Hari ke-90

Tak terasa tiga bulan telah berlalu. Hari-hari yang Aurora dan Langit jalani sebagai 'pasangan suami-istri' berjalan mulus tanpa ada kendala apapun.

Pagi ini Aurora sudah menyiapkan menu sarapan sederhana. Sayur sop, perkedel dan ayam goreng.

Setelah menyiapkan sarapan, biasanya Aurora segera mandi dan bersiap untuk sarapan bersama.

Setengah jam sudah berlalu. Tapi tak ada tanda-tanda Langit turun dari lantai dua.

"Gak biasanya dia telat sarapan. Apa terjadi sesuatu?" gumam Aurora sambil mondar-mandir di depan tangga. Sesekali ia melongo ke atas, meskipun tak kelihatan pintu kamar Langit. Ia berharap Langit baik-baik saja.

Karena begitu khawatir, Aurora menghubungi Rendi untuk memastikan keadaan Langit yang tak kunjung keluar dari kamar. Kenapa harus menghubungi Rendi? Bukankah lebih baik jika Aurora pergi sendiri untuk memastikan keadaan Langit yang berada satu atap dengannya?

Tak sesimpel itu. Pertama, Aurora sejak awal tinggal di rumah ini, dilarang keras naik ke lantai dua. Dimana kamar Langit berada. Dan kenapa tak menelpon Langit saja? Karena Aurora nggak punya nomer ponsel Langit. Langit tak pernah memberikan nomornya untuk sembarang orang. Dia hanya memberikan pada orang-orang terdekatnya saja. Selebihnya jika ingin menghubunginya, bisa melalui Rendi. Termasuk Aurora. Dia masuk ke dalam 'sembarang orang yang nggak penting' itu.

Selang beberapa saat, Rendu sudah tiba dan segera naik ke lantai dua untuk melihat keadaan Langit.

Rendi mengetuk pintu kamar Langit beberapa kali, tapi tak ada jawaban. Ia mencoba menelpon ponsel Langit, terdengar suara ponsel tersebut berdering dari dalam, tapi juga tak diangkat.

Rendi pun mulai ikut khawatir. Selama empat tahun menjadi asisten Langit, tak pernah sekalipun Langit mengabaikan panggilan atau tak angkat telepon.

Ia mencoba membuka pintu kamar Langit, ternyata pintu kamarnya tak terkunci. Segera Rendi masuk ke dalam mendapati tubuh Langit yang lemas dan terasa sangat panas.

"Nona Aurora! Nona Aurora!" teriak Rendi dari kamar Langit. Ia sangat panik.

Aurora sudah ada di depan pintu kamar dan melihat Rendi sedang menelepon. Sedangkan Langit terlihat pucat.

"Tolong bantu saya membawa Pak Langit ke rumah sakit sekarang juga".

"Baik, Pak Rendi".

Sesampainya di rumah sakit, Langit segera mendapatkan penanganan dokter. Rendi dan Aurora yang menunggu di luar ruangan merasa cemas.

Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan.

"Bagaimana keadaan Pak Langit, Dok?" tanya Aurora panik.

"Ehem!" Rendi berdehem ke arah Aurora, pengingat untuk membenahi kalimatnya.

"Eh maksud saya, suami saya, Dok!" Aurora mengoreksi kata terakhir dari pertanyaannya.

"Pak Langit hanya kelelahan sehingga membuat imunitas tubuhnya ikut menurun. Tidak ada penyakit serius, mengkonsumsi vitamin dan makan teratur serta istirahat yang cukup akan mengembalikan kesehatan beliau", dokter memberi penjelasan.

"Terima kasih, Dok", ucap Rendi dan Aurora.

Mereka masuk ke dalam ruang VVIP yang hanya di tempati oleh Langit. Ruangan berdominan cat putih itu cukup luas.

"Rendi, kamu bisa kembali ke kantor. Saya baik-baik saja", titah Langit.

Rendi berpamitan.

"Apa Anda perlu hal lain Pak?" tanya Aurora.

"Tidak."

Aurora menatap lekat raut wajah Langit yang pucat.

"Apa ada yang salah dengan wajah saya?" tanya Langit.

"Anda seperti vampir, Pak", jawab Aurora.

Langit memijit keningnya yang semakin pusing memikirkan perkataan Aurora.

"Kenapa begitu?" Langit penasaran mengapa dirinya disamakan dengan vampir. Imajinasi Aurora selalu diluar perkiraan.

"Anda yang pucat semakin membuat kulit Anda semakin putih, ditambah dengan wajah yang sangat tampan".

"Curang banget! Sakit aja masih keliahatan ganteng!" batin Aurora mengimbuhi kalimat.

"Kamu pernah bertemu dengan vampir?"

"Pernah!"

"Dimana? Itu kan cuma cerita mitos luar negeri".

"Di komik, Pak. Visual mereka ganteng-ganteng!" Aurora menggebu. Membuat Langit semakin pusing.

"Terserah kamu saja! Saya tambah pusing mendengar omongan kamu!" Langit memejamkan matanya, mencoba tidur.

"Gimana saya bisa tidur kalau kamu lihatin wajah saya terus?" gumam Langit kesal karena Aurora yang tak berpaling menatap wajah Langit dari samping tempat tidurnya.

"Oh maaf Pak, saya terlalu girang kalau melihat lelaki tampan", ucap Aurora sambil nyengir kearah Langit.

"Lama-lama saya bisa masuk rumah sakit jiwa kalau terus berada di samping kamu! Semakin hari kamu semakin kurang ajar saja!" Langit memijit lagi keningnya.

Drrtt Drrtt Drrrtt. Getar ponsel dari tas Aurora. Segera Aurora membuka tasnya. Ternyata ada sebuah panggilan telepon di ponsel milik Langit. Aurora segera mengambilnya, tampak nama "Nata-ku" tertera di layar.

"Pak, ini ada panggilan", Aurora menyodorkan ponsel Langit. Melihat nama pemanggil membuat senyum terkembang dari bibir Langit.

Deg! Aurora berdesir melihat Langit tersenyum, meski senyum itu bukan untuknya. Lalu ia keluar meninggalkan Langit yang sedang menerima panggilan dari kekasihnya.

Hati Aurora tiba-tiba terasa hampa. Mengingat bahwa ia dan Langit hanya sebatas 'rekan sandiwara'. Ingin sakit hati tapi ia juga merasa tak berhak.

Sakit tapi tak berdarah. Kalimat itu mungkin terdengar lebay. Tapi lebih perih sakit ini daripada luka goresan fisik.

"Hatiku memang lemah kalo berhadapan dengan pria tampan. Dasar sialan!" umpat Aurora dalam hati.

Untuk menenangkan pikirannya, Aurora berjalan berkeliling di sekitar rumah sakit. Setiap melewati bangsal-bangsal, ia membaca satu persatu nama setiap ruangan.

"Ternyata di rumah sakit mana saja, selalu memakai nama tanaman atau bunga untuk setiap nama ruangan", batin Aurora.

Kakinya berjalan terus tanpa tujuan hingga membawanya sampai ke ujung lorong.

Ruang Jenazah. Seketika bulu kuduknya berdiri saat membaca nama ruangan tersebut. Dan ia baru menyadari bahwa suasananya sangat sepi. Dengan langkah cepat, ia meninggalkan lokasi.

"Ya Tuhan! Kenapa gue bisa sampe disana? Merinding sumpah!" gumam Aurora sambil ngos-ngosan.

"Mbak", tiba-tiba ada yang memanggilnya dari arah belakang. Membuat bulu kuduknya kembali berdiri. Secepat kilat Aurora berlari menjauh dari suara itu.

Sampailah dia di ruangan VVIP tempat Langit berada. Lagi-lagi nafasnya ngos-ngosan. Segera ia meneguk sebotol minuman dingin yang ada di kulkas.

"Ruang VVIP memang beda, ya? Lengkap ada kulkas dan minuman dingin. Dah berasa kayak kantin aja!" cerocosnya tanpa menghiraukan Langit yang sedari tadi memperhatikannya.

"Kenapa kamu ngos-ngosan gitu? Kayak abis dikejar setan aja!" sindir Langit.

"Ya memang saya dikejar sama hantu Pak pas ngelewatin ruang jenazah tadi", Aurora kemudian menjelaskan kejadian yang barusan dialaminya.

"Untuk apa kamu ke ruang jenazah? Kurang kerjaan sekali kamu!"

"Ya kan memang saya kurang kerjaan, Pak!"

Langit menghela nafas sambil memijit keningnya yang tiba-tiba pusing dengan kelakuan absurd 'istri'-nya itu.

"Lama-lama aku bisa jadi gila kalau terus bersama dengan gadis ini!" batin Langit kesal.

Langit kembali memperhatikan gerak-gerik gadis yang ada di depannya itu. Sekarang Aurora duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

"Pak, Anda pernah ketemu sama hantu?" tanya Aurora dengan polos.

"Tidak pernah", jawab Langit singkat.

"Sekalipun?" tanya Aurora lagi untuk meyakinkan.

"Iya", Langit mencoba memejamkan matanya, berpura-pura tidur. Agar ia tak mendapat serangan pertanyaan dari Aurora.

Baru beberapa saat Langit memejamkan matanya, ia merasakan ada angin yang bertiup di tengkuknya. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri.

Perlahan ia membuka matanya untuk memastikan apa yang sedang terjadi.

"Pait, pait, pait,pait..", Langit membuka matanya sedikit, Aurora sudah tak ada di tempatnya.

"Huaaaa!" teriak Langit kaget karena Aurora berada dekat di sampingnya sambil meniup tengkuknya.

Melihat Langit yang kaget, membuat Aurora tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan sampai menitikkan air mata.

Melihat Aurora yang tertawa, membuat Langit terpana dengan kepolosan gadis itu. Ia memandang sejenak paras Aurora yang selama ini selalu ia abaikan.

Langit baru tahu kalau ada tahi lalat kecil, bahkan nyaris tak terlihat di bawah mata kiri Aurora. Bulu matanya yang panjang dan lentik, serta matanya yang sedikit besar.

"Cantik!" gumam Langit dalam hati.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!