12. Red Rose

Tak bisakah idiot itu untuk sekali saja berhenti membuat jantungnya hampir copot?

Leher Zeze mengayun ke samping, menghela napas dalam kejengkelan saat mendapati mata lebam itu ternyata belum terbuka. Di atas lantai gudang yang telah berdebu dan membeku, Zeze melipat kakinya dan bersila. Telunjuknya mendekati sudut mata Glen yang telah membiru dan menekan-nekannya. Alis Glen berkedut, antara kesakitan atau jengkel. Bibirnya yang pucat dan pecah membuat celah, berbisik, “Jika merasa ingin membunuhku, lakukan sekarang juga dan dengan cepat. Berhenti menyiksaku.”

Tekanan iseng itu lalu menjelma menjadi sapuan lembut yang berlangsung selamanya, turun ke pipi, ke dagu, naik lagi ke pipi, dan berhenti di puncak hidung.

“Jika kau terus menjadi orang idiot, cepat atau lambat kau akan mati tanpa bantuanku,” bisik Zeze, menekan-nekan puncak hidung itu. “Jangan mati, Glen. Kalau kau mati, kau tidak akan bisa membunuhku,” jeda sebentar, “Aku hanya ingin mati di tanganmu.”

Bola mata Glen terungkap saat telunjuk itu menjauh dari hidungnya. Kolam kembar segelap malam melekat pada wajah seorang gadis yang berjarak hanya beberapa senti saja dari titik terdekat garis pandangnya.

Glen mengangkat tangan kirinya. Mulanya hanya terombang-ambing di udara, lalu pelan-pelan mendekati wajah Zeze, menyentuh ringan dagu dan membawanya mendongak.

Tak terduga, begitu tiba-tiba dan secara mengejutkan, tangan besar itu menargetkan lehernya. Genggamannya tidak termasuk ke dalam kategori kuat, tidak pula lemah, namun atmosfer dan syok membuat Zeze kehilangan napasnya.

Tali sunyi menjerat mereka, dengan hanya tatapan mata yang bercerita, sampai tawa hambar Zeze memotongnya. "Aku tidak bisa mati sekarang. Masih ada hal yang harus kulakukan."

Zeze menguraikan tangan Glen dari lehernya, membungkusnya dengan kedua tangan. "Kau juga tidak boleh mati sekarang," Bibirnya mendekat ke telinga Glen, meniupnya di sepanjang kata, "Karena aku akan kesulitan menyeret tubuhmu."

Dilepasnya tangan Glen selagi melompat berdiri. Glen mendongak dan melihat Zeze tengah mengumpulkan rambutnya menjadi satu. Ekor silver mengalir ke punggung. Dia menjatuhkan satu tangan dengan telapak tangan terbuka di depan wajah Glen, "Ayo," ajaknya.

Kelima jari itu menari-nari, meminta untuk diraih, sementara Glen diam mengamati gerakan mereka.

"Glen..."

Hatinya pun luluh.

Tangan mereka bertaut. Tak cukup menarik Glen dengan satu tangan, Zeze menggunakan kedua tangannya, menariknya kuat hingga dia dapat berpijak dengan kedua kaki.

Meskipun babak belur, Glen masih sanggup berdiri tegap, seakan ia sudah terbiasa menelan rasa sakit, seakan rasa sakit itu telah menjadi bagian dari dirinya. Keduanya berdiri berhadapan dengan jemari saling mengikat. Zeze harus sedikit mendongak untuk menggapai mata Glen. Ia tidak bisa membaca apa pun di sana, tapi yang penting tidak ada penolakan.

Karena Glen tak kunjung bergerak, Zeze pun menarik tangannya. Tangannya besar dan keras dan kasar—kapalan—hasil dari latihan pedang dengan tekun selama bertahun-tahun. Menilik kaki Glen yang dapat mengikuti langkahnya dengan baik, membuktikan bahwa Zeze tidak perlu khawatir dia akan pingsan kapan saja.

Zeze mengangkat telunjuk tangannya yang bebas ke depan wajah. Seketika nyala api berkobar di ujung kukunya yang merah, membebaskan dirinya dan lelaki di belakangnya dari kegelapan.

"Glen, apa kau takut hantu?" Tanya Zeze tanpa menoleh. Lagi-lagi absurd. Dia selalu mengatakan hal-hal absurd. Bagi Glen, itu adalah satu-satunya hal yang tak pernah berubah darinya. "Jika salah satu di antara kita mati," Zeze melanjutkan, "Mari berjanji untuk menjenguk yang masih hidup."

Tak ada balasan dari arah belakang.

"Apakah kau sudah tahu aku akan datang?"

Satu menit hanya diisi oleh suara langkah kaki, lalu balasan itu datang seperti sebuah ejekan, “Karena seperti itulah kau, tukang-ikut-campur.”

Zeze mengulum senyum, "Jadi kau mengaku bahwa sejak tadi kau menungguku?" Godanya saat menuruni eskalator yang sudah tak bergerak menuju lantai satu.

Glen memilih bungkam.

"Kau tidak bisa pergi dari sana lantaran kau khawatir aku akan berakhir berputar-putar mencarimu."

Glen tahu itu bukan pertanyaan, karenanya daripada menjawab, ia berkomentar, "Itulah mengapa kau sangat merepotkan."

Sekarang suara langkah kaki mereka terdengar berbeda—sepatu mereka telah menginjak padang rumput di area belakang akademi. Sekitar lima puluh meter di depan adalah dataran yang menanjak, tempat berdirinya menara kembar sebagai asrama pelajar. Atapnya menghilang dalam kabut. Sejumlah jendelanya masih menyala oleh lampu.

Walau kicauan binatang malam mengisi sunyi, tak ada satu pun yang benar-benar dapat mereka dengar selain suara batin masing-masing. Zeze berhenti melangkah sehingga Glen mengikuti tindakannya. Ia membalik badan dan tanpa menatap matanya berpesan, “Tunggu di sini.” Melepas jalinan tangan mereka, ia kembali ke dalam bangunan, mengambil ransel hitam Glen, melompat keluar melalui jendela di atas kepala Glen dan mendarat sempurna di hadapannya. Disodorkannya tas tersebut kepada pemiliknya, yang menerimanya seperti bom waktu. Mereka pun meninggalkan bangunan luas itu bersisian dalam keheningan.

"Nah, sekarang kau bisa pergi tanpa perlu memikirkanku." Zeze mempercepat langkahnya setelah menutup mulut.

Tidak sedikit pun ia menoleh, tidak boleh. Karena jika ia melakukannya, sekalipun hanya sekali, ia takut kakinya takkan sanggup lagi mengambil langkah maju.

Tanpa dituntun sekalipun, Glen bisa dengan mudah menemukan jalan keluar, dan ia tahu itu dengan sangat jelas. Namun, egonya merajai. Ia masih dan akan selamanya menginginkan kebersamaan dengannya. Ia masih ingin merasakan tekstur tangannya.

"Roze."

Suara itu, suara favoritnya. Dewa, kapan sejak terakhir kali suara itu bersedia melisankan namanya?

Langkahnya patah seketika. Sial, mengapa ia begitu lemah? Begitu rapuh? Tidak, ia tidak boleh menoleh.

Waktu terus bergulir, angin terus meniupkan dedaunan kering, dan masih tak kunjung ada sambungan, dan itu sungguh membuatnya frustrasi hingga menumbuhkan keberanian untuk menoleh ke belakang.

Delapan meter darinya, Glen masih mematung di tempat yang sama, dengan satu tangan bersarang di saku celana dan tangan yang lain di tali ransel yang tersampir di sebelah pundak, memandangnya datar.

"Jika hal seperti ini terjadi lagi, jangan mencariku." Itu perintah. Suara dan sorot matanya tak terbaca, tapi Zeze tahu dia tidak main-main.

Zeze tersenyum pahit, setengah mengejek, lalu membalik badan. Ternyata bukan hanya dirinya yang egois, tapi dia juga.

"Tidak," jawabnya, datar dan tegas, "Kau tidak bisa melarangku seperti kau tidak ingin aku melarangmu."

Zeze melangkah maju. Ya, untuk saat ini ia bisa maju. "Aku akan melakukan semua hal dengan caraku sendiri," lanjutnya dari kejauhan.

Meski ia tahu dengan sangat jelas, bahwa ketika ia menoleh Glen sudah tidak akan terlihat lagi, ia tetap takut melakukannya. Ia takut keberuntungan singkat itu takkan terulang lagi.

Langkahnya surut di kaki bukit akibat ponsel yang tiada henti bergetar sejak mereka berhadapan di lapangan. Mengambilnya dari saku celana, Zeze melotot begitu melihat barisan nama Juni di layar. Sial! 50 panggilan tak terjawab! Bersama dengan Glen selalu membuatnya lupa akan segala hal, bahkan hal penting seperti waktu dan rencana.

Secepat mungkin Zeze berlari menuju gedung tinggi terdekat, gedung apartemen, dan tiba di atapnya menggunakan lift, tanpa mengindahkan getaran berulang-ulang dari ponselnya. Sepintas, ia merasakan kegelisahan yang familier namun gagal untuk diungkapkan. Tetapi bukan saatnya untuk memikirkan hal-hal abstrak sementara hal nyata tengah menunggu di depan jalan.

Sesungguhnya Zeze tidak mau buang-buang tenaga menggunakan kemampuan spesialnya, tapi misi baginya adalah hal yang lebih prioritas dibanding kesehatan tubuhnya sendiri. Oleh karena itu, ia terbang dengan kecepatan nyaris penuh, tetap hati-hati agar jangan kelepasan memasuki jalur mobil terbang. Hologram 3D wanita raksasa berambut hijau yang muncul di dinding luar sebuah gedung pencakar langit milik perusahaan pengembang “pacar AI virtual”, melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum mengundang.

Sebuah mobil sport hitam dengan pintu disandari seorang gadis berkemeja hijau gelap, terlihat terparkir di pinggir taman yang mengitari danau buatan. Zeze langsung memadamkan sayap dan mendarat tegap di depannya.

"Lambat." Itulah kata sambutan untuknya.

"Maaf. Ada urusan mendadak," Zeze beralasan selagi meregangkan otot-otot di bahu, meringis saat merasakan nyeri.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Juni, cemas melihat muka Zeze yang memutih seperti hantu.

Zeze mengibaskan tangan, "Kau sudah mendapatkan boneka, atau perlu aku mencarikan beberapa untukmu?

Juni melirik ke belakang Zeze, membawa mata Zeze ikut bersamanya. Dari balik gelapnya pepohonan, lima orang pria bermata kosong dalam balutan jas hitam, berjalan ke arahnya dengan langkah terseok-seok di atas rerumputan. Masing-masing dari mereka membawa senapan hitam model terbaru. Mulut mereka yang menganga lebar meneteskan air liur. Seperti... zombie!

"Sempurna," Zeze tersenyum puas lalu memasang topengnya, begitu pula Juni. Topeng Juni adalah topeng karnaval Roma kuno, sama seperti Zeze, tapi dengan model pulcinella. Dengan bentuk hidung bengkak dan melengkung seperti paruh burung, topeng itu hanya menutupi bagian atas wajahnya.

"Ayo mulai."

Zeze dan Juni berderap mendekati mansion cokelat bata di balik pepohonan, sedikit menanjak. Mereka datang dari sisi samping, melewati gerbang dan dinding dengan bantuan pundak para zombie, lalu melesat langsung ke lantai dua. Sedangkan para zombie tinggal di pekarangan. Dua menit berselang, keduanya langsung mendengar bunyi adu tembak dan jeritan di bawah sana.

“Kiri adalah bagianmu, sementara aku akan mengurus bangsal kanan. Para sampah itu pasti sedang berpikir untuk memisahkan diri demi mencegah kepunahan garis keturunan mereka,” jelas Zeze. “Sayangnya aku tidak tertarik menerima dendam. Hanguskan semuanya.”

Juni mengangguk mantap. Dirinya yang sekarang bukanlah tipe yang mudah mendengarkan ucapan sembarang orang, namun ia akan selalu percaya pada kata-kata Zeze, sosok yang diakuinya.

Mereka berpencar. Terlalu sepi dan sebagian ruangan gelap gulita. Para sampah itu kemungkinan telah mengendus rencananya. Sial, semua terjadi karena ia terlalu lama memberi makan perasaan dan egonya.

Zeze berdecak menyesali perbuatannya, dengan kilat menyisir sisi kanan bangunan. Ruangan demi ruangan ia periksa satu per satu, tapi selalu kehampaan yang ditemuinya. Ketika hampir putus asa, tiba-tiba sudut matanya menangkap pemandangan di luar jendela dimana seorang wanita bergaun merah tengah ditarik—hampir diseret—oleh seorang pria bertuxedo menuju kebun bunga mawar.

"Ayo, cepat, lewat sini!" desis si Pria.

"Tapi," Wanita bergaun merah terengah-engah, pakaiannya membuatnya sulit mengikuti, "Apakah ini boleh dilakukan? Akankah kita kena masalah setelah ini?"

“Jangan memikirkan hal lain! Pikirkan dirimu sendiri. Kita seharusnya tidak terlibat dalam masalah ini. Sial! Kalau saja aku tahu jadinya akan seperti ini, aku tidak akan—”

Tiba-tiba si Pria merasakan si Wanita berhenti bergerak setelah berjengit. Si Pria menoleh ke belakang dan langsung membulatkan mata kala menyaksikan gambaran horor yang menyebarkan teror; sang wanita bergaun merah tengah meronta-ronta, berjuang keras menguraikan jari-jemari ramping berkuku tajam yang melingkari lehernya dari arah belakang.

"To... tolong!" Wanita itu berteriak. Karena jalur pernapasannya terhalang, kalimat yang dia ucapkan selanjutnya hanya bisa didengar oleh Zeze, "Ka... mi... tid... akh.... ber... sa... la... kh...."

Panik, pria di depannya spontan mencabut pistol di samping pinggang dan mengarahkannya tepat kepada sosok bertopeng mengerikan yang berdiri di belakang wanita bergaun merah.

"Tahan," titah Zeze dengan suara menajam, tanpa sedikit pun getaran takut. "Kau hanya akan menyesal bila melakukannya."

Tangan pria itu bergetar hebat. Keringat telah mengguyur sekujur tubuhnya. Ia panik, bingung, takut, semua bercampur menjadi satu. Sambil berteriak, ia menarik pelatuk pistol, yang menjadi penyebab tertanamnya sebuah logam mematikan di daging seorang manusia.

Tubuh itu lunglai dan jatuh ke tanah bagai boneka yang putus dari talinya. Darah menyatu dengan merahnya mawar di bawah sinar keperakan sang dewi malam.

"Aku sudah memperingatkanmu...."

Pria itu menatap jasad di dekat kakinya dengan horor tergambar di sorot mata. Tubuhnya bergetar hebat, tak lama ia menjerit kesetanan. Pistolnya pun ia acuhkan saat meluncur dari genggaman.

Bisa-bisanya sosok bertopeng itu menggunakan tubuh wanita yang dicintainya sebagai tameng untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari hantaman peluru!?

"Dia bukan targetku. Aku tahu setelah melihat wajahnya dari dekat. Aku tahu dia—kalian berdua—dipaksa menyamar guna mengulur waktu supaya majikan kalian dapat melarikan diri. Kau sudah melakukan suatu kesalahan besar."

Pria itu jatuh berlutut, hampa dalam tatapannya melekat pada tubuh kaku wanita yang ingin dinikahinya. Jika saja... jika saja ia tidak memilih jalan ini! Jika saja ia memiliki keberanian untuk melawan sewaktu diperlakukan semena-mena oleh para bangsawan brengsek itu! Ia lebih memilih mati daripada harus melayani mereka lagi!

"Dia meminta tolong bukan kepadamu, tapi kepadaku."

Pria itu mendongak menatapnya. Matanya yang merah-berair terbelalak karena terkejut.

"Sekarang, katakan. Bagaimana kau ingin aku menolongmu?"

Matanya terbuka semakin lebar, menumpahkan air yang menumpuk di dalamnya. Isak tangis yang semula lirih, kini menyebar ke seantero kebun bunga yang padat akan mawar merah. Begitu menyiksa. Begitu menyayat hati.

"To—tolong!"

Ia masih setia menunggu pria itu menyelesaikan kalimatnya.

"Bu—bunuh aku," pintanya, terdengar sangat memohon.

Mata birunya mulai kehilangan cahaya, namun ia tetap mempertahankan pijakannya seolah tahu bahwa masih ada yang ingin pria itu minta darinya.

"Dan juga para iblis itu!"

Akhirnya ia melangkah maju, berusaha untuk tidak menginjak jasad wanita bergaun merah di hadapannya. “Maaf soal itu,” gumamnya, “Tanganku bergerak refleks melindungi diri sendiri. Aku sama sekali tidak bermaksud...”

Zeze tidak mengerti mengapa ia mencoba untuk menjelaskan kebenaran kepada orang yang sebentar lagi akan mati. Ada yang salah dengannya. Tidak seperti 'Zeze' yang biasanya. Apakah kembali ke tempat kelahirannya—tempat yang menyimpan berjuta kenangan semasa kecil, masa di mana matanya masih memancarkan kepolosan dan belum ternoda oleh dosa—telah pelan-pelan mengubah dirinya tanpa ia sadari?

Zeze menggeleng, mengusir pertanyaan tak berguna itu dari kepalanya.

Dengan gerakan seringan kapas, kedua tangannya meraih kepala pria itu, menempatkan mereka dengan lembut di kedua sisi. Lalu, dengan satu gerakan kilat, ia memutarnya ke kanan dan ke kiri, lalu ditariknya atas, hingga derak mengerikan berbunyi mendampingi terangnya sinar rembulan.

"Selamat malam."

Terpopuler

Comments

Gabby

Gabby

#mau nanya
juni bisa ngendaliin orangkah?

2020-06-14

6

lihat semua
Episodes
1 1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2 2. Started
3 3. Cracked Mask
4 4. Fiancé
5 5. Whisper
6 6. Academy
7 7. Empty Chair
8 8. Untitled
9 9. Goddess
10 10. Orange
11 11. Idiot
12 12. Red Rose
13 13. Smooth Criminal
14 14. New Toy
15 15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16 16. Punishment
17 17. Misner Space
18 18. Light
19 19. Deal
20 20. Cemetery
21 21. Rozeale Ankhatia
22 22. If It Was You
23 23. Old Friend
24 24. Falling
25 25. Imbalance
26 26. Struggle
27 27. The Healer
28 28. Reset
29 29. Fairytale
30 30. Forgotten
31 31. Debutante
32 32. Silly
33 33. Artemis
34 34. Partner In Crime
35 35. Nuts
36 36. Framed
37 37. Cola
38 38. Bored
39 39. Variable
40 40. Help!
41 41. Zero
42 42. Trick Or Treat?
43 43. The Game
44 44. Chapter Two
45 45. Continued
46 pengumuman: CAST
47 46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48 47. Lust
49 48. Home
50 49. Right Side
51 50. Riddle
52 51. Decode
53 52. Sweet Seventeen
54 53. Spring Cup
55 54. Mystery
56 55. Mr. Rious
57 56. Interrogation
58 57. Database
59 58. Dancing
60 59. Suspect
61 60. May, 1st
62 61. UNO
63 62. Damn
64 63. Wait For Me
65 64. Sacrifice
66 65. Bloody Rose
67 66. Raflesia
68 67. Lottery
69 68. Racing
70 69. Asanatha
71 70. Bury The Hatchet
72 71. Tree
73 72. The Winner
74 73. Healed
75 74. Reminisce
76 75. Andromeda
77 76. Grim
78 77. Farewell
79 78. Encounter
80 79. Sleep
81 80. Once Upon A Time
82 81. Prison
83 82. Open
84 83. Falsity
85 84. Second Meeting
86 85. Axiom
87 86. Helpless
88 87. Misfortune
89 88. Animus
90 CHAPTER BONUS [1-A]
91 CHAPTER BONUS [1-B]
92 CHAPTER BONUS [2-A]
93 CHAPTER BONUS [2-B]
94 CHAPTER BONUS [3-A]
95 CHAPTER BONUS [3-B]
96 CHAPTER BONUS [4-A]
97 CHAPTER BONUS [4-B]
98 89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99 90. Crestfallen
100 91. Agreement
101 92. Pizza Delivery (Part 1)
102 93. Pizza Delivery (Part 2)
103 94. Narrow (Part 1)
104 95. Narrow (Part 2)
105 96. Possessed
106 97. Sorrow (Part 1)
107 98. Sorrow (Part 2)
108 99. Jack O'Lantern
109 100. Beginning Of The End
110 101. Laxity
111 102. Savior
112 103. Hostage
113 104. Bad Idea
114 105. Underestimate
115 106. Memorials
116 107. Solving
117 108. Misunderstanding
118 109. Curiosity Killed The Cat
119 110. Agony
120 111. Distancing
121 112. Foolish
122 113. Fall To Pieces
123 114. Aphrodite
124 115. Loosing Grip
125 116. Insanity
126 117. Ruthless
127 118. Ignorance
128 119. Hypocrisy
129 120. Complicated
130 121. Dignity
131 122. Stupidity
132 123. Catacombs
133 124. Absurd
134 125. Backlash
135 126. Vanished
136 127. Break Free
137 128. Darkness In The Light
138 129. Ambush On All Sides
139 130. Mare's Nest
140 131. Tenet
141 132. Clandestine
142 133. Judas
143 134. Sinister
144 135. Desire
145 136. Ares
146 137. Embrace
147 138. Up In The Air
148 139. Prejudice
149 pengumuman: LIST TOKOH
150 140. Diverge
151 141. Noticed
152 142. Float Kiss
153 143. Liars
154 144. Reunion
155 145. The Answer
156 146. Liberated
157 147. Carnage
158 148. Vendetta
159 149. 1 Stone For 2 Birds
160 150. Better Place
161 151. Pleasure
162 152. Trust & Hope
163 153. Rest
164 154. Good & Bad News
165 155. Bald Cypress
166 156. Leave
167 157. Painful
168 158. Invitation
169 159. A Guest
170 160. Piece Of Art
171 161. Aware
172 162. Journey
173 163. Inland
174 164. Westafo Hall
175 pengumuman: BREAK
176 165. Madam Derba
177 166. Good Side
178 167. The Stage
179 168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180 169. Deception
181 170. Evaluate
182 171. Dissent
183 172. Gratuitous
184 173. Departure
185 174. Voyage
186 175. Almost
187 176. Anger
188 177. Scratches
189 178. Discover
190 179. Out of Control
191 180. Perforce
192 181. Her
193 182. Myth
194 183. Him
195 184. Bleeding
196 185. Perfidy
197 186. Take Me Out of This Town
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2
2. Started
3
3. Cracked Mask
4
4. Fiancé
5
5. Whisper
6
6. Academy
7
7. Empty Chair
8
8. Untitled
9
9. Goddess
10
10. Orange
11
11. Idiot
12
12. Red Rose
13
13. Smooth Criminal
14
14. New Toy
15
15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16
16. Punishment
17
17. Misner Space
18
18. Light
19
19. Deal
20
20. Cemetery
21
21. Rozeale Ankhatia
22
22. If It Was You
23
23. Old Friend
24
24. Falling
25
25. Imbalance
26
26. Struggle
27
27. The Healer
28
28. Reset
29
29. Fairytale
30
30. Forgotten
31
31. Debutante
32
32. Silly
33
33. Artemis
34
34. Partner In Crime
35
35. Nuts
36
36. Framed
37
37. Cola
38
38. Bored
39
39. Variable
40
40. Help!
41
41. Zero
42
42. Trick Or Treat?
43
43. The Game
44
44. Chapter Two
45
45. Continued
46
pengumuman: CAST
47
46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48
47. Lust
49
48. Home
50
49. Right Side
51
50. Riddle
52
51. Decode
53
52. Sweet Seventeen
54
53. Spring Cup
55
54. Mystery
56
55. Mr. Rious
57
56. Interrogation
58
57. Database
59
58. Dancing
60
59. Suspect
61
60. May, 1st
62
61. UNO
63
62. Damn
64
63. Wait For Me
65
64. Sacrifice
66
65. Bloody Rose
67
66. Raflesia
68
67. Lottery
69
68. Racing
70
69. Asanatha
71
70. Bury The Hatchet
72
71. Tree
73
72. The Winner
74
73. Healed
75
74. Reminisce
76
75. Andromeda
77
76. Grim
78
77. Farewell
79
78. Encounter
80
79. Sleep
81
80. Once Upon A Time
82
81. Prison
83
82. Open
84
83. Falsity
85
84. Second Meeting
86
85. Axiom
87
86. Helpless
88
87. Misfortune
89
88. Animus
90
CHAPTER BONUS [1-A]
91
CHAPTER BONUS [1-B]
92
CHAPTER BONUS [2-A]
93
CHAPTER BONUS [2-B]
94
CHAPTER BONUS [3-A]
95
CHAPTER BONUS [3-B]
96
CHAPTER BONUS [4-A]
97
CHAPTER BONUS [4-B]
98
89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99
90. Crestfallen
100
91. Agreement
101
92. Pizza Delivery (Part 1)
102
93. Pizza Delivery (Part 2)
103
94. Narrow (Part 1)
104
95. Narrow (Part 2)
105
96. Possessed
106
97. Sorrow (Part 1)
107
98. Sorrow (Part 2)
108
99. Jack O'Lantern
109
100. Beginning Of The End
110
101. Laxity
111
102. Savior
112
103. Hostage
113
104. Bad Idea
114
105. Underestimate
115
106. Memorials
116
107. Solving
117
108. Misunderstanding
118
109. Curiosity Killed The Cat
119
110. Agony
120
111. Distancing
121
112. Foolish
122
113. Fall To Pieces
123
114. Aphrodite
124
115. Loosing Grip
125
116. Insanity
126
117. Ruthless
127
118. Ignorance
128
119. Hypocrisy
129
120. Complicated
130
121. Dignity
131
122. Stupidity
132
123. Catacombs
133
124. Absurd
134
125. Backlash
135
126. Vanished
136
127. Break Free
137
128. Darkness In The Light
138
129. Ambush On All Sides
139
130. Mare's Nest
140
131. Tenet
141
132. Clandestine
142
133. Judas
143
134. Sinister
144
135. Desire
145
136. Ares
146
137. Embrace
147
138. Up In The Air
148
139. Prejudice
149
pengumuman: LIST TOKOH
150
140. Diverge
151
141. Noticed
152
142. Float Kiss
153
143. Liars
154
144. Reunion
155
145. The Answer
156
146. Liberated
157
147. Carnage
158
148. Vendetta
159
149. 1 Stone For 2 Birds
160
150. Better Place
161
151. Pleasure
162
152. Trust & Hope
163
153. Rest
164
154. Good & Bad News
165
155. Bald Cypress
166
156. Leave
167
157. Painful
168
158. Invitation
169
159. A Guest
170
160. Piece Of Art
171
161. Aware
172
162. Journey
173
163. Inland
174
164. Westafo Hall
175
pengumuman: BREAK
176
165. Madam Derba
177
166. Good Side
178
167. The Stage
179
168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180
169. Deception
181
170. Evaluate
182
171. Dissent
183
172. Gratuitous
184
173. Departure
185
174. Voyage
186
175. Almost
187
176. Anger
188
177. Scratches
189
178. Discover
190
179. Out of Control
191
180. Perforce
192
181. Her
193
182. Myth
194
183. Him
195
184. Bleeding
196
185. Perfidy
197
186. Take Me Out of This Town

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!