Kotak Bekal

"Sepertinya kesehatan Anda cepat pulih, Pak! Karena Dokter sudah mengizinkan Anda pulang hari ini", ucap Rendi yang datang pagi sekali untuk memberikan dokumen yang perlu ditanda tangani oleh Langit.

"Hmm". Langit hanya menjawab dengan deheman. Sedangkan Aurora hanya nyengir di sofa.

Rendi segera undur diri setelah mendapatkan tanda tangan pada dokumen yang dibawanya. Lalu datang seorang perawat yang menginstruksikan Langit untuk melakukan pengecekan kesehatan ulang.

"Silahkan duduk, Pak", Aurora membawakan kursi roda untuk Langit.

"Saya nggak lumpuh, kenapa kamu bawakan kursi roda?" Langit menyilangkan tangannya tanda kesal.

"Nanti Anda capek, Pak. Kan baru sembuh", jawab Aurora.

"Tidak perlu. Saya bisa jalan sendiri!"

Langit turun dari ranjangnya dan berjalan menuju ke ruang dokter yang ada di ujung lorong.

Aurora mengekor di belakang Langit sambil membawa tiang infus.

"Bisa tidak kamu berjalan di samping saya? Saya berasa menyeret anak domba!" celetuk Langit yang kesal karena melihat selang infus yang terulur ke belakang.

"Embeeeekk!" Aurora menirukan suara domba sambil nyengir. Bertambah kesal Langit dibuatnya.

"Ya Tuhaaan!"pekik Langit saking kesalnya dengan kelakuan absurd gadis itu.

Langit kembali meneruskan langkah kakinya dengan perasaan dongkol. Tapi kali ini Aurora berjalan di sampingnya seperti yang ia perintahkan.

"Aroma coklat yang manis", batin Langit ketika mencium aroma yang menguar dari tubuh Aurora. Seketika wajahnya memerah.

Sesampainya di ruang dokter, Langit melakukan pengecekan kesehatan menyeluruh. Aurora menunggu di luar sambil membaca komik online.

"Gila! Demen banget gue sama modelan cogan roti sobek gini", gumam Aurora hampir ngiler melihat visual tampan di komik online yang dibacanya.

"Tapi sayang, cuman cowok gepeng!" imbuhnya dengan sedikit memekik.

"Kamu ngatain saya? Bagian tubuh saya mana yang gepeng?" celetuk Langit yang salah paham.

"Anu Pak, itu bukan—"

"Apa perlu saya perlihatkan tubuh saya biar kamu nggak salah paham?!"

Mata Aurora melotot karena kaget dengan perkataan Langit.

Dengan segera Aurora menyilangkan tangannya untuk menolak.

"Saya sedang baca komik ini, Pak. Melihat visual cowok tampan dengan tubuh seksi, saya sangat kagum Tapi sayangnya mereka tidak nyata. Mereka sering disebut 'cowok gepeng', Pak!". Aurora menunjukkan sebuah gambar komik yang ia baca untuk meluruskan kesalah pahaman di antara mereka.

Seketika wajah Langit memerah karena malu. Apalagi dirinya terkesan 'murahan' karena ingin menunjukkan bentuk tubuhnya pada Aurora.

"Tapi kalau Pak Langit mau memperlihatkan tubuhnya ke saya, saya tidak menolak, sih!" goda Aurora menatap Langit dengan tatapan genit sambil menggigit bibir bawahnya.

"Kamu jangan kurang ajar ya!" seru Langit sambil berjalan meninggalkan Aurora dengan wajah semakin merah padam.

"Sial!" batin Langit malu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi ini Aurora bangun lebih awal untuk membuat sarapan sekaligus makan siang untuk Langit.

Sesuai perintah dokter, Langit harus makan teratur untuk menjaga kesehatannya.

Waktu menunjukkan pukul 06.00 . Langit sudah turun dengan mengenakan setelan jas rapi dan menenteng tas laptopnya.

"Waah, tampan sekali suami orang!" puji Aurora. Padahal hampir setiap hari ia disuguhi dengan pemandangan indah, tapi setiap hari pula ia selalu merasa kagum dengan penampilan Langit.

"Bisakah kamu menyimpan kalimat itu untuk dirimu sendiri?" ucap Langit dengan nada dingin seperti biasanya. Tapi kali ini, wajahnya sedikit memerah.

"Apa kamu selalu mengatakan apa yang ada dalam pikiranmu?" sambung Langit dengan ketus.

"Kita kan harus jadi manusia jujur, Pak!" jawab Aurora seraya menarik kursi di depan meja makan.

Teringat akan bekal yang akan ia berikan untuk Langit, Aurora kembali beranjak dari tempat duduknya.

"Pak, ini bekal makan siang. Saya harap Anda tidak telat makan siang. Sehingga kesehatan Anda tetap terjaga."

Langit menatap kotak makan yang ada di depannya. Lalu mengernyitkan dahi.

"Kenapa gambarnya harus karakter Frozen?" tanya Langit menghentikan aktifitas makannya.

"Bapak tidak suka? Apa saya belikan lagi yang gambar Doraemon?" tanya Aurora. Langit tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya memijit keningnya.

"Kalau bisa gambar wajah kamu saja! Biar saya semangat melahap makanan itu seperti melahap kepala kamu!" pekik Langit yang kesal. Lalu ia segera beranjak pergi ke kantor. Tak lupa juga bekal yang sudah di siapkan oleh Aurora.

Aurora terdiam melihat Langit yang tampak kesal pergi meninggalkan makanannya yang tak dihabiskan.

"Memang benar. Seharusnya kemarin gue beli yang Doraemon saja!" gumam Aurora lemas.

Setelah sarapan dan bebersih rumah, Aurora kembali ke kamarnya untuk bekerja mendesain. Kali ini ada pesanan desain logo sebuah perusahan kecil yang baru merintis. Dengan penuh semangat Aurora memberikan hasil terbaik untuk klien-nya.

Sementara itu, Langit memasuki lobby perusahaan seperti biasa. Namun kali ini yang berbeda adalah ia menenteng tas kecil yang berisi bekal makan siang dari Aurora. Untungnya kotak bekal itu di masukkan dalam tas khusus. Kalau tidak, hancur sudah citranya sebagai CEO perusahaan.

"Waah, apa ini? Bekal cinta ya?" ledek Rendi yang melihat tas bekal Langit.

"Ren, kayaknya lo mau pensiun lebih dini ya?" Langit melotot kearah Rendi yang menenteng tas kecil warna hitam tersebut. Langit berwaspada alih-alih Rendi akan membuka isi tas itu.

"Oke, oke. Sorry! Gue heran aja. Ini kan bukan gaya lo!" Rendi menahan tawanya.

"Sejak menikahi gadis muda, gaya hidup lo berubah drastis, bro!" sambung Rendi meledek Langit yang sudah memasang wajah suram.

Rendi dan Langit adalah sahabat sejak kuliah. Langit mempercayakan pekerjaan asisten pada Rendi karena ia adalah orang yang cekatan dan peka dalam membaca situasi. Selain itu, Rendi sangat profesional dalam urusan pekerjaan dan urusan pribadi.

Saat sedang berdua saja, kalian akan melihat mereka sangat akrab dengan panggilan masing-masing. Namun saat sedang serius, mereka akan bersikap seperti ada tembok penghalang diantara atasan dan bawahannya.

"Ren, kalo lo kurang kerjaan, sepertinya gue harus nugasin lo bantu OB bersihin toilet!" ujar Langit.

Rendi yang sebelumnya tertawa cekikikan segera menutup mulutnya dan memasang mode serius.

"Baik Pak Langit, kalau begitu saya undur diri untuk membersihkan toilet" ledek Rendi pergi meninggalkan Langit sambil kembali tertawa kecil.

Sepeninggal Rendi, Langit segera berkutat dengan pekerjaan yang mulai menumpuk sejak ia dirawat di rumah sakit. Banyak sekali dokumen yang masuk untuk ditinjau kembali ataupun dokumen yang harus ia bubuhi tanda tangan. Belum lagi rapat-rapat yang tertunda. Semua telah dijadwalkan ulang oleh Rendi selaku asisten Langit.

Dalam melakukan pekerjaannya, Langit sesekali melirik ke arloji mewah yang melingkar di tangan kirinya. Lalu melirik ke arah tas kecil warna hitam yang ada di meja sofa. Layaknya anak kecil yang menunggu bel istirahat. Sepertinya ia sudah tak sabar ingin segera memakan bekal tersebut.

"Sepertinya gue udah ketularan gila!" gumam Langit menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memijit keningnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!