"Mik hari ini gue diajak belanja perabotan tuh sama si bos buat ngisi peralatan dapur di rumahnya. Gilak lo tau nggak berapa harga satu set panci sama penggorengan?" curhat Aurora melalui telepon.
"Ya nggak tau lah. Mana pernah gue beli panci? Semua peralatan dapur kan emak gue yang beli!" jawab Mika kesal.
"Sepuluh juta kurang seribu perak, anjir!" Aurora setengah teriak girang.
"Gile lo ya sekarang! Lo udah jadi nyonya muda konglomerat beneran!" teriak Mika di seberang telepon.
"Kapan Lo ada libur? Gue traktir. Duit gue masih ada sisa empat puluh juta nih!" pamer Aurora. Tapi tak membuat Mika kesal atau iri. Karena mereka sudah seperti saudara dan Mika tahu kalau Aurora tak berniat pamer. Mereka memang suka bercanda seperti itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu bulan berlalu..
Sekarang, kegiatan Aurora setiap hari adalah 'melayani' suaminya. Mulai dari menyiapkan sarapan, semua yang Langit perlukan sampai makan malam. Tapi tidak dengan urusan ranjang. Karena sudah tertulis dalam perjanjian bahwa mereka tidur terpisah dan dilarang melakukan kontak fisik.
Dan perjanjian itu juga menguntungkan bagi Aurora. Dengan begitu, dia tak perlu 'melayani' suaminya. Dan juga bisa menjaga 'mahkota kesucian'-nya.
Hari ini dia ada janji bertemu dengan Mika di sebuah kafe. Segera setelah membereskan rumah, Aurora bergegas mandi dan pergi menuju kafe yang dituju.
"Mikaaa!" Aurora melambaikan tangan kearah sahabatnya yang baru saja masuk ke dalam kafe. Mereka berpelukan dan sedikit berputar untuk melepaskan rindu. Sehingga mereka jadi pusat perhatian.
"Lo udah jadi nyonya konglomerat masih aja pake baju gembel!" seru Mika menilai cara berpakaian Aurora.
"Sadar posisi gue, Mik! Gue kan cuma istri sementara sampai istri asli Om Eskimo itu pulang ke Indonesia", ucap Aurora dengan nada lemah.
"Gilak! Lo bisa tahan apa tiap hari disodorin wajah tampan tapi haram buat jatuh cinta?"
Aurora pun memikirkan hal yang sama dengan Mika. Bagaimana bisa dua insan hidup dalam satu atap bersama selama satu tahun dapat bertahan tanpa adanya muncul perasaan spesial?
"Au ah, Mik! Jangan sampe dih, amit-amit gue jadi pelakor!" ucap Aurora kemudian diikuti gelak tawa keduanya.
Mereka menghabiskan waktu bersama untuk melepas rasa rindu. Setelah makan di kafe, Mika mengajak Aurora nonton film. Lalu dilanjutkan Aurora yang merengek mengajak berkaraoke dan lanjut berbelanja ke mall. Tanpa sadar, langit sudah malam. Waktu sekarang menunjukkan pukul 20.30 .
Segera Aurora menghentikan sebuah taksi dan segera pulang. Ia lupa memasak makan malam untuk Langit. Selama perjalanan pulang, Aurora merasa gelisah dan bersalah.
Saat memasuki rumah, ia mencium bau masakan yang sedap. Bergegas dia lari ke dapur untuk memastikan.
Dilihatnya Langit sedang memasak sesuatu. Terlihat sebuah afron tergantung dilehernya. Meninggalkan kesan seksi ala-ala cowok drakor atau novel.
Deg deg deg deg.
"Lagi-lagi jantung sialan ini!" gumam Aurora dalam hati.
Langit yang tak menyadari kedatangan Aurora masih asik membuat nasi goreng. Ia mengaduk-aduk nasi dalam penggorengan agar bumbu menyatu dengan nasi beserta sayuran dan bahan-bahan lain.
Tak lama nasi goreng sudah matang. Langit membaginya dalam dua piring.
"Wah, enak tuh, Pak", ucap Aurora yang membuat Langit terkejut.
"Sejak kapan kamu ada di sana?" tanya Langit malu-malu.
"Sejak zaman nenek moyang, Pak", jawab Aurora sambil nyengir kuda.
Langit sudah terbiasa mendengar kalimat-kalimat aneh yang keluar dari mulut Aurora.
"Ini coba kamu makan dan koreksi rasa!", perintah Langit.
Dengan senang hati Aurora memakan nasi goreng buatan Langit.
"Hmm.. kalo menurut saya, ini kurang garam sedikit. Dan kurang pedas, Pak".
"Kalau begitu rasanya udah pas di lidah Nata. Karena dia mengkonsumsi sedikit garam dan nggak suka pedas".
Aurora mengernyit tanda tak mengerti maksud perkataan Langit.
"Saya ingin belajar masak. Biar nanti kalau Nata lelah, saya yang akan memasakkan untuknya", Langit menjelaskan maksud dari pernyataannya.
Jedeer! Hilang sudah nafsu makan Aurora. Ternyata hatinya terasa sakit ketika mendengar suaminya menyebut nama wanita lain. Meski kenyataanya mereka bukan suami istri sesungguhnya.
Langit menyantap nasi goreng buatan tangannya sendiri dengan lahap. Sedangkan Aurora yang telah kehilangan nafsu makan hanya bisa menatap Langit.
"Betapa beruntungnya pemilik gelar 'istri' dari Om Eskimo", batin Aurora.
Aurora berdiri hendak meninggalkan meja makan.
"Kenapa tidak kamu habiskan?" tanya Langit yang melihat nasi goreng Aurora berkurang sedikit sekali.
"Saya lupa Pak kalau sudah makan tadi bersama teman saat keluar", jawab Aurora dengan nada lesu.
"Oh", hanya itu yang keluar dari mulut Langit.
Sesampainya di kamar, Aurora mengambil kertas dan pensil. Ia menumpahkan rasa kesal dan kekecewaannya dalam sebuah goresan. Bukan menulis 'death note' untuk nyantet Langit, ya. Hehehe
Selama berperan menjadi 'Nyonya Cakrayudha', Aurora dibatasi dari dunia luar untuk mengantisipasi kecurigaan atau kemungkinan bertemu dengan orang-orang yang kenal dengan Renata ataupun Aurora. Sehingga Aurora memutar otak untuk tetap bisa bekerja meski dari rumah. Dan dia menemukan sebuah situs yang jual-beli jasa desain. Mulai dari desain pakaian, perhiasan atau logo perusahaan.
Meski memakan waktu, setidaknya dia punya kegiatan ketika di rumah. Dan juga tempat mencurahkan semua perasaanya melalui desain-desain yang unik.
Seperti saat merasa kesal, maka desain yang muncul dalam benaknya pun semakin unik karena ada unsur emosi yang meledak-ledak.
Kali ini, rasa kesalnya ditumpahkan dalam desain gaun. Tangannya begitu lincah menggoreskan pensil di atas kertas.
Dan terciptalah sketsa awal yang masih acak-acakan dalam waktu delapan menit. Langkah berikutnya adalah membuat desain sesungguhnya yang akan memakan waktu berjam-jam.
"Kenapa semakin hari perasaan gue gak bisa dikendalikan? Gue nggak yakin kalau gue nggak jatuh cinta sama Om Eskimo kalau begini terus", gumam Aurora dalam hati.
Setelah berkutat dengan desain yang baru dia ciptakan, Aurora merasa haus. Botol minum yang ada di atas mejanya terlihat kosong. Dengan langkah gontai, ia menuju ke dapur.
Keadaan dapur jadi kotor dan berantakan akibat ada chef dadakan. Segera Aurora membereskan semua kekacauan itu meski sudah larut malam.
"Huuuh.." Aurora menghela nafas ketika mendapati tempat sampah yang sudah penuh. Segera dia menarik kantong sampah yang penuh itu dan pergi membuangnya di tempat sampah depan rumah.
Saat keluar melalui pintu garasi, Aurora mendengar suara Langit yang sedang bercengkrama dalam telepon. Karena balkon kamar Langit tepat di atas garasi.
Aurora berhenti sejenak untuk mencuri dengar. Suaranya bariton Langit terdengar ramah dan lembut. Berbeda ketika berbicara dengannya. Suara itu terdengar tegas.
Terdengar percakapan mereka yang begitu mesra. Langit beberapa kali memanggil nama kekasihnya dengan lembut dan manja.
"Huuh. Membuat orang iri saja", gumam Aurora lirih sembari lanjut membuang sampah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments