Ulang Tahun Kakek

Sudah seminggu sejak kakek menelepon Langit. Akhirnya malam perayaan ulang tahun kakek datang juga. Langit sudah bersiap untuk menghadiri pesta tersebut.

Aurora yang sudah terbiasa melihat Langit memakai setelan jas, tampak semakin terpana dengan penampilannya kali ini. Setelan jas yang kini Langit pakai lebih terlihat mewah dari yang biasa ia pakai ke kantor. Lalu tatanan rambut yang lebih rapi dan klimis menambah kesan elegan.

"Tolong tutup mulutmu itu sebelum jadi sarang laba-laba." Titah Langit dengan nada kesal karena melihat Aurora yang tercengang sambil mulutnya terbuka lebar.

"Ehem! Tampan sekali, Pak. Saya sampai mau pingsan karena tidak kuat menahan debaran jantung saya ini", celoteh Aurora sambil memperhatikan Langit dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Setiap hari saya kan memang tampan!" timpal Langit sambil membenahi arloji mewah di tangan kirinya.

"Benar! Setuju!" Aurora sambil menjentikkan jarinya.

"Hampir setiap hari pula saya jatuh hati sama Anda", imbuh Aurora. Kemudian dengan cepat dia menutup mulutnya karena keceplosan.

"Terserah kamu mau jatuh hati ataupun jatuh bangun. Saya tidak akan berpaling dari Nata. Apalagi kamu bukan tipe yang saya suka." Langit menyunggingkan senyum remeh terhadap Aurora, lalu beranjak pergi.

"Dih, Pak! Gak boleh sombong. Nanti kena karma baru tahu rasa!" pekik Aurora kesal.

Setelah memastikan mobil Langit pergi, Aurora segera menelpon Mika untuk mencurahkan segala kekesalannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pesta ulang tahun kakek diadakan dengan konsep ruang terbuka yang bertempatkan di halaman belakang rumah kakek yang sangat luas.

Tamu yang datang pun bukan sembarang orang. Banyak dari mereka adalah para pebisnis, pemilik perusahaan dari skala menengah sampai kalangan atas, pejabat dan beberapa rekan artis terkenal.

Tampak Kakek sedang duduk bersama dengan Tante Sandra, ayah Langit dan ibu tirinya. Mereka sedang asik bercengkrama sampai seorang bodyguard kakek menginfokan kalau Langit sudah datang.

"Selamat ulang tahun, Kek", ucap Langit dengan nada datar tanpa ekspresi sambil menyodorkan paper bag yang dibawanya.

"Dasar anak kurang ajar! Mana sopan santunmu!" pekik Lucky, ayah Langit.

"Sabar, Pa!" Emilia, ibu tiri Langit menenangkan Lucky.

"Berani-beraninya dia menikah tanpa sepengetahuan kita semua!" bentak Lucky. Namun Langit hanya membuang muka tak acuh.

"Dimana istrimu? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk membawanya ke hadapanku?" tanya Kakek.

"Istriku mendadak ada pemotretan di luar negeri." jawab Langit dengan dingin.

"Dasar anak ini!" Pekik Kakek.

"Papa jangan memaksakan diri. Lagipula Langit kan sudah besar. Dia pasti sudah memikirkan matang-matang semua keputusannya." Sandra menenangkan Kakek.

"Cih! Dasar penjilat!" Langit tersenyum sinis pada Sandra.

Sandra pun menatap Langit dengan wajah sinis pula. Pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi di kalangan konglomerat, bahkan dengan saudara atau keluarga, mereka saling menganggap satu sama lain sebagai rival.

"Segera hubungi istrimu! Aku ingin bicara!" titah Kakek.

Segera Langit melakukan panggilan video pada Renata. Tak butuh waktu lama, mereka sudah terhubung.

"Halo, Kak. Ada apa menelpon?" Tanya Renata berpura-pura, sesuai yang mereka rencanakan sebelumnya.

"Bawa sini!" Kakek menyambar ponsel Langit.

"Apa sekarang kamu puas sudah menjadi bagian dari keluarga Cakrayudha?" tanya Kakek dengan dingin.

"Maaf Kek, setelah menikah saya tidak sempat mengunjungi Kakek. Seperti yang kakek bilang, saya bahagia bisa mendampingi Kak Langit." ucap Renata dengan senyum yang terkembang dari bibirnya.

"Oh kalau begitu, saya harap kamu tidak mensia-siakan kesempatan yang bagus ini!" Kakek tersenyum miring sembari menatap wajah Renata dalam panggilan video. Lalu Kakek segera memutus panggilan tersebut.

Kemudian kakek beranjak dari tempat duduknya untuk masuk ke dalam rumah.

"Suatu saat kamu akan mengerti dengan apa yang kakek lakukan. Sampai saat itu tiba, kakek harap kamu bisa mengambil keputusan yang bijak", Kakek memberi wejangan pada Langit.

Langit hanya menatap kepergian kakek tanpa tahu apa maksud dari perkataan kakek padanya.

"Kamu semakin dewasa, semakin berani dalam melangkah. Tapi jangan sampai kamu terjebak dalam langkahmu sendiri!" ucap Sandra dengan sinis lalu pergi meninggalkan meja jamuan.

"Sebenarnya apa yang terjadi, Pa?" tanya Langit lada Lucky. Namun Lucky sendiri tak mengerti apapun, karena ia sedang sibuk membangun cabang baru perusahaan dan tak ada waktu untuk mengurusi masalah internal keluarga. Begitu pula Emilia, selaku sekretaris ia juga sibuk membantu suaminya, juga tak tahu apa duduk permasalahannya.

Emilia yang peka membaca situasi, menafsirkan bahwa posisi Langit sedang tidak baik.

"Saya harap kamu hati-hati karena dalam pandangan saya, kamu sedang dalam posisi yang rentan dan tidak menguntungkan." Emilia coba mengingatkan anak tirinya itu. Lagi-lagi Langit tak acuh dengan semua perkataan yang ditujukan padanya.

"Terima kasih untuk sarannya. Tapi aku baik-baik saja. Anda tak perlu khawatir!" Langit beranjak dan pergi meninggalkan meja.

Tanpa pamit, Langit pulang dengan perasaan penuh emosi. Mood-nya selalu buruk setiap selesai menghadiri pertemuan keluarga. Berkali-kali dia memukul setir mobilnya. Apalagi memikirkan perkataan kakek yang dilontarkan padanya dan Renata. Seperti kakek menyembunyikan sesuatu.

Tak lama kemudian, mobil Langit sudah memasuki garasi. Aurora yang mendengar suara mobil segera keluar kamar. Dilihatnya jam di dinding, pukul 21.00 .

"Katanya pesta keluarga? Kenapa baru berangkat jam delapan, sekarang udah balik aja?" gumam Aurora heran. Lalu ia pergi ke dapur mengambil minum.

Klotak! Suara nyaring kunci mobil yang Langit lempar di atas meja makan. Aurora yang sedang duduk sambil minum pun kaget, hingga air minumnya tumpah.

"Bapak kenapa? Wajahnya muram nggak seperti biasanya?" tanya Aurora penasaran. Siapa tahu ia juga akan mendapatkan jawaban kenapa Langit pulang lebih cepat.

"Bukan urusan kamu!" jawab Langit dengan dingin. Langit duduk di kursi makan dengan kedua tangan bertaut di depan wajahnya sambil memejamkan mata.

Melihat mood Langit yang berantakan, Aurora beranjak dari duduknya. Ia mengambil alat pel untuk membersihkan air yang tumpah.

Langit pun masih tak bergeming.

Seusai mengepel, Aurora mengambil minuman dingin dan meletakkan di depan Langit.

"Saya tidak tahu, Anda punya masalah apa, Pak. Tapi setidaknya saya harap Anda mau sedikit saja bersandar pada saya", ucap Aurora hati-hati dengan nada lirih.

Langit masih diam memejamkan matanya.

Melihat Langit tak menjawab perkataannya, membuat Aurora takut kalau ia salah bicara dan menyinggung perasaan Langit.

"Sa-saya tidak ada maksud apa-apa kok, Pak! Kita kan jadi partner selama setahun, waktu yang cukup lama. Jadi sa-saya harap, saya juga bisa membantu kalau Bapak sedang kesusahan", ucap Aurora semakin gugup.

Kini Langit membuka kedua matanya. Menatap tajam ke arah Aurora yang duduk di depannya. Membuat nyali Aurora menciut.

"Sini, kamu!" perintah Langit dengan dingin.

Dengan ragu Aurora berjalan ke arah Langit.

"Lebih dekat, sini!" Langit menunjuk lantai di dekatnya, meminta Aurora berdiri di sana.

Nyali Aurora semakin menciut, kakinya terasa gemetar ketika berjalan mendekati Langit. Bahkan lidahnya terasa kaku untuk menolak perintah Langit.

Setelah Aurora berada di tempat yang Langit tunjuk, tiba-tiba tangan Langit mencengkeram pergelangan tangan Aurora.

"Janga—" kata Aurora terputus saat ia tahu bahwa Langit meletakkan tangan Aurora di atas kepalanya. Aurora pikir, Langit ingin memukulnya untuk melampiaskan amarah. Lantas Langit mengarahkan tangan Aurora untuk mengelus surainya. Seketika hati Aurora meleleh.

Lalu hal tak terduga lagi, Langit menyandarkan kepalanya di depan tubuh Aurora. Mata Aurora seketika melotot. Jantungnya ikut berpacu, bahkan hampir meledak.

Namun tampaknya, hal itu membuat Langit nyaman. Terlihat dari raut wajahnya yang awalnya ditekuk kencang, nampak mulai mengendur dan menikmati setiap belaian tangan Aurora.

Perasaan Aurora kini bingung antara senang, sedih, dan berdebar.

"Bapak lagi ASMR suara jantung saya, ya?"

"Bisa nggak sih, kamu nggak merusak suasana dengan celotehanmu itu?"

Memang bukan Aurora kalau dia nggak nyeletuk dengan kalimat-kalimat ajaibnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!