6. Academy

"Kau hanya perlu menandatangani ini, tidak sulit! Ayolah!" Zeze menyodorkan selembar map di atas sebuah meja makan panjang kepada seseorang pemuda berseragam koki yang duduk berhadapan dengannya.

Pantang menyerah, map itu ia dorong terus hingga menekan-nekan sisi tangan sang Koki yang bertengger manis di meja. Namun lelaki itu itu sama sekali tidak menunjukkan gelagat bahwa ia terusik. Sebatang rokok dia nyalakan, mengabaikan kenyataan bahwa seseorang, lebih dari itu, tuan putri, tengah memohon padanya.

Koki itu mendengus, "Mengapa kau tidak memakai marga aslimu saja? Tidakkah kau tahu ini sangat merepotkan? Selisih kita hanya sembilan tahun, siapa yang akan percaya kalau kau adalah putriku?"

Alis Zeze bertaut saat ia balik mendebat, "Kau bukanlah seorang selebriti, jadi jangan berlagak seakan semua orang mengenalmu!"

"Dan sekarang kau menghina orang yang kau mintai tolong," Koki itu mencibir.

Zeze kembali merengek, "Kumohon, jadilah waliku! Aku sangat ingin pergi ke sekolah. Aku memilihmu karena kau terikat langsung dengan istana. Tidak semua orang bisa diterima di sana."

"Aku dibayar di sini untuk memasak makanan, bukan menjadi aktor," cibir sang Koki sembari mengembuskan asap rokoknya.

Hidung Zeze mengernyit, baru sadar, "Tidak ada rokok di dalam istana, Dave," Sebuah desisan mengikuti peringatannya.

Dave bertatapan dengannya sesaat sebelum menekan puntung rokoknya ke asbak terdekat.

"Kumohon?" Zeze mengedit suaranya agar terdengar lembut sambil menyatukan kedua telapak tangan setinggi wajah.

Dave mendengus pasrah. Diraihnya map pendaftaran itu, sampulnya ia cermati di depan muka, merasa aneh pada gagasan bahwa ia akan berperan sebagai ayah dari seseorang yang sama sekali tidak mirip dengannya. Meski begitu pada akhirnya map itu ia buka, dan Zeze tak bisa menahan senyum saat melihatnya.

"Jadi, mengapa kau menolak menggunakan identitas aslimu?" Tanya Dave tanpa menatapnya.

"Itu... ada hal yang ingin sekali aku lakukan."

"Dan kau merasa tidak akan bisa bebas melakukan hal tersebut jika kau menggunakan identitas aslimu?"

"Entahlah. Kurasa aku hanya membuat alasan. Sebagai siapa aku tidak sepenting itu untukku asalkan aku bisa menghabiskan sisa waktuku dengan seseorang yang sudah lama tidak kutemui. Aku telah melewatkan banyak hal. Aku tidak mau menyesal untuk kedua kalinya. Selagi ada kesempatan... mengapa tidak dipergunakan? Benar, kan?"

Dave mendengus geli, "Kau terdengar seperti kau akan mati besok. Ternyata kau orang yang cukup dramatis."

Tidak mendengar komentar Dave, Zeze merenung saat wajah "dia" melintas di kepalanya. Mengumumkan eksistensiku di hadapan orang-orang merepotkan itu bisa belakangan. Ace juga tidak melarangku melakukan ini, bukan? Bukankah memang sudah seharusnya keturunan kerajaan seusiaku bersekolah? Lagipula Juni dan yang lainnya juga masih belum kembali, "Cih, mentang-mentang habis menyelesaikan misi, mereka lupa waktu dan asyik liburan berminggu-minggu," gerutunya pelan, "Mereka tidak bisa menyalahkanku jika aku juga bersenang-senang di sini!"

"Apa?"

Bunyi goresan pena dan pertanyaan bernada bingung menampar Zeze kembali ke realita. Zeze bertepuk tangan begitu menyadari Dave sedang menandatangani mapnya.

"Dari mana kau belajar memalsukan dokumen? Ini kelihatan seperti asli," Dave mengagumi tampilan kertas-kertas di dalam map. "Ini benar-benar sidik jarimu?"

"Well," Zeze menggaruk tengkuknya sambil mengalihkan pandangan, "Singkatnya, aku punya seorang teman yang ahli dalam mengurus hal-hal semacam ini." Ia kemudian mengeluarkan plastik obat dari sakunya, hanya saja itu tidak berisi obat-obatan, melainkan sepuluh potong silikon super tipis berwarna kulit yang hanya muat di pasangkan di ujung masing-masing jari tangan.

Binar di mata Dave menunjukkan bahwa ia sungguh terkesan.

"Ngomong-ngomong, aku berhutang satu hal padamu, Dave."

Dave bangkit dari duduknya, "Tentu saja. Aku minta gajiku ditambah, Yang Mulia."

Pemuda itu membungkuk dengan gerakan dilebih-lebihkan sehingga sukses menciptakan ekspresi jijik di wajah Zeze. Karena pada kenyataannya di antara para penghuni istana, hanya Dave-lah yang akrab dengannya dan berani bersikap selayaknya seorang teman. Ada alasan tertentu di balik itu.

Puas dengan akting anehnya, Dave terbahak dan berlalu pergi. Suara tawanya perlahan memudar ditelan jarak. Sementara Zeze meraih map di seberangnya dan membacanya sekilas. Rozeale Finn. Yup, itulah nama barunya untuk sementara.

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

Figur ramping seorang siswi dalam hoodie dan rok godet hitam selutut mengayunkan kaki jenjangnya melewati gerbang Akademi Kemiliteran Exousia. Ketiga gedungnya membentuk huruf U dengan pancuran air tersemat di tengah halaman depan. Setengah kilo meter dari gedung utama akademi, tepat di atas tanah yang empat meter lebih tinggi, berdiri menara kembar sebagai asrama untuk pelajar. Di sejumlah lokasi terpajang patung Ares, Sang Dewa Perang, sebagai titik singgah para burung gereja.

Koridor lantai satu adalah karpet merahnya. Dengan headphone di telinga, kedua tangan terkubur dalam saku hoodie, siswi itu melenggang bak model runway. Tudungnya tidak terpasang sehingga mengekspos paras eloknya yang mampu mematahkan langkah siapa pun. Rambutnya adalah untaian benang perak yang terwujud dari cahaya bulan, berayun seirama dengan langkah mantapnya. Sejumlah orang yang semula berlalu-lalang, mulai berbaris secara estafet di kedua sisi koridor, seakan-akan langkah mereka terbelah oleh kehadirannya.

Rozeale Finn, seorang putri dari juru masak istana, mulai membuka bungkus permen karet yang diambilnya dari saku rok. Belok kanan, mata safirnya secara tak sengaja menangkap visual tujuh manusia yang tinggal satu atap dengannya, mereka sedang bersantai di kursi yang mengitari sebuah meja makan panjang kantin outdoor. Enam dari mereka memberikan reaksi yang diharapkan; terkejut sewaktu menemukan sosoknya di sekolah mereka. Sementara Sang Pangeran adalah permukaan danau di musim dingin, tenang tak terusik di bawah es yang membeku.

Tak ada makhluk lain dalam jarak tiga meter di sekitar ketujuh orang itu. Semuanya menyingkir dan membiarkan mereka bersinar sebagai objek pemujaan. Di sejumlah titik, pengawal berkacamata dan berpakaian serba hitam memantau dalam jarak aman. Berkat kemampuan observasi yang diasahnya sejak kecil, Zeze mampu menandai jumlah dan titik jaga mereka dalam sekali sapuan mata.

Matanya menemukan Airo dan Saga, Zeze menyempatkan diri tersenyum di sela aktivtas mengunyah permen, sebelum berbelok ke kiri untuk menaiki eskalator.

"Dia..." Luna mulai membuka pertanyaan, tapi Kion langsung memotongnya dengan satu kalimat telak, "Tidak ada satu pun dari kalian yang boleh mengajaknya bicara."

Ucapan Kion tentunya adalah titah bagi mereka, sehingga tidak ada yang berani membantah.

Berdasarkan umur, Zeze dijadwalkan menghadiri kelas Tahun Kedua, oleh karena itu kakinya keluar dari eskalator ketika ia mencapai lantai empat.

Sebelumnya ia telah mempelajari denah gedung, sehingga tidak sulit baginya untuk menemukan ruang kelasnya. Langkahnya surut di ambang pintu kelas. Mengejutkan, interiornya ternyata jauh lebih minimalis dan modern dibanding eksterior gedung. Mata birunya berkeliling, memindai bangku kosong, mengabaikan tumpukkan perhatian yang tengah menggelayuti punggungnya.

Ketemu. Pojok, paling belakang, dekat jendela.

Zeze melewati ambang pintu. Beruntung baginya karena bangku di sebelahnya juga kosong. Begitu menempati meja yang merapat pada jendela, ia langsung berurusan dengan ponselnya, cara yang efektif untuk mengenyahkan perasaan tidak nyaman yang disebabkan oleh yang perhatian menumpuk.

Beberapa menit kemudian, ia merasakan para murid yang semula terpencar mulai menghuni bangku mereka masing-masing. Tak lama berselang, masuklah seorang wanita berkemeja putih dipadu rok mini hitam, yang Zeze yakini adalah wali kelasnya.

Setelah basa-basi pembuka, guru itu melesatkan matanya ke ujung-pojok kelas. "Hari ini kita kedatangan murid baru." Ia memberi tanda agar Zeze maju ke depan. "Nona ini adalah murid baru pertama kita di semester ini..." Sang guru melirik Zeze yang telah berdiri di sisinya.

"Rozeale Finn," Zeze melanjutkan ucapan guru itu, tersenyum, senyum paling manipulatif, paling licik, yang pernah disaksikan dunia. Tapi, toh, orang-orang di hadapannya tetap menahan napas ketika melihatnya. Mereka jelas sekali terpana.

Norak, Zeze memutar bola matanya.

Benaknya mulai berkicau, mengharapkan agar acara perkenalan cepat tuntas, dan beruntung harapan itu terkabul. Sang guru mempersilakannya duduk setelah menyadari ketidaksabarannya.

Usai kembali ke bangkunya, pandangan Zeze berkeliling untuk pertama kali. Mata birunya adalah mesin penghakiman, menilai penampilan teman-teman sekelasnya. Semua mengenakan setelan pakaian yang sama dengannya; kemeja cokelat saddle berbahan rapilo dan rok godet hitam selutut—pakaian yang mengingatkan Zeze dengan seragam pramuka—dengan lencana bermacam-macam simbol yang dijahit di lengan atas, dada kiri-kanan, dan ujung kerah. Dinilai dari merek di perabotan mereka, tak perlu diragukan bahwa latar belakang teman-teman sekelasnya itu bukan dari kalangan biasa, sejalan dengan hasil riset yang ia lakukan beberapa waktu lalu terhadap akademi yang akan menjadi tempatnya menuntut ilmu.

Salah satu hasil risetnya menemukan bahwa Exousia adalah bagian dari tiga institusi pendidikan terbaik di Aplistia yang secara eksklusif dibangun untuk para penduduk berkasta tinggi; anggota keluarga kerajaan, bangsawan, dan konglomerat. Selain melatih kemampuan penalaran, Akademi Exousia juga memfasilitasi pengembangan kemampuan pertolongan pertama, bela diri, dan bersenjata partisipannya. Singkatnya adalah sebuah sekolah dengan sistem kemiliteran yang sudah dimodifikasi menyesuaikan zaman. Sehingga metode pengajaran menggunakan hukuman fisik dan suara lantang tidak akan ditemukan di sana.

Guru sudah memulai pelajaran jam pertama, Zeze memilih untuk tidak mendengarkan. Ia menopang dagu dan melempar pandangan ke luar jendela. Setelah berhari-hari berkutat di dalam sangkar dengan hanya game sebagai hiburan, ditemani Saga dan Airo, akhirnya ia berhasil mencicipi lingkungan baru yang dinamakan ‘sekolah’.

Pikirannya mulai berkelana. Apakah ia dapat bertemu dengannya hari ini? Sekedar melihatnya pun ia sudah puas.

Senyum merekah di bibir saat matanya ia pejamkan. Itu benar, tidak perlu terburu-buru. Waktu berpihak padanya kali ini. Untuk sekarang, ia hanya akan menikmati masa remaja yang sering digemborkan orang-orang sebagai 'masa terindah dalam hidup'.

Zeze terkekeh tanpa suara. Indah? Ia membuka matanya.

Tidak buruk.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Masih belum tampak pertanda Zeze akan menemukan apa yang dicarinya. Padahal sudah dua hari ia mengorbankan jam istirahatnya untuk berkeliling sekolah dan menguras tenaga dengan menggunakan kemampuannya pada saat upacara baris berbaris kemiliteran di lapangan.

Malu bertanya, sesat di jalan, Zeze paham itu. Tapi ia selalu menghindari kemungkinan berinteraksi dengan orang asing sebelum kedatangan teman-teman satu timnya yang lebih mengerti situasi. Maka ia memutuskan untuk memasuki kelas bertepatan dengan bunyi bel masuk, sehingga sifat sombong dan arogan mulai diucapkan bersama namanya.

Mereka, terutama para siswi, mencibir Zeze di belakang punggungnya. Bibir mereka sangat mahir membahas hal-hal negatif tentangnya, entah itu fakta maupun karangan. Paling parah adalah gosip tentang bagaimana Zeze menggoda murid laki-laki dan hal buruk lain yang sama sekali tidak pernah ia lakukan.

Di kelas, Zeze lebih sering melamun dan melihat ke luar jendela, menikmati pemandangan kebun mawar yang terhampar di bawah jendela. Angin musim gugur datang dan membuatnya terbuai.

Matanya terbungkus, menikmati belaian angin pada setiap inci kulit wajahnya, ketika nama palsunya yang keluar dari mulut seorang wanita mematahkan kontaknya dengan sang angin.

Pandangan Zeze tersedot ke depan kelas.

"Bisakah Miss Finn menyelesaikan soal di papan tulis?" sang Guru bertanya, tepatnya memerintah. Wanita itu pasti menangkap basah Zeze yang sedang memejamkan mata.

Oh, celaka, Zeze menelan ludah, mukanya mendadak kaku. Aku sama sekali tidak pernah memperhatikan pelajaran apa pun di kelas ini. Bahkan materi apa yang baru saja disampaikan oleh guru itu pun aku tak tahu.

Zeze bertopang dagu selama beberapa detik, meratapi nasib, sebelum bangkit dan berjalan ke depan kelas ditemani banyak tatapan. Langkahnya surut di hadapan guru dan telinganya menangkap kikikan dua orang siswi di meja barisan terdepan. Diliriknya mereka melalui bahu; kedua gadis itu seketika merinding tanpa tahu apa penyebabnya, seolah ada pisau yang menodong di leher mereka.

Sang guru memberikan kapur elektrik kepada Zeze lalu bersedekap. Mata hitamnya adalah paku yang menancap pada seorang gadis yang melongo begitu dihadapkan dengan sebaris soal di papan tulis. Jika tidak mengingat fakta bahwa dia adalah murid baru, detensi pasti akan menjadi pilihan terbaik. Peraturan bahwa tidak ada yang boleh tidur di kelasnya adalah hal yang mutlak.

Di lain sisi, Zeze yang masih tercengang pada angka-angka rumit di hadapannya, membatin,Yang benar saja? Apakah wanita itu bercanda? Aku harus menyelesaikan ini?

Usai berdiri selama satu menit, akhirnya Zeze diperbolehkan menyentuh bangkunya kembali. Ia menopang dagu, menikmati ekspresi sang ibu guru yang menganga ketika dihadapkan dengan papan tulis yang telah padat oleh angka-angka.

Bola mata wanita itu adalah roller coaster, bergerak naik-turun di sepanjang papan tulis. Usai mencapai angka terakhir, matanya langsung melesat ke ujung kelas, kepada Zeze yang langsung membuang mukanya ke arah jendela.

Sulit dipercaya. Soal yang rencananya akan ia gunakan sebagai sample untuk memulai materi baru, telah terpecahkan dalam waktu super singkat. Ia tahu Zeze tidak mendengarkan pengajarannya sama sekali, dan bahkan mendapatinya sedang memejamkan mata setelah diberitahu oleh siswi di barisan terdepan, di saat dirinya tengah memunggungi seisi kelas untuk mengukir soal tersebut. Itu sebabnya ia bermaksud mengerjainya dengan memberinya soal dari materi yang bahkan belum pernah dipelajari sebagai bentuk keringanan daripada memberikan detensi.

Di ujung sana, Zeze yang menyadari tatapan guru itu hanya mendengus. Terlalu mudah hingga membuatku kaget tak terkira ketika pertama kali melihatnya.

Soal itu memberinya petunjuk tentang sistem kurikulum yang diberikan kepada anak-anak seusianya. Ekspektasinya yang tinggi terhadap sekolah yang katanya ‘terbaik’ langsung runtuh. Lebih dari itu, ia merasakan ketidakadilan!

Ini tidak sebanding dengan apa yang telah ibuku berikan kepadaku! Aku bahkan sudah menguasai itu di umur tujuh tahun.

Guru itu sepertinya telah lanjut mengajar. Zeze menjulurkan leher, mengintip murid yang duduk di depannya. Meja di bawah sikunya adalah tablet berukuran jumbo. Satu lembar di aplikasi khusus mencatat hampir penuh oleh goresan tinta artifisial; Zeze yakin itu adalah jawaban dari soal di papan tulis.

Mata birunya beralih ke meja berlapis kaca di bawah sikunya sendiri. Masih berbentuk meja. Tak sulit untuk mencari tombol on/off; cahaya merah berkedip-kedip di ujung sebelah kiri meja. Berbagai macam tools langsung menjajah layar ketika ia menekan tombol itu. Zeze mendengus saat meraih stylus pen, dan langsung mau menyerah di baris pertama.

"Kertas asli masih jauh lebih baik."

Saat memasuki lembar kedua, punggung tangannya sontak digigit oleh sesuatu yang menyebabkan benda silinder itu meluncur dari sela jarinya.

“Apa salahku padamu?” Sekolah pasti sudah membuatnya gila sampai terpikir olehnya untuk mengajak seekor semut merah berbicara. Ia meniupnya dan bergegas mencari stylus pen yang hilang. Tapi ia tak dapat menemukannya di atas meja.

Kemudian ia mengecek ke bawah meja kosong di sisi kanannya. Ketemu. Ia membungkuk guna meraihnya. Saat hendak menegakkan tubuh, tak sengaja matanya menangkap pemandangan aneh di kolong meja tersebut.

Terdapat tumpukan buku. Aneh, bukankah bangku di sebelahnya itu kosong? Zeze mengambil salah satu buku. Sampul depannya telah ditimpa coretan berisi kata-kata makian. Di antaranya menyuruh untuk mati, angkat kaki, kata-kata ancaman, bahkan nama-nama binatang. Bahkan ia baru menyadari bahwa kaca yang melapisi meja di sampingnya itu juga menyuguhkan kata-kata tidak senonoh yang digores menggunakan spidol permanen.

Alisnya bertaut membaca semua itu. Sangat tidak sinkron dengan reputasi Exousia yang terkenal dengan murid-muridnya yang berasal dari keluarga terpandang.

Pendidikan tata krama seharusnya sudah menjadi santapan sehari-hari mereka. Apakah ada informasi yang aku lewatkan tentang tempat ini?

Zeze mencoba berpikir positif. Kemungkinan buku itu adalah buku bekas yang dibuang di meja pojok, meja terbuang, wadah melepas sisi terburuk manusia. Remaja manusia.

Well, aku tidak bisa menyalahkan mereka. Biar bagaimana pun mereka juga manusia, wajar bila membutuhkan pelampiasan. Tapi, mengapa buku dan meja ini masih dibiarkan oleh petugas kebersihan? Ah, sudahlah.

Zeze memutuskan membenamkan kembali buku itu ke tempatnya semula dan lanjut menulis.

Terpopuler

Comments

Ryosa

Ryosa

cakep, smart zeze

2021-11-09

1

Elmy_Fathin

Elmy_Fathin

ah... apa aku bisa secerdas Zeze??? wkwk

2020-06-13

6

lihat semua
Episodes
1 1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2 2. Started
3 3. Cracked Mask
4 4. Fiancé
5 5. Whisper
6 6. Academy
7 7. Empty Chair
8 8. Untitled
9 9. Goddess
10 10. Orange
11 11. Idiot
12 12. Red Rose
13 13. Smooth Criminal
14 14. New Toy
15 15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16 16. Punishment
17 17. Misner Space
18 18. Light
19 19. Deal
20 20. Cemetery
21 21. Rozeale Ankhatia
22 22. If It Was You
23 23. Old Friend
24 24. Falling
25 25. Imbalance
26 26. Struggle
27 27. The Healer
28 28. Reset
29 29. Fairytale
30 30. Forgotten
31 31. Debutante
32 32. Silly
33 33. Artemis
34 34. Partner In Crime
35 35. Nuts
36 36. Framed
37 37. Cola
38 38. Bored
39 39. Variable
40 40. Help!
41 41. Zero
42 42. Trick Or Treat?
43 43. The Game
44 44. Chapter Two
45 45. Continued
46 pengumuman: CAST
47 46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48 47. Lust
49 48. Home
50 49. Right Side
51 50. Riddle
52 51. Decode
53 52. Sweet Seventeen
54 53. Spring Cup
55 54. Mystery
56 55. Mr. Rious
57 56. Interrogation
58 57. Database
59 58. Dancing
60 59. Suspect
61 60. May, 1st
62 61. UNO
63 62. Damn
64 63. Wait For Me
65 64. Sacrifice
66 65. Bloody Rose
67 66. Raflesia
68 67. Lottery
69 68. Racing
70 69. Asanatha
71 70. Bury The Hatchet
72 71. Tree
73 72. The Winner
74 73. Healed
75 74. Reminisce
76 75. Andromeda
77 76. Grim
78 77. Farewell
79 78. Encounter
80 79. Sleep
81 80. Once Upon A Time
82 81. Prison
83 82. Open
84 83. Falsity
85 84. Second Meeting
86 85. Axiom
87 86. Helpless
88 87. Misfortune
89 88. Animus
90 CHAPTER BONUS [1-A]
91 CHAPTER BONUS [1-B]
92 CHAPTER BONUS [2-A]
93 CHAPTER BONUS [2-B]
94 CHAPTER BONUS [3-A]
95 CHAPTER BONUS [3-B]
96 CHAPTER BONUS [4-A]
97 CHAPTER BONUS [4-B]
98 89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99 90. Crestfallen
100 91. Agreement
101 92. Pizza Delivery (Part 1)
102 93. Pizza Delivery (Part 2)
103 94. Narrow (Part 1)
104 95. Narrow (Part 2)
105 96. Possessed
106 97. Sorrow (Part 1)
107 98. Sorrow (Part 2)
108 99. Jack O'Lantern
109 100. Beginning Of The End
110 101. Laxity
111 102. Savior
112 103. Hostage
113 104. Bad Idea
114 105. Underestimate
115 106. Memorials
116 107. Solving
117 108. Misunderstanding
118 109. Curiosity Killed The Cat
119 110. Agony
120 111. Distancing
121 112. Foolish
122 113. Fall To Pieces
123 114. Aphrodite
124 115. Loosing Grip
125 116. Insanity
126 117. Ruthless
127 118. Ignorance
128 119. Hypocrisy
129 120. Complicated
130 121. Dignity
131 122. Stupidity
132 123. Catacombs
133 124. Absurd
134 125. Backlash
135 126. Vanished
136 127. Break Free
137 128. Darkness In The Light
138 129. Ambush On All Sides
139 130. Mare's Nest
140 131. Tenet
141 132. Clandestine
142 133. Judas
143 134. Sinister
144 135. Desire
145 136. Ares
146 137. Embrace
147 138. Up In The Air
148 139. Prejudice
149 pengumuman: LIST TOKOH
150 140. Diverge
151 141. Noticed
152 142. Float Kiss
153 143. Liars
154 144. Reunion
155 145. The Answer
156 146. Liberated
157 147. Carnage
158 148. Vendetta
159 149. 1 Stone For 2 Birds
160 150. Better Place
161 151. Pleasure
162 152. Trust & Hope
163 153. Rest
164 154. Good & Bad News
165 155. Bald Cypress
166 156. Leave
167 157. Painful
168 158. Invitation
169 159. A Guest
170 160. Piece Of Art
171 161. Aware
172 162. Journey
173 163. Inland
174 164. Westafo Hall
175 pengumuman: BREAK
176 165. Madam Derba
177 166. Good Side
178 167. The Stage
179 168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180 169. Deception
181 170. Evaluate
182 171. Dissent
183 172. Gratuitous
184 173. Departure
185 174. Voyage
186 175. Almost
187 176. Anger
188 177. Scratches
189 178. Discover
190 179. Out of Control
191 180. Perforce
192 181. Her
193 182. Myth
194 183. Him
195 184. Bleeding
196 185. Perfidy
197 186. Take Me Out of This Town
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2
2. Started
3
3. Cracked Mask
4
4. Fiancé
5
5. Whisper
6
6. Academy
7
7. Empty Chair
8
8. Untitled
9
9. Goddess
10
10. Orange
11
11. Idiot
12
12. Red Rose
13
13. Smooth Criminal
14
14. New Toy
15
15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16
16. Punishment
17
17. Misner Space
18
18. Light
19
19. Deal
20
20. Cemetery
21
21. Rozeale Ankhatia
22
22. If It Was You
23
23. Old Friend
24
24. Falling
25
25. Imbalance
26
26. Struggle
27
27. The Healer
28
28. Reset
29
29. Fairytale
30
30. Forgotten
31
31. Debutante
32
32. Silly
33
33. Artemis
34
34. Partner In Crime
35
35. Nuts
36
36. Framed
37
37. Cola
38
38. Bored
39
39. Variable
40
40. Help!
41
41. Zero
42
42. Trick Or Treat?
43
43. The Game
44
44. Chapter Two
45
45. Continued
46
pengumuman: CAST
47
46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48
47. Lust
49
48. Home
50
49. Right Side
51
50. Riddle
52
51. Decode
53
52. Sweet Seventeen
54
53. Spring Cup
55
54. Mystery
56
55. Mr. Rious
57
56. Interrogation
58
57. Database
59
58. Dancing
60
59. Suspect
61
60. May, 1st
62
61. UNO
63
62. Damn
64
63. Wait For Me
65
64. Sacrifice
66
65. Bloody Rose
67
66. Raflesia
68
67. Lottery
69
68. Racing
70
69. Asanatha
71
70. Bury The Hatchet
72
71. Tree
73
72. The Winner
74
73. Healed
75
74. Reminisce
76
75. Andromeda
77
76. Grim
78
77. Farewell
79
78. Encounter
80
79. Sleep
81
80. Once Upon A Time
82
81. Prison
83
82. Open
84
83. Falsity
85
84. Second Meeting
86
85. Axiom
87
86. Helpless
88
87. Misfortune
89
88. Animus
90
CHAPTER BONUS [1-A]
91
CHAPTER BONUS [1-B]
92
CHAPTER BONUS [2-A]
93
CHAPTER BONUS [2-B]
94
CHAPTER BONUS [3-A]
95
CHAPTER BONUS [3-B]
96
CHAPTER BONUS [4-A]
97
CHAPTER BONUS [4-B]
98
89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99
90. Crestfallen
100
91. Agreement
101
92. Pizza Delivery (Part 1)
102
93. Pizza Delivery (Part 2)
103
94. Narrow (Part 1)
104
95. Narrow (Part 2)
105
96. Possessed
106
97. Sorrow (Part 1)
107
98. Sorrow (Part 2)
108
99. Jack O'Lantern
109
100. Beginning Of The End
110
101. Laxity
111
102. Savior
112
103. Hostage
113
104. Bad Idea
114
105. Underestimate
115
106. Memorials
116
107. Solving
117
108. Misunderstanding
118
109. Curiosity Killed The Cat
119
110. Agony
120
111. Distancing
121
112. Foolish
122
113. Fall To Pieces
123
114. Aphrodite
124
115. Loosing Grip
125
116. Insanity
126
117. Ruthless
127
118. Ignorance
128
119. Hypocrisy
129
120. Complicated
130
121. Dignity
131
122. Stupidity
132
123. Catacombs
133
124. Absurd
134
125. Backlash
135
126. Vanished
136
127. Break Free
137
128. Darkness In The Light
138
129. Ambush On All Sides
139
130. Mare's Nest
140
131. Tenet
141
132. Clandestine
142
133. Judas
143
134. Sinister
144
135. Desire
145
136. Ares
146
137. Embrace
147
138. Up In The Air
148
139. Prejudice
149
pengumuman: LIST TOKOH
150
140. Diverge
151
141. Noticed
152
142. Float Kiss
153
143. Liars
154
144. Reunion
155
145. The Answer
156
146. Liberated
157
147. Carnage
158
148. Vendetta
159
149. 1 Stone For 2 Birds
160
150. Better Place
161
151. Pleasure
162
152. Trust & Hope
163
153. Rest
164
154. Good & Bad News
165
155. Bald Cypress
166
156. Leave
167
157. Painful
168
158. Invitation
169
159. A Guest
170
160. Piece Of Art
171
161. Aware
172
162. Journey
173
163. Inland
174
164. Westafo Hall
175
pengumuman: BREAK
176
165. Madam Derba
177
166. Good Side
178
167. The Stage
179
168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180
169. Deception
181
170. Evaluate
182
171. Dissent
183
172. Gratuitous
184
173. Departure
185
174. Voyage
186
175. Almost
187
176. Anger
188
177. Scratches
189
178. Discover
190
179. Out of Control
191
180. Perforce
192
181. Her
193
182. Myth
194
183. Him
195
184. Bleeding
196
185. Perfidy
197
186. Take Me Out of This Town

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!