Langit mengajak Aurora makan malam di sebuah restoran Masakan Padang langganannya. Setelah makan malam, Aurora mengajak Langit pergi ke sebuah pasar malam. Di sana mereka hanya menikmati waktu malam sambil berjalan berkeliling. Tapi hanya sebentar saja. Aurora merasa tak enak dengan Langit karena dia menjadi pusat perhatian para cewek dan ibu-ibu. Bagaimana tidak, Langit terlihat mencolok di antara semua pengunjung.
"Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalo Anda bakal jadi pusat perhatian. Pasti Anda merasa tidak nyaman."
Langit menghela nafas sejenak. Lalu tersenyum kecut karena kecewa kencan romantis yang ia bayangkan bersama Aurora di pasar malam jadi kacau.
Akhirnya mereka memutuskan pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Aurora segera pergi ke kamarnya. Dia mengganti pakaiannya dengan piyama. Lalu memakai skincare khusus malam hari dan bersiap untuk tidur.
Toktoktok! Suara pintu kamar diketuk.
Segera Aurora membukakan pintu. Terlihat tubuh tinggi berotot itu berdiri di depan pintu.
"Ada perlu ap—"
Belum sampai Aurora melanjutkan kalimatnya, Langit sudah menyergap tubuh gadis itu dan mencium bibirnya dengan penuh gai rah. Tak ada celah sama sekali untuk mengambil nafas bagi Aurora.
Tak sampai di situ, tangan langit mulai menyusup ke dalam atasan piyama Aurora. Membelai kulit punggung Aurora yang halus, menyusuri setiap incinya. Membuat bulu gadis itu merinding.
Beberapa menit kemudian Langit melepaskan ciuman panasnya. Aurora segera menghirup oksigen dengan rakus. Sambil terengah-engah, Aurora sedikit menjauhkan tubuhnya dari tubuh Langit.
"Tunggu dulu, Pak!"
Aurora mengangkat sebelah tangannya menginstruksi langkah Langit selanjutnya.
Langit mendekatkan kepalanya ke telinga Aurora lalu berbisik.
"Saya menginginkan kamu malam ini!"
Mata Aurora terbelalak saking kagetnya. Padahal selama ini sikap Langit sangat dingin padanya. Lalu tiba-tiba mengajak menikah dan sekarang Langit menginginkan kehangatan darinya.
"Tapi kita masih belum menikah secara agama lagi, Pak!"
"Bukankah kamu juga mengiginkan saya?" tanya Langit dengan percaya diri.
Benar Aurora sangat menginginkan Langit bisa segera menjadi suaminya. Tapi untuk melakukan hubungan bdan sebelum menikah itu adalah perbuatan zina.
"Saya memang suka sama Anda, Pak. Tapi saya ingin melakukan 'itu' setelah kita menikah nanti!" Dengan tegas Aurora menolak ajakan Langit.
Langit pun mengurungkan niat dan nafsunya terhadap Aurora.
"Baiklah kalau begitu, besok kita langsung menikah. Saya akan menyuruh Rendi memanggil penghulu."
"Apaa!" pekik Aurora yang sangat terkejut. Dia tak menyangkan akan secepat itu dia menikah dengan Langit (lagi).
Keesokan harinya.
Langit benar-benar sudah mempersiapkan semuanya dibantu oleh Rendi. Semua yang dibutuhkan untuk nikah siri sudah siap, tinggal menunggu Aurora yang masih berias.
Langit sudah dengan setelan jas rapi sudah duduk di depan penghulu. Menunggu Aurora keluar dari kamar.
Ini adalah kali kedua mereka melangsungkan pernikahan. Yang pertama menikah dengan nama Renata. Sekarang menikah (lagi) dengan namanya sendiri. Impian Aurora menjadi suami Langit sesungguhnya sudah terwujud.
Tak lama kemudian Aurora keluar dari kamar dengan memakai kebaya putih. Dia digandeng oleh sahabatnya, Mika.
Semalam Aurora langsung mengontak Mika untuk menghadiri acara Ijab Qabul pernikahannya dengan Langit. Mika sangat terkejut. Pasalnya sangat mendadak dan juga sangat cepat. Belum lagi dia harus izin atasan serta mencari rekan untuk menggantikan shift-nya. Syukur ada rekan yang mau menggantikannya.
Akhirnya Mika bisa datang ke acara Ijab Qabul sahabatnya.
Penghulu langsung menginstruksikan untuk segera melaksanakan Ijab Qabul saat Aurora sudah duduk di tempat yang telah disediakan.
Setelah itu pengucapan Ijab dilakukan oleh seorang yang bertindak sebagai wali Aurora. Lalu dilanjutkan pengucapan Qabul dari Langit.
"Sah!" Ucap penghulu lalu diikuti suara dari beberapa orang yang datang.
Wajah Aurora memancarkan aura bahagia. Segera Mika memeluk sahabatnya itu.
"Terharu gue. Akhirnya Om Eskimo itu beneran suka sama lo!" ucap Mika memegang erat tangan Aurora.
Aurora hanya mengangguk setuju dengan ucapan Mika.
Penghulu beserta beberapa saksi sudah pulang. Tinggal Mika dan Rendi yang tersisa bersama dengan kedua mempelai.
Mika menggandeng tangan Aurora sambil mendatangi Langit yang sedang berbincang dengan Rendi.
Mika mengulurkan tangan ke Langit untuk memberi selamat. Disambut Langit dengan senyum hangat.
"Om.." ucap Mika.
Seketika senyum Langit yang hangat langsung berubah dingin.
"Saya ucapkan selamat. Semoga kalian berdua bahagia selalu. Tolong jaga Zala, ya Om!"
Langit kembali menatap tajam sahabat istrinya itu. Berani-beraninya dia memanggil Langit dengan sebutan 'Om'.
"Dasar gadis kurang ajar!" Batin Langit kesal terhadap sebutan yang disematkan untuknya.
"Itu urusan saya."
Langit benar-benar kesal sehingga menjawab dengan seadanya.
"Maafkan sahabat saya, Pak. Dia memang begitu anaknya."
Lalu Mika pamit pulang dengan diantarkan Rendi.
Kini tersisa Langit dan Aurora di rumah itu. Suasana pun berubah menjadi canggung.
Aurora melirik jam di dinding. Masih pukul 13.20.
"Pak saya permisi mau ganti baju dulu."
Langit mengangguk. Sepertinya dia juga perlu mengganti pakaiannya.
Mereka pun pergi ke kamar masing-masing.
Sesampainya di kamarnya di lantai dua, Langit segera mengganti setelan jasnya dengan kaos obling dan celana pendek. Dia mematut dirinya di cermin sambil mengusap-usap wajah tampannya.
"Perempuan mana yang nggak terpikat sama gue? Terima kasih Tuhan." Langit tersenyum miring.
"Gue harus segera menemui gadis itu!" Gumam Langit yang hendak turun menemui Aurora.
Sedangkan saat ini Aurora membuka kado dari Mika.
Aurora membuka kotak warna coklat dengan pita cantik yang menghiasi atasnya.
Sebelum itu, Aurora mengocok-kocok kotak tersebut karena merasa kotak itu enteng sekali.
Setelah kotak terbuka, mata Aurora melotot bak melompat dari lubangnya.
Sebuah lingerie!
Kain tipis warna hitam yang menerawang di bagian inti dan dada. Sukses membuat wajah Aurora memerah saat memegangnya.
"Dasar Mika gila! Masa gue suruh pake beginian? Bisa masuk angin njir!" Umpat Aurora kesal sekaligus malu.
Aurora sudah membayangkan betapa malunya jika dia menggunakan pakaian haram itu di depan Langit. Pasti Langit akan mengira bahwa dia gadis murahan.
Aurora segera memasukkan kembali lingerie itu ke dalam kotak dan bermaksud untuk menyembunyikan. Namun naas, Langit sudah terlanjur melihat kotak itu.
"Apa itu?" tanya Langit penasaran. Aurora langsung menyembunyikan di balik tubuhnya.
"Ka-kado dari Mika, Pak."
"Kenapa kamu sembunyikan?"
Aurora menggaruk pipinya sambil berpikir alasan yang tepat.
"Anu.. Ini bukan apa-apa, Pak!"
Langit mengernyitkan dahinya seolah tak percaya.
"Kalo bukan apa-apa, berarti boleh saya lihat kan?"
Aurora menggelengkan kepala pelan.
Langit sangat penasaran dengan isi kotak tersebut. Kenapa sampai membuat wajah Aurora memerah.
Sebuah ide terlintas di benak Langit. Melihat Aurora yang lengah, Langit langsung menyambar kotak tersebut dan membukanya.
Jengjeng!
Seketika wajah Langit pun ikut memerah.
"A-apa saya bilang! Jangan lihat!"
Aurora segera meraih kembali kotak itu beserta dengan isinya. Dia membalikkan badan sambil memasukkan kembali baju itu ke dalam kotak.
Tiba-tiba Langit memeluk Aurora dari belakang. Menyibakkan rambut Aurora yang terurai. Dengan lembut Langit berbisik di telinga Aurora.
"Nanti malam pake baju itu, ya?"
Jleger!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Anis Hasan
lanjut semoga langit bucin ma aurora
2023-08-04
0