Menuntut Jawaban

Setelah insiden ciuman di teras beberapa hari yang lalu, Aurora selalu menghindar dari Langit. Dirinya malu dan pastinya akan canggung jika berhadapan dengan Langit.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, setelah memasak dia akan pergi keluar rumah untuk jalan-jalan mengelilingi komplek, berbelanja ke pasar tradisional atau melakukan hal-hal lain di luar rumah.

"Haah.." Langit membuang nafas kasar. "Lagi-lagi dia menghindari gue!" gerutunya sambil berkacak pinggang di depan meja makan. Bahkan sekarang melihat makanan pun rasanya malas.

"Kira-kira kemana perginya gadis itu?" tanyanya sendiri.

Langit menatap jam dinding, sudah pukul 07.35. Jika menunggunya, dia akan terlambat datang ke kantor.

Di tempat lain, Aurora sedang belanja ke pasar tradisional. Dia membeli keperluan dapur, sayuran, ikan dan bahan makanan lainnya. Meskipun dia mendapat uang bulanan yang fantastis dari Langit, tapi dia lebih senang belanja di pasar. Di pasar tradisional, banyak pilihan sayur dan ikan segar, selain itu harganya ramah di kantong.

Setelah dirasa cukup dengan belanjaannya, Aurora gegas memesan ojek online. Dia yakin kalau Langit pasti sudah berada di kantornya.

Sesampainya di rumah, Aurora lega karena sudah tak melihat mobil Langit yang terparkir di garasi. Dia mempercepat langkahnya, karena kakinya sudah merasa pegal akibat berkeliling di pasar.

Aurora memutar kenop pintu dan segera masuk rumah.

"Dari mana saja kamu?!" suara bariton itu mengejutkan Aurora. Dia mengelus dada untuk menetralkan rasa terkejutnya.

"Sa-saya dari pasar, Pak", jawab Aurora terbata-bata.

Langit menatap tangan Aurora yang penuh dengan kantong kresek belanjaan. Dia menghela nafas. Segera dia meraih semua kantong itu dan membawanya ke dapur. Aurora mengekor di belakangnya.

"Anda tidak pergi ke kantor?" tanya Aurora sambil membuka satu-persatu kantong belanjaannya.

"Kalau saya ke kantor, nggak mungkin kan kalau saya sekarang ada di sini?" balas Langit menyilangkan tangan di depan dada.

"Ooh", Aurora menjawab singkat.

"Gimana saya mau pergi ke kantor dengan tenang kau saya kepikiran kamu yang menghindari saya?!"

"A-anu Pak, saya tidak menghindari Anda kok", Aurora mengalihkan rasa gugup dengan terus sibuk dengan barang belanjaan.

Langit sangat kesal karena melihat Aurora yang pura-pura sibuk. Dia meraih tangan Aurora sambil menatap ke arah Aurora dengan tajam. Sedangkan Aurora membuang muka ke arah lain.

"Kamu menghindari pandangan saya!" tegas Langit.

Aurora menghela nafas lalu menatap balik ke arah Langit.

Mereka saling menatap dalam diam beberapa saat.

"Pak, tolong lepaskan tangan saya", pinta Aurora.

"Tidak akan! Sebelum kamu beri alasan kenapa kamu menghindari saya beberapa hari ini!" tuntut Langit

"Tapi, Pak—"

"Jangan banyak alasan!"

Dengan wajah memelas, Aurora memohon lagi agar Langit melepaskan tangannya.

"Pak, tolong lepaskan dulu. Yang ada di dalam kantong ini ikan segar. Dan tangan saya terkena siripnya. Rasanya sakit sekali." Mata Aurora berkaca-kaca.

Dengan segera Langit melepaskan tangan Aurora. Aurora segera mengibas-ibaskan tangannya karena sakit. Tampak sedikit darah segar keluar dari telapak tangannya.

Langit yang panik segera menarik tangan Aurora ke wastafel dan mengaliri luka dengan air kran.

"Dasar bodoh!" gumam Langit mengatai dirinya sendiri.

"Siapa, Pak?" tanya Aurora menatap Langit sambil memiringkan kepala dan tersenyum. Membuat Langit berdebar, apalagi menatap bibir Aurora membuatnya teringat dengan rasa manis dan aroma coklat dari bibir gadis itu.

"Saya!" jawab Langit seraya memalingkan wajah untuk membuang ingatan tentang ciuman itu.

Setelah membersihkan luka Aurora, Langit mengambil kotak P3K yang ada di laci ruang tengah. Lalu mengobati dan memplester luka Aurora.

"Terima kasih, Pak." ucap Aurora sambil malu-malu.

"Sekarang kamu jawab pertanyaan saya. Kenapa kamu menghindari saya?" tanya Langit kembali.

"Saya tidak mau salah paham tentang ciuman kemarin, Pak." jawab Aurora sambil menunduk malu.

"Maksud kamu apa?" Langit mengernyitkan alis, menuntut jawaban yang lebih jelas.

"Sa-saya yakin kemarin tubuh Anda tidak stabil sehingga jatuh dan terjadi ci-..ciuman itu"

"Tidak. Saya sengaja kok mencium kamu!" Langit menjawab dengan tegas. Aurora langsung mendongakkan kepala karena saking kagetnya dengan jawaban yang terlontar dari bibir Langit.

Plok, plok, plok! Suara tepuk tangan Aurora.

"Wah. Hebat sekali Anda, Pak. Mengatakan hal itu tanpa rasa malu!" seru Aurora. "Padahal saya sedari tadi menahan malu di hadapan Anda", sambung Aurora sambil menepuk lengan Langit.

"Yah, saya rasa kita harus melupakan insiden ciuman itu. Karena bagaimana pun kita harus menjaga batasan kita", ujar Aurora sambil berlalu membereskan belanjaan yang masih berantakan di dapur dan meninggalkan Langit yang masih setia duduk di ruang makan.

Langit mengepalkan tangannya erat. "Persetan dengan kontrak atau perjanjian!" batin Langit kesal.

Sepanjang hari ini mereka lalui tanpa saling temu. Langit sibuk di ruang kerja sebagai konsekuensi dirinya tak datang ke kantor. Sedangkan Aurora sibuk dengan pekerjaan sampingannya juga.

Mereka saling menghabiskan waktu di dunia masing-masing hingga fajar tiba.

Aurora menunda pekerjaan desaign-nya setelah menyadari bahwa waktu sudah sore. Dia bergegas ke dapur untuk masak makan malam. Selesai memasak, dia pergi mandi agar tubuhnya kembali segar. Tak lama kemudian Langit turun dan mereka makan malam bersama.

Makan malam pun terasa sunyi seperti biasanya. Tak ada percakapan apapun. Persis seperti biasanya. Mungkin mereka memang benar-benar sudah melupakan soal ciuman waktu lalu.

Selesai makan malam, Aurora dan Langit kembali ke kamar masing-masing untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena makan malam.

"Hooaaamm.." Aurora mulai menguap sesekali. Matanya pun terasa perih karena seharian menatap layar laptopnya. Dia menatap jam di dinding, sudah pukul 21.00 . Lalu dia memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya dan bersiap tidur.

Tok tok tok! Suara pintu kamar Aurora diketuk. Sudah pasti itu adalah Langit.

Aurora yang sudah akan menarik selimut akhirnya urung dan pergi membukakan pintu.

"Ada perlu apa Pak malam-malam begini?" tanya Aurora sambil menahan kantuknya.

Tak ada jawaban apapun. Langit hanya menatap ke arah Aurora. Membuat Aurora salah tingkah.

Tak ada angin, hujan ataupun badai tiba-tiba Langit meraih tubuh Aurora. Secepat kilat dia menyambar bibir Aurora yang sudah dia bayangkan sedari tadi.

Ciuman kali ini berbeda dengan waktu lalu. Langit melu mat bibir Aurora dengan lahap seperti orang kehausan di tengah-tengah padang pasir.

Aurora yang kaget dengan ciuman mendadak (lagi), berusaha mendorong dan menjauhkan kepalanya. Tapi Langit semakin menekan tengkuk Aurora agar ciuman itu tak lepas. Tenaga Aurora pun kalah dengan Langit.

Setelah merasa puas, Langit melepaskan ciuman tersebut. Dilihatnya Aurora yang mengambil nafas dengan rakus sambil tersengal-sengal.

"Anda sudah gila, ya!" teriak Aurora dengan nafas tersengal.

"Ya. Gue gila! Gue gila karna lo!" balas teriak Langit dengan nafas masih memburu.

Aurora bingung dengan situasi ini. Kepalanya terasa pusing. Mungkin karena kekurangan oksigen akibat ciuman Langit.

Melihat Aurora yang kebingungan dan pucat, Langit membawa Aurora ke dalam pelukannya dan membelai surai Aurora dengan lembut. "Maafkan aku. Aku benar-benar gila karena kamu", ucap Langit lembut.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!