Butuh waktu cukup lama bagi sepasang mata cokelat milik perempuan yang tengah bersimpuh itu untuk bisa melepaskan diri dari sosok serba hitam yang menjulang di depannya. Mengabaikan rasa sakit di kaki, ia menyeret tubuhnya agak ke kanan untuk mengecek kembali keadaan sang Malaikat Maut Bertopeng, dan hasilnya sungguh mengejutkan.
Topeng yang dikenakannya sudah tak lagi utuh, patah sebagian dan menampakkan bagian bawah wajahnya yang elok tanpa cacat. Dia pun tak lagi menggenggam pedang, karena bilahnya telah tenggelam dengan sempurna di salah satu batang pohon pinus.
"Kau baik-baik saja, Hera?" Sosok serba hitam itu bertanya tanpa menoleh ke perempuan di belakangnya.
Mata cokelat Hera kembali pada punggung tegap itu. "Glen?"
"Maaf aku terlambat."
Bagaimanapun telinga Hera tak bisa dibohongi. Glen memang berbicara dengan nada relatif datar, seperti biasanya, namun Hera dapat merasakan irama napasnya yang memberat, seolah ada beban yang tengah menghadang di rongga dada. Sekalipun Hera tidak pernah tahu bahwa beban itu adalah larutan emosi yang rentan meledak.
“Lama tidak bertemu. Kau banyak berubah.” Pada akhirnya Zeze tak dapat menahan untuk tidak menyapa. Dengan sekuat tenaga, ia menahan getaran pada suaranya.
Glen memandangnya datar dengan mata yang tak lebih gelap dari malam, “Apakah ada alasan khusus?”
Makna dari pertanyaan itu dapat Zeze tafsirkan dengan mudah, karena itulah tak ada jeda dalam jawabannya.
"Alasan? Aku hanya ingin memperbaiki dunia yang berantakan ini."
Angin malam bertiup, membelai dedaunan dan helaian rambut mereka. Kerikil yang terlupakan ikut berjalan bersama angin, tersapu olehnya. Cahaya sang dewi malam meredup dalam kabut yang semakin tebal.
"Begitu, ya?" Glen tersenyum damai dengan mata tertutup, "Terang sekali. Aku sampai harus berpaling." Ia membuka matanya, lalu bertanya dengan suara selirih angin, "Jadi, itukah keputusanmu?"
"Ya, aku akan melakukannya dengan caraku. Kau pasti juga memiliki caramu sendiri, bukan?"
Waktu terus bergulir namun keheningan masih betah singgah, mengekang dua insan yang saling berhadapan dalam sunyinya. Hanya terbetik bisikan angin; melodi yang melatari perputaran roda kenangan di dalam kepala. Bagaimanapun, pastinya, baik Glen maupun Zeze, keduanya sama-sama meratapi takdir yang membelenggu mereka.
"Baiklah, kita akan mengambil jalan masing-masing." Sorot mata Glen menajam saat ia mendesis, "Aku akan melepaskanmu kali ini. Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan membunuhmu."
"Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan menyelamatkanmu." Zeze tersenyum seringkas kedipan mata sebelum menghilang dalam kegelapan, meninggalkan Glen dalam tanda tanya.
Menyelamatkan? Dari apa?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Topeng itu sudah tak lagi diperlukan, ia menyimpannya di dalam selembar kantong berwarna kelabu selagi berjalan menyusuri terowongan gelap dengan pandangan mengarah lepas ke bawah, kepada rerumputan liar yang diinjaknya berulang kali, atau bahkan mungkin ia tidak menyadari di belahan bumi mana ia berada. Wajahnya mendung, tatapannya kosong, sekosong relungnya. Ia tidak bisa merasakan apa pun. Definisi sebenarnya dari mati rasa.
Seberkas cahaya menyilaukan berhasil mengikat pandangannya ke depan. Telapak tangannya bergegas melindungi wajah, mata birunya menyipit.
Di setiap langkah yang ia ambil, cahaya tersebut memperluas kuasanya, sebelum benar-benar tumpas begitu kegelapan berhasil ia campakkan. Langkahnya patah di ujung terowongan selagi matanya menyorot sebuah pemandangan yang menjadi akar dari cahaya menyilaukan tadi.
Tujuh orang sedang menduduki dua batang pohon roboh yang saling berhadapan. Semuanya memiliki wajah yang sangat familer baginya. Obi, Juni, Zafth, Chanara, Leah, dan Aurel. Tak lupa pula Mia yang masih tak sadarkan diri, duduk bersandar pada kaki pohon pinus. Di hadapan mereka menyala kobaran api yang melalap tumpukan dahan kayu.
Zeze mempercepat langkahnya. "Oh, semua sudah berkumpul." Sepertinya reuni tadi membuang banyak waktunya.
"Ayo kembali. Aku sudah lapar," Obi berdiri diikuti keenam temannya. Lelaki ber-hoodie hitam itu menumpas nyala api dengan satu siraman telak dari botol air mineral.
"Seingatku satu jam lalu kau sudah makan?" Juni menautkan alis kepada Obi.
"Satu jam adalah waktu yang cepat untuk kembali merasa lapar," balas Obi, menyeringai.
"Aku masih penasaran bagaimana kau tetap mempertahankan berat badan ideal dengan nafsu makan sebanyak itu," kata Juni.
"Benar!" Chanara menyeru, "Obi makan paling sedikit lima kali sehari."
"Dia perlu memberi makan cacing-cacing di perutnya," celetuk Zafth; Chanara tertawa.
Mereka berjalan berdampingan, membelah hutan yang menari bersama angin. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi karena mereka sudah cukup jauh dari pemukiman.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Antoni Barier?" Zeze menatap Leah di ujung matanya.
Leah sedikit mundur agar bisa melihat Zeze. "Dia benar-benar gila. Aku tidak dapat melumpuhkannya. Lihat ini!" Wanita berkemeja hitam itu menarik lengan bajunya ke atas untuk menunjukkan koleksi memarnya.
"... Karena itu aku meminta bantuan Aurel membukakan portal untuk kabur. Tapi tenang saja, kalian menahan mereka semua dengan sangat baik. Aku tidak sanggup membayangkan... bertarung satu lawan satu dengan Antoni sudah cukup menjadi pengalaman yang paling mengerikan dalam hidupku, bagaimana kalau para bawahannya ikut bergabung?" desis Leah, bergidik ngeri.
"Well, itu akan menjadi pengalaman terakhir dalam hidupmu," celetuk Zafth enteng. Di punggungnya terbaring Mia.
"Sayang sekali, padahal aku sangat ingin melihat pertarungan kalian," keluh Zeze.
"Yang terpenting kita sudah membereskan target kita," timpal Juni, menghela napas berat. Sepertinya ada suatu hal yang membuat gadis bergaun hitam itu kecewa.
"Kau benar." Zeze mengangguk dan tidak meminta lebih.
"Apa rencana kalian setelah ini?" Aurel yang berjalan di tengah bertanya. Pakaiannya terlihat lebih bersih dan rapi dari yang lain. Tak ditemukan titik darah ataupun debu di seratnya.
"Liburan, apa lagi?" Leah menguap panjang sambil meregangkan otot-otot tangannya ke atas.
Obi melihat langit yang disuramkan kabut, "Aku akan pergi bertualang bersama Zeze sampai misi baru muncul." Jawaban lelaki berambut hitam itu terdengar tidak yakin. "Aku selalu ingin pergi ke Italia. Kudengar kopi-kopi di sana berada di level yang berbeda. Tapi, apa kau berencana kembali ke Istana Timur tahun ini?" Tanyanya ke Zeze.
"Istana?" Juni mengernyit pada mereka. Dia menatap Zeze, "Mengapa kau harus kembali ke istana?"
"Liburan," gumam Zeze, "Sekali setiap musim."
Juni melotot. "Aku ingat sekali kau selalu menolak setiap kuajak liburan di sini, dan sekarang kau memberitahuku kau mengunjungi Aplistia tanpa sepengetahuanku selama ini?"
"Setiap orang butuh waktu liburan untuk dirinya sendiri, kau paham?" kata Zeze, memutar mata.
"Terlebih jika gratis, benar kan, Tuan Putri Rozeale?" goda Leah sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Zeze, yang benar-benar mengabaikannya.
"Aku menerima pesan, dari Kai," tutur Aurel yang sedang menatap ponselnya. "Ace memanggil. Semua wajib berkumpul. Kelompok yang lain juga telah menyelesaikan misi mereka dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju markas."
Berita itu menerima reaksi yang berbeda. Zafth mendengus dan Leah langsung melotot padanya sambil berkata, “Dia akan membunuhmu kali ini kalau kau tidak datang lagi.”
Chanara menyeringai dan bersenandung ria, "Makan besar malam ini!"
"Uangku selamat kali ini," Zeze terkekeh.
Obi merangkul Zeze yang berjalan di sisi kanannya, menyeringai, "Kali ini kau lolos, Ze."
Tempat yang mereka sebut sebagai 'markas' itu dipadati oleh sekiranya 25 orang. Mereka berkumpul di sebuah ruangan panjang dengan langit-langit tinggi berhias lampu redup berwarna dingin, kadang ungu kadang biru. Sofa-sofa aneka warna diasingkan ke dinding putih, sementara mereka semua berdiri. Jajaran hidangan dan alkohol berbagai merek menghiasi meja panjang di tengah ruangan. Alunan tempo lamban, santai, dan memabukkan dari musik ber-genre RnB mengiringi suara obrolan dan canda tawa.
Baru saja mereka mengayunkan kaki ke dalam ruangan usai perjalanan panjang di dalam pesawat, sambutan akrab langsung datang memeluk telinga.
"Kalian lama sekali!"
"Karena semuanya sudah berkumpul, ayo kita makan!"
"Bersulang untuk kemenangan!"
Berdiri sendiri di ambang pintu, Zeze menyapukan pandangan, menyelami wajah kawan-kawannya—keluarganya—satu per satu, dan di detik-detik ia melakukan itu, adegan demi adegan berwujud kenangan berkelebat melintasi matanya yang berkaca-kaca.
Mereka telah mencicipi rasa manis dan pahitnya kehidupan. Mereka tahu akan datang saat di mana mereka akan kehilangan satu sama lain. Namun meski begitu, mereka memilih berpura-pura tak menyadari apa pun dan tetap tertawa layaknya tak ada hari esok.
Kebersamaan yang hangat tapi membara, bagaikan api dalam diri mereka.
Dengan sorot mata menghangat, Zeze tersenyum. Bukan sejenis senyum dingin penuh intimidasi yang biasa ia tunjukkan kepada orang asing. Kali ini hangat bagaikan sebuah rangkulan.
Baginya, mereka adalah cahaya.
Cahaya yang sangat terang.
Meskipun begitu, bagaimana mungkin matanya dapat berpaling dari mereka?
.
.
.
...[ GLEN ]...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Papel
Waww glen, keren banget entrance-nya👍
2021-01-23
1
Yuni Latte
sebenernya ini nyeritain apa yah thor.
2021-01-18
2
PotatoYubitisfira
Ganteng banget Glen
2020-12-16
1