Kini Aurora dan Langit duduk berhadapan di ruang makan. Di depan mereka sudah ada surat perjanjian kontrak pernikahan.
Aurora yang sebelumnya merasa kantuk, sekarang matanya terang benderang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Biasanya dia sudah terbang ke alam mimpi karena dia bukan tipe orang yang suka begadang. Dia masuk ke dalam tipe orang yang akan langsung tidur jika kepalanya menyentuh bantal. Tapi kali ini dia benar-benar sudah melewatkan jam tidurnya.
Langit mengetuk-ketukkan bolpoin di atas kertas di hadapannya. Sambil terus menatap ke arah Aurora yang sedari tadi tampak duduk gelisah. Dia menilik satu-persatu bagian wajah gadis itu. Mulai dari kening yang terekspos karena rambut yang disisir ke belakang dan dicepol, mata yang tampak berbinar dengan tahi lalat kecil di bawah mata kiri, hidung kecil, serta bibir yang...
"Sialan! Gue gak bisa lepas dari bayang-bayang rasa manis dari bibir itu!" umpat Langit dalam hati.
"Mari kita revisi surat perjanjian kita!" ujar Langit membuka percakapan. "Bagian mana yang ingin kamu revisi?!" Langit kembali mengetukkan bolpoin. Sebenarnya dia pun merasa gugup. Tapi dia ingin tetap terlihat tegas di depan Aurora.
"Sa-saya terserah Anda saja" Aurora mere mas ujung bajunya menahan rasa tegang dalam dirinya.
"Kalau menurut saya..", Langit mengangkat kertas tersebut lalu merobeknya.
"Kita hapus semua perjanjian ini! Karena saya lelaki normal dan saya bukan tipe orang yang sabar!" ucap Langit dengan percaya diri.
"Maksud Anda?" Aurora masih tampak bingung.
"Ayo menikah lagi dengan saya!" dengan lantang Langit melamar Aurora. Seketika Aurora mendongakkan kepala.
Tapi entahlah itu bisa disebut lamaran atau hanya perintah.
Aurora sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya. Dia mengorek-korek telinganya, padahal tidak kotor atau gatal.
"Kamu tidak salah dengar. Dan jangan merusak suasana serius!" Aurora tersenyum nyengir ke arah Langit.
"Tapi bagaimana dengan pernikahan ini?" Aurora meragu.
"Saya akan menikahi kamu secara siri." Langit bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Aurora.
"Saya tunggu jawaban kamu pagi nanti." Langit merobek salinan perjanjian yang ada di hadapan Aurora. Lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Aurora. "Saya tunggu jawaban kamu pagi nanti. Ingat, saya bukan orang yang sabaran!" bisik Langit sambil tersenyum penuh arti ke Aurora. Membuat tubuh gadis itu merinding.
Setelah mengatakan hal-hal di luar dugaan sehingga mengejutkan dan membuat Aurora merinding, Langit berlalu menuju ke lantai dua kamarnya berada. Meninggalkan Aurora yang masih terpaku di tempat. Mencerna kembali setiap kejadian dan juga perkataan Langit.
Beberapa saat kemudian dia tersadar dari lamunan dan menepuk-nepuk pipinya bahwa semua yang dialaminya bukan mimpi.
"Aaargh! Gue dilamar Pak Langit!" gumam Aurora sambil berlari ke dalam kamarnya.
"Gila! Meski jadi istri siri, rasanya gue mau terbang!" Kini dia berteriak di dalam selimut.
"Gue harus ngasih kabar bahagia ini ke Mika!"
Lalu Aurora menekan kontak dengan nama 'Mika bawel' di ponselnya.
Setelah panggilan itu tersambung, segera Aurora menceritakan semua kejadian yang di alaminya. Mika hanya mendengarkan dari seberang sana sambil mengamati setiap kata yang Aurora lontarkan.
"Kalo ada waktu, gue pengen ketemu sama lo, Zal", ucap Mika dari sambungan telepon.
"Ya udah besok yee..!" seru Aurora dengan girang.
"Oke, besok gue tuker shift malem aja. Biar nanti kita ketemunya bisa lamaan." Lalu Mika menutup sambungan telepon dari Aurora.
Pagi hari pun tiba. Saat-saat yang mendebarkan bagi Aurora. Seperti sedang mengikuti ujian akhir, dia harus menjawab dengan tepat. Padahal hanya ada satu pertanyaan dan satu jawaban, tapi rasa berdebarnya mengalahkan saat akan menjalani ujian nasional.
Aurora mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia sudah punya jawaban untuk Langit. Tapi Aurora masih ragu. Saking groginya, dia sampai ingin kabur dari rumah itu.
Ya, keluar sebentar sambil menghirup udara pagi mungkin bisa menetralkan kembali pikiran dan perasaan yang kacau. Urusan masak untuk sarapan biarlah Langit nanti beli makan saja.
Aurora menyilangkan tas kecil berisi yang hanya berisi dompet dan ponsel. Segera dia keluar dari rumah sebelum Langit turun dan menyadari keberadaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aurora kembali ke rumah setelah matahari mulai meninggi. Tampak mobil Langit pun sudah tak ada di garasi. Tapi dia tak yakin, karena dia pernah tertipu kemarin.
"Masa iya dia nggak ke kantor lagi?" gumam Aurora sebelum memasuki halaman rumah. Lalu dia celingak-celinguk melihat sekitar, barangkali ada Langit yang bersembunyi.
Setelah dirasa aman, segera Aurora masuk rumah. Dan memang Langit sudah tak ada di sana.
Langit memang seorang CEO, tapi dia tak pernah seenaknya bolos kerja. Dia sangat bertanggung jawab atas perusahaan yang dia bangun. Meski kemarin dia tak berangkat kerja, namun pekerjaan tetap dia handle dari rumah.
Segera Aurora masuk ke dalam kamarnya dan membanting tubuhnya di atas kasur yang empuk. Dia menatap langit-langit kamar sembari mengingat perkataan Mika tadi.
"Zal, lo gak bisa apa bedain nafsu ama cinta?" Setelah Aurora bercerita, Mika bukannya ikut bahagia malah sebaliknya.
"Tapi gue udah beneran suka banget sama Pak Langit, Mik. Gue udah dibutakan cinta. Nggak apapa kalau gue harus nikah siri ama dia. Daripada cinta gue bertepuk sebelah tangan." Aurora masih ngotot dengan pendiriannya.
"Terus nanti lo dibuang kalo si Renata itu balik, Zal! Lo mikir sampe sana nggak sih?!" teriak Mika yang kesal. Untung kos Mika sepi kalau pagi, karena semua sudah berangkat kerja.
"Gue bakal manfaatin waktu yang tersisa untuk ngebuat Pak Langit jatuh cinta sama gue, Mik! Terus kalo Renata balik, Pak Langit bakal tetep milih gue!"
Mika memijit keningnya karena pusing mau meyakinkan Aurora seperti apalagi. Emang ya, cinta itu buta. Tapi setidaknya jangan sampai jadi bodoh!
"Terserah lo deh, Zal! Kalo itu bisa bikin lo bahagia. Lo juga berhak bahagia. Mungkin bener kata lo, siapa tau Langit bisa jatuh di pelukan lo. Tapi kalo lo ada apa-apa, gue harus orang pertama yang lo hubungi, oke?" Mika menyerah menasehati dan akhirnya pasrah dengan keputusan sahabatnya itu.
"Gue harap Langit bener-bener orang yang baik, Zal. Selama ini lo udah menderita sendirian. Lo juga berhak bahagia. Gue akan selalu ada buat lo!" batin Mika sambil memeluk dan mengusap punggung Aurora yang pamit pulang.
"Hati-hati di jalan lo! Punya mata jan buat liatin cogan gepeng doang!" teriak Mika sambil melambaikan tangan ke Aurora yang pergi bersama ojek online-nya.
Aurora yang kelelahan tertidur dengan pulas dengan masih memakai sepatu keds kesayangannya. Sampai saat dia merasakan ada tangan yang memeluk pinggangnya. Dia mencoba membuka matanya perlahan karena masih dalam keadaan mengantuk berat. Pasalnya semalam dia tak bisa kembali tidur sampai menjelang pagi.
"Sudah bangun?" tanya suara yang benar-benar Aurora kenali. Karena terkejut, tubuhnya seakan melompat menghindar. Tapi sudah dulu berada dalam pelukan hangat tubuh lelaki yang dia dambakan.
"Kamu nggak akan bisa lari kemana pun. Jadi, jawab sekarang atau aku akan tetap memaksamu menikah!"ancam Langit namun dengan nada bercanda dan tersenyum.
Deg!
Jantung Aurora seakan lepas dari peraduan karena baru kali ini melihat senyum Langit yang ditujukan untuknya.
"Anda curang, Pak. Dengan wajah tampan seperti itu, Anda mengancam saya. Mana bisa saya menolak?" Aurora mengerucutkan bibirnya.
Bibir Aurora yang manyun terlihat menggemaskan di mata Langit. Membuat Langit membayangkan kembali adegan ciuman manis.
"Jadi apa jawabanmu?"
"Saya mau menikah sama Anda, Pak!" setelah menjawab, Aurora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Lalu tubuh berotot itu melepas pelukan dari tubuh Aurora. "Segeralah mandi! Ayo makan malam di luar." ajak Langit kemudian pergi dari kamar Aurora.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments