Aurora menggeliatkan tubuhnya setelah membuka mata. Rasa pegal di badannya sedikit berkurang. Sejatinya dia pun kurang tidur.
"Aah rasanya badan enteng sekali setelah tidur beberapa menit." Ucap Aurora setelah membuka matanya.
"Sekarang udah jam 7 malam. Kamu tidur jam berapa tadi?" celetuk Langit yang berbaring di sampingnya.
Aurora baru sadar kalau dia sudah ada di atas kasur. Karena sebelumnya dia merasa tertidur di lantai.
"Hah? Udah jam 7?!" pekik Aurora sambil bangkit dari tempat tidur. Dia celingukan mencari tabletnya.
"Tadi aku ketiduran mungkin sekitar jam 2, Mas." sambung Aurora yang membolak-balik karpet. Tak lama kemudian dia menyadari kalau kamarnya sudah bersih. Karpet yang awalnya di penuhi dengan sampah kertas, kini tampak bersih dan rapi.
"Mas yang beresin karpet ini, kan?" tanya Aurora sedikit panik.
"Kamu cari ini?" tanya Langit sambil memperlihatkan benda di tangannya.
"Iya, Mas."
Aurora segera menghampiri Langit untuk mengambil tabletnya. Tapi Langit tak langsung memberikan benda itu.
"Mandi dulu!" titah Langit.
Dengan cemberut Aurora segera melenggang ke kamar mandi. Sedangkan Langit sibuk dengan tablet milik Aurora.
Langit membuka galeri foto di tablet Aurora. Menggeser satu-persatu foto dalam album. Tak banyak foto Aurora, hanya beberapa. Isi album itu kebanyakan adalah hasil desain yang Aurora kerjakan. Mulai desain perhiasan, logo perusahaan sampai desain baju permintaan klien.
Tak lama kemudian Aurora sudah keluar dari kamar mandi dengan bathrobe-nya.
Aurora membuka lemari, memilih piyama yang akan dia pakai.
Sesaat dia merasa kalau tali bathrobe-nya longgar. Ternyata ulah Langit yang melepas tali itu secara diam-diam dari belakang tanpa Aurora sadari.
"Jahil banget sih, Om!" protes Aurora.
"Wah berani sekali ya kamu panggil pake sebutan Om?" Langit menyeringai.
"Habisnya jahil banget!"
Aurora akan kembali mengikat tali bathrobe, namun Langit mencegahnya dengan cara mencekal tangan Aurora.
Dengan cepat Langit membuka lebar bathrobe Aurora. Terpampang dengan indah dua buah sintal milik Aurora yang terbungkus bra warna hitam.
"Mas ngapain sih?" Aurora sedikit kesal bercampur malu. Tampak wajahnya mulai memerah.
"Sepertinya dua buah ini terasa segar." ucap Langit sambil menatap dua buah sintal yang terlihat padat.
"Ngomong apa'an sih? Lepasin tangan aku Mas. Aku mau pakai baju dulu lalu masak buat makan malam." ronta Aurora. Namun tak berhasil karena tenaga Langit lebih kuat mencekal tangannya.
"Aku mau menu pembuka dengan buah ini saja", ucap Langit sambil salah satu tangannya mengelus dada Aurora. Sedang tangan satu lagi masih setia memegangi tangan Aurora.
Langit mendekatkan tubuhnya ke tubuh Aurora. Menghimpitnya ke lemari sehingga tak ada celah diantara tubuh mereka.
Langit menghirup dalam-dalam aroma coklat yang sekarang jadi favoritnya dari leher jenjang Aurora. Kini kedua tangannya berada di atas gundukan kenyal milik Aurora. Mengelus-elus dengan lembut.
Sedangkan pemilik buah sintal itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Wajah Aurora sudah memerah menahan kenikmatan yang di ciptakan Langit melalui sentuhan tangan hangatnya.
"Jangan di gigit", ucap Langit saat melihat Aurora menggigit bibir bawahnya. Lalu salah satu tangannya mengusap bibir Aurora. Perlahan dia menyatukan bibirnya dengan bibir Aurora.
Mereka saling memagut dan semakin menuntut. Kemudian Langit menarik bathrobe Aurora hingga jatuh dan menampilkan lekuk indah tubuh gadis itu.
Hmm..tepatnya perempuan. Karena sekarang Aurora bukan gadis polos lagi.
Setelahnya Langit melepas kaitan bra Aurora. Sekarang terlihat jelas dua buah sintal itu tanpa penghalang. Dengan cepat tangan Langit meraih keduanya.
Tangan Langit mengusap dan me milin puncak berwarna pink itu. Lalu menyesap dan memainkan puncak itu dengan lidahnya.
Pemilik benda kenyal itu hanya bisa pasrah sambil menggigit bibir bawahnya. Terkadang juga mengeluarkan desa han karena Langit berhasil menemukan titik sensitifnya.
Hampir 20 menit kegiatan itu berlangsung. Dan sepertinya Langit sudah puas dengan 'menu pembuka' makan malam kali ini. Kemudian dia mengambil sebuah piyama dress polos milik Aurora lalu berniat memakaikannya.
"Tunggu dulu Mas."
Aurora memungut bra-nya di lantai. Namun dicegah oleh Langit.
"Apa kamu nggak tahu bahaya memakai bra saat tidur?" tanya Langit.
"Tahu kok Mas."
"Lalu kenapa kamu masih pakai?"
"Karena lebih bahaya kalo nggak pake bra Mas!" jawab Aurora sambil tertawa.
"Tapi aku mau kedepannya jangan pake bra kalo malam hari."
"Itu sih akal-akalan Mas aja. Biar punya mainan!"
Langit tertawa karena niat mesumnya tercium oleh Aurora.
Lalu Langit memakaikan piyama dress itu ke tubuh Aurora. Tentunya tanpa bra.
Kemudian mereka menuju ke dapur untuk membuat makan malam. Mereka memilih membuat nasi goreng karena simpel dan cepat.
Setelah makan malam, mereka memutuskan menonton film di ruang tengah.
Aurora duduk di antara kedua kaki Langit yang terbuka lebar. Lalu Langit memilih film apa yang akan di tonton.
"Kamu suka film apa?" tanya Langit.
"Apa aja Mas. Terserah."
"Kamu pernah nonton film '365 days'?"
Aurora menggelengkan kepala.
"Mau nonton ini?"
"Iya. Pokoknya terserah Mas aja. Aku juga nggak begitu tahu tentang film-film."
Langit tersenyum menyeringai. Lalu memutar film 365 days di layar televisi besar.
Seperti tertipu mentah-mentah. Wajah Aurora memerah saat film mulai diputar. Baru awal saja sudah membuat Aurora tercengang karena adegan pemeran utama wanitanya yang bermas tur basi memakai dil'do. Ini adalah hal baru yang Aurora baru lihat.
Semakin lama adegan dalam film tersebut membuat malu. Sesekali Aurora membuang wajah karena banyak sekali adegan erotis di dalamnya.
Apalagi sepanjang menonton film, tangan Langit terus mengusap dan mere mas dada Aurora serta memi lin puncaknya yang mengeras di balik piyama.
"Mas selau aja iseng ya? Milih film kayak gini."
"Tapi sepertinya kamu juga menyukainya."
"Nggak suka!"
"Meski kamu bilang nggak, tapi tubuhmu berkata lain tuh!"
"Sok tahu!"
"Buktinya ****** kamu dari tadi keras. Dan aku yakin bagian bawahmu pasti sudah basah."
Aurora membuang muka karena malu. Dia ketahuan menahan hasratnya.
"Aku mau tidur, Mas. Capek." lalu Aurora pergi masuk ke dalam kamarnya.
"Ya ampun! Gue sampe lupa kalo punya PR!" gerutu Aurora sambil meraih tablet di nakas.
Lagi-lagi otak Aurora tak bisa fokus. Apalagi setelah menonton film erotis tadi, ide dalam benak Aurora ambyar semuanya.
"Ini semua gara-gara Om-om mesum itu! Kerjaan gue kagak kelar-kelar!" Aurora menjambak rambutnya frustasi.
Karena sudah merasa benar-benar buntu, Aurora memutuskan untuk meletakkan kembali tabletnya. Dia menarik selimutnya dan tak butuh waktu lama, diapun terlelap.
Sedangkan di lain kamar, Langit sedang menerima panggilan dari Renata. Mereka saling melepas rindu karena beberapa hari ini Renata sibuk dengan pemotretan dan Langit sibuk dengan pekerjaannya.
Tentunya itu hanya alasan klise Langit untuk menutupi betapa dia bahagia menghabiskan beberapa malam yang penuh gairah bersama Aurora.
Yah istilahnya 'sekali dayung dua pulau terlampaui'. Enak bener jadi Langit ini ya? Hihihi
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Anis Hasan
lanjut
2023-08-26
0