Jejak mereka seolah ditelan bumi.
"Yo, bagaimana situasi di sana?"
Zeze mengenali suaranya. Obi.
"Normal," Zeze menjawab enteng lalau bertanya, "Kapan kau datang?"
“Tidak sekarang. Aku juga sedang menikmati liburanku. Jangan memaksa.”
Zeze memutar bola matanya, "Teman macam apa kau?"
Terdengar suara tawa di seberang sana. "Ah, ngomong-ngomong, apa kau sudah mendengar tentang hal ini...."
Beranjak dari sofa, Zeze berjalan mendekati sebidang jendela besar guna menikmati waktu mengobrolnya dengan Obi. Disandarkannya sebelah bahu ke kaca jendela, matanya jatuh di halaman istana yang dilimpahi gugusan mawar dan daun gugur yang berserakan.
Untuk seminggu ke depan, hari-harinya masih berjalan monoton. Tiada yang bisa diajak seru-seruan dan menjadi bahan candaan. Hari-hari tanpa Obi ataupun Zafth; duo kocak yang selalu berhasil membuatnya terbahak. Rasanya sepi dan hampa, dan ia harus menelan perasaan itu mentah-mentah
Sampai suatu hari, ketika sedang menyisir jalan setapak yang mengelilingi bangunan istana, secara tak sengaja telinganya menangkap bunyi dialog karakter game fantasi. Asalnya dari sudut pertemuan antar sayap timur (zona teritorinya) dengan sayap utama Istana (zona netral). Ada sebuah ruangan yang setengah pintunya dibiarkan terbuka. Seolah diundang, Zeze berderap dan mengintip. Sebuah ruang rekreasi dengan berbagai mesin permainan arcade. Tepat di balik meja biliar yang mendiami pusat ruangan, terdapat dua set sofa putih membentuk huruf L dan sebuah layar besar yang menyajikan pertarungan dua tokoh game fantasi. Maju lima langkah dari ambang pintu, ia melihat sisi belakang dari kepala pirang seorang lelaki—yang ia yakini adalah salah satu antek-antek Kion—sedang bermain game di atas sofa yang memunggungi pintu masuk.
Sepuluh menit Zeze hanya berdiri di belakangnya, mengamati alur permainan sambil menyembunyikan hawa keberadaan agar lelaki itu dapat berkonsentrasi.
"Jarang ada pemain yang mau menggunakan karakter itu, mengapa kau memilihnya?" Tanyanya setelah karakter yang dimainkan lelaki itu menang.
Lelaki itu terperanjat, kepalanya mengayun ke belakang. Dua pasang mata biru terhubung dalam diam. Dia berkedip, lalu kembali ke layar. Tanpa upacara penyambutan dan sebangsanya? Wow, reaksi yang menarik. Zeze cukup terkesan dengan pengendalian emosinya. Sekarang setelah melihat wajahnya, Zeze ingat bahwa dia adalah orang yang waktu itu memintanya untuk memperkenalkan diri di meja makan.
"Karena jarang ada yang menggunakan, hanya sedikit yang mengetahui kemampuannya. Peluang menangnya besar." Dan jawabannya pun masuk akal.
Jawaban bagus, batin Zeze, ia rasa ia mulai menyukai lelaki itu. Memutari sofa hingga tiba di sisi depannya, Zeze lalu meraih konsol yang menganggur dan duduk di samping lelaki itu.
"Berani taruhan?" Zeze menyeringai penuh arti kepadanya.
Dia terenyak oleh tantangan itu, kemudian mengangkat kedua alis dan sedikit menarik ujung bibirnya, membalas seringai Zeze. Di saat yang sama, warna langit di matanya berkilat percaya diri. Tiada alasan untuk merasa takut. Ia sudah melakukannya berkali-kali. Seberapa besar kemungkinan dia bisa kalah melawan seorang tuan putri yang lebih muda dua tahun darinya itu?
"Aku punya dua puluh Ralod," ucap Zeze, merogoh dompet.
"Seratus," lelaki itu bergumam seolah jumlah itu tak berarti apa-apa; Zeze melebarkan mata ke arahnya. "Aku tidak punya cash. Beritahu saja rekeningmu... jika kau menang."
Itu mungkin hanya uang sakunya selama semenit, Zeze mengedikkan bahu.
Lima belas menit kemudian, jiwa lelaki itu masih belum menginjak dunia, mulutnya menganga dan matanya kesulitan berkedip. Ia dikalahkan! Hanya dalam lima belas menit! Barusan mungkin adalah pertarungan satu lawan satunya yang paling singkat dalam sebuah game.
"Hmm... yah, kau lumayan, tapi masih kurang pengalaman." Zeze bergumam selagi mengotak-atik layar kaca di hadapannya. "Kau bisa mencairkan uangnya besok. Aku tidak memamerkan rekeningku ke sembarang orang."
Saat dia sedang meratapi kekalahan, sebuah suara mendadak datang memanggil namanya dan melontarkan protes, "Saga, kau sudah mulai duluan? Mengapa kau tidak—"
Pemilik suara itu mengerem di belakang sofa dengan mata membulat begitu mendapati kehadiran tunangan sang Pangeran di samping temannya.
Zeze menoleh melalui bahunya. Ia menyeringai kepada si Pendatang Baru, dan melambaikan konsol ke udara seolah memberinya isyarat untuk bermain bertiga.
Setelah beberapa hari bermain bersama, Zeze telah cukup mengenal kedua teman barunya itu. Yang berambut pirang adalah Saga Láspi, putra kedua dari Marquess Láspi. Temannya, dengan rambut ikal berwarna keemasan, adalah Airo Laktisma, putra ketiga dari Marquess Laktisma.
Mereka tidak menyulitkan. Dirinya dan Airo Laktisma sering kali mengejek satu sama lain saat salah satunya melakukan kesalahan. Sementara Saga Láspi lebih sering memosisikan diri sebagai penonton yang menertawakan pertikaian kecil mereka. Dia pendiam, tapi tidak pemalu; begitulah Zeze meringkas karakternya. Tiada prosedur formal kaku yang mereka berikan kepada Zeze, dan itu justru memberinya kenyamanan. Keduanya adalah obat dari penyakit bosan dan suntuk yang dideritanya selama tinggal di istana.
Di setiap kesempatan, hati-hati agar tidak terkesan mengorek, Zeze selalu menyelipkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan Pangeran Kion dan orang-orang di sekitarnya, lalu mengumpulkan setiap keping informasi yang didapat untuk bahan evaluasi.
Untuk sekarang, aku hanya bisa berputar-putar di pinggir piring, batin Zeze setelah Airo memberinya informasi terkait pesta ulang tahun Pangeran Kion ke-18; ayahnya, Marquess Laktisma, ditunjuk secara pribadi oleh Sang Pangeran sebagai penanggung jawab. Selebihnya adalah bagian Kaló. Jika lebih dari ini, mereka akan curiga.
Suatu pagi, di saat Zeze sedang melewati ruang duduk lantai dua yang terletak di dekat tangga alternatif penghubung lantai, tanpa sengaja melalui pintu yang terbuka, ia melihat ketujuh remaja itu tengah berkumpul sambil menikmati minuman dan camilan. Namun, kali ini ada yang berbeda; mereka semua kompak berseragam. Luar biasa menawan layaknya patung yang biasa di pajang di mall-mall besar.
Sambil menyedot es late, Zeze berjalan mendekati mereka. "Ke mana kalian akan pergi?" Tanyanya datar. Ia bertanya hanya karena seragam mereka menarik perhatiannya. Siapa tahu aku bisa mendapatkan informasi yang berguna, pikirnya. Selama ini pengetahuannya mengenai Aplistia terbilang minim. Selain karena adanya pelindung server yang mengacaukan hasil pencarian informasi terkait Aplistia di luar teritori negara, kebenciannya terhadap tempat kelahirannya itu membuatnya pantang untuk mendengar apa pun yang berkaitan.
"Sekolah, tentu saja," Airo yang menjawabnya. "Waktu liburan sudah habis."
Kedua alis Zeze terangkat samar. Sekolah. Ia belum pernah merasakan itu, dan sama sekali tidak tertarik untuk merasakannya.
Zeze berpaling ke Kion yang segenap perhatiannya terarah pada sebuah buku. Lelaki itu menempati sebuah single sofa berwarna putih dengan siku kanan ditumpangkan di atas lengan sofa.
Mungkinkah bahkan dia juga butuh sekolah? “Sekolah macam apa?” Zeze bertanya kepadanya dengan rasa ingin tahu yang murni.
Kion tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat sedikit pandangannya tanpa melihat langsung ke arah Zeze, yang padahal berdiri tepat di sisi kanannya.
"Seingatku kau tidak ingin berbicara denganku lagi?"
Itu adalah pertanyaan yang tidak pernah Zeze sangka akan didengarnya dari dia.
Lain yang ditanya, lain yang dijawab. Tak heran bila Zeze kebingungan. Namun, tiba-tiba saja otaknya menggali ingatan masa kecilnya, menghantamnya pada perasaan malu dan kacau yang sulit dibendung.
Zeze melarikan sebelah tangannya ke tengkuk dan menggaruknya dengan canggung. "Errr... ji—jika Kakak tidak ingin kuajak bicara, aku tidak akan bicara," cicitnya, lalu mundur perlahan hingga punggungnya membentur dinding.
Orang lain di ruangan itu saling bertukar pandang, campur aduk antara bingung dan kaget. Pasalnya, tadi itu adalah kali pertama mereka menyaksikan interaksi antara kedua orang itu semenjak dua minggu terakhir.
Kion terkekeh tanpa disadari siapa pun, lantas berpijak di atas kakinya. Yang lain langsung bergerak mengikuti. Jam di arlojinya telah menunjukkan pukul 7.45 pagi, sudah saatnya mereka berangkat ke akademi mengingat ada jadwal apel pagi ini. Sementara Zeze masih membungkam diri di dinding belakang sofa sembari meminum late-nya. Bibirnya mengerucut dan rasa malu menempelkan matanya di lantai.
Ketika Kion berjalan melewatinya, tak salah lagi Zeze mendengar bisikan berbunyi, "Dia juga ada di sana."
Sebaris kalimat itu berhasil melebarkan mata dan mengangkat kepala Zeze, hanya untuk melihat punggung tegap Kion yang kian menjauh dan menghilang di balik tangga.
Sepertinya, ia tahu siapa dia yang lelaki itu maksud.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Ryosa
kerenn thor
2021-11-09
1
ARJ
Bacanya bikin nagih, suka banget Ama gaya nulisnya
2021-08-23
1
PotatoYubitisfira
Dia itu Glen? Wkwk, nebak aja kok :)
2020-12-17
1