13. Smooth Criminal

"Jangan."

Seorang gadis kecil terisak di atas lantai yang basah. Dua kepang pirang yang terjatuh di punggungnya bergoyang ketika kepalanya menggeleng.

"Kumohon, jangan," sekali lagi dia meminta, memohon. Bila dia tidak berpegangan pada tepi meja di belakangnya, kemungkinan besar dia telah terpeleset dan jatuh. Gelap membatasi garis pandangnya. "Jangan sakiti ibuku."

"Kemarilah, Angsa Cantik." Sebuah suara bertiup dari kegelapan.

Gadis kecil itu menolak dengan gelengan kepala yang kuat.

"Kenapa? Bukankah dia ibumu? Bukankah anak angsa mengekori induknya? Kemarilah dan susul dia."

"Aku tidak ingin pergi ke mana pun, cukup kembalikan dia padaku!" Gadis kecil itu berteriak histeris, satu tangan menjulur ke depan, meraih kehampaan dengan putus asa.

Pemilik suara itu melangkah maju, membebaskan wujudnya dari bayang-bayang. Tangan kanannya terulur ke belakang, tampak tengah menyeret tubuh seseorang dengan cengkeraman longgar di bagian leher. Tubuh itu terseok-seok di atas lantai yang basah.

"Munafik," cibir sosok itu. Visual mengerikan yang dipancarkan topengnya mendorong mundur si Gadis Kecil sehingga meja di belakangnya ikut terdorong.

"Jangan sakiti Ibu, lepaskan dia, kumohon," tangis yang ditahannya pecah seketika.

"Ssttt," Sosok itu menaruh telunjuk tangan yang bebas di depan topeng, "Dia sudah pergi. Jangan berisik."

Gadis kecil itu sesenggukan, berusaha mati-matian agar tak bersuara.

"Dan jangan melangkah mundur, kau akan jatuh."

Gadis kecil itu malah melakukan hal yang sebaliknya, lebih agresif. Bunyi cipratan air terdengar ketika bokongnya menjumpai lantai.

"Kau mengotori baju cantikmu," sesal si Perempuan Bertopeng.

Gadis kecil itu mengangkat tangannya yang basah, mengeceknya di depan wajah dan melihat air merah menodai kulit.

"Ke—kembalikan ibuku, aku mohon padamu," Ia kembali terisak, masih belum bisa menerima kenyataan pahit.

"Aku sudah memberitahumu, dia sudah pergi. Bagaimana caranya aku mengembalikan mereka yang sudah meninggalkan?" Sosok bertopeng itu mendesah tak berdaya, "Manusia adalah makhluk yang malang. Kau setuju, bukan? Karena itulah aku memilih menjadi dewa."

Gadis kecil itu semakin mengkerut. Ia memeluk lututnya sendiri, menggigil, tak peduli lagi dengan air merah berbau anyir yang semakin membasahinya.

"Namamu."

Gadis kecil itu mendongak.

"Katakan namamu."

"Lilith," keraguan menyelimuti jawabannya.

Sosok bertopeng itu mengangguk, "Lilith." Topeng itu ia lepas. Sosok malaikat tersembunyi di balik iblis. Matanya sepekat rambutnya; mengalahkan pekatnya malam. "Lilith, aku Juni," bisiknya.

Lilith masih bisu membeku di tempatnya meringkuk.

"Apakah kau tahu, Lilith, gara-gara ibumu, sekitar dua ribu nyawa telah terbuang sia-sia."

Lilith tersentak. Apa yang dibicarakannya? Sepengetahuannya, ibunya adalah wanita rumahan dengan tempat paling jauh yang biasa didatanginya adalah mall. Ibunya tidak pernah melakukan hal apa pun yang bisa membahayakan nyawa orang lain! Itu tidak mungkin!

"Apa kau sudah mendengar berita gempa bumi di wilayah utara dua minggu lalu?" Juni berjalan mendekati Lilith hingga ujung sepatunya bertemu dengan jari-jari kaki Lilith.

"Pada waktu itu hingga saat ini, banyak donatur yang bergerak menyumbangkan sebagian uang mereka melalui perantara yang dikepalai ibumu," Juni mundur selangkah dan berjongkok di hadapan Lilith, matanya menembus mata Lilith.

"Mulut rakus ibumu menelan semua uang itu. Luar biasa, bukan?" Suara Juni mengandung kekaguman yang terasa nyata.

"Para korban tewas akibat penyakit dan kelaparan, namun media menyatakan bahwa mereka adalah korban jiwa hilang yang baru ditemukan. Sangat disayangkan."

Juni melepaskan tubuh yang semula diseretnya. Lilith tidak berani untuk hanya sekedar menengok dan memeriksa rupa orang itu.

"Aku sangat ingin menanyainya sekarang. 'Madam, bagaimana rasanya mati karena ulah orang lain?' Tapi sayangnya dia tidak bisa mendengar apalagi menjawab."

Juni bangkit dan bertanya pelan, "Ibumu telah pergi, kau yakin ingin melewatkan satu-satunya kesempatan untuk bersamanya?"

Lilith melihat ke atas. Kegelapan di mata itu mengirimkan ketenangan ke matanya, dan dingin ke tulang punggungnya. Seakan ia selalu melihat dunia dengan mata itu, dengan cara seperti itu.

"Apakah aku juga bersalah? Jika aku tidak ingin bersamanya, apa yang akan terjadi padaku?" Tanya Lilith, dengan susah payah menahan getaran dalam suaranya.

Muncul keheningan sesaat sebelum Juni menjawab pertanyaan itu dengan nada dan ekspresi datar, "Kau tidak bersalah, dan kau akan baik-baik saja."

"Pembohong!" Sergah Lilith. Entah dari mana keberanian itu berasal. Ia hanya tidak tahan jika ada orang yang kedapatan tidak jujur kepadanya.

Juni mengangkat sebelah alis, menunggu gadis kecil yang sedang terengah-engah menahan ledakan di dalamnya itu untuk melanjutkan.

"Kalau apa yang kau katakan itu benar, kau tidak akan mungkin menunjukkan wajahmu kepadaku! Kau sudah berencana membungkam mulutku dengan kematian, karena itulah kau menunjukkannya padaku!"

Anak pintar. Cerdas dan cepat tanggap. Anak sepantarannya pasti sudah menelan omong kosong itu mentah-mentah.

Juni tersenyum sungguhan, "Kau pasti bisa menjadi orang hebat suatu saat nanti."

"Aku paling benci pembohong." Gadis kecil itu membuang muka, tak mengindahkan pujiannya.

Masih tersenyum, Juni mengeluarkan sebatang pulpen dari saku kemejanya. Tekanan di tombolnya membawa keluar ujungnya yang runcing.

"Tapi sayangnya, 'suatu-saat-nanti' itu tidak akan pernah mendatangimu," Juni menunduk dan menarik paksa dagu Lilith untuk menatapnya.

Mereka berpandangan sesaat. Juni dengan mata dinginnya, Lilith dengan mata berapinya.

"Lilith, siap pergi sekarang?" Ibu jari Juni mengusap pipi Lilith yang telah berkerak.

Bibir Juni tertarik di satu sudutnya, membentuk seringai, kelopak matanya sedikit turun. "Kau tidak perlu khawatir, aku berjanji akan menyusulmu, sehingga kau bebas menghukumku di neraka sana. Tapi tidak sekarang. Masih ada hal yang ingin dan harus aku lakukan di sini."

Tatapan Lilith menjadi setajam pisau, namun Juni tetap teguh mempertahankan senyum.

"Aku akan menunggumu," ujar Lilith kemudian, suaranya sedingin es.

Senyum Juni menghilang, "Sampaikan pertanyaanku sebelumnya kepada ibumu."

Juni mengarahkan ujung pulpennya satu senti dari bagian samping leher Lilith.

"Ini sudah malam," bisik Juni penuh arti, "Waktu yang tepat untuk tidur."

Tangannya bergerak menekan badan pulpen hingga ujungnya melesak ke pembuluh darah. Lilith tersengal-sengal, merasakan tinta panas membakar daging dan darahnya dari dalam. Tubuh mungilnya mengejang dan membentur-bentur meja di belakang. Sesaat kemudian kulitnya memerah. Hal yang sama dialami bola matanya, warna merah telah menggantikan kejernihan biru muda.

Akhirnya, setelah lebih dari semenit mengalami tarian mengerikan dari dalam dirinya, ia pun berhenti bergerak. Sama sekali.

Juni menatapnya datar. Tak ada setetes pun rasa kasihan yang menggenang di sepasang mata gelapnya. Seakan ‘belas kasih’ adalah istilah yang tidak seharusnya ada di dalam kamus.

Tiba-tiba onggokan tubuh yang tergeletak di belakang kakinya mengeluarkan suara percikan, kemudian terbakar, disusul dengan tubuh-tubuh yang tersebar tak jauh di sekitarnya. Mereka mengkerut dan menghitam seolah baru saja dilempar ke dalam minyak panas, tapi tak berubah menjadi abu. Aura dalam wujud asap hitam menguap ke udara. Hampir sepuluh menit kemudian, tubuh gadis kecil di depannya, Lilith, juga mengalami nasib serupa.

Guntur menyambar menggetarkan jendela. Cahayanya menghapus jejak malam, menyuntikkan cahaya ke dalam sepasang mata gelap sang Aphrodite.

\=\=\=\=\=\=\=\=

"Apa kalian sudah dengar? Keluarga besar Earl Swarovske ditemukan tewas mengenaskan di dalam rumah mereka pagi ini!" Seorang gadis tiba-tiba menyerbu masuk dan berkicau heboh, membuat semua orang—tak terkecuali Zeze dan Glen—mengangkat pandangan ke arahnya.

"Apa kau sungguhan?" Tanya seseorang.

"Aku membaca beritanya di internet! Baru dirilis pagi ini. Lihat, bahkan putri bungsu mereka juga ikut dibunuh!" Dia duduk di kursinya menghadap tablet yang menyala.

Sebagian orang mulai mengerumuninya, sebagian yang lain mencari informasi sendiri, "Kejam sekali," komentar seseorang dengan satu tangan di mulut.

"Kudengar, jenazah mereka sudah tak berbentuk."

"Apa maksudmu?"

"Jenazah mereka tak bisa dikenali karena telah gosong!"

"Mengerikan. Pembantaian satu keluarga."

Kelas 2-D telah menerima kehebohan di pagi yang pucat. Kehebohan yang mungkin dialami satu institusi, bahkan mungkin satu negara. Parahnya lagi, satu benua. Tergantung seberapa cepat berita itu menyebar.

Kepala Zeze terkulai di lengannya yang terlipat di atas meja, mendengarkan dengan minat rendah. Apa yang ia tunggu? Seharusnya ia sudah dapat menduganya.

"Siapa yang melakukannya?" Rumpi pagi masih terus berlanjut rupanya.

"Siapa lagi kalau bukan mereka. Logo mereka tertempel di kaca kamar utama."

"Orang-orang gila itu tiada henti-hentinya membunuh orang yang tak bersalah."

Zeze mendengus geli mendengar kalimat satu itu.

"Mengapa mereka belum kunjung dihentikan?"

"Rumornya mereka adalah pengendali dýnami yang hebat, yang tidak terdata di Departemen Pengawas Dýnami. Mungkin itu salah satu alasannya."

"Jadi mereka adalah pengguna ilegal."

"Tapi ini aliansi dunia! Bagaimana mungkin dunia sekalipun tidak berkutik melawan mereka?"

Zeze mengangkat sebelah alisnya, bagaimana ya?

Tentu saja itu tidak semudah yang mereka pikir.

Sangat tidak tepat bila menganggap bahwa mereka hanyalah orang-orang biasa dengan nasib buruk yang kemudian memutuskan beralih profesi menjadi kriminal yang menjarah rumah orang-orang kaya. Sebut saja mereka sekumpulan orang yang tahu terlalu banyak, dan telah muak dengan semua hal yang mereka tahu, sehingga memutuskan untuk tidak lagi bersikap abai terhadap keganjilan yang ada. Jangan lupakan pula ikatan batin mereka yang melebihi eratnya tali keluarga. Kalah hanya akan menjadi mitos jika mereka bersatu. Dan para idiot itu berpikir api mereka akan semudah itu untuk dipadamkan?

Heh, konyol.

Zeze memutuskan untuk mendengarkan ocehan orang-orang sok tahu itu tanpa berkomentar lagi. Selain karena mengantuk, posisi meletakkan sisi kepala di atas lengan adalah cara terbaik untuk menikmati awan mendung yang menyelimuti wajah teman sebangkunya.

Awalnya Zeze mengira dia tidak akan datang karena kejadian semalam. Namun siapa sangka laki-laki itu telah mendahuluinya duduk di meja mereka dengan wajah penuh plester. “Glen, pelakunya si Rambut Emas, bukan?”

Glen meliriknya, "Bukan," gumamnya.

Mata Zeze melebar, "Lalu?"

Tak ada lagi sahutan dan Zeze mengerti Glen tidak ingin melanjutkan, maka ia menghormati keinginannya.

"Kabarnya tadi malam mereka sempat mampir ke sini! Para penjaga di ruang CCTV disuntik obat tidur dan robot-robot di-shutdown paksa," gosip berlanjut di latar belakang. Orang lain menimpali dengan gelisah dan bertanya-tanya apakah para kriminal itu akan menyerang sekolah mereka juga. Sementara yang lain langsung menyatakan bahwa ia akan mengambil cuti seminggu karena ia masih menyayangi nyawanya.

Sesekali Zeze menguap, merasakan lelah membakar kelopak mata. Keningnya berkerut saat kaki kanannya tak sengaja membentur kaki meja. Tidak terlalu keras, tapi akibat kesialan yang menimpanya semalam, benturan sepelan apa pun pada kaki kanannya akan menimbulkan rasa nyeri berlebih.

Zeze mengusap-usap lututnya sambil meringis, selagi otaknya memutar adegan saat ia terpeleset setelah berhasil menghindari suatu serangan fatal.

Semalam, 'orang-orang itu' datang lebih cepat dari perkiraan, menyergap tiba-tiba ketika Zeze dan Juni hendak melarikan diri melalui halaman belakang, sehingga membuat Zeze kewalahan melindungi Juni; salah satu risiko akibat tidak membawa defender. Juni buruk dalam pertarungan di lahan terbuka, dan Zeze kerepotan mengalihkan perhatian mereka agar Juni dapat leluasa melumpuhkan mereka secara diam-diam. Ditambah lagi, semalam hujan deras.

Kelopak matanya telah terkunci rapat beberapa saat kemudian. Angin musim gugur masuk dan membelai tengkuknya yang terbuka. Pagi hari adalah momen terbaik untuk pergi ke alam bawah sadar; begitulah yang selalu ia yakini. Napasnya mulai teratur, pertanda bahwa mimpi telah berhasil merenggut kesadarannya, yang lama-kelamaan membakarnya bagaikan api.

Tubuhnya tersentak bersamaan dengan terbelalaknya mata. Entah ia harus bersyukur atau marah terhadap bunyi gebrakan meja yang berhasil membebaskannya dari mimpi sialan itu. Nyaris di detik yang sama, ia merasakan tarikan pada ikatan rambutnya sehingga memaksa punggungnya untuk tegak.

“Menikmati tidur nyenyakmu?”

Zeze melirik ke belakang lewat ekor mata dan langsung disuguhi tampang sinis Si Pirang yang kemarin menyiramnya dengan minuman.

Semua mata tertuju padanya, tak terkecuali mata hitam Glen, yang telah mengamatinya bahkan semenjak Zeze menutup mata.

Gadis pirang itu terkekeh sinis, jemari lentik berkuku panjangnya belum meninggalkan ikatan rambut Zeze. "Tapi ini waktunya untuk bangun," desisnya.

Zeze beku membisu saat denyut hebat menguasai kulit kepalanya.

Si Pirang menarik rambut Zeze lebih kuat demi membawanya berdiri dari kursi. "Ternyata benar bahwa 'pecundang' hanya akan berkumpul dengan sejenisnya." Tatapan sinisnya mendelik pada Glen yang sedang memainkan brush pen di antara jemarinya dengan kepala tertunduk.

“Toilet.” Salah seorang teman—atau mungkin dayangnya—mengingatkan.

Si Pirang mengangguk paham. Ia membuang rambut Zeze dan menggiringnya keluar kelas, diekori oleh komplotannya.

Zeze menengok ke belakang, matanya tertumbuk pada mata hitam Glen. Tak ada reaksi apa pun dari lelaki itu, dia tetap anteng di kursinya, menyaksikan punggung Zeze semakin jauh dari jangkauan.

Keluar dari toilet dengan baju basah kuyup, sudut bibir merah, pipi mencetak gambar tangan, rambut acak-acakan; separah itulah kondisi Zeze sepuluh menit kemudian. Kalau ia mau sedikit repot, sedikit motivasi, ia mempunyai waktu kurang dari dua menit untuk mencabut jantung mereka keluar dari tempatnya. Lagi pula toilet adalah ruang tertutup, dan jika pun ada saksi mata, ia hanya perlu membungkam mereka dengan cara yang sama, kematian.

Tak ada kilatan amarah di mata birunya. Ia sendiri pun bertanya-tanya mengapa ia tidak bisa marah karena alasan yang umum seperti orang pada umumnya.

Kalau dipikir-pikir, aku tidak ingat kapan terakhir kalinya aku marah untuk diri sendiri.

Rhea pernah beropini, marah Zeze berbeda dari kebanyakan orang. Marahnya adalah dengan menganggap orang itu tidak pernah ada. Karenanya jika seseorang mendapatkan amarahnya, orang tersebut telah mati baik itu di mata maupun di hatinya. Awalnya Zeze menyangkal opini itu, namun lama-kelamaan menjadi relevan.

Bel pelajaran pertama telah berbunyi lebih dari 10 menit yang lalu. Tak ada alasan baginya untuk kembali ke kelas dan dipermalukan karena telat dan basah kuyup. Zeze mengangkat bahu masa bodo saat memutuskan pergi ke loker untuk mengambil baju ganti.

Tujuh langkah menjauh dari toilet perempuan, instingnya secara mengejutkan menangkap hawa keberadaan seseorang yang terasa memercik pori-pori kulitnya dan membuat bulu kuduk berdiri. Gelisah dan gusar, Zeze mengerem di tengah koridor, lantas mengedarkan pandangan ke segala penjuru, berusaha keras menemukan orang itu.

"Tidak perlu tegang begitu."

Zeze berjengit. Orang itu cukup hebat dalam bersembunyi. Sekalipun ia bisa merasakan kehadirannya, namun tidak secara spesifik.

Suara itu mempermudah Zeze dalam menemukan akarnya. Sinis, muak, jengkel, dan semua emosi jahat di dunia merambati urat saraf Zeze saat ia berusaha membaca setiap pergerakan yang diciptakan seorang lelaki di dinding seberang pintu toilet pria. Cepat atau lambat orang itu akan mendatanginya, dan Zeze cukup tahu itu sehingga syok tidak datang menguasainya.

"Ah... leganya. Setelah dua hari hanya bisa berguling di atas kasur, akhirnya aku bebas!" Ia meregangkan otot-otot bahunya seolah di depannya ada samsak untuk ditinju.

Ternyata Glen berkata jujur.

"Awalnya aku hanya ingin membalas dendam..." orang itu mendekati Zeze, membawanya mundur, dan Zeze bingung mengapa ia melakukan itu. Ia berhenti begitu punggungnya menubruk dinding.

Orang itu—saudara Airo, Aiden Laktisma—menempelkan telapak tangan kanannya ke dinding di samping kepala Zeze seraya memajukan wajah tampannya hingga hidung mereka hanya beberapa senti saja dari bersentuhan.

"... tapi lama-lama kau membuatku penasaran. Tadi malam—"

Sebelum Aiden dapat menyelesaikan kalimatnya, lehernya telah dicekik oleh Zeze. Secepat kilat dia membalik badannya, sehingga yang kini terkurung ke tembok adalah Aiden.

"Apa saja yang kau ketahui?" Zeze mendesis di depan muka Aiden. Tatapannya menembus tengkorak.

Sialan, umpatnya. Jadi itu dia?

Zeze ingat atmosfer aneh yang menjalari tulang belakangnya sewaktu ia berlari meninggalkan akademi, dan seharusnya ia bisa mengenali bahwa perasaan seperti itu hanya akan muncul di saat dirinya sedang diikuti atau diawasi. Namun, ia gagal berpikir ke titik itu lantaran tengah diburu waktu.

Apa yang aku lakukan? Aku kurang hati-hati sampai hampir membahayakan yang lain. Tidak ada pilihan, jika orang ini mengetahui sesuatu, aku harus membunuhnya.

Pikirannya sekacau retakan kaca semenjak ia ada di dekat Glen. Harusnya ia bisa mengesampingkan urusan personal, berhenti bermain-main! Ia tahu waktunya singkat dan ia pantas menghabiskannya dengan kesenangan, tapi untuk saat ini, ia eksis bukan hanya sebagai seorang Rozeale, tapi juga otak di dalam timnya.

Di sisi lain, syok sedang berkelebat di wajah Aiden—karena reaksi Zeze, juga karena fakta bahwa itu adalah pertama kalinya ia diperlakukan seperti itu oleh perempuan. Tidak, lebih tepatnya, oleh seseorang. Setiap orang yang berhadapan dengannya cenderung submisif, dan ia dapat memiliki hati serta tubuh wanita hanya dengan jentikan jari.

Aiden mengangkat sebelah alis cokelatnya. Apa masalahnya? Sebuah pemikiran yang wajar. Pengalaman Aiden—meskipun singkat—dalam menatap mata safir itu, cukup untuk memberitahunya bahwa dia tidak takut apa pun. Namun, apa yang menyebabkan satu kalimat remeh dengan gampang melelehkan musim dingin abadi di matanya?

"Aku belum tahu apa pun, itu sebabnya aku ingin mengetahui langsung darimu tentang hubunganmu dengan si Pecundang itu," kata Aiden akhirnya.

Cengkeraman Zeze di leher Aiden sedikit mengendur. Ah, ternyata hal lain.

"Apa yang sedang kalian lakukan di sekolah semalam?"

"Bukan urusanmu," sergahnya. Tunggu, jika dia ada di sini semalam, mengapa aku tidak merasakan kehadirannya? Glen juga tidak teelihat terganggu sama sekali. Apa itu karena kami terlalu fokus terhadap satu sama lain? Dan, sedang apa dia di sini pada waktu itu?

Aiden tersenyum angkuh, "Biar kuberitahu, aku sebenarnya adalah orang yang baik hati, percaya padaku."

Zeze berlagak muntah, memberikan gerakan memutar-mata terbaiknya.

"Kalau saja kau bukan perempuan, kau pasti sudah selesai di tanganku. Tapi bukan berarti aku telah melupakan apa yang telah kauperbuat...."

Bibirnya yang menyeringai mendekat ke telinga kiri Zeze, "... Karena aku baru saja mendapatkan mainan baru."

Terpopuler

Comments

Freell

Freell

aq belain download manga loh

2020-05-27

4

Khalifa Alf°

Khalifa Alf°

Merinding sendiri baca scene Juni duh, semoga bisa tersampaikan.

2020-05-09

1

Lala

Lala

gila Juni sadis bener

2020-04-20

4

lihat semua
Episodes
1 1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2 2. Started
3 3. Cracked Mask
4 4. Fiancé
5 5. Whisper
6 6. Academy
7 7. Empty Chair
8 8. Untitled
9 9. Goddess
10 10. Orange
11 11. Idiot
12 12. Red Rose
13 13. Smooth Criminal
14 14. New Toy
15 15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16 16. Punishment
17 17. Misner Space
18 18. Light
19 19. Deal
20 20. Cemetery
21 21. Rozeale Ankhatia
22 22. If It Was You
23 23. Old Friend
24 24. Falling
25 25. Imbalance
26 26. Struggle
27 27. The Healer
28 28. Reset
29 29. Fairytale
30 30. Forgotten
31 31. Debutante
32 32. Silly
33 33. Artemis
34 34. Partner In Crime
35 35. Nuts
36 36. Framed
37 37. Cola
38 38. Bored
39 39. Variable
40 40. Help!
41 41. Zero
42 42. Trick Or Treat?
43 43. The Game
44 44. Chapter Two
45 45. Continued
46 pengumuman: CAST
47 46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48 47. Lust
49 48. Home
50 49. Right Side
51 50. Riddle
52 51. Decode
53 52. Sweet Seventeen
54 53. Spring Cup
55 54. Mystery
56 55. Mr. Rious
57 56. Interrogation
58 57. Database
59 58. Dancing
60 59. Suspect
61 60. May, 1st
62 61. UNO
63 62. Damn
64 63. Wait For Me
65 64. Sacrifice
66 65. Bloody Rose
67 66. Raflesia
68 67. Lottery
69 68. Racing
70 69. Asanatha
71 70. Bury The Hatchet
72 71. Tree
73 72. The Winner
74 73. Healed
75 74. Reminisce
76 75. Andromeda
77 76. Grim
78 77. Farewell
79 78. Encounter
80 79. Sleep
81 80. Once Upon A Time
82 81. Prison
83 82. Open
84 83. Falsity
85 84. Second Meeting
86 85. Axiom
87 86. Helpless
88 87. Misfortune
89 88. Animus
90 CHAPTER BONUS [1-A]
91 CHAPTER BONUS [1-B]
92 CHAPTER BONUS [2-A]
93 CHAPTER BONUS [2-B]
94 CHAPTER BONUS [3-A]
95 CHAPTER BONUS [3-B]
96 CHAPTER BONUS [4-A]
97 CHAPTER BONUS [4-B]
98 89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99 90. Crestfallen
100 91. Agreement
101 92. Pizza Delivery (Part 1)
102 93. Pizza Delivery (Part 2)
103 94. Narrow (Part 1)
104 95. Narrow (Part 2)
105 96. Possessed
106 97. Sorrow (Part 1)
107 98. Sorrow (Part 2)
108 99. Jack O'Lantern
109 100. Beginning Of The End
110 101. Laxity
111 102. Savior
112 103. Hostage
113 104. Bad Idea
114 105. Underestimate
115 106. Memorials
116 107. Solving
117 108. Misunderstanding
118 109. Curiosity Killed The Cat
119 110. Agony
120 111. Distancing
121 112. Foolish
122 113. Fall To Pieces
123 114. Aphrodite
124 115. Loosing Grip
125 116. Insanity
126 117. Ruthless
127 118. Ignorance
128 119. Hypocrisy
129 120. Complicated
130 121. Dignity
131 122. Stupidity
132 123. Catacombs
133 124. Absurd
134 125. Backlash
135 126. Vanished
136 127. Break Free
137 128. Darkness In The Light
138 129. Ambush On All Sides
139 130. Mare's Nest
140 131. Tenet
141 132. Clandestine
142 133. Judas
143 134. Sinister
144 135. Desire
145 136. Ares
146 137. Embrace
147 138. Up In The Air
148 139. Prejudice
149 pengumuman: LIST TOKOH
150 140. Diverge
151 141. Noticed
152 142. Float Kiss
153 143. Liars
154 144. Reunion
155 145. The Answer
156 146. Liberated
157 147. Carnage
158 148. Vendetta
159 149. 1 Stone For 2 Birds
160 150. Better Place
161 151. Pleasure
162 152. Trust & Hope
163 153. Rest
164 154. Good & Bad News
165 155. Bald Cypress
166 156. Leave
167 157. Painful
168 158. Invitation
169 159. A Guest
170 160. Piece Of Art
171 161. Aware
172 162. Journey
173 163. Inland
174 164. Westafo Hall
175 pengumuman: BREAK
176 165. Madam Derba
177 166. Good Side
178 167. The Stage
179 168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180 169. Deception
181 170. Evaluate
182 171. Dissent
183 172. Gratuitous
184 173. Departure
185 174. Voyage
186 175. Almost
187 176. Anger
188 177. Scratches
189 178. Discover
190 179. Out of Control
191 180. Perforce
192 181. Her
193 182. Myth
194 183. Him
195 184. Bleeding
196 185. Perfidy
197 186. Take Me Out of This Town
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2
2. Started
3
3. Cracked Mask
4
4. Fiancé
5
5. Whisper
6
6. Academy
7
7. Empty Chair
8
8. Untitled
9
9. Goddess
10
10. Orange
11
11. Idiot
12
12. Red Rose
13
13. Smooth Criminal
14
14. New Toy
15
15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16
16. Punishment
17
17. Misner Space
18
18. Light
19
19. Deal
20
20. Cemetery
21
21. Rozeale Ankhatia
22
22. If It Was You
23
23. Old Friend
24
24. Falling
25
25. Imbalance
26
26. Struggle
27
27. The Healer
28
28. Reset
29
29. Fairytale
30
30. Forgotten
31
31. Debutante
32
32. Silly
33
33. Artemis
34
34. Partner In Crime
35
35. Nuts
36
36. Framed
37
37. Cola
38
38. Bored
39
39. Variable
40
40. Help!
41
41. Zero
42
42. Trick Or Treat?
43
43. The Game
44
44. Chapter Two
45
45. Continued
46
pengumuman: CAST
47
46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48
47. Lust
49
48. Home
50
49. Right Side
51
50. Riddle
52
51. Decode
53
52. Sweet Seventeen
54
53. Spring Cup
55
54. Mystery
56
55. Mr. Rious
57
56. Interrogation
58
57. Database
59
58. Dancing
60
59. Suspect
61
60. May, 1st
62
61. UNO
63
62. Damn
64
63. Wait For Me
65
64. Sacrifice
66
65. Bloody Rose
67
66. Raflesia
68
67. Lottery
69
68. Racing
70
69. Asanatha
71
70. Bury The Hatchet
72
71. Tree
73
72. The Winner
74
73. Healed
75
74. Reminisce
76
75. Andromeda
77
76. Grim
78
77. Farewell
79
78. Encounter
80
79. Sleep
81
80. Once Upon A Time
82
81. Prison
83
82. Open
84
83. Falsity
85
84. Second Meeting
86
85. Axiom
87
86. Helpless
88
87. Misfortune
89
88. Animus
90
CHAPTER BONUS [1-A]
91
CHAPTER BONUS [1-B]
92
CHAPTER BONUS [2-A]
93
CHAPTER BONUS [2-B]
94
CHAPTER BONUS [3-A]
95
CHAPTER BONUS [3-B]
96
CHAPTER BONUS [4-A]
97
CHAPTER BONUS [4-B]
98
89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99
90. Crestfallen
100
91. Agreement
101
92. Pizza Delivery (Part 1)
102
93. Pizza Delivery (Part 2)
103
94. Narrow (Part 1)
104
95. Narrow (Part 2)
105
96. Possessed
106
97. Sorrow (Part 1)
107
98. Sorrow (Part 2)
108
99. Jack O'Lantern
109
100. Beginning Of The End
110
101. Laxity
111
102. Savior
112
103. Hostage
113
104. Bad Idea
114
105. Underestimate
115
106. Memorials
116
107. Solving
117
108. Misunderstanding
118
109. Curiosity Killed The Cat
119
110. Agony
120
111. Distancing
121
112. Foolish
122
113. Fall To Pieces
123
114. Aphrodite
124
115. Loosing Grip
125
116. Insanity
126
117. Ruthless
127
118. Ignorance
128
119. Hypocrisy
129
120. Complicated
130
121. Dignity
131
122. Stupidity
132
123. Catacombs
133
124. Absurd
134
125. Backlash
135
126. Vanished
136
127. Break Free
137
128. Darkness In The Light
138
129. Ambush On All Sides
139
130. Mare's Nest
140
131. Tenet
141
132. Clandestine
142
133. Judas
143
134. Sinister
144
135. Desire
145
136. Ares
146
137. Embrace
147
138. Up In The Air
148
139. Prejudice
149
pengumuman: LIST TOKOH
150
140. Diverge
151
141. Noticed
152
142. Float Kiss
153
143. Liars
154
144. Reunion
155
145. The Answer
156
146. Liberated
157
147. Carnage
158
148. Vendetta
159
149. 1 Stone For 2 Birds
160
150. Better Place
161
151. Pleasure
162
152. Trust & Hope
163
153. Rest
164
154. Good & Bad News
165
155. Bald Cypress
166
156. Leave
167
157. Painful
168
158. Invitation
169
159. A Guest
170
160. Piece Of Art
171
161. Aware
172
162. Journey
173
163. Inland
174
164. Westafo Hall
175
pengumuman: BREAK
176
165. Madam Derba
177
166. Good Side
178
167. The Stage
179
168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180
169. Deception
181
170. Evaluate
182
171. Dissent
183
172. Gratuitous
184
173. Departure
185
174. Voyage
186
175. Almost
187
176. Anger
188
177. Scratches
189
178. Discover
190
179. Out of Control
191
180. Perforce
192
181. Her
193
182. Myth
194
183. Him
195
184. Bleeding
196
185. Perfidy
197
186. Take Me Out of This Town

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!