Tak bisakah idiot itu untuk sekali saja berhenti membuat jantungnya hampir copot?
Leher Zeze mengayun ke samping, menghela napas dalam kejengkelan saat mendapati mata lebam itu ternyata belum terbuka. Di atas lantai gudang yang telah berdebu dan membeku, Zeze melipat kakinya dan bersila. Telunjuknya mendekati sudut mata Glen yang telah membiru dan menekan-nekannya. Alis Glen berkedut, antara kesakitan atau jengkel. Bibirnya yang pucat dan pecah membuat celah, berbisik, “Jika merasa ingin membunuhku, lakukan sekarang juga dan dengan cepat. Berhenti menyiksaku.”
Tekanan iseng itu lalu menjelma menjadi sapuan lembut yang berlangsung selamanya, turun ke pipi, ke dagu, naik lagi ke pipi, dan berhenti di puncak hidung.
“Jika kau terus menjadi orang idiot, cepat atau lambat kau akan mati tanpa bantuanku,” bisik Zeze, menekan-nekan puncak hidung itu. “Jangan mati, Glen. Kalau kau mati, kau tidak akan bisa membunuhku,” jeda sebentar, “Aku hanya ingin mati di tanganmu.”
Bola mata Glen terungkap saat telunjuk itu menjauh dari hidungnya. Kolam kembar segelap malam melekat pada wajah seorang gadis yang berjarak hanya beberapa senti saja dari titik terdekat garis pandangnya.
Glen mengangkat tangan kirinya. Mulanya hanya terombang-ambing di udara, lalu pelan-pelan mendekati wajah Zeze, menyentuh ringan dagu dan membawanya mendongak.
Tak terduga, begitu tiba-tiba dan secara mengejutkan, tangan besar itu menargetkan lehernya. Genggamannya tidak termasuk ke dalam kategori kuat, tidak pula lemah, namun atmosfer dan syok membuat Zeze kehilangan napasnya.
Tali sunyi menjerat mereka, dengan hanya tatapan mata yang bercerita, sampai tawa hambar Zeze memotongnya. "Aku tidak bisa mati sekarang. Masih ada hal yang harus kulakukan."
Zeze menguraikan tangan Glen dari lehernya, membungkusnya dengan kedua tangan. "Kau juga tidak boleh mati sekarang," Bibirnya mendekat ke telinga Glen, meniupnya di sepanjang kata, "Karena aku akan kesulitan menyeret tubuhmu."
Dilepasnya tangan Glen selagi melompat berdiri. Glen mendongak dan melihat Zeze tengah mengumpulkan rambutnya menjadi satu. Ekor silver mengalir ke punggung. Dia menjatuhkan satu tangan dengan telapak tangan terbuka di depan wajah Glen, "Ayo," ajaknya.
Kelima jari itu menari-nari, meminta untuk diraih, sementara Glen diam mengamati gerakan mereka.
"Glen..."
Hatinya pun luluh.
Tangan mereka bertaut. Tak cukup menarik Glen dengan satu tangan, Zeze menggunakan kedua tangannya, menariknya kuat hingga dia dapat berpijak dengan kedua kaki.
Meskipun babak belur, Glen masih sanggup berdiri tegap, seakan ia sudah terbiasa menelan rasa sakit, seakan rasa sakit itu telah menjadi bagian dari dirinya. Keduanya berdiri berhadapan dengan jemari saling mengikat. Zeze harus sedikit mendongak untuk menggapai mata Glen. Ia tidak bisa membaca apa pun di sana, tapi yang penting tidak ada penolakan.
Karena Glen tak kunjung bergerak, Zeze pun menarik tangannya. Tangannya besar dan keras dan kasar—kapalan—hasil dari latihan pedang dengan tekun selama bertahun-tahun. Menilik kaki Glen yang dapat mengikuti langkahnya dengan baik, membuktikan bahwa Zeze tidak perlu khawatir dia akan pingsan kapan saja.
Zeze mengangkat telunjuk tangannya yang bebas ke depan wajah. Seketika nyala api berkobar di ujung kukunya yang merah, membebaskan dirinya dan lelaki di belakangnya dari kegelapan.
"Glen, apa kau takut hantu?" Tanya Zeze tanpa menoleh. Lagi-lagi absurd. Dia selalu mengatakan hal-hal absurd. Bagi Glen, itu adalah satu-satunya hal yang tak pernah berubah darinya. "Jika salah satu di antara kita mati," Zeze melanjutkan, "Mari berjanji untuk menjenguk yang masih hidup."
Tak ada balasan dari arah belakang.
"Apakah kau sudah tahu aku akan datang?"
Satu menit hanya diisi oleh suara langkah kaki, lalu balasan itu datang seperti sebuah ejekan, “Karena seperti itulah kau, tukang-ikut-campur.”
Zeze mengulum senyum, "Jadi kau mengaku bahwa sejak tadi kau menungguku?" Godanya saat menuruni eskalator yang sudah tak bergerak menuju lantai satu.
Glen memilih bungkam.
"Kau tidak bisa pergi dari sana lantaran kau khawatir aku akan berakhir berputar-putar mencarimu."
Glen tahu itu bukan pertanyaan, karenanya daripada menjawab, ia berkomentar, "Itulah mengapa kau sangat merepotkan."
Sekarang suara langkah kaki mereka terdengar berbeda—sepatu mereka telah menginjak padang rumput di area belakang akademi. Sekitar lima puluh meter di depan adalah dataran yang menanjak, tempat berdirinya menara kembar sebagai asrama pelajar. Atapnya menghilang dalam kabut. Sejumlah jendelanya masih menyala oleh lampu.
Walau kicauan binatang malam mengisi sunyi, tak ada satu pun yang benar-benar dapat mereka dengar selain suara batin masing-masing. Zeze berhenti melangkah sehingga Glen mengikuti tindakannya. Ia membalik badan dan tanpa menatap matanya berpesan, “Tunggu di sini.” Melepas jalinan tangan mereka, ia kembali ke dalam bangunan, mengambil ransel hitam Glen, melompat keluar melalui jendela di atas kepala Glen dan mendarat sempurna di hadapannya. Disodorkannya tas tersebut kepada pemiliknya, yang menerimanya seperti bom waktu. Mereka pun meninggalkan bangunan luas itu bersisian dalam keheningan.
"Nah, sekarang kau bisa pergi tanpa perlu memikirkanku." Zeze mempercepat langkahnya setelah menutup mulut.
Tidak sedikit pun ia menoleh, tidak boleh. Karena jika ia melakukannya, sekalipun hanya sekali, ia takut kakinya takkan sanggup lagi mengambil langkah maju.
Tanpa dituntun sekalipun, Glen bisa dengan mudah menemukan jalan keluar, dan ia tahu itu dengan sangat jelas. Namun, egonya merajai. Ia masih dan akan selamanya menginginkan kebersamaan dengannya. Ia masih ingin merasakan tekstur tangannya.
"Roze."
Suara itu, suara favoritnya. Dewa, kapan sejak terakhir kali suara itu bersedia melisankan namanya?
Langkahnya patah seketika. Sial, mengapa ia begitu lemah? Begitu rapuh? Tidak, ia tidak boleh menoleh.
Waktu terus bergulir, angin terus meniupkan dedaunan kering, dan masih tak kunjung ada sambungan, dan itu sungguh membuatnya frustrasi hingga menumbuhkan keberanian untuk menoleh ke belakang.
Delapan meter darinya, Glen masih mematung di tempat yang sama, dengan satu tangan bersarang di saku celana dan tangan yang lain di tali ransel yang tersampir di sebelah pundak, memandangnya datar.
"Jika hal seperti ini terjadi lagi, jangan mencariku." Itu perintah. Suara dan sorot matanya tak terbaca, tapi Zeze tahu dia tidak main-main.
Zeze tersenyum pahit, setengah mengejek, lalu membalik badan. Ternyata bukan hanya dirinya yang egois, tapi dia juga.
"Tidak," jawabnya, datar dan tegas, "Kau tidak bisa melarangku seperti kau tidak ingin aku melarangmu."
Zeze melangkah maju. Ya, untuk saat ini ia bisa maju. "Aku akan melakukan semua hal dengan caraku sendiri," lanjutnya dari kejauhan.
Meski ia tahu dengan sangat jelas, bahwa ketika ia menoleh Glen sudah tidak akan terlihat lagi, ia tetap takut melakukannya. Ia takut keberuntungan singkat itu takkan terulang lagi.
Langkahnya surut di kaki bukit akibat ponsel yang tiada henti bergetar sejak mereka berhadapan di lapangan. Mengambilnya dari saku celana, Zeze melotot begitu melihat barisan nama Juni di layar. Sial! 50 panggilan tak terjawab! Bersama dengan Glen selalu membuatnya lupa akan segala hal, bahkan hal penting seperti waktu dan rencana.
Secepat mungkin Zeze berlari menuju gedung tinggi terdekat, gedung apartemen, dan tiba di atapnya menggunakan lift, tanpa mengindahkan getaran berulang-ulang dari ponselnya. Sepintas, ia merasakan kegelisahan yang familier namun gagal untuk diungkapkan. Tetapi bukan saatnya untuk memikirkan hal-hal abstrak sementara hal nyata tengah menunggu di depan jalan.
Sesungguhnya Zeze tidak mau buang-buang tenaga menggunakan kemampuan spesialnya, tapi misi baginya adalah hal yang lebih prioritas dibanding kesehatan tubuhnya sendiri. Oleh karena itu, ia terbang dengan kecepatan nyaris penuh, tetap hati-hati agar jangan kelepasan memasuki jalur mobil terbang. Hologram 3D wanita raksasa berambut hijau yang muncul di dinding luar sebuah gedung pencakar langit milik perusahaan pengembang “pacar AI virtual”, melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum mengundang.
Sebuah mobil sport hitam dengan pintu disandari seorang gadis berkemeja hijau gelap, terlihat terparkir di pinggir taman yang mengitari danau buatan. Zeze langsung memadamkan sayap dan mendarat tegap di depannya.
"Lambat." Itulah kata sambutan untuknya.
"Maaf. Ada urusan mendadak," Zeze beralasan selagi meregangkan otot-otot di bahu, meringis saat merasakan nyeri.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Juni, cemas melihat muka Zeze yang memutih seperti hantu.
Zeze mengibaskan tangan, "Kau sudah mendapatkan boneka, atau perlu aku mencarikan beberapa untukmu?
Juni melirik ke belakang Zeze, membawa mata Zeze ikut bersamanya. Dari balik gelapnya pepohonan, lima orang pria bermata kosong dalam balutan jas hitam, berjalan ke arahnya dengan langkah terseok-seok di atas rerumputan. Masing-masing dari mereka membawa senapan hitam model terbaru. Mulut mereka yang menganga lebar meneteskan air liur. Seperti... zombie!
"Sempurna," Zeze tersenyum puas lalu memasang topengnya, begitu pula Juni. Topeng Juni adalah topeng karnaval Roma kuno, sama seperti Zeze, tapi dengan model pulcinella. Dengan bentuk hidung bengkak dan melengkung seperti paruh burung, topeng itu hanya menutupi bagian atas wajahnya.
"Ayo mulai."
Zeze dan Juni berderap mendekati mansion cokelat bata di balik pepohonan, sedikit menanjak. Mereka datang dari sisi samping, melewati gerbang dan dinding dengan bantuan pundak para zombie, lalu melesat langsung ke lantai dua. Sedangkan para zombie tinggal di pekarangan. Dua menit berselang, keduanya langsung mendengar bunyi adu tembak dan jeritan di bawah sana.
“Kiri adalah bagianmu, sementara aku akan mengurus bangsal kanan. Para sampah itu pasti sedang berpikir untuk memisahkan diri demi mencegah kepunahan garis keturunan mereka,” jelas Zeze. “Sayangnya aku tidak tertarik menerima dendam. Hanguskan semuanya.”
Juni mengangguk mantap. Dirinya yang sekarang bukanlah tipe yang mudah mendengarkan ucapan sembarang orang, namun ia akan selalu percaya pada kata-kata Zeze, sosok yang diakuinya.
Mereka berpencar. Terlalu sepi dan sebagian ruangan gelap gulita. Para sampah itu kemungkinan telah mengendus rencananya. Sial, semua terjadi karena ia terlalu lama memberi makan perasaan dan egonya.
Zeze berdecak menyesali perbuatannya, dengan kilat menyisir sisi kanan bangunan. Ruangan demi ruangan ia periksa satu per satu, tapi selalu kehampaan yang ditemuinya. Ketika hampir putus asa, tiba-tiba sudut matanya menangkap pemandangan di luar jendela dimana seorang wanita bergaun merah tengah ditarik—hampir diseret—oleh seorang pria bertuxedo menuju kebun bunga mawar.
"Ayo, cepat, lewat sini!" desis si Pria.
"Tapi," Wanita bergaun merah terengah-engah, pakaiannya membuatnya sulit mengikuti, "Apakah ini boleh dilakukan? Akankah kita kena masalah setelah ini?"
“Jangan memikirkan hal lain! Pikirkan dirimu sendiri. Kita seharusnya tidak terlibat dalam masalah ini. Sial! Kalau saja aku tahu jadinya akan seperti ini, aku tidak akan—”
Tiba-tiba si Pria merasakan si Wanita berhenti bergerak setelah berjengit. Si Pria menoleh ke belakang dan langsung membulatkan mata kala menyaksikan gambaran horor yang menyebarkan teror; sang wanita bergaun merah tengah meronta-ronta, berjuang keras menguraikan jari-jemari ramping berkuku tajam yang melingkari lehernya dari arah belakang.
"To... tolong!" Wanita itu berteriak. Karena jalur pernapasannya terhalang, kalimat yang dia ucapkan selanjutnya hanya bisa didengar oleh Zeze, "Ka... mi... tid... akh.... ber... sa... la... kh...."
Panik, pria di depannya spontan mencabut pistol di samping pinggang dan mengarahkannya tepat kepada sosok bertopeng mengerikan yang berdiri di belakang wanita bergaun merah.
"Tahan," titah Zeze dengan suara menajam, tanpa sedikit pun getaran takut. "Kau hanya akan menyesal bila melakukannya."
Tangan pria itu bergetar hebat. Keringat telah mengguyur sekujur tubuhnya. Ia panik, bingung, takut, semua bercampur menjadi satu. Sambil berteriak, ia menarik pelatuk pistol, yang menjadi penyebab tertanamnya sebuah logam mematikan di daging seorang manusia.
Tubuh itu lunglai dan jatuh ke tanah bagai boneka yang putus dari talinya. Darah menyatu dengan merahnya mawar di bawah sinar keperakan sang dewi malam.
"Aku sudah memperingatkanmu...."
Pria itu menatap jasad di dekat kakinya dengan horor tergambar di sorot mata. Tubuhnya bergetar hebat, tak lama ia menjerit kesetanan. Pistolnya pun ia acuhkan saat meluncur dari genggaman.
Bisa-bisanya sosok bertopeng itu menggunakan tubuh wanita yang dicintainya sebagai tameng untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari hantaman peluru!?
"Dia bukan targetku. Aku tahu setelah melihat wajahnya dari dekat. Aku tahu dia—kalian berdua—dipaksa menyamar guna mengulur waktu supaya majikan kalian dapat melarikan diri. Kau sudah melakukan suatu kesalahan besar."
Pria itu jatuh berlutut, hampa dalam tatapannya melekat pada tubuh kaku wanita yang ingin dinikahinya. Jika saja... jika saja ia tidak memilih jalan ini! Jika saja ia memiliki keberanian untuk melawan sewaktu diperlakukan semena-mena oleh para bangsawan brengsek itu! Ia lebih memilih mati daripada harus melayani mereka lagi!
"Dia meminta tolong bukan kepadamu, tapi kepadaku."
Pria itu mendongak menatapnya. Matanya yang merah-berair terbelalak karena terkejut.
"Sekarang, katakan. Bagaimana kau ingin aku menolongmu?"
Matanya terbuka semakin lebar, menumpahkan air yang menumpuk di dalamnya. Isak tangis yang semula lirih, kini menyebar ke seantero kebun bunga yang padat akan mawar merah. Begitu menyiksa. Begitu menyayat hati.
"To—tolong!"
Ia masih setia menunggu pria itu menyelesaikan kalimatnya.
"Bu—bunuh aku," pintanya, terdengar sangat memohon.
Mata birunya mulai kehilangan cahaya, namun ia tetap mempertahankan pijakannya seolah tahu bahwa masih ada yang ingin pria itu minta darinya.
"Dan juga para iblis itu!"
Akhirnya ia melangkah maju, berusaha untuk tidak menginjak jasad wanita bergaun merah di hadapannya. “Maaf soal itu,” gumamnya, “Tanganku bergerak refleks melindungi diri sendiri. Aku sama sekali tidak bermaksud...”
Zeze tidak mengerti mengapa ia mencoba untuk menjelaskan kebenaran kepada orang yang sebentar lagi akan mati. Ada yang salah dengannya. Tidak seperti 'Zeze' yang biasanya. Apakah kembali ke tempat kelahirannya—tempat yang menyimpan berjuta kenangan semasa kecil, masa di mana matanya masih memancarkan kepolosan dan belum ternoda oleh dosa—telah pelan-pelan mengubah dirinya tanpa ia sadari?
Zeze menggeleng, mengusir pertanyaan tak berguna itu dari kepalanya.
Dengan gerakan seringan kapas, kedua tangannya meraih kepala pria itu, menempatkan mereka dengan lembut di kedua sisi. Lalu, dengan satu gerakan kilat, ia memutarnya ke kanan dan ke kiri, lalu ditariknya atas, hingga derak mengerikan berbunyi mendampingi terangnya sinar rembulan.
"Selamat malam."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Gabby
#mau nanya
juni bisa ngendaliin orangkah?
2020-06-14
6