Zeze membuang leher Aiden. Yang terpenting ia sudah tahu bahwa hal yang menjadi akar kekhawatirannya tidak pernah terjadi. Tentang apa yang akan diperbuat orang idiot itu kepadanya adalah urusan belakangan, tak lebih penting dari ramalan cuaca. Prioritasnya sekarang adalah mengganti pakaian sebelum ia terserang flu.
"Terserah," tukas Zeze. Ujung setiap helai rambutnya menyapu permukaan kulit wajah Aiden saat ia membalik badan, meninggalkan aroma mawar di udara.
Langkahnya melamban akibat sensasi menusuk di kaki, sehingga ia bahkan harus sedikit menyeret kakinya yang malang itu agar bisa bergerak maju. Beberapa menit kemudian seragam basahnya telah digantikan dengan kaus hitam lengan pendek dan celana training berwarna abu-abu. Itu adalah pakaian bebas yang akan ia gunakan untuk olahraga di jam pelajaran kelima. Namun tidak ada pilihan selain memakainya sekarang.
Langkahnya surut di kantin lantai tiga. Bukan untuk makan, melainkan tidur. UKS tidak menjadi pilihannya karena alasan pribadi; ia membenci aroma dan suasana rumah sakit. Beruntung tempat duduk kantin Exousia adalah sofa empuk yang bisa di-setting menjadi matras. Hanya ada segelintir orang di dalam kantin. Sempurna untuk mendapatkan waktu istirahat yang tenang.
Zeze memanjakan kepala dan punggungnya pada kelembutan sofa, lalu menekan sebuah tombol di samping sofa tersebut, seketika ukuran sofa memanjang sehingga kakinya bisa menyelonjor. Mata kantuknya pun terbungkus lipatan kulit yang sudah agak menghitam. Sampai satu jam ke depan, ia tidur pulas tanpa menyadari bunyi bel istirahat, sekaligus fakta bahwa dirinya telah melewatkan materi pelajaran.
Keramaian kantin mengusik tidurnya. Bulu matanya yang lentik bergetar bagai sayap kupu-kupu sebelum terbuka. Kantin telah cukup ramai, maka sudah waktunya ia hengkang dari tempat itu.
Kejanggalan ia rasakan sewaktu melintasi koridor luar kantin. Entah mengapa setiap orang yang melihatnya akan memicingkan mata dan mengernyitkan hidung seolah baru saja mencium kotoran.
Zeze memutar bola mata dan mendesah, apa lagi sekarang?
Tak ambil pusing, Zeze menguburkan kedua tangan di dalam saku celana dan memacu langkah, ketika tahu-tahu sesuatu yang dingin dan agak lembek mendarat mulus di pipi kanannya. Langkahnya seketika patah di tengah koridor. Diambilnya benda asing itu dengan ujung telunjuk dan dibawanya ke depan mata.
Kue?
Alunan tawa menyusul tak lama setelahnya. Datang lagi sesuatu dari arah belakang, kali ini yang menjadi korban adalah bajunya. Hanya dalam hitungan menit, setiap sisi tubuhnya telah menjadi tempat pendaratan kue.
Zeze sangat menyayangkan apabila kue seenak itu harus terbuang sia-sia. Padahal ia akan dengan senang hati menerimanya, bahkan jika mereka melemparkannya langsung ke dalam mulutnya.
Hah. Begini lagi.
Di saat ia tengah menggerutu dan menyemburkan umpatan kotor terbaiknya di dalam hati, semua itu berdatangan tanpa henti, dan ia telah berubah menjadi manusia kue.
"Mari kita sambut, anggota baru perkumpulan para pecundang."
Zeze mendengar seseorang berbicara mengumumkan. Ia tidak tahu dan tidak mau tahu siapa orang itu. Satu hal yang ia pahami, yakni maksud dari perkataan si Idiot Aiden Laktisma.
Jadi ini mainannya, huh?
Zeze mendengus geli. Tidak cukup kreatif.
Gelak tawa menyerbu dari segala penjuru, saling tumpang tindih dan sangat mengusik telinga. Bahkan Zeze yakin Juni dan Rhea akan ikut ambil bagian apabila kedua orang itu hadir di TKP.
Kue habis, tepung terigu beraksi. Serbuk menyesakkan itu menampar tubuh dan wajahnya bertubi-tubi. Cukup banyak untuk membuat batuk. Ia mengusap mukanya yang berlepotan.
Tak jauh dari pesta tepung, Aiden dan anggota gengnya menyaksikan kebrutalan yang mereka rancang dengan perasaan superior. Lengan kirinya sedikit bergoyang akibat pelukan manja seorang gadis berambut pirang.
"Tumben sekali kau menargetkan perempuan," ucap salah seorang teman lelakinya yang sedang menyandar pada dinding luar kantin.
"Itu artinya dia telah membuat Aiden marah besar, aku benar, kan?" Gadis pirang yang menggelayuti lengan Aiden ikut bicara.
"Tapi sangat disayangkan, padahal dia sangat cantik," timpal yang lain.
"Seharusnya kau berikan saja dia kepada kami," celetuk yang lain, tatapan matanya mencerminkan pikiran kotor.
Tak ada satu pun kata yang masuk ke telinga Aiden. Semua indranya tertancap pada seorang gadis bermandikan kue dan terigu yang mematung tak jauh dari tempatnya berdiri. Sekarang semua orang tengah menghadiahinya dengan lontaran telur busuk, yang menyebabkan tubuhnya menjadi benar-benar lengket dan bau.
Senyum puas tercetak di bibir Aiden. Itulah risiko berpihak kepada seorang pecundang; dia akan menjadi bagian dari makhluk menyedihkan itu. Dari awal, dia sudah salah besar karena memilih untuk membelanya. Lebih dari itu, dia membuat Aiden membendung rasa sakit di dada selama dua hari penuh!
Sekarang, nikmati permainannya.
Menit demi menit berlalu, dan Aiden mendadak menemukan suatu keanehan. Gadis mirip elf itu tidak kunjung membalas semua perlakuan buruk yang diarahkan kepadanya. Dia hanya berdiri diam membiarkan tubuhnya dihujani kotoran. Mengapa dia terlihat sangat pasrah? Padahal waktu itu dia tanpa takut menendang Aiden, yang jelas-jelas memiliki kedudukan lebih tinggi dari siapa pun yang sekarang sedang menyerangnya dengan bahan-bahan makanan.
Kenapa dia tidak melawan?
Aiden yakin sekali elf itu bukanlah tipe orang yang mudah menyerah karena keadaan. Bagaimana ia bisa yakin? Mengapa? Sial, umpat Aiden. Apa yang membuatnya gelisah? Apa ia menunggu elf itu untuk melakukan hal yang sama seperti yang lalu dia lakukan kepadanya?
Apakah hanya segini kemampuannya?
Tidak, dia tidak takut, Aiden sangat yakin itu. Malah lebih tepat jika menyebutnya... tidak peduli.
Aiden menggilas gigi-giginya. Apa dia tidak peduli pada dirinya sendiri?
Satu lagi poin yang Aiden tambahkan mengenai karakter elf itu; dia tidak menolerir siapa pun yang telah atau mencoba menyakiti teman-temannya, dibanding saat ancaman itu mengarah pada dirinya sendiri. Dia benar-benar menganggap bahwa dirinya tidak cukup penting.
Di luar kesadaran, Aiden melangkah maju sehingga gadis yang sedang memeluknya ikut terseret bersamanya. "Ada masalah apa, Aiden?" Tanyanya kebingungan.
Aiden tersentak dan menyendat langkahnya. Ada apa denganku? Apa aku akan menolongnya? Tidak mungkin! Tapi, ke mana perginya tatapan yang dingin itu? Tatapan setajam pisau yang selalu dia tunjukkan kepadaku?
Peperangan antara hati dan pikiran dimenangkan oleh sang hati. Lelaki bersurai emas itu menguraikan pelukan pada lengannya dan lantas mengegah maju ke arah Zeze.
"Berhenti!"
Semuanya sontak menghentikan aktivitas mereka, termasuk Aiden.
"Apa yang kalian pikir sedang kalian lakukan!?"
Aiden kenal suara itu. Suara milik seseorang yang dibencinya, kakak kandungnya sendiri, Airo Laktisma.
"Tidakkah kalian sadar kalau tindakan kalian berpotensi mengotori nama baik akademi ini!?" Bentak Airo di hadapan semua orang, yang lantas mengatupkan bibir rapat-rapat dan menunduk dalam-dalam. Lelaki yang sedang mengomeli mereka adalah Putra Ketiga Marquess Laktisma, salah satu dari sedikit keluarga Marquess paling berkuasa di Aplistia. Jasa-jasa keluarga tersebut dalam menjaga perbatasan negara tidak cukup untuk dihitung jari. Selain itu, dia adalah teman baik Pangeran Kion, keturunan kerajaan dari keluarga pendiri dengan kedudukan tertinggi di Aplistia.
"Sebaiknya kalian bubar," saran seorang perempuan berambut cokelat pendek yang muncul di belakang Airo.
Perempuan itu juga familier bagi mereka. Dia juga merupakan teman baik Pangeran Kion. Putri Kedua Duke Gahernam, Lady Volta.
Dari balik bulu matanya yang telah terbebani adonan kue dan tepung, Zeze melihat Airo menganggukkan kepalanya kepada Volta yang berdiri di sisi kirinya.
Merespons anggukan Airo, Volta mendekati Zeze dan mengait pergelangan tangan Sang Putri tanpa sedikit pun rasa jijik. "Ayo, kau harus membersihkan dirimu,"
Saat hendak menaruh kakinya di elevator, mata Zeze tanpa sengaja berjumpa dengan mata hitam Aiden yang masih terjebak dalam kebekuan.
Aiden tersentak. Itu dia! Itu yang ditunggu-tunggunya sejak tadi; tatapan dingin dan jijik tanpa rasa takut itu! Sepertinya tatapan itu memang tercipta untuknya, hanya untuknya, dan anehnya ia merasa lega, karena ternyata tatapan itu masih ada.
Bahkan setelah punggung Zeze lenyap dilahap jarak, Aiden masih tetap memandang ke tempat di mana pudarnya sosok elf berambut platinum itu.
Kacau. Pikiran, hatinya, semua kacau.
Elf itu selalu mengacaukannya. Segalanya. Bahkan penderitaan yang dialaminya dua hari belakangan bukan hanya karena rasa sakit yang mendera dadanya, tapi juga karena rasa penasaran tentang asal-usulnya yang berhasil menghantui pikiran.
"Brengsek!"
Teman-teman satu gengnya menegang, mereka mulai menjaga jarak dari si Bungsu Laktisma. Aiden sedang marah, itu berarti hal gawat.
Tapi sesaat kemudian, Aiden kembali tenang berkat satu embusan napas dan pemikiran tentang reputasi keluarganya. Ia tidak boleh hilang kendali di depan banyak orang.
Orang tua itu akan membunuhku kalau dia sampai dipanggil lagi.
Ditatapnya lekat tempat elf itu menghilang.
Rozeale Finn, kau benar-benar pengacau.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments