Part 20

Kini Langit dan Renata sudah sampai di kediaman kakek Cakra. Sebuah pesta keluarga sudah kakek siapkan untuk Langit.

Ketika Langit dan Renata memasuki ruangan pesta di dalam rumah, semua mata tertuju pada mereka. Sebuah pemandangan yang sangat apik. Dua insan yang bagaikan pahatan indah berjalan beriringan.

Renata mengembangkan senyum selebar mungkin untuk menyapa keluarga dan rekan kerja Langit.

Acara dimulai dengan sambutan dari Langit selaku yang berulang tahun, kemudian dilanjutkan dengan Kakek selaku penyelenggara.

Lalu pemotongan kue tart dan di akhiri dengan pesta dansa.

Kakek hanya mengamati Langit dari tempatnya duduk tanpa ekspresi.

"Pa, Langit sudah datang membawa menantu. Kenapa kakek masih saja diam?" tanya Lucky.

Kakek menghela nafas.

"Anakmu itu sudah dibutakan oleh cinta. Aku yakin, suatu hari dia akan menyesal." gumam Kakek.

"Apa Papa tahu sesuatu tentang menantu Renata?" tanya Lucky mencoba menggali informasi.

Tapi kakek hanya terdiam sambil terus mengawasi Langit dan Renata.

Istri Lucky memegang lengannya. Memberi isyarat agar tak bertanya terlalu jauh.

Renata dan Langit berdansa dengan sangat anggun.

"Sayang, aku bahagia banget bisa datang ke pesta hari ini sama kamu." bisik Renata sambil merangkul lengan Langit.

"Aku juga bahagia, Saya—" bisikan Langit terputus tatkala dia merasakan keanehan saat mencium bau parfum Renata.

"Kamu kenapa sayang?" tanya Renata heran karena Langit tak melanjutkan kalimatnya.

"Kamu pakai parfum apa?"

"Parfum kesukaan kamu, Vic*toria Se*cret yang pernah kamu belikan beberapa saat lalu." jawab Renata.

"Huemm.." Langit menutup mulutnya untuk menahan rasa mual yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

Segera Langit pergi ke toilet. Sedangkan Renata menatap bingung.

"Setelah enam bulan menikah, baru sekarang kamu menampakkan batang hidung. Tak tahu diri sekali!" sindir tante Sandra.

Renata yang duduk di bar sambil menikmati segelas wine hanya menyeringai mendengar sindiran Sandra.

"Sepertinya tante juga semakin tebal muka!" jawab Renata sambil menggoyangkan gelas wine-nya.

"Terima kasih atas pujiannya. Sepertinya aku akan berterima kasih lagi padamu nanti." Sandra menyeringai lalu meninggalkan Renata.

Renata mengernyitkan alis tanda tak mengerti apa maksud Sandra. Namun dia tak ambil pusing. Selama Langit berada dalam pelukannya, tak akan ada satupun keluarga Langit yang bisa mengusiknya. Dan dia tetap bisa hidup berfoya-foya.

Setelah Sandra pergi, Langit datang dengan wajah pucat.

"Kamu nggak apa-apa, Sayang?" tanya Renata sambil mengusap wajah Langit.

"Mungkin aku sedikit kelelahan. Ayo kita sapa kakek lalu pulang." ajak Langit.

"Baiklah kalau kamu maunya begitu."

Langit menggandeng tangan Renata menuju ke meja keluarganya berada.

"Kek, makasih udah membuatkanku pesta ulang tahun yang meriah." ucap Langit sambil menatap lekat kakek Cakra.

"Cih!" Kakek hanya berdecih sambil menatap Renata.

"Dasar tua bangka sialan! Akan kupastikan hidupmu tak akan lama lagi!" umpat Renata dalam hati, namun bibirnya masih mengembangkan senyum.

"Langit, kenapa wajahmu sepertinya pucat? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Emilia.

"Kak Langit kurang enak badan, Ma." jawab Renata.

Lalu Lucky menempelkan tangannya di kening Langit. Dan benar saja tubuh Langit demam.

"Segera panggilkan dokter keluarga, Ma. Sepertinya demam Langit sedikit parah." titah Lucky pada Emilia.

Segera Emilia menghubungi Dokter Hans.

"Kamu bawa Langit ke kamarnya, ya Nak." titah Emilia pada Renata.

Renata mengangguk dan menggandeng tangan Langit menuju kamar Langit yang ada di rumah kakek.

"Sayang, kamu istirahat dulu sambil nunggu dokter datang, ya?"

"Kamu mau kemana?" tanya Langit.

"Aku nggak kemana-mana. Aku mau ke toilet sebentar."

Langit mengangguk dan memejamkan matanya sejenak. Kepalanya terasa pusing berputar-putar dan rasa mual terus dirasakannya.

Tampak samar Langit melihat Aurora sedang duduk di tepi ranjangnya sambil tersenyum.

Langit merasakan tangan Aurora membelai kepalanya. Tangan kecil itu terasa hangat dan memberi rasa nyaman. Sehingga dirinya melupakan rasa pusing yang di rasakan dan membuatnya terlelap.

Tak lama kemudian dia merasakan sesuatu yang dingin menempel di dadanya. Yang ternyata adalah stetoskop yang dokter tempelkan di atas dada membuatnya terbangun.

Dia sudah melihat orang-orang berkerumun sambil memantau keadaanya.

"Baru kali ini aku melihat Langit tak berdaya. Padahal sesakit apapun dirinya, dia bisa menahannya." celetuk sepupu Langit yang bernama Varo.

"Sialan!" umpat Langit dalam hati. Bibirnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata.

Langit merasa dirinya seperti ubur-ubur yang tak bertulang. Lemas dan tak berdaya.

Lalu mata Langit menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya. Tapi dia tak melihat sosok Aurora. Padahal baru saja dia membelai kepalanya.

"Pak Langit hanya kelelahan. Istirahat yang cukup akan segera membuat pulih. Saya akan meresepkan vitamin untuknya." kata Dokter Hans yang sudah puluhan tahun bekerja sebagai dokter keluarga Cakra.

Setelah Dokter Hans pergi, semua pun ikut keluar dari kamar kecuali Renata.

"Ayo kita pulang ke rumah." ajak Langit.

"Tapi kondisi kamu kan masih belum sehat, Sayang."

"Aku nggak nyaman kalau berada di sini lama-lama."

"Baiklah kalau itu mau kamu."

Setelah berpamitan, Langit dan Renata pergi meninggalkan kediaman kakek Cakra.

Mereka diantarkan supir kakek, karena Renata habis meminum wine. Takutnya dia sedikit mabuk.

Sepanjang perjalanan, Langit hanya menatap ke arah luar jendela. Wajah Aurora menari-nari dalam pikirannya.

"Karena demam, sepertinya tadi aku berhalusinasi." batin Langit.

Sesampainya di rumah, Langit dan Renata langsung menuju ke lantai dua.

Saat melewati kamar Aurora, Langit menoleh sejenak. Lampunya menyala, tapi tampak sepi.

Setelah mengganti pakaiannya, Langit meminum vitamin yang di berikan oleh dokter lalu beristirahat.

Renata selalu berada di sampingnya sampai Langit terlelap.

"Cih! Aku baru saja tiba, tapi lo udah sakit-sakitan! Merepotkan aja!" batin Renata kesal.

Renata turun ke lantai satu, menuju ke kamar Aurora. Dia mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada jawaban.

Karena penasaran, Renata memutar kenop pintu. Ternyata tidak dikunci juga.

Tanpa permisi, Renata masuk ke dalam kamar. Aroma coklat langsung menyapa indera penciumannya.

"Hmm.. Aroma coklat?! Dasar anak-anak!"

Renata menilik setiap sudut kamar Aurora. Tak ada yang spesial. Dan saat dia membuka lemari, ternyata baju Aurora sudah tak ada.

"Baguslah kalau bocah ingusan itu sadar diri. Jadi gue nggak perlu repot buat ngusir dia!" seringai Renata.

Renata berjalan menuju tempat tidur Aurora dan menjatuhkan diri di atasnya.

"Haah...lelah sekali rasanya! Syukur kalo gadis itu bukan batu sandungan gue. Gue bisa leluasa menguasai Langit." Renata bergumam sendiri sambil menatap langit-langit kamar Aurora.

Mungkin karena dirinya benar-benar lelah, tak butuh waktu lama akhirnya dia terlelap di kamar itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!