Part 18

Hari ulang tahun Langit tinggal dua minggu lagi. Aurora sudah mulai menyiapkan kejutan untuk Langit. Dia ingin memberikan kesan ulang tahun yang indah untuk Langit.

Karena ini pertama kalinya Aurora memberikan kejutan untuk suaminya, jadi dia mempersiapkan segalanya dengan matang.

Selama ini dia hanya membayangkan masa depan bersama orang yang dia cintai. Menghabiskan hari-hari bahagia, menghadapi masalah dan halang rintang bersama, serta merayakan hal-hal kecil dengan penuh suka cita bersama.

Maka dari itu, kali ini Aurora ingin mewujudkan angan-angannya. Bisa menikah saja sudah suatu kebahgiaan baginya. Dia ingin mewujudkan rasa terima kasihnya pada Langit melalui kejutan ulang tahunnya.

Aurora yang tengah sibuk dengan tabletnya, mendengar ponselnya berdering. Segera dia menerima panggilan yang ternyata orang dari Event Organizer (EO).

"Halo." sapa Aurora ketika dia menerima telepon.

"Iya benar… Oh ya, hari rabu saja tidak apa-apa. Nanti Kakak aja yang atur lokasi pertemuan kita… Iya makasih ya, kak" percakapan Aurora bersama team EO.

Setelah membuat janji, Aurora mendapat pesan dari team EO yang berisi alamat sebuah cafe untuk melakukan pertemuan. Lalu dia membuat catatan pada kalender di ponselnya agar tak lupa.

"Semoga dengan kejutan ini, aku bisa sedikit meluluhkan hatimu, Mas" gumam Aurora sambil tersenyum. Dan melanjutkan kembali pekerjaannya.

Tak terasa sudah sore hari. Hampir setengah hari Aurora menghabiskan waktu untuk pekerjaan freelance yang kini hampir jadi mata pencaharian utamanya.

"Anjir udah sore aja nih!" seru Aurora yang langsung bangkit dari duduknya.

Namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing.

"Aduh! Kenapa kepala gue pusing begini?!" gerutu Aurora sambil menepuk-nepuk kepalanya.

Aurora beranjak dari kamarnya menuju dapur untuk masak makan malam. Sebelum itu, dia memakan sepotong roti untuk mengganjal perutnya yang sudah keroncongan. Lalu mencari kotak obat dan meminum obat pereda sakit kepala.

Setelah itu Aurora segera memasak.

Menu makan malam hari ini adalah capcay. Aurora selalu memasakan makanan rumahan yang sederhana, karena dia tak bisa memasak makanan western.

Lagipula Langit juga sangat menyukai makanan rumahan seperti itu, katanya mengingatkan pada masakan almarhumah Mamanya.

Sayang sekali Aurora tak pernah bertemu dengan ibu mertuanya. Mungkin saja kalau beliau masih hidup, Aurora dan ibu mertuanya pasti akan sangat cocok. Karena mereka sama-sama pandai memasak dan pandai dalam pekerjaan rumah.

Setelah selesai memasak, segera Aurora beberes dan mandi.

Tak lama kemudian terdengar pintu yang terbuka. Dengan wajah full senyum Aurora menyambut kepulangan suaminya seperti biasa. Langit pun mencium kening Aurora sebagai balasan.

Langit segera naik ke lantai dua dan mandi. Setelah itu mereka makan malam bersama.

"Mas laper banget, ya?" tanya Aurora yang melihat Langit menambah lagi isi piringnya.

"Sepertinya." jawab Langit singkat karena mulutnya sedang penuh dengan makanan.

"Baru kali ini saya lihat Mas makan banyak dan lahap. Kayak abis kerja bakti aja!" ledek Aurora sambil tertawa cekikikan.

"Aaaah... Kenyangnyaaa~" seru Langit setelah meneguk segelas air untuk mengakhiri ritual makan malamnya.

"Sudah dua hari ini nafsu makanku bertambah. Nasi bekal yang kamu bawakan saja masih kurang. Padahal biasanya terasa cukup." curhat Langit.

"Bisa-bisa aku jadi gendut dan perutku nggak sixpack lagi" gerutu Langit.

"Nggak mungkinlah, Mas! Setiap akhir pekan kan Mas selalu nge-gym. Mana mungkin kehilangan tubuh indahmu hanya karena makan banyak!"

"Tapi rasanya akhir-akhir ini badanku terasa pegal dan lemas seperti tak bertenaga." keluh Langit sambil mengingat-ingat kondisi tubuhnya.

"Mas mungkin kecapekan. Butuh istirahat lebih."

"Entahlah. Tapi pekerjaanku menumpuk sekali. Apalagi kamu tahu sendiri kan kalau aku sibuk membangun mall baru."

"Iya, iya saya tahu. Saya doakan semoga semua pekerjaan Mas lancar. Amin" Aurora menengadahkan tangan mengamini doanya sendiri.

"Amiin. Makasih untuk doanya."

Hari pun semakin larut. Mereka sudah berada diatas ranjang bersiap untuk berlabuh di pulau kapuk.

"Mas, mumpung besok weekend, mari kita pergi ke pantai." ajak Aurora.

"Kenapa tiba-tiba?" tanya Langit.

"Pengen jalan-jalan, Mas. Suntuk di rumah terus!" keluh Aurora.

"Pantai mana? Lombok atau Bali?"

"Hah? Ngapain jauh-jauh kesana sih Mas?" Aurora yang kaget sontak terbangun menatap wajah Langit serius.

"Di kota sebelah juga ada pantai kok!" seru Aurora kesal.

"Aku nggak suka tempat umum yang ramai!"

"Kalau mau ke pantai, aku pesankan hotel dengan privat beach aja. Tinggal mau di Bali atau Lombok!"

Aurora mencebikkan bibirnya kesal.

"Dasar ya, mentang-mentang tajir!" gerutu Aurora dalam hati.

"Nggak jadi, Mas!"

"Katanya pengen ke pantai?"

"Udah nggak pengen lagi. Cukup rebahan aja di atas kasur. Kalo bosen nanti tinggal pindah aja. Rebahan di kamar mandi. Kan sama-sama ada airnya kayak di pantai!"

Langit tertawa melihat ekspresi Aurora yang kesal setengah mati. Apalagi bibirnya yang maju karena cemberut, membuat Langit gemas.

Cup.

Langit mencium sekilas bibir Aurora yang sedang cemberut.

"Mas suka banget ya jahilin saya!" protes Aurora.

Langit kembali tertawa.

"Kayaknya Mas harus di hukum, deh!"

"Hukuman apa ya yang pantas buat, Mas?" Aurora menggaruk keningnya tampak berpikir.

"Kalau kamu bingung, gimana kalau sebagai hukumannya, aku akan memuaskanmu sepanjang malam ini?" tanya Langit sambil tersenyum menyeringai.

Beberapa detik kemudian tubuh Langit sudah berada di atas tubuh Aurora.

"Itu sih bukan hukuman! Tapi emang maunya Mas aja!" Aurora kembali mencebikkan bibirnya.

Keduanya tertawa bersama. Lalu setelahnya, mereka menghabiskan malam panjang penuh peluh di atas ranjang.

Setelah pertempuran di malam yang menggairahkan, mereka langsung tertidur sampai pagi.

Saat terbangun di pagi hari, Aurora sudah berada dalam pelukan tubuh Langit yang masih polos.

Wajahnya yang berada tepat di depan dada Langit menciptakan rasa hangat tersendiri.

"Hangat. Seperti pelukan ayah", batin Aurora sambil menitikkan air mata.

Aurora semakin mendekatkan kepalanya di dada Langit yang bidang. Menghirup dalam feromone lelaki yang sedang terlelap tersebut.

"Kamu ngapain pagi-pagi udah nempel banget?" tanya Langit dengan mata yang masih tertutup.

"Saya lagi ASMR suara jantungmu, Mas." jawab Aurora dengan pipi merona karena kepergok.

"Kamu lagi mesum ya?" tanya Langit lagi.

"Nggak!" jawab Aurora secepat kilat.

"Tapi akibat kamu nempel pagi-pagi gini, si junior langsung bangun nih." Langit menatap ke arah bawah tubuhnya.

Seketika wajah Aurora semakin memerah.

"Au ah! Saya mau mandi."

Aurora hendak bangun dari kasur, tapi dengan cepat Langit meraih tubuh Aurora yang ringan kembali terlentang. Lalu mengukungnya di bawah selimut.

Pagi ini pun tak lepas dari aktifitas fisik di atas ranjang.

Memang benar mereka berdua setiap weekend tak perlu pergi ke pantai. Di atas ranjang saja sudah membuat bahagia. Hahaha

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!