2. Started

Di depan pintu aula sebuah mansion putih berpilar raksasa yang atapnya lenyap dalam kabut, seorang gadis sedang menyerahkan selembar bukti undangan kepada dua penerima tamu. Gaun satin tanpa kerah yang mengaliri tubuh jam-pasirnya senada dengan hitam di rambutnya yang panjang dan ikal.

Usai memindai barcode di undangan dan mencocokan identitasnya, sang penerima tamu membungkuk dengan hormat kepada tamunya. Melihat tanda itu, dua penjaga pintu segera membukakan pintu untuknya secara bersamaan. Begitu melangkahi aula, telinganya yang digantungi permata bintang langsung disapa serbuan suara.

Tempat itu sudah kehilangan fungsi utamanya sebagai forum diskusi dan konferensi para bangsawan. Semenjak mundurnya keluarga kerajaan dari pemerintahan, tempat itu menjelma menjadi ajang perlombaan. Arogansi mereka menjadi tidak terkontrol akibat anggapan bahwa sudah tak ada lagi figur yang mendominasi struktur sosial mereka. Setiap orang yang hadir berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dengan aset yang melekat di tubuh, serta supremasi yang tertanam pada nama keluarga mereka.

Si gadis bergaun hitam tidak punya waktu untuk bergaul dengan mereka, setidaknya untuk malam ini. Ia memikul tugas dan tanggung jawab di pundaknya. Statusnya sebagai seorang putri dari keluarga bangsawan Aplistia yang diberkahi sebuah wilayah, memberinya kesempatan besar dalam menyukseskan misi bersama teman-temannya yang sedang ambil bagian di tempat lain.

"Mencatat rute berjaga para penyidik dan mengirimkannya pada kami, membimbing ketiga target kita ke tempat minim pengawasan, dan yang terpenting, kau harus memastikan betul bahwa para penyidik itu terpisah dari pimpinan mereka, Antoni Barier, kepala keluarga Marquess Barier yang rumornya akan hadir malam ini. Orang-orang itu bersembunyi seperti bunglon, telitilah," adalah tugas yang diintruksikan Zeze kepadanya.

Waktunya terbatas, tapi gadis itu sadar dirinya tidak boleh bertindak gegabah. Ia harus bersabar dan tetap mempertahankan sandiwaranya, karena tak dapat dipungkiri bahwa sejumlah tamu di ruangan itu—kebanyakan para lelaki—mengenalinya dan menyapanya dengan nama.

"Lady Juni, apa kabar?"

Satu sapaan.

"Selamat malam, Lady Mavros. Anda semakin cantik."

Dan satu lagi, hingga akhirnya menumpuk sampai tak terhitung jari. Tak jarang Juni juga memergoki tatapan lapar yang terkesan mengobjektifikasi dirinya. Memindai kulitnya yang emas kecokelatan, bibirnya yang ranum, mata besar dengan lipatan ganda, jari-jarinya yang panjang dan lentik, tubuhnya yang bengkak di bagian yang tepat, serta pinggangnya yang sempit.

Para tamu wanita memandangnya dengan sinis, namun ketika membuat kontak mata dengannya, topeng ramah langsung terpasang di wajah mereka. Juni tidak senaif itu untuk dapat dengan gampang tergocek oleh kepalsuan. Bibir mereka mungkin melukiskan senyuman, namun yang sebenarnya tertoreh adalah cibiran. Selayaknya cermin, tersenyum hanya jika dihadapkan dengan senyuman, tak punya pendirian, hanya mengikuti pantulan. Dan sekarang, Juni harus menguatkan mental supaya dirinya dapat bertahan memainkan perannya menjadi bagian dari mereka.

Juni membalas sapaan yang telah bertumpuk itu dengan senyuman kering, lantas bergegas kabur ke lantai dua agar dapat mengamati ruangan di bawah secara utuh. Tatapannya tertumbuk pada jendela tinggi yang berjejer di salah satu dinding. Bagian luar jendela itu disandari oleh tiga buah punggung yang dilapisi bahan jubah berwarna gelap.

Cahaya di mata Juni kontan meredup, menjadikannya bagian dari malam. Ia membalik badan, menyandarkan punggungnya yang terbuka pada palang pembatas, lalu menghubungi seseorang lewat perangkat nirkabel yang tersemat di antingnya.

Di saat yang sama, tepat satu jam sebelum mimpi buruk itu terjadi, masing-masing pemilik dari tiga buah punggung berjubah itu—dua orang pemuda di awal 20-an dan seorang perempuan berambut cokelat yang tampaknya masih berada di usia remaja—tengah saling bercakap-cakap.

Ketiganya mengenakan busana serupa yang merupakan seragam khusus sebuah instansi, terdiri atas kemeja dan celana berbahan tebal dan cukup kasar di bagian luar namun elastis, serta jaket berupa jubah panjang semata kaki. Seluruhnya berwarna hitam pekat. Jubah mereka dibiarkan tidak dikancing untuk memamerkan lencana berpangkat yang mengisi dada hingga lengan atas kemeja.

"Kabut malam ini cukup tebal." Yang perempuan berkomentar, menengadahkan kepala dengan senyum tipis menggurat bibir, menghimpun dingin yang menggigit kulit. Di era dimana dunia sangat mendambakan langit yang bersih, ia mungkin adalah bagian dari sedikit penggemar atmosfer menghanyutkan yang ditawarkan oleh kabut. Ia melirik ke kanan, kepada dua pemuda yang ikut mendampinginya, "Ngomong-ngomong, sudah satu bulan berlalu semenjak kalian dimasukkan ke divisi ini. Bagaimana perasaanmu, Luke?" Ia menoleh kepada Si Rambut Pirang Pasir, kemudian sedikit mencondongkan kepala agar dapat melihat Si Rambut Hitam di ujung sana, "Ulbert?"

"Aku merasa jauh lebih baik dari versi diriku yang dulu," balas Luke dengan pandangan menerawang. "Waktu berlalu begitu cepat."

"Apa alasan kalian memilih pekerjaan ini?" Perempuan itu bertanya lagi dengan kasual.

Luke menjawab, "Apa lagi selain karena uang yang banyak dan jaminan hidupnya?" Suaranya terdengar sangat mantap sekaligus polos bak anak kecil. Di sebelah kanannya, Ulbert menyikapi dengan senyum dan anggukan kepala.

"Sudah kuduga karena itu." Si Perempuan mendesah dengan mata terpejam. "Apa rencana kalian setelah masa pelatihan kalian berakhir?"

"Kami sudah sepakat akan mentraktir Glen makan malam," ucap Ulbert. "Bagaimana pun, kami tidak akan bisa sampai sejauh ini tanpa bantuannya. Dia adalah mentor yang hebat, membimbing kami yang masih amatir ini dengan tekun dan penuh tanggung jawab. Sulit dipercaya usianya 7 tahun lebih muda dariku. Ngomong-ngomong, apa yang akan kau lakukan dengan upah pertamamu, Luke?"

"Kurasa aku akan menabungnya terlebih dahulu. Untuk kepentingan keluargaku, tentu saja. Aku akan membelikan mereka unit apartemen yang lebih luas. Benar-benar memuakkan untuk berbagi kamar mandi dengan kakak-kakak perempuanku.”

“Kalian hanya mempunyai satu kamar mandi di rumah kalian?” Perempuan itu tampak syok, lalu prihatin.

“Kami para warga lembah dan ngarai tidak seberuntung kalian, para penduduk bukit dan tebing.” Luke mendesah, lalu mengepalkan tangannya yang terlipat di belakang pinggang dengan mata menyala oleh tekad, "Kau bagaimana, Kak?"

"Aku akan berkeliling dunia sampai puas!" Ulbert menyempaikannya dengan senyum mengembang. "Membayangkan mengunjungi tempat-tempat yang hanya dapat kulihat lewat peta di pelajaran geografi semasa sekolah, membuat darahku mendidih."

Si perempuan tersenyum hangat, "Mimpi yang indah. Andaikan aku punya satu."

"Yeah, apa yang tidak bisa didapatkan oleh seorang putri bangsawan?" Luke menaikkan sebelah alis kepada perempuan itu.

Pipi perempuan itu menggembung, "Apa itu sindiran?"

"Tidak, tidak. Ayolah, aku hanya bercanda," Luke tertawa.

Mereka lanjut berbincang, berbagi pikiran lewat canda dan tawa. Hingga tiba saatnya keakraban itu diinterupsi oleh bunyi tembakan dan teriakan orang-orang di dalam bangunan tempat mereka menyandar.

Usai berdiskusi lewat tatapan mata, mereka pun sepakat untuk memprioritaskan orang-orang di dalam bangunan. Namun, bunyi benda jatuh yang terdengar secara mendadak mengunci langkah mereka di tempat.

Refleks, mereka menoleh ke sumber bunyi. Ternyata di hadapan mereka sesuatu yang mengerikan telah menanti.

Dengan topeng berbentuk aneh melekat di wajah, sesosok perempuan datang menghampiri mereka bertiga. Rambutnya adalah ekor perak yang berayun di balik punggungnya. Selangkah demi selangkah yang terasa selamanya. Tubuhnya tak lebih besar dari seorang gadis di masa remajanya, berlindung dari gigitan angin di balik kaus hitam dan jaket denim biru. Di kedua tangannya, dalam cengkeraman jari-jari putih selentik ranting, tersemat pedang tanpa lekukan.

"Bersiap," Ulbert berbisik kepada kedua rekannya. Tanpa menurunkan penjagaan, masing-masing dari mereka mencabut pedang yang menggantung di samping pinggang.

"Siapa kau?" Selidik Ulbert. Nadanya rendah, dingin, berkabut. Suara dan sikapnya berubah sangat defensif.

"Manusia, tentunya," Suara perempuan misterius itu teredam oleh topeng, tapi tetap tak mengurangi kemerduannya.

"Apakah kau dalang di balik kekacauan ini?"

"Bukankah itu sudah jelas?"

"Meski begitu kau menyebut dirimu manusia?"

"Apakah kau juga sudah pantas disebut 'manusia'?"

"Apa alasanmu membuat kekacauan?" Kini Luke yang bertanya. Suaranya tidak setenang Ulbert.

"Sejak detik pertama aku memutuskan untuk mengambil jalan ini, aku percaya bahwa mengambil satu nyawa di lain pihak akan dapat menyelamatkan nyawa yang lain. Karena itulah aku tidak memiliki keraguan." Jawaban yang begitu percaya diri. Selagi mengatakannya, perempuan bertopeng itu memainkan pedang di tangan kirinya dengan enteng, "Jika kalian menanyakan tujuannya, tentu saja, semua untuk kedamaian."

"Omong kosong!" Luke berteriak lantang. Setiap inci sel dalam tubuhnya menolak kata demi kata yang terlontar dari mulut manis itu.

Tanpa menunda-nunda, mereka bertiga maju menyerang secara bersamaan. Luke melayangkan serangan dari arah depan dan langsung ditangkis oleh pedang di tangan kirinya. Pertemuan dua lempeng logam menciptakan bunyi yang memekakkan telinga.

Masih di detik yang sama, Ulbert menyerang dari arah belakang, dan betapa terkejutnya Ulbert saat melihat dia menahan serangannya tanpa sedikit pun membalik badan. Tangan kanannya terlipat ke belakang dan menahan pedangnya! Sulit dipercaya serangan berbarengan dan tanpa jeda itu dapat dihentikannya dengan mudah.

Di detik berikutnya, dia menekan mundur pedang mereka sekaligus menendang Luke dan Ulbert bergantian. Tak berhenti sampai di situ, dia melempar salah satu pedangnya ke arah si Perempuan Berambut Cokelat sebelum perempuan itu sempat menyokong kedua rekannya. Kaki kanannya menjadi incaran dan tepat sasaran, logam tajam itu menembus daging betisnya dan sukses meruntuhkan pijakannya, memberinya jerit pedih penderitaan dan kerasnya permukaan tanah.

Luke dan Ulbert tidak menyadari hal itu lantaran terlalu fokus pada musuh mereka. Tidak ada sedikit pun niat di benak mereka untuk memberi waktu kepada sang musuh, sehingga semuanya dilakukan secara bersamaan.

Kiri dan kanan, depan dan belakang. Serangan demi serangan mereka lancarkan dari dua sisi berbeda. Dentingan pedang berangsur-angsur memecah kesunyian malam. Detik demi detik berlalu, tapi semua serangan ditangkis dengan mudah. Kurang lebih tiga menit mereka melakukan tarian mematikan itu.

Tetapi, pada akhirnya, permainan kekanakan itu memang harus segera diakhiri. Di saat Luke melancarkan serangan dari arah depan, dia menghindar ke samping, sehingga yang berdiri di hadapan Luke bukanlah lagi orang yang sama, bukan lagi musuhnya.

Pedang Luke dengan mulusnya menembus dada Ulbert.

Sama seperti saat Luke mendengar narasi omong kosong tentang 'kedamaian' itu, setiap sel di dalam tubuhnya berontak, sama sekali tak sudi mempercayai realitas. Ulbert ambruk dengan pedang Luke yang masih tertancap tepat di dadanya, mengoyak jantung yang selama 22 tahun bekerja keras memberi pemuda itu kehidupan.

“Kak Ulbert!” Sia-sia. Bahkan jika ia berteriak tepat di lubang telinganya, tindakan itu tetap tak akan bisa membuat matanya kembali terbuka. “Sialan kau!” Luke meraung. Ia marah, murka. Namun, ia tidak tahu siapa yang berhak diterpa oleh gelombang emosi itu. Ia hanya ingin seluruh dunia yang tidak adil ini menghilang.

"Mengapa kau berteriak padaku? Bukankah kau sendiri yang membunuhnya?" Dia bertanya dengan ketenangan di luar nalar, seakan-akan seonggok hati tak pernah tertanam di dalam rongga dadanya.

Urat menyembul di kulit leher dan pelipis Luke. Tubuhnya bergetar murka. Ia maju, menyerang sambil berteriak. Akal sehatnya telah tertindih oleh tumpukan emosi. Yang ada di pikirannya hanyalah cara untuk melampiaskan amarah yang sudah tak terbendung kepada sosok bertopeng sialan itu.

Baginya, serangan Luke kali ini tidak lebih dari sekedar cubitan tiba-tiba seorang bocah yang tantrum. Bahkan lebih buruk dari saat-saat kolaborasinya dengan Ulbert.

Dalam sekejap mata, dua mayat manusia telah terbujur kaku di atas dinginnya tanah, membatasi sosok bertopeng dengan perempuan berambut cokelat sebahu, yang hanya bisa membulatkan mata dalam ketidakberdayaan.

Rasanya baru satu jam mereka saling bertukar mimpi, kini keduanya sudah tiada lagi di muka bumi, dan mimpi-mimpi itu... telah hangus.

Segampang itu dia mengambil nyawa seseorang....

"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Perempuan itu menyeka air matanya dengan punggung tangan. Matanya menyiram monster di hadapannya dengan lautan kebencian. "Mengapa kita harus bertarung bila kita mempunyai tujuan yang sama?"

Waktu kian menipis namun hanya ada keheningan yang dengan erat memeluk jiwa, dan pelukan itu terurai begitu dia memutuskan untuk membuka suaranya.

"Jika hal seperti itu saja kau tidak tahu, sebaiknya kembalikan saja senjatamu itu." Mata biru di lubang topeng itu memejam, "Orang yang berhak memegang senjata adalah dia yang telah paham betul apa yang harus diperbuat, serta memiliki kesadaran penuh atas semua tindakannya."

Perempuan itu mengerutkan alis. Ia tidak mengerti. Tapi, apakah wajar bila ia bisa merasakan secercah empati terhadap seseorang yang jelas-jelas adalah musuh?

"Aku tidak bisa berlama-lama. Maaf, jika tidak dalam situasi seperti ini, kita mungkin dapat saling mengenal dalam cara yang lebih baik."

Usai mengatakannya, sepasang kaki ramping berbalut denim mendekati perempuan yang bersimbah darah dengan perlahan. Tidak perlu terburu-buru, sebab jiwa perempuan itu sudah pasti akan lenyap di tangannya. Ia berhenti satu langkah darinya dan mengangkat pedang di tangan kirinya ke udara.

Perempuan itu tahu betul seburuk apa realita yang akan menjemputnya, dan ia menerima takdirnya dengan lapang dada. Kelopak matanya turun perlahan membungkus kedua bola matanya. Ia telah menyerah untuk bangkit, karena upaya itu sudah tidak lagi diperlukan. Tanpa menggunakan kemampuan spesialnya sekalipun, jawabannya sudah pasti satu: mati.

Namun, kejanggalan itu ia temukan; sudah sepuluh detik waktu berlalu, pedang itu belum juga menghunjam tubuhnya. Padahal ia berharap monster itu melakukannya dengan cepat. Ia sudah tak ingin disiksa terlalu lama oleh rasa sakit di kakinya. Akan tetapi, mengapa waktu seakan ikut mempermainkannya?

Dia pun memberanikan diri membuka mata. Sesuatu menghalangi pandangannya dari cahaya; punggung seorang lelaki berambut sepekat malam yang di kedua tangannya tergenggam katana hitam berornamen hijau menyala.

Terpopuler

Comments

Pipit Wahyuni

Pipit Wahyuni

gua membaca sambil memutar otak..

2022-05-26

1

tijelclub

tijelclub

siaap mulai

2021-11-07

2

tijelclub

tijelclub

apaa yg terjadi

2021-11-04

2

lihat semua
Episodes
1 1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2 2. Started
3 3. Cracked Mask
4 4. Fiancé
5 5. Whisper
6 6. Academy
7 7. Empty Chair
8 8. Untitled
9 9. Goddess
10 10. Orange
11 11. Idiot
12 12. Red Rose
13 13. Smooth Criminal
14 14. New Toy
15 15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16 16. Punishment
17 17. Misner Space
18 18. Light
19 19. Deal
20 20. Cemetery
21 21. Rozeale Ankhatia
22 22. If It Was You
23 23. Old Friend
24 24. Falling
25 25. Imbalance
26 26. Struggle
27 27. The Healer
28 28. Reset
29 29. Fairytale
30 30. Forgotten
31 31. Debutante
32 32. Silly
33 33. Artemis
34 34. Partner In Crime
35 35. Nuts
36 36. Framed
37 37. Cola
38 38. Bored
39 39. Variable
40 40. Help!
41 41. Zero
42 42. Trick Or Treat?
43 43. The Game
44 44. Chapter Two
45 45. Continued
46 pengumuman: CAST
47 46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48 47. Lust
49 48. Home
50 49. Right Side
51 50. Riddle
52 51. Decode
53 52. Sweet Seventeen
54 53. Spring Cup
55 54. Mystery
56 55. Mr. Rious
57 56. Interrogation
58 57. Database
59 58. Dancing
60 59. Suspect
61 60. May, 1st
62 61. UNO
63 62. Damn
64 63. Wait For Me
65 64. Sacrifice
66 65. Bloody Rose
67 66. Raflesia
68 67. Lottery
69 68. Racing
70 69. Asanatha
71 70. Bury The Hatchet
72 71. Tree
73 72. The Winner
74 73. Healed
75 74. Reminisce
76 75. Andromeda
77 76. Grim
78 77. Farewell
79 78. Encounter
80 79. Sleep
81 80. Once Upon A Time
82 81. Prison
83 82. Open
84 83. Falsity
85 84. Second Meeting
86 85. Axiom
87 86. Helpless
88 87. Misfortune
89 88. Animus
90 CHAPTER BONUS [1-A]
91 CHAPTER BONUS [1-B]
92 CHAPTER BONUS [2-A]
93 CHAPTER BONUS [2-B]
94 CHAPTER BONUS [3-A]
95 CHAPTER BONUS [3-B]
96 CHAPTER BONUS [4-A]
97 CHAPTER BONUS [4-B]
98 89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99 90. Crestfallen
100 91. Agreement
101 92. Pizza Delivery (Part 1)
102 93. Pizza Delivery (Part 2)
103 94. Narrow (Part 1)
104 95. Narrow (Part 2)
105 96. Possessed
106 97. Sorrow (Part 1)
107 98. Sorrow (Part 2)
108 99. Jack O'Lantern
109 100. Beginning Of The End
110 101. Laxity
111 102. Savior
112 103. Hostage
113 104. Bad Idea
114 105. Underestimate
115 106. Memorials
116 107. Solving
117 108. Misunderstanding
118 109. Curiosity Killed The Cat
119 110. Agony
120 111. Distancing
121 112. Foolish
122 113. Fall To Pieces
123 114. Aphrodite
124 115. Loosing Grip
125 116. Insanity
126 117. Ruthless
127 118. Ignorance
128 119. Hypocrisy
129 120. Complicated
130 121. Dignity
131 122. Stupidity
132 123. Catacombs
133 124. Absurd
134 125. Backlash
135 126. Vanished
136 127. Break Free
137 128. Darkness In The Light
138 129. Ambush On All Sides
139 130. Mare's Nest
140 131. Tenet
141 132. Clandestine
142 133. Judas
143 134. Sinister
144 135. Desire
145 136. Ares
146 137. Embrace
147 138. Up In The Air
148 139. Prejudice
149 pengumuman: LIST TOKOH
150 140. Diverge
151 141. Noticed
152 142. Float Kiss
153 143. Liars
154 144. Reunion
155 145. The Answer
156 146. Liberated
157 147. Carnage
158 148. Vendetta
159 149. 1 Stone For 2 Birds
160 150. Better Place
161 151. Pleasure
162 152. Trust & Hope
163 153. Rest
164 154. Good & Bad News
165 155. Bald Cypress
166 156. Leave
167 157. Painful
168 158. Invitation
169 159. A Guest
170 160. Piece Of Art
171 161. Aware
172 162. Journey
173 163. Inland
174 164. Westafo Hall
175 pengumuman: BREAK
176 165. Madam Derba
177 166. Good Side
178 167. The Stage
179 168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180 169. Deception
181 170. Evaluate
182 171. Dissent
183 172. Gratuitous
184 173. Departure
185 174. Voyage
186 175. Almost
187 176. Anger
188 177. Scratches
189 178. Discover
190 179. Out of Control
191 180. Perforce
192 181. Her
193 182. Myth
194 183. Him
195 184. Bleeding
196 185. Perfidy
197 186. Take Me Out of This Town
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2
2. Started
3
3. Cracked Mask
4
4. Fiancé
5
5. Whisper
6
6. Academy
7
7. Empty Chair
8
8. Untitled
9
9. Goddess
10
10. Orange
11
11. Idiot
12
12. Red Rose
13
13. Smooth Criminal
14
14. New Toy
15
15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16
16. Punishment
17
17. Misner Space
18
18. Light
19
19. Deal
20
20. Cemetery
21
21. Rozeale Ankhatia
22
22. If It Was You
23
23. Old Friend
24
24. Falling
25
25. Imbalance
26
26. Struggle
27
27. The Healer
28
28. Reset
29
29. Fairytale
30
30. Forgotten
31
31. Debutante
32
32. Silly
33
33. Artemis
34
34. Partner In Crime
35
35. Nuts
36
36. Framed
37
37. Cola
38
38. Bored
39
39. Variable
40
40. Help!
41
41. Zero
42
42. Trick Or Treat?
43
43. The Game
44
44. Chapter Two
45
45. Continued
46
pengumuman: CAST
47
46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48
47. Lust
49
48. Home
50
49. Right Side
51
50. Riddle
52
51. Decode
53
52. Sweet Seventeen
54
53. Spring Cup
55
54. Mystery
56
55. Mr. Rious
57
56. Interrogation
58
57. Database
59
58. Dancing
60
59. Suspect
61
60. May, 1st
62
61. UNO
63
62. Damn
64
63. Wait For Me
65
64. Sacrifice
66
65. Bloody Rose
67
66. Raflesia
68
67. Lottery
69
68. Racing
70
69. Asanatha
71
70. Bury The Hatchet
72
71. Tree
73
72. The Winner
74
73. Healed
75
74. Reminisce
76
75. Andromeda
77
76. Grim
78
77. Farewell
79
78. Encounter
80
79. Sleep
81
80. Once Upon A Time
82
81. Prison
83
82. Open
84
83. Falsity
85
84. Second Meeting
86
85. Axiom
87
86. Helpless
88
87. Misfortune
89
88. Animus
90
CHAPTER BONUS [1-A]
91
CHAPTER BONUS [1-B]
92
CHAPTER BONUS [2-A]
93
CHAPTER BONUS [2-B]
94
CHAPTER BONUS [3-A]
95
CHAPTER BONUS [3-B]
96
CHAPTER BONUS [4-A]
97
CHAPTER BONUS [4-B]
98
89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99
90. Crestfallen
100
91. Agreement
101
92. Pizza Delivery (Part 1)
102
93. Pizza Delivery (Part 2)
103
94. Narrow (Part 1)
104
95. Narrow (Part 2)
105
96. Possessed
106
97. Sorrow (Part 1)
107
98. Sorrow (Part 2)
108
99. Jack O'Lantern
109
100. Beginning Of The End
110
101. Laxity
111
102. Savior
112
103. Hostage
113
104. Bad Idea
114
105. Underestimate
115
106. Memorials
116
107. Solving
117
108. Misunderstanding
118
109. Curiosity Killed The Cat
119
110. Agony
120
111. Distancing
121
112. Foolish
122
113. Fall To Pieces
123
114. Aphrodite
124
115. Loosing Grip
125
116. Insanity
126
117. Ruthless
127
118. Ignorance
128
119. Hypocrisy
129
120. Complicated
130
121. Dignity
131
122. Stupidity
132
123. Catacombs
133
124. Absurd
134
125. Backlash
135
126. Vanished
136
127. Break Free
137
128. Darkness In The Light
138
129. Ambush On All Sides
139
130. Mare's Nest
140
131. Tenet
141
132. Clandestine
142
133. Judas
143
134. Sinister
144
135. Desire
145
136. Ares
146
137. Embrace
147
138. Up In The Air
148
139. Prejudice
149
pengumuman: LIST TOKOH
150
140. Diverge
151
141. Noticed
152
142. Float Kiss
153
143. Liars
154
144. Reunion
155
145. The Answer
156
146. Liberated
157
147. Carnage
158
148. Vendetta
159
149. 1 Stone For 2 Birds
160
150. Better Place
161
151. Pleasure
162
152. Trust & Hope
163
153. Rest
164
154. Good & Bad News
165
155. Bald Cypress
166
156. Leave
167
157. Painful
168
158. Invitation
169
159. A Guest
170
160. Piece Of Art
171
161. Aware
172
162. Journey
173
163. Inland
174
164. Westafo Hall
175
pengumuman: BREAK
176
165. Madam Derba
177
166. Good Side
178
167. The Stage
179
168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180
169. Deception
181
170. Evaluate
182
171. Dissent
183
172. Gratuitous
184
173. Departure
185
174. Voyage
186
175. Almost
187
176. Anger
188
177. Scratches
189
178. Discover
190
179. Out of Control
191
180. Perforce
192
181. Her
193
182. Myth
194
183. Him
195
184. Bleeding
196
185. Perfidy
197
186. Take Me Out of This Town

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!