10. Orange

"Setiap orang memiliki aura di dalam diri mereka."

Mr. Kardiá bangun dari kursi, menyeret kaki berhak tingginya ke depan kelas, menghadap seisi ruangan.

"Bagaimana kita mendefinisikan 'aura' tersebut, Mr. Vrenof?" Mata sayu Mrs. Kardiá melesat ke murid yang duduk di pojok kirinya, sesaat setelah murid tersebut selesai berbisik-bisik dengan teman sebangkunya.

Siswa itu berdeham sebelum menjawab, "Aura adalah pancaran energi yang dihasilkan oleh seseorang, benda, maupun tempat tertentu. Berwujud radiasi berwarna yang biasanya mengelilingi penghasilnya."

Mrs. Kardiá mengangguk, senyum tipis menari di ujung bibirnya, "Well, ya, singkatnya seperti itu. Pada kesempatan kali ini kita akan mengulang sedikit materi bab Ilmu Sinar Tubuh yang pernah kalian pelajari pada kelas Tahun Pertama karena materi berikutnya akan sedikit menyerempet ke sana. Sekarang, Miss Yipero, tolong buka halaman 13 dan bacakan isinya sebagai pengingat untuk teman-temanmu."

Bahu siswi berambut cokelat yang sedang bersenandung kecil itu agak melompat. Dia mengangguk dan segera fokus ke e-book, mengetik nomor halaman di pencarian. "Secara teori, aura merupakan suatu aliran listrik yang hidup secara psikis—medan magnet elektromagnetik yang mengelilingi seluruh tubuh makhluk hidup dan bahkan benda mati. Teori ini diambil dari penelitian sejumlah ahli. Berikut beberapanya: W.E Butler, seorang sarjana spesialis ilmu sinar tubuh, dalam penelitiannya yang menggunakan pendekatan fisika, telah memberikan satu batasan tentang definisi aura. Beliau menjelaskan bahwa aura adalah inti sari yang tidak kasat mata, suatu aliran yang dihasilkan oleh tubuh makhluk hidup.

"Ilmuwan lainnya, Willem Hogendoorn, menyatakan bahwa aura merupakan bentuk sinar yang tidak hanya mengelilingi tubuh manusia, hewan, dan tanaman, tetapi juga ditemukan pada materi benda-benda mati.

"Seorang pakar spiritual, Audrey Hope, menambahkan bahwa aura adalah getaran dimana kita berada, seperti oktaf dan frekuensi suara maupun not musik. Selain itu, aura seseorang sangat dipengaruhi oleh tingkatan spiritual orang tersebut," tutupnya.

“Terima kasih,” Mrs. Kardiá berjalan ke belakang kelas dengan tangan bertaut di belakang pinggang, "Di abad ke-22 ini, umat manusia telah mengalami kemajuan pesat di banyak bidang keilmuan. Kedokteran, teknologi, psikobiologi... Kini kita memiliki keajaiban untuk mewujudkan hal-hal yang sebelumnya dianggap mustahil oleh nenek moyang kita. Telekinesis adalah salah satunya." Wanita itu menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap papan tulis, membelakangi seisi kelas.

"Telekinesis adalah konsep utama dan yang paling fundamental untuk subjek yang sedang kita bahas sekarang. Saat seseorang telah berhasil mencapai tingkatan konsentrasi spiritual tertingginya, ia memiliki kemungkinan besar untuk menyatukan dan mengikat auranya dengan aura suatu objek. Dan, tebak apa yang bakal terjadi selanjutnya?"

"Objek tersebut menjadi bagian dari dirinya," ucap seseorang.

“Terimakasih, Mr. Tyga.” Mrs. Kardiá membalik badan dan saat kembali berjalan ke belakang kelas, ia berkata, “Inilah ‘kekuatan pikiran’ itu. Selain dengan benda mati, aura manusia juga bisa diikat dengan aura milik manusia lainnya. Perumpaan paling sederhana: kalian pasti memiliki seorang—atau sejumlah—teman yang sudah lama kalian kenal dan sering berinteraksi dengan kalian. Tahukah kalian bahwa dalam kacamata orang lain, ada setidaknya satu aspek yang membuat kalian dan sahabat kalian memiliki kemiripan terhadap satu sama lain. Entah itu dari tingkah laku, gaya bicara, gaya berpakaian, dan sebagainya. Keajaiban itu terjadi karena adanya keterikatan yang kuat antara jiwa yang satu dengan yang lain. Istilah populernya 'kemistri'.

"Pernah merasa minder atau terintimidasi oleh kehadiran seseorang? Aura juga berperan penting dalam membentuk persepsi itu. Intensitas aura orang tersebut menekan pancaran aura kita sendiri, mengakibatkan jatuhnya mental, salah satu faktor timbulnya ketidakpercayaandiri. Itu artinya, selain dapat disatukan, aura juga memiliki sifat saling tolak menolak."

Mrs. Kardiá menghentikan langkahnya, "Saat sedang marah, entah bagaimana udara di sekitar kita mendadak menjadi terasa panas... Tak jarang sampai mengakibatkan sesak. Itu terjadi karena aura kita tanpa sadar telah menyatu dengan lingkungan. Sekarang, apakah kalian tahu bahwa energi itu juga bertanggung jawab dalam kinerja sistem biologis makhluk hidup? Dari sejak ditemukannya kemampuan autotomi pada cicak, ilmuan terus berusaha mencari cara agar suatu saat pengobatan masa depan dapat menirunya untuk kepentingan umat manusia. Bukankah akan sangat keren jika manusia bisa meregenerasi anggota tubuhnya yang telah terpotong selayaknya cicak terhadap buntutnya? Atau mungkin setidaknya... mengendalikan trombosit supaya bekerja lebih cepat dalam membekukan darah. Ilmuan dulu punya bayangan liar, bagaimana jika umat manusia mampu mengeksploitasi energi itu secara sadar, sesuai keinginan mereka?”

Tidak ada yang menjawab pertanyaan retorik itu.

Mrs. Kardiá melanjutkan, "Pada kelas Tahun Pertama, kalian sudah kenyang diajarkan teknik-teknik fundamental dalam mengontrol energi spiritual untuk kepentingan beladiri dan penggunaan senjata, yang paling utama adalah mengerahkan sejumlah energi ke suatu titik di tubuh agar titik itu lebih kuat dari bagian tubuh yang lain. Kalian sudah cukup familier dengan energi ini; salah satu penemuan terbesar dalam sejarah umat manusia, tanda bahwa kita adalah ras yang tidak memiliki batasan dalam berevolusi. Potensi terbesar kita semua—"

"Dýnami," Zeze berbisik di balik jemari lentik yang menutupi bibirnya.

Partisipasinya sukses mengundang perhatian Glen sekaligus lirikan matanya.

"Ini menyedihkan. Kalian masih berotasi di hal ini? Aku bahkan sudah ke tahap penyocokan Simathyst di umur 10 tahun."

Glen menunduk ke sebuah brush pen yang berputar di antara jemarinya saat tatapan Zeze melesat ke arahnya tanpa pemberitahuan.

"Dan aku tahu kau juga."

Mrs. Kardiá mengakhiri jalan mondar-mandirnya dengan kembali ke meja guru, "Di kelas Tahun Kedua ini, kalian akan dibina lebih mendalam menyangkut dýnami secara teoritis." Wanita muda berkuncir kuda itu menatap penghuni kelas di hadapannya lekat-lekat, berdiri condong ke depan dengan kedua tangan menekan permukaan meja, "Aku tahu banyak di antara kalian yang menganggap subjek ini merepotkan dan hanya membuang-buang waktu. Tapi kalian memerlukannya agar kalian bisa menerapkannya lebih baik di mata pelajaran praktikal seperti subjek beladiri dan bersenjata," tutupnya tak mau repot, dan meninggalkan kelas tepat di saat bel istirahat berbunyi seolah kesal akan suatu hal yang tak satu pun di antara para murid yang tahu penyebabnya.

Glen membersihkan kerongkongannya dan menyahut pelan tanpa melepaskan pandangannya dari brush pen di tangan. "Setiap disiplin ilmu memerlukan pendalaman teori. Sekalipun itu ilmu praktikal."

Kepala Zeze mengayun cepat ke arahnya, kaget ucapannya direspons. "Well, itu masuk akal. A—aku pikir kau benar."

Murid-murid berhamburan keluar. Seperti biasa, pasangan sebangku di bagian pojok-belakang kelas masih membeku di bangku masing-masing, seakan bel tak pernah berbunyi.

Zeze merogoh saku roknya untuk mengeluarkan kacamata berbingkai hitam yang mengkilat baru, lalu meletakkannya di kolong meja Glen.

"Typhon 326," bisiknya.

Glen tidak merespons, hanya tangannya saja yang terulur, memungut kacamata itu dari kolong mejanya. Untuk semenit yang terasa seabad, ia hanya memutar kacamata dengan gagang terukir tulisan 'Typhon 326' di atas pahanya tanpa melakukan hal yang berarti.

Semenyedihkan itu mereka setiap saat. Bahkan saat ingin berinteraksi pun, Zeze harus merapalkan suara terpelannya dan memasang wajah senormal mungkin agar interaksi mereka tidak menarik perhatian.

"Kau tahu, menahan diri sangatlah menyulitkan," keluh Zeze, masih dengan suara lirihnya meski tidak ada siapapun.

Glen tidak menyahut. Kini kacamata pemberian Zeze telah terpasang di tempat seharusnya. Sungguh mengejutkan karena bingkainya begitu pas dan tidak membuat tulang hidungnya gatal.

"Jika tiba saatnya mereka mengetahui siapa diriku sebenarnya, akan sangat sulit untukku berbicara denganmu lagi, sekalipun untuk hanya sekadar berada di dekatmu," gerutu Zeze.

"Kalau begitu menjauhlah," balas Glen di balik batuknya.

Persis seperti dugaan. Seharusnya sejak awal aku diam saja. Zeze memutar bola matanya. Tepat di saat ia melakukan gerakan itu, sudut matanya tanpa sengaja menangkap sebuah brush pen hitam yang terbaring di lantai, dekat kaki kanannya.

Menunduk, tangan kanannya bergerak menghampiri brush pen itu. Setelah mendapatkannya, ia menegakkan punggung dan bersandar ke kursi.

Matanya menyipit saat mempelajari benda asing yang terjepit di antara telunjuk dan jempolnya. Mendadak segumpal emosi absurd, campuran antara bingung dan heran, menghantamnya hingga menumbuhkan sejumlah pertanyaan. Mengapa ia mengambilnya? Mengapa tiba-tiba ia merasa sangat ingin melihat brush pen itu?

Matanya terangkat, menerjang lurus ke depan, terlihat kosong. Linglung—satu-satunya emosi yang dapat mewakili tatapannya. Zeze merasa nyawanya seolah sudah tak lagi tersambung dengan raga. Tak ayal brush pen tersebut lolos dari sela jarinya dan menggelinding ke bawah kursi Glen.

Mata birunya mengikuti laju benda itu. Sejurus kemudian, ia tersentak, menoleh ke sana kemari dengan panik.

...sejak kapan?

Kursi di sebelahnya telah kosong.

Zeze kembali menyandar ke kursi, melempar kepala ke belakang. Tawa hambar mengisi rongga dadanya. Ia kena lagi!

Rasa frustasinya ia salurkan ke aktivitas mengacak-acak rambut, yang hanya akan kembali tertata dengan sendirinya seperti habis disisir. Ia berdiri, mengganti tawanya dengan senyuman. Namun siapa pun dapat melihat bahwa senyum itu bukanlah pertanda baik. Sebab senyum itu tak menyentuh matanya yang sayu tanpa tujuan pasti.

Getaran pada ponsel memulihkan ekspresi Zeze. Mengambil benda tipis itu dari saku rok, Zeze dan mendapati nama Juni di layar. Panggilan itu ia abaikan, karena ia sudah tahu apa yang gadis itu inginkan darinya. "Jam istirahat kita bertemu di kantin indoor lantai satu," begitu pesan Juni sebelum kelas di mulai.

Untuk melampiaskan kekesalan, Zeze menendang kaki kursi kosong itu. Meskipun pelan dan hampir tidak mengeluarkan tenaga, kursi itu terdorong dan menciptakan bunyi yang cukup berisik, sehingga membuat sejumlah murid yang baru kembali menoleh serentak ke arahnya.

Zeze mengabaikan mereka dan melenggang keluar kelas. Dalam perjalanannya ke kantin, Zeze masih saja larut dalam rasa kesal, jengkel, dan bingung. Namun itu justru membuatnya tampak lucu, bahkan Rhea sampai tak tahan dan berakhir menggodanya.

"Lihat adik kecil kita ini. Orang macam apa yang sudah membuatnya tidak senang, ya? Perlukah kakak ini memberinya pelajaran?" Rhea merangkul Zeze yang telah merosot duduk di sebelah kirinya sambil menyedot Thai tea chocolate caramel.

"Ada apa dengan wajahmu?"

Zeze menerima pertanyaan bernada mengejek dari Juni yang sedang menggulung spageti di hadapannya. Rambut hitam Juni yang kemarin ikal telah kembali lurus seperti sedia kala, pertanda bahwa efek obat salonnya telah memudar.

"Biar kutebak, apa dia laki-laki?" Nyengir, telunjuk usil Rhea menekan-nekan pipi Zeze.

Tanpa menjawab apa pun, Zeze mengusir lengan Rhea dari pundaknya. Kepalanya melunglai di atas tumpukan tangan.

Melihat tingkah aneh Zeze, kedua gadis itu lantas bertukar pandang. Mereka sama-sama mengangkat bahu dan memilih mengabaikannya, lanjut menikmati hidangan masing-masing.

"Malam ini pukul 8. Jangan terlambat, Ze," Juni mengingatkan, walau tahu Zeze takkan ambil pusing merespons.

"Keluarga earl itu?" tanya Rhea, menanggapi omongan Juni.

"Yup," Juni mengangguk.

"Tapi, apakah akan baik-baik saja jika hanya kalian berdua?" Rhea mengernyit cemas.

"Informasi yang dikumpulkan Kaló sudah cukup jelas, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka bukanlah keluarga yang dianugerahi pasukan pribadi oleh kerajaan. Beberapa bodyguard bukanlah masalah besar untuk kami. Kami juga sudah mengantongi izin dari Kai. Oh, kau sudah dengar berita panas belakangan ini?"

"Tentang tahanan yang kabur di Kota Saufrity?" tebak Rhea, "Akhirnya para ksatria itu punya hal lain untuk dikerjakan selain mengasuh kita."

"Kau benar. Mereka sudah terlalu terobsesi dengan kita," ucap Juni.

Mengasingkan diri dari percakapan, kepala Zeze terangkat dengan dagu yang masih menempel pada meja. Telunjuknya meniti tetesan air yang mengalir di luar gelas Thai tea.

Tangannya tentu basah, tidak aneh. Namun, mengapa kepalanya juga?

Juni dan Rhea sontak menghentikan makan mereka, kompak memandang seorang gadis berambut pirang yang menjulang angkuh di belakang Zeze.

Dengan santainya, gadis itu mengguyurkan segelas penuh orange juice ke puncak kepala teman mereka.

Cairan berwarna oranye itu membanjiri rambut platinumnya, mengaliri leher dan merembes ke baju. Balok es batu jatuh di puncak kepala dan menggelinding sampai ke depan hidung.

Mata Zeze terpejam, menyelami cairan yang membelai wajahnya dengan sensasi dingin. Ia dapat merasakan semua orang memandangnya. Ya, semua orang, kecuali dia. Hanya dengan memikirkannya sudah membuat Zeze sebal setengah mati.

Gadis itu tertawa bersama dayang-dayangnya. "Rasakan itu, B*itch." Kemudian ia beralih menantang Juni dan Rhea dengan tatapannya, menunggu bagaimana reaksi kedua pecundang itu.

Garpu Juni lolos dari jepitan jemarinya.

Bunyi gebrakan meja berulang kali menusuk telinga.

Mulut si Pirang itu menganga lebar. Bukan gebrakan meja itu penyebabnya, melaikan...

Junigra Mavros, dia... tertawa.

Begitu tak terkendali sampai menggebrak-gebrak meja!

Kaget yang dialami Si Pirang sontak saja menulari seisi kantin. Pasalnya, reaksi yang Juni berikan sungguh bertentangan dengan ekspektasi mereka.

Sama halnya dengan Juni, Rhea tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi bagian perutnya. Air matanya bahkan sudah menumpuk di pelupuk mata, menunggu untuk dijatuhkan dengan satu kedipan.

Apa mereka gila? Seseorang baru saja menyiram teman mereka dengan orange juice!

Juni memukul-mukul meja untuk meredakan tawa. "Ini adalah peristiwa bersejarah!" serunya takjub. Hanya orang bodoh yang tidak dapat melihat binar di sepasang mata hitamnya.

Wajah Juni berseri-seri saat ia berbicara kepada Si Pirang, "Kau terbaik! Ini pertama kalinya aku menyaksikan ada orang yang berani melakukan hal seperti itu kepadanya! Yang lain harus melihat ini!"

Rhea menyatakan persetujuannya melalui anggukan kepala dan senyuman di bibir.

"Hebat! Ini adalah peristiwa terhebat yang pernah kusaksikan! Luar biasa! Oh, Tuhan, terima kasih atas berkahnya!" Tawa Juni kembali menggelegar.

Mereka gila, pikir Si Pirang dengan dahi mengernyit, mulai menimbang apakah sebaiknya ia kabur saja.

Rhea bertepuk tangan, kemudian dipotretnya Zeze—yang masih terpejam—dari samping.

Tak jauh dari meja yang ditempati Juni, Rhea, dan Zeze, dua dari segerombolan siswa bereputasi buruk, tengah sibuk berusaha membendung tawa yang sudah tiba di ujung lidah. Melihat hal itu, seorang lelaki berambut pirang berhias topi merah yang menempati kepala meja, langsung mendelik penuh peringatan ke arah keduanya.

"Oh, ayolah, Kai! Kapan lagi kita menyaksikan Zeze mengalami kejadian langka seperti itu!" Protes salah satunya, yang memiliki banyak tindikan di telinga. Perangainya sangar. Rambutnya sehitam arang; berantakan dan panjang sampai membanjiri tengkuk.

"Adik kesayangan," goda yang lain. Penampilannya jauh lebih rapi dan berkelas, tipikal putra bangsawan kebanyakan.

Suara mereka tak lebih lirih dari bisikan. Tujuannya agar percakapan barusan hanya bisa didengar oleh mereka bertiga.

Lelaki pirang bertopi merah— "Kai"—memilih mengabaikan mereka, atensinya tersedot penuh oleh punggung Zeze yang sudah mulai membuat gerakan.

Tanpa membuka mata, Zeze menegakkan tubuh dan menyandar. Telinganya masih bisa menghimpun lengkingan tawa kedua gadis itu. Terlalu jelas untuk diabaikan.

"Pinjam," Juni menyambar ponsel Rhea dan memotret Zeze dari arah depan. Ditekannya tombol capture dengan membabi-buta, hingga mungkin telah terlahir puluhan foto Zeze di dalam galeri.

Rhea meledek, "Mimpi apa kau semalam? Ini benar-benar sebuah keajaiban." Sambil terkekeh, jemarinya yang lentik menyingkap helai poni basah yang menutupi mata Zeze.

Zeze membuka mata, bernapas stabil selama sepuluh detik, lalu mengulurkan tangan ke depan, meraih gelas Thai tea yang isinya bahkan baru ia minum tak lebih dari seteguk. Alih-alih diminum, ia justru memperhatikannya di depan wajah. Sorot matanya menilai, sangat cermat seolah di sana ada soal matematika yang menunggu untuk dipecahkan. "Suatu kesalahan besar, Nona."

Bisikan itu tiba di telinganya bagai belaian, si Pirang mengernyit tak suka. Sejurus kemudian, dia tersenyum licik. Semoga saja dia terpancing.

"Apa sudah kau kirim ke group chat?" Tanya Rhea memastikan.

Juni mengangguk dengan senyum lebar, sementara kedua jempolnya asyik menari di layar ponsel.

Zeze bangkit dengan gelas Thai tea di dalam genggaman. Melihat hal itu, seisi kantin lantas membuka mata dan telinga mereka lebar-lebar.

Zeze berbalik, menghadap si pelaku penyiraman. Dua pasang mata berwarna sama terhubung dalam permusuhan.

Si Pirang melipat tangan penuh gelangnya di dada, menatap Zeze angkuh. Zeze membalas tatapannya tanpa minat, seakan dia bukan apa-apa. Bukan siapa-siapa. Perbedaan tinggi di antara mereka memaksa si Pirang untuk sedikit mendongak agar matanya bisa mencapai kolam es beku di hadapannya. Zeze mulai membuka tutup minumannya, membuat si Pirang bertanya-tanya apakah dia akan melakukan hal yang sama terhadapnya.

Si Pirang tersenyum sinis, lantas melirik kawanannya yang berjumlah sekitar lima orang. Mereka terlihat sangat siap membereskan Zeze.

Di luar dugaan, Zeze menengadahkan kepala dan menenggak habis minuman itu. Aksi absurdnya berhasil mengalihkan perhatian mereka. Mencuri fokus mereka.

Mereka saling pandang didorong oleh satu pertanyaan: bukankah dia menginginkan pembalasan?

Dan, selagi kepala mereka diisi pertanyaan, wajah Si Pirang sedang diterpa oleh semburan air. Cukup lama sehingga dia harus membungkam kedua matanya, menunggu air itu berhenti menyerang.

Setelah memastikan bahwa tak ada lagi serangan, dia pun memberanikan diri membuka mata, mempelajari apa yang telah menimpanya. Hal pertama yang dilihat adalah Zeze yang sedang mengelap mulutnya sendiri menggunakan lengan jaket. Hal itu membuat semuanya menjadi jelas. Zeze menyemburnya!

"Sayang sekali. Padahal itu rasa terakhir." Zeze bergumam dengan nada menyesal yang pastinya dibuat-buat.

Tubuh si Pirang dan komplotannya menjadi sekeras patung. Masih begitu meski keriuhan telah merambat ke seantero kantin.

Pundak gadis itu ditepuk pelan oleh Zeze; dia tersentak dengan mulut pegap-pegap. Zeze menjilat bibir atasnya sendiri. Seduktif, licik, manipulatif. “Tapi, tidak masalah, aku yakin mereka masih memiliki rasa lain.”

Seringai Zeze terbit untuk pertama kalinya dibarengi kedipan sebelah mata, kemudian ia berlalu ke tepi kantin dan melempar gelas kosongnya ke tempat sampah terdekat tanpa perlu melihat, meninggalkan Si Pirang yang sudah kembali menjadi patung, dan misuh-misuh warga kantin.

"Di mana Zeze?" Tanya Juni, melihat ke sana ke mari. Karena terlalu asyik membalas pesan teman-temannya yang heboh di group chat, ia sampai melewatkan kejadian luar biasa tadi.

Rhea mengangkat bahu.

Juni berpaling ke patung hidup yang penampilannya telah berubah 180 derajat dari menit terakhir dia melihatnya. "Vela, kerja yang bagus," matanya mengedip penuh arti.

Patung bernama Vela itu mengerjapkan mata dengan mulut ternganga. Sekarang ia yakin bahwa orang sejenis mereka sepenuhnya gila.

Zeze melintasi meja keramat milik ketujuh "artis" Exousia, tanpa sengaja beradu pandang dengan mata hazel Kion. Namun, untuk pertama kalinya, Kion-lah yang membuang muka, lari ke buku di tangannya.

Zeze yang tidak mau ambil pusing memilih mengabaikannya.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Ps. Aku ngambil referensi aura dari definisi sebenarnya. Yup, teori yang aku jabarkan di atas itu benar dan bisa dijelaskan secara sains.

Terpopuler

Comments

elena

elena

yup. i like this chapter 😚😍😍😍😍😍😍😍😍💖💖💖💖👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍💛💛💛💛💙💙💙❤❤❤❤💚💚💚💖💖💖💖💖💖💖💖💗💗💗💘💝💝

2021-08-20

1

Erin Susanto

Erin Susanto

Typhon 326 tuh apa ka Lin ?

2020-06-27

5

Lullaby

Lullaby

sukurin 🤣 macem2 si sama Zeze

2020-04-20

2

lihat semua
Episodes
1 1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2 2. Started
3 3. Cracked Mask
4 4. Fiancé
5 5. Whisper
6 6. Academy
7 7. Empty Chair
8 8. Untitled
9 9. Goddess
10 10. Orange
11 11. Idiot
12 12. Red Rose
13 13. Smooth Criminal
14 14. New Toy
15 15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16 16. Punishment
17 17. Misner Space
18 18. Light
19 19. Deal
20 20. Cemetery
21 21. Rozeale Ankhatia
22 22. If It Was You
23 23. Old Friend
24 24. Falling
25 25. Imbalance
26 26. Struggle
27 27. The Healer
28 28. Reset
29 29. Fairytale
30 30. Forgotten
31 31. Debutante
32 32. Silly
33 33. Artemis
34 34. Partner In Crime
35 35. Nuts
36 36. Framed
37 37. Cola
38 38. Bored
39 39. Variable
40 40. Help!
41 41. Zero
42 42. Trick Or Treat?
43 43. The Game
44 44. Chapter Two
45 45. Continued
46 pengumuman: CAST
47 46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48 47. Lust
49 48. Home
50 49. Right Side
51 50. Riddle
52 51. Decode
53 52. Sweet Seventeen
54 53. Spring Cup
55 54. Mystery
56 55. Mr. Rious
57 56. Interrogation
58 57. Database
59 58. Dancing
60 59. Suspect
61 60. May, 1st
62 61. UNO
63 62. Damn
64 63. Wait For Me
65 64. Sacrifice
66 65. Bloody Rose
67 66. Raflesia
68 67. Lottery
69 68. Racing
70 69. Asanatha
71 70. Bury The Hatchet
72 71. Tree
73 72. The Winner
74 73. Healed
75 74. Reminisce
76 75. Andromeda
77 76. Grim
78 77. Farewell
79 78. Encounter
80 79. Sleep
81 80. Once Upon A Time
82 81. Prison
83 82. Open
84 83. Falsity
85 84. Second Meeting
86 85. Axiom
87 86. Helpless
88 87. Misfortune
89 88. Animus
90 CHAPTER BONUS [1-A]
91 CHAPTER BONUS [1-B]
92 CHAPTER BONUS [2-A]
93 CHAPTER BONUS [2-B]
94 CHAPTER BONUS [3-A]
95 CHAPTER BONUS [3-B]
96 CHAPTER BONUS [4-A]
97 CHAPTER BONUS [4-B]
98 89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99 90. Crestfallen
100 91. Agreement
101 92. Pizza Delivery (Part 1)
102 93. Pizza Delivery (Part 2)
103 94. Narrow (Part 1)
104 95. Narrow (Part 2)
105 96. Possessed
106 97. Sorrow (Part 1)
107 98. Sorrow (Part 2)
108 99. Jack O'Lantern
109 100. Beginning Of The End
110 101. Laxity
111 102. Savior
112 103. Hostage
113 104. Bad Idea
114 105. Underestimate
115 106. Memorials
116 107. Solving
117 108. Misunderstanding
118 109. Curiosity Killed The Cat
119 110. Agony
120 111. Distancing
121 112. Foolish
122 113. Fall To Pieces
123 114. Aphrodite
124 115. Loosing Grip
125 116. Insanity
126 117. Ruthless
127 118. Ignorance
128 119. Hypocrisy
129 120. Complicated
130 121. Dignity
131 122. Stupidity
132 123. Catacombs
133 124. Absurd
134 125. Backlash
135 126. Vanished
136 127. Break Free
137 128. Darkness In The Light
138 129. Ambush On All Sides
139 130. Mare's Nest
140 131. Tenet
141 132. Clandestine
142 133. Judas
143 134. Sinister
144 135. Desire
145 136. Ares
146 137. Embrace
147 138. Up In The Air
148 139. Prejudice
149 pengumuman: LIST TOKOH
150 140. Diverge
151 141. Noticed
152 142. Float Kiss
153 143. Liars
154 144. Reunion
155 145. The Answer
156 146. Liberated
157 147. Carnage
158 148. Vendetta
159 149. 1 Stone For 2 Birds
160 150. Better Place
161 151. Pleasure
162 152. Trust & Hope
163 153. Rest
164 154. Good & Bad News
165 155. Bald Cypress
166 156. Leave
167 157. Painful
168 158. Invitation
169 159. A Guest
170 160. Piece Of Art
171 161. Aware
172 162. Journey
173 163. Inland
174 164. Westafo Hall
175 pengumuman: BREAK
176 165. Madam Derba
177 166. Good Side
178 167. The Stage
179 168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180 169. Deception
181 170. Evaluate
182 171. Dissent
183 172. Gratuitous
184 173. Departure
185 174. Voyage
186 175. Almost
187 176. Anger
188 177. Scratches
189 178. Discover
190 179. Out of Control
191 180. Perforce
192 181. Her
193 182. Myth
194 183. Him
195 184. Bleeding
196 185. Perfidy
197 186. Take Me Out of This Town
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2
2. Started
3
3. Cracked Mask
4
4. Fiancé
5
5. Whisper
6
6. Academy
7
7. Empty Chair
8
8. Untitled
9
9. Goddess
10
10. Orange
11
11. Idiot
12
12. Red Rose
13
13. Smooth Criminal
14
14. New Toy
15
15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16
16. Punishment
17
17. Misner Space
18
18. Light
19
19. Deal
20
20. Cemetery
21
21. Rozeale Ankhatia
22
22. If It Was You
23
23. Old Friend
24
24. Falling
25
25. Imbalance
26
26. Struggle
27
27. The Healer
28
28. Reset
29
29. Fairytale
30
30. Forgotten
31
31. Debutante
32
32. Silly
33
33. Artemis
34
34. Partner In Crime
35
35. Nuts
36
36. Framed
37
37. Cola
38
38. Bored
39
39. Variable
40
40. Help!
41
41. Zero
42
42. Trick Or Treat?
43
43. The Game
44
44. Chapter Two
45
45. Continued
46
pengumuman: CAST
47
46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48
47. Lust
49
48. Home
50
49. Right Side
51
50. Riddle
52
51. Decode
53
52. Sweet Seventeen
54
53. Spring Cup
55
54. Mystery
56
55. Mr. Rious
57
56. Interrogation
58
57. Database
59
58. Dancing
60
59. Suspect
61
60. May, 1st
62
61. UNO
63
62. Damn
64
63. Wait For Me
65
64. Sacrifice
66
65. Bloody Rose
67
66. Raflesia
68
67. Lottery
69
68. Racing
70
69. Asanatha
71
70. Bury The Hatchet
72
71. Tree
73
72. The Winner
74
73. Healed
75
74. Reminisce
76
75. Andromeda
77
76. Grim
78
77. Farewell
79
78. Encounter
80
79. Sleep
81
80. Once Upon A Time
82
81. Prison
83
82. Open
84
83. Falsity
85
84. Second Meeting
86
85. Axiom
87
86. Helpless
88
87. Misfortune
89
88. Animus
90
CHAPTER BONUS [1-A]
91
CHAPTER BONUS [1-B]
92
CHAPTER BONUS [2-A]
93
CHAPTER BONUS [2-B]
94
CHAPTER BONUS [3-A]
95
CHAPTER BONUS [3-B]
96
CHAPTER BONUS [4-A]
97
CHAPTER BONUS [4-B]
98
89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99
90. Crestfallen
100
91. Agreement
101
92. Pizza Delivery (Part 1)
102
93. Pizza Delivery (Part 2)
103
94. Narrow (Part 1)
104
95. Narrow (Part 2)
105
96. Possessed
106
97. Sorrow (Part 1)
107
98. Sorrow (Part 2)
108
99. Jack O'Lantern
109
100. Beginning Of The End
110
101. Laxity
111
102. Savior
112
103. Hostage
113
104. Bad Idea
114
105. Underestimate
115
106. Memorials
116
107. Solving
117
108. Misunderstanding
118
109. Curiosity Killed The Cat
119
110. Agony
120
111. Distancing
121
112. Foolish
122
113. Fall To Pieces
123
114. Aphrodite
124
115. Loosing Grip
125
116. Insanity
126
117. Ruthless
127
118. Ignorance
128
119. Hypocrisy
129
120. Complicated
130
121. Dignity
131
122. Stupidity
132
123. Catacombs
133
124. Absurd
134
125. Backlash
135
126. Vanished
136
127. Break Free
137
128. Darkness In The Light
138
129. Ambush On All Sides
139
130. Mare's Nest
140
131. Tenet
141
132. Clandestine
142
133. Judas
143
134. Sinister
144
135. Desire
145
136. Ares
146
137. Embrace
147
138. Up In The Air
148
139. Prejudice
149
pengumuman: LIST TOKOH
150
140. Diverge
151
141. Noticed
152
142. Float Kiss
153
143. Liars
154
144. Reunion
155
145. The Answer
156
146. Liberated
157
147. Carnage
158
148. Vendetta
159
149. 1 Stone For 2 Birds
160
150. Better Place
161
151. Pleasure
162
152. Trust & Hope
163
153. Rest
164
154. Good & Bad News
165
155. Bald Cypress
166
156. Leave
167
157. Painful
168
158. Invitation
169
159. A Guest
170
160. Piece Of Art
171
161. Aware
172
162. Journey
173
163. Inland
174
164. Westafo Hall
175
pengumuman: BREAK
176
165. Madam Derba
177
166. Good Side
178
167. The Stage
179
168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180
169. Deception
181
170. Evaluate
182
171. Dissent
183
172. Gratuitous
184
173. Departure
185
174. Voyage
186
175. Almost
187
176. Anger
188
177. Scratches
189
178. Discover
190
179. Out of Control
191
180. Perforce
192
181. Her
193
182. Myth
194
183. Him
195
184. Bleeding
196
185. Perfidy
197
186. Take Me Out of This Town

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!