"Jangan."
Seorang gadis kecil terisak di atas lantai yang basah. Dua kepang pirang yang terjatuh di punggungnya bergoyang ketika kepalanya menggeleng.
"Kumohon, jangan," sekali lagi dia meminta, memohon. Bila dia tidak berpegangan pada tepi meja di belakangnya, kemungkinan besar dia telah terpeleset dan jatuh. Gelap membatasi garis pandangnya. "Jangan sakiti ibuku."
"Kemarilah, Angsa Cantik." Sebuah suara bertiup dari kegelapan.
Gadis kecil itu menolak dengan gelengan kepala yang kuat.
"Kenapa? Bukankah dia ibumu? Bukankah anak angsa mengekori induknya? Kemarilah dan susul dia."
"Aku tidak ingin pergi ke mana pun, cukup kembalikan dia padaku!" Gadis kecil itu berteriak histeris, satu tangan menjulur ke depan, meraih kehampaan dengan putus asa.
Pemilik suara itu melangkah maju, membebaskan wujudnya dari bayang-bayang. Tangan kanannya terulur ke belakang, tampak tengah menyeret tubuh seseorang dengan cengkeraman longgar di bagian leher. Tubuh itu terseok-seok di atas lantai yang basah.
"Munafik," cibir sosok itu. Visual mengerikan yang dipancarkan topengnya mendorong mundur si Gadis Kecil sehingga meja di belakangnya ikut terdorong.
"Jangan sakiti Ibu, lepaskan dia, kumohon," tangis yang ditahannya pecah seketika.
"Ssttt," Sosok itu menaruh telunjuk tangan yang bebas di depan topeng, "Dia sudah pergi. Jangan berisik."
Gadis kecil itu sesenggukan, berusaha mati-matian agar tak bersuara.
"Dan jangan melangkah mundur, kau akan jatuh."
Gadis kecil itu malah melakukan hal yang sebaliknya, lebih agresif. Bunyi cipratan air terdengar ketika bokongnya menjumpai lantai.
"Kau mengotori baju cantikmu," sesal si Perempuan Bertopeng.
Gadis kecil itu mengangkat tangannya yang basah, mengeceknya di depan wajah dan melihat air merah menodai kulit.
"Ke—kembalikan ibuku, aku mohon padamu," Ia kembali terisak, masih belum bisa menerima kenyataan pahit.
"Aku sudah memberitahumu, dia sudah pergi. Bagaimana caranya aku mengembalikan mereka yang sudah meninggalkan?" Sosok bertopeng itu mendesah tak berdaya, "Manusia adalah makhluk yang malang. Kau setuju, bukan? Karena itulah aku memilih menjadi dewa."
Gadis kecil itu semakin mengkerut. Ia memeluk lututnya sendiri, menggigil, tak peduli lagi dengan air merah berbau anyir yang semakin membasahinya.
"Namamu."
Gadis kecil itu mendongak.
"Katakan namamu."
"Lilith," keraguan menyelimuti jawabannya.
Sosok bertopeng itu mengangguk, "Lilith." Topeng itu ia lepas. Sosok malaikat tersembunyi di balik iblis. Matanya sepekat rambutnya; mengalahkan pekatnya malam. "Lilith, aku Juni," bisiknya.
Lilith masih bisu membeku di tempatnya meringkuk.
"Apakah kau tahu, Lilith, gara-gara ibumu, sekitar dua ribu nyawa telah terbuang sia-sia."
Lilith tersentak. Apa yang dibicarakannya? Sepengetahuannya, ibunya adalah wanita rumahan dengan tempat paling jauh yang biasa didatanginya adalah mall. Ibunya tidak pernah melakukan hal apa pun yang bisa membahayakan nyawa orang lain! Itu tidak mungkin!
"Apa kau sudah mendengar berita gempa bumi di wilayah utara dua minggu lalu?" Juni berjalan mendekati Lilith hingga ujung sepatunya bertemu dengan jari-jari kaki Lilith.
"Pada waktu itu hingga saat ini, banyak donatur yang bergerak menyumbangkan sebagian uang mereka melalui perantara yang dikepalai ibumu," Juni mundur selangkah dan berjongkok di hadapan Lilith, matanya menembus mata Lilith.
"Mulut rakus ibumu menelan semua uang itu. Luar biasa, bukan?" Suara Juni mengandung kekaguman yang terasa nyata.
"Para korban tewas akibat penyakit dan kelaparan, namun media menyatakan bahwa mereka adalah korban jiwa hilang yang baru ditemukan. Sangat disayangkan."
Juni melepaskan tubuh yang semula diseretnya. Lilith tidak berani untuk hanya sekedar menengok dan memeriksa rupa orang itu.
"Aku sangat ingin menanyainya sekarang. 'Madam, bagaimana rasanya mati karena ulah orang lain?' Tapi sayangnya dia tidak bisa mendengar apalagi menjawab."
Juni bangkit dan bertanya pelan, "Ibumu telah pergi, kau yakin ingin melewatkan satu-satunya kesempatan untuk bersamanya?"
Lilith melihat ke atas. Kegelapan di mata itu mengirimkan ketenangan ke matanya, dan dingin ke tulang punggungnya. Seakan ia selalu melihat dunia dengan mata itu, dengan cara seperti itu.
"Apakah aku juga bersalah? Jika aku tidak ingin bersamanya, apa yang akan terjadi padaku?" Tanya Lilith, dengan susah payah menahan getaran dalam suaranya.
Muncul keheningan sesaat sebelum Juni menjawab pertanyaan itu dengan nada dan ekspresi datar, "Kau tidak bersalah, dan kau akan baik-baik saja."
"Pembohong!" Sergah Lilith. Entah dari mana keberanian itu berasal. Ia hanya tidak tahan jika ada orang yang kedapatan tidak jujur kepadanya.
Juni mengangkat sebelah alis, menunggu gadis kecil yang sedang terengah-engah menahan ledakan di dalamnya itu untuk melanjutkan.
"Kalau apa yang kau katakan itu benar, kau tidak akan mungkin menunjukkan wajahmu kepadaku! Kau sudah berencana membungkam mulutku dengan kematian, karena itulah kau menunjukkannya padaku!"
Anak pintar. Cerdas dan cepat tanggap. Anak sepantarannya pasti sudah menelan omong kosong itu mentah-mentah.
Juni tersenyum sungguhan, "Kau pasti bisa menjadi orang hebat suatu saat nanti."
"Aku paling benci pembohong." Gadis kecil itu membuang muka, tak mengindahkan pujiannya.
Masih tersenyum, Juni mengeluarkan sebatang pulpen dari saku kemejanya. Tekanan di tombolnya membawa keluar ujungnya yang runcing.
"Tapi sayangnya, 'suatu-saat-nanti' itu tidak akan pernah mendatangimu," Juni menunduk dan menarik paksa dagu Lilith untuk menatapnya.
Mereka berpandangan sesaat. Juni dengan mata dinginnya, Lilith dengan mata berapinya.
"Lilith, siap pergi sekarang?" Ibu jari Juni mengusap pipi Lilith yang telah berkerak.
Bibir Juni tertarik di satu sudutnya, membentuk seringai, kelopak matanya sedikit turun. "Kau tidak perlu khawatir, aku berjanji akan menyusulmu, sehingga kau bebas menghukumku di neraka sana. Tapi tidak sekarang. Masih ada hal yang ingin dan harus aku lakukan di sini."
Tatapan Lilith menjadi setajam pisau, namun Juni tetap teguh mempertahankan senyum.
"Aku akan menunggumu," ujar Lilith kemudian, suaranya sedingin es.
Senyum Juni menghilang, "Sampaikan pertanyaanku sebelumnya kepada ibumu."
Juni mengarahkan ujung pulpennya satu senti dari bagian samping leher Lilith.
"Ini sudah malam," bisik Juni penuh arti, "Waktu yang tepat untuk tidur."
Tangannya bergerak menekan badan pulpen hingga ujungnya melesak ke pembuluh darah. Lilith tersengal-sengal, merasakan tinta panas membakar daging dan darahnya dari dalam. Tubuh mungilnya mengejang dan membentur-bentur meja di belakang. Sesaat kemudian kulitnya memerah. Hal yang sama dialami bola matanya, warna merah telah menggantikan kejernihan biru muda.
Akhirnya, setelah lebih dari semenit mengalami tarian mengerikan dari dalam dirinya, ia pun berhenti bergerak. Sama sekali.
Juni menatapnya datar. Tak ada setetes pun rasa kasihan yang menggenang di sepasang mata gelapnya. Seakan ‘belas kasih’ adalah istilah yang tidak seharusnya ada di dalam kamus.
Tiba-tiba onggokan tubuh yang tergeletak di belakang kakinya mengeluarkan suara percikan, kemudian terbakar, disusul dengan tubuh-tubuh yang tersebar tak jauh di sekitarnya. Mereka mengkerut dan menghitam seolah baru saja dilempar ke dalam minyak panas, tapi tak berubah menjadi abu. Aura dalam wujud asap hitam menguap ke udara. Hampir sepuluh menit kemudian, tubuh gadis kecil di depannya, Lilith, juga mengalami nasib serupa.
Guntur menyambar menggetarkan jendela. Cahayanya menghapus jejak malam, menyuntikkan cahaya ke dalam sepasang mata gelap sang Aphrodite.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Apa kalian sudah dengar? Keluarga besar Earl Swarovske ditemukan tewas mengenaskan di dalam rumah mereka pagi ini!" Seorang gadis tiba-tiba menyerbu masuk dan berkicau heboh, membuat semua orang—tak terkecuali Zeze dan Glen—mengangkat pandangan ke arahnya.
"Apa kau sungguhan?" Tanya seseorang.
"Aku membaca beritanya di internet! Baru dirilis pagi ini. Lihat, bahkan putri bungsu mereka juga ikut dibunuh!" Dia duduk di kursinya menghadap tablet yang menyala.
Sebagian orang mulai mengerumuninya, sebagian yang lain mencari informasi sendiri, "Kejam sekali," komentar seseorang dengan satu tangan di mulut.
"Kudengar, jenazah mereka sudah tak berbentuk."
"Apa maksudmu?"
"Jenazah mereka tak bisa dikenali karena telah gosong!"
"Mengerikan. Pembantaian satu keluarga."
Kelas 2-D telah menerima kehebohan di pagi yang pucat. Kehebohan yang mungkin dialami satu institusi, bahkan mungkin satu negara. Parahnya lagi, satu benua. Tergantung seberapa cepat berita itu menyebar.
Kepala Zeze terkulai di lengannya yang terlipat di atas meja, mendengarkan dengan minat rendah. Apa yang ia tunggu? Seharusnya ia sudah dapat menduganya.
"Siapa yang melakukannya?" Rumpi pagi masih terus berlanjut rupanya.
"Siapa lagi kalau bukan mereka. Logo mereka tertempel di kaca kamar utama."
"Orang-orang gila itu tiada henti-hentinya membunuh orang yang tak bersalah."
Zeze mendengus geli mendengar kalimat satu itu.
"Mengapa mereka belum kunjung dihentikan?"
"Rumornya mereka adalah pengendali dýnami yang hebat, yang tidak terdata di Departemen Pengawas Dýnami. Mungkin itu salah satu alasannya."
"Jadi mereka adalah pengguna ilegal."
"Tapi ini aliansi dunia! Bagaimana mungkin dunia sekalipun tidak berkutik melawan mereka?"
Zeze mengangkat sebelah alisnya, bagaimana ya?
Tentu saja itu tidak semudah yang mereka pikir.
Sangat tidak tepat bila menganggap bahwa mereka hanyalah orang-orang biasa dengan nasib buruk yang kemudian memutuskan beralih profesi menjadi kriminal yang menjarah rumah orang-orang kaya. Sebut saja mereka sekumpulan orang yang tahu terlalu banyak, dan telah muak dengan semua hal yang mereka tahu, sehingga memutuskan untuk tidak lagi bersikap abai terhadap keganjilan yang ada. Jangan lupakan pula ikatan batin mereka yang melebihi eratnya tali keluarga. Kalah hanya akan menjadi mitos jika mereka bersatu. Dan para idiot itu berpikir api mereka akan semudah itu untuk dipadamkan?
Heh, konyol.
Zeze memutuskan untuk mendengarkan ocehan orang-orang sok tahu itu tanpa berkomentar lagi. Selain karena mengantuk, posisi meletakkan sisi kepala di atas lengan adalah cara terbaik untuk menikmati awan mendung yang menyelimuti wajah teman sebangkunya.
Awalnya Zeze mengira dia tidak akan datang karena kejadian semalam. Namun siapa sangka laki-laki itu telah mendahuluinya duduk di meja mereka dengan wajah penuh plester. “Glen, pelakunya si Rambut Emas, bukan?”
Glen meliriknya, "Bukan," gumamnya.
Mata Zeze melebar, "Lalu?"
Tak ada lagi sahutan dan Zeze mengerti Glen tidak ingin melanjutkan, maka ia menghormati keinginannya.
"Kabarnya tadi malam mereka sempat mampir ke sini! Para penjaga di ruang CCTV disuntik obat tidur dan robot-robot di-shutdown paksa," gosip berlanjut di latar belakang. Orang lain menimpali dengan gelisah dan bertanya-tanya apakah para kriminal itu akan menyerang sekolah mereka juga. Sementara yang lain langsung menyatakan bahwa ia akan mengambil cuti seminggu karena ia masih menyayangi nyawanya.
Sesekali Zeze menguap, merasakan lelah membakar kelopak mata. Keningnya berkerut saat kaki kanannya tak sengaja membentur kaki meja. Tidak terlalu keras, tapi akibat kesialan yang menimpanya semalam, benturan sepelan apa pun pada kaki kanannya akan menimbulkan rasa nyeri berlebih.
Zeze mengusap-usap lututnya sambil meringis, selagi otaknya memutar adegan saat ia terpeleset setelah berhasil menghindari suatu serangan fatal.
Semalam, 'orang-orang itu' datang lebih cepat dari perkiraan, menyergap tiba-tiba ketika Zeze dan Juni hendak melarikan diri melalui halaman belakang, sehingga membuat Zeze kewalahan melindungi Juni; salah satu risiko akibat tidak membawa defender. Juni buruk dalam pertarungan di lahan terbuka, dan Zeze kerepotan mengalihkan perhatian mereka agar Juni dapat leluasa melumpuhkan mereka secara diam-diam. Ditambah lagi, semalam hujan deras.
Kelopak matanya telah terkunci rapat beberapa saat kemudian. Angin musim gugur masuk dan membelai tengkuknya yang terbuka. Pagi hari adalah momen terbaik untuk pergi ke alam bawah sadar; begitulah yang selalu ia yakini. Napasnya mulai teratur, pertanda bahwa mimpi telah berhasil merenggut kesadarannya, yang lama-kelamaan membakarnya bagaikan api.
Tubuhnya tersentak bersamaan dengan terbelalaknya mata. Entah ia harus bersyukur atau marah terhadap bunyi gebrakan meja yang berhasil membebaskannya dari mimpi sialan itu. Nyaris di detik yang sama, ia merasakan tarikan pada ikatan rambutnya sehingga memaksa punggungnya untuk tegak.
“Menikmati tidur nyenyakmu?”
Zeze melirik ke belakang lewat ekor mata dan langsung disuguhi tampang sinis Si Pirang yang kemarin menyiramnya dengan minuman.
Semua mata tertuju padanya, tak terkecuali mata hitam Glen, yang telah mengamatinya bahkan semenjak Zeze menutup mata.
Gadis pirang itu terkekeh sinis, jemari lentik berkuku panjangnya belum meninggalkan ikatan rambut Zeze. "Tapi ini waktunya untuk bangun," desisnya.
Zeze beku membisu saat denyut hebat menguasai kulit kepalanya.
Si Pirang menarik rambut Zeze lebih kuat demi membawanya berdiri dari kursi. "Ternyata benar bahwa 'pecundang' hanya akan berkumpul dengan sejenisnya." Tatapan sinisnya mendelik pada Glen yang sedang memainkan brush pen di antara jemarinya dengan kepala tertunduk.
“Toilet.” Salah seorang teman—atau mungkin dayangnya—mengingatkan.
Si Pirang mengangguk paham. Ia membuang rambut Zeze dan menggiringnya keluar kelas, diekori oleh komplotannya.
Zeze menengok ke belakang, matanya tertumbuk pada mata hitam Glen. Tak ada reaksi apa pun dari lelaki itu, dia tetap anteng di kursinya, menyaksikan punggung Zeze semakin jauh dari jangkauan.
Keluar dari toilet dengan baju basah kuyup, sudut bibir merah, pipi mencetak gambar tangan, rambut acak-acakan; separah itulah kondisi Zeze sepuluh menit kemudian. Kalau ia mau sedikit repot, sedikit motivasi, ia mempunyai waktu kurang dari dua menit untuk mencabut jantung mereka keluar dari tempatnya. Lagi pula toilet adalah ruang tertutup, dan jika pun ada saksi mata, ia hanya perlu membungkam mereka dengan cara yang sama, kematian.
Tak ada kilatan amarah di mata birunya. Ia sendiri pun bertanya-tanya mengapa ia tidak bisa marah karena alasan yang umum seperti orang pada umumnya.
Kalau dipikir-pikir, aku tidak ingat kapan terakhir kalinya aku marah untuk diri sendiri.
Rhea pernah beropini, marah Zeze berbeda dari kebanyakan orang. Marahnya adalah dengan menganggap orang itu tidak pernah ada. Karenanya jika seseorang mendapatkan amarahnya, orang tersebut telah mati baik itu di mata maupun di hatinya. Awalnya Zeze menyangkal opini itu, namun lama-kelamaan menjadi relevan.
Bel pelajaran pertama telah berbunyi lebih dari 10 menit yang lalu. Tak ada alasan baginya untuk kembali ke kelas dan dipermalukan karena telat dan basah kuyup. Zeze mengangkat bahu masa bodo saat memutuskan pergi ke loker untuk mengambil baju ganti.
Tujuh langkah menjauh dari toilet perempuan, instingnya secara mengejutkan menangkap hawa keberadaan seseorang yang terasa memercik pori-pori kulitnya dan membuat bulu kuduk berdiri. Gelisah dan gusar, Zeze mengerem di tengah koridor, lantas mengedarkan pandangan ke segala penjuru, berusaha keras menemukan orang itu.
"Tidak perlu tegang begitu."
Zeze berjengit. Orang itu cukup hebat dalam bersembunyi. Sekalipun ia bisa merasakan kehadirannya, namun tidak secara spesifik.
Suara itu mempermudah Zeze dalam menemukan akarnya. Sinis, muak, jengkel, dan semua emosi jahat di dunia merambati urat saraf Zeze saat ia berusaha membaca setiap pergerakan yang diciptakan seorang lelaki di dinding seberang pintu toilet pria. Cepat atau lambat orang itu akan mendatanginya, dan Zeze cukup tahu itu sehingga syok tidak datang menguasainya.
"Ah... leganya. Setelah dua hari hanya bisa berguling di atas kasur, akhirnya aku bebas!" Ia meregangkan otot-otot bahunya seolah di depannya ada samsak untuk ditinju.
Ternyata Glen berkata jujur.
"Awalnya aku hanya ingin membalas dendam..." orang itu mendekati Zeze, membawanya mundur, dan Zeze bingung mengapa ia melakukan itu. Ia berhenti begitu punggungnya menubruk dinding.
Orang itu—saudara Airo, Aiden Laktisma—menempelkan telapak tangan kanannya ke dinding di samping kepala Zeze seraya memajukan wajah tampannya hingga hidung mereka hanya beberapa senti saja dari bersentuhan.
"... tapi lama-lama kau membuatku penasaran. Tadi malam—"
Sebelum Aiden dapat menyelesaikan kalimatnya, lehernya telah dicekik oleh Zeze. Secepat kilat dia membalik badannya, sehingga yang kini terkurung ke tembok adalah Aiden.
"Apa saja yang kau ketahui?" Zeze mendesis di depan muka Aiden. Tatapannya menembus tengkorak.
Sialan, umpatnya. Jadi itu dia?
Zeze ingat atmosfer aneh yang menjalari tulang belakangnya sewaktu ia berlari meninggalkan akademi, dan seharusnya ia bisa mengenali bahwa perasaan seperti itu hanya akan muncul di saat dirinya sedang diikuti atau diawasi. Namun, ia gagal berpikir ke titik itu lantaran tengah diburu waktu.
Apa yang aku lakukan? Aku kurang hati-hati sampai hampir membahayakan yang lain. Tidak ada pilihan, jika orang ini mengetahui sesuatu, aku harus membunuhnya.
Pikirannya sekacau retakan kaca semenjak ia ada di dekat Glen. Harusnya ia bisa mengesampingkan urusan personal, berhenti bermain-main! Ia tahu waktunya singkat dan ia pantas menghabiskannya dengan kesenangan, tapi untuk saat ini, ia eksis bukan hanya sebagai seorang Rozeale, tapi juga otak di dalam timnya.
Di sisi lain, syok sedang berkelebat di wajah Aiden—karena reaksi Zeze, juga karena fakta bahwa itu adalah pertama kalinya ia diperlakukan seperti itu oleh perempuan. Tidak, lebih tepatnya, oleh seseorang. Setiap orang yang berhadapan dengannya cenderung submisif, dan ia dapat memiliki hati serta tubuh wanita hanya dengan jentikan jari.
Aiden mengangkat sebelah alis cokelatnya. Apa masalahnya? Sebuah pemikiran yang wajar. Pengalaman Aiden—meskipun singkat—dalam menatap mata safir itu, cukup untuk memberitahunya bahwa dia tidak takut apa pun. Namun, apa yang menyebabkan satu kalimat remeh dengan gampang melelehkan musim dingin abadi di matanya?
"Aku belum tahu apa pun, itu sebabnya aku ingin mengetahui langsung darimu tentang hubunganmu dengan si Pecundang itu," kata Aiden akhirnya.
Cengkeraman Zeze di leher Aiden sedikit mengendur. Ah, ternyata hal lain.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sekolah semalam?"
"Bukan urusanmu," sergahnya. Tunggu, jika dia ada di sini semalam, mengapa aku tidak merasakan kehadirannya? Glen juga tidak teelihat terganggu sama sekali. Apa itu karena kami terlalu fokus terhadap satu sama lain? Dan, sedang apa dia di sini pada waktu itu?
Aiden tersenyum angkuh, "Biar kuberitahu, aku sebenarnya adalah orang yang baik hati, percaya padaku."
Zeze berlagak muntah, memberikan gerakan memutar-mata terbaiknya.
"Kalau saja kau bukan perempuan, kau pasti sudah selesai di tanganku. Tapi bukan berarti aku telah melupakan apa yang telah kauperbuat...."
Bibirnya yang menyeringai mendekat ke telinga kiri Zeze, "... Karena aku baru saja mendapatkan mainan baru."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Freell
aq belain download manga loh
2020-05-27
4
Khalifa Alf°
Merinding sendiri baca scene Juni duh, semoga bisa tersampaikan.
2020-05-09
1
Lala
gila Juni sadis bener
2020-04-20
4