5. Whisper

Di lain tempat, pagi yang cerah berawan sayangnya tak dapat dinikmati oleh sepuluh orang berseragam hitam-hitam yang sedang duduk manis di bawah naungan atap baja, mengeliling sebuah meja bundar, menyimak presentasi dari seorang pria bersetelan sejenis yang berpijak di samping layar LED besar, dengan sebuah remot kontrol di tangan kirinya yang dipenuhi bekas luka.

"Rapat kali ini akan dibuka dengan bahasan terkait insiden pembunuhan Walikota Madora dua hari yang lalu. Beliau ditemukan dengan kondisi perut hangus terbakar di kediamannya." Pria itu menampilkan foto jenazah yang dimaksud di layar; orang-orang mendesis ngeri sebagai respons.

Seorang pria, yang merupakan asisten presentator, mengangkat tangan dan menambahkan sambil membaca sebuah berkas di tablet. "Di ruang kerjanya ditemukan uang berjumlah satu triliun Ralod yang di rinciannya adalah untuk perbaikan jalan."

"Jalan Sostá?" Seseorang bertanya sambil berbisik-bisik ke orang di sebelahnya.

"Di sana memang sering terjadi kecelakan. Sepupuku pernah tabrakan hingga patah kaki," seseorang menyeletuk.

"Pamanku juga pernah ketiban sial di sana. Aku heran mengapa jalan itu tidak kunjung diperbaiki. Padahal itu jembatan antar-kota."

Semua kembali memperhatikan saat Asisten Presentator melanjutkan, "Instansi pemberantasan korupsi belum merilis pernyataan resmi mengenai penemuan yang ditemukan oleh anggota kita ini."

"Dilihat dari kondisi jasadnya, tidak salah lagi itu ulah Énkavma," seseorang berkomentar.

"Uang itu masih utuh? Mereka tidak mengambilnya?"

"Mungkin tidak sempat?"

"Menurut rumor yang beredar, orang-orang gila itu hanya mengincar mereka yang merugikan publik. Bukankah itu berita bagus?" Komentar yang lain.

"Kau bilang itu bagus? Bagaimana mungkin seorang ksatria yang terhormat memiliki pandangan berbahaya seperti itu? Jangan mudah termakan rumor jika fakta ada di depan matamu! Mereka jelas-jelas sekumpulan t*roris. Kalau pun rumor itu benar, bukankah tindakan seperti ini tetap tidak boleh dijustifikasi? Ingat, ini pelanggaran HAM berat! Mereka tidak lebih dari sekelompok kecoak yang mencari keadilan dengan cara yang salah."

"Sependapat," ucap Pemimpin Rapat. "Bagus sekali, Maria Irdante. Lalu, bagaimana dengan prajurit pribadi yang menjaga kediaman beliau?"

"Binasa, Sir. Semuanya. Lihat," Presentator menampilkan lahan di depan gerbang kediaman Walikota Madora. Terlihat seperti neraka; tanah menghitam oleh darah.

"Mereka benar-benar monster. Lima puluh orang, bayangkan!"

"Dan semuanya adalah perwira terlatih."

Presentator menyela kumpulan komentar itu, "Semua telah sepakat bahwa lahan ini akan digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir untuk mengenang para korban. Pembataian ini akan tercatat sebagai 'Tragedi Madora' di buku sejarah."

Di saat orang-orang tengah sibuk berdiskusi, ada satu orang yang sama sekali tidak tertarik dengan bahasan rapat. Dia hanya menumpu kepalanya dengan tangan dan sesekali menguap dalam kebosanan.

"Hei, Glen, apa kau mendengarkan? Pemimpin Rapat melihatmu!" Salah seorang dari mereka menegur satu-satunya orang yang tampaknya sudah tak tahan untuk segera angkat kaki dari sana.

"Tentu, karena aku punya telinga."

Jawaban setengah hati itu mengeluarkan desah panjang dari rongga dada orang yang mendengarnya. Percuma meladeninya.

"Mereka kembali terlihat di sini setelah dua tahun lamanya," kata Presentator. "Untuk itu Sir Barier mengimbau kita agar selalu meningkatkan kewaspadaan. Kita tidak boleh menganggap remeh lawan mengingat belum banyak informasi yang kita peroleh mengenai mereka."

Semuanya merespons dengan anggukan kepala, kecuali Glen, tentu saja.

"Topik selanjutnya adalah mengenai kekacauan di sebuah mansion yang menjadi tempat pertemuan tahunan para bangsawan tahun ini," Pemimpin Rapat kali ini berbicara. Ia berdiri dan menggantikan tempat presentator. "Tiga bangsawan dinyatakan tewas di tempat, selebihnya hanya luka ringan akibat berdesakan. Lebih sedikit dari bayangan terburukku, dan aku sangat bersyukur akan hal itu, sekalipun banyak rekan kita yang gugur. Para petinggi dan Guru Besar telah menganugerahi mereka semua penghargaan setara dengan pahlawan nasional, dan keluarga mereka dijamin sebagai penerima tunjangan seumur hidup." Pria jangkung berambut pirang itu menampilkan kondisi mayat di layar, begitu mengerikan, sehingga membuat sejumlah orang di dalam ruangan bergidik.

"Seperti yang kalian lihat, ketiganya tewas dengan cara yang sama. Organ reproduksi hangus terbakar."

"Tidak salah lagi, itu ulah dia," gumam seseorang.

Pemimpin rapat mengangguk sebelum berbisik dengan nada ngeri, "Aphrodite."

\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Sejak kejadian waktu itu, telah lewat dua hari Zeze bermalam di Istana Timur Aplistia. Para anak dari keluarga bangsawan yang melayani Kion tidak ada satu pun yang berani menyinggung perihal kemunculannya yang kelewat tiba-tiba dan tanpa peringatan. Sikap Kion yang terkesan enggan untuk membahas membuat mereka memilih mengunci mulut.

Zeze terlalu sibuk memanjakan dirinya dengan pelayanan kelas atas istana untuk peduli dengan orang-orang itu. Jika lapar, makanan telah tersaji. Ingin mandi, bak dan air panas telah disiapkan. Gadget canggih, piano, sepeda, semua keinginannya akan terwujud hanya dengan jentikan jari.

Dan pakaian... benar bahwa pengurus istana telah menyiapkan Zeze pakaian berkualitas baik dan berkelas. Namun semua berakhir menumpuk di lemari. Setiap harinya Zeze hanya akan mengenakan kaus kasual lengan pendek dan celana berbahan ringan yang membuatnya nyaman bergerak.

Mengejutkan karena ternyata para pelayan bersikap baik kepadanya, kecuali pelayan baru yang ia tahu gemar bergosip mengenai asal-usulnya. Namun secara general, tak ada yang benar-benar mengusik ketenangannya. Termasuk Luna, yang menurutnya terlihat murung sejak hari itu, dan ia tidak tahu apa penyebabnya. Padahal ia sudah mengambil inisiatif untuk mendekam diri di sayap timur bangunan istana, berseberangan dengan teritori Kion dan antek-anteknya yang mendiami bagian barat. Seharusnya sudah tak ada yang perlu dipermasalahkan lagi, bukan?

Sudah setahun lamanya ia tidak mengunjungi Istana Timur karena terhalang misi berburu para pemburu satwa liar di Sabana Maasai Mara di Kenya dan 'insiden' traumatik di kaki gunung. Sejak umurnya menginjak 13 tahun, tanpa sepengetahuan teman-temannya kecuali Obi, Zeze mulai mengunjungi 'rumah masa depan'-nya itu minimal satu minggu dalam tiga bulan. Momen yang dipilihnya adalah setiap Kion dan antek-anteknya mengosongkan area istana, entah liburan atau menghadiri acara penting yang mengharuskan mereka untuk menginap.

Hanya orang bodoh yang menyia-nyiakan privilege. Zeze terkikik.

Zeze membutuhkan waktu dalam satu musim dimana ia tidak perlu memikirkan apa pun dan hanya bersenang-senang, dilayani bak ratu, menyantap hidangan kelas atas, dan yang paling penting tanpa perlu merogoh kocek. Itu baru liburan yang ideal!

Satu-satunya hal yang ia rela merogoh kocek adalah Pelelangan Sodeiá, pelelangan barang-barang antik dan kuno yang diadakan rutin satu minggu dalam satu tahun di kota tertua Aplistia, Saufrity. Pelelangan itu juga merupakan alasan kunjungan rutin Zeze ke negri kelahirannya itu.

Namun kali ini ia terpaksa menetap untuk menjalani kehidupan yang sejujurnya kurang cocok untuknya. Mengambil takhtanya sebagai Tuan Putri Rozeale, tunangan dari Kion Ropalo Zesto, putra semata wayang Raja dan Ratu terakhir Aplistia sebelum negara itu memutuskan untuk mengganti pemerintahannya.

Taktik 'kamuflase' bagaikan oli untuk mesin. Dengan itu, ia percaya jalannya akan menjadi selicin kaca, memudahkannya dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkannya untuk menghanguskan para sampah tidak berguna yang berpotensi memulai konflik dan menghidupkan kembali kolonialisme. Semenjak pergantian kekuasaan dari monarki, kesewenang-wenangan menjamur, dan rumornya beberapa tahun belakangan mereka semakin terang-terangan mengumbar intensi buruk mereka.

Bila bumi dilihat melalui satelit, yang masih menyisakan warna biru, hijau, dan putih hanyalah belahan utara dan selatannya, sementara yang lain sudah tercemar warna-warna gelap, seolah bumi ditelan sebagian oleh entitas kegelapan. Jika perang kembali terjadi, tidak akan ada lagi yang tersisa. Aplistia adalah negara yang kuat bila dibandingkan dengan negara-negara tetangganya, dan keserakahan rawan muncul dari sebuah kekuasaan.

Pada kenyataannya, rajanya selalu menjawab "terserah" setiap kali ditanya soal metode yang harus mereka gunakan. Yang terpenting baginya adalah hasil yang memuaskan, apa pun metodenya. Tapi, pada saat itu, saat dia memanggilnya ke basement markas, dia hanya memberinya satu penawaran, yakni metode yang sekarang sedang dijalaninya dengan setengah hati.

“Kau bersedia?” Lelaki itu mengulangi jawaban Zeze dengan wajah kaget ketika mereka sedang mengobrol berhadapan di basement dengan pertunjukan catur terlihat di latar belakang.

"Ya," jawab Zeze pendek.

"Mengapa baru sekarang? Aku telah berupaya membujukmu setiap tahun. Apakah ada alasan khusus?"

"Tapi aku punya syarat," Zeze mengabaikan pertanyaan itu. Ia tidak bisa mengatakan bahwa alasan yang mendorongnya adalah perasaan pribadi. "Juni, Obi, Rhea, Kai, Kaló, Norofi—aku ingin menjalankannya bersama mereka. Kurasa aku sudah tidak perlu lagi menjelaskannya padamu?"

"Tentu saja. Aku paham maksudmu."

Itu adalah sederet nama milik para keturunan bangsawan kerajaan Aplistia yang tergabung dalam organisasi mereka. Zeze merasa ia bakal menemui kesulitan bila rekan satu timnya adalah orang-orang yang sama dengan misi sebelumnya, orang-orang dengan latar belakang yang bervariasi dan bertentangan dengan tema misi. Untuk itu ia membuat penawaran kepada Raja dengan mengajukan nama-nama yang menurutnya kompeten dan serasi dengannya.

"Tapi belum ada di antara kalian yang cukup umur, itu sebabnya aku tidak pernah memasangkanmu dengan mereka setiap kali aku menawarimu hal ini, sekalipun aku tahu kalian akan menjadi tim yang sempurna untuk misi kali ini."

"Juni, Kai, Kaló, Norofi dan Kak Rhea menginjak 18 tahun ini. Apakah 18 belum cukup dewasa bagimu? Atau kau bersedia menunggu setahun sampai dua tahun lagi?"

Lelaki itu terdiam. 'Aku tidak akan pergi tanpa mereka', itulah makna sebenarnya dari ucapan Zeze.

Yah, tentu saja aku tidak punya waktu sebanyak itu. Aku bahkan tidak yakin apakah aku masih punya setahun lagi, batin Zeze, mendesah lesu dengan pandangan merana ke lantai. Punggungnya mendadak tegak saat ia mendongak dan mendapati mata lelaki itu berkilat-kilat, "Apa?"

Dia tidak menjawab.

"Apa kau sedang merencanakan sesuatu? Kau menyembunyikan sesuatu dariku, kan?"

Sebelum Zeze selesai bicara, lelaki itu telah bangkit dari kursinya dan melangkah ke pintu, "Aku menunggu kabar baiknya." Hanya itu balasan darinya.

Entah apa yang lelaki itu rencanakan terhadap dirinya. Bertanya pun percuma, karena dia adalah orang terpelit jika berurusan dengan strategi. Meskipun dengan berat hati, Zeze tetap berusaha serius dalam menjalankan misinya.

Tiba-tiba ponselnya berdering saat ia sedang tenggelam dalam lamunan berat di atas sofa.

Zeze mengangkat panggilan tanpa mengalihkan pandangan dari seorang reporter AI di TV yang sedang memberitakan kaburnya narapidana dalam jumlah masif dari dua penjara di Kota Saufrity dalam kurun waktu dua bulan terakhir sehingga ksatria Ipotis terpaksa untuk turun tangan membantu pihak kepolisian. Namun hingga sekarang pencarian masih belum membuahkan petunjuk. Jejak mereka seolah ditelan bumi.

"Yo, bagaimana situasi di sana?"

Zeze mengenali suaranya. Obi.

"Normal," Zeze menjawab enteng lalau bertanya, "Kapan kau datang?"

“Tidak sekarang. Aku juga sedang menikmati liburanku. Jangan memaksa.”

Zeze memutar bola matanya, "Teman macam apa kau?"

Terdengar suara tawa di seberang sana. "Ah, ngomong-ngomong, apa kau sudah mendengar tentang hal ini...."

Beranjak dari sofa, Zeze berjalan mendekati sebidang jendela besar guna menikmati waktu mengobrolnya dengan Obi. Disandarkannya sebelah bahu ke kaca jendela, matanya jatuh di halaman istana yang dilimpahi gugusan mawar dan daun gugur yang berserakan.

Untuk seminggu ke depan, hari-harinya masih berjalan monoton. Tiada yang bisa diajak seru-seruan dan menjadi bahan candaan. Hari-hari tanpa Obi ataupun Zafth; duo kocak yang selalu berhasil membuatnya terbahak. Rasanya sepi dan hampa, dan ia harus menelan perasaan itu mentah-mentah

Sampai suatu hari, ketika sedang menyisir jalan setapak yang mengelilingi bangunan istana, secara tak sengaja telinganya menangkap bunyi dialog karakter game fantasi. Asalnya dari sudut pertemuan antar sayap timur (zona teritorinya) dengan sayap utama Istana (zona netral). Ada sebuah ruangan yang setengah pintunya dibiarkan terbuka. Seolah diundang, Zeze berderap dan mengintip. Sebuah ruang rekreasi dengan berbagai mesin permainan arcade. Tepat di balik meja biliar yang mendiami pusat ruangan, terdapat dua set sofa putih membentuk huruf L dan sebuah layar besar yang menyajikan pertarungan dua tokoh game fantasi. Maju lima langkah dari ambang pintu, ia melihat sisi belakang dari kepala pirang seorang lelaki—yang ia yakini adalah salah satu antek-antek Kion—sedang bermain game di atas sofa yang memunggungi pintu masuk.

Sepuluh menit Zeze hanya berdiri di belakangnya, mengamati alur permainan sambil menyembunyikan hawa keberadaan agar lelaki itu dapat berkonsentrasi.

"Jarang ada pemain yang mau menggunakan karakter itu, mengapa kau memilihnya?" Tanyanya setelah karakter yang dimainkan lelaki itu menang.

Lelaki itu terperanjat, kepalanya mengayun ke belakang. Dua pasang mata biru terhubung dalam diam. Dia berkedip, lalu kembali ke layar. Tanpa upacara penyambutan dan sebangsanya? Wow, reaksi yang menarik. Zeze cukup terkesan dengan pengendalian emosinya. Sekarang setelah melihat wajahnya, Zeze ingat bahwa dia adalah orang yang waktu itu memintanya untuk memperkenalkan diri di meja makan.

"Karena jarang ada yang menggunakan, hanya sedikit yang mengetahui kemampuannya. Peluang menangnya besar." Dan jawabannya pun masuk akal.

Jawaban bagus, batin Zeze, ia rasa ia mulai menyukai lelaki itu. Memutari sofa hingga tiba di sisi depannya, Zeze lalu meraih konsol yang menganggur dan duduk di samping lelaki itu.

"Berani taruhan?" Zeze menyeringai penuh arti kepadanya.

Dia terenyak oleh tantangan itu, kemudian mengangkat kedua alis dan sedikit menarik ujung bibirnya, membalas seringai Zeze. Di saat yang sama, warna langit di matanya berkilat percaya diri. Tiada alasan untuk merasa takut. Ia sudah melakukannya berkali-kali. Seberapa besar kemungkinan dia bisa kalah melawan seorang tuan putri yang lebih muda dua tahun darinya itu?

"Aku punya dua puluh Ralod," ucap Zeze, merogoh dompet.

"Seratus," lelaki itu bergumam seolah jumlah itu tak berarti apa-apa; Zeze melebarkan mata ke arahnya. "Aku tidak punya cash. Beritahu saja rekeningmu... jika kau menang."

Itu mungkin hanya uang sakunya selama semenit, Zeze mengedikkan bahu.

Lima belas menit kemudian, jiwa lelaki itu masih belum menginjak dunia, mulutnya menganga dan matanya kesulitan berkedip. Ia dikalahkan! Hanya dalam lima belas menit! Barusan mungkin adalah pertarungan satu lawan satunya yang paling singkat dalam sebuah game.

"Hmm... yah, kau lumayan, tapi masih kurang pengalaman." Zeze bergumam selagi mengotak-atik layar kaca di hadapannya. "Kau bisa mencairkan uangnya besok. Aku tidak memamerkan rekeningku ke sembarang orang."

Saat dia sedang meratapi kekalahan, sebuah suara mendadak datang memanggil namanya dan melontarkan protes, "Saga, kau sudah mulai duluan? Mengapa kau tidak—"

Pemilik suara itu mengerem di belakang sofa dengan mata membulat begitu mendapati kehadiran tunangan sang Pangeran di samping temannya.

Zeze menoleh melalui bahunya. Ia menyeringai kepada si Pendatang Baru, dan melambaikan konsol ke udara seolah memberinya isyarat untuk bermain bertiga.

Setelah beberapa hari bermain bersama, Zeze telah cukup mengenal kedua teman barunya itu. Yang berambut pirang adalah Saga Láspi, putra kedua dari Marquess Láspi. Temannya, dengan rambut ikal berwarna keemasan, adalah Airo Laktisma, putra ketiga dari Marquess Laktisma.

Mereka tidak menyulitkan. Dirinya dan Airo Laktisma sering kali mengejek satu sama lain saat salah satunya melakukan kesalahan. Sementara Saga Láspi lebih sering memosisikan diri sebagai penonton yang menertawakan pertikaian kecil mereka. Dia pendiam, tapi tidak pemalu; begitulah Zeze meringkas karakternya. Tiada prosedur formal kaku yang mereka berikan kepada Zeze, dan itu justru memberinya kenyamanan. Keduanya adalah obat dari penyakit bosan dan suntuk yang dideritanya selama tinggal di istana.

Di setiap kesempatan, hati-hati agar tidak terkesan mengorek, Zeze selalu menyelipkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan Pangeran Kion dan orang-orang di sekitarnya, lalu mengumpulkan setiap keping informasi yang didapat untuk bahan evaluasi.

Untuk sekarang, aku hanya bisa berputar-putar di pinggir piring, batin Zeze setelah Airo memberinya informasi terkait pesta ulang tahun Pangeran Kion ke-18; ayahnya, Marquess Laktisma, ditunjuk secara pribadi oleh Sang Pangeran sebagai penanggung jawab. Selebihnya adalah bagian Kaló. Jika lebih dari ini, mereka akan curiga.

Suatu pagi, di saat Zeze sedang melewati ruang duduk lantai dua yang terletak di dekat tangga alternatif penghubung lantai, tanpa sengaja melalui pintu yang terbuka, ia melihat ketujuh remaja itu tengah berkumpul sambil menikmati minuman dan camilan. Namun, kali ini ada yang berbeda; mereka semua kompak berseragam. Luar biasa menawan layaknya patung yang biasa di pajang di mall-mall besar.

Sambil menyedot es late, Zeze berjalan mendekati mereka. "Ke mana kalian akan pergi?" Tanyanya datar. Ia bertanya hanya karena seragam mereka menarik perhatiannya. Siapa tahu aku bisa mendapatkan informasi yang berguna, pikirnya. Selama ini pengetahuannya mengenai Aplistia terbilang minim. Selain karena adanya pelindung server yang mengacaukan hasil pencarian informasi terkait Aplistia di luar teritori negara, kebenciannya terhadap tempat kelahirannya itu membuatnya pantang untuk mendengar apa pun yang berkaitan.

"Sekolah, tentu saja," Airo yang menjawabnya. "Waktu liburan sudah habis."

Kedua alis Zeze terangkat samar. Sekolah. Ia belum pernah merasakan itu, dan sama sekali tidak tertarik untuk merasakannya.

Zeze berpaling ke Kion yang segenap perhatiannya terarah pada sebuah buku. Lelaki itu menempati sebuah single sofa berwarna putih dengan siku kanan ditumpangkan di atas lengan sofa.

Mungkinkah bahkan dia juga butuh sekolah? “Sekolah macam apa?” Zeze bertanya kepadanya dengan rasa ingin tahu yang murni.

Kion tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat sedikit pandangannya tanpa melihat langsung ke arah Zeze, yang padahal berdiri tepat di sisi kanannya.

"Seingatku kau tidak ingin berbicara denganku lagi?"

Itu adalah pertanyaan yang tidak pernah Zeze sangka akan didengarnya dari dia.

Lain yang ditanya, lain yang dijawab. Tak heran bila Zeze kebingungan. Namun, tiba-tiba saja otaknya menggali ingatan masa kecilnya, menghantamnya pada perasaan malu dan kacau yang sulit dibendung.

Zeze melarikan sebelah tangannya ke tengkuk dan menggaruknya dengan canggung. "Errr... ji—jika Kakak tidak ingin kuajak bicara, aku tidak akan bicara," cicitnya, lalu mundur perlahan hingga punggungnya membentur dinding.

Orang lain di ruangan itu saling bertukar pandang, campur aduk antara bingung dan kaget. Pasalnya, tadi itu adalah kali pertama mereka menyaksikan interaksi antara kedua orang itu semenjak dua minggu terakhir.

Kion terkekeh tanpa disadari siapa pun, lantas berpijak di atas kakinya. Yang lain langsung bergerak mengikuti. Jam di arlojinya telah menunjukkan pukul 7.45 pagi, sudah saatnya mereka berangkat ke akademi mengingat ada jadwal apel pagi ini. Sementara Zeze masih membungkam diri di dinding belakang sofa sembari meminum late-nya. Bibirnya mengerucut dan rasa malu menempelkan matanya di lantai.

Ketika Kion berjalan melewatinya, tak salah lagi Zeze mendengar bisikan berbunyi, "Dia juga ada di sana."

Sebaris kalimat itu berhasil melebarkan mata dan mengangkat kepala Zeze, hanya untuk melihat punggung tegap Kion yang kian menjauh dan menghilang di balik tangga.

Sepertinya, ia tahu siapa dia yang lelaki itu maksud.

Terpopuler

Comments

Ryosa

Ryosa

kerenn thor

2021-11-09

1

ARJ

ARJ

Bacanya bikin nagih, suka banget Ama gaya nulisnya

2021-08-23

1

PotatoYubitisfira

PotatoYubitisfira

Dia itu Glen? Wkwk, nebak aja kok :)

2020-12-17

1

lihat semua
Episodes
1 1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2 2. Started
3 3. Cracked Mask
4 4. Fiancé
5 5. Whisper
6 6. Academy
7 7. Empty Chair
8 8. Untitled
9 9. Goddess
10 10. Orange
11 11. Idiot
12 12. Red Rose
13 13. Smooth Criminal
14 14. New Toy
15 15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16 16. Punishment
17 17. Misner Space
18 18. Light
19 19. Deal
20 20. Cemetery
21 21. Rozeale Ankhatia
22 22. If It Was You
23 23. Old Friend
24 24. Falling
25 25. Imbalance
26 26. Struggle
27 27. The Healer
28 28. Reset
29 29. Fairytale
30 30. Forgotten
31 31. Debutante
32 32. Silly
33 33. Artemis
34 34. Partner In Crime
35 35. Nuts
36 36. Framed
37 37. Cola
38 38. Bored
39 39. Variable
40 40. Help!
41 41. Zero
42 42. Trick Or Treat?
43 43. The Game
44 44. Chapter Two
45 45. Continued
46 pengumuman: CAST
47 46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48 47. Lust
49 48. Home
50 49. Right Side
51 50. Riddle
52 51. Decode
53 52. Sweet Seventeen
54 53. Spring Cup
55 54. Mystery
56 55. Mr. Rious
57 56. Interrogation
58 57. Database
59 58. Dancing
60 59. Suspect
61 60. May, 1st
62 61. UNO
63 62. Damn
64 63. Wait For Me
65 64. Sacrifice
66 65. Bloody Rose
67 66. Raflesia
68 67. Lottery
69 68. Racing
70 69. Asanatha
71 70. Bury The Hatchet
72 71. Tree
73 72. The Winner
74 73. Healed
75 74. Reminisce
76 75. Andromeda
77 76. Grim
78 77. Farewell
79 78. Encounter
80 79. Sleep
81 80. Once Upon A Time
82 81. Prison
83 82. Open
84 83. Falsity
85 84. Second Meeting
86 85. Axiom
87 86. Helpless
88 87. Misfortune
89 88. Animus
90 CHAPTER BONUS [1-A]
91 CHAPTER BONUS [1-B]
92 CHAPTER BONUS [2-A]
93 CHAPTER BONUS [2-B]
94 CHAPTER BONUS [3-A]
95 CHAPTER BONUS [3-B]
96 CHAPTER BONUS [4-A]
97 CHAPTER BONUS [4-B]
98 89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99 90. Crestfallen
100 91. Agreement
101 92. Pizza Delivery (Part 1)
102 93. Pizza Delivery (Part 2)
103 94. Narrow (Part 1)
104 95. Narrow (Part 2)
105 96. Possessed
106 97. Sorrow (Part 1)
107 98. Sorrow (Part 2)
108 99. Jack O'Lantern
109 100. Beginning Of The End
110 101. Laxity
111 102. Savior
112 103. Hostage
113 104. Bad Idea
114 105. Underestimate
115 106. Memorials
116 107. Solving
117 108. Misunderstanding
118 109. Curiosity Killed The Cat
119 110. Agony
120 111. Distancing
121 112. Foolish
122 113. Fall To Pieces
123 114. Aphrodite
124 115. Loosing Grip
125 116. Insanity
126 117. Ruthless
127 118. Ignorance
128 119. Hypocrisy
129 120. Complicated
130 121. Dignity
131 122. Stupidity
132 123. Catacombs
133 124. Absurd
134 125. Backlash
135 126. Vanished
136 127. Break Free
137 128. Darkness In The Light
138 129. Ambush On All Sides
139 130. Mare's Nest
140 131. Tenet
141 132. Clandestine
142 133. Judas
143 134. Sinister
144 135. Desire
145 136. Ares
146 137. Embrace
147 138. Up In The Air
148 139. Prejudice
149 pengumuman: LIST TOKOH
150 140. Diverge
151 141. Noticed
152 142. Float Kiss
153 143. Liars
154 144. Reunion
155 145. The Answer
156 146. Liberated
157 147. Carnage
158 148. Vendetta
159 149. 1 Stone For 2 Birds
160 150. Better Place
161 151. Pleasure
162 152. Trust & Hope
163 153. Rest
164 154. Good & Bad News
165 155. Bald Cypress
166 156. Leave
167 157. Painful
168 158. Invitation
169 159. A Guest
170 160. Piece Of Art
171 161. Aware
172 162. Journey
173 163. Inland
174 164. Westafo Hall
175 pengumuman: BREAK
176 165. Madam Derba
177 166. Good Side
178 167. The Stage
179 168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180 169. Deception
181 170. Evaluate
182 171. Dissent
183 172. Gratuitous
184 173. Departure
185 174. Voyage
186 175. Almost
187 176. Anger
188 177. Scratches
189 178. Discover
190 179. Out of Control
191 180. Perforce
192 181. Her
193 182. Myth
194 183. Him
195 184. Bleeding
196 185. Perfidy
197 186. Take Me Out of This Town
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2
2. Started
3
3. Cracked Mask
4
4. Fiancé
5
5. Whisper
6
6. Academy
7
7. Empty Chair
8
8. Untitled
9
9. Goddess
10
10. Orange
11
11. Idiot
12
12. Red Rose
13
13. Smooth Criminal
14
14. New Toy
15
15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16
16. Punishment
17
17. Misner Space
18
18. Light
19
19. Deal
20
20. Cemetery
21
21. Rozeale Ankhatia
22
22. If It Was You
23
23. Old Friend
24
24. Falling
25
25. Imbalance
26
26. Struggle
27
27. The Healer
28
28. Reset
29
29. Fairytale
30
30. Forgotten
31
31. Debutante
32
32. Silly
33
33. Artemis
34
34. Partner In Crime
35
35. Nuts
36
36. Framed
37
37. Cola
38
38. Bored
39
39. Variable
40
40. Help!
41
41. Zero
42
42. Trick Or Treat?
43
43. The Game
44
44. Chapter Two
45
45. Continued
46
pengumuman: CAST
47
46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48
47. Lust
49
48. Home
50
49. Right Side
51
50. Riddle
52
51. Decode
53
52. Sweet Seventeen
54
53. Spring Cup
55
54. Mystery
56
55. Mr. Rious
57
56. Interrogation
58
57. Database
59
58. Dancing
60
59. Suspect
61
60. May, 1st
62
61. UNO
63
62. Damn
64
63. Wait For Me
65
64. Sacrifice
66
65. Bloody Rose
67
66. Raflesia
68
67. Lottery
69
68. Racing
70
69. Asanatha
71
70. Bury The Hatchet
72
71. Tree
73
72. The Winner
74
73. Healed
75
74. Reminisce
76
75. Andromeda
77
76. Grim
78
77. Farewell
79
78. Encounter
80
79. Sleep
81
80. Once Upon A Time
82
81. Prison
83
82. Open
84
83. Falsity
85
84. Second Meeting
86
85. Axiom
87
86. Helpless
88
87. Misfortune
89
88. Animus
90
CHAPTER BONUS [1-A]
91
CHAPTER BONUS [1-B]
92
CHAPTER BONUS [2-A]
93
CHAPTER BONUS [2-B]
94
CHAPTER BONUS [3-A]
95
CHAPTER BONUS [3-B]
96
CHAPTER BONUS [4-A]
97
CHAPTER BONUS [4-B]
98
89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99
90. Crestfallen
100
91. Agreement
101
92. Pizza Delivery (Part 1)
102
93. Pizza Delivery (Part 2)
103
94. Narrow (Part 1)
104
95. Narrow (Part 2)
105
96. Possessed
106
97. Sorrow (Part 1)
107
98. Sorrow (Part 2)
108
99. Jack O'Lantern
109
100. Beginning Of The End
110
101. Laxity
111
102. Savior
112
103. Hostage
113
104. Bad Idea
114
105. Underestimate
115
106. Memorials
116
107. Solving
117
108. Misunderstanding
118
109. Curiosity Killed The Cat
119
110. Agony
120
111. Distancing
121
112. Foolish
122
113. Fall To Pieces
123
114. Aphrodite
124
115. Loosing Grip
125
116. Insanity
126
117. Ruthless
127
118. Ignorance
128
119. Hypocrisy
129
120. Complicated
130
121. Dignity
131
122. Stupidity
132
123. Catacombs
133
124. Absurd
134
125. Backlash
135
126. Vanished
136
127. Break Free
137
128. Darkness In The Light
138
129. Ambush On All Sides
139
130. Mare's Nest
140
131. Tenet
141
132. Clandestine
142
133. Judas
143
134. Sinister
144
135. Desire
145
136. Ares
146
137. Embrace
147
138. Up In The Air
148
139. Prejudice
149
pengumuman: LIST TOKOH
150
140. Diverge
151
141. Noticed
152
142. Float Kiss
153
143. Liars
154
144. Reunion
155
145. The Answer
156
146. Liberated
157
147. Carnage
158
148. Vendetta
159
149. 1 Stone For 2 Birds
160
150. Better Place
161
151. Pleasure
162
152. Trust & Hope
163
153. Rest
164
154. Good & Bad News
165
155. Bald Cypress
166
156. Leave
167
157. Painful
168
158. Invitation
169
159. A Guest
170
160. Piece Of Art
171
161. Aware
172
162. Journey
173
163. Inland
174
164. Westafo Hall
175
pengumuman: BREAK
176
165. Madam Derba
177
166. Good Side
178
167. The Stage
179
168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180
169. Deception
181
170. Evaluate
182
171. Dissent
183
172. Gratuitous
184
173. Departure
185
174. Voyage
186
175. Almost
187
176. Anger
188
177. Scratches
189
178. Discover
190
179. Out of Control
191
180. Perforce
192
181. Her
193
182. Myth
194
183. Him
195
184. Bleeding
196
185. Perfidy
197
186. Take Me Out of This Town

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!