Malam Pertama

Aurora berkacak pinggang di depan baju berbahan tipis itu sambil tersenyum menang.

"Haaah.. Akhirnya gue nggak jadi pake baju setipis harapan ini."

Aurora meraih baju tersebut dan melipat dengan asal. Dia bermaksud menyimpan kembali baju itu ke dalam lemari.

Bergegas dia membuka pintu dan akan keluar dari kamar mandi.

Cklek. Pintu terbuka dan ..

Jengjeeeng.

Langit masih berdiri di depan pintu sambil melipat tangan didepan tubuhnya.

Langit menatap baju yang ada di tangan Aurora. Tak butuh waktu lama, dia sudah kenal sekali dengan baju itu. Sedangkan tubuh Aurora masih terbalut dengan handuk.

Langit tersenyum menyeringai. Muncul ide untuk mengerjai Aurora.

"Ehem! Jadi daripada pakai baju itu, kamu lebih suka pakai handuk saja, ya?" ucap Langit sambil menunjuk baju yang di tangan Aurora.

Aurora segera tersadar dengan keadaan dirinya. Wajahnya langsung memerah.

"Ah bu-bukan begitu. Saya—"

Langit memotong kalimat Aurora.

"Memang sih pakai handuk lebih mudah untuk melepasnya saat di ranjang." Goda Langit sambil mengerlingkan sebelah mata.

Aurora segera menyilangkan tangan di depan dadanya.

Aurora yang gugup, membuat Langit tertawa. Dia berhasil mengerjai Aurora.

"Mas mengerjai saya, ya?" tanya Aurora memicingkan matanya.

"Hahaha. Habisnya ekspresi kamu lucu mau."

Aurora cemberut melihat Langit yang tertawa puas.

Melihat Aurora yang cemberut, segera Langit meraih tubuh Aurora ke dalam pelukannya. Menghirup dalam-dalam aroma coklat yang menguar dari tubuh Aurora.

"Aroma coklat yang manis." gumam Langit yang mencium leher jenjang Aurora.

Aurora merasa merinding saat bibir Langit menyentuh kulit lehernya.

Kemudian jemari Langit mengusap bibir Aurora. Terasa kenyal dan lembut. Segera Langit menyatukan bibirnya dengan bibir Aurora. Menyesap lembut bibir yang selama ini menghantui pikirannya. Lalu lidah Langit menerobos masuk ke dalam mulut Aurora. Menyusuri setiap bagian dalam rongga mulut Aurora.

Aurora yang terkejut saat lidah Langit memasuki rongga mulutnya hendak mendorong tubuh Langit. Namun Langit menekan tengkuk Aurora sehingga sulit untuk melepaskan ciuman itu. Dia kesulitan bernafas.

Tak lama kemudian Langit melepaskan ciuman yang penuh gairah tersebut. Kini bibirnya menyusuri kembali leher Aurora.

"Emmm...", Aurora menahan ******* yang keluar dari bibirnya saat Langit menggigit kecil pada lehernya.

"Jangan ditahan." Langit menatap hangat wajah Aurora. Dibalas dengan anggukan olehnya.

Langit kembali mencumbu bibir Aurora. Dan Aurora mulai bisa mengimbangi permainan ciuman penuh gairah tersebut.

"Aw!" pekik Aurora saat Langit mengangkat tubuhnya seperti menggendong anak kecil dan membawanya ke atas tempat tidur.

Aurora kini berada di bawah kungkungan Langit.

Langit melepaskan kaos yang dipakainya, sehingga tubuh kekar berotot itu terpampang nyata di depan mata Aurora. Membuat debaran jantung Aurora semakin kencang.

"Gila! Roti sobek!" batin Aurora. Bisa-bisa saat ini Aurora ngiler melihat otot perut Langit.

Langit yang melihat Aurora tercengang melihat tubuhnya, muncul ide untuk mengerjai Aurora lagi.

"Sepertinya kamu suka banget sama tubuhku ini?"

"Emm, iya", Aurora malu-malu.

"Biasanya saya hanya melihat otot-otot seperti itu dalam visual komik. Tapi sekarang seperti mimpi bisa melihatnya langsung", sambung Aurora sambil menahan urat malunya yang hampir putus. Hahaha

"Kamu mau pegang otot-ototku ini?" tawar Langit.

Aurora mengatupkan bibirnya sambil mengangguk. Pipinya memerah.

Langit meraih tangan kanan Aurora, menuntun tangan itu ke bagian perutnya.

Posisi Langit yang berdiri degan lututnya sambil mengukung Aurora di bawahnya membuat suasana semakin memanas.

Langit yang masih memegang tangan Aurora, dengan jail mengarahkan tangan itu ke bagian vitalnya yang sudah siap menantang.

Aurora secepat kilat menarik tangannya karena kaget.

"Astaga!" pekik Aurora.

Melihat ekspresi Aurora, Langit kembali tertawa puas karena berhasil mengerjai Aurora lagi.

"Ih, Mas suka banget ngerjain saya, ya?!" Aurora kesal.

Langit menghentikan tawanya, lalu merendahkan tubuhnya di atas tubuh Aurora.

"Aku suka kalo lihat kamu yang malu-malu seperti itu" bisik Langit di telinga Aurora. Otomatis telinga itu memerah.

Tak hanya bermaksud berbisik, kini bibir Langit sudah turun ke leher Aurora lagi. Kali ini Langit menjilati leher tersebut di setiap sisi.

Ujung lidah Langit yang menyapu setiap inci kulit leher itu membuat Aurora mengeluarkan de sa han.

"Aah.."

Tangan Langit pun mulai bergerilya membuka handuk yang masih melapisi tubuh Aurora. Setelah terbuka lebar, tangan Langit bermain di atas dua gundukan kenyal. Membelai keduanya dengan lembut.

Langit merasakan pucuk gundukan itu mengeras. Lalu dengan lembut dia me milin pucuk menggemaskan itu. Membuat pemilik gundukan itu mengeluarkan de sa hannya lagi.

Langit menyeringai setiap kali Aurora men de sah.

"Aw! Aaassh" pekik Aurora saat Langit menghi sap gundukan kenyal itu disertai gigitan kecil.

Tangan Aurora merangkul tubuh kekar itu sambil merasakan otot-otot keras yang menyelimuti.

Sedangkan tangan Langit mulai meraba setiap inci tubuh Aurora. Lalu turun ke bawah. Membelai lembut bagian inti milik Aurora.

De sa han Aurora semakin keras dan terasa basah di area intinya.

Segera Langit menanggalkan celananya. Aurora yang melihat 'sesuatu yang tegak tapi bukan keadilan' itu segera menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Mas, saya malu!" ucap Aurora dari balik telapak tangannya.

Langit meraih kedua tangan Aurora dan menguncinya di atas kepala Aurora.

"Nanti kamu akan terbiasa", Langit menyeringai.

Langit menggesek-gesekkan miliknya pada inti Aurora. Menciptakan kembali de sa han dari Aurora.

"Aw!" Aurora setengah berteriak saat milik Langit mencoba menerobos benteng pertahanan Aurora.

"Sial! Dia benar-benar masih virgin!" gumam Langit dalam hati.

"Ini akan sedikit sakit. Tahan sebentar." bisik Langit lembut di telinga Aurora.

Aurora mengangguk. Lalu Langit mencium bibir Aurora dengan ganas seperti tadi. Lidah Langit bermain dalam rongga mulut Aurora. Dan Aurora pun mengimbanginya. Sampai sesaat Aurora terbuai dengan ciuman panas tersebut.

Tiba-tiba mata Aurora terbelalak karena merasakan sakit yang teramat dari bagian intinya.

Langit melepaskan ciumannya. Menatap mata Aurora yang menitikkan air mata.

Lalu Langit menggerakkan pinggulnya maju-mundur dengan perlahan untuk menetralkan rasa sakit Aurora.

Beberapa menit kemudian, Langit mulai bergerak sedikit cepat setelah melihat Aurora yang mulai mende sah. Yang artinya rasa sakit pada inti Aurora sudah hilang, tergantikan dengan rasa yang lain. Rasa apa tuh kira-kira?

Malam ini, kamar itu menjadi saksi malam pertama mereka.

Malam yang sangat penuh dengan gairah.

Malam yang tak akan mereka lupakan.

Terpopuler

Comments

Anis Hasan

Anis Hasan

lanjut

2023-08-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!