"Gilak, Zal! Lo abis dicuci otak deh kayaknya!", ucap Mika dengan lantang.
"Pelan-pelan, nying! Gue belum budeg!" Aurora menggosok-gosok telinganya.
"Bener kata lo! Itu pasti modus penipuan!" Mika membara.
"Mana ada penipuan mau ngebayar gue tiga ratus juta buat setahun? Kita kerja kantoran aja gak bakal nyampe deh gaji segitu kalo dikumpulin setahun!"
"Tapi lo jadi simpanan Om-om, Zaaaall!" teriak Mika gemas.
"Ya nggak Om-om juga sih, Mik. Kan katanya umurnya tigapuluh tahun. Cuma beda tujuh tahun sama kita", Aurora mencoba meyakinkan Mika.
"Lo beneran yakin mau ambil pekerjaan ini, Zal?"
Aurora mengangguk.
"Kayaknya gue nggak ada pilihan lain, Mik. Darimana gue bisa dapetin uang enam puluh juta dalam waktu satu bulan? Katanya gue bakal dikasih uang muka seratus juta. Dan setelah kontrak berakhir, baru dilunasin".
Mika membawa Aurora ke dalam pelukannya. Mika ikut merasakan kesedihan yang dirasakan sahabatnya.
Aurora kehilangan kedua orangtuanya dalam kecelakaan saat ia masih berada di bangku SMA. Usaha orangtuanya yang bangkrut menyisakan hutang gaji karyawan. Untuk menutupi semua pembayaran gaji dan pinjaman bank, mereka berhutang ke rentenir. Dan entah apa yang terjadi, kedua orangtuanya diburu oleh penagih hutang sampailah terjadi kecelakaan yang menewaskan keduanya.
Kini Aurora yang harus menanggung sisa pembayaran hutang tersebut. Jika tak bisa segera melunasi, rumah satu-satunya peninggalan orangtuanya akan disita.
Hal itu yang membuat Aurora akhirnya nekat melakukan pekerjaan yang menurutnya di luar nalar. Yaitu menjadi pengantin pengganti.
Yang awalnya dia dipikir, Rendi adalah orang yang akan dinikahinya. Ternyata Rendi hanya seorang asisten dari 'calon suaminya'. Sampai sesaat sebelum Ijab dilakukan, Aurora belum pernah sekalipun bertemu dengan orang itu.
Pertama kali melihat pria yang akan jadi calon suaminya, Aurora yakin kalau dia adalah pria yabg saat itu bersama Rendi di kafe pertama kali mereka bertemu, yaitu Langit.
Ketika Aurora mencoba senyum ramah kepada Langit, ia hanya memasang ekspresi datar.
"Dasar Om-om dari suku Eskimo (suku yang tinggal di Kutub Utara)", batin Aurora karena kesal.
Segera mereka duduk di depan penghulu dan memulai acara. Prosesi Ijab berjalan dengan begitu cepat tanpa kendala. Langit pun dengan sekali jabat dengan tegas dan lantang mengucapkan Ijab.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sekarang Aurora sudah sah menjadi 'Nyonya sementara' di rumah yang kini ia tempati bersama dengan Langit. Rumah minimalis dengan dominan warna abu tua itu tampak maskulin seperti pemiliknya.
Namanya juga rumah minimalis. Saking minimalnya, alat untuk memasak pun tak ada. Maklum saja, karena pemiliknya cowok, jadi mungkin tak mementingkan peralatan memasak. Apalagi seorang CEO, tak mungkin ia sempat berkutat di dapur.
Ini hari pertamanya menjalani kehidupan sebagai Renata, bukan sebagai Aurora.
Pagi ini Aurora ingin memasak sesuatu, tapi ia bingung karena tak ada peralatan dapur yang lengkap. Hanya ada pisau tanpa ada talenan, ada satu panci yang terlihat mahal, tapi tak ada penggorengan.
"Rumah ini seperti bangunan 'rumah contoh' saja", gumam Aurora sambil menghela nafasnya.
Ia melirik kearah lantai dua, tapi belum ada tanda-tanda kehidupan. Dirinya mulai merasa bosan karena tak tahu harus melakukan apa.
"Ah, nonton tv aja. Siapa tahu ada acara menarik?", muncul ide dalam benaknya. Dan segera Aurora berlari ke ruang tengah, tapi hanya ada sofa yang menghadap ke tembok tanpa ada tv di depannya. Ia pergi ke ruang tamu, juga tak menemukan tv di sana. Lalu ia kelilingi seluruh ruangan, tak ada tempat yang menyembunyikan keberadaan tv di dalam rumah tersebut.
"Aarrgh! Bisa gila gue lama-lama disini!" teriaknya dengan volume kecil sambil menjambak rambutnya karena frustasi.
Aurora memutuskan duduk di ruang makan sambil memainkan ponselnya. Ia meletakkan kepalanya di atas meja seperti anak kecil yang sedang bosan.
Lalu terdengar langkah dari arah tangga lantai dua. Segera dia berdiri menyambut kehadiran 'suaminya'.
"Selamat pagi, Pak", sapa Aurora sambil tersenyum.
"Hmm. Pagi juga", jawab Langit dengan dingin lalu menarik kursi dan meletakkan laptop di atas meja makan yang terbuat dari marmer berwarna hitam itu.
"Anu, Pak saya ingin membuatkan Anda kopi atau teh. Tapi saya lihat, di dapur tidak ada apapun. Begitu juga dengan peralatan dapurnya", Aurora ragu mengatakan keluhannya.
"Jadi kamu mau mengeluh kalau rumah ini kosong? Seperti itu?"tanya Langit sambil menatap tajam kearah Aurora.
"Ah, nggak juga Pak. Saya hanya ingin sedikit membantu Anda menyiapkan makanan atau minuman", jawab Aurora secepat kilat sambil menelan salivanya dengan berat. Ia takut kalau salah omong di depan Langit yang notabene-nya sekarang adalah 'Tuannya'.
"Tapi memang di rumah ini tak ada apa-apa. Karena saya tidak berpikir akan tinggal bersama seseorang. Jadi, kamu mau beli perabotan apa saja? Saya akan menghubungi Rendi untuk segera membelinya".
"Anu, sebenarnya dapur Anda sepi sekali, Pak. Hampir seperti rumah hantu. Bahkan saya lihat ada sarang spiderman di dalam laci— uups!", Aurora segera membungkam mulutnya. Lalu menepuk-nepuk kecil bibirnya. Kebiasaan bicara ceplas-ceplos memang sedikit susah dihilangkan. Dan lagi dia sudah terbiasa bicara sembarangan dengan teman-temannya.
"Maaf, Pak saya bicara keterlaluan", sambung Aurora canggung plus takut.
"Tidak apa. Saya memakluminya. Karena memang saya mengisi rumah ini sesuai keperluan saya saja. Kamu butuh apa saja?"
"Saya akan pergi membelinya sendiri, Pak. Kan Pak Rendi sedang sibuk".
"Baiklah, kalau kamu mau membelinya sendiri. Jadi kamu tau apa saja yang kamu butuhkan", jawab Langit kembali fokus ke laptopnya.
Beberapa menit berlalu, tapi Langit melihat Aurora yang masih duduk tenang di depannya. Ia mengernyitkan alis penasaran.
"Kenapa kamu belum beranjak?" tanya Langit yang melipat tangannya di dada sambil memberikan tatapan intens.
"Anu, Pak.. Itu-"
"Katakan yang jelas!"
"Ehem. Sepertinya saya butuh kucuran dana. Karena nggak mungkin kalo saya mau membelinya dengan sistem kredit. Pasti akan membuat Anda malu kan, Pak?"
Langit mengusap pelan keningnya. Ia lupa memberikan uang untuk membeli barang yang diperlukan.
"Tunggu sebentar. Saya akan mengambilkan kucuran dana seperti yang kamu inginkan", jawab Langit yang tanpa sadar mengikuti gaya bicara Aurora.
Segera dia beranjak menuju kamarnya di lantai dua. Dengan rasa malu ia meninggalkan Aurora yang tampaknya menahan tawa.
Tak lama kemudian Langit turun dengan pakaian tang sudah berbeda. Jika sebelumnya ia memakai celana rumahan pendek dan kaos hitam oblong, kini ia tampak memakai celana jeans panjang dipadukan dengan jaket.
Deg deg deg deg.
"Jantung sialan! Bisa-bisanya malfungsi kalo liat cowok ganteng!" umpat Aurora dalam hati.
"Lho kamu mau pergi dengan baju tidur seperti itu?" tanya Langit sambil menatap Aurora dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Anda mau mengantarkan saya?" Aurora balik bertanya.
"Saya bukan sopir yang mau mengantarkan kamu, tapi saya akan pergi bersama kamu! Saya tunggu 5 menit, kalo lebih saya anggap batal dan tidak jadi beli semua keperluan!" ancam Langit.
"Ah i-iya Pak!", segera Aurora lari ke kamarnya dan ganti pakaian.
"Bisa-bisanya saya menikah dengan bocah ingusan!" gumam Langit dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Rieenee
part2 awal lumayan bagus semoga ceritanya ga lebai /Grin/
2023-12-04
0