"... Apakah Anda mendengarkan, Yang Mulia?" Tanya seorang wanita paruh baya yang kepalanya besar oleh gulungan rambut hitam. Kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya memberitahu orang-orang ketegasan karakternya.
"Ya," balas Zeze setengah hati.
Sudah satu jam Zeze terkurung di perpustakaan istana, terpaksa menelan ucapan Madam Thoryvos yang hampir tak bisa ditanggung kesabarannya. Setiap menyelesaikan satu kalimat, dia pasti akan melotot pada Zeze dan bertanya apakah Zeze mendengarkan. Zeze kesulitan menahan kejengkelannya agar tak sampai mencemari muka. Untuk apa ia diberkahi telinga jika tidak dipakai untuk mendengar?
Madam Thoryvos mendudukkan diri di hadapan Zeze. "Kalau begitu, bisakah Anda menjelaskan kembali kepada saya hierarki dari gelar kebangsawanan yang ada di Aplistia?"
Zeze bertopang dagu, tatapannya mencemooh wanita yang jelas-jelas meragukan kapasitas memorinya itu. Bibirnya pun melengkung ke atas di sepanjang ucapan.
"Urutan pertama ditempati oleh Duke yang merupakan gelar tertinggi setelah anggota kerajaan. Penganugerahan gelar Duke sangat terbatas pada mereka yang dipandang memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan layak di mata keluarga kerajaan.
"Satu tingkat di bawah Duke ditempati oleh gelar Marquess. Seorang Marquess dipercaya untuk melindungi negara dari potensi serangan negara tetangga, yang kemudian menjadikan kedudukannya berada satu tingkat di atas Earl atau Count.
“Selanjutnya Earl atau Count, yang memerintah sebuah wilayah atas nama Raja, singkatnya seperti walikota.
“Urutan keempat ditempati oleh Viscount. Ditugaskan sebagai wakil dari Earl dalam mengurus daerah, dan sering kali bertanggung jawab atas masalah kehakiman. Raja secara ketat menjaga agar jabatan Viscount tidak menjadi gelar turun-temurun untuk menghindari kesewenang-wenangan dan menekan kemungkinan pemberontakan.
"Urutan berakhir di gelar Baron, yang biasa dipanggil oleh Raja untuk menghadiri sidang Penasihat atau Parlemen."
Zeze tersenyum miring, puas dengan reaksi terkejut yang diberikan mentornya. “Sekarang aku boleh pergi?”
Madam Thoryvos mengerjap cepat, berdeham untuk menormalkan ekspresi, "Tergantung pada apakah Anda mampu menyebutkan keluarga keturunan kerajaan yang masih tersisa hingga saat ini."
Zeze memutar bola matanya dan menggerutu dalam hati. Oh, ayolah! Aku sudah mendengarnya tadi!
Zeze berusaha keras mendinginkan kepala agar tidak kelepasan mengumpat. Jika ingin cepat menjauh dari nenek sihir itu, ia harus menuruti kata-katanya. "Baiklah," ia berdeham, "Zesto, Enochlei, Ankhatia, Asteri, Edafos, Algarius..."
Senyum miring tiba-tiba terbit di bibir Zeze.
Madam Thoryvos mengerutkan kening, "Empat sisanya... Yang Mulia?"
"Aku akan melanjutkan jika Anda berjanji akan membiarkanku pergi setelah ini."
Mulut sang Madam terbuka, lalu tertutup lagi. Setelah pikir panjang, ia pun menyerah. Perlu kesabaran ekstra untuk menghadapi tuan putri satu ini. "Baiklah. Tapi waktu libur Anda besok harus dipotong untuk mempelajari table manners bersama saya di sini di jam yang sama. Jangan coba-coba kabur, Yang Mulia."
Zeze memutar bola matanya saat bangkit berdiri. Ini konyol, batinnya. Bagaimana pun cara makan, tujuan yang dicapai hanya satu, kenyang. Manusia memang merepotkan.
Zeze menyambar jaketnya dari sandaran kursi, memakainya selagi melanjutkan ucapan yang tertunda, "Aposto, Haedas, Qiseidon, Zilevo.” Lengkap sudah sepuluh keluarga terhormat yang berjasa dalam mendirikan Kerajaan Agung Aplistia.
"Ingat, Yang Mulia. Waktu yang tersisa sebelum debut resmi Anda sebagai seorang anggota keluarga kerajaan di pesta ulang tahun Pangeran Kion tinggal lima hari. Anda tidak boleh membuang-buang waktu."
Guratan di dahi keriput wanita itu semakin dalam; Zeze yang melihatnya mendengus risih. Apa dikiranya aku belum pernah mengalami penyiksaan seperti ini saat kecil?
Tapi percuma membantah, tindakan itu hanya akan memperpanjang jalan keluarnya dari neraka itu. Ia pun angkat kaki dari perpustakaan tanpa meninggalkan sepatah kata.
Hidupnya kali ini akan penuh dengan hal-hal merepotkan, dan ia jamin itu. Bahkan lebih merepotkan dari pertarungan dan perang berdarah. Beruntung baginya hari ini adalah jadwal kedatangan seorang penyelamat—berjuang dan menderita bersama lebih baik daripada sendirian. Sudah sebulan lebih Zeze tidak melihat batang hidungnya, entah apakah ada yang berubah darinya.
Di bawah sinar rembulan, melintasi halaman depan dan dua baris jalan, Zeze berhenti di sebelah gerbang besar dengan patung rusa jantan putih yang bertengger di kedua sisi puncaknya. Gerbang terbelah dua atas persetujuan sidik jarinya.
“Mengapa kau lama sekali? Tidak tahukah kau betapa dinginnya menunggu di luar pada malam musim gugur?”
Selama lebih dari sebulan hanya bisa mendengarnya lewat telepon, akhirnya suara itu dapat membuat jengkel telinganya secara langsung.
Jika Zeze diberi kesempatan untuk memilih orang yang ingin ditemuinya untuk terakhir kali sebelum mati, tak ada keraguan, jawabannya adalah pemilik suara itu. Seorang sahabat yang selalu ada untuknya dalam benar maupun salah, susah maupun senang. Kata setia saja tidak cukup untuk mendeskripsikannya.
Zeze mengangkat kepalanya yang tertunduk, tersenyum sengit sambil mengacungkan jari tengah kepada seorang lelaki bertopi hitam yang sedang memperpendek jarak dengannya. Lelaki itu tertawa renyah, berhenti satu langkah dari Zeze dan mengulurkan kepalan tangan kepadanya. Zeze menyeringai, mengganti jari tengahnya dengan kepalan tangan dan mempertemukannya dengan tinju lelaki itu. Mereka lantas berjalan rangkul-merangkul menuju pintu utama tanpa menghiraukan tatapan penasaran dari para pelayan yang mereka lewati.
“Bagaimana liburanmu?” Sindir Zeze.
Lelaki itu menyeringai usil, “Pastinya jauh lebih menyenangkan dari terkurung di dalam sangkar.”
Zeze mendelik kesal, sementara dia tertawa pelan.
“Zafth ada di Kota Jaénsky,” kata Zeze, “apa kau sudah tahu?”
“Benarkah? Waktu kuajak ke Italia, dia bilang akan ke Turki. Sedang apa dia di Aplistia? Misi?” Tanya Obi; Zeze hanya mengangkat bahu.
“Kopi, Ze,” titah lelaki itu setibanya mereka di ruang duduk utama. Dia melepas topi hitamnya dan merebahkan dirinya di sofa.
“Makhluk tidak tahu diri,” Zeze mencibir, tapi ia tetap hengkang ke dapur.
“Kau harus belajar bahwa tamu adalah raja,” serunya sembari menyalakan TV.
“Demi para Dewa! Siapa lagi ini!”
Belum berjalan lima menit sejak lelaki itu memanjakan punggungnya pada keempukan sofa kualitas terbaik, pekikan yang terkesan letih itu memaksanya kembali tegak.
Lelaki itu menoleh ke belakang dan menemukan sesosok perempuan berambut pirang dalam balutan gaun merah muda. Simpel tapi tidak mengurangi kemewahannya. Dia tidak sendiri, ada tiga orang bersamanya, dan dua di antaranya adalah orang yang cukup familer bagi lelaki itu.
“Obi?” Seorang lelaki di sebelah kanan gadis pirang itu berbicara. Dia mengenakan setelan jaket kulit hitam. Rambutnya pirang dan matanya sebiru langit pagi.
Obi, yang kini bersila di atas sofa, menyeringai ke arah lelaki itu dan menyapanya dengan semangat, “Saga! Sudah lama tidak bertemu!” Lalu mata hitamnya mengarah pada seorang lelaki berambut perunggu yang berdiri di sebelah kanan Saga. Dia mengenakan jas mewah dan kemeja hitam yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Tidak mungkin Obi tidak mengenalinya. Dia adalah masa depan dari sahabat sejatinya.
Obi tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan giginya, lalu bangkit berdiri dan menyambutnya dengan semangat, “Master! Sudah lama tidak bertemu!”
“Master?” Gumam seorang gadis berambut cokelat pendek. Ia bertukar pandang dengan si Gadis Pirang, yang sama bingungnya dengannya.
Tak lama kemudian, Zeze datang membawa secangkir kopi hitam pesanan Obi. Tatapannya menyapu keempat pendatang baru. Begitu matanya beradu dengan manik abu Luna, Zeze langsung bergidik. Tatapan gadis itu mengandung intensi permusuhan. Berbeda dengan Volta—hormat terpancar dari caranya membungkuk menyapa sang Putri. Kemudian garis pandangnya membuntu di sepasang manik hazel. Seperti biasa, tidak akan bertahan lama; Zeze memutus kontak mata itu dengan menaruh cangkir di atas meja sofa.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Saga.
“Bisa dibilang... menginap di rumah teman.” Obi melirik Zeze di belakangnya.
Ekspresi Saga sedikit berubah, “Kalian saling kenal?”
“Seharusnya itu pertanyaanku,” timpal Zeze.
"Tentu saja aku mengenalnya. Aku mengenal teman Master."
Mata Zeze menyipit pada Obi saat ia menemukan kejanggalan pada ucapannya.
Sementara itu, Obi telah mengalihkan perhatian pada dua orang gadis yang tengah dibingungkan oleh situasi. "Salam kenal, Nona-nona cantik." Obi tidak tahu cara berinteraksi dengan bangsawan sungguhan, keputusannya untuk menambahkan kata 'cantik' ternyata keliru. Bukannya menyenangkan mereka, ia justru melahirkan kesan pertama yang buruk.
Luna terkesiap. Tidak sopan. Ia membuang muka menahan jengkel, sementara Volta hanya mengangguk kaku.
Obi beralih ke Kion, bertanya sambil menyeringai lebar, “Kau tidak keberatan, bukan, Master?”
Kion berpaling dari Zeze dan berlalu ke arah tangga. “Lakukan sesukamu,” jawabnya dari kejauhan.
Ketiga orang itu bergegas mengikuti Kion. Saga menepuk pundak Obi ketika melewatinya.
“Ayo pindah ke kamarku," ujar Zeze.
Obi bangkit, mengambil cangkir kopi, lalu mengikuti langkah Zeze.
"Hei, aku penasaran akan satu hal. Kau pernah atau mungkin sering berkunjung ke sini tanpa sepengetahuanku, ya?"
"Tidak juga," Obi menyeruput kopi sambil jalan. "Wow, ini enak."
Zeze meliriknya; mereka telah tiba di kamar Zeze. "Aku tidak tahu kau sedekat itu dengan si Pangeran dan antek-anteknya. Dan sejak kapan panggilan "master" ini?"
"Dan sekarang kau tahu. Berhenti membicarakan hal yang tidak penting. Aku mempunyai kehidupanku sendiri dan kita bukan kembar siam yang menempel selama 24 jam sehari."
"Oh, baiklah, itu hak asasimu. Aku hanya berharap kau tidak terjerumus ke pergaulan yang menyimpang."
"Menyimpang? Apakah bergaul dengan sekelompok buronan kelas dunia tidak cukup menyimpang bagimu? Bagaimana denganmu yang membuat Kai marah karena tidak pulang dari kelab malam sampai jam 2 pagi?"
Kening Zeze berkerut, "Aku membantu temanku sebagai DJ di sana. Kurasa aku sudah mengatakannya cukup jelas waktu itu. Lagipula, mengapa dianggap masalah jika seorang perempuan masih berkeliaran sampai larut malam? Memangnya menurutmu hanya lelaki yang berhak begitu? Memangnya dunia ini tercipta hanya untuk kaum kalian?"
"Baiklah, aku minta maaf. Ucapanku tadi sungguh keterlaluan. Aku percaya padamu, tenang saja."
"Ngomong-ngomong," Zeze menduduki sofa di seberang Obi, "Bukankah sebaiknya kau pulang terlebih dahulu untuk memberi ayahmu kabar tentang keberadaanmu di sini?”
Tiba-tiba mata Obi menggelap. “Jangan bahas itu,” sergahnya dingin. Sikap bersahabat yang tadi dipancarkannya kini lenyap tak berbekas.
Zeze bergidik begitu merasakan jatuhnya suhu ruangan. "Maaf," Ia tidak lagi membuka mulut, memasang headphone sampai ketiduran di sofa.
Tepat tengah malam, Zeze mendadak dibangunkan oleh mimpi buruk. Ia melompat duduk, melepas headphone, panik saat berusaha menyesuaikan netra dari gelapnya ruangan. Melihat Obi tertidur di sofa seberang, ia bergegas mengambil selimut di kasur dan membentangkan untuknya.
Mendadak perutnya berbunyi. Zeze mengusapnya dengan gerakan memutar. Apa aku boleh makan di luar jam makan? Ia mendesah. Kurasa aku harus keluar malam ini.
Rasa lapar akibat melewatkan makan malam menuntun Zeze ke sebuah kafe di pinggir jalan raya lapisan ketiga, sepuluh meter di atas dataran lembah yang menggelar kesibukan. Pemandangan yang dilihatnya dari jendela adalah mobil terbang, bukit perumahan, dan badan atas gedung-gedung yang dihebohkan oleh iklan hologram dan karakter AI raksasa. Salah satu AI dengan penampilan geisha tersenyum kepadanya. Setelah kenyang, ia memutuskan langsung kembali ke istana tanpa mampir ke klub. Untuk menghemat waktu, ia mengambil jalan pintas ke sebuah dataran tinggi yang diisi krikil dan batu-batu besar setinggi manusia. Ibu kota bergemerlap bagai bintang dari atas sana.
Kemudian, perasaan itu semakin kuat, menggelitik bulu kuduknya. Kegelisahan yang cukup familier; yang hanya akan ia rasakan ketika sedang diikuti, kemampuan pasif yang dimanifestasi dari pengalaman bertarung selama bertahun-tahun. Untuk mengelabui orang asing itu, Zeze tetap bersikap normal dan tidak mengeluarkan reaksi berlebih.
Sekilas hidungnya menyergap aroma bubuk mesiu. Artinya sudah lampu merah—ia tidak bisa lagi berlagak. Satu detik setelah membalik badan, matanya langsung disapa belasan peluru.
Segera Zeze memusatkan energi dýnami di punggung, melahirkan sepasang api merah yang langsung membawanya melesat ke atas. Bunyi dentuman terdengar kala peluru menyerbu bebatuan dan menghancurkannya.
“Artemis dari Énkavma memang tidak bisa dianggap remeh, ya?”
Zeze mengenali suara itu. Kebencian dan amarah seketika meremas jantungnya. Sayapnya berkobar semakin liar di belakang punggung. Ia menggertakkan gigi, kesulitan menekan luapan emosi.
Tidak, tunggu. Jika aku asal menyerang seperti bocah, akulah pihak yang merugi. Beruntung akal sehatnya cepat kembali. Zeze menggigit bibir; kebiasaannya setiap gugup. Tapi, bagaimana dia mengenaliku? Aku bahkan tidak memakai topengku. Apa identitasku telah dibongkar oleh seseorang? Seseorang yang kukenal dan... mengenalku?
Wajah Glen melintas tanpa aba-aba di pikirannya. Tidak mungkin, Zeze mengernyit pedih, menolak untuk percaya pada prasangkanya.
Beberapa meter di bawahnya, berdiri seorang wanita berambut cokelat pendek, sebagian helainya diikat satu. Motif loreng menguasai bahan celana yang berujung di dalam sepatu boots. Bahan kaus hitam mencetak otot-otot tangannya yang menggenggam sebuah senapan berwarna senada. Namun bukan benda itu yang menjadi sumber kekhawatiran Zeze, melainkan sesosok monster yang mulai terbentuk dari kerikil di sekitarnya.
Seolah ada magnet di antara mereka, ratusan kerikil menyatu membentuk wujud sesosok singa dengan kepala menyerupai wanita. Sepasang sayap terlipat di belakang punggung yang seperti merobek langit. Tingginya tiga meter, atau mungkin lebih. Itu adalah wujud dari salah satu hewan dalam mitologi Yunani kuno, sphinx.
“Lama tidak bertemu.” Wanita itu menyeringai.
Kebencian Zeze meluap lagi. Ditatapnya wanita itu dengan sorot berapi-api. Brengsek yang telah merenggut orang tersayangnya. Sosok kakak perempuannya.
Berguling di udara dengan sepasang sayap memeluk tubuh, Zeze adalah pusaran bola api raksasa. Tiga detik kemudian, sayap itu kembali membentang, meluruhkan ratusan kobaran api.
Wanita itu tersenyum, bagai murid yang mendapat bocoran untuk soal ujiannya. Sepasang sayap monster batu menutup ke depan, memasang perisai untuknya yang berdiri di atara kaki depan raksasa.
Zeze berdecak kesal menyaksikan kegagalannya. Kali terakhir ia melawan wanita itu, ia nyaris menyeberang ke neraka. Tidak bisa lagi ia menyerangnya dengan cara yang sama seperti dulu.
Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan itu.
Zeze turun perlahan-lahan sambil mencoba mengosongkan pikiran, berkonsentrasi hanya pada satu titik: punggung. Pada saat-saat seperti itulah ia iri terhadap Mia dengan konsentrasi supernya yang membuat semua hal terasa mudah. Seluruh energi panas dari sel-sel tubuhnya bersatu dan memusat di bagian punggung, semakin mengibarkan sayap apinya sehingga menciptakan percikan listrik yang berbahaya. Tiga detik berlalu dan api menyebar ke sekujur tubuh. Zeze menyerupai penyihir yang dibakar hidup-hidup di abad pertengahan. Api yang telah tiba di ujung jari-jari tangannya lalu merangkak ke udara bebas, membentuk sepasang pedang dengan mata pisau meliuk-liuk laksana petir.
Wanita itu menyaksikan semua yang terjadi lewat celah bebatuan yang melindunginya, paham bahwa dirinya tidak boleh bertindak gegabah sebelum berhasil membaca strategi lawannya. Satu tahun telah berlalu sekalipun dia membawa kemenangan di konfrontasi terakhirnya; berhasil membunuh Hestia dan nyaris menangkap Artemis. Bagaimanapun, pengalaman adalah guru yang paling hebat. Orang selalu bisa berubah dan berkembang.
Di tengah observasi, sayap batu yang melindunginya meledak tanpa peringatan. Kepingan batu berhamburan menutupi pandangan. Dia masih sibuk mencerna apa yang baru saja terjadi ketika ekor matanya menangkap sepercik kilatan. Buru-buru dia berguling ke depan, lalu berhenti dengan kaki menggesek tanah, bersamaan dengan tersiarnya suara ledakan yang sama seperti sebelumnya. Dia mengangkat pandangan dan apa yang dia temukan adalah kehancuran pada bagian kanan monster batunya.
Menoleh ke kiri, Artemis tampak telah bermandikan kobaran api. Kedua tangannya menggenggam benda asing yang memanjang dan berkilat-kilat laksana petir. Terang, tapi jelas mematikan. Bahkan angin malam pun terasa panas dibuatnya.
“Jadi, burung kenari memutuskan untuk bertarung di darat, huh?" Bibirnya membentuk seringai sinis. "Kesalahan besar.” Bebatuan bergegas membangun kembali singanya, mengisi lubang dan rekah. “Anggap saja tadi itu pemanasan.”
Hasrat membunuh menyorot keluar dari sepasang mata safir. Melenyapkan senyuman dari wajah menjijikkan itu adalah mimpi terbesar Zeze. Tanah tempatnya berpijak mendadak bergetar saat ia baru akan memulai serangan susulan, memaksanya untuk melompat cukup jauh ke belakang. Belum sempat kedua kakinya menyapa tanah, tubuh raksasa sang singa batu telah tersaji di depan mata.
Singa itu mengangkat satu kaki depannya yang luar biasa besar. Alarm bahaya di otaknya berbunyi, tanpa pikir panjang, terlalu panik, Zeze melemparkan kedua pedang petirnya ke depan. Kaki singa itu meledak, menyemburkan puing-puing yang menghempaskan Zeze hingga jatuh berguling-guling di tanah. Zeze berhenti usai punggungnya menabrak seonggok batu besar. Benturan itu mengirimkan sinyal listrik ke sekujur tubuhnya. Menyeterumnya. Tubuhnya mati rasa dalam seketika. Tak lagi tersisa kekuatan bahkan untuk mengangkat jarinya. Zeze merutuki kecerobohannya.
Mengagumi bintang-bintang di saat nyaris mati bukanlah keputusan yang tepat, namun entah mengapa timbul dorongan di benak Zeze untuk melakukannya. Bintang-bintang itu akan hilang ketika pagi datang. Kalau begitu, untuk apa mereka bersinar jika akan padam pada akhirnya?
Mengapa mereka harus repot-repot datang ke dalam hidupnya? Mengapa ia harus bertemu mereka jika mereka datang hanya untuk meninggalkannya?
Zeze menutup matanya. “Kalian... orang-orang jahat... seenaknya meninggalkanku di sini sendirian... apa susahnya mengajakku?"
"Zeze, kau tahu, dunia ini sangatlah kejam untuk orang-orang seperti kita. Tapi aku tidak bisa membencinya, entah mengapa. Justru aku ingin memperbaikinya, membimbingnya, agar kelak bisa menjadi dunia yang pantas ditempati anak dan cucuku. Pengorbanan itu diperlukan untuk mencapai sesuatu."
Rekaman suara yang selama ini tersimpan di bagian terdalam ingatannya, berhasil membuka kembali matanya yang sudah nyaris menyerah.
Ah... benar. Masih ada yang harus aku lakukan... aku perlu memperbaiki dunia yang berantakan ini.
Wajah tersenyum Glen dengan seenaknya melintas di otaknya.
Benar, aku hanya akan mati di tangannya. Aku tidak boleh mati di sini.
Susah payah Zeze bangkit dan menyeret bokongnya untuk menyandarkan punggung ke batu besar di belakang. Serangan selanjutnya adalah penentu. Sebuah akhir. Kesempatannya yang terakhir.
Ia membayangkan sesuatu yang sangat panas. Lebih panas dari magma, lebih panas dari sang surya: kebenciannya. Perasannya, kenangannya... semua ia olah menjadi dendam.
Wanita itu menegang di tempatnya berdiri. Perasaan apa ini? Mengapa aku gemetar? Apa-apaan api itu.
Wajar bila dia diliputi takut. Tubuh Artemis dibungkus api yang sangat mengerikan. Dia lebih mendekati iblis dibanding manusia. Panasnya mengkhawatirkan. Seolah rahang neraka telah menganga. Berbeda dari sebelumnya, api itu berpencar liar ke sana kemari laksana lidah yang siap menjilat siapa pun yang berani mendekat. Bersatu dengan angin, melejit ke atas dan menjadi tornado.
Mengesampingkan firasat buruknya, wanita itu memerintahkan sphinx-nya untuk menyerang. Api akan jinak di hadapan tanah, seperti yang sudah-sudah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Sayang sekali api kali ini terlalu liar. Sebelum monster itu berhasil menjangkau target, batu-batu penyusun tubuhnya telah melebur menjadi lava. Bagai gelombang tsunami, api Zeze melahap sang singa hingga tak bersisa.
Apa-apaan ini? Wanita itu terkejut bukan main. Artemis tidak pernah sekuat ini. Dia seperti... orang yang benar-benar berbeda.
Di tengah gelombang rasa takut yang mendera, wanita itu berhasil menyadari sesuatu yang krusial; gadis yang tengah terduduk lemah jauh di hadapannya itu sama sekali tidak menggerakkan anggota tubuhnya. Seolah dia hanya boneka yang putus dari talinya. Maka, itu pastilah kekuatannya yang terakhir. Dengan kata lain, ia hanya perlu menunggu sampai sang waktu menjalankan perannya.
Penantiannya pun terjawab dengan hasil yang memuaskan. Satu menit kemudian, api yang mengamuk itu akhirnya padam.
Wanita itu tersenyum dingin, diarahkannya senapan ke depan wajah. Pelatuk ditarik dan timah panah dimuntahkan.
Tak semudah dugaannya. Kenyataan bahwa api itu kembali hidup dan dengan gampang melahap semua peluru, menumbuhkan api tersendiri yang membakar dadanya.
Mengapa kau tidak mati saja! Jangan mempersulitku dan biarkan aku mendapatkan jabatan itu!
Bayangan tentang hadiah manis yang menantinya jika berhasil menghabisi salah satu buronan kelas dunia, memicunya untuk kembali menarik pelatuk. Sang Artemis kembali ditembaki dengan liar. Namun, semuanya selalu berakhir sia-sia.
Di ujung sana, Zeze memejamkan matanya. Setidaknya aku harus membawa j*lang itu ikut bersamaku ke neraka.
Wanita itu menatap horor ombak panas yang tiba-tiba saja bergelung dengan sangat cepat ke arahnya. Dengan gemetar, dia mencoba melarikan diri. Tapi apa daya, dia telah kehilangan banyak waktu yang seharusnya dia gunakan sejak awal. Ombak merah itu mengubahnya menjadi abu yang kini diterbangkan angin, terombang-ambing hingga menghilang tanpa jejak.
Mata Zeze terbuka cepat, napasnya terengah-engah. Aku masih hidup? Pikirnya, kaget tak terkira.
Berulang kali ia mencoba bangkit, dan di setiap percobaan, hasilnya adalah jatuh. Darah menghujani punggung tangannya, dan membuatnya kebingungan, bertanya-tanya bagaimana bisa ia berdarah jika ia tidak merasakan sakit?
Zeze berjuang hanya untuk menyentuh kepalanya yang, secara mengejutkan, menorehkan luka menganga. Ia menatap aneh telapak tangannya yang gemetar dan telah berlumuran darah. Ledakan dan sengatan listrik tadi pasti telah melumpuhkan sejumlah sarafnya hingga ia bahkan tidak mampu merasakan luka sehebat itu.
Kedua tangan yang menopang tubuhnya bergetar hebat, tubuhnya oleng, ia pun terjatuh ke depan. Hidungnya mimisan akibat benturan. Cahaya memudar dari mata birunya.
Aku... mati di sini?
Zeze menggerak-gerakan kedua tangannya, mendorong mereka agar kembali bekerja menopang tubuh, dan hanya sanggup membuatnya terlentang.
Matanya yang redup memandang kabur bulan purnama yang bersinar gagah di atasnya.
Artemis berarti dewi bulan, apakah itu alasan mengapa saat-saat terakhirku akan dihabiskan untuk menatap bulan? Senyum lesu terbit di bibirnya. Konyol. Apakah saat sekarat manusia hobi memikirkan hal-hal aneh? Atau itu hanya aku?
Tiba-tiba teringat olehnya orang yang telah memberinya nama sang dewi; orang jahat yang telah tega meninggalkannya, idiot yang selalu menyimpan semua hal sendirian. Sampai bumi menelan tubuhnya pun, masih banyak hal tentangnya yang menjadi misteri bagi Zeze.
Seharusnya orang itu tidak perlu mengulurkan tangan untuknya. Jika pada akhirnya dia pergi, untuk apa mengajaknya datang. Dia adalah tuan rumah yang buruk; mengajak seseorang bertamu ke rumahnya, hanya untuk meninggalkan tamu tersebut dan menguncinya di dalam.
Tapi, apakah benar Zeze menyesali pertemuan dengannya delapan tahun yang lalu? Apakah Zeze menyesal karena orang itu telah memberinya keluarga baru?
Tidak, Zeze tidak menyesal. Ia sangat amat bersyukur karena telah dipertemukan dengan teman-temannya, kakak-kakaknya, keluarganya yang baru. Ia tidak pernah menyesal telah menemukan cahaya di tengah kegelapan.
Zeze berpaling dari bulan ke arah kanan ketika sumber cahaya lain datang menusuk sudut matanya.
Pupil matanya langsung membesar saat menemukan akar dari cahaya itu. Apa-apaan ini?
Apa yang dilihatnya adalah penampakan dua orang lelaki dan satu orang perempuan yang sedang menutup jarak dengannya. Manusia paling jahat yang pernah ia kenal, penjahat yang tega-teganya meninggalkannya seorang diri.
Baru sekarang kalian menjemputku? Zeze terkekeh miris.
Tidak ada penyesalan. Ia bangga dan puas karena telah berhasil membalas kematian kakak perempuannya. Semoga jiwanya tenang di alam baka. Ia hanya merasa bersalah karena belum menyelesaikan misi terakhir dari rajanya. Tapi itu tidak masalah. Ia yakin Juni, Rhea, Kai, Obi, Kaló, dan Norofi pasti bisa menyelesaikan misi mereka walau tanpanya.
Setelah sekian lama menyaksikan kepergian orang terkasihnya, gilirannya pun datang. Sesaat lagi ia akan menjadi pihak yang meninggalkan. Seperti itukah perasaan mereka saat tahu mereka akan meninggalkannya; merasa bersalah karena tidak dapat bertahan hingga akhir? Sekarang Zeze bisa mengerti.
Tangannya terangkat, bergetar, mencoba menggapai ketiga orang berselimut cahaya itu. Apa daya, tangannya terlalu lemah. Akhirnya ia memutuskan untuk berpaling, memejamkan mata, menunggu sang malaikat maut melakukan tugasnya.
Setelah banyak merenggut nyawa, sekarang adalah gilirannya berada di posisi mereka. Takut adalah hal terakhir yang ia rasakan. Karma pasti datang cepat atau lambat, ia tahu itu melebihi siapapun.
Tera... Afrodi... Sageta... akhirnya aku bisa bertemu kalian lagi.
Obi... maaf... aku tidak bisa membuatkanmu kopi lagi. Bermain game bersama... bertualang... kau akan melakukan semua hal itu tanpaku.
Kestabilan sudah hilang dari irama napasnya. Sedetik dadanya bergerak, sedetik tidak.
Glen... maaf... aku tidak bisa menepati janjiku.
Telinganya sudah menyerah menangkap bunyi. Hanya kesunyian yang menyiksa.
Semoga... kebahagiaan selalu menyertai kalian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Irsalina Laila
oooh. pasti karena zeze bakalan dikenal orang
2020-06-17
5