Tentang Renata

Satu bulan telah berlalu dari hari pernikahan Langit dan Aurora. Mereka semakin hari semakin terlihat bucin. Aurora yang selalu melayani Langit dengan tulus. Begitu pula dengan Langit yang tampak selalu memanjakan Aurora.

Kini keduanya sedang minum teh bersama di ruang tengah. Duduk diatas karpet sambil menikmati camilan.

Langit melihat beberapa kali Aurora menghela nafas.

"Kamu kenapa?" tanya Langit sambil memperhatikan wajah Aurora.

"Saya nggak kenapa-napa kok, Mas." jawab Aurora dengan terbata.

"Dari tadi kamu menghela nafas. Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?"

Langit terlalu peka sebagai lelaki.

"Anu.. Apa saya boleh menanyakan sesuatu yang agak sensitif?" tanya Aurora ragu sambil meremas jemarinya.

"Tanyakan saja apa yang mengganggu pikiranmu. Sebisa mungkin aku akan menjawab."

"Hmm... Maaf sekali Mas. Setiap kita berhubungan intim, Mas nggak pernah pakai alat kontrasepsi. Apa Mas sengaja ingin punya anak denganku?"

Setelah melontarkan pertanyaan yang sedikit menggelitik hati, Aurora segera menundukkan kepala. Nyalinya tiba-tiba menciut.

Suasana pun tiba-tiba hening. Hanya terdengar suara detikan dari jam dinding.

"Hahahaha!" tiba-tiba saja Langit tertawa.

Aurora yang terkejut langsung mendongakkan kepala. Melihat Langit yang tertawa, Aurora terheran.

"Aku suka dengan pertanyaanmu yang sangat berani!" ucap Langit sambil menyeringai.

"Maafkan saya kalau pertanyaan saya menyinggung hati Mas."

"Tidak, tidak, tidak apa-apa." Langit kembali tertawa.

"Kamu jangan berekspektasi tinggi dari hubungan kita. Apalagi soal anak. Karena sampai kapanpun kamu nggak akan pernah bisa hamil anak dariku."

"Ke-kenapa bisa gitu Mas?"

"Karena aku mengidap Azoospermia*."

(*kondisi dimana air ma:ni pria saat ejakulasi tidak mengandung sper:ma)

Aurora yang mendengar pernyataan Langit langsung membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan karena terkejut sekaligus merasa bersalah. Tak seharusnya dia menanyakan hal itu pada Langit. Pasti hati Langit akan terluka.

"Maaf Mas saya lancang menanyakan hal ini ke Mas. Saya benar-benar tak berniat untuk menyinggung perasaan kamu, Mas."

"Tak masalah. Lagi pula kalaupun aku bisa memiliki anak, aku ingin anak yang lahir dari rahim Renata. Bukan darimu ataupun wanita lain."

"Mas sangat mencintai Kak Renata ya?"

Langit menjawab dengan anggukan.

Nyut.

Rasa nyeri tiba-tiba menerobos dinding hati Aurora. Seperti tersayat sebilah pisau saat melihat wajah Langit yang menjadi tenang setiap kali nama Renata disebut.

Selama ini pun Aurora belum pernah mendengar namanya di sebut sekalipun oleh Langit. Atau bahkan Langit tak pernah tahu siapa namanya?

"Kenapa kamu menatapku seperti itu?!" tanya Langit saat Aurora terpaku menatap wajah Langit.

"Wajah Mas terlihat sangat tenang setiap menyebut nama Renata."

"Terlihat sekali, ya?"

Aurora mengangguk.

"Karena dengan menyebut namanya saja sudah membuatku bahagia. " jawab Langit sambil merekahkan senyumnya.

Tiba-tiba suasana menjadi hening dan canggung.

"Saya permisi mau tidur dulu, Mas. Ngantuk." pamit Aurora sambil menguap. Dan Langit mempersilahkan.

Aurora segera masuk ke dalam kamarnya.

Di dalam kamar, Aurora merasa jengkel dengan setiap perkataan Langit yang tak pernah sekalipun memperdulikan perasaanya setiap kali membicarakan tentang Renata.

"Renata teruuuss!" teriak Aurora sambil membekap wajahnya dengan bantal agar suaranya tak terdengar.

Lalu dengan penuh emosi dan tenaga, dia memukul-mukul bantal tersebut. Melampiaskan segala kekesalannya.

"Awas saja! Aku akan membuat Om Eskimo itu jatuh cinta sampai terbucin-bucin dan melupakan Renata!" gerutu Aurora sambil meninju bantal.

Setelah meluapkan emosinya, Aurora terengah-engah. Dan tak lama kemudian dia terlelap.

...****************...

Sementara itu, Renata sedang bersiap untuk pemotretan sebuah majalah. Dia yang kini berada di Amerika tengah di sibukkan dengan segala hal. Hampir setiap hari jadwalnya padat. Belum lagi dia harus membagi waktunya dengan kuliah di sebuah Universitas di sana.

"Haah.. Lelah banget gue! Mana handphone gue!" perintah Renata pada asisten pribadinya.

Si asisten yang bernama Uni itu langsung bergegas menyerahkan benda pipih dengan logo apel itu pada Renata.

"Laki-laki sialan itu tak bisa di hubungi lagi!" gerutu Renata memaki sebuah nama dalam ponselnya.

"Uni!" teriak Renata memanggil asistennya. Padahal Uni berada tak jauh darinya.

Segera Uni mendekati Renata.

"Suruh si tua bangka itu mentransfer sejumlah uang. Gue mau pesta!" perintah Renata.

"Tapi Kak, kemarin katanya Pak Rio sedang dalam liburan bersama keluarganya dan nggak mau di ganggu dulu." jawab Uni dengan terbata.

"Dasar semua laki-laki baji:ngan!"

Renata membanting botol air mineral yang ada di depannya.

"Yang satu alasan lagi bangun perusahaan! Satu lagi alasan liburan! Emang dasar semua lelaki kere!" Renata meluapkan segala emosinya.

"To hell with the company or family!" umpat Renata.

Uni yang sudah paham sekali dengan tabiat Renata hanya bisa menghela nafas.

Sang manajer pun tak pernah ambil pusing karena sudah tahu sifat asli Renata. Yang terpenting Renata masih profesional maka kontrak akan terus berjalan. Tak peduli bagaimana Renata di luar pekerjaan.

"Kakak mau aku pesankan room di Bar?" tanya Uni untuk meredam emosi Renata.

"Cuma lo, Uni. Yang ngerti gue!" peluk Renata lalu mencium bibir Uni sekilas. Lalu Renata pergi ke toilet.

Segera Uni mengelap bibirnya dengan kasar setelah Renata tak terlihat dari balik pintu ruang ganti.

"Cih. Sumpah jijik gue!" Umpat Uni kesal. Karena hal itu kerap kali dilakukan Renata padanya.

"Gue pengen cepet balik ke Indo. Gue muak di sini lama-lama!" gerutu Uni. Lalu dia menelepon sebuah Bar langganan Renata dan memesan sebuah VIP room. Tentunya dengan berbagai macam minuman beralkohol favorit Renata.

Setelah Renata kembali dari toilet, dia membenahi kembali riasannya dan mengganti baju pemotretan dengan baju khusus pergi ke klub malam.

Tubuh seksi Renata sudah terbalut dress hitam ketat diatas lutut. Dress Backless yang hampir mengekspos seluruh punggung dengan potongan dada rendah sehingga menonjolkan dua buah sintal miliknya menambah kesan sensual bagi yang melihat dirinya.

Sesampainya di bar, Renata segera melesak masuk tanpa menghiraukan Uni. Dan Uni yang sudah terbiasa, melenggang pulang ke apartemen menunggu Renata pulang dini hari.

Renata segera menuju ke room yang sudah di pesankan oleh Uni.

Saat berjalan menuju room, Renata menabrak seorang pria tampan. Karena cahaya yang temaram, Renata tak begitu mengenali sosok tersebut.

Sepertinya Renata tertarik dengan pria itu, begitu pula sebaliknya. Lalu pria itu dan Renata saling berkenalan.

Mereka memutuskan untuk duduk bersama di room milik Renata. Pria yang akhirnya diketahui asli London itu bernama Justin.

Malam semakin larut. Dan mereka berdua sudah mulai mabuk. Renata meracau tak karuan. Sedangkan Justin masih dalam keadaan setengah sadar.

Justin mulai melancarkan aksinya. Mendekati Renata yang mabuk dan tanpa Renata sadari, Justin telah membawanya ke sebuah hotel.

Akhirnya malam ini menjadi malam panjang yang penuh gairah dari kedua insan yang baru saja berkenalan.

Ini bukanlah hal baru bagi Renata. Dia sudah beberapa kali melakukan 'one night stand' bersama pria asing. Dan itu hampir menjadi sebuah kebiasaan bagi Renata yang haus dengan kehangatan dan harta dari pria-pria yang menidurinya.

Terpopuler

Comments

Anis Hasan

Anis Hasan

lanjut iih renata menjijikan

2023-08-31

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!