Tiba-tiba Langit memeluk Aurora dari belakang. Menyibakkan rambut Aurora yang terurai. Dengan lembut Langit berbisik di telinga Aurora.
"Nanti malam pake baju itu, ya?"
Jleger!
Aurora menelan salivanya yang kelat. Wajahnya semakin memerah.
"Sekarang kita harus mengisi perut. Mau aku pesankan makanan apa?" tanya Langit sambil merogoh saku celana untuk mengeluarkan ponselnya.
"Saya terserah Anda saja. Saya bisa memakan segalanya kok."
Aurora segera menyimpan kotak itu di dalam lemari. Sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.
Lalu Langit duduk di tepi ranjang Aurora. Sambil memesan makanan secara online.
Aurora mengamati Langit dari sisi ranjang lainnya.
"Hidung saya bisa lepas kalau kamu lihatin terus kayak gitu!"
Meskipun sedang menatap layar ponsel, Langit tahu kalau Aurora sedang memperhatikannya.
Aurora malah ketawa cekikikan karna mendengar ucapan Langit.
"Emang hidung bapak bisa di lepas pasang ya?"
"Iya. Hidung saya otomatis!"
Aurora semakin terpingkal mendengar jawaban Langit.
"waah sekarang Anda bisa bercanda ya? Selera humor Anda juga receh!"
"Kemarilah!" perintah Langit.
"Kemana Pak?"
Langit menepuk-nepuk ranjang kosong di sisinya. Segera Aurora mengikuti perintah Langit dan beranjak dari tempatnya. Dia duduk di samping Langit namun sedikit memberi jarak.
"Mendekatlah. Saya nggak akan ngapa-ngapain kamu!"
Aurora menggeser tubuhnya mendekat Langit.
"Mulai sekarang jangan panggil saya 'Pak' lagi." Ucap Langit sambil merapikan anak rambut Aurora yang jatuh ke pipi.
"Lalu saya harus panggil apa, Pak?" Aurora terbata-bata. Wajahnya kembali memerah malu-malu.
"Kamu mau panggil apa? Terserah kamu saja."
"Kalau panggil 'Mas' boleh nggak Pak?" tanya Aurora ragu.
"Hmm.. Boleh saja. Biar terdengar mesra."
Aurora mengangguk setuju.
"Dan nggak usah pakai bahasa formal lagi. Bicara senyaman kamu saja. Panggilnya juga boleh 'aku-kamu'.
Langit menatap intens wajah Aurora yang benar-benar sudah seperti tomat matang itu. Dan dia tersenyum.
"Jangan menunduk terus. Lehermu tidak pegal?"
Langit mengangkat dagu Aurora dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Nggak kok, Pak"
"Eh.. Mas!" Aurora mengoreksi panggilannya.
Kini mereka mensejajarkan pandangan. Saling menatap dalam kedua mata masing-masing.
"Katakan kalau kamu mencintaiku!" titah Langit tanpa melepaskan pandangannya.
"A-aku mencintaimu, Mas" ucap Aurora sambil tersipu.
Lalu Langit menarik dagu Aurora degan kedua jarinya mendekat ke arahnya. Mengikis jarak kedua bibir mereka.
Semakin dekat.
Lebih dekat.
Dan lebih dekat lagi.
Aurora sudah bersiap dengan memejamkan mata.
Tingtong!
Suara dari bel rumah yang dibunyikan seseorang. Akhirnya membuyarkan momen mesra mereka.
Aurora yang tersadar langsung berlari ke arah pintu.
"Siapapun itu yang sedang ada di luar. Terima kasih sudah menyelamatkan jantung gue yang hampir copot." Gumam Aurora membukakan pintu.
Ternyata pengantar pesanan makanan.
Setelah menerima makanan tersebut, Aurora menata di atas meja. Lalu memanggil Langit untuk makan.
Hening. Hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Karena rasa canggung akan momen yang terlewat.
Setelah selesai makan dan membereskan meja makan, mereka duduk di teras, menikmati senja sebagai pasangan pengantin baru.
"Saya nggak nyangka kalo bakal menikah beneran sama Anda." ucap Aurora memecah keheningan senja.
Langit menatap ke arah Aurora yang sedang menyesap teh dari cangkirnya.
Langit menghela nafas.
"Kamu masih pakai bahasa semi formal, ya?"
"Ah..maaf" Aurora mengatupkan bibirnya.
"Saya sudah terbiasa, jadi saya masih agak canggung, Pak."
"Eh, mas." Aurora kembali mengoreksi panggilannya.
Langit tersenyum sambil menyesap tehnya yang masih hangat.
"Tidak apa-apa. Aku nggak memaksa. Senyaman kamu saja."
Aurora tampak terdiam lesu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Trak. Suara cangkir yang beradu dengan meja kaca ketika Langit meletakkan kembali tehnya.
"Saya boleh bertanya sesuatu?" Aurora meragu.
"Tanyakan saja apa yang ada dalam pikiranmu."
Aurora terdiam sejenak.
"Sebenarnya apa makna sebuah pernikahan untuk Anda?"
"Pernikahan yang mana yang kamu maksudkan?"
Aurora kembali terdiam.
"Pernikahan Anda dengan Renata maupun dengan saya."
"Aku menikahi Renata untuk mempertahankan cinta kami."
"Lalu bagaimana dengan saya?"
Aurora menatap Langit dengan penuh harap. Sedangkan Langit terdiam seperti memikirkan sebuah jawaban yang tepat.
"Aku menyukaimu. Kamu memiliki sosok yang ceria dan positif. Membuatku tenang ketika berada di dekatmu."
"Lantas apakah Anda juga mencintai saya?"
"Entahlah. Ini perasaan cinta atau hanya sebatas suka saja."
Langit menatap lembut mata Aurora yang mulai berkaca.
"Kita nggak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Siapa tahu suatu saat nanti aku akan jatuh hati padamu."
Langit membelai halus pipi Aurora. Menampilkan wajah polos tanpa make up dan tatapan yang penuh harap.
"Saya harap Mas juga akan membalas cintaku", batin Aurora.
Aurora menggenggam tangan Langit yang berada di pipinya.
Tak terasa waktu berlalu. Matahari sudah tenggelam dan nampak langit yang mulai gelap. Kini mereka sudah berada di kamar mereka. Bergelut dengan pikiran masing-masing.
Kini malam hari pun telah tiba.
Langit sudah bersiap untuk turun ke lantai satu dimana kamar Aurora berada.
Sedangkan Aurora kini setia mendekam di dalam kamar mandi sambil mondar-mandir. Sebuah baju "haram" hadiah dari Mika tergantung di dinding.
"Pake, enggak. Pake, enggak. Pake, enggak." berkali-kali mulut Aurora mengucap mantra yang tidak ajaib sama sekali. Karena bukannya yakin dengan pilihan yang jatuh, malah membuatnya semakin ragu-ragu.
"Kenapa sih, bahannya harus setipis ini?" gerutu Aurora sambil menjereng baju warna hitam itu.
Toktoktok. Suara pintu kamar mandi diketuk. Sudah pasti itu adalah Langit.
Aurora sangat terkejut karena Langit sudah berada di kamarnya. Sedangkan dia masih ada di dalam kamar mandi. Jantung Aurora semakin berdebar. Karena malam ini adalah malam pertama bagi mereka sebagai pengantin.
"Kamu di dalam?" tanya Langit dari balik pintu.
"Iya, Mas. Saya masih mau mandi." bohong Aurora. Dia sudah mandi dari tadi. Hanya saja dia ragu untuk memakai baju dinas itu. Sedangkan dia masih memakai handuk dan tak membawa baju lain. Terlambat jika dia ingin mengambil baju di lemari.
"Baiklah. Saya tunggu di ruang tengah." ucap Langit.
Aurora menempelkan telinganya ke daun pintu. Memastikan bahwa Langit benar-benar sudah tak ada di kamarnya.
"Huuuh" Aurora menghela nafas lega. Setidaknya dia bisa keluar mengambil baju tidur yang lain di lemari.
Aurora berkacak pinggang di depan baju berbahan tipis itu sambil tersenyum menang.
"Haaah.. Akhirnya gue nggak jadi pake baju setipis harapan ini."
Aurora meraih baju tersebut dan melipat dengan asal. Dia bermaksud menyimpan kembali baju itu ke dalam lemari.
Bergegas dia membuka pintu dan akan keluar dari kamar mandi.
Cklek. Pintu terbuka dan ..
Jengjeeeng
Langit masih berdiri di depan pintu sambil melipat tangan didepan tubuhnya.
Hahahaha .. Aurora tertangkap basah nih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments