Di depan pintu aula sebuah mansion putih berpilar raksasa yang atapnya lenyap dalam kabut, seorang gadis sedang menyerahkan selembar bukti undangan kepada dua penerima tamu. Gaun satin tanpa kerah yang mengaliri tubuh jam-pasirnya senada dengan hitam di rambutnya yang panjang dan ikal.
Usai memindai barcode di undangan dan mencocokan identitasnya, sang penerima tamu membungkuk dengan hormat kepada tamunya. Melihat tanda itu, dua penjaga pintu segera membukakan pintu untuknya secara bersamaan. Begitu melangkahi aula, telinganya yang digantungi permata bintang langsung disapa serbuan suara.
Tempat itu sudah kehilangan fungsi utamanya sebagai forum diskusi dan konferensi para bangsawan. Semenjak mundurnya keluarga kerajaan dari pemerintahan, tempat itu menjelma menjadi ajang perlombaan. Arogansi mereka menjadi tidak terkontrol akibat anggapan bahwa sudah tak ada lagi figur yang mendominasi struktur sosial mereka. Setiap orang yang hadir berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dengan aset yang melekat di tubuh, serta supremasi yang tertanam pada nama keluarga mereka.
Si gadis bergaun hitam tidak punya waktu untuk bergaul dengan mereka, setidaknya untuk malam ini. Ia memikul tugas dan tanggung jawab di pundaknya. Statusnya sebagai seorang putri dari keluarga bangsawan Aplistia yang diberkahi sebuah wilayah, memberinya kesempatan besar dalam menyukseskan misi bersama teman-temannya yang sedang ambil bagian di tempat lain.
"Mencatat rute berjaga para penyidik dan mengirimkannya pada kami, membimbing ketiga target kita ke tempat minim pengawasan, dan yang terpenting, kau harus memastikan betul bahwa para penyidik itu terpisah dari pimpinan mereka, Antoni Barier, kepala keluarga Marquess Barier yang rumornya akan hadir malam ini. Orang-orang itu bersembunyi seperti bunglon, telitilah," adalah tugas yang diintruksikan Zeze kepadanya.
Waktunya terbatas, tapi gadis itu sadar dirinya tidak boleh bertindak gegabah. Ia harus bersabar dan tetap mempertahankan sandiwaranya, karena tak dapat dipungkiri bahwa sejumlah tamu di ruangan itu—kebanyakan para lelaki—mengenalinya dan menyapanya dengan nama.
"Lady Juni, apa kabar?"
Satu sapaan.
"Selamat malam, Lady Mavros. Anda semakin cantik."
Dan satu lagi, hingga akhirnya menumpuk sampai tak terhitung jari. Tak jarang Juni juga memergoki tatapan lapar yang terkesan mengobjektifikasi dirinya. Memindai kulitnya yang emas kecokelatan, bibirnya yang ranum, mata besar dengan lipatan ganda, jari-jarinya yang panjang dan lentik, tubuhnya yang bengkak di bagian yang tepat, serta pinggangnya yang sempit.
Para tamu wanita memandangnya dengan sinis, namun ketika membuat kontak mata dengannya, topeng ramah langsung terpasang di wajah mereka. Juni tidak senaif itu untuk dapat dengan gampang tergocek oleh kepalsuan. Bibir mereka mungkin melukiskan senyuman, namun yang sebenarnya tertoreh adalah cibiran. Selayaknya cermin, tersenyum hanya jika dihadapkan dengan senyuman, tak punya pendirian, hanya mengikuti pantulan. Dan sekarang, Juni harus menguatkan mental supaya dirinya dapat bertahan memainkan perannya menjadi bagian dari mereka.
Juni membalas sapaan yang telah bertumpuk itu dengan senyuman kering, lantas bergegas kabur ke lantai dua agar dapat mengamati ruangan di bawah secara utuh. Tatapannya tertumbuk pada jendela tinggi yang berjejer di salah satu dinding. Bagian luar jendela itu disandari oleh tiga buah punggung yang dilapisi bahan jubah berwarna gelap.
Cahaya di mata Juni kontan meredup, menjadikannya bagian dari malam. Ia membalik badan, menyandarkan punggungnya yang terbuka pada palang pembatas, lalu menghubungi seseorang lewat perangkat nirkabel yang tersemat di antingnya.
Di saat yang sama, tepat satu jam sebelum mimpi buruk itu terjadi, masing-masing pemilik dari tiga buah punggung berjubah itu—dua orang pemuda di awal 20-an dan seorang perempuan berambut cokelat yang tampaknya masih berada di usia remaja—tengah saling bercakap-cakap.
Ketiganya mengenakan busana serupa yang merupakan seragam khusus sebuah instansi, terdiri atas kemeja dan celana berbahan tebal dan cukup kasar di bagian luar namun elastis, serta jaket berupa jubah panjang semata kaki. Seluruhnya berwarna hitam pekat. Jubah mereka dibiarkan tidak dikancing untuk memamerkan lencana berpangkat yang mengisi dada hingga lengan atas kemeja.
"Kabut malam ini cukup tebal." Yang perempuan berkomentar, menengadahkan kepala dengan senyum tipis menggurat bibir, menghimpun dingin yang menggigit kulit. Di era dimana dunia sangat mendambakan langit yang bersih, ia mungkin adalah bagian dari sedikit penggemar atmosfer menghanyutkan yang ditawarkan oleh kabut. Ia melirik ke kanan, kepada dua pemuda yang ikut mendampinginya, "Ngomong-ngomong, sudah satu bulan berlalu semenjak kalian dimasukkan ke divisi ini. Bagaimana perasaanmu, Luke?" Ia menoleh kepada Si Rambut Pirang Pasir, kemudian sedikit mencondongkan kepala agar dapat melihat Si Rambut Hitam di ujung sana, "Ulbert?"
"Aku merasa jauh lebih baik dari versi diriku yang dulu," balas Luke dengan pandangan menerawang. "Waktu berlalu begitu cepat."
"Apa alasan kalian memilih pekerjaan ini?" Perempuan itu bertanya lagi dengan kasual.
Luke menjawab, "Apa lagi selain karena uang yang banyak dan jaminan hidupnya?" Suaranya terdengar sangat mantap sekaligus polos bak anak kecil. Di sebelah kanannya, Ulbert menyikapi dengan senyum dan anggukan kepala.
"Sudah kuduga karena itu." Si Perempuan mendesah dengan mata terpejam. "Apa rencana kalian setelah masa pelatihan kalian berakhir?"
"Kami sudah sepakat akan mentraktir Glen makan malam," ucap Ulbert. "Bagaimana pun, kami tidak akan bisa sampai sejauh ini tanpa bantuannya. Dia adalah mentor yang hebat, membimbing kami yang masih amatir ini dengan tekun dan penuh tanggung jawab. Sulit dipercaya usianya 7 tahun lebih muda dariku. Ngomong-ngomong, apa yang akan kau lakukan dengan upah pertamamu, Luke?"
"Kurasa aku akan menabungnya terlebih dahulu. Untuk kepentingan keluargaku, tentu saja. Aku akan membelikan mereka unit apartemen yang lebih luas. Benar-benar memuakkan untuk berbagi kamar mandi dengan kakak-kakak perempuanku.”
“Kalian hanya mempunyai satu kamar mandi di rumah kalian?” Perempuan itu tampak syok, lalu prihatin.
“Kami para warga lembah dan ngarai tidak seberuntung kalian, para penduduk bukit dan tebing.” Luke mendesah, lalu mengepalkan tangannya yang terlipat di belakang pinggang dengan mata menyala oleh tekad, "Kau bagaimana, Kak?"
"Aku akan berkeliling dunia sampai puas!" Ulbert menyempaikannya dengan senyum mengembang. "Membayangkan mengunjungi tempat-tempat yang hanya dapat kulihat lewat peta di pelajaran geografi semasa sekolah, membuat darahku mendidih."
Si perempuan tersenyum hangat, "Mimpi yang indah. Andaikan aku punya satu."
"Yeah, apa yang tidak bisa didapatkan oleh seorang putri bangsawan?" Luke menaikkan sebelah alis kepada perempuan itu.
Pipi perempuan itu menggembung, "Apa itu sindiran?"
"Tidak, tidak. Ayolah, aku hanya bercanda," Luke tertawa.
Mereka lanjut berbincang, berbagi pikiran lewat canda dan tawa. Hingga tiba saatnya keakraban itu diinterupsi oleh bunyi tembakan dan teriakan orang-orang di dalam bangunan tempat mereka menyandar.
Usai berdiskusi lewat tatapan mata, mereka pun sepakat untuk memprioritaskan orang-orang di dalam bangunan. Namun, bunyi benda jatuh yang terdengar secara mendadak mengunci langkah mereka di tempat.
Refleks, mereka menoleh ke sumber bunyi. Ternyata di hadapan mereka sesuatu yang mengerikan telah menanti.
Dengan topeng berbentuk aneh melekat di wajah, sesosok perempuan datang menghampiri mereka bertiga. Rambutnya adalah ekor perak yang berayun di balik punggungnya. Selangkah demi selangkah yang terasa selamanya. Tubuhnya tak lebih besar dari seorang gadis di masa remajanya, berlindung dari gigitan angin di balik kaus hitam dan jaket denim biru. Di kedua tangannya, dalam cengkeraman jari-jari putih selentik ranting, tersemat pedang tanpa lekukan.
"Bersiap," Ulbert berbisik kepada kedua rekannya. Tanpa menurunkan penjagaan, masing-masing dari mereka mencabut pedang yang menggantung di samping pinggang.
"Siapa kau?" Selidik Ulbert. Nadanya rendah, dingin, berkabut. Suara dan sikapnya berubah sangat defensif.
"Manusia, tentunya," Suara perempuan misterius itu teredam oleh topeng, tapi tetap tak mengurangi kemerduannya.
"Apakah kau dalang di balik kekacauan ini?"
"Bukankah itu sudah jelas?"
"Meski begitu kau menyebut dirimu manusia?"
"Apakah kau juga sudah pantas disebut 'manusia'?"
"Apa alasanmu membuat kekacauan?" Kini Luke yang bertanya. Suaranya tidak setenang Ulbert.
"Sejak detik pertama aku memutuskan untuk mengambil jalan ini, aku percaya bahwa mengambil satu nyawa di lain pihak akan dapat menyelamatkan nyawa yang lain. Karena itulah aku tidak memiliki keraguan." Jawaban yang begitu percaya diri. Selagi mengatakannya, perempuan bertopeng itu memainkan pedang di tangan kirinya dengan enteng, "Jika kalian menanyakan tujuannya, tentu saja, semua untuk kedamaian."
"Omong kosong!" Luke berteriak lantang. Setiap inci sel dalam tubuhnya menolak kata demi kata yang terlontar dari mulut manis itu.
Tanpa menunda-nunda, mereka bertiga maju menyerang secara bersamaan. Luke melayangkan serangan dari arah depan dan langsung ditangkis oleh pedang di tangan kirinya. Pertemuan dua lempeng logam menciptakan bunyi yang memekakkan telinga.
Masih di detik yang sama, Ulbert menyerang dari arah belakang, dan betapa terkejutnya Ulbert saat melihat dia menahan serangannya tanpa sedikit pun membalik badan. Tangan kanannya terlipat ke belakang dan menahan pedangnya! Sulit dipercaya serangan berbarengan dan tanpa jeda itu dapat dihentikannya dengan mudah.
Di detik berikutnya, dia menekan mundur pedang mereka sekaligus menendang Luke dan Ulbert bergantian. Tak berhenti sampai di situ, dia melempar salah satu pedangnya ke arah si Perempuan Berambut Cokelat sebelum perempuan itu sempat menyokong kedua rekannya. Kaki kanannya menjadi incaran dan tepat sasaran, logam tajam itu menembus daging betisnya dan sukses meruntuhkan pijakannya, memberinya jerit pedih penderitaan dan kerasnya permukaan tanah.
Luke dan Ulbert tidak menyadari hal itu lantaran terlalu fokus pada musuh mereka. Tidak ada sedikit pun niat di benak mereka untuk memberi waktu kepada sang musuh, sehingga semuanya dilakukan secara bersamaan.
Kiri dan kanan, depan dan belakang. Serangan demi serangan mereka lancarkan dari dua sisi berbeda. Dentingan pedang berangsur-angsur memecah kesunyian malam. Detik demi detik berlalu, tapi semua serangan ditangkis dengan mudah. Kurang lebih tiga menit mereka melakukan tarian mematikan itu.
Tetapi, pada akhirnya, permainan kekanakan itu memang harus segera diakhiri. Di saat Luke melancarkan serangan dari arah depan, dia menghindar ke samping, sehingga yang berdiri di hadapan Luke bukanlah lagi orang yang sama, bukan lagi musuhnya.
Pedang Luke dengan mulusnya menembus dada Ulbert.
Sama seperti saat Luke mendengar narasi omong kosong tentang 'kedamaian' itu, setiap sel di dalam tubuhnya berontak, sama sekali tak sudi mempercayai realitas. Ulbert ambruk dengan pedang Luke yang masih tertancap tepat di dadanya, mengoyak jantung yang selama 22 tahun bekerja keras memberi pemuda itu kehidupan.
“Kak Ulbert!” Sia-sia. Bahkan jika ia berteriak tepat di lubang telinganya, tindakan itu tetap tak akan bisa membuat matanya kembali terbuka. “Sialan kau!” Luke meraung. Ia marah, murka. Namun, ia tidak tahu siapa yang berhak diterpa oleh gelombang emosi itu. Ia hanya ingin seluruh dunia yang tidak adil ini menghilang.
"Mengapa kau berteriak padaku? Bukankah kau sendiri yang membunuhnya?" Dia bertanya dengan ketenangan di luar nalar, seakan-akan seonggok hati tak pernah tertanam di dalam rongga dadanya.
Urat menyembul di kulit leher dan pelipis Luke. Tubuhnya bergetar murka. Ia maju, menyerang sambil berteriak. Akal sehatnya telah tertindih oleh tumpukan emosi. Yang ada di pikirannya hanyalah cara untuk melampiaskan amarah yang sudah tak terbendung kepada sosok bertopeng sialan itu.
Baginya, serangan Luke kali ini tidak lebih dari sekedar cubitan tiba-tiba seorang bocah yang tantrum. Bahkan lebih buruk dari saat-saat kolaborasinya dengan Ulbert.
Dalam sekejap mata, dua mayat manusia telah terbujur kaku di atas dinginnya tanah, membatasi sosok bertopeng dengan perempuan berambut cokelat sebahu, yang hanya bisa membulatkan mata dalam ketidakberdayaan.
Rasanya baru satu jam mereka saling bertukar mimpi, kini keduanya sudah tiada lagi di muka bumi, dan mimpi-mimpi itu... telah hangus.
Segampang itu dia mengambil nyawa seseorang....
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Perempuan itu menyeka air matanya dengan punggung tangan. Matanya menyiram monster di hadapannya dengan lautan kebencian. "Mengapa kita harus bertarung bila kita mempunyai tujuan yang sama?"
Waktu kian menipis namun hanya ada keheningan yang dengan erat memeluk jiwa, dan pelukan itu terurai begitu dia memutuskan untuk membuka suaranya.
"Jika hal seperti itu saja kau tidak tahu, sebaiknya kembalikan saja senjatamu itu." Mata biru di lubang topeng itu memejam, "Orang yang berhak memegang senjata adalah dia yang telah paham betul apa yang harus diperbuat, serta memiliki kesadaran penuh atas semua tindakannya."
Perempuan itu mengerutkan alis. Ia tidak mengerti. Tapi, apakah wajar bila ia bisa merasakan secercah empati terhadap seseorang yang jelas-jelas adalah musuh?
"Aku tidak bisa berlama-lama. Maaf, jika tidak dalam situasi seperti ini, kita mungkin dapat saling mengenal dalam cara yang lebih baik."
Usai mengatakannya, sepasang kaki ramping berbalut denim mendekati perempuan yang bersimbah darah dengan perlahan. Tidak perlu terburu-buru, sebab jiwa perempuan itu sudah pasti akan lenyap di tangannya. Ia berhenti satu langkah darinya dan mengangkat pedang di tangan kirinya ke udara.
Perempuan itu tahu betul seburuk apa realita yang akan menjemputnya, dan ia menerima takdirnya dengan lapang dada. Kelopak matanya turun perlahan membungkus kedua bola matanya. Ia telah menyerah untuk bangkit, karena upaya itu sudah tidak lagi diperlukan. Tanpa menggunakan kemampuan spesialnya sekalipun, jawabannya sudah pasti satu: mati.
Namun, kejanggalan itu ia temukan; sudah sepuluh detik waktu berlalu, pedang itu belum juga menghunjam tubuhnya. Padahal ia berharap monster itu melakukannya dengan cepat. Ia sudah tak ingin disiksa terlalu lama oleh rasa sakit di kakinya. Akan tetapi, mengapa waktu seakan ikut mempermainkannya?
Dia pun memberanikan diri membuka mata. Sesuatu menghalangi pandangannya dari cahaya; punggung seorang lelaki berambut sepekat malam yang di kedua tangannya tergenggam katana hitam berornamen hijau menyala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Pipit Wahyuni
gua membaca sambil memutar otak..
2022-05-26
1
tijelclub
siaap mulai
2021-11-07
2
tijelclub
apaa yg terjadi
2021-11-04
2