8. Untitled

"Apa yang sedang kau lakukan Mr. Leios? Pelajaran akan segera dimulai."

Satu detik, dua detik, tiga detik.

Detik ke enam puluh dan mata mereka masih merekat satu sama lain sehingga guru itu pada akhirnya terpaksa menegur dari mejanya.

Perlu sedikit usaha baginya untuk memutus kontak mata. Ranselnya ia selipkan di kolong meja setelah duduk manis di kursi. Tantangan selanjutnya adalah fokus ke papan tulis. Jangan terpancing, meski tubuhnya terasa lumpuh sebelah karena harus menanggung pancaran atensi yang begitu melimpah.

“Miss Finn, apakah lagunya semerdu itu?”

Mata Zeze mengerjap seolah pipinya baru saja menerima tamparan. Buru-buru ia menanggalkan headphone yang menyumbat telinganya tanpa menyurutkan pandangan dari teman sebangku, yang ia baru tahu bahwa selama ini ia memilikinya.

Tak pernah sekalipun Zeze menduga pertemuan mereka akan terjadi dengan skenario yang begitu aneh. Yang paling absurd dari segala keabsurdan. Pengalaman pertamanya sebagai seseorang yang buta, setelah sekian lama berperan sebagai mata yang serba tahu. Kini ia tak ada bedanya dari sebuah buku tanpa judul.

Sel otaknya terasa mengalami kelumpuhan. Ke mana semua nalar supernya?

Tapi, tunggu, yang tadi jatuh... apakah itu dia?

Zeze menarik maju bangkunya agar ia tersembunyi di balik punggung siswa di depannya. Siku kiri bertumpu di meja, telapak tangannya menopang bagian pipinya yang sudah sewarna dengan mawar; cara praktis agar matanya bisa lebih intens memandangi dia.

Dia memakai kacamata? Sejak kapan? Apa dia rabun? Apakah aku melewatkan sesuatu?

Berangsur-angsur pikirannya mulai kembali dapat bersuara. Namun ia belum puas, karena yang ada hanya pertanyaan tanpa jawaban. Intensitas dari tatapannya semakin membara.

Dia tampak berbeda, juga.... aneh, tentu saja. Kacamata di atas kontak lensa hitam? Mengapa dia merasa perlu melakukan itu? Padahal hijau adalah warna yang cantik.

Penampilan barunya yang super aneh itu membuat Zeze terkekeh di luar kesadaran, dan tindakan tersebut tentu saja tak luput dari perhatian lelaki itu. Mata gelapnya mungkin membidik lurus ke depan, tapi semua indranya menjurus ke samping.

“Glen,” Zeze berbisik. Bibirnya tertarik di kedua sudut, membangun seringai lebar yang mengandung kebahagiaan berlimpah. Dengan satu tangan menopang wajah, tubuhnya ia putar hingga sisi depannya menghadap Glen seutuhnya.

Bunyi gebrakan menggetarkan atmosfer, seketika pandangannya menjadi kosong. Bagaimana tidak? Selain dikejutkan oleh suaranya, ia juga kaget tentang bagaimana ia bisa ‘kaget’. Bagaimana mungkin sebelumnya ia tidak merasakan tanda-tanda?

"Baiklah Miss Finn, ini sudah teguran ketigamu." Suara tajam seorang wanita menyusul setelah bunyi gebrakan.

"Detensi," Sang Guru mengimbuhkan dengan tegas.

Meskipun sudah mendapatkan kartu merah, Zeze tak ingin ambil pusing memperbaiki posisi duduknya. "Persetan," bisiknya, senyum terkandung dalam tatapannya yang terlampau lekat. Dan Glen mendengar itu.

Bagi Zeze, setiap detik yang ia habiskan untuk menatapnya sama berharganya dengan bernapas. Bagaimana mungkin ia bisa berpaling?

Bibir Zeze tertarik di satu sudutnya, memajang segurat senyum sengit yang anehnya mengandung kepuasan. Orang itu, pelaku yang berhasil membuatnya lupa akan sekitar. Bagian dari sedikit orang yang bisa menumpulkan instingnya.

Zeze memperagakan gerakan bertepuk tangan tanpa bunyi disertai dengan decakan kagum.

Kerja yang bagus, Glen.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Jam istirahatnya terbuang sia-sia di tempat bernama 'Ruang Guru'. Dengan kesabaran di ujung tanduk, Zeze mengetuk-ngetukkan sneakers-nya ke lantai selagi kupingnya terbakar oleh ocehan seorang wanita paruh baya yang duduk berhadapan dengannya.

"Sudah cukup jelas, Miss Finn?" Wanita itu menautkan kedua tangannya di bawah dagu, menatap lekat sepasang mata birunya.

"Ya," Zeze mengarahkan matanya ke LED persegi penjang di dekat siku wanita itu, "Madam Heiss," lanjutnya, senyum hambar menghiasi wajahnya.

Usir aku... ayo cepat....

Madam Heiss mendesah dengan mata tertutup, "Baiklah, sekarang silakan nikmati waktu istirahatmu."

Makna mengisi kekosongan di senyumnya, gairah memancar seperti cahaya. Zeze melompat berdiri, mengangguk sebagai tanda pamit, lalu menyambar gagang pintu.

Kepadatan lorong lantai satu dibelahnya setengah berlari. Dengan tergesa-gesa menyelak orang di depan yang baru saja akan menaruh kakinya di eskalator. Eskalator terlalu lamban untuknya sehingga ia melesat selayaknya itu adalah tangga.

Para bangsawan itu beruntung bisa menggunakan lift kapan pun mereka mau. Taruhan, kaki mereka pasti banyak lemaknya.

Lantai empat. Tak peduli dengan banyak saksi mata, Zeze mulai berlari, rambut panjangnya yang terurai berayun-ayun menemani langkahnya. Ia sudah tak sabar ingin melihat lelaki itu. Tadi ia tidak sempat mengobrol dengannya lantaran keburu ditarik oleh Madam Heiss. Hanya membayangkan mengobrol dengannya saja sudah membuatnya ingin terbang. Jika tidak ada saksi mata, sayapnya pasti sudah berkobar.

Tersisa beberapa langkah lagi dan tawanya seketika berkumandang, menghancurkan dinding emosi yang selama ini dibangunnya. Mereka benar, masa remaja adalah masa terindah dalam hidup! Oh, mengapa ia tidak melakukan ini sejak lama?

Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Langkahnya membuntu di ambang pintu, tatapannya lurus ke depan, senyumnya lambat laun memudar, binar hilang dari kedua matanya yang kini membulat, berbarengan dengan terdengarnya suara punggung menghantam meja.

"Kau pikir bisa lari dari kami?" Hardik seorang siswa berambut emas. Satu kakinya sibuk menginjak-injak perut seorang siswa berkacamata yang tengah terduduk lemas di lantai, bersandar tak berdaya pada kaki meja.

Puas menyiksa perutnya, dia mencengkeram kerah kemejanya, membawa lelaki malang itu menjulang dengan hanya ujung sepatunya menyentuh lantai.

Di sekitar mereka, sorak gembira para murid mengalun layaknya simfoni:

"Ayo hajar!"

"Bunuh saja!"

"Dasar sampah!"

"Mati saja kau sana!"

Mengapa dia belum juga melawan? Pertanyaan itu membengkak di benak Zeze.

Fisik Si Rambut Emas memang mendukung kekuatan dan kegesitannya, Zeze akui itu; lihatlah otot-ototnya yang sudah terbentuk walau masih di usia remaja. Namun harusnya, ataupun setidaknya, dia berupaya untuk mengelak setiap serangan. Ke mana dia yang 'waktu itu'? Sewaktu dia menghempaskan pedang Zeze hingga tertelan batang pohon, dan di saat yang sama merusak topengnya tanpa menorehkan goresan seinci pun pada wajahnya.

Tidak benar. Apa-apaan yang dilihatnya itu. Ke mana Glen yang waktu itu?

\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Sebuah tangan ramping secara tiba-tiba mencengkeram lengan kirinya yang tengah mencekik seorang pecundang bernama Glen Leios. Menoleh dengan membawa amarah, ia langsung terpaku, tak menyangka bakal dihadapkan dengan sebuah pahatan hidup yang dirinya sendiri pun berani bersumpah adalah perempuan tercantik yang pernah ditemuinya. Matanya adalah langit yang berkilau, namun kilau itu adalah petir yang mematikan.

"Lepas."

Intonasinya tenang namun membawa sifat absolut. Jika tidak sedang berada dalam situasi serumit sekarang, ia pasti akan mengakui pada dunia bahwa tadi itu adalah suara termerdu yang pernah menyapa telinganya.

Simfoni para murid telah padam, hanya napas mereka yang masih berkobar. Butuh waktu untuk dapat terbangun dari pengaruh mata itu. Si Rambut Emas sedikit mengendurkan cengkeramannya pada kerah baju Glen, mengizinkan kaki Glen yang semula menggantung untuk seutuhnya menjumpai lantai, kemudian dia menundukkan kepala agar wajahnya sejajar dengan wajah dewi di sisinya. “Jadi, jika aku menolak," Bisiknya dengan nada provokatif, "Kau akan melakukan apa, hmm? Cantik?”

Zeze mengangkat dagu, tatapannya menantang. Bibirnya tertarik di satu sudut, menuangkan senyum remeh bercampur sengit. Ia membebaskan lengan lelaki itu, berbalik pergi, berjalan dua langkah ke depan, lalu berhenti dengan gelagat misterius.

Si Rambut Emas menatap punggung kecilnya dengan raut bingung. Apa yang sedang dia coba lakukan? Apa aku menakutinya? Batinnya. Namun entah bagaimana ia tahu tak ada rasa takut di dalam mata gadis mirip elf itu, justru... marah? Kecewa? Tetapi, satu hal yang dia yakini, luapan emosi itu tidak ditumpahkan untuknya.

Tak lama kemudian, pertanyaannya pun terjawab oleh sebuah tendangan memutar yang menghantam keras tempurung dadanya, menghempaskan dirinya hingga punggungnya berakhir menyinggung keras dinding belakang.

Leher Glen akhirnya merdeka, dia merosot, terbatuk, meludahkan sedikit darah, dan meringkuk memeluk perut.

Zeze dapat merasakan bahwa aksinya telah memotong jalur napas penonton di sekitar. Tapi ia tidak peduli. Matanya yang menatap nyalang menyaksikan bagaimana brengsek itu merosot perlahan-lahan hingga tersungkur lemas di atas dinginnya lantai.

Dengan teror di setiap langkah, Zeze menghampiri Si Rambut Emas dan berhenti dua meter darinya. Menyadari kehadiran seseorang, lelaki itu mendongak dan menatap ke arahnya dengan pandangan berkabut.

"Takut?" Zeze berbisik dengan suara sedingin es.

Cahaya merah yang berkedip cepat mendistraksinya dari bertindak lebih jauh, sesuatu yang membuatnya bergegas melirik ke sudut atas ruangan. CCTV. "Cih," keluhnya.

"Sebentar lagi pengganggu datang."

Dugaan itu menjadi kenyataan. Tak sampai semenit, guru panahan, Mr. Crowen, dan wali kelasnya, Madam Heiss, tampil di ambang pintu.

“Apa-apaan ini!” Pekik sang Madam ketika tiba dan melihat kekacauan. Murid-murid yang duduk di atas meja langsung turun dengan tergesa-gesa.

Zeze berbalik menghadap Madam Heiss. "Orang ini," Telunjuknya menuding Si Rambut Emas, "Memukuli dia," Kemudian ke arah Glen yang tengah meringkuk di kaki meja.

"... Lalu menghina keluarga kerajaan," lanjut Zeze, tenang bagaikan air. Sedangkan semua orang yang mendengar, tak terkecuali Glen, terkejut bukan main.

Mata Glen menyipit ketika pertanyaan demi pertanyaan merasuk ke otaknya. Apa yang dia lakukan? Bukankah dia membenci status itu? Bukankah dia sedang melakukan penyamaran di sini? Lalu mengapa dia membongkar kartunya? Apakah itu karena tujuannya datang ke sini sudah terpenuhi? Tapi aku tidak mendengar adanya kekacauan. Belum.

Sementara Glen sedang kebingungan menemukan jawaban, Zeze mengimbuhkan, "Sehingga aku memberinya sedikit pelajaran agar dia sadar di mana posisinya. Bukankah seharusnya begitu, Madam?"

Madam Heiss menghela napas. "Miss Finn, ini bukan kewajibanmu untuk melakukannya. Kau tidak bisa main hakim sendiri. Serahkan masalah ini pada kami, para staf pengajar." Wanita itu tersenyum, berupaya memasang wajah setenang dan seramah mungkin layaknya guru yang mengayomi.

"Well, aku tidak bisa menahannya," Zeze mengangkat bahu enteng, "Itu tindakan spontan. Sebagai pelayan setia Raja—" Rajaku, Zeze meralat dalam hati sambil membayangkan sosok seorang lelaki yang ditemuinya di basement markas, "—aku tidak bisa diam saja saat mendengarnya dihina oleh seorang makhluk rendahan."

Si Rambut Emas melotot. Menghina Raja? Omong kosongnya sudah keterlaluan! "Itu tidak benar!"

Zeze beralih ke Mr. Crowen, tak membiarkan si Rambut Emas membela diri, "Aku penasaran, mengapa tidak ada yang datang saat orang ini mencekiknya?" Suaranya mengintimidasi pria tua berkacamata itu sehingga membuatnya menegang di tempat.

Mr. Crowen terbatuk kecil, lalu mencoba sesantai mungkin menjawab, "Petugas CCTV yang mengawasi lantai empat baru kembali dari kamar kecil."

Yang benar saja? Zeze mendengus geli. Berbohonglah lebih kreatif lagi lain kali, Pak Tua.

"Tunggu!" Si Rambut Emas berdiri dengan kedua lengan ditopang teman-temannya. "Aku tidak menghina keluarga kerajaan, apalagi Raja dan Ratu!"

Zeze berbalik menghadapnya, menatap mata hitamnya dengan tenang. "Apa kau punya bukti?" Tantangnya.

Laki-laki itu menggertakkan giginya saat balik menantang, "Dan kau, apa kau punya bukti aku telah mengatakannya?"

Zeze mengangguk percaya diri. "Tentu," ia menoleh ke arah Glen dan berkata "Dia" sambil menunjuk Glen dengan dagunya.

Ah... jadi begitu, batin Glen, rasanya ia ingin tertawa keras-keras. Bagaimana ia bisa melupakan fakta betapa liciknya gadis itu? Memanipulasi fakta demi menguntungkan diri sendiri adalah hal yang teramat mudah baginya. Namun, dari mana datangnya keyakinan bahwa Glen akan membantu omong kosongnya itu?

Muncul keheningan lantaran Glen tak kunjung merespons.

Baiklah, hanya kali ini.

Glen mengangguk membenarkan, sehingga tatapan berapi Si Rambut Emas langsung datang membakarnya.

Beraninya dia berbohong! "Kurang ajar!"

"Cukup Mr. Laktisma!" Potong Madam Heiss dengan suara lantang. "Detensi. Besok, sampaikan kepada ayahmu, Marquess Laktisma, untuk menghadapku. Beliau harus melihat sendiri bagaimana kelakuan putra keempatnya."

Ekspresi Zeze sedikit berubah saat mendengar kata 'Laktisma'. Ternyata lelaki berambut emas itu adalah saudara Airo. Pantas saja sepintas mirip.

"Sudahlah Aiden," bujuk salah satu temannya.

Aiden Laktisma menatap tajam Zeze dan Glen bergantian, menandakan bahwa akan datang pembalasan darinya suatu saat nanti. Kemudian dia berjalan keluar dengan dipapah kedua temannya.

Sepertinya aku terlalu banyak menggunakan tenaga, gumam Zeze saat melihat kondisi Aiden. Apa boleh buat, di antara teman-temannya, Zeze adalah juaranya dalam melakukan kegiatan yang bersangkutan dengan kaki. Sejak kecil ia selalu memberi perhatian lebih kepada sepasang kakinya karena ia sadar ia tidak sekuat yang lain.

"Mr. Leios, cepat ke UKS dan obati luka-lukamu." Suara Madam Heiss terdengar acuh tak acuh sewaktu berbicara dengan Glen.

Glen menggeleng dan dengan sopan menjawab, "Saya baik-baik saja, Ma'am."

Berakhirnya pertunjukan itu menyebabkan bubarnya kerumunan murid. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa si Murid Baru berani melawan seorang anggota keluarga Laktisma.

Hari ini, untuk pertama kalinya, seseorang berani menolong Si Pecundang Glen Leios. Dan di luar kesadarannya, semenjak hari itu pula, Zeze telah dipaksa masuk ke dalam lingkaran masalahnya.

"Kau!" Seorang siswi berambut pirang ikal memanggil Zeze. "Kau sudah melakukan suatu kesalahan besar," lanjutnya, menyeringai sengit.

Zeze mengangkat enteng bahunya, “Jika hal seperti ini dianggap sebagai tindakan yang salah, lantas seperti apa yang benar?”

Setelah menyahut dengan acuh tak acuh, Zeze memutar badan dan berlalu mengabaikannya, membuat kepalanya terbakar emosi. J*lang ini!

Zeze mendarat di bangkunya, begitu pula dengan Glen, bertepatan dengan bunyi bel masuk. Terbuang sudah waktu istirahatnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Zeze menuntut ketika Glen telah sepenuhnya duduk.

Glen menoleh padanya. Wajah babak belurnya menciptakan ombak di kening Zeze. Sudut bibir dan pelipisnya membiru, rambut hitamnya berantakan dan kacamatanya retak. Sempurna.

Untuk beberapa detik, Glen hanya menatapnya kosong, sebelum menjawab pertanyaan itu dengan suara yang lirih dan parau, “Tidak ada yang perlu kau tahu.”

Jawaban itu sungguh mengagetkan Zeze sehingga membuatnya tak bisa mengontrol kedipan matanya. Reaksinya yang ganjil membuat Glen melontarkan pertanyaan, "Kau lupa apa yang waktu itu aku katakan padamu?"

Zeze mengangkat sebelah alisnya. Oh, jadi dia ingin bermain-main denganku? Well, kita lihat siapa pemenangnya.

Sudut-sudut bibir Zeze terangkat, menciptakan senyuman sengit penuh tantangan, "Dan kau sebaiknya juga tidak melupakan apa balasanku."

Bibir Glen terbuka, tapi tak kunjung menumpahkan suara. Tentu dia ingat.

"Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan menyelamatkanmu."

Glen menghadap ke depan, menghindari tatapan intens Zeze, "Kau sudah melakukannya tadi."

"Bukankah tadi kau yang menyelamatkanku..."

Ketika tatapannya kembali pada Zeze, Glen langsung disuguhi percikan menakutkan dari mata birunya.

"... Dari hasratku sendiri untuk membunuhnya," Zeze melanjutkan. Suaranya perlahan menghilang dengan kesan misterius.

Dia menggeser kursinya menghadap Glen. Sangat dekat, bahkan lututnya sampai menyentuh sisi paha lelaki itu. Lalu, dengan gelagat misterius, dia mencondongkan tubuhnya ke depan, sehingga wajahnya hanya berjarak satu jengkal saja dari wajah Glen. "Kau tahu bukan itu yang kumaksud pada waktu itu," lanjutnya dengan nada berbisik.

Glen tertegun, tidak mundur ataupun berkedip. Mereka begitu dekat, hingga napas mereka terikat.

Zeze meluruskan punggung dan lantas menekankan pertanyaan sebelumnya, "Jadi, sekarang jelaskan. Apa yang sedang kau rencanakan? Sedang apa kau di tempat seperti ini? Sekolah? Jangan membuatku tertawa."

Tanpa menjawab, Glen mengikuti tindakan Zeze; membawa kursi mereka menghadap satu sama lain. Lutut mereka bertemu, dan tiba-tiba Zeze merasakan sengatan listrik aneh di bagian kakinya.

Glen menopang pipinya dengan punggung tangan saat berkata, "Pertanyaan itu... paling cocok dijawab olehmu."

Sebuah jawaban yang sukses besar membuat Zeze jengkel setengah mati. Ia mendengus panjang, dengan pasrah mundur. Ia menyerah. Ia memang selalu kalah darinya.

Sementara Glen... dia tersenyum menang.

\=\=\=\=\=\=\=\=

.

Hallo semua 👊

Di sini author ~

Terserah mau manggil apa. Tapi aku lebih suka dipanggil Lin, atau Itang (nama kecilku).

Ini cerita pertama aku, BTW ... jadi kalau ada salah-salah, mohon dikoreksi di kolom komentar, oke?

Aku harap kalian jangan cuma baca aja, ya. Vote/like/komennya aku tunggu. Hal sesederhana itu sudah bisa bikin aku jingkrak-jingkrak dan terus semangat update. Tinggalin jejak sebagai bentuk menghargai, oke? 😄

Terpopuler

Comments

ARJ

ARJ

Aihh aku suka karakter Zeze😍 nanti dah Thor kalau jatah voteku ada di simpen disini. ceritamu layak dapat vote yang banyak. bdw maen ke Neitherland yuk Thor, kalau lagi luang😁

2021-08-28

1

Lullaby

Lullaby

ciee ketemu lagi

2020-04-20

4

Rani

Rani

aduhh... saling menantang

2020-04-04

4

lihat semua
Episodes
1 1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2 2. Started
3 3. Cracked Mask
4 4. Fiancé
5 5. Whisper
6 6. Academy
7 7. Empty Chair
8 8. Untitled
9 9. Goddess
10 10. Orange
11 11. Idiot
12 12. Red Rose
13 13. Smooth Criminal
14 14. New Toy
15 15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16 16. Punishment
17 17. Misner Space
18 18. Light
19 19. Deal
20 20. Cemetery
21 21. Rozeale Ankhatia
22 22. If It Was You
23 23. Old Friend
24 24. Falling
25 25. Imbalance
26 26. Struggle
27 27. The Healer
28 28. Reset
29 29. Fairytale
30 30. Forgotten
31 31. Debutante
32 32. Silly
33 33. Artemis
34 34. Partner In Crime
35 35. Nuts
36 36. Framed
37 37. Cola
38 38. Bored
39 39. Variable
40 40. Help!
41 41. Zero
42 42. Trick Or Treat?
43 43. The Game
44 44. Chapter Two
45 45. Continued
46 pengumuman: CAST
47 46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48 47. Lust
49 48. Home
50 49. Right Side
51 50. Riddle
52 51. Decode
53 52. Sweet Seventeen
54 53. Spring Cup
55 54. Mystery
56 55. Mr. Rious
57 56. Interrogation
58 57. Database
59 58. Dancing
60 59. Suspect
61 60. May, 1st
62 61. UNO
63 62. Damn
64 63. Wait For Me
65 64. Sacrifice
66 65. Bloody Rose
67 66. Raflesia
68 67. Lottery
69 68. Racing
70 69. Asanatha
71 70. Bury The Hatchet
72 71. Tree
73 72. The Winner
74 73. Healed
75 74. Reminisce
76 75. Andromeda
77 76. Grim
78 77. Farewell
79 78. Encounter
80 79. Sleep
81 80. Once Upon A Time
82 81. Prison
83 82. Open
84 83. Falsity
85 84. Second Meeting
86 85. Axiom
87 86. Helpless
88 87. Misfortune
89 88. Animus
90 CHAPTER BONUS [1-A]
91 CHAPTER BONUS [1-B]
92 CHAPTER BONUS [2-A]
93 CHAPTER BONUS [2-B]
94 CHAPTER BONUS [3-A]
95 CHAPTER BONUS [3-B]
96 CHAPTER BONUS [4-A]
97 CHAPTER BONUS [4-B]
98 89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99 90. Crestfallen
100 91. Agreement
101 92. Pizza Delivery (Part 1)
102 93. Pizza Delivery (Part 2)
103 94. Narrow (Part 1)
104 95. Narrow (Part 2)
105 96. Possessed
106 97. Sorrow (Part 1)
107 98. Sorrow (Part 2)
108 99. Jack O'Lantern
109 100. Beginning Of The End
110 101. Laxity
111 102. Savior
112 103. Hostage
113 104. Bad Idea
114 105. Underestimate
115 106. Memorials
116 107. Solving
117 108. Misunderstanding
118 109. Curiosity Killed The Cat
119 110. Agony
120 111. Distancing
121 112. Foolish
122 113. Fall To Pieces
123 114. Aphrodite
124 115. Loosing Grip
125 116. Insanity
126 117. Ruthless
127 118. Ignorance
128 119. Hypocrisy
129 120. Complicated
130 121. Dignity
131 122. Stupidity
132 123. Catacombs
133 124. Absurd
134 125. Backlash
135 126. Vanished
136 127. Break Free
137 128. Darkness In The Light
138 129. Ambush On All Sides
139 130. Mare's Nest
140 131. Tenet
141 132. Clandestine
142 133. Judas
143 134. Sinister
144 135. Desire
145 136. Ares
146 137. Embrace
147 138. Up In The Air
148 139. Prejudice
149 pengumuman: LIST TOKOH
150 140. Diverge
151 141. Noticed
152 142. Float Kiss
153 143. Liars
154 144. Reunion
155 145. The Answer
156 146. Liberated
157 147. Carnage
158 148. Vendetta
159 149. 1 Stone For 2 Birds
160 150. Better Place
161 151. Pleasure
162 152. Trust & Hope
163 153. Rest
164 154. Good & Bad News
165 155. Bald Cypress
166 156. Leave
167 157. Painful
168 158. Invitation
169 159. A Guest
170 160. Piece Of Art
171 161. Aware
172 162. Journey
173 163. Inland
174 164. Westafo Hall
175 pengumuman: BREAK
176 165. Madam Derba
177 166. Good Side
178 167. The Stage
179 168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180 169. Deception
181 170. Evaluate
182 171. Dissent
183 172. Gratuitous
184 173. Departure
185 174. Voyage
186 175. Almost
187 176. Anger
188 177. Scratches
189 178. Discover
190 179. Out of Control
191 180. Perforce
192 181. Her
193 182. Myth
194 183. Him
195 184. Bleeding
196 185. Perfidy
197 186. Take Me Out of This Town
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2
2. Started
3
3. Cracked Mask
4
4. Fiancé
5
5. Whisper
6
6. Academy
7
7. Empty Chair
8
8. Untitled
9
9. Goddess
10
10. Orange
11
11. Idiot
12
12. Red Rose
13
13. Smooth Criminal
14
14. New Toy
15
15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16
16. Punishment
17
17. Misner Space
18
18. Light
19
19. Deal
20
20. Cemetery
21
21. Rozeale Ankhatia
22
22. If It Was You
23
23. Old Friend
24
24. Falling
25
25. Imbalance
26
26. Struggle
27
27. The Healer
28
28. Reset
29
29. Fairytale
30
30. Forgotten
31
31. Debutante
32
32. Silly
33
33. Artemis
34
34. Partner In Crime
35
35. Nuts
36
36. Framed
37
37. Cola
38
38. Bored
39
39. Variable
40
40. Help!
41
41. Zero
42
42. Trick Or Treat?
43
43. The Game
44
44. Chapter Two
45
45. Continued
46
pengumuman: CAST
47
46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48
47. Lust
49
48. Home
50
49. Right Side
51
50. Riddle
52
51. Decode
53
52. Sweet Seventeen
54
53. Spring Cup
55
54. Mystery
56
55. Mr. Rious
57
56. Interrogation
58
57. Database
59
58. Dancing
60
59. Suspect
61
60. May, 1st
62
61. UNO
63
62. Damn
64
63. Wait For Me
65
64. Sacrifice
66
65. Bloody Rose
67
66. Raflesia
68
67. Lottery
69
68. Racing
70
69. Asanatha
71
70. Bury The Hatchet
72
71. Tree
73
72. The Winner
74
73. Healed
75
74. Reminisce
76
75. Andromeda
77
76. Grim
78
77. Farewell
79
78. Encounter
80
79. Sleep
81
80. Once Upon A Time
82
81. Prison
83
82. Open
84
83. Falsity
85
84. Second Meeting
86
85. Axiom
87
86. Helpless
88
87. Misfortune
89
88. Animus
90
CHAPTER BONUS [1-A]
91
CHAPTER BONUS [1-B]
92
CHAPTER BONUS [2-A]
93
CHAPTER BONUS [2-B]
94
CHAPTER BONUS [3-A]
95
CHAPTER BONUS [3-B]
96
CHAPTER BONUS [4-A]
97
CHAPTER BONUS [4-B]
98
89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99
90. Crestfallen
100
91. Agreement
101
92. Pizza Delivery (Part 1)
102
93. Pizza Delivery (Part 2)
103
94. Narrow (Part 1)
104
95. Narrow (Part 2)
105
96. Possessed
106
97. Sorrow (Part 1)
107
98. Sorrow (Part 2)
108
99. Jack O'Lantern
109
100. Beginning Of The End
110
101. Laxity
111
102. Savior
112
103. Hostage
113
104. Bad Idea
114
105. Underestimate
115
106. Memorials
116
107. Solving
117
108. Misunderstanding
118
109. Curiosity Killed The Cat
119
110. Agony
120
111. Distancing
121
112. Foolish
122
113. Fall To Pieces
123
114. Aphrodite
124
115. Loosing Grip
125
116. Insanity
126
117. Ruthless
127
118. Ignorance
128
119. Hypocrisy
129
120. Complicated
130
121. Dignity
131
122. Stupidity
132
123. Catacombs
133
124. Absurd
134
125. Backlash
135
126. Vanished
136
127. Break Free
137
128. Darkness In The Light
138
129. Ambush On All Sides
139
130. Mare's Nest
140
131. Tenet
141
132. Clandestine
142
133. Judas
143
134. Sinister
144
135. Desire
145
136. Ares
146
137. Embrace
147
138. Up In The Air
148
139. Prejudice
149
pengumuman: LIST TOKOH
150
140. Diverge
151
141. Noticed
152
142. Float Kiss
153
143. Liars
154
144. Reunion
155
145. The Answer
156
146. Liberated
157
147. Carnage
158
148. Vendetta
159
149. 1 Stone For 2 Birds
160
150. Better Place
161
151. Pleasure
162
152. Trust & Hope
163
153. Rest
164
154. Good & Bad News
165
155. Bald Cypress
166
156. Leave
167
157. Painful
168
158. Invitation
169
159. A Guest
170
160. Piece Of Art
171
161. Aware
172
162. Journey
173
163. Inland
174
164. Westafo Hall
175
pengumuman: BREAK
176
165. Madam Derba
177
166. Good Side
178
167. The Stage
179
168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180
169. Deception
181
170. Evaluate
182
171. Dissent
183
172. Gratuitous
184
173. Departure
185
174. Voyage
186
175. Almost
187
176. Anger
188
177. Scratches
189
178. Discover
190
179. Out of Control
191
180. Perforce
192
181. Her
193
182. Myth
194
183. Him
195
184. Bleeding
196
185. Perfidy
197
186. Take Me Out of This Town

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!