Ciuman Pertama

Hari ini Aurora bangun sedikit lebih siang, karena hari ini hari minggu. Ia tak perlu memasak sarapan atau bekal. Dan pula Langit pasti pergi olahraga, pulangnya pun tak pasti jam berapa.

Aurora melihat jam yang menempel di dinding. Waktu menunjukkan pukul 07.12. Cacing-cacing di perutnya mulai protes. Karena sudah berniat tidak memasak, Aurora ingin memesan makanan secara online saja.

Setelah selesai mandi, Aurora memesan makanan yang ingin ia makan.

Sedang menunggu makanannya datang, Aurora memutuskan untuk duduk-duduk di depan rumah. Hingga tak lama kemudian mobil Langit memasuki garasi.

"Kenapa kamu duduk di sini?" tanya Langit yang menenteng tas olahraganya.

Aurora melongo menatap Langit yang memakai baju olahraga tanpa lengan. Menampilkan lengan berotot, dada lebar nan bidang, pinggang ramping serta perut sixpack yang tercetak jelas.

"Roti sobek" ucap Aurora lirih tanpa sadar.

"Roti sobek?" tanya Langit bingung. Aurora yangg tersadar dari lamunannya langsung gugup dan wajahnya memerah.

"Ya? Ah itu maksud saya, saya pesan makanan online sekalian roti sobek!"seru Aurora menjelaskan dengan terbata-bata.

"Oh ya sudah kalau gitu" Langit berlalu masuk ke dalam rumah.

"Huh.. Gila! Bisa-bisanya gue bilang hal konyol ke Pak Langit!" gumam Aurora lirih.

"Tapi sedep bener bentukan badannya! Hehehe," imbuh Aurora dengan senyum mesum hampir ngiler.

Hampir satu jam pesanan Aurora tak kunjung sampai.

"Belum sampai juga pesanan kamu?" tanya Langit yang ikut duduk di kursi seberang Aurora.

Aurora menggeleng sambil menatap layar ponselnya. Status pesanan makanannya 'masih dalam perjalanan'. Sedangkan perutnya semakin lapar.

"Bunga.. Bungaaaa!" teriak penjual yang kebetulan lewat di depan rumah.

"Pak, beli!" teriak Aurora. Ia berlari menuju ke penjual yang menepikan gerobak bunganya.

"Pak mawar merah satu pot ini berapa?" tanya Aurora sambil melihat-lihat bunga yang lain.

"Ini tiga puluh lima ribu, Neng." jawab si penjual.

"Kalo yang ini, ini, ini, juga ini?" tanya Aurora lagi sambil menunjuk bunga mawar putih, kaktus, lavender, dan anggrek.

"Sama kok Neng harganya."

"Saya ambil semua itu ya, Pak", ujar Aurora. Lalu penjual itu menurunkan semua bunga yang dibeli Aurora.

"Sebentar ya, Pak saya ambilkan uang dulu." Aurora berlari masuk rumah.

"Seperti anak kecil saja!" gumam Langit sambil menatap layar ponselnya.

Lalu Aurora menghampiri Langit yang sedang duduk santai.

"Pak, boleh pinjam uang dua ratus ribu? Nanti saya ganti. Saya lupa tidak ambil uang, karena pagi ini saya belum kemana-mana", cengir Aurora dengan memasang wajah memohon.

Langit mengiyakan permohonan Aurora. Segera ia masuk ke dalam rumah lalu keluar membawa uang yang disebutkan Aurora.

"Terima kasih, Pak!", Aurora berlari kembali ke penjual bunga.

Tak lama kemudian, pesanan makanan mereka tiba. Aurora yang sedang menata bunga-bunganya bergegas cuci tangan dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.

Setelah makan, Langit mencuci piring kotor, sedangkan Aurora membersihkan meja.

Setelah semua urusan makan dan dapur beres, Aurora pergi lagi ke taman depan rumah untuk memindahkan bunga dari pot ke tanah. Karena tak banyak pekerjaan, Langit mengikuti kegiatan Aurora berkebun.

Maksudnya, Aurora yang berkebun. Sedangkan Langit duduk di lantai teras sambil melihat Aurora.

Aurora mengibaskan tangannya yang kotor, lalu ikut duduk di samping Langit.

"Nah, kalau gini kan rumah jadi makin adem dan asri. Tidak seperti gurun", celoteh Aurora sambil menatap bunga-bunga yang ditanamnya.

"Hah. Sepertinya saya sudah terbiasa dengan ucapan kamu yang suka menyindir saya!", ucap Langit dengan datar sambil menatap tamannya yang kini berubah.

"Tapi bener kan, Pak? Sebelumnya rumah Anda seperti rumah contoh perumahan lho!" seru Aurora.

"Ya, ya terserah apa kamu bilang", jawab Langit jengah.

Suasana hening sejenak.

"Pak kalau nanti saya sudah keluar dari sini, tolong tetap rawat mereka, ya?" ucap Aurora tiba-tiba dengan nada sendu.

"Kenapa kamu nggak cabut saja lalu bawa bersamamu?"

"Mereka itu juga makhluk hidup Pak. Setelah mereka tumbuh dengan baik dan bahagia, masa Bapak tega mau mencabut mereka?"

"Daripada merepotkan!" jawab Langit secepat kilat.

"Bunga yang sudah tercabut, belum tentu bisa hidup lagi dan bahagia dari sebelumnya, Pak! Kan kasihan."

" Ya kalau begitu biarkan saja! Nanti mereka juga pasti akan mati sendiri!"

"Iih, Anda menyebalkan sekali, ya! Nih rasain belaian tangan berlumuran tanah! Raaaawwrr!" goda Aurora sambil mengelap-lapkan tangan kotornya ke tubuh Langit.

"Hei, hentikan! Itu banyak kumannya!" Langit menepis tangan Aurora yang terus diarahkan ke tubuhnya.

"Saya monster tangan berkumaaan!" ucap Aurora dengan nada dibuat seperti monster.

Aurora yang terus maju mengelapkan tangannya, membuat Langit risih. Dengan cepat Langit mencengkeram pergelangan tangan Aurora. Namun naas, sandalnya terpeleset lantai sehingga membuat mereka jatuh.

Bruuk! Langit jatuh tepat di atas tubuh Aurora. Dengan tangan Langit yang masih mencengkeram tangan Aurora. Wajah mereka sangat dekat, hanya menyisakan jarak beberapa senti.

Hembusan nafas cepat dari keduanya membuat wajah mereka memerah.

Tiba-tiba Langit mengikis jarak yang tersisa. Ia memiringkan kepalanya sedikit dan memejamkan matanya. Sebuah kecupan lembut mendarat mulus di bibir Aurora.

Mata Aurora terbelalak karena terkejut. Dengan cepat dia mendorong tubuh kekar Langit. Setelah Langit tersungkur, Aurora segera berlari ke dalam kamarnya.

Langit yang kembali tersadar kemudian memukul pelan keningnya. "Dasar bodoh!" umpatnya.

Langit menyentuh kembali bibirnya yang baru saja beradu dengan bibir Aurora. Ia merasakan sensasi yang berbeda dengan saat ia mengecup bibir Renata. Tak ada rasa lengket dari lipstik, karena Aurora tak pernah memakai lipstik ketika di rumah. Justru ia merasakan bibir Aurora halus dan kenyal dengan aroma coklat yang mungkin tercipta dari lipbalm yang Aurora pakai.

Sedangkan itu, di dalam kamarnya Aurora masih syok. Berkali-kali ia menyentuh bibirnya. Itu adalah ciuman pertamanya!

Aurora tak pernah berciuman dengan siapapun. Meski pernah beberapa kali pacaran, dia selalu mawas diri. Mungkin karena hal itulah yang membuat pacar-pacar, eh maksudnya mantan Aurora selalu mengajaknya putus. Aurora tak mau melakukan ciuman.

"Ciuman pertama gue kenapa harus sama Om Eskimo? Aarrgh!" teriak Aurora dalam hati. Sambil menjambak rambutnya karena kesal.

Aurora menyentuh kembali bibirnya. "Bibir gue udah nggak perawan!" gumam Aurora kesal.

"Kasihan suami gue! Dapet bekasnya Om Eski—" Aurora tak melanjutkan kalimatnya. Ia berpikir sejenak.

"Bukannya Om Eskimo itu suami gue, ya?" gumamnya sendiri. "Tapi kan gue cuma pengganti!" semakin dipikirkan, semakin membuat Aurora kesal sekali.

"Intinya gue kesel! Gue nggak terima ciuman gue di rebut paksa!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!