Sebuah jam alarm bundar menyebarkan jeritannya ke seantero ruangan luas berbentuk balok. Menggeliat dan mengerang, Chanara Romair membuka perlahan kedua matanya. Sebuah kaki sofa berbahan besi adalah hal pertama yang menyambut pandangannya yang berkabut. Rupanya ia ketiduran di bawah sofa, setengah badan masuk ke dalam kolongnya.
Menyeret tubuhnya sendiri keluar dari kolong sofa, Chanara mendudukkan dirinya di atas sepotong karpet merah tebal, di antara sofa dan sebuah meja kaca. Kaus putihnya sekusut rambutnya yang telah layak disamakan dengan surai singa. Kepalanya menoleh memindai sekitar dan terpaku di sebuah jam alarm bundar yang berpijak di atas meja. Tangan kanannya terulur menuju benda itu dan memadamkan bisingnya dengan sekali pukul, nyaris menghancurkannya. Itulah alasan mengapa alarm di ponsel tidak digunakan. Chanara nyaris tidak bisa mengontrol kekuatannya jika masih berada di ambang kesadaran. Pernah ponsel Zafth menjadi korban dan Zafth terpaksa menghabiskan setengah tabungannya hanya untuk mengganti layar dan LED yang rusak.
Mengucek mata dan melihat yang lain juga mulai bangun dari tidur, Chanara pun mengecek sofa di sebelah kirinya. Di atasnya terbaring seorang gadis muda yang rambut pirang keperakannya berantakan menimbun wajah. Digoyangkannya bahu gadis itu, "Zeze. Bangun."
Zeze menggeliat dalam tidurnya. Sebelah mata birunya terungkap, berupaya beradaptasi dengan tikaman cahaya lampu. "Pukul berapa sekarang?" Suaranya serak.
Chanara kembali menguap, "Delapan."
Kesiangan. "Kurasa aku menyetelnya tepat jam setengah tujuh."
"Seseorang sepertinya alergi bangun pagi," gumam Chanara, mengedikkan bahu.
"Seseorang itu adalah dirimu. Aku tahu," gerutu Zeze. Mendudukkan diri, pandangannya menyapu sekitar dengan hanya mata kanannya yang terbuka.
"Butuh bantuan?" Chanara sudah mengulurkan kedua tangannya ke arah mata Zeze yang tertutup, hendak mengungkapnya secara paksa, dan Zeze langsung beringsut menjauhinya, mendesis horor kepadanya. Chanar tertawa iseng tanpa suara.
Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya dua mata safir terungkap pada dunia. Zeze kembali menyapukan pandangan, apa yang ia lihat jauh lebih jelas dari sebelumnya. Sebuah ruangan berlangit-langit tinggi yang ditata sedemikian rupa menyerupai ruang santai penerima tamu, lengkap dengan tiga buah sofa panjang yang disusun membentuk huruf U dengan meja berlapis kaca sebagai pusat, TV tipis cekung berukuran jumbo menggantung di dinding bercat putih, dan perabotan khas ruang tamu lainnya. Semuanya beratmosfer modern, kontras dengan gaya palladian yang membentuk bangunan itu.
Sofa yang berlokasi di seberang Zeze diisi oleh Mia yang sedang mengutak-atik ponsel sambil sesekali menguap. Sementara di bawah kaki Mia, ada Obi yang tengah melakukan hal serupa, lelaki berambut hitam itu duduk beralaskan sepotong karpet tebal yang melapisi petakan lantai granit. Sofa yang terbujur di tengah diisi oleh Zafth dan Leah yang sedang mengumpulkan kembali serpihan nyawa mereka dari alam mimpi.
"Oh, sudah bangun, para tukang tidur?" Aurel, dengan setelan kasual berwarna gelap, datang menghampiri mereka dengan kedua tangan penuh oleh nampan berisi air dan buah-buahan. Keenam orang itu lantas menyerbu bahkan sebelum nampan tersebut menyentuh meja.
"Tidak bisakah kalian cuci muka terlebih dahulu?" Aurel mencibir pelan. Gadis berkacamata dengan rambut hitam wolf-cut seleher itu lalu mengambil duduk di sisi kiri Zeze, yang sedang menenggak segelas air putih.
Leah mendengus keras, tampaknya masih hangover. "Semalam aku terlalu banyak minum hingga melupakan apa yang terjadi. Aku tidak melakukan hal buruk, kan?"
"Hampir," Obi menjawab di sela kesibukan dengan ponselnya. Dilihat dari gerakan bahunya yang bergoyang ke kanan dan ke kiri, tertebak bahwa dia sedang bermain game bertema balapan.
"Kau hampir menaiki meja saat sedang karaoke," celetuk Zafth, menguap, "Berterima kasihlah pada Edgar, berkatnya sekarang tidak ada yang menyimpan aibmu di galeri ponsel mereka."
Leah mengangkat bahu, "Well, kedengarannya tidak terlalu buruk. Lagipula aku tidak keberatan bila pun itu terjadi."
Zafth berdecak mendengarnya. Mata hitamnya yang sayu memandang tak percaya pada wanita berambut cokelat madu yang duduk tepat di sampingnya itu.
"Semalam seru sekali, bukan!?" Seru Chanara, antusiasmenya tetap kental meski hari telah berganti. "Sudah lama kita tidak berkumpul secara lengkap. Um, berapa lama?" Ia meletakkan satu telunjuk di bibirnya, mendongak pada langit-langit bertema api.
"Setahun," timpal Zafth dengan mulut penuh melon.
"Ah! Itu waktu yang cukup lama," Chanara mengangguk.
"Apa boleh buat, masing-masing dari kita memiliki kesibukan sendiri," Mia, yang masih belum selesai update di media sosial, ikut memasuki obrolan. Satu tangannya mengutak-atik layar sementara tangan yang lain bertugas memegang potongan melon. Plester luka tertempel di hidung mungilnya yang patah akibat insiden tadi malam.
Di sisi lain, ketika mobil virtual yang Obi kendalikan siap memasuki garis finis, sebuah panggilan masuk secara mendadak dan menggagalkan selebrasinya. Obi mengumpat kesal, namun tetap mengangkat panggilan itu. Usai mendengarkan ocehan si penelepon, ia menutup panggilan dan memandang orang di seberangnya dengan dahi mengernyit.
"Ze," panggil Obi sembari mengangkat ponsel setinggi wajah dan menggoyang-goyangkannya ke arah Zeze yang tengah melamun, memandang kosong air putih di tangan.
Bahu mungil itu melompat. Buru-buru dia meraih ponselnya yang terselip di sudut sofa, membuka kunci layar dan menemukan banyak pesan yang belum terbaca. "Yang mana?" Tanya Zeze, mengernyit ketika melihat jumlah pesan.
"Zarai."
Yang lain sedikit bereaksi ketika nama itu disebut oleh Obi. Air muka mereka mengeruh, tegang, waspada, namun mereka berhasil menjernihkannya dalam waktu singkat.
Zeze menggulir layar ponselnya ke atas dan menemukan nama Zarai. Terdapat sepuluh panggilan tak terjawab dan lima pesan tak terbaca, tetapi yang berhasil memancing perhatiannya hanya pesan paling atas.
"Raja memanggil," begitu bunyinya.
Tanpa menunda-nunda, Zeze bangkit ke toilet. Ia bercermin sehabis membasuh muka. Kedua tangannya yang bergetar bertumpu di bibir wastafel. Saatnya menjalankan rutinitas paginya yang bermula sejak satu tahun lalu; ia mengeluarkan sesuatu dari kantong jaket bagian dalam. Sebuah tabung berisi sejumlah obat. Menatap benda itu, walau hanya sebentar, telah berhasil menggiring jiwanya kembali kepada peristiwa yang terjadi setahun silam.
Serangkaian kenangan berkumpul dan menyatu bagai kepingan puzzle, menyajikan kilasan-kilasan adegan dalam kepalanya. Nyala api, bunyi tembakan, badai kerikil, hujan salju, hutan di kaki gunung, malam, bulan purnama, darah, seorang wanita hamil berambut cokelat yang tergolek lemas di tanah, bayi di dalam dekapan, makam....
"Uh," Zeze menekan kepalanya yang terasa sakit. Ingatan itu, sampai kapan akan menghantuinya?
Setelah membasuh muka sekali lagi, Zeze mengayunkan kedua kakinya yang dilapisi jeans hitam menuju basement sebuah bangunan menara bernuansa hitam-marun, tempat yang sudah menjadi rumahnya sejak ia berusia delapan tahun. Ditemani api kecil di ujung telunjuk dan suara langkah kakinya sendiri, Zeze menuruni tangga melingkar, tenggelam semakin jauh ke dasar bangunan demi memenuhi panggilan seseorang yang ia anggap sebagai rajanya, satu-satunya yang berhak dan layak untuk mendapatkan kesetian darinya dan seluruh penghuni menara.
Semakin ke bawah, udara semakin lembab dan dingin. Dinding batu telah menggantikan dinding semen. Tak lama kemudian, matanya disapa oleh sepasang pintu kembar marun, warna tergelap dari darah, berukir burung Phoenix yang tengah mengobarkan sayap apinya. Tangan rampingnya mendorong pintu tersebut dan cahaya dari ruangan di balik pintu mengintip keluar.
Ia melihat dua orang pemuda yang sedang tanding catur, duduk saling berhadapan di sofa berwarna marun di samping perapian, satu-satunya sumber pencahayaan di dalam ruangan selain lilin-lilin yang ditempatkan di ceruk-ceruk tembok batu hitam. Satu dari empat tembok batu ditutupi oleh rak-rak kayu berisi buku-buku usang. Salah satu pemuda memiliki rambut berwarna cokelat dengan rokok terjepit di mulutnya, melawan seorang lelaki berambut emas berpenampilan nyentrik. Tubuh mereka dibungkus pakaian bergaya kasual; kaus polos dan celana jeans. Umur mereka tak lebih dari pertengahan dua puluhan.
Bunyi engsel pintu mengundang perhatian kedua orang tersebut. Si Rambut emas menyambut Zeze dengan antusiasme, "Oh, Zeze! Suatu peristiwa langka kau datang kemari."
"Aku dipanggil olehnya," sahut Zeze sambil mengarahkan dagunya kepada seorang lelaki berambut hitam pekat yang sedang menduduki sebuah kursi berlengan, letaknya di sudut ruangan, di bagian tergelap di mana matanya tidak bisa dijangkau cahaya, hanya terlihat bibir dan rahangnya yang tajam. Dia tampak sangat serius menyelami sebuah buku tebal yang terbuka di tangannya.
Merasa terpanggil, lelaki berjaket kulit itu lantas mengangkat wajahnya dari buku.
Rajanya.
Zeze tahu dirinya sedang ditatap meski ia tidak bisa menjangkau mata hitamnya. Lelaki itu lalu menutup bukunya, suatu tindakan yang tanpa Zeze sadari akan membuka awalnya yang baru.
Yang benar-benar baru.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di bawah naungan langit yang akhirnya cerah setelah sekian lama pucat, empat buah mobil hitam meluncur di pekarangan sebuah bangunan putih yang atapnya hilang dalam kabut. Di tengah pekarangan, tepat empat meter di depan pintu utama, terdapat sebuah kolam ikan berbentuk bundar dengan patung Cupid yang sedang menuangkan air dari guci dalam dekapan, meluncur bagai air terjun dan mendarat lembut di kolam, menemani ikan-ikan cantik berwarna merah-keemasan yang berpusing di bawahnya.
Kelima mobil itu membentuk formasi dengan dua sedan masing-masing di depan dan di belakang, mengelilingi satu limosin di tengah. Setelah dirasa cukup dekat dengan bangunan mewah itu, sedan-sedan tersebut berhenti dan memuntahkan muatannya, sehingga sang mentari dapat menjatuhkan sinarnya kepada mereka.
Tiga belas pria berjas dan berkacamata hitam keluar dari dalam mobil dan membentuk barisan di kanan-kiri, memberi jalan untuk tujuh orang penumpang limosin; empat orang lelaki dan tiga orang perempuan.
Pemimpin mereka dapat dengan mudah dikenali. Dia berjalan paling depan; seorang remaja laki-laki berumur 18 tahun dengan rambut tebal berona cokelat perunggu. Tubuhnya tinggi tegap dan kakinya panjang, tersembunyi dalam balutan kemeja putih berjas cokelat gelap yang dipadukan dengan sepotong celana berbahan ringan. Syal lembut berbulu hitam memeluk lehernya yang putih dan jenjang, melindunginya dari suhu dingin angin musim gugur.
Kesempurnaannya sulit untuk dikategorikan nyata, layaknya seorang model yang keluar dari dalam lukisan. Dia memiliki bentuk mata tajam, spekulatif, penuh pertimbangan, tapi tenang. Iris hazel, hidung ramping, sepasang alis tebal, bentuk rahang yang runcing, tulang pipi tinggi dan menonjol, menjadi bumbu tersendiri untuk keelokannya. Fitur wajah perpaduan antara Eropa Tenggara dan Timur Tengah.
Seorang gadis berambut pirang bergelombang berjalan mendahuluinya menuju teras megah yang ditopang pilar-pilar berlanggam ionia dan membukakannya pintu utama mansion. "Pangeran Kion, hidangan makan siang telah siap," lapornya.
Lelaki yang dipanggil itu mengangguk. Ketujuhnya kompak membawa kaki mereka menuju ruang makan untuk menyantap hidangan makan siang yang telah tersaji hanya untuk mereka.
Tapi pada kenyataannya, realita tidak selalu dapat disandingkan dengan ekspektasi.
Setibanya mereka di sebuah ruang makan bertema baroque dengan sedikit sentuhan industrial, seseorang ternyata tengah menjajah kuliner mewah yang terhampar di atas meja makan panjang.
Orang asing tersebut duduk bersila di salah satu kursi. Rambut platinumnya dibiarkan mengalir hingga pinggang. Pakaiannya adalah jaket denim berwarna biru di luar kaus hitam polos berlengan pendek, dipadukan dengan sepotong celana jeans yang terlihat sobek di beberapa bagian terutama bagian lutut. Tidak mencerminkan pakaian berkelas sama sekali. Cara menyantapnya pun tidak memenuhi tata krama. Ia tidak segan untuk menyantap paha ayam langsung dengan tangan telanjang.
Tetapi, satu-satunya bagian dari orang tersebut yang sanggup membuat mereka tertegun adalah parasnya. Mereka berani bersumpah belum pernah melihat manusia dengan pahatan seelok dia. Bahkan dia lebih mendekati makhluk fantasi daripada manusia. Malaikat, peri, apa pun itu. Dia tidak terlihat nyata.
Yang pertama kali tersadar adalah si Gadis Berambut Pirang. Pertanyaan berkecamuk di dalam kepalanya, Bagaimana orang ini bisa masuk ke sini? Mengapa tidak ada satu orang pun yang melarangnya?
"Apa-apaan ini? Sedang apa kau di sini? Siapa kau?" Tanyanya berentet dengan suara tinggi.
Penyusup itu, Zeze, akhirnya mengalihkan pandangan dari makanan kepada tujuh wajah yang memandangnya bingung.
Suasana masih terasa kosong lantaran Zeze hanya menyelami sosok mereka satu per satu tanpa memberi sedikit pun jawaban. Manik biru itu menghentikan perjalanannya ketika bertemu dengan sepasang mata berwarna cokelat hazel.
Cukup lama Zeze mengunci mata itu sebelum beralih ke si Gadis Pirang dan bertanya kepadanya dengan ketenangan di luar nalar.
"Kau sendiri siapa?"
Apa!?
Si Pirang tampaknya sudah tak mampu membendung emosi. Satu alis tebalnya berkedut-kedut di kala ia memperkenalkan dirinya dengan campuran kebanggaan dan bumbu kesombongan, "Aku, adalah Luna Vierhent, putri pertama keluarga inti Marquess Vierhent, salah satu keluarga bangsawan yang melayani Yang Mulia Pangeran Kion Ropalo Zesto. Siapa kau berani-beraninya menapakkan kaki kotormu itu di istana keluarga kerajaan tanpa izin legal?"
Zeze bergeming tanpa menjawab. Matanya mendarat lagi pada Kion yang sejak tadi hanya diam mempelajari gerak-geriknya.
Setelah beberapa saat saling tatap, Zeze pun kembali ke Luna dan bertanya kepadanya dengan acuh tak acuh, "Singkatnya, kau adalah pelayannya?"
Pertanyaan yang sama sekali di luar sangka dan kira. Luna benar-benar tidak memiliki persiapan. Mengelak dan mengiyakan sama-sama tidak benar. "Hei, kau belum menjawab pertanyaanku!"
Zeze berdiri, kursinya sedikit terdorong ke belakang. Ia menyeka tangannya di tisu, meraih segelas air dan menenggaknya sampai tandas, lalu meletakkannya kembali di meja. Terlalu tenang, terlalu santai. "Tampaknya benar. Baru kali ini aku melihat pelayan memakai gaun dan perhiasan."
Bibir Luna memisah dan menciptakan rongga. Syok. Sekarang ia mulai mempertanyakan telinga dan kewarasannya sendiri. Meraup napas penuh, ia ambil posisi untuk meledakkan seluruh emosinya, ketika tiba-tiba ketenangan dari sebuah suara datang menyusup.
"Permisi, tapi bukankah sepatutnya kau menjelaskan siapa dirimu terlebih dahulu kepada kami? Kau sudah sembarangan memasuki hunian orang lain tanpa izin. Bahkan jika kau telah mendapatkan izin tersebut sebelumnya, bukankah akan lebih bermartabat bila kau, seorang tamu, memperkenalkan dirimu kepada pemilik rumah ini?" Seorang lelaki berambut pirang dengan mata sebiru langit berhasil menghalau amarah Luna yang nyaris meledak.
Zeze menilainya dengan mata meredup. Tampak jelas baginya bahwa lelaki itu berkepala dingin dan berpikiran dewasa. Itu sedikit membuatnya terkesan. "Mengapa aku perlu melakukan prosedur merepotkan hanya untuk memasuki rumahku sendiri?" Balasnya kemudian.
Mereka terkejut bukan main atas pertanyaan Zeze, terkecuali Kion, yang masih menyelam dengan tenang di kedalaman sepasang kolam bundar berwarna biru yang sudah lama tidak dijumpainya itu. Namun, rupanya mata itu masih enggan untuk menyapanya, seolah mereka adalah kutub sejenis yang tercipta untuk saling menghidari satu sama lain.
"A—apa? Orang ini gila. Hei, jangan asal bicara!" Sergah Luna, mulai kalut.
"Asal bicara? Kau bisa mengonfirmasinya sendiri kepada..." Zeze melarikan pandangannya ke samping, ke arah seorang maid muda yang sejak awal menemaninya di dekat dinding. "Benar 'kan, Nana?"
Nana, maid berkacamata dengan rambut berwarna oranye, membungkukkan badannya saat menjawab, "Tepat sekali, Tuan Putri."
Detik itu juga, tepat di momen itu, jantung mereka terhempas ke perut. Telinga mereka tiba-tiba menjadi tuli, haus meminta pengulangan.
"Pangeran, apa maksudnya ini?" Seorang perempuan berambut cokelat pendek di sebelah kanan Kion bertanya kepadanya.
"Rozeale," bisik Kion, menyebutkan nama depan perempuan itu. "Dia tidak diragukan lagi adalah keturunan salah satu keluarga pendiri kerajaan Aplistia." Kion berhenti sejenak ketika akhirnya mata biru itu menetap di matanya, "Seorang anak dari kakak perempuan Ibuku, Putri Vourtsa."
Mereka menahan napas saat Kion mengakhiri kalimatnya. Akan tetapi, ternyata tidak tuntas sampai di sana kenyataan mengejutkan yang harus mereka dengar.
"Dia adalah tunanganku."
.
.
...[ PRINCE KION ]...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
penyuka novel <3 :D
kak knapa g d lanjut bkin karya lain knp dri dlu cuma ada aspyxia ini?!
aku smpe nyari ksna kmari aspyxia krna udh lma g buka noveltoon dan kangn pngen baca kirain udh nmbah krya yang lain ny...syang bangt/Cry//Cry//Cry/
2024-11-27
0
Sari Supartini
omg ya allah .. hemmm knpa baru nemu cerita sekeren ini ..
2022-04-29
1
Ryosa
keren thor
2021-10-22
2