"Setiap orang memiliki aura di dalam diri mereka."
Mr. Kardiá bangun dari kursi, menyeret kaki berhak tingginya ke depan kelas, menghadap seisi ruangan.
"Bagaimana kita mendefinisikan 'aura' tersebut, Mr. Vrenof?" Mata sayu Mrs. Kardiá melesat ke murid yang duduk di pojok kirinya, sesaat setelah murid tersebut selesai berbisik-bisik dengan teman sebangkunya.
Siswa itu berdeham sebelum menjawab, "Aura adalah pancaran energi yang dihasilkan oleh seseorang, benda, maupun tempat tertentu. Berwujud radiasi berwarna yang biasanya mengelilingi penghasilnya."
Mrs. Kardiá mengangguk, senyum tipis menari di ujung bibirnya, "Well, ya, singkatnya seperti itu. Pada kesempatan kali ini kita akan mengulang sedikit materi bab Ilmu Sinar Tubuh yang pernah kalian pelajari pada kelas Tahun Pertama karena materi berikutnya akan sedikit menyerempet ke sana. Sekarang, Miss Yipero, tolong buka halaman 13 dan bacakan isinya sebagai pengingat untuk teman-temanmu."
Bahu siswi berambut cokelat yang sedang bersenandung kecil itu agak melompat. Dia mengangguk dan segera fokus ke e-book, mengetik nomor halaman di pencarian. "Secara teori, aura merupakan suatu aliran listrik yang hidup secara psikis—medan magnet elektromagnetik yang mengelilingi seluruh tubuh makhluk hidup dan bahkan benda mati. Teori ini diambil dari penelitian sejumlah ahli. Berikut beberapanya: W.E Butler, seorang sarjana spesialis ilmu sinar tubuh, dalam penelitiannya yang menggunakan pendekatan fisika, telah memberikan satu batasan tentang definisi aura. Beliau menjelaskan bahwa aura adalah inti sari yang tidak kasat mata, suatu aliran yang dihasilkan oleh tubuh makhluk hidup.
"Ilmuwan lainnya, Willem Hogendoorn, menyatakan bahwa aura merupakan bentuk sinar yang tidak hanya mengelilingi tubuh manusia, hewan, dan tanaman, tetapi juga ditemukan pada materi benda-benda mati.
"Seorang pakar spiritual, Audrey Hope, menambahkan bahwa aura adalah getaran dimana kita berada, seperti oktaf dan frekuensi suara maupun not musik. Selain itu, aura seseorang sangat dipengaruhi oleh tingkatan spiritual orang tersebut," tutupnya.
“Terima kasih,” Mrs. Kardiá berjalan ke belakang kelas dengan tangan bertaut di belakang pinggang, "Di abad ke-22 ini, umat manusia telah mengalami kemajuan pesat di banyak bidang keilmuan. Kedokteran, teknologi, psikobiologi... Kini kita memiliki keajaiban untuk mewujudkan hal-hal yang sebelumnya dianggap mustahil oleh nenek moyang kita. Telekinesis adalah salah satunya." Wanita itu menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap papan tulis, membelakangi seisi kelas.
"Telekinesis adalah konsep utama dan yang paling fundamental untuk subjek yang sedang kita bahas sekarang. Saat seseorang telah berhasil mencapai tingkatan konsentrasi spiritual tertingginya, ia memiliki kemungkinan besar untuk menyatukan dan mengikat auranya dengan aura suatu objek. Dan, tebak apa yang bakal terjadi selanjutnya?"
"Objek tersebut menjadi bagian dari dirinya," ucap seseorang.
“Terimakasih, Mr. Tyga.” Mrs. Kardiá membalik badan dan saat kembali berjalan ke belakang kelas, ia berkata, “Inilah ‘kekuatan pikiran’ itu. Selain dengan benda mati, aura manusia juga bisa diikat dengan aura milik manusia lainnya. Perumpaan paling sederhana: kalian pasti memiliki seorang—atau sejumlah—teman yang sudah lama kalian kenal dan sering berinteraksi dengan kalian. Tahukah kalian bahwa dalam kacamata orang lain, ada setidaknya satu aspek yang membuat kalian dan sahabat kalian memiliki kemiripan terhadap satu sama lain. Entah itu dari tingkah laku, gaya bicara, gaya berpakaian, dan sebagainya. Keajaiban itu terjadi karena adanya keterikatan yang kuat antara jiwa yang satu dengan yang lain. Istilah populernya 'kemistri'.
"Pernah merasa minder atau terintimidasi oleh kehadiran seseorang? Aura juga berperan penting dalam membentuk persepsi itu. Intensitas aura orang tersebut menekan pancaran aura kita sendiri, mengakibatkan jatuhnya mental, salah satu faktor timbulnya ketidakpercayaandiri. Itu artinya, selain dapat disatukan, aura juga memiliki sifat saling tolak menolak."
Mrs. Kardiá menghentikan langkahnya, "Saat sedang marah, entah bagaimana udara di sekitar kita mendadak menjadi terasa panas... Tak jarang sampai mengakibatkan sesak. Itu terjadi karena aura kita tanpa sadar telah menyatu dengan lingkungan. Sekarang, apakah kalian tahu bahwa energi itu juga bertanggung jawab dalam kinerja sistem biologis makhluk hidup? Dari sejak ditemukannya kemampuan autotomi pada cicak, ilmuan terus berusaha mencari cara agar suatu saat pengobatan masa depan dapat menirunya untuk kepentingan umat manusia. Bukankah akan sangat keren jika manusia bisa meregenerasi anggota tubuhnya yang telah terpotong selayaknya cicak terhadap buntutnya? Atau mungkin setidaknya... mengendalikan trombosit supaya bekerja lebih cepat dalam membekukan darah. Ilmuan dulu punya bayangan liar, bagaimana jika umat manusia mampu mengeksploitasi energi itu secara sadar, sesuai keinginan mereka?”
Tidak ada yang menjawab pertanyaan retorik itu.
Mrs. Kardiá melanjutkan, "Pada kelas Tahun Pertama, kalian sudah kenyang diajarkan teknik-teknik fundamental dalam mengontrol energi spiritual untuk kepentingan beladiri dan penggunaan senjata, yang paling utama adalah mengerahkan sejumlah energi ke suatu titik di tubuh agar titik itu lebih kuat dari bagian tubuh yang lain. Kalian sudah cukup familier dengan energi ini; salah satu penemuan terbesar dalam sejarah umat manusia, tanda bahwa kita adalah ras yang tidak memiliki batasan dalam berevolusi. Potensi terbesar kita semua—"
"Dýnami," Zeze berbisik di balik jemari lentik yang menutupi bibirnya.
Partisipasinya sukses mengundang perhatian Glen sekaligus lirikan matanya.
"Ini menyedihkan. Kalian masih berotasi di hal ini? Aku bahkan sudah ke tahap penyocokan Simathyst di umur 10 tahun."
Glen menunduk ke sebuah brush pen yang berputar di antara jemarinya saat tatapan Zeze melesat ke arahnya tanpa pemberitahuan.
"Dan aku tahu kau juga."
Mrs. Kardiá mengakhiri jalan mondar-mandirnya dengan kembali ke meja guru, "Di kelas Tahun Kedua ini, kalian akan dibina lebih mendalam menyangkut dýnami secara teoritis." Wanita muda berkuncir kuda itu menatap penghuni kelas di hadapannya lekat-lekat, berdiri condong ke depan dengan kedua tangan menekan permukaan meja, "Aku tahu banyak di antara kalian yang menganggap subjek ini merepotkan dan hanya membuang-buang waktu. Tapi kalian memerlukannya agar kalian bisa menerapkannya lebih baik di mata pelajaran praktikal seperti subjek beladiri dan bersenjata," tutupnya tak mau repot, dan meninggalkan kelas tepat di saat bel istirahat berbunyi seolah kesal akan suatu hal yang tak satu pun di antara para murid yang tahu penyebabnya.
Glen membersihkan kerongkongannya dan menyahut pelan tanpa melepaskan pandangannya dari brush pen di tangan. "Setiap disiplin ilmu memerlukan pendalaman teori. Sekalipun itu ilmu praktikal."
Kepala Zeze mengayun cepat ke arahnya, kaget ucapannya direspons. "Well, itu masuk akal. A—aku pikir kau benar."
Murid-murid berhamburan keluar. Seperti biasa, pasangan sebangku di bagian pojok-belakang kelas masih membeku di bangku masing-masing, seakan bel tak pernah berbunyi.
Zeze merogoh saku roknya untuk mengeluarkan kacamata berbingkai hitam yang mengkilat baru, lalu meletakkannya di kolong meja Glen.
"Typhon 326," bisiknya.
Glen tidak merespons, hanya tangannya saja yang terulur, memungut kacamata itu dari kolong mejanya. Untuk semenit yang terasa seabad, ia hanya memutar kacamata dengan gagang terukir tulisan 'Typhon 326' di atas pahanya tanpa melakukan hal yang berarti.
Semenyedihkan itu mereka setiap saat. Bahkan saat ingin berinteraksi pun, Zeze harus merapalkan suara terpelannya dan memasang wajah senormal mungkin agar interaksi mereka tidak menarik perhatian.
"Kau tahu, menahan diri sangatlah menyulitkan," keluh Zeze, masih dengan suara lirihnya meski tidak ada siapapun.
Glen tidak menyahut. Kini kacamata pemberian Zeze telah terpasang di tempat seharusnya. Sungguh mengejutkan karena bingkainya begitu pas dan tidak membuat tulang hidungnya gatal.
"Jika tiba saatnya mereka mengetahui siapa diriku sebenarnya, akan sangat sulit untukku berbicara denganmu lagi, sekalipun untuk hanya sekadar berada di dekatmu," gerutu Zeze.
"Kalau begitu menjauhlah," balas Glen di balik batuknya.
Persis seperti dugaan. Seharusnya sejak awal aku diam saja. Zeze memutar bola matanya. Tepat di saat ia melakukan gerakan itu, sudut matanya tanpa sengaja menangkap sebuah brush pen hitam yang terbaring di lantai, dekat kaki kanannya.
Menunduk, tangan kanannya bergerak menghampiri brush pen itu. Setelah mendapatkannya, ia menegakkan punggung dan bersandar ke kursi.
Matanya menyipit saat mempelajari benda asing yang terjepit di antara telunjuk dan jempolnya. Mendadak segumpal emosi absurd, campuran antara bingung dan heran, menghantamnya hingga menumbuhkan sejumlah pertanyaan. Mengapa ia mengambilnya? Mengapa tiba-tiba ia merasa sangat ingin melihat brush pen itu?
Matanya terangkat, menerjang lurus ke depan, terlihat kosong. Linglung—satu-satunya emosi yang dapat mewakili tatapannya. Zeze merasa nyawanya seolah sudah tak lagi tersambung dengan raga. Tak ayal brush pen tersebut lolos dari sela jarinya dan menggelinding ke bawah kursi Glen.
Mata birunya mengikuti laju benda itu. Sejurus kemudian, ia tersentak, menoleh ke sana kemari dengan panik.
...sejak kapan?
Kursi di sebelahnya telah kosong.
Zeze kembali menyandar ke kursi, melempar kepala ke belakang. Tawa hambar mengisi rongga dadanya. Ia kena lagi!
Rasa frustasinya ia salurkan ke aktivitas mengacak-acak rambut, yang hanya akan kembali tertata dengan sendirinya seperti habis disisir. Ia berdiri, mengganti tawanya dengan senyuman. Namun siapa pun dapat melihat bahwa senyum itu bukanlah pertanda baik. Sebab senyum itu tak menyentuh matanya yang sayu tanpa tujuan pasti.
Getaran pada ponsel memulihkan ekspresi Zeze. Mengambil benda tipis itu dari saku rok, Zeze dan mendapati nama Juni di layar. Panggilan itu ia abaikan, karena ia sudah tahu apa yang gadis itu inginkan darinya. "Jam istirahat kita bertemu di kantin indoor lantai satu," begitu pesan Juni sebelum kelas di mulai.
Untuk melampiaskan kekesalan, Zeze menendang kaki kursi kosong itu. Meskipun pelan dan hampir tidak mengeluarkan tenaga, kursi itu terdorong dan menciptakan bunyi yang cukup berisik, sehingga membuat sejumlah murid yang baru kembali menoleh serentak ke arahnya.
Zeze mengabaikan mereka dan melenggang keluar kelas. Dalam perjalanannya ke kantin, Zeze masih saja larut dalam rasa kesal, jengkel, dan bingung. Namun itu justru membuatnya tampak lucu, bahkan Rhea sampai tak tahan dan berakhir menggodanya.
"Lihat adik kecil kita ini. Orang macam apa yang sudah membuatnya tidak senang, ya? Perlukah kakak ini memberinya pelajaran?" Rhea merangkul Zeze yang telah merosot duduk di sebelah kirinya sambil menyedot Thai tea chocolate caramel.
"Ada apa dengan wajahmu?"
Zeze menerima pertanyaan bernada mengejek dari Juni yang sedang menggulung spageti di hadapannya. Rambut hitam Juni yang kemarin ikal telah kembali lurus seperti sedia kala, pertanda bahwa efek obat salonnya telah memudar.
"Biar kutebak, apa dia laki-laki?" Nyengir, telunjuk usil Rhea menekan-nekan pipi Zeze.
Tanpa menjawab apa pun, Zeze mengusir lengan Rhea dari pundaknya. Kepalanya melunglai di atas tumpukan tangan.
Melihat tingkah aneh Zeze, kedua gadis itu lantas bertukar pandang. Mereka sama-sama mengangkat bahu dan memilih mengabaikannya, lanjut menikmati hidangan masing-masing.
"Malam ini pukul 8. Jangan terlambat, Ze," Juni mengingatkan, walau tahu Zeze takkan ambil pusing merespons.
"Keluarga earl itu?" tanya Rhea, menanggapi omongan Juni.
"Yup," Juni mengangguk.
"Tapi, apakah akan baik-baik saja jika hanya kalian berdua?" Rhea mengernyit cemas.
"Informasi yang dikumpulkan Kaló sudah cukup jelas, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka bukanlah keluarga yang dianugerahi pasukan pribadi oleh kerajaan. Beberapa bodyguard bukanlah masalah besar untuk kami. Kami juga sudah mengantongi izin dari Kai. Oh, kau sudah dengar berita panas belakangan ini?"
"Tentang tahanan yang kabur di Kota Saufrity?" tebak Rhea, "Akhirnya para ksatria itu punya hal lain untuk dikerjakan selain mengasuh kita."
"Kau benar. Mereka sudah terlalu terobsesi dengan kita," ucap Juni.
Mengasingkan diri dari percakapan, kepala Zeze terangkat dengan dagu yang masih menempel pada meja. Telunjuknya meniti tetesan air yang mengalir di luar gelas Thai tea.
Tangannya tentu basah, tidak aneh. Namun, mengapa kepalanya juga?
Juni dan Rhea sontak menghentikan makan mereka, kompak memandang seorang gadis berambut pirang yang menjulang angkuh di belakang Zeze.
Dengan santainya, gadis itu mengguyurkan segelas penuh orange juice ke puncak kepala teman mereka.
Cairan berwarna oranye itu membanjiri rambut platinumnya, mengaliri leher dan merembes ke baju. Balok es batu jatuh di puncak kepala dan menggelinding sampai ke depan hidung.
Mata Zeze terpejam, menyelami cairan yang membelai wajahnya dengan sensasi dingin. Ia dapat merasakan semua orang memandangnya. Ya, semua orang, kecuali dia. Hanya dengan memikirkannya sudah membuat Zeze sebal setengah mati.
Gadis itu tertawa bersama dayang-dayangnya. "Rasakan itu, B*itch." Kemudian ia beralih menantang Juni dan Rhea dengan tatapannya, menunggu bagaimana reaksi kedua pecundang itu.
Garpu Juni lolos dari jepitan jemarinya.
Bunyi gebrakan meja berulang kali menusuk telinga.
Mulut si Pirang itu menganga lebar. Bukan gebrakan meja itu penyebabnya, melaikan...
Junigra Mavros, dia... tertawa.
Begitu tak terkendali sampai menggebrak-gebrak meja!
Kaget yang dialami Si Pirang sontak saja menulari seisi kantin. Pasalnya, reaksi yang Juni berikan sungguh bertentangan dengan ekspektasi mereka.
Sama halnya dengan Juni, Rhea tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi bagian perutnya. Air matanya bahkan sudah menumpuk di pelupuk mata, menunggu untuk dijatuhkan dengan satu kedipan.
Apa mereka gila? Seseorang baru saja menyiram teman mereka dengan orange juice!
Juni memukul-mukul meja untuk meredakan tawa. "Ini adalah peristiwa bersejarah!" serunya takjub. Hanya orang bodoh yang tidak dapat melihat binar di sepasang mata hitamnya.
Wajah Juni berseri-seri saat ia berbicara kepada Si Pirang, "Kau terbaik! Ini pertama kalinya aku menyaksikan ada orang yang berani melakukan hal seperti itu kepadanya! Yang lain harus melihat ini!"
Rhea menyatakan persetujuannya melalui anggukan kepala dan senyuman di bibir.
"Hebat! Ini adalah peristiwa terhebat yang pernah kusaksikan! Luar biasa! Oh, Tuhan, terima kasih atas berkahnya!" Tawa Juni kembali menggelegar.
Mereka gila, pikir Si Pirang dengan dahi mengernyit, mulai menimbang apakah sebaiknya ia kabur saja.
Rhea bertepuk tangan, kemudian dipotretnya Zeze—yang masih terpejam—dari samping.
Tak jauh dari meja yang ditempati Juni, Rhea, dan Zeze, dua dari segerombolan siswa bereputasi buruk, tengah sibuk berusaha membendung tawa yang sudah tiba di ujung lidah. Melihat hal itu, seorang lelaki berambut pirang berhias topi merah yang menempati kepala meja, langsung mendelik penuh peringatan ke arah keduanya.
"Oh, ayolah, Kai! Kapan lagi kita menyaksikan Zeze mengalami kejadian langka seperti itu!" Protes salah satunya, yang memiliki banyak tindikan di telinga. Perangainya sangar. Rambutnya sehitam arang; berantakan dan panjang sampai membanjiri tengkuk.
"Adik kesayangan," goda yang lain. Penampilannya jauh lebih rapi dan berkelas, tipikal putra bangsawan kebanyakan.
Suara mereka tak lebih lirih dari bisikan. Tujuannya agar percakapan barusan hanya bisa didengar oleh mereka bertiga.
Lelaki pirang bertopi merah— "Kai"—memilih mengabaikan mereka, atensinya tersedot penuh oleh punggung Zeze yang sudah mulai membuat gerakan.
Tanpa membuka mata, Zeze menegakkan tubuh dan menyandar. Telinganya masih bisa menghimpun lengkingan tawa kedua gadis itu. Terlalu jelas untuk diabaikan.
"Pinjam," Juni menyambar ponsel Rhea dan memotret Zeze dari arah depan. Ditekannya tombol capture dengan membabi-buta, hingga mungkin telah terlahir puluhan foto Zeze di dalam galeri.
Rhea meledek, "Mimpi apa kau semalam? Ini benar-benar sebuah keajaiban." Sambil terkekeh, jemarinya yang lentik menyingkap helai poni basah yang menutupi mata Zeze.
Zeze membuka mata, bernapas stabil selama sepuluh detik, lalu mengulurkan tangan ke depan, meraih gelas Thai tea yang isinya bahkan baru ia minum tak lebih dari seteguk. Alih-alih diminum, ia justru memperhatikannya di depan wajah. Sorot matanya menilai, sangat cermat seolah di sana ada soal matematika yang menunggu untuk dipecahkan. "Suatu kesalahan besar, Nona."
Bisikan itu tiba di telinganya bagai belaian, si Pirang mengernyit tak suka. Sejurus kemudian, dia tersenyum licik. Semoga saja dia terpancing.
"Apa sudah kau kirim ke group chat?" Tanya Rhea memastikan.
Juni mengangguk dengan senyum lebar, sementara kedua jempolnya asyik menari di layar ponsel.
Zeze bangkit dengan gelas Thai tea di dalam genggaman. Melihat hal itu, seisi kantin lantas membuka mata dan telinga mereka lebar-lebar.
Zeze berbalik, menghadap si pelaku penyiraman. Dua pasang mata berwarna sama terhubung dalam permusuhan.
Si Pirang melipat tangan penuh gelangnya di dada, menatap Zeze angkuh. Zeze membalas tatapannya tanpa minat, seakan dia bukan apa-apa. Bukan siapa-siapa. Perbedaan tinggi di antara mereka memaksa si Pirang untuk sedikit mendongak agar matanya bisa mencapai kolam es beku di hadapannya. Zeze mulai membuka tutup minumannya, membuat si Pirang bertanya-tanya apakah dia akan melakukan hal yang sama terhadapnya.
Si Pirang tersenyum sinis, lantas melirik kawanannya yang berjumlah sekitar lima orang. Mereka terlihat sangat siap membereskan Zeze.
Di luar dugaan, Zeze menengadahkan kepala dan menenggak habis minuman itu. Aksi absurdnya berhasil mengalihkan perhatian mereka. Mencuri fokus mereka.
Mereka saling pandang didorong oleh satu pertanyaan: bukankah dia menginginkan pembalasan?
Dan, selagi kepala mereka diisi pertanyaan, wajah Si Pirang sedang diterpa oleh semburan air. Cukup lama sehingga dia harus membungkam kedua matanya, menunggu air itu berhenti menyerang.
Setelah memastikan bahwa tak ada lagi serangan, dia pun memberanikan diri membuka mata, mempelajari apa yang telah menimpanya. Hal pertama yang dilihat adalah Zeze yang sedang mengelap mulutnya sendiri menggunakan lengan jaket. Hal itu membuat semuanya menjadi jelas. Zeze menyemburnya!
"Sayang sekali. Padahal itu rasa terakhir." Zeze bergumam dengan nada menyesal yang pastinya dibuat-buat.
Tubuh si Pirang dan komplotannya menjadi sekeras patung. Masih begitu meski keriuhan telah merambat ke seantero kantin.
Pundak gadis itu ditepuk pelan oleh Zeze; dia tersentak dengan mulut pegap-pegap. Zeze menjilat bibir atasnya sendiri. Seduktif, licik, manipulatif. “Tapi, tidak masalah, aku yakin mereka masih memiliki rasa lain.”
Seringai Zeze terbit untuk pertama kalinya dibarengi kedipan sebelah mata, kemudian ia berlalu ke tepi kantin dan melempar gelas kosongnya ke tempat sampah terdekat tanpa perlu melihat, meninggalkan Si Pirang yang sudah kembali menjadi patung, dan misuh-misuh warga kantin.
"Di mana Zeze?" Tanya Juni, melihat ke sana ke mari. Karena terlalu asyik membalas pesan teman-temannya yang heboh di group chat, ia sampai melewatkan kejadian luar biasa tadi.
Rhea mengangkat bahu.
Juni berpaling ke patung hidup yang penampilannya telah berubah 180 derajat dari menit terakhir dia melihatnya. "Vela, kerja yang bagus," matanya mengedip penuh arti.
Patung bernama Vela itu mengerjapkan mata dengan mulut ternganga. Sekarang ia yakin bahwa orang sejenis mereka sepenuhnya gila.
Zeze melintasi meja keramat milik ketujuh "artis" Exousia, tanpa sengaja beradu pandang dengan mata hazel Kion. Namun, untuk pertama kalinya, Kion-lah yang membuang muka, lari ke buku di tangannya.
Zeze yang tidak mau ambil pusing memilih mengabaikannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ps. Aku ngambil referensi aura dari definisi sebenarnya. Yup, teori yang aku jabarkan di atas itu benar dan bisa dijelaskan secara sains.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
elena
yup. i like this chapter 😚😍😍😍😍😍😍😍😍💖💖💖💖👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍💛💛💛💛💙💙💙❤❤❤❤💚💚💚💖💖💖💖💖💖💖💖💗💗💗💘💝💝
2021-08-20
1
Erin Susanto
Typhon 326 tuh apa ka Lin ?
2020-06-27
5
Lullaby
sukurin 🤣 macem2 si sama Zeze
2020-04-20
2