Part 19

Akhirnya tiba juga hari ulang tahun Langit. Aurora sudah siap mengejutkan Langit dengan surprise yang dia buat. Padahal Langit yang ulang tahun, tapi dia yang berdebar.

Saat hari menjelang siang, Langit berpamitan akan keluar makan-makan bersama dengan teman-temannya untuk merayakan ulang tahunnya.

Sudah pasti Aurora tak akan di ajak. Karena mereka mempunyai hubungan rumit yang sulit untuk dijelaskan atau sekedar untuk di pamerkan.

Tapi hal itu tak membuat Aurora bersedih. Justru dia memanfaatkan kesempatan ini untuk mengecek kembali persiapan kejutan yang di kerjakan oleh team Event Organizer.

Sebelum sampai di lokasi pesta kejutan, Aurora terlebih dulu mengambil pesanan kado yang akan dia berikan untuk Langit.

Aurora menghentikan motornya di depan sebuah toko pengrajin perhiasan. Setelah menyerahkan kartu pemesanan, Aurora mendapatkan barang yang dia inginkan lalu mengecek kembali. Kemudian dia mengeluarkan benda pipih terbungkus pita dan menyelipkan diatas kotak perhiasan tersebut.

Senyum bahagia terkembang dari bibirnya tatkala memandangi kado yang akan dia berikan untuk Langit.

Sesampainya di lokasi pesta, Aurora segera mendatangi Abi selaku kepala team EO.

"Kak Abi, gimana persiapannya?" tanya Aurora yang melihat Abi sibuk mengarahkan karyawannya.

"Siap bosku! Udah sembilan puluh persen ini persiapannya." jawab Abi sambil menyalami tangan Aurora.

"Ini kado yang mau aku kasih ke suamiku, Kak." Aurora menyerahkan kotak kado pada Abi.

"Boleh lihat nggak? Biar nanti kita susun lagi kalimat persembahan untuk suamimu?" usul Abi.

"Boleh aja, kak."

Abi membuka kotak tersebut, lalu matanya berbinar melihat isi kado itu.

"Wah kalau aku cowok tulen, pasti bahagia banget di kasih kayak beginian!" celetuk Abi.

Ya. Abi adalah cewek tomboy. Nama aslinya Nabila. Setiap harinya, dia selalu berdandan seperti cowok. Memakai celana jeans yang dipadukan dengan kemeja serta potongan rambut cepak. Apalagi proporsi tubuhnya tinggi, sehingga menambah kesan cowok maskulin dan dengan wajah yang terlihat tampan.

Mendengar pujian dari Abi, membuat pipi Aurora memerah. Dia semakin yakin bahwa kebahagiaan sudah ada di depan matanya.

Setelah melihat semua proses persiapan, Aurora pamit pada Abi untuk bersiap-siap menjemput pangerannya.

"Makasih ya kak. Aku balik dulu."

"Oke bosku! Sampai jumpa nanti malam. Jangan lupa dandan yang cantik sekali ya!" Abi melambaikan tangan pada Aurora yang pergi meninggalkan lokasi pesta.

Jantung Aurora semakin berdebar. Dia sudah membayangkan ekspresi Langit yang terharu bahagia melihat kejutannya.

Sepanjang perjalanan, Aurora bersenandung diatas motornya. Senyuman terus tersungging dari balik kaca helm-nya. Kalau saja dia tak memakai helm, orang-orang pasti mengira dia gila.

Sesampainya di depan rumah, tampak mobil Langit yang sudah terparkir di garasi. Dengan cepat dia mengarahkan motornya masuk ke halaman rumah dan memarkirnya.

Segera dia masuk ke dalam rumah. Tak sabar ingin segera bertemu dengan sang pangeran dan mengajaknya pergi ke pesta kejutan yang telah dia siapkan.

Sesampainya di dalam rumah, tubuh Aurora seperti melayang melihat pemandangan asing di depan matanya.

Langit sedang duduk bersama seorang perempuan di ruang makan. Mereka sama-sama memakai bathrobe dengan rambut yang masih basah.

Tubuh Aurora melemas. Pupil matanya bergetar menahan air mata. Hatinya seperti tertusuk sebilah pisau.

"Kamu udah datang rupanya. Darimana saja kamu?!" tanya Langit seraya berdiri di samping perempuan itu.

Aurora ingat jelas wajah perempuan itu. Wajah yang fotonya terpampang di dalam surat pernikahan dan bersanding dengan foto Langit.

"Kemarilah! Kenalkan. Dia adalah Nata." ucap Langit tanpa perasaan bersalah.

Renata mengulurkan tangannya, mengajak Aurora berjabat tangan. Dengan senyum terpaksa, Aurora menjabat tangan Renata sambil menahan air matanya.

"Akhirnya kita bertemu, Pe-ngan-tin pe-nggan-ti-ku!" sapa Renata menekankan kata 'Pengantin pengganti' sambil sedikit mere mas tangan Aurora yang di jabatnya.

Aurora tetap dengan senyuman menerima perlakuan tidak menyenangkan itu. Namun matanya memanas ketika melihat tangan Langit yang merangkul bahu Renata.

"Mas, boleh kita bicara sebentar?" tanya Aurora menatap ragu ke arah Langit.

Renata mengernyitkan alis seperti tak suka melihat Aurora.

"Tunggu dulu di dalam." titah Langit.

Aurora mengangguk dan pergi masuk ke dalam kamarnya.

Sekilas sebelum menutup pintu kamarnya, Aurora melihat Langit yang mengecup lembut bibir Renata. Dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis.

"Kejam sekali kamu, Mas!" batin Aurora.

Tak lama kemudian Langit datang ke kamar Aurora.

"Kamu mau membicarakan apa? Waktuku tak banyak. Aku mau menghadiri pesta di kediaman kakek!" ucap Langit dengan ketus.

Padahal baru beberapa jam yang lalu Langit berbicara dengan sangat lembut dengannya. Tapi sekarang sudah berubah seperti Langit yang pertama kali dia temui. Setiap kalimat yang dia ucapkan sangat dingin dan kasar.

"Mas, sa-saya hamil." ucap Aurora ragu.

Suasana menjadi hening sejenak.

Lalu tiba-tiba Langit tertawa dengan kencang.

"Lantas apa hubungannya denganku?" tanya Langit sambil memiringkan kepala.

"Ini anak kamu, Mas!" pekik Aurora.

PLAK!!

Tangan Langit sukses mendarat di pipi kiri Aurora.

"Jangan berkhayal! Bisa saja ayahnya adalah pria yang beberapa kali kau temui di cafe itu!"

"Bukan Mas. Dia bukan pria sesung—"

"Aku tak peduli siapapun ayah dari anak harammu itu!" Langit memotong kalimat Aurora. Lalu mendorong kecil tubuh Aurora.

"Tapi jangan pernah menyebut namaku." sambung Langit.

"Tapi aku tak pernah melakukannya dengan siapapun kecuali kamu, Mas!" suara Aurora kembali memenuhi seluruh ruang kamar. Berharap Renata bisa mendengar teriakannya.

Langit sangat geram mendengar Aurora yang semakin mengencangkan suaranya. Dia mencengkeram leher Aurora dengan satu tangannya sambil membanting tubuh kecil perempuan itu di atas ranjang.

"Bukankah aku sudah bilang kalau menghamilimu adalah hal yang mustahil?!" balas Langit berteriak dengan tangannya masih menekan leher Aurora.

Rahang Langit tampak mengeras dan matanya memerah karena marah. Sedangkan Aurora berusaha melepaskan cengkeraman tangan Langit sambil terus menghirup oksigen yang mulai sulit melewati saluran pernafasannya.

Beberapa saat kemudian, Langit tersadar akan tindakannya. Lalu melepaskan tangannya segera.

Dia meninggalkan Aurora yang sedang menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi kembali paru-parunya yang hampir kosong.

Langit membuka pintu kamar dengan kasar. Ternyata ada Renata yang sudah berdiri di depan pintu. Sepertinya Renata mendengarkan percakapan mereka, tapi tak berani masuk ke dalam kamar.

Renata berjalan mendekati Aurora yang meringkuk lemas di atas tempat tidur sambil memegang lehernya yang panas akibat ceki kan tangan Langit.

"Seharusnya kamu tahu kan sampai mana batasan antara kamu dan Langit?" Renata menyeringai sambil mengelus kepala Aurora.

"Kamu hanya pemuas ranjangnya. Jadi jangan berharap jadi Cinderella!"

Kemudian Renata pergi meninggalkan Aurora dengan kembali menampilkan senyum puas.

Aurora sudah tak sanggup lagi menahan air matanya yang berderai.

"Tega dan kejam sekali kamu, Mas!" rintih Aurora sambil memegang perutnya yang masih datar.

Tak lama kemudian dia mendengar mobil Langit yang meninggalkan garasi. Sepertinya dia benar-benar pergi merayakan ulang tahunnya di rumah kakek.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!