18. Light

"... Apakah Anda mendengarkan, Yang Mulia?" Tanya seorang wanita paruh baya yang kepalanya besar oleh gulungan rambut hitam. Kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya memberitahu orang-orang ketegasan karakternya.

"Ya," balas Zeze setengah hati.

Sudah satu jam Zeze terkurung di perpustakaan istana, terpaksa menelan ucapan Madam Thoryvos yang hampir tak bisa ditanggung kesabarannya. Setiap menyelesaikan satu kalimat, dia pasti akan melotot pada Zeze dan bertanya apakah Zeze mendengarkan. Zeze kesulitan menahan kejengkelannya agar tak sampai mencemari muka. Untuk apa ia diberkahi telinga jika tidak dipakai untuk mendengar?

Madam Thoryvos mendudukkan diri di hadapan Zeze. "Kalau begitu, bisakah Anda menjelaskan kembali kepada saya hierarki dari gelar kebangsawanan yang ada di Aplistia?"

Zeze bertopang dagu, tatapannya mencemooh wanita yang jelas-jelas meragukan kapasitas memorinya itu. Bibirnya pun melengkung ke atas di sepanjang ucapan.

"Urutan pertama ditempati oleh Duke yang merupakan gelar tertinggi setelah anggota kerajaan. Penganugerahan gelar Duke sangat terbatas pada mereka yang dipandang memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan layak di mata keluarga kerajaan.

"Satu tingkat di bawah Duke ditempati oleh gelar Marquess. Seorang Marquess dipercaya untuk melindungi negara dari potensi serangan negara tetangga, yang kemudian menjadikan kedudukannya berada satu tingkat di atas Earl atau Count.

“Selanjutnya Earl atau Count, yang memerintah sebuah wilayah atas nama Raja, singkatnya seperti walikota.

“Urutan keempat ditempati oleh Viscount. Ditugaskan sebagai wakil dari Earl dalam mengurus daerah, dan sering kali bertanggung jawab atas masalah kehakiman. Raja secara ketat menjaga agar jabatan Viscount tidak menjadi gelar turun-temurun untuk menghindari kesewenang-wenangan dan menekan kemungkinan pemberontakan.

"Urutan berakhir di gelar Baron, yang biasa dipanggil oleh Raja untuk menghadiri sidang Penasihat atau Parlemen."

Zeze tersenyum miring, puas dengan reaksi terkejut yang diberikan mentornya. “Sekarang aku boleh pergi?”

Madam Thoryvos mengerjap cepat, berdeham untuk menormalkan ekspresi, "Tergantung pada apakah Anda mampu menyebutkan keluarga keturunan kerajaan yang masih tersisa hingga saat ini."

Zeze memutar bola matanya dan menggerutu dalam hati. Oh, ayolah! Aku sudah mendengarnya tadi!

Zeze berusaha keras mendinginkan kepala agar tidak kelepasan mengumpat. Jika ingin cepat menjauh dari nenek sihir itu, ia harus menuruti kata-katanya. "Baiklah," ia berdeham, "Zesto, Enochlei, Ankhatia, Asteri, Edafos, Algarius..."

Senyum miring tiba-tiba terbit di bibir Zeze.

Madam Thoryvos mengerutkan kening, "Empat sisanya... Yang Mulia?"

"Aku akan melanjutkan jika Anda berjanji akan membiarkanku pergi setelah ini."

Mulut sang Madam terbuka, lalu tertutup lagi. Setelah pikir panjang, ia pun menyerah. Perlu kesabaran ekstra untuk menghadapi tuan putri satu ini. "Baiklah. Tapi waktu libur Anda besok harus dipotong untuk mempelajari table manners bersama saya di sini di jam yang sama. Jangan coba-coba kabur, Yang Mulia."

Zeze memutar bola matanya saat bangkit berdiri. Ini konyol, batinnya. Bagaimana pun cara makan, tujuan yang dicapai hanya satu, kenyang. Manusia memang merepotkan.

Zeze menyambar jaketnya dari sandaran kursi, memakainya selagi melanjutkan ucapan yang tertunda, "Aposto, Haedas, Qiseidon, Zilevo.” Lengkap sudah sepuluh keluarga terhormat yang berjasa dalam mendirikan Kerajaan Agung Aplistia.

"Ingat, Yang Mulia. Waktu yang tersisa sebelum debut resmi Anda sebagai seorang anggota keluarga kerajaan di pesta ulang tahun Pangeran Kion tinggal lima hari. Anda tidak boleh membuang-buang waktu."

Guratan di dahi keriput wanita itu semakin dalam; Zeze yang melihatnya mendengus risih. Apa dikiranya aku belum pernah mengalami penyiksaan seperti ini saat kecil?

Tapi percuma membantah, tindakan itu hanya akan memperpanjang jalan keluarnya dari neraka itu. Ia pun angkat kaki dari perpustakaan tanpa meninggalkan sepatah kata.

Hidupnya kali ini akan penuh dengan hal-hal merepotkan, dan ia jamin itu. Bahkan lebih merepotkan dari pertarungan dan perang berdarah. Beruntung baginya hari ini adalah jadwal kedatangan seorang penyelamat—berjuang dan menderita bersama lebih baik daripada sendirian. Sudah sebulan lebih Zeze tidak melihat batang hidungnya, entah apakah ada yang berubah darinya.

Di bawah sinar rembulan, melintasi halaman depan dan dua baris jalan, Zeze berhenti di sebelah gerbang besar dengan patung rusa jantan putih yang bertengger di kedua sisi puncaknya. Gerbang terbelah dua atas persetujuan sidik jarinya.

“Mengapa kau lama sekali? Tidak tahukah kau betapa dinginnya menunggu di luar pada malam musim gugur?”

Selama lebih dari sebulan hanya bisa mendengarnya lewat telepon, akhirnya suara itu dapat membuat jengkel telinganya secara langsung.

Jika Zeze diberi kesempatan untuk memilih orang yang ingin ditemuinya untuk terakhir kali sebelum mati, tak ada keraguan, jawabannya adalah pemilik suara itu. Seorang sahabat yang selalu ada untuknya dalam benar maupun salah, susah maupun senang. Kata setia saja tidak cukup untuk mendeskripsikannya.

Zeze mengangkat kepalanya yang tertunduk, tersenyum sengit sambil mengacungkan jari tengah kepada seorang lelaki bertopi hitam yang sedang memperpendek jarak dengannya. Lelaki itu tertawa renyah, berhenti satu langkah dari Zeze dan mengulurkan kepalan tangan kepadanya. Zeze menyeringai, mengganti jari tengahnya dengan kepalan tangan dan mempertemukannya dengan tinju lelaki itu. Mereka lantas berjalan rangkul-merangkul menuju pintu utama tanpa menghiraukan tatapan penasaran dari para pelayan yang mereka lewati.

“Bagaimana liburanmu?” Sindir Zeze.

Lelaki itu menyeringai usil, “Pastinya jauh lebih menyenangkan dari terkurung di dalam sangkar.”

Zeze mendelik kesal, sementara dia tertawa pelan.

“Zafth ada di Kota Jaénsky,” kata Zeze, “apa kau sudah tahu?”

“Benarkah? Waktu kuajak ke Italia, dia bilang akan ke Turki. Sedang apa dia di Aplistia? Misi?” Tanya Obi; Zeze hanya mengangkat bahu.

“Kopi, Ze,” titah lelaki itu setibanya mereka di ruang duduk utama. Dia melepas topi hitamnya dan merebahkan dirinya di sofa.

“Makhluk tidak tahu diri,” Zeze mencibir, tapi ia tetap hengkang ke dapur.

“Kau harus belajar bahwa tamu adalah raja,” serunya sembari menyalakan TV.

“Demi para Dewa! Siapa lagi ini!”

Belum berjalan lima menit sejak lelaki itu memanjakan punggungnya pada keempukan sofa kualitas terbaik, pekikan yang terkesan letih itu memaksanya kembali tegak.

Lelaki itu menoleh ke belakang dan menemukan sesosok perempuan berambut pirang dalam balutan gaun merah muda. Simpel tapi tidak mengurangi kemewahannya. Dia tidak sendiri, ada tiga orang bersamanya, dan dua di antaranya adalah orang yang cukup familer bagi lelaki itu.

“Obi?” Seorang lelaki di sebelah kanan gadis pirang itu berbicara. Dia mengenakan setelan jaket kulit hitam. Rambutnya pirang dan matanya sebiru langit pagi.

Obi, yang kini bersila di atas sofa, menyeringai ke arah lelaki itu dan menyapanya dengan semangat, “Saga! Sudah lama tidak bertemu!” Lalu mata hitamnya mengarah pada seorang lelaki berambut perunggu yang berdiri di sebelah kanan Saga. Dia mengenakan jas mewah dan kemeja hitam yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Tidak mungkin Obi tidak mengenalinya. Dia adalah masa depan dari sahabat sejatinya.

Obi tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan giginya, lalu bangkit berdiri dan menyambutnya dengan semangat, “Master! Sudah lama tidak bertemu!”

“Master?” Gumam seorang gadis berambut cokelat pendek. Ia bertukar pandang dengan si Gadis Pirang, yang sama bingungnya dengannya.

Tak lama kemudian, Zeze datang membawa secangkir kopi hitam pesanan Obi. Tatapannya menyapu keempat pendatang baru. Begitu matanya beradu dengan manik abu Luna, Zeze langsung bergidik. Tatapan gadis itu mengandung intensi permusuhan. Berbeda dengan Volta—hormat terpancar dari caranya membungkuk menyapa sang Putri. Kemudian garis pandangnya membuntu di sepasang manik hazel. Seperti biasa, tidak akan bertahan lama; Zeze memutus kontak mata itu dengan menaruh cangkir di atas meja sofa.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Saga.

“Bisa dibilang... menginap di rumah teman.” Obi melirik Zeze di belakangnya.

Ekspresi Saga sedikit berubah, “Kalian saling kenal?”

“Seharusnya itu pertanyaanku,” timpal Zeze.

"Tentu saja aku mengenalnya. Aku mengenal teman Master."

Mata Zeze menyipit pada Obi saat ia menemukan kejanggalan pada ucapannya.

Sementara itu, Obi telah mengalihkan perhatian pada dua orang gadis yang tengah dibingungkan oleh situasi. "Salam kenal, Nona-nona cantik." Obi tidak tahu cara berinteraksi dengan bangsawan sungguhan, keputusannya untuk menambahkan kata 'cantik' ternyata keliru. Bukannya menyenangkan mereka, ia justru melahirkan kesan pertama yang buruk.

Luna terkesiap. Tidak sopan. Ia membuang muka menahan jengkel, sementara Volta hanya mengangguk kaku.

Obi beralih ke Kion, bertanya sambil menyeringai lebar, “Kau tidak keberatan, bukan, Master?”

Kion berpaling dari Zeze dan berlalu ke arah tangga. “Lakukan sesukamu,” jawabnya dari kejauhan.

Ketiga orang itu bergegas mengikuti Kion. Saga menepuk pundak Obi ketika melewatinya.

“Ayo pindah ke kamarku," ujar Zeze.

Obi bangkit, mengambil cangkir kopi, lalu mengikuti langkah Zeze.

"Hei, aku penasaran akan satu hal. Kau pernah atau mungkin sering berkunjung ke sini tanpa sepengetahuanku, ya?"

"Tidak juga," Obi menyeruput kopi sambil jalan. "Wow, ini enak."

Zeze meliriknya; mereka telah tiba di kamar Zeze. "Aku tidak tahu kau sedekat itu dengan si Pangeran dan antek-anteknya. Dan sejak kapan panggilan "master" ini?"

"Dan sekarang kau tahu. Berhenti membicarakan hal yang tidak penting. Aku mempunyai kehidupanku sendiri dan kita bukan kembar siam yang menempel selama 24 jam sehari."

"Oh, baiklah, itu hak asasimu. Aku hanya berharap kau tidak terjerumus ke pergaulan yang menyimpang."

"Menyimpang? Apakah bergaul dengan sekelompok buronan kelas dunia tidak cukup menyimpang bagimu? Bagaimana denganmu yang membuat Kai marah karena tidak pulang dari kelab malam sampai jam 2 pagi?"

Kening Zeze berkerut, "Aku membantu temanku sebagai DJ di sana. Kurasa aku sudah mengatakannya cukup jelas waktu itu. Lagipula, mengapa dianggap masalah jika seorang perempuan masih berkeliaran sampai larut malam? Memangnya menurutmu hanya lelaki yang berhak begitu? Memangnya dunia ini tercipta hanya untuk kaum kalian?"

"Baiklah, aku minta maaf. Ucapanku tadi sungguh keterlaluan. Aku percaya padamu, tenang saja."

"Ngomong-ngomong," Zeze menduduki sofa di seberang Obi, "Bukankah sebaiknya kau pulang terlebih dahulu untuk memberi ayahmu kabar tentang keberadaanmu di sini?”

Tiba-tiba mata Obi menggelap. “Jangan bahas itu,” sergahnya dingin. Sikap bersahabat yang tadi dipancarkannya kini lenyap tak berbekas.

Zeze bergidik begitu merasakan jatuhnya suhu ruangan. "Maaf," Ia tidak lagi membuka mulut, memasang headphone sampai ketiduran di sofa.

Tepat tengah malam, Zeze mendadak dibangunkan oleh mimpi buruk. Ia melompat duduk, melepas headphone, panik saat berusaha menyesuaikan netra dari gelapnya ruangan. Melihat Obi tertidur di sofa seberang, ia bergegas mengambil selimut di kasur dan membentangkan untuknya.

Mendadak perutnya berbunyi. Zeze mengusapnya dengan gerakan memutar. Apa aku boleh makan di luar jam makan? Ia mendesah. Kurasa aku harus keluar malam ini.

Rasa lapar akibat melewatkan makan malam menuntun Zeze ke sebuah kafe di pinggir jalan raya lapisan ketiga, sepuluh meter di atas dataran lembah yang menggelar kesibukan. Pemandangan yang dilihatnya dari jendela adalah mobil terbang, bukit perumahan, dan badan atas gedung-gedung yang dihebohkan oleh iklan hologram dan karakter AI raksasa. Salah satu AI dengan penampilan geisha tersenyum kepadanya. Setelah kenyang, ia memutuskan langsung kembali ke istana tanpa mampir ke klub. Untuk menghemat waktu, ia mengambil jalan pintas ke sebuah dataran tinggi yang diisi krikil dan batu-batu besar setinggi manusia. Ibu kota bergemerlap bagai bintang dari atas sana.

Kemudian, perasaan itu semakin kuat, menggelitik bulu kuduknya. Kegelisahan yang cukup familier; yang hanya akan ia rasakan ketika sedang diikuti, kemampuan pasif yang dimanifestasi dari pengalaman bertarung selama bertahun-tahun. Untuk mengelabui orang asing itu, Zeze tetap bersikap normal dan tidak mengeluarkan reaksi berlebih.

Sekilas hidungnya menyergap aroma bubuk mesiu. Artinya sudah lampu merah—ia tidak bisa lagi berlagak. Satu detik setelah membalik badan, matanya langsung disapa belasan peluru.

Segera Zeze memusatkan energi dýnami di punggung, melahirkan sepasang api merah yang langsung membawanya melesat ke atas. Bunyi dentuman terdengar kala peluru menyerbu bebatuan dan menghancurkannya.

“Artemis dari Énkavma memang tidak bisa dianggap remeh, ya?”

Zeze mengenali suara itu. Kebencian dan amarah seketika meremas jantungnya. Sayapnya berkobar semakin liar di belakang punggung. Ia menggertakkan gigi, kesulitan menekan luapan emosi.

Tidak, tunggu. Jika aku asal menyerang seperti bocah, akulah pihak yang merugi. Beruntung akal sehatnya cepat kembali. Zeze menggigit bibir; kebiasaannya setiap gugup. Tapi, bagaimana dia mengenaliku? Aku bahkan tidak memakai topengku. Apa identitasku telah dibongkar oleh seseorang? Seseorang yang kukenal dan... mengenalku?

Wajah Glen melintas tanpa aba-aba di pikirannya. Tidak mungkin, Zeze mengernyit pedih, menolak untuk percaya pada prasangkanya.

Beberapa meter di bawahnya, berdiri seorang wanita berambut cokelat pendek, sebagian helainya diikat satu. Motif loreng menguasai bahan celana yang berujung di dalam sepatu boots. Bahan kaus hitam mencetak otot-otot tangannya yang menggenggam sebuah senapan berwarna senada. Namun bukan benda itu yang menjadi sumber kekhawatiran Zeze, melainkan sesosok monster yang mulai terbentuk dari kerikil di sekitarnya.

Seolah ada magnet di antara mereka, ratusan kerikil menyatu membentuk wujud sesosok singa dengan kepala menyerupai wanita. Sepasang sayap terlipat di belakang punggung yang seperti merobek langit. Tingginya tiga meter, atau mungkin lebih. Itu adalah wujud dari salah satu hewan dalam mitologi Yunani kuno, sphinx.

“Lama tidak bertemu.” Wanita itu menyeringai.

Kebencian Zeze meluap lagi. Ditatapnya wanita itu dengan sorot berapi-api. Brengsek yang telah merenggut orang tersayangnya. Sosok kakak perempuannya.

Berguling di udara dengan sepasang sayap memeluk tubuh, Zeze adalah pusaran bola api raksasa. Tiga detik kemudian, sayap itu kembali membentang, meluruhkan ratusan kobaran api.

Wanita itu tersenyum, bagai murid yang mendapat bocoran untuk soal ujiannya. Sepasang sayap monster batu menutup ke depan, memasang perisai untuknya yang berdiri di atara kaki depan raksasa.

Zeze berdecak kesal menyaksikan kegagalannya. Kali terakhir ia melawan wanita itu, ia nyaris menyeberang ke neraka. Tidak bisa lagi ia menyerangnya dengan cara yang sama seperti dulu.

Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan itu.

Zeze turun perlahan-lahan sambil mencoba mengosongkan pikiran, berkonsentrasi hanya pada satu titik: punggung. Pada saat-saat seperti itulah ia iri terhadap Mia dengan konsentrasi supernya yang membuat semua hal terasa mudah. Seluruh energi panas dari sel-sel tubuhnya bersatu dan memusat di bagian punggung, semakin mengibarkan sayap apinya sehingga menciptakan percikan listrik yang berbahaya. Tiga detik berlalu dan api menyebar ke sekujur tubuh. Zeze menyerupai penyihir yang dibakar hidup-hidup di abad pertengahan. Api yang telah tiba di ujung jari-jari tangannya lalu merangkak ke udara bebas, membentuk sepasang pedang dengan mata pisau meliuk-liuk laksana petir.

Wanita itu menyaksikan semua yang terjadi lewat celah bebatuan yang melindunginya, paham bahwa dirinya tidak boleh bertindak gegabah sebelum berhasil membaca strategi lawannya. Satu tahun telah berlalu sekalipun dia membawa kemenangan di konfrontasi terakhirnya; berhasil membunuh Hestia dan nyaris menangkap Artemis. Bagaimanapun, pengalaman adalah guru yang paling hebat. Orang selalu bisa berubah dan berkembang.

Di tengah observasi, sayap batu yang melindunginya meledak tanpa peringatan. Kepingan batu berhamburan menutupi pandangan. Dia masih sibuk mencerna apa yang baru saja terjadi ketika ekor matanya menangkap sepercik kilatan. Buru-buru dia berguling ke depan, lalu berhenti dengan kaki menggesek tanah, bersamaan dengan tersiarnya suara ledakan yang sama seperti sebelumnya. Dia mengangkat pandangan dan apa yang dia temukan adalah kehancuran pada bagian kanan monster batunya.

Menoleh ke kiri, Artemis tampak telah bermandikan kobaran api. Kedua tangannya menggenggam benda asing yang memanjang dan berkilat-kilat laksana petir. Terang, tapi jelas mematikan. Bahkan angin malam pun terasa panas dibuatnya.

“Jadi, burung kenari memutuskan untuk bertarung di darat, huh?" Bibirnya membentuk seringai sinis. "Kesalahan besar.” Bebatuan bergegas membangun kembali singanya, mengisi lubang dan rekah. “Anggap saja tadi itu pemanasan.”

Hasrat membunuh menyorot keluar dari sepasang mata safir. Melenyapkan senyuman dari wajah menjijikkan itu adalah mimpi terbesar Zeze. Tanah tempatnya berpijak mendadak bergetar saat ia baru akan memulai serangan susulan, memaksanya untuk melompat cukup jauh ke belakang. Belum sempat kedua kakinya menyapa tanah, tubuh raksasa sang singa batu telah tersaji di depan mata.

Singa itu mengangkat satu kaki depannya yang luar biasa besar. Alarm bahaya di otaknya berbunyi, tanpa pikir panjang, terlalu panik, Zeze melemparkan kedua pedang petirnya ke depan. Kaki singa itu meledak, menyemburkan puing-puing yang menghempaskan Zeze hingga jatuh berguling-guling di tanah. Zeze berhenti usai punggungnya menabrak seonggok batu besar. Benturan itu mengirimkan sinyal listrik ke sekujur tubuhnya. Menyeterumnya. Tubuhnya mati rasa dalam seketika. Tak lagi tersisa kekuatan bahkan untuk mengangkat jarinya. Zeze merutuki kecerobohannya.

Mengagumi bintang-bintang di saat nyaris mati bukanlah keputusan yang tepat, namun entah mengapa timbul dorongan di benak Zeze untuk melakukannya. Bintang-bintang itu akan hilang ketika pagi datang. Kalau begitu, untuk apa mereka bersinar jika akan padam pada akhirnya?

Mengapa mereka harus repot-repot datang ke dalam hidupnya? Mengapa ia harus bertemu mereka jika mereka datang hanya untuk meninggalkannya?

Zeze menutup matanya. “Kalian... orang-orang jahat... seenaknya meninggalkanku di sini sendirian... apa susahnya mengajakku?"

"Zeze, kau tahu, dunia ini sangatlah kejam untuk orang-orang seperti kita. Tapi aku tidak bisa membencinya, entah mengapa. Justru aku ingin memperbaikinya, membimbingnya, agar kelak bisa menjadi dunia yang pantas ditempati anak dan cucuku. Pengorbanan itu diperlukan untuk mencapai sesuatu."

Rekaman suara yang selama ini tersimpan di bagian terdalam ingatannya, berhasil membuka kembali matanya yang sudah nyaris menyerah.

Ah... benar. Masih ada yang harus aku lakukan... aku perlu memperbaiki dunia yang berantakan ini.

Wajah tersenyum Glen dengan seenaknya melintas di otaknya.

Benar, aku hanya akan mati di tangannya. Aku tidak boleh mati di sini.

Susah payah Zeze bangkit dan menyeret bokongnya untuk menyandarkan punggung ke batu besar di belakang. Serangan selanjutnya adalah penentu. Sebuah akhir. Kesempatannya yang terakhir.

Ia membayangkan sesuatu yang sangat panas. Lebih panas dari magma, lebih panas dari sang surya: kebenciannya. Perasannya, kenangannya... semua ia olah menjadi dendam.

Wanita itu menegang di tempatnya berdiri. Perasaan apa ini? Mengapa aku gemetar? Apa-apaan api itu.

Wajar bila dia diliputi takut. Tubuh Artemis dibungkus api yang sangat mengerikan. Dia lebih mendekati iblis dibanding manusia. Panasnya mengkhawatirkan. Seolah rahang neraka telah menganga. Berbeda dari sebelumnya, api itu berpencar liar ke sana kemari laksana lidah yang siap menjilat siapa pun yang berani mendekat. Bersatu dengan angin, melejit ke atas dan menjadi tornado.

Mengesampingkan firasat buruknya, wanita itu memerintahkan sphinx-nya untuk menyerang. Api akan jinak di hadapan tanah, seperti yang sudah-sudah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sayang sekali api kali ini terlalu liar. Sebelum monster itu berhasil menjangkau target, batu-batu penyusun tubuhnya telah melebur menjadi lava. Bagai gelombang tsunami, api Zeze melahap sang singa hingga tak bersisa.

Apa-apaan ini? Wanita itu terkejut bukan main. Artemis tidak pernah sekuat ini. Dia seperti... orang yang benar-benar berbeda.

Di tengah gelombang rasa takut yang mendera, wanita itu berhasil menyadari sesuatu yang krusial; gadis yang tengah terduduk lemah jauh di hadapannya itu sama sekali tidak menggerakkan anggota tubuhnya. Seolah dia hanya boneka yang putus dari talinya. Maka, itu pastilah kekuatannya yang terakhir. Dengan kata lain, ia hanya perlu menunggu sampai sang waktu menjalankan perannya.

Penantiannya pun terjawab dengan hasil yang memuaskan. Satu menit kemudian, api yang mengamuk itu akhirnya padam.

Wanita itu tersenyum dingin, diarahkannya senapan ke depan wajah. Pelatuk ditarik dan timah panah dimuntahkan.

Tak semudah dugaannya. Kenyataan bahwa api itu kembali hidup dan dengan gampang melahap semua peluru, menumbuhkan api tersendiri yang membakar dadanya.

Mengapa kau tidak mati saja! Jangan mempersulitku dan biarkan aku mendapatkan jabatan itu!

Bayangan tentang hadiah manis yang menantinya jika berhasil menghabisi salah satu buronan kelas dunia, memicunya untuk kembali menarik pelatuk. Sang Artemis kembali ditembaki dengan liar. Namun, semuanya selalu berakhir sia-sia.

Di ujung sana, Zeze memejamkan matanya. Setidaknya aku harus membawa j*lang itu ikut bersamaku ke neraka.

Wanita itu menatap horor ombak panas yang tiba-tiba saja bergelung dengan sangat cepat ke arahnya. Dengan gemetar, dia mencoba melarikan diri. Tapi apa daya, dia telah kehilangan banyak waktu yang seharusnya dia gunakan sejak awal. Ombak merah itu mengubahnya menjadi abu yang kini diterbangkan angin, terombang-ambing hingga menghilang tanpa jejak.

Mata Zeze terbuka cepat, napasnya terengah-engah. Aku masih hidup? Pikirnya, kaget tak terkira.

Berulang kali ia mencoba bangkit, dan di setiap percobaan, hasilnya adalah jatuh. Darah menghujani punggung tangannya, dan membuatnya kebingungan, bertanya-tanya bagaimana bisa ia berdarah jika ia tidak merasakan sakit?

Zeze berjuang hanya untuk menyentuh kepalanya yang, secara mengejutkan, menorehkan luka menganga. Ia menatap aneh telapak tangannya yang gemetar dan telah berlumuran darah. Ledakan dan sengatan listrik tadi pasti telah melumpuhkan sejumlah sarafnya hingga ia bahkan tidak mampu merasakan luka sehebat itu.

Kedua tangan yang menopang tubuhnya bergetar hebat, tubuhnya oleng, ia pun terjatuh ke depan. Hidungnya mimisan akibat benturan. Cahaya memudar dari mata birunya.

Aku... mati di sini?

Zeze menggerak-gerakan kedua tangannya, mendorong mereka agar kembali bekerja menopang tubuh, dan hanya sanggup membuatnya terlentang.

Matanya yang redup memandang kabur bulan purnama yang bersinar gagah di atasnya.

Artemis berarti dewi bulan, apakah itu alasan mengapa saat-saat terakhirku akan dihabiskan untuk menatap bulan? Senyum lesu terbit di bibirnya. Konyol. Apakah saat sekarat manusia hobi memikirkan hal-hal aneh? Atau itu hanya aku?

Tiba-tiba teringat olehnya orang yang telah memberinya nama sang dewi; orang jahat yang telah tega meninggalkannya, idiot yang selalu menyimpan semua hal sendirian. Sampai bumi menelan tubuhnya pun, masih banyak hal tentangnya yang menjadi misteri bagi Zeze.

Seharusnya orang itu tidak perlu mengulurkan tangan untuknya. Jika pada akhirnya dia pergi, untuk apa mengajaknya datang. Dia adalah tuan rumah yang buruk; mengajak seseorang bertamu ke rumahnya, hanya untuk meninggalkan tamu tersebut dan menguncinya di dalam.

Tapi, apakah benar Zeze menyesali pertemuan dengannya delapan tahun yang lalu? Apakah Zeze menyesal karena orang itu telah memberinya keluarga baru?

Tidak, Zeze tidak menyesal. Ia sangat amat bersyukur karena telah dipertemukan dengan teman-temannya, kakak-kakaknya, keluarganya yang baru. Ia tidak pernah menyesal telah menemukan cahaya di tengah kegelapan.

Zeze berpaling dari bulan ke arah kanan ketika sumber cahaya lain datang menusuk sudut matanya.

Pupil matanya langsung membesar saat menemukan akar dari cahaya itu. Apa-apaan ini?

Apa yang dilihatnya adalah penampakan dua orang lelaki dan satu orang perempuan yang sedang menutup jarak dengannya. Manusia paling jahat yang pernah ia kenal, penjahat yang tega-teganya meninggalkannya seorang diri.

Baru sekarang kalian menjemputku? Zeze terkekeh miris.

Tidak ada penyesalan. Ia bangga dan puas karena telah berhasil membalas kematian kakak perempuannya. Semoga jiwanya tenang di alam baka. Ia hanya merasa bersalah karena belum menyelesaikan misi terakhir dari rajanya. Tapi itu tidak masalah. Ia yakin Juni, Rhea, Kai, Obi, Kaló, dan Norofi pasti bisa menyelesaikan misi mereka walau tanpanya.

Setelah sekian lama menyaksikan kepergian orang terkasihnya, gilirannya pun datang. Sesaat lagi ia akan menjadi pihak yang meninggalkan. Seperti itukah perasaan mereka saat tahu mereka akan meninggalkannya; merasa bersalah karena tidak dapat bertahan hingga akhir? Sekarang Zeze bisa mengerti.

Tangannya terangkat, bergetar, mencoba menggapai ketiga orang berselimut cahaya itu. Apa daya, tangannya terlalu lemah. Akhirnya ia memutuskan untuk berpaling, memejamkan mata, menunggu sang malaikat maut melakukan tugasnya.

Setelah banyak merenggut nyawa, sekarang adalah gilirannya berada di posisi mereka. Takut adalah hal terakhir yang ia rasakan. Karma pasti datang cepat atau lambat, ia tahu itu melebihi siapapun.

Tera... Afrodi... Sageta... akhirnya aku bisa bertemu kalian lagi.

Obi... maaf... aku tidak bisa membuatkanmu kopi lagi. Bermain game bersama... bertualang... kau akan melakukan semua hal itu tanpaku.

Kestabilan sudah hilang dari irama napasnya. Sedetik dadanya bergerak, sedetik tidak.

Glen... maaf... aku tidak bisa menepati janjiku.

Telinganya sudah menyerah menangkap bunyi. Hanya kesunyian yang menyiksa.

Semoga... kebahagiaan selalu menyertai kalian.

Terpopuler

Comments

Irsalina Laila

Irsalina Laila

oooh. pasti karena zeze bakalan dikenal orang

2020-06-17

5

lihat semua
Episodes
1 1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2 2. Started
3 3. Cracked Mask
4 4. Fiancé
5 5. Whisper
6 6. Academy
7 7. Empty Chair
8 8. Untitled
9 9. Goddess
10 10. Orange
11 11. Idiot
12 12. Red Rose
13 13. Smooth Criminal
14 14. New Toy
15 15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16 16. Punishment
17 17. Misner Space
18 18. Light
19 19. Deal
20 20. Cemetery
21 21. Rozeale Ankhatia
22 22. If It Was You
23 23. Old Friend
24 24. Falling
25 25. Imbalance
26 26. Struggle
27 27. The Healer
28 28. Reset
29 29. Fairytale
30 30. Forgotten
31 31. Debutante
32 32. Silly
33 33. Artemis
34 34. Partner In Crime
35 35. Nuts
36 36. Framed
37 37. Cola
38 38. Bored
39 39. Variable
40 40. Help!
41 41. Zero
42 42. Trick Or Treat?
43 43. The Game
44 44. Chapter Two
45 45. Continued
46 pengumuman: CAST
47 46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48 47. Lust
49 48. Home
50 49. Right Side
51 50. Riddle
52 51. Decode
53 52. Sweet Seventeen
54 53. Spring Cup
55 54. Mystery
56 55. Mr. Rious
57 56. Interrogation
58 57. Database
59 58. Dancing
60 59. Suspect
61 60. May, 1st
62 61. UNO
63 62. Damn
64 63. Wait For Me
65 64. Sacrifice
66 65. Bloody Rose
67 66. Raflesia
68 67. Lottery
69 68. Racing
70 69. Asanatha
71 70. Bury The Hatchet
72 71. Tree
73 72. The Winner
74 73. Healed
75 74. Reminisce
76 75. Andromeda
77 76. Grim
78 77. Farewell
79 78. Encounter
80 79. Sleep
81 80. Once Upon A Time
82 81. Prison
83 82. Open
84 83. Falsity
85 84. Second Meeting
86 85. Axiom
87 86. Helpless
88 87. Misfortune
89 88. Animus
90 CHAPTER BONUS [1-A]
91 CHAPTER BONUS [1-B]
92 CHAPTER BONUS [2-A]
93 CHAPTER BONUS [2-B]
94 CHAPTER BONUS [3-A]
95 CHAPTER BONUS [3-B]
96 CHAPTER BONUS [4-A]
97 CHAPTER BONUS [4-B]
98 89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99 90. Crestfallen
100 91. Agreement
101 92. Pizza Delivery (Part 1)
102 93. Pizza Delivery (Part 2)
103 94. Narrow (Part 1)
104 95. Narrow (Part 2)
105 96. Possessed
106 97. Sorrow (Part 1)
107 98. Sorrow (Part 2)
108 99. Jack O'Lantern
109 100. Beginning Of The End
110 101. Laxity
111 102. Savior
112 103. Hostage
113 104. Bad Idea
114 105. Underestimate
115 106. Memorials
116 107. Solving
117 108. Misunderstanding
118 109. Curiosity Killed The Cat
119 110. Agony
120 111. Distancing
121 112. Foolish
122 113. Fall To Pieces
123 114. Aphrodite
124 115. Loosing Grip
125 116. Insanity
126 117. Ruthless
127 118. Ignorance
128 119. Hypocrisy
129 120. Complicated
130 121. Dignity
131 122. Stupidity
132 123. Catacombs
133 124. Absurd
134 125. Backlash
135 126. Vanished
136 127. Break Free
137 128. Darkness In The Light
138 129. Ambush On All Sides
139 130. Mare's Nest
140 131. Tenet
141 132. Clandestine
142 133. Judas
143 134. Sinister
144 135. Desire
145 136. Ares
146 137. Embrace
147 138. Up In The Air
148 139. Prejudice
149 pengumuman: LIST TOKOH
150 140. Diverge
151 141. Noticed
152 142. Float Kiss
153 143. Liars
154 144. Reunion
155 145. The Answer
156 146. Liberated
157 147. Carnage
158 148. Vendetta
159 149. 1 Stone For 2 Birds
160 150. Better Place
161 151. Pleasure
162 152. Trust & Hope
163 153. Rest
164 154. Good & Bad News
165 155. Bald Cypress
166 156. Leave
167 157. Painful
168 158. Invitation
169 159. A Guest
170 160. Piece Of Art
171 161. Aware
172 162. Journey
173 163. Inland
174 164. Westafo Hall
175 pengumuman: BREAK
176 165. Madam Derba
177 166. Good Side
178 167. The Stage
179 168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180 169. Deception
181 170. Evaluate
182 171. Dissent
183 172. Gratuitous
184 173. Departure
185 174. Voyage
186 175. Almost
187 176. Anger
188 177. Scratches
189 178. Discover
190 179. Out of Control
191 180. Perforce
192 181. Her
193 182. Myth
194 183. Him
195 184. Bleeding
196 185. Perfidy
197 186. Take Me Out of This Town
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Burn • [ VOLUME 1 ]
2
2. Started
3
3. Cracked Mask
4
4. Fiancé
5
5. Whisper
6
6. Academy
7
7. Empty Chair
8
8. Untitled
9
9. Goddess
10
10. Orange
11
11. Idiot
12
12. Red Rose
13
13. Smooth Criminal
14
14. New Toy
15
15. Heaven Is A Place Where Nothing Ever Happens
16
16. Punishment
17
17. Misner Space
18
18. Light
19
19. Deal
20
20. Cemetery
21
21. Rozeale Ankhatia
22
22. If It Was You
23
23. Old Friend
24
24. Falling
25
25. Imbalance
26
26. Struggle
27
27. The Healer
28
28. Reset
29
29. Fairytale
30
30. Forgotten
31
31. Debutante
32
32. Silly
33
33. Artemis
34
34. Partner In Crime
35
35. Nuts
36
36. Framed
37
37. Cola
38
38. Bored
39
39. Variable
40
40. Help!
41
41. Zero
42
42. Trick Or Treat?
43
43. The Game
44
44. Chapter Two
45
45. Continued
46
pengumuman: CAST
47
46. Discussion • [ VOLUME 2 ]
48
47. Lust
49
48. Home
50
49. Right Side
51
50. Riddle
52
51. Decode
53
52. Sweet Seventeen
54
53. Spring Cup
55
54. Mystery
56
55. Mr. Rious
57
56. Interrogation
58
57. Database
59
58. Dancing
60
59. Suspect
61
60. May, 1st
62
61. UNO
63
62. Damn
64
63. Wait For Me
65
64. Sacrifice
66
65. Bloody Rose
67
66. Raflesia
68
67. Lottery
69
68. Racing
70
69. Asanatha
71
70. Bury The Hatchet
72
71. Tree
73
72. The Winner
74
73. Healed
75
74. Reminisce
76
75. Andromeda
77
76. Grim
78
77. Farewell
79
78. Encounter
80
79. Sleep
81
80. Once Upon A Time
82
81. Prison
83
82. Open
84
83. Falsity
85
84. Second Meeting
86
85. Axiom
87
86. Helpless
88
87. Misfortune
89
88. Animus
90
CHAPTER BONUS [1-A]
91
CHAPTER BONUS [1-B]
92
CHAPTER BONUS [2-A]
93
CHAPTER BONUS [2-B]
94
CHAPTER BONUS [3-A]
95
CHAPTER BONUS [3-B]
96
CHAPTER BONUS [4-A]
97
CHAPTER BONUS [4-B]
98
89. Funeral • [ VOLUME 3 ]
99
90. Crestfallen
100
91. Agreement
101
92. Pizza Delivery (Part 1)
102
93. Pizza Delivery (Part 2)
103
94. Narrow (Part 1)
104
95. Narrow (Part 2)
105
96. Possessed
106
97. Sorrow (Part 1)
107
98. Sorrow (Part 2)
108
99. Jack O'Lantern
109
100. Beginning Of The End
110
101. Laxity
111
102. Savior
112
103. Hostage
113
104. Bad Idea
114
105. Underestimate
115
106. Memorials
116
107. Solving
117
108. Misunderstanding
118
109. Curiosity Killed The Cat
119
110. Agony
120
111. Distancing
121
112. Foolish
122
113. Fall To Pieces
123
114. Aphrodite
124
115. Loosing Grip
125
116. Insanity
126
117. Ruthless
127
118. Ignorance
128
119. Hypocrisy
129
120. Complicated
130
121. Dignity
131
122. Stupidity
132
123. Catacombs
133
124. Absurd
134
125. Backlash
135
126. Vanished
136
127. Break Free
137
128. Darkness In The Light
138
129. Ambush On All Sides
139
130. Mare's Nest
140
131. Tenet
141
132. Clandestine
142
133. Judas
143
134. Sinister
144
135. Desire
145
136. Ares
146
137. Embrace
147
138. Up In The Air
148
139. Prejudice
149
pengumuman: LIST TOKOH
150
140. Diverge
151
141. Noticed
152
142. Float Kiss
153
143. Liars
154
144. Reunion
155
145. The Answer
156
146. Liberated
157
147. Carnage
158
148. Vendetta
159
149. 1 Stone For 2 Birds
160
150. Better Place
161
151. Pleasure
162
152. Trust & Hope
163
153. Rest
164
154. Good & Bad News
165
155. Bald Cypress
166
156. Leave
167
157. Painful
168
158. Invitation
169
159. A Guest
170
160. Piece Of Art
171
161. Aware
172
162. Journey
173
163. Inland
174
164. Westafo Hall
175
pengumuman: BREAK
176
165. Madam Derba
177
166. Good Side
178
167. The Stage
179
168. Breakfast • [ VOLUME 4 ]
180
169. Deception
181
170. Evaluate
182
171. Dissent
183
172. Gratuitous
184
173. Departure
185
174. Voyage
186
175. Almost
187
176. Anger
188
177. Scratches
189
178. Discover
190
179. Out of Control
191
180. Perforce
192
181. Her
193
182. Myth
194
183. Him
195
184. Bleeding
196
185. Perfidy
197
186. Take Me Out of This Town

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!