"Apa yang sedang kau lakukan Mr. Leios? Pelajaran akan segera dimulai."
Satu detik, dua detik, tiga detik.
Detik ke enam puluh dan mata mereka masih merekat satu sama lain sehingga guru itu pada akhirnya terpaksa menegur dari mejanya.
Perlu sedikit usaha baginya untuk memutus kontak mata. Ranselnya ia selipkan di kolong meja setelah duduk manis di kursi. Tantangan selanjutnya adalah fokus ke papan tulis. Jangan terpancing, meski tubuhnya terasa lumpuh sebelah karena harus menanggung pancaran atensi yang begitu melimpah.
“Miss Finn, apakah lagunya semerdu itu?”
Mata Zeze mengerjap seolah pipinya baru saja menerima tamparan. Buru-buru ia menanggalkan headphone yang menyumbat telinganya tanpa menyurutkan pandangan dari teman sebangku, yang ia baru tahu bahwa selama ini ia memilikinya.
Tak pernah sekalipun Zeze menduga pertemuan mereka akan terjadi dengan skenario yang begitu aneh. Yang paling absurd dari segala keabsurdan. Pengalaman pertamanya sebagai seseorang yang buta, setelah sekian lama berperan sebagai mata yang serba tahu. Kini ia tak ada bedanya dari sebuah buku tanpa judul.
Sel otaknya terasa mengalami kelumpuhan. Ke mana semua nalar supernya?
Tapi, tunggu, yang tadi jatuh... apakah itu dia?
Zeze menarik maju bangkunya agar ia tersembunyi di balik punggung siswa di depannya. Siku kiri bertumpu di meja, telapak tangannya menopang bagian pipinya yang sudah sewarna dengan mawar; cara praktis agar matanya bisa lebih intens memandangi dia.
Dia memakai kacamata? Sejak kapan? Apa dia rabun? Apakah aku melewatkan sesuatu?
Berangsur-angsur pikirannya mulai kembali dapat bersuara. Namun ia belum puas, karena yang ada hanya pertanyaan tanpa jawaban. Intensitas dari tatapannya semakin membara.
Dia tampak berbeda, juga.... aneh, tentu saja. Kacamata di atas kontak lensa hitam? Mengapa dia merasa perlu melakukan itu? Padahal hijau adalah warna yang cantik.
Penampilan barunya yang super aneh itu membuat Zeze terkekeh di luar kesadaran, dan tindakan tersebut tentu saja tak luput dari perhatian lelaki itu. Mata gelapnya mungkin membidik lurus ke depan, tapi semua indranya menjurus ke samping.
“Glen,” Zeze berbisik. Bibirnya tertarik di kedua sudut, membangun seringai lebar yang mengandung kebahagiaan berlimpah. Dengan satu tangan menopang wajah, tubuhnya ia putar hingga sisi depannya menghadap Glen seutuhnya.
Bunyi gebrakan menggetarkan atmosfer, seketika pandangannya menjadi kosong. Bagaimana tidak? Selain dikejutkan oleh suaranya, ia juga kaget tentang bagaimana ia bisa ‘kaget’. Bagaimana mungkin sebelumnya ia tidak merasakan tanda-tanda?
"Baiklah Miss Finn, ini sudah teguran ketigamu." Suara tajam seorang wanita menyusul setelah bunyi gebrakan.
"Detensi," Sang Guru mengimbuhkan dengan tegas.
Meskipun sudah mendapatkan kartu merah, Zeze tak ingin ambil pusing memperbaiki posisi duduknya. "Persetan," bisiknya, senyum terkandung dalam tatapannya yang terlampau lekat. Dan Glen mendengar itu.
Bagi Zeze, setiap detik yang ia habiskan untuk menatapnya sama berharganya dengan bernapas. Bagaimana mungkin ia bisa berpaling?
Bibir Zeze tertarik di satu sudutnya, memajang segurat senyum sengit yang anehnya mengandung kepuasan. Orang itu, pelaku yang berhasil membuatnya lupa akan sekitar. Bagian dari sedikit orang yang bisa menumpulkan instingnya.
Zeze memperagakan gerakan bertepuk tangan tanpa bunyi disertai dengan decakan kagum.
Kerja yang bagus, Glen.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jam istirahatnya terbuang sia-sia di tempat bernama 'Ruang Guru'. Dengan kesabaran di ujung tanduk, Zeze mengetuk-ngetukkan sneakers-nya ke lantai selagi kupingnya terbakar oleh ocehan seorang wanita paruh baya yang duduk berhadapan dengannya.
"Sudah cukup jelas, Miss Finn?" Wanita itu menautkan kedua tangannya di bawah dagu, menatap lekat sepasang mata birunya.
"Ya," Zeze mengarahkan matanya ke LED persegi penjang di dekat siku wanita itu, "Madam Heiss," lanjutnya, senyum hambar menghiasi wajahnya.
Usir aku... ayo cepat....
Madam Heiss mendesah dengan mata tertutup, "Baiklah, sekarang silakan nikmati waktu istirahatmu."
Makna mengisi kekosongan di senyumnya, gairah memancar seperti cahaya. Zeze melompat berdiri, mengangguk sebagai tanda pamit, lalu menyambar gagang pintu.
Kepadatan lorong lantai satu dibelahnya setengah berlari. Dengan tergesa-gesa menyelak orang di depan yang baru saja akan menaruh kakinya di eskalator. Eskalator terlalu lamban untuknya sehingga ia melesat selayaknya itu adalah tangga.
Para bangsawan itu beruntung bisa menggunakan lift kapan pun mereka mau. Taruhan, kaki mereka pasti banyak lemaknya.
Lantai empat. Tak peduli dengan banyak saksi mata, Zeze mulai berlari, rambut panjangnya yang terurai berayun-ayun menemani langkahnya. Ia sudah tak sabar ingin melihat lelaki itu. Tadi ia tidak sempat mengobrol dengannya lantaran keburu ditarik oleh Madam Heiss. Hanya membayangkan mengobrol dengannya saja sudah membuatnya ingin terbang. Jika tidak ada saksi mata, sayapnya pasti sudah berkobar.
Tersisa beberapa langkah lagi dan tawanya seketika berkumandang, menghancurkan dinding emosi yang selama ini dibangunnya. Mereka benar, masa remaja adalah masa terindah dalam hidup! Oh, mengapa ia tidak melakukan ini sejak lama?
Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Langkahnya membuntu di ambang pintu, tatapannya lurus ke depan, senyumnya lambat laun memudar, binar hilang dari kedua matanya yang kini membulat, berbarengan dengan terdengarnya suara punggung menghantam meja.
"Kau pikir bisa lari dari kami?" Hardik seorang siswa berambut emas. Satu kakinya sibuk menginjak-injak perut seorang siswa berkacamata yang tengah terduduk lemas di lantai, bersandar tak berdaya pada kaki meja.
Puas menyiksa perutnya, dia mencengkeram kerah kemejanya, membawa lelaki malang itu menjulang dengan hanya ujung sepatunya menyentuh lantai.
Di sekitar mereka, sorak gembira para murid mengalun layaknya simfoni:
"Ayo hajar!"
"Bunuh saja!"
"Dasar sampah!"
"Mati saja kau sana!"
Mengapa dia belum juga melawan? Pertanyaan itu membengkak di benak Zeze.
Fisik Si Rambut Emas memang mendukung kekuatan dan kegesitannya, Zeze akui itu; lihatlah otot-ototnya yang sudah terbentuk walau masih di usia remaja. Namun harusnya, ataupun setidaknya, dia berupaya untuk mengelak setiap serangan. Ke mana dia yang 'waktu itu'? Sewaktu dia menghempaskan pedang Zeze hingga tertelan batang pohon, dan di saat yang sama merusak topengnya tanpa menorehkan goresan seinci pun pada wajahnya.
Tidak benar. Apa-apaan yang dilihatnya itu. Ke mana Glen yang waktu itu?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sebuah tangan ramping secara tiba-tiba mencengkeram lengan kirinya yang tengah mencekik seorang pecundang bernama Glen Leios. Menoleh dengan membawa amarah, ia langsung terpaku, tak menyangka bakal dihadapkan dengan sebuah pahatan hidup yang dirinya sendiri pun berani bersumpah adalah perempuan tercantik yang pernah ditemuinya. Matanya adalah langit yang berkilau, namun kilau itu adalah petir yang mematikan.
"Lepas."
Intonasinya tenang namun membawa sifat absolut. Jika tidak sedang berada dalam situasi serumit sekarang, ia pasti akan mengakui pada dunia bahwa tadi itu adalah suara termerdu yang pernah menyapa telinganya.
Simfoni para murid telah padam, hanya napas mereka yang masih berkobar. Butuh waktu untuk dapat terbangun dari pengaruh mata itu. Si Rambut Emas sedikit mengendurkan cengkeramannya pada kerah baju Glen, mengizinkan kaki Glen yang semula menggantung untuk seutuhnya menjumpai lantai, kemudian dia menundukkan kepala agar wajahnya sejajar dengan wajah dewi di sisinya. “Jadi, jika aku menolak," Bisiknya dengan nada provokatif, "Kau akan melakukan apa, hmm? Cantik?”
Zeze mengangkat dagu, tatapannya menantang. Bibirnya tertarik di satu sudut, menuangkan senyum remeh bercampur sengit. Ia membebaskan lengan lelaki itu, berbalik pergi, berjalan dua langkah ke depan, lalu berhenti dengan gelagat misterius.
Si Rambut Emas menatap punggung kecilnya dengan raut bingung. Apa yang sedang dia coba lakukan? Apa aku menakutinya? Batinnya. Namun entah bagaimana ia tahu tak ada rasa takut di dalam mata gadis mirip elf itu, justru... marah? Kecewa? Tetapi, satu hal yang dia yakini, luapan emosi itu tidak ditumpahkan untuknya.
Tak lama kemudian, pertanyaannya pun terjawab oleh sebuah tendangan memutar yang menghantam keras tempurung dadanya, menghempaskan dirinya hingga punggungnya berakhir menyinggung keras dinding belakang.
Leher Glen akhirnya merdeka, dia merosot, terbatuk, meludahkan sedikit darah, dan meringkuk memeluk perut.
Zeze dapat merasakan bahwa aksinya telah memotong jalur napas penonton di sekitar. Tapi ia tidak peduli. Matanya yang menatap nyalang menyaksikan bagaimana brengsek itu merosot perlahan-lahan hingga tersungkur lemas di atas dinginnya lantai.
Dengan teror di setiap langkah, Zeze menghampiri Si Rambut Emas dan berhenti dua meter darinya. Menyadari kehadiran seseorang, lelaki itu mendongak dan menatap ke arahnya dengan pandangan berkabut.
"Takut?" Zeze berbisik dengan suara sedingin es.
Cahaya merah yang berkedip cepat mendistraksinya dari bertindak lebih jauh, sesuatu yang membuatnya bergegas melirik ke sudut atas ruangan. CCTV. "Cih," keluhnya.
"Sebentar lagi pengganggu datang."
Dugaan itu menjadi kenyataan. Tak sampai semenit, guru panahan, Mr. Crowen, dan wali kelasnya, Madam Heiss, tampil di ambang pintu.
“Apa-apaan ini!” Pekik sang Madam ketika tiba dan melihat kekacauan. Murid-murid yang duduk di atas meja langsung turun dengan tergesa-gesa.
Zeze berbalik menghadap Madam Heiss. "Orang ini," Telunjuknya menuding Si Rambut Emas, "Memukuli dia," Kemudian ke arah Glen yang tengah meringkuk di kaki meja.
"... Lalu menghina keluarga kerajaan," lanjut Zeze, tenang bagaikan air. Sedangkan semua orang yang mendengar, tak terkecuali Glen, terkejut bukan main.
Mata Glen menyipit ketika pertanyaan demi pertanyaan merasuk ke otaknya. Apa yang dia lakukan? Bukankah dia membenci status itu? Bukankah dia sedang melakukan penyamaran di sini? Lalu mengapa dia membongkar kartunya? Apakah itu karena tujuannya datang ke sini sudah terpenuhi? Tapi aku tidak mendengar adanya kekacauan. Belum.
Sementara Glen sedang kebingungan menemukan jawaban, Zeze mengimbuhkan, "Sehingga aku memberinya sedikit pelajaran agar dia sadar di mana posisinya. Bukankah seharusnya begitu, Madam?"
Madam Heiss menghela napas. "Miss Finn, ini bukan kewajibanmu untuk melakukannya. Kau tidak bisa main hakim sendiri. Serahkan masalah ini pada kami, para staf pengajar." Wanita itu tersenyum, berupaya memasang wajah setenang dan seramah mungkin layaknya guru yang mengayomi.
"Well, aku tidak bisa menahannya," Zeze mengangkat bahu enteng, "Itu tindakan spontan. Sebagai pelayan setia Raja—" Rajaku, Zeze meralat dalam hati sambil membayangkan sosok seorang lelaki yang ditemuinya di basement markas, "—aku tidak bisa diam saja saat mendengarnya dihina oleh seorang makhluk rendahan."
Si Rambut Emas melotot. Menghina Raja? Omong kosongnya sudah keterlaluan! "Itu tidak benar!"
Zeze beralih ke Mr. Crowen, tak membiarkan si Rambut Emas membela diri, "Aku penasaran, mengapa tidak ada yang datang saat orang ini mencekiknya?" Suaranya mengintimidasi pria tua berkacamata itu sehingga membuatnya menegang di tempat.
Mr. Crowen terbatuk kecil, lalu mencoba sesantai mungkin menjawab, "Petugas CCTV yang mengawasi lantai empat baru kembali dari kamar kecil."
Yang benar saja? Zeze mendengus geli. Berbohonglah lebih kreatif lagi lain kali, Pak Tua.
"Tunggu!" Si Rambut Emas berdiri dengan kedua lengan ditopang teman-temannya. "Aku tidak menghina keluarga kerajaan, apalagi Raja dan Ratu!"
Zeze berbalik menghadapnya, menatap mata hitamnya dengan tenang. "Apa kau punya bukti?" Tantangnya.
Laki-laki itu menggertakkan giginya saat balik menantang, "Dan kau, apa kau punya bukti aku telah mengatakannya?"
Zeze mengangguk percaya diri. "Tentu," ia menoleh ke arah Glen dan berkata "Dia" sambil menunjuk Glen dengan dagunya.
Ah... jadi begitu, batin Glen, rasanya ia ingin tertawa keras-keras. Bagaimana ia bisa melupakan fakta betapa liciknya gadis itu? Memanipulasi fakta demi menguntungkan diri sendiri adalah hal yang teramat mudah baginya. Namun, dari mana datangnya keyakinan bahwa Glen akan membantu omong kosongnya itu?
Muncul keheningan lantaran Glen tak kunjung merespons.
Baiklah, hanya kali ini.
Glen mengangguk membenarkan, sehingga tatapan berapi Si Rambut Emas langsung datang membakarnya.
Beraninya dia berbohong! "Kurang ajar!"
"Cukup Mr. Laktisma!" Potong Madam Heiss dengan suara lantang. "Detensi. Besok, sampaikan kepada ayahmu, Marquess Laktisma, untuk menghadapku. Beliau harus melihat sendiri bagaimana kelakuan putra keempatnya."
Ekspresi Zeze sedikit berubah saat mendengar kata 'Laktisma'. Ternyata lelaki berambut emas itu adalah saudara Airo. Pantas saja sepintas mirip.
"Sudahlah Aiden," bujuk salah satu temannya.
Aiden Laktisma menatap tajam Zeze dan Glen bergantian, menandakan bahwa akan datang pembalasan darinya suatu saat nanti. Kemudian dia berjalan keluar dengan dipapah kedua temannya.
Sepertinya aku terlalu banyak menggunakan tenaga, gumam Zeze saat melihat kondisi Aiden. Apa boleh buat, di antara teman-temannya, Zeze adalah juaranya dalam melakukan kegiatan yang bersangkutan dengan kaki. Sejak kecil ia selalu memberi perhatian lebih kepada sepasang kakinya karena ia sadar ia tidak sekuat yang lain.
"Mr. Leios, cepat ke UKS dan obati luka-lukamu." Suara Madam Heiss terdengar acuh tak acuh sewaktu berbicara dengan Glen.
Glen menggeleng dan dengan sopan menjawab, "Saya baik-baik saja, Ma'am."
Berakhirnya pertunjukan itu menyebabkan bubarnya kerumunan murid. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa si Murid Baru berani melawan seorang anggota keluarga Laktisma.
Hari ini, untuk pertama kalinya, seseorang berani menolong Si Pecundang Glen Leios. Dan di luar kesadarannya, semenjak hari itu pula, Zeze telah dipaksa masuk ke dalam lingkaran masalahnya.
"Kau!" Seorang siswi berambut pirang ikal memanggil Zeze. "Kau sudah melakukan suatu kesalahan besar," lanjutnya, menyeringai sengit.
Zeze mengangkat enteng bahunya, “Jika hal seperti ini dianggap sebagai tindakan yang salah, lantas seperti apa yang benar?”
Setelah menyahut dengan acuh tak acuh, Zeze memutar badan dan berlalu mengabaikannya, membuat kepalanya terbakar emosi. J*lang ini!
Zeze mendarat di bangkunya, begitu pula dengan Glen, bertepatan dengan bunyi bel masuk. Terbuang sudah waktu istirahatnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Zeze menuntut ketika Glen telah sepenuhnya duduk.
Glen menoleh padanya. Wajah babak belurnya menciptakan ombak di kening Zeze. Sudut bibir dan pelipisnya membiru, rambut hitamnya berantakan dan kacamatanya retak. Sempurna.
Untuk beberapa detik, Glen hanya menatapnya kosong, sebelum menjawab pertanyaan itu dengan suara yang lirih dan parau, “Tidak ada yang perlu kau tahu.”
Jawaban itu sungguh mengagetkan Zeze sehingga membuatnya tak bisa mengontrol kedipan matanya. Reaksinya yang ganjil membuat Glen melontarkan pertanyaan, "Kau lupa apa yang waktu itu aku katakan padamu?"
Zeze mengangkat sebelah alisnya. Oh, jadi dia ingin bermain-main denganku? Well, kita lihat siapa pemenangnya.
Sudut-sudut bibir Zeze terangkat, menciptakan senyuman sengit penuh tantangan, "Dan kau sebaiknya juga tidak melupakan apa balasanku."
Bibir Glen terbuka, tapi tak kunjung menumpahkan suara. Tentu dia ingat.
"Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan menyelamatkanmu."
Glen menghadap ke depan, menghindari tatapan intens Zeze, "Kau sudah melakukannya tadi."
"Bukankah tadi kau yang menyelamatkanku..."
Ketika tatapannya kembali pada Zeze, Glen langsung disuguhi percikan menakutkan dari mata birunya.
"... Dari hasratku sendiri untuk membunuhnya," Zeze melanjutkan. Suaranya perlahan menghilang dengan kesan misterius.
Dia menggeser kursinya menghadap Glen. Sangat dekat, bahkan lututnya sampai menyentuh sisi paha lelaki itu. Lalu, dengan gelagat misterius, dia mencondongkan tubuhnya ke depan, sehingga wajahnya hanya berjarak satu jengkal saja dari wajah Glen. "Kau tahu bukan itu yang kumaksud pada waktu itu," lanjutnya dengan nada berbisik.
Glen tertegun, tidak mundur ataupun berkedip. Mereka begitu dekat, hingga napas mereka terikat.
Zeze meluruskan punggung dan lantas menekankan pertanyaan sebelumnya, "Jadi, sekarang jelaskan. Apa yang sedang kau rencanakan? Sedang apa kau di tempat seperti ini? Sekolah? Jangan membuatku tertawa."
Tanpa menjawab, Glen mengikuti tindakan Zeze; membawa kursi mereka menghadap satu sama lain. Lutut mereka bertemu, dan tiba-tiba Zeze merasakan sengatan listrik aneh di bagian kakinya.
Glen menopang pipinya dengan punggung tangan saat berkata, "Pertanyaan itu... paling cocok dijawab olehmu."
Sebuah jawaban yang sukses besar membuat Zeze jengkel setengah mati. Ia mendengus panjang, dengan pasrah mundur. Ia menyerah. Ia memang selalu kalah darinya.
Sementara Glen... dia tersenyum menang.
\=\=\=\=\=\=\=\=
.
Hallo semua 👊
Di sini author ~
Terserah mau manggil apa. Tapi aku lebih suka dipanggil Lin, atau Itang (nama kecilku).
Ini cerita pertama aku, BTW ... jadi kalau ada salah-salah, mohon dikoreksi di kolom komentar, oke?
Aku harap kalian jangan cuma baca aja, ya. Vote/like/komennya aku tunggu. Hal sesederhana itu sudah bisa bikin aku jingkrak-jingkrak dan terus semangat update. Tinggalin jejak sebagai bentuk menghargai, oke? 😄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
ARJ
Aihh aku suka karakter Zeze😍 nanti dah Thor kalau jatah voteku ada di simpen disini. ceritamu layak dapat vote yang banyak. bdw maen ke Neitherland yuk Thor, kalau lagi luang😁
2021-08-28
1
Lullaby
ciee ketemu lagi
2020-04-20
4
Rani
aduhh... saling menantang
2020-04-04
4